Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 135101 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Simbolon, Angela Sondang Theresa
"Hidrogel merupakan polimer yang dapat menyerap air 10 sampai 20 kali lipat ukurannya. Hidrogel juga tidak terlarut dalam air maka dari itu sangat cocok untuk pengaplikasian perancah. Perancah merupakan material yang sangat membantu dalam berbagai bidan termasuk dalam medis. Perancah sudah banyak digunakan untuk rekayasa jaringan, dental dan bone block. Material yang digunakan dalam perancah beragam, material hidrogel alami dan sintesis dan juga dapat dicampur dengan logam. Dalam penelitian ini digunakan bahan dasar alginat yang diekstrak dari jenis makroalga yaitu Sargassum yang dicampur dengan PVA, Hal ini dilakukan untuk memberikan perancah yang memiliki pori yang baik yaitu dapat mencapai 300 µm, sementara untuk aplikasi cedera saraf tepi hanya membutuhkan 10-40 biodegradasi dan kekuatan mekanik yang lebih tinggi. Dan juga untuk pengobatan saraf tepi dibutuhkan konduktivitas yang akan membantu regenerasi dari saraf tepi. Sehingga dilakukan penambahan material Carbon nanotubes (CNTs). Dengan begitu perancah yang dihasilkan diharapkan dapat diaplikasikan dalam bidang medis untuk pengobatan cedera saraf tepi.

Hydrogels are polymers capable of absorbing water up to 10 to 20 times their original volume. They are also insoluble in water, making them highly suitable for scaffold applications. Scaffolds are materials that contribute a significant role across various fields such as tissue engineering, dental implants, and bone regeneration. Both natural and synthetic hydrogels are commonly used, which may also be combined with metals to enhance their properties. In this study, the base material used was alginate, extracted from a type of macroalgae known as Sargassum, and mixed with polyvinyl alcohol (PVA). This combination is intended to to fabricate scaffolds with optimized pore structures However, for peripheral nerve injury (PNI) applications, a smaller pore size (10–40 µm), higher biodegradability, and improved mechanical strength are required. To support nerve regeneration in PNI treatment, electrical conductivity is also crucial. Therefore, carbon nanotubes (CNTs) are incorporated into the scaffold formulation to enhance its conductive properties. With these modifications, the resulting scaffold is expected to be applicable in the medical field, particularly for the treatment of peripheral nerve injuries."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Ahmad Indra Sakti
"ABSTRAK
Fabrikasi mikro merupakan teknologi advanced untuk manufaktur produk ukuran kecil yang kini telah diaplikasikan luas dalam berbagai bidang termasuk kesehatan. Tissue engineering adalah salah satu bidang dari aplikasi teknologi ini dengan berfokus pada rekayasa fabrikasi scaffold. Scaffold yang ideal dipersyaratkan memiliki konstruksi yang mirip dengan lingkungan jaringan target dengan struktur 3D, biodegradable, berpori dan vaskularis. Saat ini, hidrogel gelatin merupakan salah satu material biomatriks yang tepat untuk fabrikasi scaffold. Gelatin tersebut dibentuk dengan metode photo-patterning menggunakan sensitizer rose bengal pada panjang gelombang cahaya tampak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan merealisasikan bentuk scaffold 2D sebagai dasar pembentukan struktur jaringan 3D. Karakterisasi hasil photo-patterning dilakukan dengan mengukur dimensi pattern width, ketebalan resolusi dan intensitas. Proses ini menghasilkan daerah kerja optimum pada konsentrasi 2% dengan waktu 3 menit.

