Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dwiyanda
"Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan bursa luar negeri adalah alternatif untuk memperluas kepemilikan saham oleh investor dalam dan luar negeri dan dalam rangka mendekatkan diri dengan para investor yang belum mengenal perusahaan tersebut sebelumnya. Di antaranya adalah PT Indosat dan PT Telkom yang dual listing di BEJ dan New York Stock Exchange (NYSE).
Tujuan penelitian ini adalah menjawab pertanyaan berikut : pertama, apakah terdapat korelasi negatif antara imbal hasil (return) saham PT Indosat di BEJ dan di NYSE, dan antara imbal hasil saham PT Telkom di BEJ dan di NYSE ? Apabila terdapat korelasi negatif, maka dapat dibentuk suatu portofolio optimum. Kedua, adakah keuntungan arbitrase atas investasi saham-saham yang melakukan dual listing di BEJ dan NYSE akibat adanya perubahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika ? Ketiga, faktor-faktor apa yang menentukan imbal hasil (return) saham-saham yang dual listing di BEJ dan NYSE ?
Hubungan antara imbal hasil saham yang dual listing seperti saham PT Indosat dan PT Telkom di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan New York Stock Exchange (NYSE) dapat diamati melalui koefisien korelasi. Untuk menghitung koefisien korelasi digunakan rumus : pjj = a^ I (cjj x aj).
Imbal hasil saham atau return yang diharapkan sangatlah bervariasi tergantung dengan risiko pasar dan faktor-faktor lain di luar pasar. Hubungan antara imbal hasil sekuritas dengan risiko dapat diamati melalui analisis terhadap koefisien beta sekuritas dengan menggunakan metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan pendekatan Security Market Line (SML). Koefisien beta (P) dapat dihitung dengan persamaan : (3j = <7j pjm / om = °~im / O m.
Sehubungan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika, maka perdagangan saham perusahaan yang dual listing sangatlah rentan terhadap kemungkinan transaksi arbitrase. Kemungkinan terjadinya transaksi arbitrase atas saham-saham yang dual listing tersebut, dapat diamati dengan menggunakan International Fisher Effect, yaitu : (l+rH)/(l+rF) =e,/e0.
Selain ditentukan oleh risiko pasar, imbal hasil saham juga ditentukan oleh faktor-faktor di luar pasar. Metode pendekatan ini adalah Arbitrage Pricing Theory (APT). Melalui model dengan 3 faktor, yaitu Faktor T-Bills, Faktor Certificate of Deposit dan Faktor Perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika, diamati signifikansinya dalam menentukan imbal hasil suatu sekuritas. Model APT dengan 3 faktor dirumuskan sebagai berikut: E(r) = a + Pi-Bills F(T-Bills) + PuS-CD F(US-CD) + PRp-sF(Rp-S)-
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari PT Indosat, PT Telkom, Bursa Efek Jakarta, Bursa NYSE, Bank Indonesia dan Federal Reserve Amerika Serikat. Data yang diamati merupakan data historis yang dikumpulkan dari tahun 1997 sampai 2001. Data pengamatan merupakan data bulanan, yaitu data periode awal dan akhir bulan serta data pada bulan yang bersangkutan.
Hasil penelitian memberikan gambaran, pertama, tidak adanya korelasi negatif antara imbal hasil saham yang listing di BEJ dan yang listing di NYSE. Kedua, dimungkinkan terjadinya keuntungan arbitrase atas investasi saham-saham yang dual listing di BEJ dan NYSE akibat adanya fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika. Ketiga, faktor-faktor T-Bills, Certificate of Deposit (CD) dan perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika sangat menentukan imbal hasil saham yang dual listing baik di BEJ maupun di NYSE dalam Model APT dengan 3 faktor."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2002
T1347
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Oksi Pancaseana
"Hubungan risiko dan imbal basil di Bursa Saham dapat dijelaskan antara lain melalui teori CAPM (Capital Asset Pricing Model). Teori CAPM mengemukakan mengenai pengukuran risiko dan imbal hasil yang relevan, serta bagaimana hubungan antara keduanya apabila pasar modal dalam keadaan seimbang. Hal tersebut telah dijelaskan pula dengan teori portfolio yang dikemukakan oleh Markowitz (1952) yang menyebutkan bahwa investor akan mendapatkan imbal basil terbaik dengan risiko yang diharapkan jika is melakukan diversifikasi dalam memilih portfolio yang optimal.
