Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 49 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nurlaely Mida Rachmawati
"Latar Belakang: Saat ini diketahui ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk terapi penderita alergi, yaitu menghindari alergen, intervensi farmakologis dan imunoterapi (Bratawidjaja, 1998). Cara yang terbaik dan paling aman adalah menghindari alergen, tetapi cara tersebut sulit dilakukan pada alergen yang terdapat di udara. Penggunaan obat anti alergi seperti antihistamin harus memperhatikan banyak hal, yaitu dosis yang digunakan harus tepat, menghindari penggunaan jenis obat lain yang dapat menyebabkan interaksi dengan metabolit hepar, pemberian antihistamin harus lebih hati-hati pada penderita kelainan fungsi hepar atau gangguan jantung (Siregar, 1998). Sedangkan hasil terapi dengan imunoterapi sulit mencapai hasil yang memuaskan kecuali pada penderita yang alergik terhadap satu atau dua jenis alergen. Selain itu jangka waktu terapi relatif lama dan biayanya relatif mahal. Karena itu dirasa perlu dicari alternatif terapi alergi yang lain yang lebih efektif, mudah dan lebih murah dibandingkan terapi yang sudah ada.
Tujuan dan sasaran: Penelitian ini bertujuan memurnikan protein plasmapeksin dan melakukan karakterisasi protein plasmapeksin hasil pemurnian. Dengan diperolehnya protein plasmapeksin murni diharapkan dimasa yang akan datang plasmapeksin murni dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk pengobatan penderita alergi atopik."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Arinda Putri Pitarini
"Latar belakang: Rinitis alergi (RA) merupakan suatu kelainan hidung yang sering memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Perubahan kualitas hidup pasien RA secara subjektif dapat diukur dengan kuesioner mini RQLQ dan secara objektif dengan hitung jumlah eosinofil pada mukosa hidung dan kadar IL 5 serum. Tujuan: Mengetahui karakteristik subjek RA dan mengetahui perubahan kualitas hidup, jumlah eosinofil mukosa hidung dan kadar interleukin 5 pada pasien rinitis alergi persisten sedang berat sebelum dan setelah terapi medikamentosa. Metode: Pre eksperimental yang bersifat analitik sebelum dan setelah terapi dengan jumlah subjek RA persisten sedang berat sebanyak 33 orang. Subjek diminta untuk mengisi kuesioner Mini RQLQ, dilakukan kerokan mukosa hidung dan pengambilan darah sebelum dan 2 minggu setelah terapi. Hasil: Didapatkan 14 subjek berjenis kelamin laki-laki dan 19 subjek perempuan dari 33 subjek penelitian dengan rerata usia 32,55 ± 11,67. Sebanyak 31 dari 33 subjek mengalami perubahan bermakna dari kualitas hidup, seluruh subjek mengalami perubahan jumlah eosinofil yang bermakna dan 30 dari 33 subjek mengalami perubahan kadar IL 5 yang responsif setelah terapi selama 2 minggu. Kesimpulan: Kualitas hidup pasien RA persisten sedang berat dapat diukur dengan menggunakan kuesioner mini RQLQ dan jumlah eosinofil mukosa hidung dan kadar IL 5 dapat digunakan untuk evaluasi terapi RA namun tidak untuk pemeriksaan penunjang rutin.

Background: Allergic rhinitis (AR) is a nasal disorders that frequently affects the quality of life. Changes in quality of life AR patient can be measured subjectively using mini RQLQ and objectively by eosinophil count of nasal mucosa and IL 5 level. Objectives: To find the subject characteristic of AR and quality of life, eosinophil count of nasal mucosa and IL 5 level changes of moderate-severe AR patient before and after medicamentosa therapy. Methods: Pre experimental analytic study before and after therapy with 33 subjects of moderate-severe AR. All subjects were asked to fill out Mini RQLQ, collect nasal scrapping and blood specimens before and 2 weeks after therapy. Result: Fourteen subjects were male and 19 were women out of 33 subjects, with mean age 32,55 ± 11,67 years. Thirty one out of 33 subjects had significant quality of life changes, all subjects had significant changes of eosinophil nasal scrapping and 30 out of 33 subjects had significant changes of IL 5 level after 2 weeks of medicamentosa therapy. Conclusion: Allergic rhintis patient quality of life can be measured by mini RQLQ and eosinophil nasal scrapping and IL 5 level can be used for therapy evaluation but not for routine examination."
