Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 39 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Anna Suraya
"Uji fit APR merupakan satu prosedur yang seharusnya dilakukan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan upaya pencegahan pajanan dengan penggunaaan alat pelindung respirasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas uji fit APR dalam mencegah penurunan VEP1 yang dipicu kromium pada pengelas baja stainless dan menilai kenyamanan pemakaian APR tersebut.
Metode : Penelitian menggunakan desain clinical tral (cross over) antara dua kelompok pekerja yaitu yang menggunakan APR teruji fit dan pengguna APR tanpa uji fit dengan tersamar tunggal pada pemeriksa VEP1. Efek penurunan VEP1 diukur pada 24 responden dengan membandingkan nilai VEP1 sebelum dan sesudah bekerja dalam 1 shift. Kenyamanan pemakaian APR dinilai dengan kuesioner. Uji fit APR menggunakan metode kualitatif dengan instrument FT- 30 bitter dari 3M. Kadar kromium lingkungan kerja diukur dengan metode NIOSH 7027-1994.
Hasil: Kadar kromium lingkungan adalah 3,45 μg/m3. Rata-rata VEP1 ketika responden menggunakan APR biasa sebelum bekerja adalah 3403,8 ml dan sesudah bekerja adalah 3247,5 ml. Rata-rata VEP1 ketika menggunakan APR fit sebelum bekerja adalah 3359,0 ml dan sesudah bekerja adalah 3339,6 ml. Terdapat perbedaan yang signifikan dimana penurunan VEP1 saat menggunakan APR biasa lebih tinggi dibanding saat menggunakan APR fit (uji t berpasangan p=0,011 ). APR fit juga lebih nyaman digunakan dibanding APR biasa (uji Mc Nemar p= 0,022)
Kesimpulan : APR teruji fit terbukti efektif mencegah penurunan VEP1 yang terlihat dari (1) terdapat penurunan VEP1 yang signifikan saat responden menggunakan APR biasa dalam 1 shift kerja namun tidak terjadi penurunan bermakna saat menggunakan APR fit, (2) perbedaan penurunan VEP1 antara saat menggunakan APR yang teruji fit dan saat menggunakan APR biasa secara statistik bermakna. APR teruji fit mempunyai tingkat kenyamanan yang lebih baik dibandingkan dengan APR tanpa uji fit.

Introduction: Respirator fit-testing is one of the procedures which should be performed as an integrated part of hazard prevention effort by respirator protection device usage. The purpose of this research was to evaluate effect of RPE fit testing aimed at preventing an acute decline in FEV1 induced by chromium in stainless steel welder and to assess the convenience of RPE usage.
Methods: This research was conducted on clinical trial (cross over) design between workers who wore tight fitting RPE and workers who wore regular RPE with single blind at FEV1 evaluator. Declining of FEV1 was measured on 24 respondents by comparing prior working FEV1 value and end working FEV1 value in a work shift. The convenience of RPE usage was assessed by questionnaire. Respirator fit-testing was conducted by qualitative method with FT-30 bitter instrument from 3M. Chromium level at working environment was measured by NIOSH 7072-1994 method.
Results: Chromium environment level was 3.45 ug/m³. Should respondents worn regular RPE, the mean of FEV1 prior working was 3403,8 ml and end working was 3247,5 ml. Having worn tight fitting RPE, the mean of FEV1 of respondents prior working was 3359,0 ml and end working was 3339,6 ml. There was a significant differences that FEV1 declining when respondents wore regular RPE was higher than that on wearing tight fitting RPE (dependent t test p=0.011). Tight fitting RPE was also more convenient to wear compare to regular RPE (Mc Nemar test p= 0.022).