Bukti empiris mengenai CAPM, telah dijelaskan melalui penelitian Fama dan Macbeth (1973) yang diantaranya mengemukakan hipotesa bahwa hubungan antara risiko dengan imbal basil bersifat linear, tidak ada efek sistematik dari risiko non-beta, terdapat positif expected return-risk tradeoff, dan koefisien titik potong atau intercept dalam regresi market model, sama atau lebih tinggi dibanding risk free rate.
Penelitian ini membahas mengenai: (1) Karakteristik beta saham dan portfolio di Bursa Efek Jakarta, (2) Identifkasi model spesifikasi jurnal empiris CAPM versi Fama Macbeth (1973) dengan melihat hubungan sensitifitas antara imbal hasil saham dengan indeks pasar di BEJ, (3) Perbedaan ciri khas antara portfolio saham aktif dan saham tidak aktif menurut top frekuensi transaksi, (4) Teknik estimasi regresi dua langkah, dan (5) Penentuan ekuilibrium antara risiko dan imbal hasil. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 80 (delapan puluh) sampel emiten di BEJ yang terdiri dari 40 saham teraktif dan 40 saham tidak aktif selama periode tahun 2001 sampai dengan tahun 2002. Sampel dipilih berdasarkan metode purposive quota sampling dan menggunakan metode analisa regresi cross section dan time series.
Hasil penelitian menemukan bahwa: (1) Risiko saham yang diukur dengan menggunakan proksi beta saham berpengaruh pada tingkat imbal hasil, (2) Balk pada portfolio saham aktif maupun tidak aktif terdapat hubungan linear antara risiko dan imbal hasil, (3) Pada portfolio saham aktif, tidak ada efek sistematik lain yang signifikan selain risiko beta, begitu pula pada portfolio saham tidak aktif, (4) Positif premium risiko tidak ditemui balk pada portfolio saham aktif maupun saham tidak aktif, dan (5) Portfolio saham dengan nilai beta sama dengan nol mcmpunyai imbal hasil yang lebih rendah daripada imbal hasil aset tanpa risiko SBI untuk portfolio saham aktif dan tidak aktif.
Temuan ini menunjukkan bahwa risiko dan imbal basil bersifat linear dengan tidak adanya pengaruh risiko. sistematik lain dan premium risiko yang positif, investasi pada tahap ini mmbutuhkan suatu periode- jangka panjang untuk mendapatkan keuntungan yang meningkat stabil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teori CAPM berlaku untuk investor dengan tujuan rentang waktu jangka panjang. Temuan ini sejalan dengan teori CAPM versi Fama dan MacBeth (1973) bahwa risiko clan imbal basil bersifat linear, tidak ada efek sistematik lain selain beta. Keliadaan efek sistematik lain itu jugs sejalan dengan teori portfolio Markowitz (1952) bahwa efek sistematik akan diperkecil jika saham disatukan dalam portfolio. Namun, temuan mengenai postif premium risiko dan zero beta portfolio tidak sejalan dengan teori CAPM, mungkin dikarenakan perbedaan keadaan antara pasar modal di BEJ dengan di NYSE."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2003
T20555
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rr. Tini Anggraeni
"Adapun dasar dilakukannya penelitian ini bersumber dari fakta pada Bank Syariah X yang memiliki nilai NPF tinggi pada periode Januari 2004 ? April 2007 dan berada dalam iklim fluktuasi inflasi dan GDP, tetapi hingga akhir buku 2006/2007 masih memiliki predikat ?Sehat?. Atas dasar itulah penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membuktikan apakah terdapat pengaruh atau dampak yang ditimbulkan akibat pembiayaan bermasalah dan faktor eksternal (inflasi dan GDP) terhadap tingkat kesehatan Bank Syariah. Juga untuk melihat besar pengaruh pembiayaan bermasalah yang diwakili oleh nilai NPF dan faktor eksternal terhadap tingkat kesehatan yang difokuskan pada 3 variabel utama yaitu capital, asset dan earning ; faktor capital, asset dan earning apa yang terpengaruh signifikan akibat pembiayaan bermasalah dan faktor eksternal yang terjadi.