ABSTRACT
Microfabrication is an advanced technology for manufacturing products of small size that has now been widely applied in various fields including health area. Tissue engineering becomes ones application of this technology focused on engineering scaffold fabrication. The ideal scaffold required to have a construction similar to the target network environment with a 3D structure, biodegradable, porous and vaskularize. At present, the gelatin hydrogel is appropriate biomatrix material for fabricating the scaffold. Gelatin is formed by photo-patterning method using the sensitizer rose bengal at visible light’s wavelength. This study aims to develop and realize the basic shape of the scaffold 2D as 3D tissue structure formation. Characterization results of photo-patterning is done by measuring the dimensions of the pattern width, thickness and intensity resolution. This process resulted in optimum working area at a concentration of 2% with a time of 3 minutes."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S53262
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chico Xavier
"Penyembuhan luka merupakan sesuatu yang kompleks dan melibatkan banyak hal termasuk homeostasis, peradangan, migrasi, proliferasi, dan maturasi. Namun, kerusakan pada jaringan kulit karena luka parah dapat menyebabkan regenerasi yang kurang cukup dan memerlukan intervensi klinis. Walaupun adanya perawatan klinis, jaringan bekas luka tetap menjadi penghalang untuk pemulihan penuh secara estetik dan fungsional dari jaringan kulit di area luka. Alginat merupakan salah satu biomaterial yang digunakan untuk membuat scaffold untuk jaringan kulit. Royal jelly memiliki kemampuan untuk meningkatkan regenerasi sel serta memiliki sifat-sifat antioksidan, antibakteri, dan anti-peradangan. Hal ini membuat kedua bahan tersebut menjadi cocok untuk dijadikan bahan utama scaffold jaringan kulit. Pada penelitian ini, akan dilakukan perakitan dan karakterisasi pada 3D printer Anet A8 menjadi bioprinter. Perakitan dimulai dari pembuatan microextruder printhead, modifikasi panel kontrol, dan modifikasi firmware serta pembuatan sprayer. Bioink yang terbuat dari sodium alginat 5% (w/v) dan royal jelly 10% (w/v) akan digunakan untuk membuat scaffold menggunakan metode 3D bioprinting dengan scaffold yang dirancang menggunakan perangkat lunak SolidWorks dan Ultimaker Cura. Tiga jenis model scaffold dibuat dengan bentuk persegi berjaring yang memiliki pola yang berbeda. Scaffold dicetak menggunakan bioprinter yang telah dimodifikasi dan dipadatkan menggunakan CaCl2. Scaffold berhasil dibentuk dengan menggunakan model persegi berjaring dengan pola zig-zag.

Wound healing is a complex process involving various factors such as homeostasis, inflammation, migration, proliferation, and maturation. However, severe skin tissue damage due to wounds can result in insufficient regeneration and may require clinical intervention. Despite clinical treatments, scar tissue remains a barrier to full aesthetic and functional recovery of skin tissue at the wound site. Alginate is one of the biomaterials used to create scaffolds for skin tissue. Royal jelly has the ability to enhance cell regeneration and possesses antioxidant, antibacterial, and anti-inflammatory properties. These qualities make both materials suitable as primary components for skin tissue scaffolds. In this study, assembly and characterization will be conducted on a 3D printer Anet A8 transformed into a bioprinter. Assembly will begin with the creation of a microextruder printhead, modification of the control panel and firmware, and the creation of a sprayer. A bioink made of 5% (w/v) sodium alginate and 10% (w/v) royal jelly will be used to create scaffolds using 3D bioprinting, with scaffold designs created using SolidWorks and Ultimaker Cura software. Three types of scaffold models will be produced in the form of square mesh with different patterns. Scaffolds will be printed using the modified bioprinter and solidified using CaCl2. The scaffolds were successfully formed using the square mesh model with a zig-zag pattern."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Ketherin
"Pendahuluan : Resesi gingiva merupakan salah satu kelainan pada jaringan periodontal yang sangat umum ditemukan pada populasi global. Modalitas pengobatan konvensional seperti pencangkokan gingiva menggunakan jaringan autologous memiliki keterbatasan dalam hal invasivitas, morbiditas area donor, dan tingkat keberhasilan yang bervariasi. Gelatin yang merupakan turunan dari kolagen mengandung sekuens arginin–glisin–asam aspartat (RGD) yang penting untuk mendukung adhesi dan interaksi sel di sekitarnya. Pengembangan biomaterial seperti hidrogel gelatin dinilai menjanjikan karena sifatnya yang biokompatibel, kemudahannya untuk disesuaikan, dan karakternya yang mirip dengan matriks ekstraseluler membuatnya menjadi agen regenerasi yang potensial. Tujuan: Mengevaluasi karakter fisik hidrogelgelatin crosslinked dengan menggunakan EDC/NHS dan non-crosslinked sebagai biomaterial potensial untuk scaffoldgingiva. Metode: Hidrogel gelatin dibuat menjadi 2 kelompok yaitu kelompok crosslink dengan menggunakan EDC/NHSdan kelompok non-crosslinked. Sampel dilakukan uji morfologi, uji viskositas, dan analisis gugus fungsi. Perbedaan morfologi diuji dengan uji T test independen dan hasil analisis viskositas dan gugus fungsi dilaporkan secara deskriptif. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok hidrogel gelatin crosslinked dan non-crosslinked dimana kelompok gelatin crosslinked memiliki interkonektivitas yang lebih besar. Kelompok non-crosslinked tidak dapat dilakukan uji viskositas karena sifatnya yang temperatur sensitif. Analisis uji FTIR menunjukkan tidak terdapat perbedaan gugus fungsi yang signifikan antara kedua kelompok tersebut. Kesimpulan: Hidrogel gelatin crosslinked dengan menggunakan EDC/NHS memberikan gambaran scaffold yang lebih stabil dan potensial sebagai biomaterial scaffold gingiva.

