Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 47 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1998
S40933
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Raihan Khairunnisa
"ABSTRAK
Polihdedral AuNP banyak menarik perhatian para peneliti karena memiliki sifat unik yang berasal dari facet dan sharp edges. Telah dilaporkan bahwa sharp edges yang dimiliki oleh nanopartikel dapat dengan secara signifikan meningkatkan medan listrik, sehingga berpotensi untuk diaplikasikan pada surface-enchanced Raman scattering, sensor kimia dan biologi serta pembuatan nanodevices. AuNP bentuk oktahedron adalah salah satu dari polihedral Au NP yang memiliki sharp edges dan memiliki delapan facet {111} sehingga memiliki stabilitas maupun medan elektromagnetik yang tinggi. Telah dilakukan sintesis AuNP berbentuk oktahedron melalui pemanfaatan efek synergic yang dimiliki oleh cetytrimethylammonium vinyl benzoate (CTAVB) dan HCl serta penambahan zat aditif erak nitrat (AgNO3) sebagai facet blocking agent. Pada seed yang berbentuk single crystal, AgNO3 memiliki kecenderungan untuk teradsoprsi lebih kuat pada facet {100} karena memiliki surface energy yang lebih tinggi dibandingkan dengan facet {111}. Namun pada penelitian ini, AgNO3 dilaporkan teradsorpsi dengan kuat pada facet {111} karena facet {100} telah diisi CTAVB. Hal ini akan menekan laju pertumbuhan partikel pada facet {111} dan pertumbuhan partikel pada facet {100} lebih dominan sehingga akan menghasilkan AuNP berbentuk oktahedron sebagai produk akhir. Beberapa parameter yang telah dilakukan dalam sintesis nanopartikel ini adalah konsentrasi AgNO3, temperatur serta waktu reaksi. Variasi konsentrasi AgNO3 yang digunakan adalah 1%; 0.75%; 0.5% dengan variasi suhu 30 ºC dan 40 ºC. Pengamatan dilakukan sejak pembentukan partikel dan setiap 24 jam berikutnya. Hasil TEM dan SEM menunjukan hasil AuNP berbentuk oktahedron yang cukup baik dan seragam pada variasi AgNO3 0.75% di temperatur 30 ºC pada hari ke-6. Variasi 1% menghasilkan bentuk oktahedron yang rounded dengan ukuran kecil, variasi AgNO3 0.5% menghasilkan partikel berukuran paling besar dengan tingkat polidispersitas paling tinggi.

ABSTRACT
Polyhedral AuNP attracts many researchers because it has a distinctly sharp and inherent characteristic. It has been reported that the sharp angles possessed by nanoparticles can significantly increase the electric field which allows for many applications, such as, surface-enchanced Raman scattering, chemical and biological sensors and manufacture for nanodevices. Synthetis of AuNP has been performed through the use of synergic effects possessed by cetytrimethylammonium vinyl benzoate (CTAVB) and HCl and addition of silver nitrate additive (AgNO3) as a facet blocking agent. In single-crystalline seeds, AgNO3 has a tendency to be more adsorbed on the {100} surface because it has a higher surface energy compared to the {111} facet. However, in this study, AgNO3 was reported to be strongly adsorbed on facet of {111} because the {100} facet was already filled with CTAVB. This will suppress the particle growth rate of the {111} facets and the growth on {100} facets were more dominant resulting in an octahedral shape as a final product. Some parameters that have been varied in this nanoparticle synthesis are AgNO3 concentration, temperature and reaction time. Variations of AgNO3 concentration used in this synthesis were 1%; 0.75%; 0.5% relative to Au precursors with temperature variation of 30 º C and 40 º C. Monitoring through visual colorimetric show that a pink color was formed after 24 hours and intensified with time. The TEM and SEM measurements showed that the optimum condition for obtaining monodisperse octahedral AuNP was when the concentration of AgNO3 at 0.75%, temperature of 30 ºC, and 6 days of reaction time. Variations 1% resulted in octahedron with slightly rounded edges and smaller size. More polydisperse and bigger particle size was formed when the concentration of AgNO3 0.5%."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mila Rahma Minanti Putri