Penelitian ini merupakan studi kasus pada Bank Syariah X, dan menggunakan 3 faktor CAMELS, yaitu Capital, Asset dan Earning yang terdiri atas 8 rasio keuangan. Untuk membuktikan dampak yang ditimbulkan pembiayaan bermasalah dan faktor eksternal, penelitian ini menggunakan analisis fish bone yang digunakan untuk menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan, sehingga akan terlihat letak pengaruh NPF dalam perhitungan tingkat kesehatan secara keseluruhan. Sedangkan untuk melihat besar dan arah hubungan juga tingkat signifikansi dari masing-masing variabel capital, asset dan earning, digunakan metode non parametrik koefisien korelasi rank spearman.
Dari hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa NPF hanya merupakan bagian dari asset sehingga perubahan peningkatan NPF hanya mempengaruhi 19% dari perhitungan tingkat kesehatan bank secara keseluruhan. Faktor capital, asset dan earning yang yang memiliki hubungan yang erat dengan tingkat NPF adalah rasio APM yang memiliki korelasi positif sebesar 0,971. Sedangkan yang terpengaruh akibat fluktuasi inflasi adalah BOPO dengan nilai korelasi sebesar 0,480 dan yang terpengaruh akibat peningkatan GDP adalah rasio APM dengan nilai korelasi 0,908. Hal ini juga ditunjang dari tingkat signifikansi yang menunjukkan bahwa rasio CAR, APM, APYD dan Pem_PPAP yang terbukti signifikan memiliki hubungan dengan pembiayaan bermasalah yang terjadi. Sedangkan yang terbukti signifikan memiliki hubungan dengan fluktuasi inflasi adalah rasio APYD dan BOPO. Dan yang terbukti signifikan memiliki hubungan dengan fluktuasi GDP adalah rasio APM, APYD, Pem_PPAP dan ROA.

The reason doing this research is from a fact that at Bank Syariah X having high NPF value in time line between January 2004 - April 2007 and have been through fluctuation of inflation and GDP, but until the end of close book in 2006/2007 still having a 'Healthy' predicate. Basis on that fact this research being perform to prove if is there is any influence or impact generated as result of financing problem and external factors (inflation and GDP) to the Bank Syariah health measurement. Also to see how big is the influence of financing problem that represented by NPF value and external factor that represented by Inflation and GDP to level of health that focused at 3 main variable and factor which is capital, asset and earning and which factor or variable significantly influence by financing problem and the external factor.
This research is a case study at Bank Syariah X, and applies 3 factors of CAMELS, which is Capital, Asset and Earning which consist of 8 financial ratios. To prove the impact generated by financing problem and external factor, this research applies Fish Bone Analysis to elaborate which factors influence the level of health, so that will seen the whole situation of NPF influence in level of health calculation. While to see direction and how big is the relation, also level of significantly from each variable Capital, Asset and Earning, applied non parametric Correlation Coefficient Rank Spearman method.
From analysis, obtained result that NPF only to be part of Asset so that the improvement of NPF only influence 19% from a whole banking health measurement calculation. From capital, asset and earning factor which having tightly relation with level of NPF is APM ratio having positive correlation as big as 0,971. While that affecting by inflation fluctuation effect is BOPO with correlation value as big as 0,480 and affecting by GDP improvement effect is APM ratio with correlation value as big as 0,908. This thing also supported from level of significance indicating that ratio CAR, APM, APYD and Pem_PPAP which significantly proven has relation with financing problem. While significantly proven has relationship with inflation fluctuation is ratio APYD and BOPO. And significantly proven which has relation with GDP fluctuation is ratio APM, APYD, Pem_PPAP and ROA."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2008
T24987
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Diah Kuswardhani
"Seiring dengan semakin banyaknya produk reksa dana yang ditawarkan, maka reputasi pengelola reksa dana atau manajer investasi menjadi faktor yang sangat penting. Akan tetapi, reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi yang berkualitas dan berpengalaman belum tentu mampu memberikan return yang memuaskan bila dibandingkan dengan tingkat risiko yang dihadapi oleh investor dan return pasar. Oleh karena itu, diperlukan analisis terhadap reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut, yang dalam hal ini adalah PT. Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Tesis ini membahas analisis return reksa dana saham dengan metode Capital Asset Pricing Model dan Arbitrage Pricing Theory, evaluasi kinerja reksa dana saham dengan metode Risk Adjusted Performance (Indeks Sharpe, Treynor, Jensen, Information Ratio), dan analisis 5 besar emiten yang membentuk portofolio reksa dana saham dengan matriks Growth Value Map.
