Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Alexander Krishna Ernanda
"Latar Belakang: Pengawet dalam tetes mata memengaruhi permukaan okular, ditemukan terutama pada pasien yang menggunakan obat tetes anti-glaukoma. Beredar tetes mata timolol maleat dengan pengawet chlorhexidine gluconate (CHG) yang belum pernah diteliti efeknya terhadap parameter permukaan okular.
Tujuan: Mengetahui pengaruh pengawet chlorhexidine gluconate 0,002% dalam sediaan timolol maleat 0,5% (timolol-CHG) terhadap permukaan okular pasien glaukoma dan hipertensi okuli.
Metode: Penelitian eksperimental terandomisasi dengan samar tunggal pada 54 mata pasien dengan diagnosis glaukoma maupun hipertensi okuli yang menggunakan timolol maleat 0,5% pengawet polyquaternium-1 (timolol-PQ1) <12 bulan. Dua puluh tujuh mata mengganti pengobatan ke timolol-CHG dan 27 mata melanjutkan timolol-PQ1. Dinilai tear break up time (TBUT), tear break up pattern (TBUP), skor pewarnaan kornea konjungtiva (staining), skor ocular surface disease index (OSDI), Schirmer I dan TIO awal dan sesudah satu bulan intervensi.
Hasil: Nilai rerata selisih TBUT 0,15±5,28 detik pada kelompok timolol-CHG dan (- 1,30)±3,47 pada timolol-PQ1. Tidak terdapat perbedaan bermakna selisih nilai parameter permukaan okular (TBUT, staining, OSDI, Schirmer I) maupun TIO antar kedua kelompok. Line dan dimple pattern merupakan TBUP yang paling banyak ditemukan pada kedua kelompok baik sebelum maupun sesudah intervensi. Analisis dalam kelompok mendapatkan penurunan TBUT bermakna (p < 0,05) pada kelompok timolol-PQ1 setelah dibandingkan dengan sebelum intervensi, pada kelompok timolol-CHG tidak didapatkan perbedaan bermakna.
Kesimpulan: Timolol-CHG memiliki efek terhadap permukaan okular dan TIO sebanding dengan timolol-PQ1. Penggunaan timolol-CHG dapat dipertimbangkan sebagai alternatif jangka pendek pengobatan glaukoma.

Background: Patients with glaucoma and ocular hypertension using topical anti-glaucoma medication are more likely to have ocular surface problems. It happens mainly due to the preservatives in the eye drops. Chlorhexidine gluconate (CHG) as a preservative have not been studied for their effects on ocular surface parameters.
Objective: To evaluate the effect of chlorhexidine gluconate 0,002% preseved timolol maleate 0,5% (timolol-CHG) on the ocular surface of patients with glaucoma and ocular hypertension.
Methods: Randomized single-blind controlled trial in 54 eyes of patients diagnosed with glaucoma or ocular hypertension that has been using polyquaternium-1 preserved timolol maleate 0.5% (timolol-PQ1) for <12 months. Twenty-seven eyes switched therapy to timolol- CHG, and 27 eyes continued with timolol-PQ1. Tear break-up time (TBUT), tear break-up pattern (TBUP), corneal-conjunctival staining score, ocular surface disease index (OSDI) scoring, Schirmer I, and intraocular pressure (IOP) were assessed at baseline and one month post intervention.
Results: Mean differences (1 month-baseline) of TBUT were 0.15±5.28 seconds in timolol- CHG group and (-1.30)±3.47 in timolol-PQ1 group. There were no difference (p > 0.05, for all) between groups in terms of ocular surface parameters (TBUT, staining, OSDI, Schirmer I) and IOP mean differences. Line and dimple pattern were the most common break-up pattern found in both group at baseline and at 1 month. Analysis within group found significant difference (p < 0.05) of timolol-PQ1 TBUT at 1 month compared to baseline, TBUT were lower at 1 month.
Conclusion: Timolol-CHG has comparable effects on the ocular surface and IOP comparable to timolol-PQ1. The use of timolol-CHG may be considered as a short-term alternative for glaucoma treatment.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Alexander Krishna Ernanda
"Minimnya data mengenai daya tahan otot pada pelajar di Indonesia, menurunnya aktivitas fisik di kota-kota besar serta meningkatnya angka obesitas pada usia di atas 18 tahun terutama pada perempuan mendasari dilaksanakannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara jenis kelamin dengan daya tahan otot melalui pengukuran jumlah angka push up dan sit up. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional pada mahasiswa fakultas kedokteran angkatan 2011 yang mengikuti praktikum uji daya tahan otot. Data dianalisis menggunakan program SPSS Ver. 21 for Mac dan dilakukan uji deskriptif cross tabulation, uji Independent T-sample dan uji Mann-Whitney. Dari uji daya tahan 132 mahasiswa yang terdiri dari 43 laki-laki dan 89 perempuan, menunjukkan bahwa 67,4% dari mahasiswa laki-laki, dan 85,4% mahasiswa perempuan mempunyai kategori poor. Sedangkan untuk push-up, 60,5% mahasiswa laki-laki masuk ke dalam kategori poor dan 52,8% mahasiswa perempuan masuk ke dalam kategori fair. Pada analisis tidak ditemukan hubungan bermakna antara daya tahan otot, baik sit-up maupun push-up, dengan jenis kelamin.

The lack of data on students? muscle endurance in Indonesia, decreasing physical activity in big cities and increasing obesity rate in population of 18 years old and over especially on women underlied this research. The purpose of this research is to find any relation between sex and muscle endurance using measurement of sit up and push up. Cross sectional study was used on medical students batch 2011 who participated in muscle endurance examination. Datas were analyzed using SPSS Ver. 21 for Mac and descriptive cross tabulation, Independent T-sample, Mann-Whitney tests were performed. From 132 participants (43 men and 89 women), 67.4% men and 85.4% women are categorized as "poor" for sit-up. Meanwhile on push-ups, 60.5% men are categorized as "poor" and 52.8% women as "fair". The analysis shows there is no relation between muscle endurance, either sit-up or push-up, with sex.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library