Introduction : Gingival recession is a kind of mucogingival deformity widely found in the global population. Conventional treatment modalities such as gingival grafting using autologous tissue have limitations in terms of invasiveness, donor site morbidity, and variable success rates. Gelatin, derived from collagen, contains the arginine–glycine–aspartic acid (RGD) sequence, which is crucial for supporting cell adhesion and interactions in its vicinity. The development of biomaterials like gelatin hydrogels might be promising due to their biocompatible nature, ease of customization, and structural similarity to the extracellular matrix, making them a potential agent for gingival regeneration. Objective: To evaluate the physical characteristics of crosslinked gelatin hydrogel using EDC/NHS and non-crosslinked gelatin as a potential biomaterial for gingival scaffolds. Methods: Gelatin hydrogels were divided into two groups: the crosslinked group using EDC/NHS and the non-crosslinked group. The samples underwent morphological, viscosity, and functional group analysis. Morphological differences were assessed using an independent T-test, while viscosity and chemical composition analysis results were reported descriptively. Results: There is a significant difference between the crosslinked and non-crosslinked gelatin hydrogel groups, where the crosslinked gelatin group exhibits greater interconnectivity. Viscosity testing could not be conducted on the non-crosslinked group due to its temperature-sensitive nature. FTIR analysis indicates no significant difference in chemical composition between the two groups. Conclusion: The EDC/NHS crosslinked gelatin hydrogel provides a depiction of a more stable scaffold that has more potential as a biomaterial for gingival regeneration."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Noke Devina
"Salah satu bahan dasar dari material cetak alginat adalah natrium alginat. Natrium alginat eksperimen dibuat dari ekstraksi rumput laut coklat Sargassum sp. menggunakan perendaman dalam kondisi asam. Hasil natrium alginat diuji kemurnian dan viskositasnya. Natrium Alginat eksperimen dalam penelitian ini memiliki sifat kemurnian yang sesuai dengan bubuk natrium alginat standar dari SIGMA A2158 setelah dilakukan pengujian menggunakan high performance liquid chromatography (HPLC). Dengan uji viskositas Brookefield, natrium alginat ini memiliki viskositas yang rendah sebesar 45,3 mPas sehingga belum sesuai sebagai bahan dasar material cetak alginat.