Hasil penelitian menunjukkan pengaruh portofolio pasar dan faktor-faktor makroekonomi terhadap return reksa dana saham, kinerja reksa dana saham dibandingkan dengan kinerja portofolio pasar, serta ekspektasi pasar terhadap kinerja jangka pendek dan prospek pertumbuhan jangka panjang dari 5 besar emiten yang membentuk portofolio reksa dana saham.

Along with the increasing number of mutual funds offered, the reputation of mutual fund managers or investment managers becomes a very important factor. However, mutual funds managed by qualified and experienced investment managers do not certainly offer satisfying return compared with the risk faced by investors and market return. Therefore, it is necessary to analyze mutual fund managed by investment manager, which is PT. Manulife Aset Manajemen Indonesia.
This thesis analyzes the return of equity fund using Capital Asset Pricing Model dan Arbitrage Pricing Theory method, performance evaluation of equity fund using Risk Adjusted Performance method (Sharpe, Treynor, Jensen Index, Information Ratio), and analysis of the top five companies that form equity fund portfolio using Growth Value Map.
The result of the study shows the influence of market portfolio and macroeconomic factors to the return of equity fund, performance of equity fund compared with performance of market portfolio, as well as market expectation of short-term performance and long-term growth opportunity of the top five companies that form equity fund portfolio.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
T26511
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rudi Bambang Trisilo
"ABSTRAK
Minimum required rate of return atau cost of capital penting karena menentukan diterima atau tidaknya investasi modal dalam perusahaan, yang sekaligus akan berpengaruh terhadap pengeluaran investasi agregat suatu perekonomian.
Capital Asset Pricing Model ( CAPM ) sering digunakan sebagai project screening rates. Hal ini dilakukan oleh manajer karena kepentingan pemegang saham atau pemilik perusahaan diutamakan. Dengan menggunakan CAPM sebagai alat mengukur cost of capital, berarti manajer berusaha menetapkan besarnya opportunity cost suatu proyek investasi modal bila dibandingkan dengan investasi yang risikonya sama di pasar modal. Selain CAPM, Arbitrage Pricing Theory (APT) dapat juga digunakan untuk menderivasi required rate of return suatu proyek investasi.
Beberapa pengujian menemukan APT menjelaskan lebih baik terhadap return sekuritas dibanding CAPM. Tetapi beberapa studi yang lain menemukan tidak ada perbedaan antara kedua model. Tidak ada konsensus tentang mana yang lebih baik antara CAPM dan APT.
Sementara perbedaan pendapat tentang CAPM dan APT berlangsung, beberapa pakar ekonomi keuangan mengajukan model alternatif. Antara lain Wei {1988) dan Breeden (1989). Apabila beberapa pakar mempertentangkan, sebaliknya Wei (1988) justru mengajukan model yang mengintegrasikan CAPM dan APT. Breeden {1989) mengajukan suatu model yang merupakan pengembangan dari CAPM, yaitu CAPM yang berorientasi konsumsi, dalam hal ini risiko sekuritas diukur dengan sensitivitas sekuritas terhadap perubahan konsumsi investor.
Dengan mempertimbangkan (1) masih adanya kontroversi diantara para pakar ekonomi keuangan tentang keunggulan APT dibanding CAPM , dan (2) saran beberapa peneliti sebelumnya tentang perlunya terus diadakan perbaikan dalam pembentukan model agar diperoleh model yang lebih sempurna, maka penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas CAPM Berorientasi Konsumsi, serta Teori Gabungan CAPM-APT di BEJ.
