Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Shillerida Novita
"Pelayanan pendidikan selayaknya dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat, termasuk individu dengan kebutuhan khusus. Bentuk pelayanan pendidikan yang efektif bagi individu berkebutuhan khusus di seluruh jenjang adalah pendidikan inklusif. Namun, pelayanan pendidikan inklusif di tingkat perguruan tinggi belum mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah. Salah satu penyebabnya adalah minimnya informasi mengenai kesiapan perguruan tinggi untuk melaksanakan pendidikan inklusif. Sikap dosen terhadap pendidikan inklusif dan kesediaan menyesuaikan strategi pengajaran bagi mahasiswa berkebutuhan khusus adalah dua hal yang mempengaruhi kesuksesan pelaksanaan pendidikan inklusif.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara sikap terhadap pendidikan inklusif dengan kesediaan menyesuaikan strategi pengajaran, dan melihat perbedaan antara sikap dan kesediaan melakukan penyesuaian antara dosen di rumpun sains dan humaniora. Penelitian dilakukan terhadap 71 responden (N sains = 27;N humaniora = 44). Pengambilan data yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner, menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara komponen sikap dan kesediaan melakukan penyesuaian strategi pengajaran pada setiap komponennya, serta terdapat perbedaan sikap yang signifikan antara dosen sains dan humaniora.

Education services should be available for all, including individuals with special needs. Educational services efectively for individuals with special needs in all levels is given in inclusive education form. However, government gives little attention for inclusive education services at university level. One of the reason is because the lack of information about college readiness for implementing inclusive education. Faculty's attitudes toward inclusive education and willingness to adjust teaching strategies for students with special needs are two important issues that affect the success of inclusive education.
This study aims to examine the relationship between attitudes towards inclusive education and willingness to adjust teaching strategies, and see the difference between the attitude and willingness to adjust teaching strategies between clumps of lecturer in science and humanities. The study was conducted on 71 respondents (N = 27 science; humanities N = 44). Data were obtained using questionnaire, showing a significant relationship between the components of attitude and willingness to adjust teaching strategies, and showing significant difference in attitudes between science and humanities faculty.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S56193
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: UI Publishing, 2019
371.9 MEN
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Dickins, Mary
New York: MGraw Hill, Open University Press, 2014
371.904 6 DIC a
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Riri Marjani Qalbi
"Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara sikap guru terhadap pendidikan inklusif dengan peer acceptance siswa reguler terhadap anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar inklusif negeri. Sikap guru pada konteks pendidikan inklusif didefinisikan sebagai kecenderungan dalam memberikan respon terhadap anak berkebutuhan khusus baik secara kognitif, afektif, dan perilaku (Mahat, 2008). Peer acceptance didefinisikan sebagai sejauh mana individu mampu diterima secara sosial oleh kelompok teman sebayanya (Berk, 2007).
Penelitian ini dilakukan pada 11 sekolah dasar inklusif negeri di sekitar Jakarta, Depok, dan Bogor. Total responden penelitian ini adalah 50 guru dan 482 siswa reguler laki-laki dan perempuan kelas 4, 5, dan 6 SD.
Penelitian ini menggunakan alat ukur Multidimentional Attitudes Towards Inclusive Education versi Indonesia (MATIES-VI) dari Mahat (2008) dan Peer Acceptance Scale (PAS) dari Piercy, Wilto dan Townsend (2002, dalam Jenkins & Lloyd, 2010). Teknik unit analisis kelas digunakan dalam penelitian ini dengan merata-ratakan skor siswa reguler dan mengorelasikannya dengan skor guru.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap guru terhadap pendidikan inklusif dengan peer acceptance siswa reguler terhadap anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar inklusif negeri (r=-0.196, p<0,05). Artinya, sikap guru yang positif tidak selalu diikuti oleh penerimaan teman sebaya oleh siswa reguler yang positif terhadap siswa berkebutuhan khusus.

