Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 25 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Didi Sunarwinadi
"Penelitian ini membahas formula harga LNG yang dapat diterapkan di berbagai negara baik penghasil maupun pemakai LNG, tetapi diskusi permasalahannya akan menggunakan kasus Indonesia. Prospek energi di Indonesia diharapkan dapat mewujudkan kemandirian energi untuk menjamin penyediaan energi guna memenuhi kebutuhan Pembangunan Negara. Pada tahun 1999 sektor minyak bumi dan gas bumi (Migas) akan memenuhi 76% dari seluruh permintaan energi nasional, sehingga Migas masih dominan sebagai sumber energi dibandingkan dengan sumber energi dari bahan lain di Indonesia. Bagi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil minyak bumi dan gas bumi, penerimaan dari sektor Migas sangat penting serta merupakan sumber devisa yang besar. Akan tetapi melihat perkembangan penurunan cadangan minyak burn serta peningkatan konsumsi minyak dalam negeri, pemerintah tidak dapat lagi sepenuhnya bertumpu pada penerimaan yang berasal dari minyak bumi. Gas bumi sebagai salah satu alternatif energi selain minyak saat ini telah turut menyumbang bagi pendapatan negara. Bahkan dengan status cadangan yang cukup besar, dapat menjadi suatu potensi sumber energi dan pendapatan yang cukup besar bagi negara. Jadi balk negara penghasil maupun pemakai gas dalam bentuk LNG sudah waktunya mulai melakukan studi yang mendalam mengenai formula harga LNG yang akan dipergunakannya. Sebagai contoh, Indonesia sebagai negara penghasil LNG sudah waktunya mengadakan kajian yang menyeluruh mengenai formula LNG yang tepat dan optimal dalam rangka menjaga dan meningkatkan pendapatan negara dari hasil penjualan LNG.
Dalam disertasi ini dilakukan suatu penelitian melalui analisis data, prediksi dan simulasi untuk merumuskan model pengendalian harga LNG. Formula harga LNG yang dikembangkan disebut formula I-G 2000 (Indonesia - Gas towards the year 2000), yang berbentuk PA = kl x U x M+ k2 x B - D. U =a. CP, (PA = Harga LNG, B=fungsi eskalasi = b.(I + d)°, d=laju inflasi, n=pertambahan tahun kontrak, b=harga awal semasa kontrak, a=persentase keunggulan LNG dibanding minyak, CP=crude parity, M=harga ekspor minyak Indonesia, D=contigency factor, ki=bobot terhadap harga minyak, k2=bobot terhadap faktor eskalasi). Formula ini dapat dikembangkan lebih jauh dengan memasukkan unsur ceiling maupun floor prices. Dengan adanya komponen D dalam formula I-G 2000, kemungkinan munculnya komponen selain harga minyak dan eskalasi pada masa mendatang dapat digabungkan dalam komponen D tersebut.
Karakteristik utama dari formula I-G 2000 menyebabkan proses optimisasi relatif lebih mudah dilakukan, karena bentuk dari formula I-G 2000 yang linier terhadap bobot atau koefisien yang akan dioptimasikan. Sehingga penggunaan formula I-G 2000 dalam menentukan harga LNG akan sangat membantu pengambil keputusan dalam mengoptimalkan pendapatan hasil penjualan LNG. Hasil simulasi dan analisis menunjukkan bahwa komponen harga minyak merupakan komponen pokok dalam mengendalikan harga LNG sehingga ketepatan dari prediksi akan perilaku harga minyak menjadi sangat penting. Disertasi ini menurunkan sebuah konsep prediksi yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan perilaku harga minyak pada masa mendatang, baik bagi kondisi normal maupun kondisi over dan undersupply melalui konsep hypothetical demand. Validasi dari hubungan yang diperoleh ini telah dilakukan dengan mengambil data migas tahun 1996 dan 1997 serta kasus oversupply psikologis yang terjadi dalam pertemuan OPEC pada bulan Desember 1997 di Jakarta, Indonesia. Perbandingan proyeksi harga minyak dunia antara prediksi yang didapatkan dalam penelitian ini dengan prediksi dari penelitian lain juga dilakukan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa laju inflasi dan suku bunga dapat mempengaruhi nilai optimal dari koefisien sedangkan koefisien keunggulan dan crude parity tidak mempengaruhi nilai optimal dari koefisien ki. Hasil simulasi memperlihatkan kemungkinan berubahnya nilai optimal kl. Terlihat pula penurunan harga LNG akan lebih besar pada tingkat harga minyak yang rendah dibandingkan pada tingkat harga minyak yang tinggi. Sehingga perhatian dan penanganan yang lebih serius mengenai masalah pembagian kuota di OPEC harus dilakukan terutama saat tingkat harga minyak rendah.