2014
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Karnen Garna Baratawidjaja
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
616.97 KAR m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Budi Utama
"ABSTRAK
Latar belakang. Rinitis Alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi. Tungau debu rumah TDR merupakan aeroalergen tersering yang mensensitisasi reaksi alergi. Pada tahun 1988 reseptor vitamin D VDR , berhasil di klon. Reseptor vitamin D berlokasi di beberapa jaringan dan sel tubuh manusia, termasuk di peripheral blood mononuclear cells PBMCs dan limfosit T yang telah teraktivasi. Riset yang lebih jauh memperlihatkan bahwa vitamin D mempunyai beberapa efek dari pengaturan sitokin terhadap beberapa sel yang berbeda dari sistem imun. Vitamin D dapat menekan respon Th1 dan Th2. Sel Th1 dan Th2 menghambat perkembangan satu sama lain.Tujuan. Melihat pengaruh pemberian Vitamin D terhadap kadar IL-10, IFN-? dan histamin pada kultur PBMC pasien rinitis alergiMetode. Sampel merupakan darah segar whole blood penderita rinitis alergi yang telah dilekukan prick test, serta diiisolasi dengan metode Ficoll. Bahan biologis tersimpan yang berupa supernatan kultur. Kultur sel limfosit sebelum perlakuan, diberi pendedahan tanpa atau dengan 1,25 OH 2D3 100 nM, waktu inkubasi 7 hari, dengan penambahan PHA dan alergen tungau pada hari ke-4. Kultur sel-sel PBMC dari pasien RA setelah perlakuan, dilakukan harvest pada hari ke-7, kemudian supernatanannya dialikuot untuk diukur kadar sitokin IFN-? dan IL-10, dan diuji secara statistik untuk melihat pola dari tiap parameter.Hasil: Pemberian alergen tungau tanpa vitamin D menyebabkan meningkatnya kadar histamin serta menurunkan kadar IL-10 dan IFN-?. Pemberian vitamin D pada kultur sel PBMC yang telah diberi alergen tungau menyebabkan peningkatan kadar IL-10 dan penurunan kadar IFN-? dan histamin.Simpulan: Menurunnya kadar histamin dan IFN-? terhadap stimulasi alergen tungau pasien rinitis alergi yang diberi vitamin D cenderung berhubungan dengan meningkatnya kiadar IL-10.

ABSTRACT
Background. Allergic rhinitis is an inflammatory disease caused by an allergic reaction in atopic patients. House dust mites TDR are the most common aeroalergens that sensitize allergic reactions. In 1988 vitamin D receptor VDR , successfully in clones. Vitamin D receptors are located in several tissues and human body cells, including peripheral blood mononuclear cells PBMCs and activated T lymphocytes. Further research has shown that vitamin D has some effects of cytokine regulation on several cells different from the immune system. Vitamin D can suppress Th1 and Th2 responses. Th1 and Th2 cells inhibit the development of each other. Aim.To identify the Effect of Vitamin D On IL 10 IFN and histamine levels on PBMC Cultur of Allergic Rhinitis PatientsMethod. The sample is fresh blood whole blood of allergic rhinitis patients who have been prick tested, and isolated by Ficoll method. Pre treated lymphocyte culture, treated with or without 1,25 OH 2D3 100 nM, and incubated for 7 days, with addition of PHA and allergen mites on day 4. Cultures of PBMC cells from RA patients after treatment were harvested on day 7, then the supernatant was dialyzed for measured levels of IFN and IL 10 cytokines using elisa kits and tested statistically to see patterns of each parameter.Result. Giving allergen mites without vitamin D causes increased levels of histamine and lowers levels of IL 10 and IFN . Provision of vitamin D in PBMC cell culture that has been given allergen mites causes increased levels of IL 10 and decreased levels of IFN and histamine.Conclusion. Reduced levels of histamine and IFN against allergen mite stimulation of allergic rhinitis patients given vitamin D tend to be associated with increased IL 10 levels."
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suzy Maria
"ABSTRAK
Latar Belakang: Atopi yang ditandai dengan sensitisasi (produksi IgE) terhadap alergen merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit alergi. Karena komposisi genetik cenderung stabil, peningkatan prevalensi penyakit alergi diduga disebabkan oleh faktor lingkungan yang berubah.
Tujuan: Mengetahui faktor yang memengaruhi sensitisasi terhadap alergen hirup dan munculnya manifestasi penyakit alergi pada populasi dewasa muda di Indonesia.
Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada mahasiswa baru Universitas Indonesia tahun 2019. Mahasiswa diminta mengisi kuesioner berisi data demografi, kuesioner International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC), menjalani pemeriksaan fisik dan uji cukil kulit terhadap lima alergen hirup (kecoa, Dermatophagoides farinae, Dermatophagoides pteronyssinus, bulu kucing, epitel anjing). Sensitisasi ditandai dengan terdapat setidaknya satu hasil positif pada uji cukil kulit. Jika terdapat hasil positif pada dua atau lebih alergen, subyek disebut mengalami polisensitisasi. Manifestasi alergi yang dinilai berupa asma, rinitis alergi, dan dermatitis atopi.