Conclusions: Tight fitting RPE proved to be effective in preventing an acute decline in FEV1 which were visible from (1) There was significant acute decline in FEV1 when respondents wore regular RPE but not when wearing fit RPE, (2) The differences of FEV1 declining on both treatment was statistically significant. Tight fitting RPE had better convenience level compare to non fitting RPE."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mulhaeriah
"Fatigue adalah salah satu masalah yang paling sering terjadi pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Berbagai terapi nonfarnakologi disarankan untuk mengurangi fatigue salah satunya adalah Relaxation Breathing Exercise (RBE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas RBE pada fatigue penderita kanker ginekologi yang menjalani kemoterapi. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experiment with pre-post test control group. Sebanyak 42 pasien yang diperoleh secara consecutive berpartisipasi dalam penelitian ini, 21 dimasukkan dalam kelompok RBE 4 kali dan 21 dalam kelompok 2 kali. Skor fatigue pasien akan diukur dengan menggunakan kuesioner Piper Fatigue Scale. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Repeated-ANOVA dan Independent t-test dengan tingkat kemaknaan  < 0,01. Penelitian ini menemukan penurunan yang signifikan (p < 0,01) pada skor fatigue rata-rata di kedua kelompok (kelompok RBE 4 kali 3,29 ± 0,59 dan kelompok RBE 2 kali 4,19 ± 0,61) pada hari terakhir intervensi. Namun kelompok 4 kali RBE menunjukkan penurunan yang lebih besar dibandingkan kelompok 2 kali RBE (Selisih mean = 0,91; 99%CI = 0,41 - 1,41; p = 0,001). RBE yang dilakukan 4 kali sehari lebih efektif mengurangi fatigue pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Peran perawat diperlukan untuk membantu pasien meminimalkan fatigue yang dialami salah satunya dengan mengajarkan terapi nonfarmakologi yang efektif seperti RBE.
......Fatigue is one of the most common problem experienced by patients undergoing chemotherapy. Some non-pharmacological therapies have been suggested to alleviate the problem such as Relaxation Breathing Exercise (RBE). This research aimed to determine the effectiveness of the RBE on the fatigue suffered by gynecological cancer patients undergoing chemotherapy. This study used a quasy randomized-controlled trial with pre- and post-test design. Forty two patients were consecutively sampled, 21 were assigned to RBE four times a day group and 21 to RBE two times a day group. Fatigue score were measured every day for seven days from both groups using Piper Fatigue Scale. The data obtained were analyzed using repeated-ANOVA and independent t-test with significant level α<0.01. This study found significant decreases (p < 0.01) of mean fatigue scores on both groups (RBE four times in a day group = 3.29 ± 0.59 and RBE two times in a day group = 4.19 ± 0.61) after the completion of the intervention. However, the RBE four times a day group shown a larger decrease on fatigue score compared to the RBE two times a day group (Mean Difference = 0.91; 99%CI = 0.41 - 1.41; p=0.001). Four times RBE in a day is more effective in relieving fatigue on cancer patients undergoing chemotherapy. Nurses' role is necessary to help patients in minimizing their fatigue by guiding the patient to perform an effective non-pharmacological therapy such as the RBE."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T35123
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tarwoto
"Slow deep breathing (SDB) merupakan teknik pernapasan dengan frekuensi bernapas kurang dari 10 kali permenit dan fase inhalasi yang panjang. Latihan slow deep breathing dapat meningkatkan suplai oksigen ke otak dan dapat menurunkan metabolisme otak sehingga kebutuhan oksigen otak menurun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh latihan SDB terhadap nyeri kepala akut pada pasien cedera kepala ringan. Desain penelitian adalah kuasi eksperimen pre post test dengan kelompok kontrol terhadap 21 responden kelompok intervensi dan 21 responden kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan tindakan SDB pada hari pertama 3 kali dan pada hari kedua 1 kali masing-masing selama 15 menit.
Hasil penelitian diperoleh ada perbedaan yang bermakna rerata intensitas nyeri kepala akut pada pasien cedera kepala ringan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah dilakukan latihan SDB (p=0,000, α = 0,05. Terdapat hubungan jenis kelamin dengan intensitas nyeri kepala akut pada pasien cedera kepala ringan (p= 0,046), tetapi tidak ada hubungan antara usia dan suku responden terhadap intensitas nyeri kepala akut pada pasien cedera kepala ringan (berturut-turut p= 0,079 dan p=0,834; α = 0,05). Rekomendasi hasil penelitian ini adalah SDB dapat diterapkan sebagai intervensi keperawatan dengan nyeri kepala akut pada pasien cedera kepala ringan.
