Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ade Margaretha L. T
"Pada awalnya imunologi dianggap tidak memiliki peran dalam penyakit kanker, namun
berbagai penelitian saat ini telah membuktikan bahwa sel imun tubuh dapat menghambat
perkembangan sel kanker. Sel imun yang diketahui berperan dalam mematikan sel tumor
adalah sel limfosit T sitotoksik CD4+ dan CD8+.
Reseptor PD-1 atau programmed death 1 ligand (CD279) sebagai molekul yang bersifat
mensupresi proses imunologi dihasilkan pada membran plasma sel T dan jika berikatan
dengan PD-L1 akan menekan respon imun, ekspresi berlebihan dari PD-L1 akan
menekan respons dari sel imun terutama sel limfosit T.
Saat ini rasio neutrofil-limfosit (NLR) darah dikenal sebagai salah satu petanda untuk
prognosis maupun prediktor dalam terapi kanker. Peningkatan jumlah neutrofil di darah
perifer merupakan petanda dari inflamasi kronik yang menunjukkan gangguan dari
imunitas seluler, sedangkan jumlah limfosit darah menunjukkan respons dari sel T
sitotoksik yang baik.
Penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara NLR pra radiasi
dengan PD-L1 ELISA pasca radiasi (p=0.010) sehingga NLR pra radiasi dapat digunakan
sebagai prediktor untuk PD-L1 ELISA pasca radiasi. Tidak ditemukan hubungan
signifikan antara PD-L1 intratumoral ELISA dengan sebukan limfosit stromal tumor,
namun terdapat kecenderungan hubungan negatif antara PD-L1 intratumoral ELISA
dengan sebukan limfosit stromal tumor pasca radiasi.

Decades ago immunology was not considered to have role in cancer, but various studies
have now proven that immune cells can inhibit the development of cancer cells. Immune
cells that are known to play a role in killing tumor cells are CD4 + and CD8 + cytotoxic
T cells.
PD-1 receptor or programmed death 1 ligand (CD279) as a molecule that suppresses the
immunological process produced on the T cell plasma membrane and it binds to PD-L1
will suppress the immune response, thus excessive expression of PD-L1 will suppress
the response of immune cells especially T cell lymphocytes
Recently the neutrophil-lymphocyte ratio (NLR) is known as one of the markers for the
prognosis and predictor of cancer therapy. An increase in the number of neutrophils in
peripheral blood is a sign of chronic inflammation which shows a disruption of cellular
immunity, whereas the number of blood lymphocytes shows a response from normal
cytotoxic T cells.
This study showed that there was a significant correlation between pre-EBRT NLR and
post EBRT PD-L1 ELISA (p = 0.010) so that pre-EBRT NLR could be used as a predictor
for post EBRT PD-L1 ELISA. No significant relationship was found between
intratumoral PD-L1 ELISA with a tumor stromal lymphocyte, but there was a trend of
negative relationship between intratumoral PD-L1 ELISA with a post-radiation tumor
stromal lymphocyte"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58866
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kharisma Prasetya Adhyatma
"Studi-studi sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara rasio neutrofil-limfosit
(neutrophil-to-lymphocyte ratio, NLR) dan rasio platelet-limfosit (platelet-to-lymphocyte
ratio, PLR) sebagai penanda respons inflamasi sistemik dalam mendiagnosis kanker
prostat. Tujuan studi ini adalah menilai NLR dan PLR prebiopsi prostat untuk
menentukan efektivitasnya dalam memprediksi kanker prostat. Studi ini menggunakan
desain retrospektif. Penelitian ini mengikutsertakan seluruh pasien hiperplasia prostat
benigna (benign prostatic hyperplasia, BPH) dan kanker prostat yang menjalani biopsi di
Rumah Sakit Adam Malik antara bulan Agustus 2011 sampai Agustus 2015. Batas PSA
