Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 56 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Astuty
"Pelayanan kamar operasi merupakan salah satu bentuk pelayanan yang sangat mempengaruhi tampilan suatu rumah sakit. Seiring dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan bedah menjadi bentuk pelayanan kesehatan spesialistik yang mahal, jadi harus efisien pengelolaannya.
Instalasi Kamar Operasi RSUD Pasar Rebo mempunyai 4 kamar operasi yang melayani bedah cito dan elektif. Dengan disatukannya pelayanan tindakan bedah cito dan elektif di instalasi kamar operasi ini, tindakan bedah elektif sering diundur pelaksanaannya karena harus mendahulukan pelaksanaan tindakan bedah cito yang mendapat prioritas utama dan adakalanya bedah elektif terpaksa ditunda/dibatalkan pelaksanaannya. Kapasitas waktu yang tersedia dari jam 8.00 pagi s.d 14.00 siang juga pada kenyataannya tidak dimanfaatkan seefisien karena belum adanya sistem penjadwalan operasi yang baik, pemakaian kamar operasi selalu dimulai diatas jam 8.00 pagi sehingga waktu kerja yang terbuang dimasing-masing kamar operasi rata-rata 32,87% perhari.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran/karakteristik sistem pelayanan tindakan bedah di Instalasi Kamar Operasi di RSUD Pasar Rebo dan membuat tehnik penjadwalan yang sesuai sehingga produk yang dihasilkan dapat efisien dan optimal. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dan melakukan analisa kuantitatif terhadap data sekunder untuk membuat model kuantitatif dan analisa deskriptif.
Dari hasil penelitian diketahui utilisasi kamar operasi sebesar 46,66% pada saat bedah cito masih dilakukan bersama-sama dengan bedah elektif. Lalu dari simulasi diperoleh besar utilisasi kamar operasi untuk bedah elektif (tanpa bedah cito) rata-rata sebesar 39,25% di setiap kamar operasi dengan 9 kasus perhari. Dengan simulasi juga dapat diketahui kapasitas optimal kamar operasi untuk mengerjakan bedah elektif sebanyak 18 kasus per hari. Dengan mengetahui kapasitas optimal masing-masing kamar operasi dan lama waktu operasi untuk masing-masing tindakan bedah dapat dibuat sistem penjadwalan yang sesuai untuk Instalasi kamar Operasi RSUD Pasar Rebo.
Dengan adanya penjadwalan dapat diketahui berapa besar kapasitas yang berlebih setiap hari dan disarankan membuat perencanaan untuk pemanfaatannya sehingga Instalasi Kamar Operasi dapat sebagai salah satu revenue center rumah sakit.

Developing a Model for Scheduling of Elective Surgery Service for The Surgery Theatre Installation of The Pasar Rebo HospitalSugery theatre service is one of the hospital services that make an image to the hospital performance. In line with advanced knowledge and technology, surgical operation become more expensive specialistic health service and need to be managed efficiently.
The Surgery Theatre Installation of The Pasar Rebo Hospital have four surgical theatres which serve surgical operations both emergency and elective surgery. As The Surgery Theatre Installation served surgical operations both emergency and elective surgery, resulting in postponement or cancellation of elective surgical operations. Allocated time to serve surgical operations is from 8.00 a.m to 2.00 p.m daily. This allocated time had not been utilized effectively because of unmanaged scheduling for surgical operations resulting in lost of worktime about 32,87% for each surgical theatre daily.
The purpose of this study was to describe characteristic of surgical service acheduling system of The Pasar Rebo Hospital and subsequently to develop a model to manage better through scheduling technique. This study was a cross sectional study with quantitative model related to scheduling of surgery services.
The result of this study showed that each surgical theatre utilization rate was about 46,6% when both emergency and elective surgical operations performed in those surgical theatres.
After performing simulation, utilization rate of elective surgery without emergency surgery was about 39,25% with 9 cases for each surgical theatre daily. In addition, optimal capacity of Sugery Theatre Installation was 18 cases daily. After knowing optimal capacity for each surgical theatre and average time for each surgical operation, a model of well managed scheduling system can be developed for The Surgery Theatre Installation of The Pasar Rebo Hospital.
After implementing well managed scheduling system, The Surgery Installation of The Pasar Rebo Hospital would be able to know daily capacity for each surgery theatre and develop a plan to utilize effectively each surgery theatre daily resulting in increasing revenue for The Pasar Rebo Hospital.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T438
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Heymann, Harald O.
""Drawing from both theory and practice and supported by extensive clinical and laboratory research, Sturdevant's Art and Science of Operative Dentistry, 6th edition presents a clearly detailed, heavily illustrated step-by-step approach to conservative restorative and preventive dentistry. It's a complete guide to all aspects of operative dentistry, including fundamentals, diagnosis, instrumentation, preparation, restoration, and prevention."--Publisher."