......Slow deep breathing (SDB) is a breathing technique with breathing frequency of less than 10 times per minute and a long phase of inhalation. Slow Deep Breathing exercises relaxation can increase the supply of oxygen to the brain and may decrease the metabolism of the brain so the brain needs of oxygen will decrease. The purpose of this study to determine the effect of SDB relaxation of headache in patients with acute mild head injury. The study design was quasiexperimental pre-post test with a control group of 21 respondents intervention group and control group. The intervention group is given SDB intervention on the first day 3 times and on the second day of rehearsals SDB 1 each for 15 minutes.
The results obtained there are significant differences in mean intensity of headache pain in patients with acute mild head injury between the intervention group and control group after exercise SDB (p= 0.000; α = 0.05). There is a relationship of sex with pain intensity in patients with acute head injury lightheadedness (p= 0.046), but there was no association between respondent?s age and ras with the intensity of acute headache in patients with mild head injury (perspectively p = 0,079 and p=0,834; α = 0,05). Recommendation of this study is SDB can be applied as a nursing intervention with acute headache in patients with mild head injury."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Chaerisa Saleh
"Latar Belakang: Kebiasaan bernafas melalui mulut menjadi perhatian
di bidang kesehatan karena 50%-56% kebiasaan bernafas melalui mulut terjadi pada anak-anak. Kebiasaan ini dapat berdampak pada dehidrasi pada rongga mulut anak sehingga dapat mengakibatkan munculnya peradangan pada jaringan periodontal dan kecenderungan untuk anak mengalami bau mulut. Kemungkinan penyebab penyakit periodontal terlibat dalam kejadian pernapasan melalui mulut antara lain adalah bakteri Porphyromonas gingivalis dan Treponema denticola, namun prevalensi keduanya belum sepenuhnya diketahui bersih. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan prevalensi Porphyromonas gingivalis dan Treponema denticola pada biofilm permukaan lidah dan air liur anak-anak bernafas melalui mulut. Metode: Deteksi dan identifikasi bakteri Porphyromonas gingivalis dan Treponema denticola pada 60 subjek (19 subjek bernapas melalui mulut)
dan 41 subjek pernapasan normal) menggunakan teknik PCR konvensional. Analisis Statistik dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil: Treponema denticola and Porphyromonas gingivalis dapat dideteksi pada biofilm saliva dan lidah, tetapi tidak Ada perbedaan yang signifikan dalam prevalensi kedua bakteri di rongga mulut anak-anak
yang bernapas melalui mulut dan normal (p>0,05). Hasil studi menunjukkan ada hubungan positif antara skor organoleptik dan skor OHI-S dengan kejadian bernafas melalui mulut. Kesimpulan: Treponema denticola dan Porphyromonas gingivalis dapat ditemukan pada anak-anak dengan dan tanpa kebiasaan bernapas melalui mulut dengan tingkat prevalensi yang sama.