yang digunakan adalah 5 ng/dL sebagai kandidat biopsi. Hubungan antara variabel
prebiopsi yang mempengaruhi persentase prostat dievaluasi termasuk usia, kadar
prostate-specific antigen (PSA), dan estimasi volume prostat (estimated prostate volume,
EPV). Nilai PLR dan NLR dihitung dari rasio hitung platelet dengan neutrofil absolut
terhadap hitung limfosit absolut. Nilainya kemudian dianalisis dan dilihat apakah terdapat
hubungan dengan diagnosis BPH dan kanker prostat. Dari 298 pasien yang diikutsertakan
dalam studi ini, penelitian ini membagi dua grup menjadi 126 (42,3%) pasien BPH dan
172 (57,7%) pasien kanker prostat. Terdapat perbedaan yang signifikan pada PSA
(19.28±27.11 ng/dL vs 40.19±49.39 ng/dL), EPV (49.39±23.51 cc vs 58.10±30.54 cc),
PLR (160.27±98.96 vs 169.55±78.07), dan NLR (3.57±3.23 vs 4.22 ± 2.59) pada kedua
grup (p<0,05). Analisis Receiver Operating Characteristics (ROC) dilakukan untuk PLR
dan NLR dalam menganalisis nilainya dalam memprediksi kanker prostat. Area Under
Curve (AUC) PLR adalah 57,9% dengan sensitivitas 56,4% dan spesifisitas 55,6% pada
batas cut-off 143 (p=0,02). Cut-off NLR 3,08 memberikan AUC 62,8% dengan
sensitivitas 64,5% dan spesifisitas 63,5%. AUC ini komparabel bila dibandingkan dengan
AUC PSA sendiri (68,5%). Penelitian ini lalu menjalani regresi logistik antara PSA, PLR,
dan NLR dengan hasil eksklusi PLR bila dihitung seara konjungtif. DEngan demikian,
NLR memiliki performa menjanjikan dalam memprediksi kanker prostat pada pasien
dengan PSA di atas 4 ng/dL (RO=3,2; 95% CI: 1,96-5,11). Kami menemukan bahwa
sebanyak 80 (63,5%) pasien dengan biopsi jinak memiliki nilai NLR negatif dalam studi
ini. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa NLR memiliki potensi menjanjikan dalam
memprediksi kanker prostat. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memvalidasinya
sebagai alat diagnostik.

Previous studies demonstrated promising value of platelet-to-lymphocyte (PLR) and
neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) as systemic inflammatory response in prostate
cancer. This study was conducted to evaluate their pre-biopsy values in predicting
prostate cancer. This is a diagnostic study with retrospective design. We included all
benign prostatic hyperplasia (BPH) and prostate cancer (PCa) patients who underwent
prostate biopsy in Adam Malik Hospital between August 2011 and August 2015. We used
PSA value above 4 ng/dL as the threshold for the biopsy candidates. The relationship
between pre-biopsy variables affecting the percentage of prostate cancer risk were
evaluated, including: age, prostate specific antigen (PSA) level, and estimated prostate
volume (EPV). The PLR and NLR was calculated from the ratio of related platelets or
absolute neutrophil counts with their absolute lymphocyte counts. The values then
analyzed to evaluate their associations with the diagnosis of BPH and PCa. Out of 298
patients included in this study, we defined two groups consist of 126 (42.3%) BPH and
172 PCa (57.7%) patients. Mean age for both groups are 66.36±7.53 and 67.99±7.48 years
old (p=0.64), respectively. There are statistically significant differences noted from PSA
(19.28±27.11 ng/dL vs 40.19±49.39 ng/dL), EPV (49.39±23.51 cc vs 58.10±30.54 cc),
PLR (160.27±98.96 vs 169.55±78.07), and NLR (3.57±3.23 vs 4.22 ± 2.59) features of
both groups (p<0.05). A Receiver Operating Characteristics (ROC) analysis was
performed for PLR and NLR in analyzing their value in predicting prostate cancer. The
Area Under Curve (AUC) of PLR is 57.9% with sensitivity of 56.4% and specificity of
55.6% in the cut-off point of 143 (p=0.02). The NLR cut-off point of 3.08 gives 62.8%