"Modifikasi elektroda emas adalah salah satu metode alternatif yang dapat digunakan sebagai sensor kimia untuk analisis ion logam Cu2+. Modifikasi elektroda emas dilakukan dengan cara mengimobilisasi 3-mercaptopropionic acid pada permukaan elektroda emas dengan metode self assembled monolayer (SAM) yang difungsionalisasikan dengan EDTA. Karakterisasi elektroda emas dilakukan dengan teknik cyclic voltametry (CV), fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR), scanning electron microscopy (SEM) dan energy dispersive spectrometer (EDS). Luas elektroda yang digunakan adalah 0,809 cm2. Modifikasi dan aplikasi sensor elektroda Au-Bare, Au-3MPA dan Au-3MPA-EDTA terhadap pendeteksian ion logam Cu2+ telah berhasil dilakukan. Puncak arus oksidasi ion logam Cu2+ tertinggi terdapat pada pH 5 antara lain, 8,07 x 10-5A  pada elektroda Au-3MPA-EDTA, 5,92 x 10-5A pada elektroda Au-3MPA dan 7,42 x 10-5A pada elektroda Au-Bare pada kisaran potensial 0,35 V.

Modification of the gold electrode is an alternative method that can be used as a chemical sensor for the analysis of Cu2+ metal ions. Modification of the gold electrode was carried out by immobilizing 3-mercaptopropionic acid on the surface of the gold electrode using the self assembled monolayer (SAM) method which was functionalized with EDTA. Gold electrode characterization was performed by cyclic voltametry (CV), fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR), scanning electron microscopy (SEM) and energy dispersive spectrometer (EDS) techniques. The electrode area used is 0.809 cm2. Modifications and applications of Au-Bare electrode sensors, Au-3MPA and Au-3MPA-EDTA against the metal ion detection of Cu2+ have been successfully performed. The top of the current Cu2+ metal ion oxidation state is found in pH 5 among others, 8.07 x 10-5 A on Au-3MPA-EDTA electrodes, 5.92 x 10-5 A on Au-3MPA electrodes and 7.42 x 10-5 A on Au-Bare electrodes at a potential range of 0.35 V."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mohamad Sidiqi
"Penambangan emas dengan metode amalgamasi yang dilakukan oleh penambang emas skala kecil (PESIQ relah menimbulkan pencemaran lingkungan hingga ke laraf yang membahayakan, di sekitar daerah penambangan. Pembakaran amalgam emas di udara terbuka menjadi penyebab utama tercemarnya daerah sekitar dengan merkuri. Perancangan alat pengolah emas (pemisahan merkzlrz) ramah lingkungan merupakan Salah satu upaya untuk mengurangi pencemaran mekuri akibat aktifitas penambangan emas. Perancangan ala! pengolah emas ramah lingkungan dimuiai dengan idenqfikasi kebutuhan material sesuai dengan karakterisrik amalgamasi kemudian dilalmkan proses desain. Langkah pertama yang dilakulcan adalah menghitung neraca bahan dan neraca energi. Dari hasi! neraca itu dihitung luas bidang perpindahan kalor yang dyrerlu/ran, koefisien perpindahan kalor menyeluruh dan beda suhu rata-rata. Kemudian dilakukan konstruksi hasil desain. Sesudahnya dilakulcan pengujiargprototipe untuk mengetahui kesesuaian hasil konstruksi dengan persyaratan desain. Pengujian alat memperlihatkan temperatur di dalam chamber dengan menggunakan pemanas minyak tanah maksimum 25 0°C, dengan krusibel kecil sebesar 300”C dan dengan Iausibel besar bisa mencapai 600°C Recovery merkuri sebanyak U',0203gr dari 417,67 gr failing dihasilkan dengan pengujian menggunakan krusibef kecil dan 0,1796gr dari 503,46 gr tailing dengan krusibel besar. Berdasarkan hasil pengujian rancangan ala! yang dibuat dapat berfungsi dengan baik"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
S41358
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rania Umar