Hipotesa kerja penelitian ini adalah : (1) Ada pengaruh yang positip dari variabel konsumsi agregat terhadap tingkat return saham di BEJ, (2) Ada pengaruh yang positip dari variabel ekonomi makro (tingkat inflasi harapan, tingkat inflasi tak diharapkan, perubahan harga minyak ekspor) dan tingkat return portfolio pasar terhadap tingkat return saham di Bursa Efek Jakarta.
Populasi penelitian ini adalah 210 perusahaan yang listing di BEJ per bulan Nopember 1994. Rencana sampling adalah sebagai berikut :
Pengujian validitas CAPM berorientasi konsumsi menggunakan data triwulanan IHSI dan Pengeluaran konsumsi rumahtangga atas dasar harga konstan. Sampel berjumlah 27 emiten yang listing di BEJ antara tahun 1977 - 1889. Periode yang digunakan adalah triwulan I-1983 hingga triwulan IV-1991.
Pengujian validitas CAPM, APT dan Teori gabungan CAPM-APT menggunakan data bulanan Indeks Harga Saham Individual, Indeks Harga Saham Gabungan, Indeks Harga Konsumen Gabungan, Suku Bunga Deposito Berjangka satu bulanan kelompok Bank Pemerintah, Harga Minyak Ekspor. Sampel berjumlah 20 emiten yang paling aktif tahun 1992 dilibat dari total volume perdagangan saham. Periode yang digunakan adalah bulan Agustus 1991 hingga Desember 1993 (kecuali untuk CAPM hingga bulan September 1994).
Analisis dalam penelitian ini merupakan analisis data sekunder. Statistik yang digunakan adalah statistik uji t, dan statistik uji F, statistik uji D-W.
Data-data return saham diperoleh dari Perpustakaan BAPEPAM dan PISO (Public Information Services Office), sedangkan data faktor sistematik diperoleh dari publikasi Biro Pusat Statistik, Bank Indonesia dan Nota Keuangan & RAPBN.
Pengolahan data dilakukan dalam dua tahap, sebagai berikut : (1) Regresi Time-Series Tahap Pertama (First Pass Regression) digunakan untuk menghitung taksiran Beta saham tiap emiten sampel dan kemudian menggunakan Regresi Cross Section Tahap Kedua (Second Pass Regression) dalam menghitung koefisien konsumsi agregat dan koefisien variabel ekonomi makro, serta portfolio pasar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : koefisien beta pada model CAPM, APT, maupun Teori Gabungan CAPM-APT tidak ada yang signifikan. Sementara itu, koefisien beta Konsumsi signifikan (t-stat = 3,94) dan positip. Artinya beta konsumsi berpengaruh positip terhadap return saham di BEJ selama periode 1983-1991. Namun secara teoritis nilai beta konsumsi yang seharusnya di bawah satu, karena menunjukkan arah suatu garis, di dalam penelitian ini angkanya di atas satu.
Karena koefisien beta untuk model CAPM, APT maupun Teori Gabungan CAPM-APT tidak ada yang signifikan, maka artinya selama periode Agustus 1991 hingga Desember 1993, faktor sistematik seperti inflasi harapan, inflasi tak diharapkan, perubahan harga minyak ekspor, dan portfolio pasar tidak berpengaruh terhadap return saham emiten sampel di Bursa Efek Jakarta.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pengambil keputusan bidang investasi, khususnya dalam menentukan besarnya cost of capital atau minimum required rate of return suatu proyek investasi modal. Penelitian yang masih perlu dilakukan sebagai komplemen terhadap penelitian ini adalah pengujian terhadap model alternatif yang lain.
"
1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Toto Rahardjo
"Pasar modal merupakan wahana bertemunya pihak-pihak yang membutuhkan dana bagi kepentingan pembiayaan perusahaan dengan pihak-pihak yang memiliki surplus dana, baik dalam jangka menengah dan panjang. Bursa Efek Jakarta (BEJ) - The Newly Emerging Money and Stock Market - diharapkan dapat memainkan dun peranan penting bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu : (1) pengerahan dana bagi sektor swasta, dan (2) alternatif financial asset holdings bagi masyarakat. Untuk itu, Pemerintah mengeluarkan Paket Kebijaksanaan Desember 1987 (PAKDES I) dan kemudian disusul Paket Kebijaksanaan Desember 1988 (PAKDES II) dengan harapan agar terwujud bursa efek yang lebih dinamis dan lebih memberikan kepastian perlindungan hukum bagi semua pelaku yang terlibat didalamnya.