St. Louis, Missouri: Elsevier , 2013
617 HEY s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Desandra Puspita Nugraha
"ABSTRACT
Latar belakang: Efek samping tindakan odontektomi yang sering terjadi adalah pembengkakan dan rasa nyeri.Banyak praktisitelah menggunakan terapi dingin untuk mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri pasca odontektomi, namun masih sedikit dokter gigi yang menggunakan terapi dingin berupa larutan irigasi bersuhu dingin saat tindakan odontektomi. Tujuan: Mengevaluasi efek pemberian irigasi bersuhu dingin terhadap pembengkakan dan rasa nyeri pasca odontektomi. Metode penelitian:Studi prospektif pada pasien RSKGM FKG UI dengan gigi impaksi dan menjalani tindakan odontektomi. Pasien dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pasien yang mendapat perlakuan larutan irigasi bersuhu dingin dan kelompok kontrol larutan irigasi bersuhu kamar. Pembengkakan dan intensitas nyeri pasien pada kedua kelompok diukur dan dibandingkan pada hari H, ke-3, dan ke-7. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna (p<0.05) antarapembengkakan pada kelompok pasien yang diberikan larutan irigasi bersuhu dingin dengan kelompok pasien yang diberikan larutan irigasi bersuhu kamar, namun tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0.05) antara rasa nyeri pada kelompok pasien yang diberikan larutan irigasi bersuhu dingin dengan kelompok pasien yang diberikan larutan irigasi bersuhu kamar. Kesimpulan: Larutan irigasi bersuhu dingin berpengaruh terhadap pembengkakan, namun tidak berpengaruh pada rasa nyeri pasca odontektomi. Background: Side effects of mandibular third molar surgery that happen occur are swelling and pain. Many practitioners have used cold therapy to reduce swelling and pain after third molar surgery, but the use of cold irrigation solution by dentist is still rare. Objective: To evaluate the effect of cold irrigation solution on swelling and pain after third molar surgery. Methods:  Prospective study on patients in RSKGM FKG UI with impacted teeth and underwent third molar surgery. Patients were divided into two groups; intervention group with cold irrigation solution and control group with room temperature irrigation solution. Swelling and pain intensity on both groups were measured and compared on operative day, days 3 and 7 post operative. Result: There was significant swelling difference between both group, but there was no significant pain difference between both group. Conclusion: Cold irrigation solution effects swelling after third molar surgery, but doesnt effect the pain."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
McDonald, Ralph E.
St. Louis : Mosby , 1987
617.6 MCD d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Benny Raymond
"ABSTRAK
Latar belakang : Beberapa tahun belakangan, penanganan luka dengan madu
telah banyak diterapkan oleh para praktisi klinis diseluruh dunia. Namun sampai
sekarang, belum ada prosedur standar tentang bagaimana aplikasi madu pada luka.
Di divisi Bedah Plastik RSCM, madu diaplikasikan pada luka dengan frekuensi
satu kali perhari, dan secara observasional hasilnya memuaskan. Namun
bagaimana jika madu diaplikasikan setiap dua hari? Apakah hasilnya akan lebih
memuaskan? Kami ingin mencari metode mana yang akan memberikan hasil yang
paling memuaskan dan nantinya akan dijadikan standar aplikasi madu di divisi
kami.
Metodologi: Penelitian ini bersifat prospektif eksperimental, dilakukan di RSCM
pada bulan Juli – September 2012. Melibatkan 14 pasien dengan luka partial
thickness akut yang akan diwakili oleh luka donor STSG. Jumlah sampel ini
diyakini cukup untuk keakuratan penelitian ini. Pasien dibagi dalam 2 kelompok,
kelompok kontrol akan diberikan aplikasi madu pada luka tiap hari dan kelompok
perlakuan akan diberikan aplikasi madu tiap dua hari. Laju penyembuhan luka
akan dinilai sebagai persentase reduksi area yang belum terjadi epitelialisasi pada
hari ketujuh. Area yang telah epitelialisasi dan yang belum akan ditentukan
menggunakan program AnalyzingDigitalImages®. Data yang didapatkan akan
dianalisa secara statistik menggunakan SPSS versi 17. Data akan dibandingkan
menggunakan Wilcoxon signed rank test dimana p<0,05 secara statistik akan
dianggap terdapat perbedaan yang bermakna.
Hasil : Rerata persentase reduksi area non epitelialisasi pada kelompok perlakuan
adalah 86,76%, sedangkan rerata persentase reduksi area non epitelialisasi pada
kelompok kontrol adalah 97,97%. Dari analisa statistik didapatkan perbedaan
persentase reduksi yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok
kontrol (p 0,00)
Kesimpulan: Rerata persentase reduksi area non epitelialisasi pada luka dengan
penggantian balutan madu tiap hari dan tiap 2 hari, berdasarkan uji statistik
didapatkan berbeda secara bermakna. Namun dalam 2 hari, meskipun efektifitas
madu sudah berkurang, madu masih dapat memberikan hasil yang baik.