Sodium alginate is one of the basic ingredient of the alginate impression material. Experimental sodium alginate was made by extracting Sargassum brown seaweed species using an immersion method in acid. The sodium alginate powder was then tested for its purity and viscosity. Using the High Performance Liquid Chromatography (HPLC) test, the experimental sodium alginate had purity corresponding to the standard sodium alginate powder of SIGMA A2158. Through the Brookefield viscosity test, the experimental sodium alginate had too low viscosity of 45.3 mPas which is not suitable yet for Dental Alginate Impression Material basic ingredient."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ali Noerdin
"Di Indonesia bahan cetak alginate banyak digunakan di kalanan kedokteran gigi walaupun masih harus diimpor dari luar negeri. Sejak krisis tahun 1998 harga bahan cetak alginate terus meningkat sampai empat kali pada saat itu. Keadaan ini menyebabkan ada usaha untuk memodifikasi bahan cetak alginat seperti yang dilakukan oleh salah seorang dokter gigi di propinsi Sumatera Selatan-Indonesia. Usahanya adalah menambahkan pati ubi kayu ke dalam bahan cetak alginat yang digunakan untuk membuat gigi tiruan lepas. Peneltian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penambahan pati ubi kayu yang dicampurkan ke dalam bahan cetak alginat dalam hal kemampuan reproduksi detail hasil pencetakan yang dicor dengan gipsum tipe III. 120 spesimen dibagi dalam 6 kelompok dengan variasi penambahan pati ubi kayu 45-55%. Spesimen adalah hasil cetakan dari reproduksi detail test block berdasarkan ISO No. 1563/1978 dan diperiksa di bawah steromikroskop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan cetak alginat yang ditambahkan pati ubi kayu sampai dengan 47.5% masih dapat mencetak dengan baik berupa garis dengan kedalaman 50 m dan 75 m.

The utilization of additional cassava starch (Manihot utilisima) for alginate dental impression material. In Indonesia alginate which is a common impression material used in dentistry is still imported. Since the economic crisis in 1998 the alginate price becoming four times more expensive. This situation resulted in efforts to modify the commercial alginate as had been conducted by a dentist in South Sumatera province in Indonesia. He who had added cassava starch into the commercial alginate used to make partial denture impression. The aim of this research is to investigate the effect of additional cassava starch into the commercial alginate on its ability to produce reproduction detail using type III gypsum the amont of 120 specimens were divided into 6 group of various additional cassava starch 45?55%. The specimens then being impressed with detail reproduction tool (ISO No. : 1563/1978) and the result is then analyzed under a stereo microscope. Conclusion: the alginate impression material with cassava starch with ratio up to 47,5% can be used as an impression in 50μm and 75μm in depth line."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2003
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"This book includes about multiscale fibrous scaffolds in regenerative medicine, stem cells and nanostructures for advanced tissue regeneration, creating electrospun nanofiber-based biomimetic scaffolds for bone regeneration, synthetic/biopolymer nanofibrous composites as dynamic tissue engineering scaffolds, electrospun fibers as substrates for peripheral nerve regeneration, highly aligned polymer nanofiber structures : fabrication and applications in tissue engineering, electrospinning of biocompatible polymers and their potentials in biomedical applications, electrospun nanofibrous scaffolds-current status and prospects in drug delivery, and biomedical applications of polymer/silver composite nanofibers."
Heidelberg : Springer, 2012
e20405812
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Prasetia
"Semikonduktor TiO2 mulai dikembangkan menjadi beberapa bentuk morfologi skala nano, salah satu bentuk morfologinya yaitu bentuk TiO2 nanotube. Metode yang paling mudah dilakukan dalam sintesis TiO2 nanotube adalah dengan cara anodisasi menggunakan larutan elektrolit tertentu. Untuk menyempurnakan sintesis TiO2 nanotube, digunakan larutan elektrolit berviskositas tinggi agar mampu menahan laju disolusi dalam sintesis TiO2 nanotube. Natrium alginat merupakan salah satu zat pengental yang diekstrak dari ganggang coklat dan diharapkan mampu menahan laju difusi elektrolit pada sintesis TiO2 nanotube sehingga mampu menghasilkan TiO2 nanotube yang sangat teratur dengan ketinggian tabung yang cukup. Pada penelitian ini, mula-mula dilakukan penentuan viskositas natrium alginat dengan berbagai konsentrasi menggunakan viskometer ostwald. Kemudian, dilakukan anodisasi pada plat titanium dengan variasi konsentrasi natrium alginat, variasi konsentrasi NH4F, serta variasi pH elektrolit. Hasil karakterisasi SEM menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi natrium alginat dan NH4F dalam larutan elektrolit dapat meningkatkan tinggi, diameter, serta kerapihan dari nanotube yang terbentuk. Namun penambahan konsentrasi NH4F yang lebih tinggi serta kondisi pH elektrolit yang lebih rendah justru membuat morfologi TiO2 nanotube semakin tidak beraturan atau bahkan tidak terbentuk. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh morfologi TiO2 nanotube terbaik dengan menggunakan konsentrasi elektrolit natrium alginat dan NH4F masing-masing sebesar 0,30 % dengan media elektrolit pada pH 4.