Formula I-G 2000 yang dikembangkan dalam penelitian ini terbukti bersifat umum dan unifying karena dapat menyatukan keseluruhan formula harga LNG yang pernah dipergunakan oleh pemerintah Indonesia dalam negosiasi dengan negara pemakai LNG di dunia. Penggunaan formula I-G 2000 yang tepat akan dapat mempertinggi peluang peningkatan atau mengoptimalkan pendapatan negara dari hasil penjualan LNG.
I-G 2000 Formula to Manage LNG Price for Increasing National Income With The Behavior of Oil Price as the Main ComponentThis research has analyzed the formulation of LNG price which can be applied to various cases or countries including either the producer. or the user of LNG. It should be noted, however, that the following discussion focuses on the Indonesian case.
The Indonesian energy policy is currently directed toward the certainty and self-sufficiency of energy supply for the need of national development. Oil and gas sector is projected to fulfill about 76% of total national energy demand in the year of 1999. Compared to other sources of energy, it is clear that the oil and gas sector is, and still becomes in the near future, the dominant source of energy in Indonesia. Moreover, it is critical for Indonesia as the producer of oil and gas to secure its national income derived from those products.
While the domestic consumption of oil has increased sharply, the oil reserve unfortunately has not followed the same path. As a result, Indonesian government cannot firmly depend its income on oil. To address that issue, the main alternative in these days should be the natural gas which has also been one the principal contributors of national income. In addition to being one of the primary contributors of national income, natural gas whose proven reserve is huge, has now become the center of sources of energy not only in Indonesia but also in other parts of the world.
Center to maintaining and increasing the national income from LNG is the development and study, as well as the optimal use of the right LNG price formula. Such activities are crucial for both the producer and the user of LNG.
Through the processes of data analyzing, prediction and simulation, this dissertation has proposed a novel control model for LNG price. The proposed LNG price formulation is called as the I-G 2000 (Indonesia - Gas towards the year 2000) formula, which has the following basic form: PA = kl x U x M + k2 x B - D, where U = a x CP, (PA = LNG price, B = escalation function = b x (1 + d)n, d = inflation rate, n = the nth year, b = LNG initial price, a = LNG advantage factor, CP = crude parity, M = Indonesian oil price, D = contigency factor, kl = price coefficient of oil component, k2 = price coefficient of escalation component). When it is necessary, such a formula can be extended by incorporating the ceiling as well as the floor prices. In addition to that, the price adjustment factor, D, can be used to capture other future components.
The main characteristic of the I-G 2000 formula makes the optimization processes become relatively simple since the form of that formula is tinier with respect to the price coefficients. As a result, the right and optimal use of such a formula in pricing the LNG will help the decision maker, in this case the government, to optimize its income from selling the LNG.
The simulation results and analyses have shown that the oil price is the critical component for controlling the LNG price. It means that the prediction of oil prices is center to the heart of LNG price problem. This dissertation has derived a concept to predict the behavior of oil prices in normal as well as over and undersupply conditions. The predictions of oil prices in the conditions of over and undersupply have been done through the use of hypothetical demand concept. The results have been validated by comparing them to the corresponding data of the 1996 and 1997, and also to the psychological oversupply case resulted from the OPEC meeting held in Jakarta in December 1997. Furthermore, the world oil price projection derived from this research has been compared to those from others.