......Background: The habit of breathing through the mouth is a concern
in the health sector because 50%-56% of the habit of breathing through the mouth occurs in children. This habit can have an impact on dehydration in the child's oral cavity so that it can result in the appearance of inflammation in the periodontal tissue and a tendency to swell
child has bad breath. Possible causes of periodontal disease involved in the incidence of mouth breathing include the bacteria Porphyromonas gingivalis and Treponema denticola, but the prevalence of both is not yet fully known. Objective: The aim of this study was to compare the prevalence of Porphyromonas gingivalis and Treponema denticola in the biofilm of the tongue and saliva surfaces of children breathing through the mouth. Methods: Detection and identification of Porphyromonas gingivalis and Treponema denticola bacteria in 60 subjects (19 subjects breathed through the mouth) and 41 normal respiratory subjects) using conventional PCR techniques. Statistical analysis was performed using the Chi-square test. Results: Treponema denticola and Porphyromonas gingivalis were detected in salivary and tongue biofilms, but there was no significant difference in the prevalence of the two bacteria in the oral cavity of children. who breathed through the mouth and were normal (p>0.05). The results of the study showed that there was a positive relationship between organoleptic scores and OHI-S scores with the incidence of mouth breathing. Conclusion: Treponema denticola and Porphyromonas gingivalis can be found in children with and without mouth breathing habits with the same prevalence rate."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saradananda, Swami
London: Duncan Baird Publishers, 2009
613.192 SAR p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
"Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan perubahan kekebalan pada latihan pemapasan dan merupakan penelltia ekspenmental, secara acak pra-posttest kontrol. Me/ode: Populast penelitian adalah siswa MA Mu 'altmm. dt Yogyakarta Responden 15 siswa untuk setiap kelompok. Unit ana/isis ada/ah data ana/isis dari darah yang dtambll dan cub1/1 vena Vanabel dependen adalah tingkat /L 6, IL 4, IL 2, cortisol, Beta endorfin. dan /gG. Program pelatihan dtlakukan da/am waktu 7 mmggu, 3 kalt per minggu, intensitas sub maksimal, dan 6 set per sesi. Variabe//aboratorium adalah metode ELISA.
Hasil uji Manova adalah p: 0, 000 tersirat bahwa ada perbedaan antara kelompok (Wilk Lambda p
610 BULHSR 13:3 (2010)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Kartika Sari
"[ABSTRAK
Keluhan utama yang paling sering dirasakan pasien PPOK adalah sesak. Salah
satu intervensi keperawatan untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam upaya
mengatasi sesak pasien PPOK adalah efikasi diri pursed lip breathing. Penelitian
ini bertujuan mengetahui pengaruh efikasi diri pursed lip breathing terhadap
penurunan sesak dan peningkatan saturasi oksigen pasien PPOK. Desain
penelitian adalah randomized controlled trial dengan rancangan penelitian
pretest-postest design. Penelitian ini melibatkan 36 responden dengan
menggunakan teknik randomisasi blok terbagi menjadi 18 responden kelompok
intervensi dan 18 responden kelompok kontrol. Hasil analisis statistik didapatkan
bahwa terdapat perbedaan yang bermakna penurunan sesak dan peningkatan
saturasi oksigen antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah
intervensi dengan nilai p < 0.001. Efikasi diri pursed lip breathing dapat dijadikan
salah satu alternatif intervensi keperawatan manajemen jalan napas pada pasien
PPOK.

ABSTRACT
The main complaints are most often perceived COPD patient is dyspnea. One of
nursing interventions to increase self confidence in the effort to overcome the
dyspnea of COPD patients are self-efficacy of pursed-lips breathing. This study
objective was to see the influence of self-efficacy of pursed-lips breathing on
dyspnea reduction and oxygen saturation increase in COPD patients. A
randomized controlled trial with pretest-postest method were used as the study
design. This study involved 36 respondents divided into intervention and control
group by block randomization. The statistic analysis result shows a difference
between the two groups after the interventions were made which means there
were dyspnea reduction and oxygen saturation increase at value p < 0.001. selfefficacy
of pursed-lips breathing can be applied as one of alternative nursing
intervention for COPD airway management, The main complaints are most often perceived COPD patient is dyspnea. One of