TiO2 semiconductor has been developed in some nanoscale forms, one of those is TiO2 nanotube. The simplest way to synthesize TiO2 nanotube is anodization process using certain electrolyte solution. High-viscosity electrolyte solution can be used to control the dissolution rate in TiO2 nanotube synthesis. Sodium alginate is one of the thickening agent extracted from brown algae and hopefully it can control the dissolution rate in electrolyte solution in TiO2 nanotube synthesis, so the Highly-ordered TiO2 nanotube can be formed with sufficient nanotube length. In this research, first the determination of sodium alginate viscosity with viscometer Ostwald must be conducted. Then, titanium foil is anodized with concentration variation of NH4F and sodium alginate, also with the pH variation of electrolyte solution. Based on characterization using SEM, the addition of NH4F and sodium alginate in electrolyte solution can increase the length, diameter and organization of nanotube which formed. But the addition of higher NH4F concentration and electrolyte acidity causes TiO2 nanotube morphology more collapsed and not organized, moreover it cant be formed. Based in this research, TiO2 nanotube with the best morphology is obtained with using NH4F and sodium alginate concentration in 0,30 % each, in an electrolyte solution with pH 4."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Malida Aprilliza
"Penelitian ini bertujuan untuk membuat pupuk slow-release nanokomposit superabsorben. Sintesis pupuk slow-release nanokomposit superabsorben dilakukan dalam 4 tahap. Tahap pertama, isolasi natrium alginat dari ganggang coklat diperoleh rendemen natrium alginat sebesar 44,32% dengan berat molekul 10163,819 g/mol. Keberhasilan isolasi didukung dengan karakterisasi menggunakan FTIR, XRD, SEM dan DSC. Tahap kedua, sintesis superabsorben nanokomposit menggunakan natrium alginat sebagai backbone, asam akrilat dan akrilamida sebagai monomer, kalium persulfat sebagai inisiator dan N,N-metilena bisakrilamida (MBA) sebagai pengikat silang serta zat anorganik bentonit sebagai filler. Kapasitas swelling superabsorben nanokomposit terbaik sebesar 576 g/g dan kapasitas swelling dan release terhadap larutan urea sebesar 629 g/g, dan 15 %. Hasil ini didukung dengan karakterisasi menggunakan FTIR, SEM dan DSC. Komposisi terbaik ini digunakan untuk sintesis pupuk slow release dengan metode polimerisasi insitu diperoleh kapasitas swelling air sebesar 638 g/g dan kapasitas release sebesar 72,76 %. Pupuk slow release dikarakterisaasi dengan FTIR dan SEM.

Superabsorbent nanocomposite fertilizer was synthezised in four steps. Initially, isolation alginate sodium from brown algae by extraction method. Sodium alginate obtained from extraction of brown algae used as the backbone for the synthesis of superabsorbent nanocomposite copolymerization.. The rendement of sodium alginate obtained was 44.32% with molecular weight of 10163,819 g/mol from measurement the intrinsic viscosity. The product isolation was characterized by FTIR, XRD, SEM, and DSC. The next step was synthesis of nanocomposite superabsorbent by acrylic acid and acrylamide as monomer, sodium alginate as backbone, potassium persulfate as inisiator, MBA as crosslinker and bentonite as filler by radical polimeryzation method. Optimazation of composition nanocomposite superabsorbent was done by swelling capacity. The results of swelling capacity in water gave 576 g/g for SA3 while swelling and release in urea solutions gave respectively 629 g/g and 15%. SA3 was characterized by FTIR, SEM, and DSC. The composition in synthesis of SA3 was used to synthesized slow release fertilizer and characterized by FTIR and SEM. Swelling and release capacity of fertilizer was 638 g/g and 72,76 % respectively
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
T46565
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>