Hasil: Proporsi sensitisasi adalah 44,8% (128 dari 286 subyek), sedangkan proporsi manifestasi penyakit alergi adalah 57,7% (165 dari 258 subyek). Manifestasi penyakit alergi didapatkan pada 84 (65,6%) subyek dari subkelompok yang tersensitisasi. Sensitisasi ditemukan lebih banyak pada laki-laki (OR 2,25; IK95% 1,38-3,71; p=0,001) dan subyek yang lahir secara caesar (OR 2,46; IK95% 1,22-5,06; p=0,013), sebaliknya lebih sedikit pada subyek yang berasal dari urban (OR 0,54; IK95% 0,32-0,90; p=0,019). Subyek yang tersensitisasi cenderung untuk memiliki manifestasi penyakit alergi (OR 1,79; IK95% 1,10-2,95; p=0,020). Pada subkelompok yang tersensitisasi, manifestasi penyakit alergi ditemukan lebih banyak pada subyek yang tinggal di urban (OR 2,58; IK95% 1,15-6,01; p=0,024), obese (OR 5,25; IK95% 1,35-34,92; p=0,036), dan mengalami polisensitisasi (OR 2,26; IK95% 1,01-5,10; p=0,046).
Simpulan: Sensitisasi terhadap alergen hirup dipengaruhi oleh jenis kelamin lakilaki, status urban, dan riwayat persalinan caesar. Munculnya manifestasi penyakit alergi dipengaruhi oleh adanya sensitisasi. Pada subkelompok yang tersensitisasi, munculnya manifestasi penyakit alergi dipengaruhi oleh status urban, obesitas, dan polisensitisasi.

ABSTRACT
Background: Atopy marked by allergen sensitization (IgE production) is a risk factor for allergic diseases. Since genetic composition tends to be stable, the increase of allergic diseases prevalence is suspected due to changing environment factors.
Purpose: To identify the factors affecting sensitization to inhalant allergen and allergic diseases manifestation in Indonesian young adults.
Methods: Cross-sectional study done on Universitas Indonesia 2019 new students. Students were asked to fill in a demographic questionnaire, an International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) questionnaire, undergo physical examination and skin prick tests for five inhalant allergens (cockroach, Dermatophagoides farinae, Dermatophagoides pteronyssinus, cat hair, dog epithelium). Sensitization was marked by at least one positive result on the skin prick test. If there were two or more positive allergen results, subject was deemed as being polysensitized. Evaluated allergic manifestations were asthma, allergic rhinitis, dan atopic dermatitis.
Result: Sensitization was found in 44.8% (128 out of 286 subjects), while allergic diseases clinical manifestation was found in 57.7% (165 out of 258 subjects). The manifestation was found in 84 (65.6%) subjects from the sensitized subgroup. Sensitization was found more on male (OR 2.25; 95%CI 1.38-3.71; p=0.001) and subjects born by caesarean section (OR 2.46; 95%CI 1.22-5.06; p=0.013), whereas fewer on subjects from urban (OR 0.54; 95%CI 0.32-0.90; p=0.019). Sensitized subjects tended to demonstrate allergic diseases manifestation (OR 1.79; 95%CI 1.10-2.95; p=0.020). In the sensitized subgroup, allergic diseases manifestation was found more on subjects living in urban (OR 2.58; 95%CI 1.15-6.01; p=0.024), are obese (OR 5.25; 95%CI 1.35-34.92; p=0.036), and are polysensitized (OR 2.26;
95%CI 1.01-5.10; p=0.046).
Conclusion: Sensitization to inhalant allergens was affected by male sex, urbanstatus, and caesarean section birth. Allergic diseases manifestation was affected by presence of sensitization. In the sensitized subgroup, allergic diseases manifestation was affected by urban status, obesity, and polysensitization."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T55537
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indah Dewi Lestari
"Obat antialergi merupakan salah satu obat yang paling banyak diresepkan di Puskesmas Kecamatan Pulogadung. Klorfeniramin maleat adalah obat antialergi yang menempati urutan kedua obat paling banyak diresepkan di puskesmas tersebut dengan penggunaan selama bulan Oktober 2022 sebanyak 19.003 peresepan. Tingginya jumlah penggunaan obat tersebut perlu menjadi perhatian agar tidak terjadi permasalahan terkait obat (DRPs), seperti ketidaktepatan dosis resep. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan Google Spreadsheet sebagai sarana pendeteksi kesesuaian dosis pada obat antialergi pada resep sehingga proses pelayanan resep dapat lebih efisien dan meminimalisir terjadinya DRP. Penyesuaian dosis racikan menggunakan sistem ini dilakukan berdasarkan pedoman dosis yang berlaku serta menggunakan rumus Clark untuk pasien anak. Hasilnya, sistem yang berbasis Google Spreadsheet ini dapat digunakan sebagai sarana penyesuaian dosis obat racikan di Puskesmas Kecamatan Pulogadung dengan lebih efektif dan efisien.