nursing interventions to increase self confidence in the effort to overcome the
dyspnea of COPD patients are self-efficacy of pursed-lips breathing. This study
objective was to see the influence of self-efficacy of pursed-lips breathing on
dyspnea reduction and oxygen saturation increase in COPD patients. A
randomized controlled trial with pretest-postest method were used as the study
design. This study involved 36 respondents divided into intervention and control
group by block randomization. The statistic analysis result shows a difference
between the two groups after the interventions were made which means there
were dyspnea reduction and oxygen saturation increase at value p < 0.001. selfefficacy
of pursed-lips breathing can be applied as one of alternative nursing
intervention for COPD airway management]"
2015
T44180
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adinda Ayu Setiady
"Lansia akan mengalami penurunan fungsional tubuh, salah satunya pada sistem kardiovaskuler. Salah satu penyakit kardiovaskuler yang paling umum pada lansia adalah hipertensi. Karya ilmiah ini menganalisis penerapan evidence-based practices berupa intervensi unggulan dalam menurunkan tekanan darah yakni intervensi foot massage dan relaksasi tarik napas dalam. Intervensi foot massage dan relaksasi tarik napas dalam menjadi salah satu intervensi non farmakologis. Karya ilmiah yang dibahas ini menerapkan intervensi foot massage dan relaksasi tarik napas dalam selama 9 hari dengan waktu 40 menit setiap sesinya. Dari hasil intervensi telah menunjukkan bahwa intervensi foot massage dan relaksasi tarik napas dalam sangat efektif untuk menurunkan tekanan darah yang ditandai dengan adanya penurunan tekanan darah sistolik sebesar 12,3 mmHg dan penurunan tekanan darah diastolik sebesar 14,3 mmHg. Berdasarkan hal ini penerapan intervensi foot massage dan relaksasi tarik napas dalam menjadi pilihan dalam menurunkan tekanan darah pada lansia. Penurunan tekanan darah yang dilakukannya dengan intervensi foot massage dan relaksasi tarik napas dalam juga dapat semakin efektif dengan melakukan aktivitas fisik secara rutin dan mengontrol faktor risiko hipertensi. Diharapkan intervensi ini dapat memberikan manfaat kepada perawat di lahan praktik untuk menerapkan secara rutin dalam manajemem hipertensi pada lansia.
...... The elderly will decrease a functional of the body, one of which is the cardiovascular system. One of the most common cardiovascular diseases in the elderly is hypertension. This research analyzes the application of evidence-based practices which the form of superior interventions in reducing blood pressure, constitute foot massage and deep breath relaxation interventions. Foot massage and deep breath relaxation interventions are one of the non-pharmacological interventions. This research discussed applies foot massage and deep breath relaxation interventions for 9 days with 40 minutes each session. The results of the intervention have shown that the intervention of foot massage and deep breath relaxation are very effective to reduce blood pressure characterized by a decrease in systolic blood pressure by 12.3 mmHg and a decrease in diastolic blood pressure by 14.3 mmHg. Based on this, the application of foot massage and deep breath relaxation interventions are an option to reduce blood pressure in the elderly. The decrease in blood pressure with the intervention of foot massage and deep breath relaxation can also be more effective by doing regular physical activity and controlling risk factors for hypertension. It is hoped that this intervention can provide benefits to nurses in the practice area to apply routinely in managing hypertension in the elderly."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Niken Ageng Rizki
"Latar belakang: Sleep disordered breathing (SDB) merupakan satu spektrum kelainan abnormalitas pola pernapasan pada saat tidur. Diperlukan visualisasi untuk menilai kedinamisan saluran napas atas untuk menentukan lokasi, konfigurasi dan derajat sumbatan saluran napas atas saat terjaga dan saat tidur secara spesifik pada setiap subjek berdasarkan hasil inklusi dari kuisioner STOP BANG dikarenakan karakteristik dan faktor risiko yang berbeda-beda pada setiap individu. Tujuan penelitian: Mengetahui perbedaan lokasi, konfigurasi dan derajat sumbatan jalan napas atas yang terjadi antara pemeriksaan (Perasat Muller) PM saat terjaga dan pemeriksaan Drug Induced Sleep Endoscopy (DISE) saat tidur serta dengan menggunakan pemeriksaan polisomnografi (PSG) untuk menentukan derajat gangguan tidur. Untuk mengetahui hasil pemeriksaan perbedaan saturasi oksigen terendah antara pemeriksaan PSG dan DISE saat tidur, dengan tujuan untuk mendapatkan cara diagnosis yang dapat memberikan nilai tambah pada pasien SDB. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian studi potong lintang (cross sectional) dengan data sekunder yang bersifat retrospektif; 1) Deskriptif analitik, dan 2) Membandingkan gambaran lokasi, derajat dan konfigurasi sumbatan jalan napas dengan pemeriksaan PM, DISE dan PSG pada kasus SDB di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dengan 46 subjek yang diambil dari data Januari 2017 hingga April 2019. Hasil: Karakteristik kelompok pasien SDB pada penelitian ini mempunyai rentang usia antara 18-73 tahun dengan laki-laki dan perempuan mempunyai proporsi yang sama besar. Pada anamnesis didapatkan STOP BANG risiko tinggi sebesar 58,7%, Epworth Sleepiness Scale (ESS) risiko gangguan tidur 93,5%, skor Nasal Obstruction Score Evalutaion (NOSE) dengan risiko hidung tersumbat 97,8%, subjek obesitas 56,5%, subjek dengan Refluks laringofaring (RLF) 67,4%, hipertensi 28,3%, kelainan jantung 30,4%. Terdapat 13 subjek (28,2%) SDB non OSA, 18 subjek (39,13%) OSA ringan, 10 subjek (21,73%) OSA sedang, dan 5 subjek (10,86%) OSA berat. Terdapat perbedaan bermakna pada lokasi dan konfigurasi sumbatan jalan napas atas antara PM dan DISE pada area velum, orofaring dan epiglotis dengan nilai p berturut-turut p = 0,036; p<0,001 dan p = 0,036. Terdapat perbedaan bermakna pada lokasi dan derajat sumbatan jalan napas atas antara PM dan DISE pada area velum, orofaring, dasar lidah dan epiglotis dengan nilai p berturut-turut p = 0,002; p<0,001; p<0,001 dan p<0,001. Subjek dengan SDB non OSA dan OSA ringan dapat juga menunjukkan sumbatan multilevel dengan konfigurasi yang berbeda-beda. Derajat RDI tidak selalu berhubungan dengan konfigurasi sumbatan jalan napas atas. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar saturasi oksigen terendah saat tidur pada saat DISE dan PSG dengan nilai p = 0,055. Pada penelitian ditemukan sumbatan jalan napas atas pada fase tidur REM dan NREM diihat berdasarkan derajat RDI pada PSG, terlihat kecenderungan adanya RDI REM dengan nilai yang lebih tinggi dibandingkan RDI NREM pada subjek dengan OSA ringan dan OSA sedang. Pada SDB non OSA dan OSA berat nilai RDI NREM sama dengan RDI REM.
......Background: Sleep disordered breathing (SDB) is a spectrum of breathing abnormality during sleep. Direct visualization needed to evaluate the level, configuration and degree of upper airway obstruction during sleep in each patient due to the difference in characteristic and risk factor of SDB based on STOP BANG questionnaire. Purpose: Evaluate the differences of location, configuration, and degree of upper airway obstruction between Muller Maneuver (MM) during awake and Drug Induced Sleep Endoscopy (DISE) during sleep using polysomnography (PSG) to determine the degree severity of sleep disorder. To evaluate the lowest oxygen saturation between PSG and DISE during sleep thus acquired a better diagnostic value for SDB patient. Methods: Analitical decriptive of cross sectional study with retrospective secondary data evaluate the difference of location, configuration and degree of upper airway obstruction in SDB subject using Mueller Maneuver (MM) and DISE in ENT-HNS Cipto Mangunkusumo Hospital from January 2017 until April 2019 with 46 subjects. Result: The age range of subjects between 18-73 years old, both each male and female are 26 subjects, using anamnesis and questionnaire STOP Bang with high risk 58,7%, ESS high risk of SDB 93,4%, NOSE score with nasal congestion 97,8%, obesity 56,5%, Laryngopharungeal Reflux 67,4%, hypertension 39%, heart disease 30,4%. Based on polysomnography data there were 28,2% subjects with SDB non OSA (Obstructive Sleep Apnea), 39,1% subjects mild OSA, 21,7% subjects moderate OSA, 10,7% subjects severe OSA. Statistically difference in configuration of upper airway obstruction between MM and DISE in level velum (p = 0,036), oropharynx (p<0,001), epiglotits (p = 0,036), also statistically different in location and degree of upper airway obstruction between MM and DISE in velum, oropharynx, tongues base and epiglottis with p = 0,002; p<0,001; p<0,001 dan p<0,001. No statisticaly difference on lowest oxygen saturation during polysomnography and DISE (p = 0,055). Subjects with SDB non OSA and mild OSA alos shown multilevel obstruction with different airwal collaps configuration. RDI degree didnt always correlate with upper airway obstruction configuration. RDI NREM was higher in subject with mild OSA and moderate OSA, in SDB non OSA and severe OSA RDI REM as same as RDI NREM."