Penemuan ini akan berguna untuk pasien dengan luka partial thickness dimana
penggantian balutan madu tiap hari tidak dapat/sukar dilakukan.

ABSTRACT
Backgrounds: In the past few years, clinicians worldwide have been using honey
for wound treatment. But until now, there was no such standard on method of
honey application on wound. In our center, honey was applied on wound by once
a day application and the result was observationally satisfactory. What if
application of honey were done once every two days? Would the result become
more satisfactory? This study aims to search honey application method, which
gives the best result on wound treatment.
Methods: This is a single-blinded non-randomized clinical trial, which was
conducted in Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta from July until September
2012. 14 patients with acute partial thickness wound resulted from STSG
harvesting were involved in this study. Patients were divided into 2 groups:
control (once a day application of honey) and treatment (once every two days
application of honey) and the rate of wound healing were evaluated. Rate of
wound healing will be assessed as number of percentage of reduced nonepithelialized
areas on the seventh day of application.
Results: The mean percentage of non-epithelialized area reduction on treatment
group was 86.76%, and 97,97% on control group. There was significant
difference on percentage of reduced area between control and treatment group (p<
0,00).
Conclusion: There was statistically significant difference between once a day and
once every two days application of honey. However, changing of honey dressing
once a day is still a preferable method in wound treatment"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iffi Aprillia
"Pada tahap pengerasannya, material bioaktif akan mengalami mekanisme hidrasi dengan melepaskan beberapa ion yang dikandungnya. Reaksi pada permukaan material ini dapat melepaskan dan merubah konsentrasi dari ion-ion terlarut yang akan memicu terjadinya respon intraseluler dan ekstraseluler dan akan mengkonduksi terjadinya pembentukan jaringan keras. Ion kalsium (Ca2+) yang dilepas material bioaktif berperan dalam fungsinya sebagai peningkat pH, bakterisid, menekan aktivitas osteoklas, serta merangsang pembentukan fibroblas.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pelepasan ion Ca2+ dari material bioaktif MTA-Angelus® dan Biodentine®. Sebanyak 46 sampel dipersiapkan dengan ukuran Ø 2 mm dan tinggi 2 mm, terdiri dari 23 sampel kelompok MTA Angelus®, dan 23 sampel kelompok Biodentine® direndam dalam air deionisasi selama 1 jam dan 48 jam. Larutan perendam kemudian diukur kadar pelepasan ion Ca2+-nya menggunakan alat atom absorption sphectropometer, kemudian hasilnya diuji statistik menggunakan uji Kruskal Wallis. Hasil uji statistik post hoc Mann Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna diantara semua kelompok dengan nilai signifikansi p≤0,05. Biodentine® terbukti melepaskan ion Ca2+ lebih banyak dibandingkan dengan MTA Angelus® pada waktu pengukuran 1 jam dan 48 jam.MTA Angelus® melepaskan ion Ca2+ lebih cepat jika dibandingkan dengan Biodentine®.

On the setting stage, the bioactive materials will experience hydration mechanism by releasing a number of their ions. The reaction on the surface of these materials can release and alter dissolved ions concentration which will trigger an intracellular and extracellular responses. This process will also conduct remineralization. The released Ca2+ ions will increase alkalinizing activity, antibacterial, suppressing osteoclast activity as well as stimulating fibroblast formation. The aim of this study is to analyze Ca2+ ion release from MTA Angelus® dan Biodentine® as a bioactive material. As many as 46 samples are prepare with the size of 2 mm in diameters and 2 mm in height. The samples consist of 23 of MTA Angelus® samples, and 23 of Biodentine® samples. Both materials were soaked in deionized water for an hour which will then be measured. Both materials will then be transferred into fresh solution and will be soaked for 48 hours before they would be measured for the second time. The measurements will be conducted by using atom absorption sphectropometer. The result will later be statistically tested using a Kruskal Wallis test. Mann Whitney post hoc’s statistic test result showed a significant discrepancy among all groups, whit the significant value of p≤0,05. . Biodentine® was proven to release more Ca2+ ions compared to MTA Angelus® during the 1 and 48-hour measurments. MTA Angelus® released Ca2+ ion faster than Biodentine® does.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Situmorang, Indah
"Latar belakang: Cedera duktus bilier sewaktu operasi laparoskopi kolesistektomi berpotensi menimbulkan masalah untuk pasien dan ahli bedahnya. Rekonstruksi duktus bilier cukuplah sulit dimana diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat diperlukan untuk mencegah morbiditas lanjut dan komplikasi yang mengancam jiwa. Operasi koreksi oleh ahli bedah hepatobilier yang berpengalaman di rumah sakit pusat rujukan penting untuk menjamin keberhasilan rekonstruksi.