"Deteksi adanya As(III) dan As(V) dapat dilakukan dengan metode anodic stripping voltammetry. Elektroda pembanding berupa Ag/AgCl, elektroda pendukung berupa kawat platina, dan elektroda kerja yang digunakan merupakan elektroda glassy carbon dan screen printed electrode termodifikasi nanopartikel emas. Modifikasi kedua elektroda ini dengan nanopartikel emas dilakukan melalui teknik self-assembly menggunakan NH4OH sebagai aktivator. Nanopartikel emas dibuat dengan cara mereduksi HAuCl4 yang telah mengandung sitrat menggunakan pereduksi NaBH4. Kehadiran sitrat berguna untuk menstabilkan ukuran nanopartikel emas yang terbentuk. Karakterisasi dengan PSA menunjukkan ukuran nanopartikel emas sekitar 8-11 nm. Pada penelitian ini telah dilakukan modifikasi elektroda glassy carbon dan screen printed electrode dengan nanopartikel emas serta dilakukan pengujian terhadap larutan As(III) dan As(V). Hasil pengukuran larutan As(III) dan As(V) menggunakan screen printed electrode termodifikasi nanopartikel emas (SPE-AuNP) belum menunjukkan adanya puncak arus oksidasi. Sebaliknya, pengukuran menggunakan elektroda glassy carbon termodifikasi nanopartikel emas (GC-AuNP) memperlihatkan adanya puncak arus oksidasi. Respon arus terhadap As(III) pada elektroda GC-AuNP menunjukkan linearitas yang baik (r2=0,996) pada rentang konsentrasi 5-80 μM. Demikian juga untuk As(V) pada rentang konsentrasi 10-100 μM (r2=0,995). Hal ini menunjukkan bahwa elektroda GC-AuNP dapat digunakan sebagai elektroda kerja menggantikan elektroda Au bare.

Detection of arsenic in the form of As(III) and As(V) can be done by anodic stripping voltammetry method. The reference electrode used is Ag/AgCl, with platinum counter electrode, and as a working electrode glassy carbon and screen printed electrodes modified with gold nanoparticle were used. Modification of both working electrode was conducted through self-assembly technique in which gold nanoparticle is attached to the surface of the electrode activated by NH4OH. Gold nanoparticle was synthesized by reduction of HAuCl4 using NaBH4 in the presence of citrate. Citrate is used to prevent aggregation of gold nanoparticles. PSA characterization indicates that the size of gold nanoparticles are 8-11 nm. In this study, we investigate the possibility of modified glassy carbon electrode with gold nanoparticle to analyze As(III) and As(V). The determination of As(III) and As(V) using gold nanoparticle-modified screen printed electrode (SPE-AuNP) did not show the current oxidation peak. On the other hand, the gold nanoparticle-modified glassy carbon electrode (GC-AuNP) show current oxidation peak when used to analyze As(III) and As(V). Current response for the concentration of As(III) on GC-AuNP electrode gives linear response in the range of 5-80 μM (r2=0,996) whereas for As(V) in the range 10-100 μM (r2=0,995). This indicates that GC-AuNP electrode can replace the Au bare as a working electrode.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S1825
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dwiky Adisakti
"

Skripsi ini berjudul “Analisis Pengaruh Geopolitical Oil Price Index, Global Gold Price, dan Variabel Makroekonomi Global Terhadap Pasar Saham Syariah dan Konvensional di Indonesia Dengan Metode QARDL” bertujuan untuk memahami bagaimana kondisi global geopolitik dan ekonomi yang mempengaruhi pasar saham syariah dan konvensional di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel penelitian adalah indeks saham syariah dan non-syariah (konvensional) pada periode 2011-2020. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Quantile Autoregressive Distributive Lag-Error Correction Model (QARDL-ECM). Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat signifikansi antara geopolitical oil price risk, global Gold Price, global interest rate, dan global exchange rate dengan pasar saham syariah dan konvensional pada kondisi pasar yang berbeda dalam jangka panjang dan jangka pendek.