It has been shown that the inflation and interest rates may control the optimal values of the price coefficients. On the other hand, those optimal values are not influenced by the LNG advantage factor and Crude Parity. The simulations have also illustrated when the changes of such an optimal value are possible. Moreover, the decrease of LNG price is relatively more pronounced when the oil price is in a lower level. This also means that to protect the LNG price the issue of OPEC oil quota becomes more delicate and should be more seriously solved when the oil price is in its lower level.
The I-G 2000 formula developed in this research has been shown to be a general and unifying formula for its ability to represent all LNG price formulas that have been implemented by Indonesian government in the negotiation process with LNG users in the world. Finally, the appropriate use of the I-G 2000 formula will definitely increase the probability of increasing or optimizing the national income from LNG sector.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1998
D371
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Purnadi
"Gas alam dewasa ini sudah merupakan alternatif sumber energi yang penggunaannya semakin hari semakin meningkat. Hai ini didasarkan bahwa pengunaan gas alam lebih menguntungkan (lebih efisien), disamping bersih dan ramah lingkungan, serta tidak berbau, tidak korosif, tidak berwarna dan tidak beracun. Gas alam dipasarkan dengan model transportasi dalam dua Cara yaitu dengan menggunakan pipa atau dalam bentuk cair atau LNG (liquefied natural gas).
Walaupun saat ini Indonesia adalah pengekspor LNG terbesar di dunia, namun dalarn beberapa tender yang diikuti dalam tiga tahun terakhir ini sering mengalami kegagalan. Hal ini sangat merisaukan, mengingat saat ini Indonesia mempunyai beberapa sumber gas alam yang siap untuk dilakukan produksi seperti Tangguh dan Donggi. Sementara itu beberapa kontrak yang lama akan segera berakhir pada tahun 2004 dan 2008. Apalagi persaingan gas alam atau LNG ke depan akan semakin ketat karena selain kebutuhan dunia yang meningkat, pasokan juga akan meningkat dengan jumlah negara pengekspor yang bertambah pula.
Dengan kegagalan tersebut Indonesia kehilangan kesempatan untuk segera mendapatkan devisa yang sangat diperlukan untuk pembangunan negara yang sedang dilanda krisis ini. Disamping itu, Indonesia bisa kehilangan pangsa pasar yang sudah kita miliki sekarang ini.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka tesis ini akan melakukan penelitian untuk dapat menentukan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing gas alam/ LNG Indonesia dalam pemasaran internasional. Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang didukung dengan data-data yang bersifat kuantitatif. Adapun analisis-analisis yang dilakukan adalah berupa analisis lingkungan internal berupa analisis sumber daya dan kemampuan dan analisis diamond Porter, analisis lingkungan eksternal berupa lingkungan mikro atau industri dari Porter, analisis daya saing yang didasarkan pada analisis daya dorong (driving forces), analisis positioning berupa analisis kelompok strategis dan analisis matriks growth-share BCG (modifikasi). Selanjutnya berdasarkan analisis-analisis tersebut ditetapkan strategi yang tepat.
Ada beberapa pokok permasalahan yang dibahas dalam tesis ini yaitu bagaimana persaingan bisnis gas alam atau LNG dalam pasar internasional kini maupun di masa datang, bagaimana peta posisi daya saing gas alam atau LNG Indonesia dalam persaingan di pasar internasional dan strategi bisnis apa yang harus dilakukan untuk dapat meningkatkan daya saing gas alam atau LNG Indonesia, sehingga PT. Pertamina (Persero) yang ditunjuk sebagai pemasar tunggal LNG Indonesia dapat meningkatkan pemasaran LNG dalam pasar internasional."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T13958
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riswijanto
"Indonesia merupakan salah satu negara penghasil dan pengekspor gas alam cair atau Liquid Natural Gas (LNG) terbesar di dunia. Dalam penggunaannya gas alam dipisahkan menjadi dua macam yaitu Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquid Petroleum Gas {LPG), dengan komponen utama masing-masing adalah Metana, Etana dan Propana, Butana. Salah satu cara pemisahan gas alam ialah dengan menggunaken molekular Sieve (penapis molekul).