AUC with 64.5% sensitivity and 63.5% specificity. These AUCs were comparable with
the AUC of PSA alone (68.5%). We performed logistic regression between PSA, PLR,
and NLR with result in the exclusion of PLR if calculated conjunctively. Therefore, NLR
has a promising performance in predicting PCa in patients with PSA above 4 ng/dL
(OR=3.2; 95% CI: 1.96-5.11). We found as many as 80 (63.5%) patients with benign
biopsy results with negative NLR value in this study."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nicholas Kristanta Sandjaja
"Latar Belakang. Pneumonia komunitas merupakan masalah kesehatan global dan memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Rasio neutrofil-limfosit merupakan petanda inflamasi yang sederhana, cepat dan murah serta dapat dilakukan di fasilitas terbatas. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa RNL saat awal perawatan dapat digunakan sebagai prediktor mortalitas, lama rawat inap dan kemungkinan kejadian sepsis, tetapi belum ada studi yang meneliti perannya dalam memprediksi kesembuhan dalam 7 hari pada pasien dengan pneumonia komunitas.
Tujuan. Mengetahui peran rasio neutrofil-limfosit dalam memprediksi kesembuhan dalam 7 hari pada pasien dengan pneumonia komunitas.
Metode. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif terhadap pasien pneumonia komunitas yang dirawat di RSCM dari periode 1 November 2017-31 Desember 2018. Data neutrofil, limfosit dan leukosit serta RNL pada awal perawatan diambil dari rekam medis. Kriteria kesembuhan dalam 7 hari berupa perbaikan keluhan, pemeriksaan fisik, tanda vital yang stabil sesuai panduan IDSA/ATS dan atau perbaikan rontgent toraks. Nilai rasio neutrofil-limfosit yang optimal didapatkan menggunakan kurva ROC. Analisis variabel perancu dilakukan dengan regresi logistik.
Hasil. Terdapat 195 subjek penelitian yang dianalisis. Median usia sampel 65 tahun (21-90), dengan penyakit komorbid terbanyak adalah diabetes melitus (49,7%), terdapat 1 pasien yang mendapatkan antibiotik sebelum perawatan, dan 72,1% pasien dengan skor CURB-65 ≥ 2. Dari kurva ROC didapatkan nilai AUC 0,554 (IK95%: 0,473-0,635) dengan p>0,05. Analisa regresi logistik dan analisis subgrup menunjukkan CURB-65 skor 2 merupakan effect modifier.
Kesimpulan. Rasio neutrofil-limfosit pada awal perawatan tidak dapat digunakan sebagai prediktor untuk memprediksi kesembuhan dalam 7 hari pada pasien dewasa pneumonia komunitas yang dirawat

Background. Community acquired pneumonia is a global health problem and has a high morbidity and mortality. The neutrophil to lymphocyte ratio is a simple, rapid, inexpensive marker of systemic inflammation and can be done in a limited facility. Other studies had shown that neutrophil to lymphocyte ratio can be used to predict mortality, length of stay and sepsis, but there are no studies that investigate its role in predicting cure within 7 days in patients with community acquired pneumonia.
Aim. To investigate neutrophil to lumphocyte ratio as a predictor of cure within 7 days in patients with community acquired pneumonia.
Method. A retrospective cohort study was conducted using medical records in Cipto Mangunkusumo Hospital for community acquired pneumonia patients who were admitted from the period 1st November 2017-31st December 2018. Neutrophil, lymphocytes and neutrophil to lymphocyte ratio was obtained upon admittance. Criteria for cure within 7 days include improvement of clinical symptoms, physical examination, stable vital signs according to IDSA / ATS guidelines and or improvement of chest X-ray. Neutrophil to lymphocyte cut off was determined using the ROC curve. Confounding factors was analysed using logistic regression.