The thesis titled "Analysis the Impact of the Geopolitical Oil Price Index, Global Gold Price, and Global Macroeconomic Variables on the Sharia and Conventional stock Markets in Indonesia Using the QARDL Method" seeks to investigate the influence of global geopolitical and economic factors on Indonesia's sharia and conventional stock markets. This study adopts a quantitative approach with a descriptive design, utilizing the sharia and non-sharia (conventional) stock indices for the period 2011-2020 as the research sample. The research employs the Quantile Autoregressive Distributive Lag-Error Correction Model (QARDL-ECM) methodology. The findings indicate significant relationships between geopolitical oil price risk, global Gold Price, global interest rate, and global exchange rate with sharia and conventional stock markets under diverse market conditions in both short and long terms.

 

"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Nanda, Rajni
New Delhi: Munshiram Manoharlal , 1992
553.410 954 NAN e
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Kresna Wardhana
"Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup, manusia terkadang melupakan pentingnya kelestarian fungsi lingkungan. Kegiatan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidup ini banyak yang mengabaikan arti penting lingkungan dalam menunjang kehidupan mereka. Kegiatan masyarakat yang sangat merugikan lingkungan yang sedang marak berkembang di Kalimantan Barat adaiah pertambangan emas. Pertambangan emas yang dilakukan ini secara ilegal karena tidak memiliki ijin dari pejabat yang berwenang. Aktivitas pertambangan ini dikenal dengan sebulan Pertambangan Tanpa Ijin (PETI) bahan galian emas. PETI berkembang dari pertambangan rakyat yang dilakukan secara tradisional yang semakin lama semakin berkembang menjadi pertambangan emas yang menggunakan peralatan semi mekanis dan pelakuknya juga tidak hanya masyarakat setempat tetapi juga para pendatang terutama berperan sebagai pemodal.
Kegiatan PETI ini sangat merugikan baik bagi Pemerintah maupun Pemerintah Daerah dan dampak lingkungan yang diakibatkannya sangat mengkhawatirkan kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Dampak lingkungan akibat aktivitas PETI ini antara lain: kegiatan PETI dilakukan dengan membongkar lahan puluhan hektar sehingga mengubah keseimbangan ekosistem yang berpengaruh secara signiiikan terhadap terjadinya kerusakan jenis, spesies dan habitat flora dan fauna Proses pemisahan bijih emas dari batuannya menggunakan logam berat merkuri atau air rakya yang limbahnya langsung di buang ke tanah dan aliran sungai di sekitar lokasi PETI , selain itu juga berdampak pada lingkungan sosial bempa konflik sosial yang pelik seperti berkembangnya prostitusi, perjudian dan perkelahian antar kelompok serta kriminalitas lainnya.
Berdasarkan dampak yang ditimbulkan oleh PETI, maka PETI harus diatasi minimal menguranginya dan bahkan menghilangkannya. Untuk melaksanakan penertiban terhadap PETI peranan Pemerintah, dalam hal ini lembaga-lembaga lingkungan, sangat diperlukan sehingga perkembangan PETI dapat dicegah dan kelestarian fungsi lingkungan tetap terpelihara. Namun demikian dalam pelaksanaan tugasnya lembaga-lembaga lingkungan yang berada di Kalimantan Barat belum maksimal. Berkaitan dengan hal tersebut maka peranan lembaga yang berkaitan dengan pengendalian dampak Iingkungan sebagai akibat dari aktivitas PETI yang ada di Kalimantan Barat perlu dikaji dan ditelaah lebih lanjut peran dan efektivitasnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Fungsi, tugas dan wewenang kelembagaan lingkungan dalam menangani dampak lingkungan akibat aktivitas PETI emas berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Mengidentifikasi dan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelembagaan yang dilihat dari hasil kerja Tim Penertiban PETI emas dan kendala atau hambatan dalam penertibannya.