Mineral zeolit adalah merupakan rangkaian yang dibentuk olah tetrahedra SiO4 dan ALO4 dan mempunyai rongga-rongga pada struktur kristalnya. Zeolit Bayah merupakan zeolit alam yang dapat dipergunakan sebagai molekular sieve. Untuk dapat dipakai sebagai molekular sieve, maka zeolit Bayah harus dimurnikan terlebih dahulu dengan melakukan pencucian memakai aquades, kemudian dicuci dengan asam pada pH 3-4 dan dikeringkan sampai 110°C. Untuk meningkatkan daya molekular sieve, make zeolit Bayah harus diubah ratio Si/Al nya dengan jalan mengalirkan uap HF pada temperatur 375°C ke dalam zeolit Bayah."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Desbudiman
"Indonesia sebagai negara penghasil gas, dengan iklim tropis (tidak mengenal empat musim), sangat cocok untuk mengembangkan teknologi pemanfaatan energi dingin LNG, terlebih dengan adanya rencana pembangunan LNG Receiving Terminal di Pulau Jawa. Pada Tesis ini dilakukan analisis aspek teknis dan ekonomi terhadap potensi aplikasi LNG Receiving Terminal yang memanfaatkan energi dingin LNG untuk pembangkit listrik di Pulau Jawa. Kajian teknologi dilakukan dengan melakukan simulasi tiga model proses yaitu; Siklus Rankine, Proses Gabungan, dan Combined Cycle Power Plant. Berbagai parameter proses di tiap alat disimulasikan dan dioptimisasi dengan bantuan perangkat lunak HYSYS. Untuk evaluasi kinerja proses digunakan analisis pinch. Untuk kapasitas LNG Receiving Terminal 1286 MMscfd dengan 50% laju alir LNG di utilisasi, didapat hasil sebagai berikut; Untuk model proses Siklus Rankine dihasilkan listrik sebesar 22 MW untuk DTmin 2,0°C. Model Proses Gabungan dihasilkan listrik 41 MW (31 MW net power) pada DTmin 2,0 °C. Untuk proses Combined Cycle Power Plant, jumlah LNG yang dibakar 50 MMscfd. Total listrik bersih yang dapat dihasilkan dari proses ini adalah sekitar 400 MW, dimana 86 MW merupakan hasil dari pemanfaatan energi dingin LNG. Analisis ekonomi yang dilakukan, secara umum menunjukkan ketiga model proses layak untuk diaplikasikan, kecuali Combined Cycle Power Plant (Desain-3) yang Pay Back Period masih sedikit diatas 8 tahun.

Indonesia as LNG producing country, which do not have four season, gas demand in this country does not fluctuate as much as it is in Japan. For these reason Indonesia have good prospect to develop cold energy utilization technology, especially Indonesia had plan to built LNG Receiving Terminal. In this research, technical and economical analysis for application LNG receiving terminal with cryogenic power plant unit, which built in Java Island will be studied. For better utilize LNG's low temperature, pinch analysis will be used for process optimization. Three processes model will be simulated, there are: cryogenic Rankine cycle, combined cryogenic Rankine cycle and direct expansion, combined cycle power plant. LNG receiving terminal with capacity 1286 MMSCFD, 50% of this capacity will be utilized to produced electricity in cryogenic power plant. From cryogenic Rankine cycle, resulting 22 MW electricity at DTmin 2,0°C. Combined cryogenic Rankine cycle and direct expansion, resulting 41 MW (31 MW net power) at DTmin 270°C. Net power which producing from combined cycle power plant is 400 MW, where it is 86 MW come from LNG cold temperature utilization. Analysis are continued with economical aspect analysis and sensitivities analysis. From economical analysis, in general, show that all design that simulated are feasible and applicable."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
T14761
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dimjati Achmad
"ABSTRAK
1. Selama hampir dua dasawarsa terakhir, Indonesia telah berhasil mengem-bangkan industri LNSnya, hingga mencapai pangsa pasar 39 % dari Total perdagangan LNG dunia tahun 1991. Dengan posisi sebagai eksportir LNG terbesar, komoditi ini memberi sumbangan yang berarti bagi pendapatan negara.