This research was conducted to find the relationship between teacher`s attitude towards inclusive education with regular student`s peer acceptance towards student with special needs in inclusive public primary school. The teacher`s attitude in the context of inclusive education is defined as a tendency to respond to children with special needs both cognitive, affective, and behavioral (Mahat, 2008). Peer acceptance is defined as a degree to which an individual is able to be accepted socially by a group of peers (Berk, 2007).
This study was conducted in 11 inclusive public primary schools in Jakarta, Depok, and Bogor. Total respondents of this study were 50 teachers and 482 regular students boys and girls grade 4th, 5th, and 6th.
This study uses Multidimentional Attitudes Towards Inclusive Education Indonesian version (MATIES-VI) by Mahat (2008) and Peer Acceptance Scale (PAS) by Piercy, Wilto and Townsend (2002, in Jenkins & Lloyd, 2010). Unit analysis of class is used in this study by averaging the scores of regular student`s score and correlate it with the teacher`s scores.
The results showed that there was no significant relationship between the teacher`s attitudes towards inclusive education with regular students peer acceptance of children with special needs in inclusive public primary schools (r = -0196, p <0.05). It means, positive teacher`s attitude is not always following by positive regular student`s peer acceptance towards student with special needs.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2016
S63675
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Noorfazly Oktaviani
"Pendidikan inklusi memberikan kesempatan kepada siswa berkebutuhan khusus untuk menerima kualitas pendidikan yang sama dengan siswa reguler pada umumnya. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa hambatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap guru dan peer acceptance siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Dasar Inklusif Swasta. Penelitian diikuti oleh guru kelas (N=45) dan siswa reguler (N=294) kelas 4, 5 dan 6. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Multidimentional Attitude toward Inclusive Education (MATIES) dan Peer Acceptance Scale (PAS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap guru dan peer acceptance siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Dasar Inklusif Swasta. Namun, ditemukan bahwa dari sikap guru komponen kognitif memiliki hubungan yang signifikan dengan peer acceptance siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Dasar Inklusif Swasta. Juga, tidak ditemukan perbedaan sikap guru antara guru yang memiliki pengalaman mengajar kurang dari 6 tahun dan guru yang memiliki pengalaman mengajar lebih dari 6 tahun.

Inclusive education provides the opportunity for students with special needs to receive the same quality of education to regular students in general. However, in practice there are still some obstacles. This study aims to determine the relationship between teacher attitude and peer acceptance of regular students towards student with special needs in inclusive private primary school. The study followed by classroom teachers (N = 45) and regular students (N = 294) of grade 4, 5 and 6. The measuring instrument used in this study is Multidimentional Attitude toward Inclusive Education (MATIES) and Peer Acceptance Scale (PAS).
The results showed that there was no significant relationship between teacher attitude and peer acceptance of regular students towards student with special needs in Inclusive Private Primary School. However, it was found that the cognitive component of teacher attitudes have a significant relationship with peer acceptance of regular students towards student with special needs in Inclusive Private Primary School. As well, there was no difference in the attitudes of teachers among teachers who have teaching experience less than 6 years and teachers who have teaching experience more than 6 years.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2016
S65266
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Justine Yohana Mardhianti
"ABSTRAK
Sistem pendidikan di Indonesia belum banyak membuka peluang bagi
anak-anak difabel untuk memiliki kesempatan yang sama seperti anak-anak nondifabel
mendapatkan pengalaman belajar di situasi kelas biasa. Keberadaan
sekolah inklusi membuka peluang bagi anak-anak difabel mendapatkan
kesempatan ini. Untuk mendapatkan kondisi inklusif yang kondusif dibutuhkan
sistem sosial yang baik di dalam sekolah, agar anak-anak difabel mendapatkan
kondisi yang penuh toleransi dan nyaman untuk belajar. Teknik pengamatan dan
wawancara digunakan untuk mendapatkan hasil yang deskriptif untuk
menjelaskan keadaan sistem sosial dan relasi yang berjalan antar subsistem di
sekolah. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan teori-teori
dan konsep yang relevan untuk mendapatkan pemahaman mengenai interaksi
antar subsistem, relasi yang berjalan, dan sistem sosial yang terbentuk dari relasirelasi
tersebut sehingga tercipta suatu kondisi yang kondusif bagi seluruh anak
untuk belajar di sekolah. jalinan relasi antar subsistem sekolah, seperti pemilik
sekolah, kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua membentuk suatu sistem
sosial yang tidak selalu berjalan mulus tetapi mampu membuat kondisi inklusif
yang menunjang suasanya kondusif saat belajar.

ABSTRACT
Education system in Indonesia still in limited condition for different ability
children to have a chance for studying in regular class situation. School with
inclusion system opens these chances. To get inclusive condition, we need a good
social system in that school, so that children with different ability can get a
condition which full of toleration and comfort for them to study. Observation and
in-depth interviews are used to get much more descriptive results for explaining
the condition about social system and relation between subsystems in school. The
data is then analyzed with relevant theory and concept, to get an understanding
about interaction between subsystem, work of relations, and social system which
constructed from those relations, so that the condusive condition could be
constructed. Relationship which exists between subsystems in school, such as, the
owner of the school, headmaster, teachers, students and parents form a social
system. This system not always runs smoothly, but still can maintain inclusive
condition which support condusive atmosphere while learning."
2016
S64354
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library