3. Keadaan sosial ekonomi dan budaya masyarakat terutama dilihat dan keadaan tingkat pendapatan dan pola perilaku masyarakat di sekitar lokasi PETI.
Penelitian bersifat diskriptif dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif yang dilaksanakan di Kalimantan Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, observasi serta dan wawancara kepada informan yang berkompeten yang ditetapkan berdasarkan teknik purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukan bahwa belum adanya lembaga pemerintah yang mempunyai fungsi, wewenang dan bertanggungjawab terhadap PETI. Penanganan PETI dilakukan oleh Tim Penertiban PETI yang keanggotaannya terdiri atas unsur pejabat pemerintah yang terkait. Tim Penertiban PETI kurang efektif dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Hal tersebut dapat dilihat dari kegiatan penyuluhan, pembinaan, pengawasan dan penertiban PETI yang dilakukan selama tahun 1996 - 2000, tidak kontinyu dan tidak merata di semua lokasi PETI. Selain itu tidak dapat menghilangkan PETI dan mencegah kerusakan Iingkungan akibat PETI, justru perkembangan PETI dan kerusakan lingkungan cenderung terus meningkat setiap tahunnya.
Jumlah PETI selama tahun 1996-2000 rata-rata setiap tahun yaitu 1.781 kelompok, dengan tingkat perkembangannya meningkat 3,1 % per tahun. Jumlah tenaga kerja yang terserap rata-rata setiap tahun 16.391 orang setiap tahun dengan tingkat penyerapan tenaga kerja PETI meningkat 27,6 % per tahun. Volume kerusakan tanah dan pasir yang tergali setiap tahun rata-rata 3.359.687 m3 dengan tingkat kerusakannya meningkat 10,8 % per tahun. Luas areal lokasi penambangan yang rusak setiap tahun rata-rata 1.378,4 Ha dengan tingkat kerusakannya meningkat 8,3 % per tahun, dan penggunaan Air Raksa (Hg) dalam kegiatan PETI yang tersebar dan mencemari lingkungan berjumlah 4,1 ton per tahun dengan tingkat penggunaannya meningkat 6,2 % per tahun.
Keadan sosial ekonomi masyarakat, terutama mengenai pendapatan masyarakat di sekitar lokasi PETI, yaitu rata-rata pendapatan pekerja atau buruh PETI Rp. 25.000,- sampai Rp.35.000,- per hari kerja. Pendapatan masyarakat bukan pekerja PETI di sekitar lokasi PETI rata-rata Rp. 25.000,- sampai Rp. 50.000,- per hari kerja. Pcndapatan bersih mandor PETI rata-rata Rp. 35.000, sampai Rp 50.000,- per hari kerja. Kurang efektifnya Tim Penetiban PETI dalam menangani PETI dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain 2 Iokasi PETI, operasi penertiban, perijinan, penegakan hukum, pendanaan, dan kegiatan Kontak Karya atau Kuasa Pertambangan.
Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa: Efektivitas kelembagaan lingkungan dalam penanganan PETI di Kalimaman Barat masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin meningkatnya perkembangan PETI dan semakin meningkatnya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh PETI. Belum efektifnya lembaga-lembaga tersebut dalam melaksanakan penerliban PETI disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: lokasi, operasi penertiban, perijinan, penegakan hukum, pendanaan dan faktor kegiatan KK dan KP. Meningkatnya perkembangan PETI berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar lokasi PETI. Selain itu, dampak sosial budaya yang ditimbulkan PETI adalah meningkatnya kriminalitas, gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat seperti perjudian, minuman keras dan prostitusi di sekitar lokasi PETI.

Accompanying industrial development and rising demands for the peoples needs have evenrually caused neglect in environmental protection. In pursuing their daily needs, the community easily forget the importance of theliving environment in supporting their living existence. Illegal gold mining activities undertaken by the local people in the traditional and primitive way (PETI) are at present spreading in large areas of West Kalimantan, due to lack of effective control by local authorities. It has been noted that such activities that are now using semi mechanical tools are not merely undertaken by the local populations, but also undertaken by people coming &om outside the region, especially by those who are also attracted to provide financial backups to these activities.