2. Prakiraan oleh International Energy Agency (lEA) menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar dinegara net importer energi kawasan Asia-Pasifik masih akan cukup baik, antara lain karena : diversifikasi sumber energi menuju energi bersih, masih kecilnya saham gas alam dalam komposisi Total Energi Primer (TEP) dinegara tersebut, misalnya Jepang yang pada tahun 1990 baru mencapai sekitar10%, Korea Selatan 3,2 %, Taiwan 2,7%, dibanding dengan saham gas aiam dalam TEP dibeberapa negara Eropa, yang berkisar antara 15 % sampai 25 %, juga karena masih adanya peiuang pasar di negara industri baru di kawasan ini, seperti Hongkong dan Singapura.
3. Analisis terhadap keunggulan daya saing yang dimiliki oleh industri LNG Indo nesia dewasa ini, terutama dari segi tersedianya faktor produksi dan infra struktur, pertumbuhan pasar, adanya industri penunjang didalam negeri, baik industri hulu maupun hiiir, struktur industri dan persaingan, pengaruh peru-bahan lingkungan jauh perusahaan, serta peran pemerintah dalam menun-jang industri, cukup mendukung untuk suatu usaha pengembangan (Growth Strategy) industri LNG ini dimasa mendatang, dengan tetap memperhatikan low cost strategy ( hargayang bersaing dengan harga sumber energi lain ) serta product "differentiated" (jaminan stabilitas dan keamanan pasokan).
4. Pada sekitar tahun 2000 - 2006, kontrak jangka panjang ( generasi pertama) pembelian LNG Indonesia akan berakhir (jangka waktu kontrak 20 - 25 tahun, dimulai thn. 1977), dengan demikian, suatu growth strategy akan bertum- pu pada perpanjangan kontrak dan pengembangan pasar/fasilitas produksi baru.
5. Kendala yang akan dihadapi dalam pengembangan usaha akan bersumber dari struktur persaingan industri dimasa depan, baik dari masing-masing elemen persaingan, maupun dari struktur pasar. Dari aspek persaingan, dapat timbul karena melemahnya komitmen terhadap basic requirement, mtsalnya keinginan untuk tidak terikat pada suatu long-term contract. Keadaan ini akan meningkatkan "Uncertainty", dikaitkan dengan return dari investasi (Return on Investment), juga kendala dapat bersumber dari sifat fisik salah satu faktor produksi, misalnya sifat gas pada suatu ladang yang berbeda dengan ladang yang lain, sehingga dibutuhkan cost yang lebih tinggi untuk mengoiahnya dan berpengaruh terhadap keekonomisan proyek.
Struktur pasar yang terkonsentrasi pada suatu tempat juga dapat menjadi kelemahan dan kendala baik bag! pembeli, maupun pihak penjual (eksportir).
6. Peran Pemerintah dimasa depan dalam menunjang pertumbuhan industri ini sangat penting, terutama dalam hal pen- ciptaan lingkungan investasi yang menarik, dalam bentuk deregulasi dan berbagai insentif yang diperlukan untuk menarik investor. Hubungan dengan Pemerintah yang menjadi pasar LNG Indonesia perlu ditingkatkan untuk upaya diversifikasi pasar, sehingga mengurangi kerawanan yang mungkin timbul, sekaligus meningkatkan volume ekspor dan devisa yang dihasilkan."
1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Pertamina, 1985
R 665.7 HAN
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Riza Glorius Pasikki
"Inti dari suatu kilang pencairan gas alam terletak pada unit pendinginan dan unit pencairan gas alam Pemanliaatan energi yang optimal pada unit pendinginan dan unit pencairan akan sangat berpengaruh pada biaya produksi. Metode analisis yang dapat digtmakan untuk menganalisa eiisiensi energi dari suatu plant diantaranya aclalah basil produk utama., recovery produk utama, konsumsi energi spesilik, investasi, kemampuan beroperasi dan pemeliharaan.