Hal utama yang menjadi kunci penilaian perusahaan yang go-public adalah hubungan positif antara risiko dengan tingkat keuntungan yang di syaratkan . Pada umumnya, investor memiliki sifat tidak menyukai risiko. Mereka akan menuntut tingkat keuntungan lebih besar bila menghadapi peluang investasi yang risikonya lebih tinggi. Meskipun suatu peluang investasi tertentu itu tidak mengandung risiko, para investor tetap mensyaratkan suatu tingkat keuntungan tertentu_HaI ini dikarenakan oleh adanya konsep nilai waktu uang (time value of money), misalnya inflasi.
Suatu hal yang wajar bahwa investor sangat memperhatikan faktor keuntungan dan risiko dari sekumpulan investasi yang dilakukannya (Portfolio). Teori portfolio berkaitan dengan pemilihan portfolio optimal oleh rasional risk-averse investor. Sedangkan teori capital market berkaitan dengan implikasi perubahan harga saham yang dipengaruhi oleh ekspektasi investor. Kedua teori ini memberikan suatu pola spesifikasi dan pengukuran risiko investasi saham dan pula menjelaskan hubungan antara expected security return dan risk.
Systematic risk dari individual security merupakan proporsi dari total risk yang tidak dapat dikurangi dengan cara mengkombinasikan antara suatu saham dengan saham lainnya dalam suatu diversifikasi portfolio - biasanya dinotasikan dengan beta (0). Saham-saham dengan systematic risk yang lebih tinggi cenderung akan dilirik oleh investor asalkan ia mampu memberikan expected return yang lebih tinggi pula. Akibatnya, saham-saham dengan nilai beta tinggi cenderung bernilai rendah di pasar.
Studi ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang significant antara expected return wham individual (Rit) dengan expected market return (Rmt). Selain itu, ingin membuktikan apakah hubungan antara expected return saham individu (RXt) dengan risikonya (8i) mengikuti hubungan yang drlelnckari oleh Security Market Line (SML} dalam Capital Asset Pricing Model (CAPM).
Metode yang digunakan dalam studi ini mengacu pada metode yang pernah dilakukan oleh Black-Jensen-Scholes (1972) , yakni meliputi analisis time series regression dalam bentuk market model dan analisis cross sectional. Analisis time series regression digunakan untuk mengetahui seberapa jauhkah hubungan antara expected return saham individu (Rit) dengan expected market return (Rrnt). Sedangkan analisis cross sectional digunakan untuk membuktikan apakah hubungan antara expected return saham individu (Rit) dengan systematic risk (Di) mengikuti hubungan yang dijelaskan oleh SML dalam CAPM Jumlah sampel yang digunakan terdiri dan $0 saham perusahaan go-public di BEJ. Data yang digunakan berupa data harga saham mingguan, Index Harga Sahara Gabungan (IHSG) mingguan, serta dividend dan/atau bonus shares dari masing-masing sampel yang terhitung mulai dan Januari 1991 sampai Desember 1993.
Hasil analisis membuktikan bahwa terdapat hubungan yang significant antara Rit dengan Rmt Selain itu, hubungan antara RI! dengan Jai di BET tidak mengikuti hubungan yang dijelaskan oleh SML dalam CAPM Hal ini memberi implikasi bahwa harga saham yang terbentuk di BEJ tidak mencerminkan keadaan yang sebenamya. Selain itu, secara makro ekonomi, sensitivitas IHSG tidak dapat dipakai sebagai indikator sensitivitas kegiatan industri dalam perekonomian nasional."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rika Fiola
"ABSTRACT
Berbagai penelitian terhadap faktor-faktor yang menentukan return dan resiko
telah banyak dilakukan. Capital Asset Pricing Model yang dikembangkan oleh Sharpe
(1964), Lintner (1965) dan Black (1972) telah lama membentuk cara pikir para praktisi
dan akademisi tentang return dan resiko. CAPM menjelaskan bahwa return yang
diharapkan dari suatu sekuritas merupakan suatu fungsi yang positif dan beta pasar dan
beta mampu menjelaskan return suatu sekuritas.