The illegal gold mining uncontrolled activities are evidently very harmful both to the national and regional interests as well, and might leave for the next generation living in the region a completely ruined areas. Extensive areas of land which once were rich in various kinds of plants and wild life. A devastated in search of some gold and natural habitat of various flora and fatma are wasted, left unfit for any use. What is particularly distratrous is the use of mercury to extract the gold, which alter having been used is disposed into the surrounding lands or in to the nearby rivers, resulting in pollution, affecting the flora and fauna. These gold mining activities are also the root of several social disturbances like prostitutions, gambling, fights between community groups, and any other kinds of criminality.
lt is obvious, that the undersirable effects of the gold mining must be minimized as much as possible. The responsible authorities should by all means undertake possible actions to overcome the problems. Government environmental protection agencies should be particularly called upon to take direct control to preserve the environment. However, it was noted that in the execution of their tasks, local environment agencies were perceived as not being effective enough. Within this framework of thinking the roles of existing local agencies related to the environmental impact control of illegal gold mining should be reviewed and evaluated in terms of their roles and effectiveness. A more effective method of control must be deviced for West Kalimantan to obtain actual results, particularly in connection with the continuing and still increasing activities ofthe people in their search for gold.
The objective of the study is:
1. To review the function, task and power of existing local environmental protection authorities to elliminate the adverse results of illegal gold.
2. To review and identify factors that inhibit effective perfomance of the gold environmental agencies to reduce adverse effect of illegal gold mining upon the environment under the existing regulations.
3. To study social and economic condition of the population in the affected areas in terms in term of their income.
The study is of descriptive nature and adopts a qualitative approach while being undertaken in West Kalimantan. Reliable sources of information include observation, partipatory observation and interview with competent respondents by way of purposive sampling.
The results reveals that so far competent and accountable agencies for the control of illegal gold mining activities were not effectively in function. Control is being carried out by PETI special task force officials in the affected areas.The rather poor control results are revealed by less sufficient extension services, guidelines, supervisions and mining control during 1996 until 2000, due to the absence of regular and on-the-spot control in all PETI areas. Illegal gold mining activities continued to grow in number every year.
During 1996-2000, there were 1,781 groups of people actively involved in illegal gold mining operations, showing an increase of 3,1 % each year.A total of 16,391 men were absorbed each year at average, with an annual ancrease of 27,6%.Annual average volume of earth exvacated amounted to 3,359,683 m3,thus damaged areas increased 10,8 % each year. About 1,378.4 hectares of mining location were damaged each year, increasing by 8,3% annually. Extensive pollution by mercury used in mining opertaions amounted to 4.1 tons per year, increasing by 6,2% annually.
The socio-economical conditions of the population, particularly those near the mining locations working as field labourers, earn daily wages of Rp.25,000- Rp.35,000, whereas those involved in other activities earn average daily wages of Rp.25,000-Rp.50,000. A mining foreman may earn Rp.35,000-Rp.50,000 per day. Less effective mining control results are mainly due to the spreaded and distant locations, lack of control and of good lincesing systems, weak law enforcement, insufficient financing and the statuss of Contract of Work and Mining Authorization activities.
The following conclusion may be drawn from the result of the study; The control of mining acttivities in West Kalimantan by the authorized agencies remains less effective, as indicated by continuing increase of illegal gold mining activities by the local communities in several areas, and the expanding environmental damage caused by the activities. Failure of the local authorities of enforce effective control is due to the absence of well-planned rules and regulations, licensing systems, insufficient fluids, and widespreads mining locations, which generated criminal activities, gambling, use of alcoholics drinks, prostitutions and disorder, reprensting social pathology as negative social impact of illegal gold mining activities.
"
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2003
T11078
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>