Pada penulisan slcripsi ini metode yang digunakan untuk menganalisa eftsiensi energi pada unit pendinginan dan unit pencairan gas alam di kilang LNG PT Badak NGL Co. adalah konsumsi energi spesiiik atau lebih dikenal dengan specific horse power. Makin kecil harga speciic horse power dari suatu kondisi operasi, makin eiisien pula pemenfaatan energinya. Pada skripsi ini juga al-can dibahas langkah-langkah pefhitungan untuk mencari harga specific horse power dan menyusunnya dalam sebuah program komputer dalam bahasa pemrograman Borland Delphi 2.0.
Salah satu variahel yang menentultan besar kecilnya harga specific horse power adalah komposisi re5'igeran komponen ganda atau MCR (Mix Coponem Refigeranr), yang idealnya terdiri clari nitrogen, metana, etana dan propana. Namun pada kenyataannya di lapangan selalu terdapat impuritis dalam MCR yang berupa iso-butana dan nonnal butana. Pengaruh impuritis dan juga pengaruh kornposisi MCR secara keseluruhan terhadap ltarga specilic horse power pada daerah laju produksi LNG tertentu untuk train D yang mennpalcan train lama dan E yang merupakan train baru akan diamati, dan hasilnya akan dituangkan dalam makalah skripsi ."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
S49115
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayyi Husbani
"Industri aluminium di Kuala Tanjung membutuhkan listrik 2 × 350 MW untuk mendukung peningkatkan produksi. Gas bumi adalah salah satu pilihan bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan listrik.  Saat ini, pipa transmisi gas menuju Kuala Tanjung belum bisa memenuhi kebutuhan bahan bakar gas untuk industri Aluminium tersebut. Suplai LNG dari daerah lain menjadi alternatif. Untuk menerima kiriman LNG, industri Alumunium membutuhkan pembangunan terminal penerima LNG. Seleksi pemilihan tangki penyimpanan dan teknologi regasifikasi dibahas secara kualitatif. Hasil seleksi terminal penerima LNG onshore menyatakan bahwa tipe tangki penyimpanan yang terseleksi adalah  full containment dan teknologi regasifikasi adalah Open Rack Vaporizer (ORV). Sedangkan hasil perhitungan keekonomian dengan formula harga untuk 13,5%ICP adalah IRR yang dicapai sebesar 13,5% dan NPV $70.448.815. Perubahan IRR dari kedua variabel yaitu kenaikan capex dan penurunan ICP menunjukkan bahwa penurunan ICP lebih sensitif dibanding kenaikan capex. Hal ini terjadi karena dengan perubahan ICP dan capex masing-masing sebesar 10%, IRR pada penurunan ICP turun menjadi 12,54%. Sedangkan IRR pada kenaikan capex, turun menjadi 13,07%.