Results. There were 195 subjects. Median age was 65 years (21-90). Diabetes mellitus (49.7%) was the most frequent comorbid. There were one patients treated with antibiotics prior to admission and 72.1 % of patients with a CURB-65 score ≥ 2. ROC curve showed that AUC 0.554 (95%CI: 0.473-0.635 ) with p>0.05. Logistic regression analysis and subgroup analysis showed that CURB-65 2 was an effect modifier.
Conclusion. Neutrophil to lymphocyte ratio upon admittance cannot be used as a predictor of cure within 7 days in adult patients with community acquired pneumonia."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fahrani Imanina Putri Nurtyas
"Pasien sindrom koroner akut (SKA) dengan penyakit ginjal kronik (PGK) diketahui memiliki risiko mortalitas lebih tinggi dibandingkan dengan pasien SKA tanpa disertai PGK. Setiap tahunnya, dilaporkan 9% kematian akibat penyakit jantung koroner (PJK) yang disertai PGK, yaitu hampir 10 – 20 kali lebih tinggi dibanding populasi umum. Pada pasien SKA dengan PGK terjadi proses inflamasi kronik yang memainkan peranan penting dalam perubahan morfologi dan fungsional sel endotel yang mengakibatkan akselerasi proses aterosklerosis yang berkaitan dengan keparahan koroner pasien SKA dan berujung meningkatkan kejadian major adverse cardiac event (MACE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran rasio neutrofil limfosit (RNL) sebagai prediktor MACE dan korelasinya dengan derajat keparahan koroner pada pasien SKA dengan PGK. Digunakan 2 desain pada penelitian ini, yaitu studi nested case control dengan 31 subjek yang mengalami MACE sebagai kelompok kasus dan 28 subjek yang tidak mengalami MACE sebagai kelompok kontrol dari total 59 pasien SKA dengan PGK, serta studi korelatif dengan pendekatan potong lintang. Pada penelitian ini didapatkan area under curve (AUC) sebesar 60,8% dengan nilai titik potong RNL terhadap kejadian MACE adalah 3,62 dengan sensitivitas 74,2% dan spesifisitas 42,9%. Tidak terdapat perbedaan dan hubungan yang bermakna antara nilai RNL dengan kejadian MACE (p>0,05; OR=2,16 [95%CI=0,63 – 7,51]) dan tidak terdapat korelasi antara nilai RNL dengan derajat keparahan koroner yang dinilai menggunakan skor Gensini (r=0,10; p=0,474).

Acute coronary syndrome (ACS) patients with chronic kidney disease (CKD) are known to have a higher risk of mortality compared to ACS patients without CKD. Every year, 9% of deaths due to coronary heart disease (CHD) accompanied by CKD reported, which is almost 10 – 20 times higher than the general population. In ACS patients with CKD, chronic inflammation play an important role in morphological and functional changes in endothelial cells that resulted in atherosclerosis acceleration associated with coronary severity in SKA patients, thus lead the increase in major adverse cardiac events (MACE). This study aims to determine the role of neutrophil lymphocyte ratio (NLR) as a predictor of MACE and its correlation with the degree of coronary severity in ACS patients with CKD. Two designs were used in this study, first using nested case control study with 31 subjects who experienced MACE as a case group and 28 subjects who did not experience MACE as a control group of a total of 59 ACS patients with CKD. Second using correlative study with a cross-sectional approach. Area under curve (AUC) of 60.8% was obtained with an NLR cutoff value for MACE is 3.62 with 74.2% sensitivity and 42.9% specificity. There is no significant difference and relationship between NLR and MACE (p>0.05; OR= 2.16 [95%CI=0.63 – 7.51]), also no correlation between NLR and coronary severity degree assessed using Gensini score (r = 0.10; p = 0.474)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library