Anti-allergy drugs are one of the most prescribed drugs at Pulogadung District Health Center. Chlorpheniramine Maleate is an antiallergic drug that ranks as the second most prescribed drug at Pulogadung District Health Center prescribed 19,003 prescriptions on October 2022. The high amount of this drug use must be a concern so that drug-related problems (DRPs) do not occur, such as inaccurate prescription dosages. This study aims to utilize Google Spreadsheet to detect the suitability of dosages for anti-allergic drugs on prescriptions so that the prescription service process can be more efficient and minimize the occurrence of DRP. Adjustments to the dosage of concoctions using this system are based on the applicable dosage guidelines and use the Clark formula for pediatric patients. As a result, this Google Spreadsheet-based system can be used as a means of adjusting the dosage of concoction drugs at the Pulogadung District Health Center more effectively and efficiently."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Earle, Liz
London: Boxtree, 1995
616.975 EAR f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Mackarnes, Richard
London: Thorson , 1994
616.975 05 MAC n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"Handajani NS, Dharmawan R. 2009. Effect of VCO to leucocyte differential count, glucose levels and blood creatinine of
hyperglycemic and ovalbumin sensitized Mus musculus Balb/c. Nusantara Bioscience 1: 1-8. Chemical medicines and insulin can
decrease blood glucose level in hyperglycemic patients with a macro vascular side effect. Diabetes and allergy incidences are influenced
by quality and quantity of leucocytes. Lauric acid within VCO reports decreased blood glucose level of diabetes and some allergy
incidents. The purpose of the study is to know the effect of VCO on blood glucose level, differential leucocytes count and blood
creatinine level on hyperglycemic and normoglycemic ovalbumin-sensitized mice. Forty-five (45) male (mice) of Mus musculus Balb/c
with an average weight of 35 g are divided into nine groups with five repetitions; those are four non-alloxan groups and five alloxan
induced hyperglycemic groups. On 22nd day to 36th day, they are sensitized to ovalbumin as an allergen. A blood sample was obtained
by orbital vena using heparin as anticoagulant in order measuring blood glucose level by GOD method to 6 times, on 1st, 4th, 18th, 22nd
,
32nd and 37th days, then are tested by ANOVA followed by DMRT 0.05. On 37th day, differential leucocytes are determined, blood level
are counted, and then compared to normal value. The results of this study were that within differential leucocytes count of
hyperglycemic mice, neutrophil percentage were much lower than the normal value (3.22%), and lymphocyte percentage were much
higher than the normal value (94.54%). Consumed 0.003 mL/35 g VCO more 18 days decreased blood glucose level on hyperglycemic
mice, decreased basophil percentage of ovalbumin-sensitized mice, normalized neutrophil percentage no increased creatinine blood
level. "
570 NBS 1:1 (2009)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Winna Putri Meirita
"Telah dilakukan penelitian mengenai identifikasi protein alergen serbuk sari akasia (Acacia auriculiformis dan Acacia mangium) dan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi protein alergen serbuk sari tanaman Acacia auriculiformis, Acacia mangium, dan kelapa sawit. Ekstrak protein sampel serbuk sari menunjukkan hasil negatif pada uji dot blotting karena konsentrasi protein sampel rendah. Protein serbuk sari kelapa sawit dengan berat molekul (BM) 31 kDa diduga sebagai alergen utama karena bereaksi positif terhadap > 80% serum individu alergi maupun individu normal. Individu normal bereaksi positif terhadap protein tersebut diduga karena faktor atopi.

The research was about identification of allergenic pollen protein from acacia (Acacia auriculiformis and Acacia mangium) and oil palm (Elaeis guineensis Jacq.). The aim of the research was to identify allergenic pollen protein from Acacia auriculiformis, Acacia mangium, and oil palm. Protein extract of pollen sample which was extracted by phenol extract method showed negative result in dot blotting assay because protein concentration of sample was low. Oil palm pollen protein with 31 kDa molecular weight was suspected as major allergen because it showed positive reaction to >80% of serum either allergy or normal individual. Normal individual which showed positive reaction to the protein was suspected cause of atopy."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S43078
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>