Metode: Sepanjang Juni 2010 hingga Juni 2015 terdapat 7 kasus cedera saluran bilier. Dilakukan penelitian secera retrospektif, mengevaluasi karakteristik, tindakan dan keluaran dari operasi rekonstruksi.
Hasil: Satu dari 7 kasus cedera duktus bilier ditangani secara endoskopi, selebihnya menjalani pembedahan. Lima kasus (83,3%) menjalani operasi koreksi yang ditunda. Mean interval dari waktu terjadinya cedera hingga saat rujukan adalah 45 hari (median 45 hari). Mean interval dari waktu terjadinya cedera hingga operasi rekonstruksi adalah 182 hari (median 65 hari). Semua pasien mengalami biloma, dua pasien telah dilakukan drainase sebelum dirujuk. Satu pasien datang dengan ikterus dan 3 pasien mengalami peningkatan kadar bilirubin. Berdasarkan kolangiografi pra operasi; dua pasien dengan cedera Strassberg E3 dan satu pasien dengan cedera Strassberg E1. Dua pasien lain masing-masing mengalami cedera Strassberg C dan D. Pada semua pasien dilakukan rekonstruksi hepatikoyeyunostomi Roux en Y dan stent internal dipasang pada 2 pasien. Stent internal ini dilepas masing-masing pada hari post operatif ke-18 dan ke-20. Rerata durasi operasi adalah 4 jam 42 menit. Rerata durasi rawat inap adalah 38,2 hari. Hanya satu pasien yang mengalami morbiditas pasca operasi. Pasien ini memerlukan tindakan operasi untuk memperbaiki luka operasi yang terbuka. Dilakukan pemantauan pasca operasi selama 6-24 bulan. Semua pasein tidak ada yang mengalami ikterus maupun kolangitis pada periode tersebut.
Simpulan: Tindakan koreksi operatif pada cedera duktus bilier akan menunjukkan hasil yang baik bila dilakukan oleh ahli bedah hepatobilier yang berpengalaman. Hepatikoyeyunostomi merupakan tindakan yang terbaik untuk mengembalikan kontinuitas aliran bilier. Follow up jangka panjang tetap dibutuhkan untuk melihat keluaran pada seluruh pasien.

Background: Bile duct injury (BDI) during laparoscopic cholecystectomy (LC) procedure bears problem for the patients and the surgeon. Biliary reconstruction is often challenging while prompt diagnosis and proper treatment are needed to prevent long term morbidity and life threatenting complications. Surgical repair by an experienced hepatobiliary surgeon in a tertiary care is important to ensure the success of the reconstruction.
Methods: From June 2010 to June 2015 there are 7 BDI. We conduct a retrospective study by evaluating the characteristic, type of surgery and the outcome.
Results: One out of 7 BDI cases were managed endoscopically. The rest had surgical reconstruction. Five cases (83.3%) had a late surgical repair. The mean interval from the time of BDI to referral was 45 days (median 45 days). The mean interval from the time of BDI to the reconstruction surgery was 182 days (median 65 days). All of the patients had biloma, two patients had drainage prior of the referral. One patient had clinical jaundice, three patients with slightly elevated bilirubin level. Based on the cholangiography studies prior of the surgery, two patients had Strassberg E3 injury and 1 patient had Strassberg E1 injury. Two other patients each had Strassberg C and D injury . All of the patients had a hepaticojejunostomy Roux en Y reconstruction; an internal stent was placed in two patients. The internal stent were removed on POD 18 and POD 20. Mean operative time was 4 hours 42 minutes. Mean hospital stay was 38.2 days. Only one patient developed a post operative morbidity. She needed another surgery to repair the burst abdomen. The follow up period range from 6-24 months. All patients did not develop jaundice or cholangitis during that period.
Conclusion: Surgical repair for BDI will show a better outcome when being done by an experienced hepatobilliary surgeon. Hepaticojejunostomy offers the best chance to restore the continuity of the biliary flow. A long term follow up still needed to see the overall result on these patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
New Delhi: Jaypee Medical, 2015
617.6 TEX
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Banerjee, Avijit
Jakarta: EGC, Penerbit Buku Kedokteran, 2014
617.69 BAN p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Heymann, Harald O.
"Summary:
Using a detailed, heavily illustrated, step-by-step approach, this guide helps you master the fundamentals and procedures of restorative and preventive dentistry and learn to make informed decisions to solve patient needs. It draws from both theory and practice, and is supported by extensive clinical and laboratory research"
India: Elsevier, 2013
617 HEY s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>