Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nurfauzi
"Kolonialisme Napoleon Bonaparte bersama Prancis membawa pengaruh terhadap Mesir dalam bidang pendidikan. Melihat kemajuan Barat akan bidang pendidikan, mempengaruhi para reformis Mesir untuk melakukan pembaharuan. Awal pembaharuan Mesir pertama kali dipelopori oleh Muhammad Ali Pasha yang dikenal sebagai (Founding Father of Modern Egypt). Dalam modernisasi di bidang pendidikan, Muhammad Ali Pasha memfasilitasi berbagai upaya penerjemahan buku asing ke dalam bahasa Arab. Dalam proses penerjemahan tersebut Rifa'ah Al-Tahtawi merupakan tokoh yang berperan besar dalam upaya penerjemahan buku Prancis di Mesir. Penelitian ini mengkaji perjalanan serta upaya Rifa'ah Al-Tahtawi dalam penerjemahan buku Prancis di Mesir, buku-buku Prancis yang diterjemahkan Rifa'ah Al-Tahtawi dalam bahasa Arab dan dampak penerjemahan buku Prancis dalam bahasa Arab bagi Rifa'ah Al-Tahtawi dan Mesir. Adapun teori yang digunakan dalam penulisan ini adalah teori Peranan oleh Soerjono Soekanto dengan metode deskriptif kualitatif dan sejarah dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Rifa'ah Al-Tahtawi melakukan berbagai upaya penerjemahan buku Prancis di Mesir seperti mendirikan Sekolah Bahasa, memberikan pengajaran mengenai penerjemahan, menjadi penguji penerjemahan buku Prancis dan sebagainya. Buku-buku Prancis yang diterjemahkan Al-Tahtawi dalam bahasa Arab mencapai 27 buku yang terdiri dari berbagai bidang keilmuan. Dari karyanya ini memberikan dampak kepada pemikiran Al-Tahtawi sendiri dalam berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, emansipasi wanita dan nasionalisme. Sedangkan dampak bagi Mesir, Mesir menjadi negara yang lebih maju dan menyadari urgensi dari pendidikan.

Napoleon Bonaparte's colonialism with France had an influence on Egypt in the field of education. Seeing the progress of the West in the field of education, it influenced the Egyptian reformers to carry out reforms. The beginning of the renewal of Egypt was first pioneered by Muhammad Ali Pasha who is known as the (Founding Father of Modern Egypt). In modernizing the field of education, Muhammad Ali Pasha facilitates various efforts to translate foreign books into Arabic. In the translation process, Rifa'ah Al-Tahtawi was a figure who played a major role in the translation of French books in Egypt. This study examines the journey and efforts of Rifa'ah Al-Tahtawi in translating French books in Egypt, French books translated by Rifa'ah Al-Tahtawi in Arabic and the impact of translating French
books into Arabic for Rifa'ah Al-Tahtawi and Egypt. The theory used in this paper is the theory of Role by Soerjono Soekanto with qualitative descriptive methods and history with a literature study approach. The results of this study indicate that Rifa'ah Al-Tahtawi made various efforts to translate French books in Egypt such as establishing a Language School, providing teaching on translation, being a French book translation examiner and so on. Al-Tahtawi's French books translated into Arabic reached 27 books consisting of various scientific fields. From this work, it has an impact on Al-Tahtawi's own thoughts in various fields such as education, economics, women's emancipation and nationalism. As for the impact on Egypt, Egypt became a more developed country and realized the urgency of education.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2022
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ekananda Anggih Nurfauzi
"Menggunakan bunching estimation dan data SPT dari DJP, diketahui pada periode 2011-2013 ada perilaku bunching, yaitu perilaku menahan omzet, yang signifikan di area sekitar batasan PKP Rp. 600 juta. Akan tetapi pada periode 2014-2016 tidak ada bunching pada area yang sama. Respons bunching menunjukkan batasan PKP justru menjadi penghalang pertumbuhan usaha. Menggunakan analisis level perusahaan, wajib pajak dengan status hukum Persekutuan & Firma dan sektor usaha Transportasi dan Pergudangan memiliki probabilitas tertinggi untuk melakukan bunching. Probabilitas melakukan bunching dengan cara underreporting omzet tertinggi ada pada karakteristik wajib pajak dengan status hukum Yayasan dan sektor usaha perdagangan. Pada area sekitar Rp. 4,8 Miliar tidak ada bunching terhadap batasan PKP, justru yang ada fenomena negative bunching, yaitu wajib pajak memilih untuk memiliki omzet diatas batasan. Hal ini dikarenakan ada kebijakan lain yang berpengaruh pada area yang sama yaitu kebijakan tarif pajak flat 1% dari omzet.

Using bunching estimation and data from tax return in Directorate General of Taxes, it is known there is significant bunching behavior, holding it's sales, in the area around threshold Rp. 600 million, but in the period 2014-2016 there is no bunching in the same area. The bunching response shows that the VAT threshold is actually a barrier to business growth. Using company-level analysis, taxpayers with legal status "Persekutuan & Firma" and in Transportation and Warehousing sector have the highest probability of bunching. The highest probability of doing bunching by underreporting is on the characteristics of the taxpayer with the legal status "yayasan" and in trade sector. In the area around Rp. 4.8 Billion there is no bunching at VAT threshold, at this point there is negative bunching phenomenon, the taxpayer chooses to have sales above the limit. This is because there are other policies that affect the same area that is tax rate policy flat 1% of sales rather than profit.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2018
T50532
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Haris Nurfauzi
"Lu Xun adalah salah satu sastrawan Cina yang senantiasa menuliskan kepekaannya terhadap kondisi sosial dan kritiknya terhadap kebudayaan tradisional dalam masyarakat Cina. Salah satu karyanya yang terkenal adalah cerita pendek berjudul “Mingtian明天” atau Besok. Cerita pendek ini ditulis pada tahun 1920 ketika Cina masih dalam atmosfer Gerakan Budaya Baru. Cerita pendek ini disampaikan dalam bentuk sederhana, namun memiliki penggambaran tokoh, penokohon, dan situasi kondisi sosial yang cukup rinci. Di balik kesederhanaan cerita, Lu Xun sesungguhnya mengungkapkan kritiknya terhadap kebudayaan tradisional yang masih melekat di dalam masyarakat Cina. Melalui penelitian kepustakaan, serta pendekatan intrinsik, tulisan ini akan membahas tentang penyampaian kritik sosial yang muncul dari struktur karya cerita pendek Mingtian, khususnya pada unsur-unsur tersembunyi di balik pengungkapan tokoh, penokohan, dan kondisi sosial yang muncul pada cerita ini.

Lu Xun is one of the Chinese writers who always writes about his sensitivity to social conditions and his criticism of traditional culture in Chinese society. One of his famous works is the short story entitled “Mingtian明天” or Tomorrow. This short story was written in 1920 when China was still in the atmosphere of the New Culture Movement. This short story is presented in a simple form, but has a fairly detailed description of the characters, characters, and social conditions. Behind the simplicity of the story, Lu Xun actually expresses his criticism of traditional culture that is still inherent in Chinese society. Through literature research, as well as an intrinsic approach, this paper will discuss the delivery of social criticism that emerges from the structure of Mingtian's short story, especially on the hidden elements behind the disclosure of characters, characterizations, and social conditions that appear in this story."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library