Akan tetapi, terdapat beberapa kontradiksi terhadap model Sharpe-Lintner-Black
ini. Beberapa hasil-hasil penelitian yang dilakukan sehubungan dengan return dan resiko
menunjukkan hasil yang berbeda. Banz (1981) menemukan bahwa market equity
berpengaruh juga terhadap return. Return dan perusahaan kecil lebih tinggi dan beta
estimasi dan return dari perusahaan besar lebih rendah dan beta estimasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Fama dan MacBeth (1973) menemukan bahwa
ukuran perusahaan, beta, book-to-market equity, book asset to market equity serta book
asset to book equity mampu menjelaskan rata-rata return saham. Stattman (1980) dan
Rosenberg, Reid dan Lanstein (1985) menemukan bahwa return mempunyai hubungan
positif dengan rasio antara book value dan market value pada saham-saham Amerika.
Kemudian, Cahn, Hamao dan Lakonishok (1991) menemukan terdapatnya suatu
hubungan yang kuat antara hook-to-market equity dengan return pada saham-saham
Jepang Selain itu, hasil penelitian Fama dan French (1992) juga mernmjukkan hasil yang
sama.
Penelitian yang dilakukan pada karya akhir ini bertujuan untuk melihat sejauh
mana variabel beta, size, book-to-market equity, book asset to market equity dan hook
asset to book equity dapat menjelaskan cross-sectionaI rata-rata return saham di
Indonesia, khususnya pada saham-saham LQ 45. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah multiple regression, dimana return dijadikan variabel dependen
sedangkan beta, size, book-to-market equity, book asset lo market equity dan book asset
to book equity digunakan sebagai variabel independen.
Dalam penelitian ini, sampel yang dipilih adalah sebanyak 36 perusahaan yang
paling sering muncul di LQ 45 seLama periode 1997 sampai dengan 2001, merupakan non
financial firm, dan tidak pernah mengalami negatif equity. Semua data disusun menjadi
portofolio-portofolio berdasarkan urutan nilai variabel-variabel bebas untuk kemudian
diolah dengan menggunakan Software SPPS Student Version 10.0 for Windows.
Hasil pengujian regresi return terhadap variabel beta saja ternyata
memperlihatkan bahwa beta mampu menjelaskan average return. Sedangkan pada saat
regresi dilakukan terhadap efek size saja, hasil regresi menunjukkan size tidak signifikan
dalam menjelaskan return. Ketika dilakukan regresi return secara bersamaan antara size
dan beta, terlíhat babwa size tetap tidak signifikan. Namun, konsisten dengan hasìl regresi
sebelumnya, variabel beta sangat signifikan dalam menjelaskan rata-rata return.
Pengujian regresi return terhadap book-to-market equity saja menghasiikan
kesimpulan bahwa vanabel In(BE/ME) ini tidak signifikan. Selanjutnya jika regresi
dilakukan secara bersamaan antara size dan book-to-market equity, terlihat bahwa
variabel size dan book-to-market equity tidak relevan dalam menjelaskan average return.
Selanjutnya, pengujian regresi return yang dilakukan terhadap book asset to
market equity saja, diperoleh bahwa hook asset to market equity juga tidak signifikan.
Demikian juga halnya pada saat variabel ln(ME) maupun In(A/ME) diregresikan secara
bersamaan, maka hasil yang diperoleh adalah bahwa kedua variabel tersebut tidak relevan
dalam menjelaskan rata-rata return.
Tidak berbeda dengan pengujian variabel leverage ln(A/ME) sebelumnya,
variabel leverage book asset to book equity, ln(A/BE) juga tidak signifikansi dalam
menjelaskan return. Hal yang sama juga terjadi pada saat variabeL In(A/BE) diregresikan
secara bersamaan dengan size, maka terlihat ketika kedua variabel bebas tersebut tidak
dapat menerangkan perilaku rata-rata return saham.