Depok: Fakultas Kedokteran, 2019
T55573
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Niken Wahyu Puspaningtyas
"Non-invasive respiratory support adalah suatu metode pemberian bantuan napas mekanik tanpa intubasi. High flow nasal cannula (HFNC) dan continuous positive airway pressure (CPAP) termasuk dalam golongan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas HFNC dibandingkan dengan CPAP pada anak dengan gagal napas hipoksemia akut. Uji klinis acak terkontrol dilakukan pada anak gagal napas hipoksemia akut (saturasi oksigen <90%) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Subjek dilakukan randomisasi dan terbagi ke dalam kelompok HFNC atau intubasi dengan modus CPAP. Pemeriksaan gas darah dan pengambilan parameter klinis (saturasi oksigen, laju napas, laju nadi), skor nyaman dan lingkar perut sebagai data dasar dan dalam 1 jam pasca-pemasangan alat. Sebanyak 22 subyek penelitian, kelompok HFNC dan CPAP, menunjukkan perbaikan parameter klinis dan skor nyaman yang bermakna 1 jam pasca pemasangan alat (p<0,05). Terdapat peningkatan rasio PF (PO2/FiO2) pada kedua kelompok dengan hasil yang bermakna pada kelompok HFNC (p = 0,023). Tidak ada perbedaan efektivitas antara HFNC dan CPAP. Penelitian ini tidak menemukan adanya efek samping aerofagi, iritasi mukosa hidung dan intoleransi minum pasca-pemasangan HFNC. Dengan demikian HFNC sama efektif dengan CPAP dalam memperbaiki parameter klinis dan rasio PF (PO2/FiO2) pada anak dengan gagal napas hipoksemia akut. HFNC dan CPAP dapat memberikan kenyamanan dalam pemakaiannya.
......Non-invasive respiratory support provides mechanical positive presure breathing assistance without intubation. High flow nasal cannula (HFNC) and continuous positive airway pressure (CPAP) belong to this group. This research is conducted to see the efficacy of HFNC in acute hypoxemic respiratory failure pediatric patient compared to CPAP mode through intubation. A randomized controlled trial study of children with acute hypoxemic respiratory failure (oxygen saturation less than 90%) was conducted in Cipto Mangunkusumo Hospital. Patients who met the inclusion criteria were randomized and divided into HFNC or intubated with CPAP mode group. Clinical parameters (oxygen saturation, respiratory rate, and pulse rate), comfort behaviour score, abdominal circumference, and blood gas analysis were evaluated as initial data dan within one hour after device installation. Out of 22 subjects, HFNC and CPAP group showed significant improvement in clinical parameters and comfort score within one hour after device installation (p<0,05). There was an increase of PF ratio (PO2/FiO2) in both groups with significant result for HFNC group (p=0,023). No difference in efficacy between HFNC and CPAP group. There were no adverse events of aerophagia, nasal mucosal irritation and feeding intolerance in HFNC group."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>