Setelah dilakukan pengujian regresi return terhadap semua variabel independen,
yang terlihat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menjelaskan cross-sectional
rata-rata return hanyalah beta Sedangkan variabel indepeden lainnya (size, book-
market equity, book asset to market equity dan book asset to book equity) tidak mampu
menjelaskan rata-rata return saham. Secara bersamaan semua variabel bebas tersebut
mampu menjelaskan rata-rata return sebesar 83,9%.
Perbedaan yang terjadi antara hasil penelitian pada karya akhir ini dengan hasil
hasil penelitian yang dilakukan oleh Fama dan MacBeth (1973), Fama dan French (1992)
kemungkinan diakíbatkan oleh kondisi pasar yang berbeda, selain itu, periode penetitian
Yang dilakukan adalah pada saat dimana Indonesia mengalami krisis ekonomi sehingga
terdapat suatu ketidakstabilan dalam pasar di Indonesia."
2002
T1892
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Utami Ambarwati
"Dengan adanya gejolak ekonomi yang terjadi beberapa tahun belakangan ini membuat kondisi perekonomian Indonesia terpuruk. Tetapi saat ini sudah mulai menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan ekonomi. Hal ini dapat dilihat perkembangan pasar modal Indonesia menunjukkan suatu perkembangan yang baik dan mulai kembali aktif. Selain itu banyak cara berinvestasi untuk meningkatkan nilai uang yang dimiliki. Banyak para ahli yang menuliskan hasil pemikirannya ke dalam buku-buku untuk mengajarkan bagaimana cara berinvestasi. Ada deposito, saham, obligasi, kurs, bahkan asuransi dan instrumen lainnya yang menawarkan banyak keuntungan.
Sebagaian masyarakat sadar bahwa dana yang mereka miliki dari waktu ke waktu nilainya akan berkurang apabila tidak dimanfaatkan atau dibiarkan menganggur. Menentukan tingkat harapan atau expected return dari sebuah sekuritas dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya yang cukup populer dengan menggunakan CAPM. Penggunaannya dapat membantu dalam menentukan tingkat pengembalian dari suatu saham. Metode ini memperhitungkan aspek tingkat suku bunga bebas risiko (Suku Bunga SBI) yang berlaku, dimana tingkat pengembalian yang diperoleh sesuai dengan tingkat risiko (diwakilkan dengan beta). Return market yang diwakilkan dengan Indeks LQ45.
Sampel yang digunakan adalah diambil secara acak dari 45 saham perusahaan yang sahamnya masuk dalam perhitungan Indeks LQ 45 periode Januari 2000-Desember 2002, dipilih hanya 10 saham sebagai sampel. Penelitian menggunakan SPSS dalam melakukan regresi terhadap data-data itu, untuk melihat pengaruh risk terhadap return pada saham-saham sampel.
Hasil penelitian terhadap I 0 sampel menunjukkan hasil bahwa ada pengaruh positif linear antara risk dengan return, dimana terdapat tanda positif pada tabel correlations. Hampir sebagian saham tingkat signifikan levelnya diatas 5%, hanya dua saham yang memiliki tingkat signiflkan dibawah 5%. Memang berdasarkan hasil pengujian ada beberapa yang memiliki tingkat signifikan diatas 5% yang berati tidak ada pengaruh positif antara risk dengan return, tetapi secara teori hal itu menunjukkan jelas bahwa antara return dengan risk memiliki pengaruh yang positif linear dimana jika return naik maka risk juga akan naik. Walaupun demikian sulit untuk memprediksi nilai return tahun 2003 karena begitu banyak faktor yang mempengaruhi tingkat return suatu saham dan risiko saham. Faktor perekonomian Indonesia yang sulit diprediksi dan banyak kejadian-kejadian yang mempengaruhi perubahan harga saham secara cepat. Metode CAPM sendiri telah diuji bertahun-tahun dengan menggunakan sampel yang cukup banyak oleh para ahli sehingga hasil pengujian itulah yang dapat diterima sampai saat ini."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2003
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Clark, John J.
Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1979
658.154 CLA c
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Clark, John J.
Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1989
658.154 CLA c
Buku Teks  Universitas Indonesia Library