The aluminum industry in Kuala Tanjung needs 2 × 350 MW of electricity to support increased production. Natural gas is one of the fuel choices to meet electricity needs. At present, the gas transmission pipeline to Kuala Tanjung has not been able to meet the needs of gas fuel for the Aluminum industry. LNG supply from other regions is an alternative. To receive LNG shipments, the Aluminum industry requires the construction of an LNG receiving terminal. Selection of storage tank selection and regasification technology are discussed qualitatively. The selection results of the onshore LNG receiving terminal stated that the type of storage tank selected was full containment and the regasification technology was the Open Rack Vaporizer (ORV). While the economic calculation results with the price formula for 13.5% ICP are IRR achieved at 13.5% and NPV $ 70,448,815. Changes in IRR of the two variables, namely increases in capex and decreases in ICP indicate that decreases in ICP are more sensitive than increases in capex. This happened because with changes in ICP and capex each by 10%, the IRR on ICP decreased to 12.54%. While IRR on the increase in capital expenditure dropped to 13.07."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
T55073
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Teuku Riefky Harsya
"Pengembangan kilang LNG Arun yang masa pengoperasiannya akan berakhir pada 2014 menjadi terminal penerima gas dapat membantu memenuhi kebutuhan gas di daerah Aceh dan Sumatera Utara. Kilang ini dapat dimodifikasi mejadi terminal penerimaan dan regasifikasi LNG karena sejumlah fasilitas yang tersedia masih baik dan layak untuk digunakan. Untuk mengetahui kelayakan proyek ini, dilakukan kajian keekonomian serta sensitivitas dengan masa pembangunan dan perbaikan selama 2 tahun, operasional selama 20 tahun serta pasokan LNG sebesar 400MMSCFD untuk tahun pertama dan meningkat sebesar 50 MMSCFD setiap tahunnya hingga mencapai 350 MMSCFD sebagai kapasitas produksi maksimum.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengkaji kelayakan proyek ini antara lain menganalisa kebutuhan peralatan tambahan untuk proses regasifikasi, menghitung kelayakan keekonomian melalui 4 parameter NPV, IRR, PBP, dan BC Ratio, serta uji sensitivitas dengan menggunakan random number generation simulator untuk mengetahui komponen yang paling sensitif terhadap perubahan.
Adapun hasil analisis keekonomian pemanfaatan kilang Arun menjadi receiving gas terminal menunjukkan bahwa proyek ini layak dijalankan dengan NPV sebesar 454.097.000 USD, IRR 15,4% terhadap MARR 15%, BC ratio sebesar 4, dan payback period jatuh pada tahun ke-6 bulan ke-2 pengoperasian. Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa tax merupakan faktor yang paling mempengaruhi perubahan.

Utilization of LNG Arun refinery plant, which it’s operational contract will end on 2014, as a receiving gas terminal can help meet the needs of gas in Aceh and North Sumatera. This plant can be modified into a receiving gas terminal and LNG regasification because of some of the existing facilities are still in a good condition and ready to use. Economic analysis should be done to know the feasibility of this project with the construction time for 2 years, 20 years of operational, and 150MMSCFD of LNG supply for start up and increased as much as 50 MMSCFD each year until reach 350 MMSCFD as maximum production capacity.
The steps done to know the feasibility of the project are additional equipment for regasification process study, calculate the economic feasibility through 4 parameter of NPV, IRR, PBP and BC ratio, as well as sensitivity analysis using random number generation simulator to determine the component that is most sensitive to change.
The economic analysis result shows that this project is feasible with NPV of 454.097.000USD, 15,4% of IRR with MARR as much as 15%, BC ratio of 4, and the payback period falls on 2nd month of the 5th year of operational. Sensitivtiy analysis result shows that tax is the most influencing factor to change.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
T32520
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isma Yatun
"Perancangan LPG Plant dengan memanfaatkan gas suar bakar sebagai bahan baku kilang LPG bertujuan untuk mengetahui kelayakan pembangunan LPG Plant ditinjau dari segi teknis maupun ekonomi sehingga dapat menjadi rekomendasi dalam pemenuhan kebutuhan LPG domestik dengan memanfaatkan gas suar bakar yang dihasilkan dari lapangan gas Tambun, Bekasi. Proses dasar LPG dari gas suar bakar adalah pemisahan menggunakan sistem refrijerasi. Produk yang dihasilkan memenuhi syarat LPG yang digunakan secara komersial yaitu jumlah komponen propana dan butana lebih dari 97,5 %.
Dari hasil simulasi diperoleh produk LPG sebesar 120 ton per hari, kondensat 240 barrel per hari dan lean gas sebesar 11 MMSCFD. Biaya investasi LPG Plant dengan kapasitas 15 MMSCFD adalah US $ 31.63 juta dengan tingkat nilai pengembalian yang disyaratkan 10%/tahun NPV sebesar US $ 121,45 juta, IRR 62,58 % dan Payback Period 2 tahun.

LPG Plant design is to study whether the utilization of flare gas as the feed gas of LPG Plant feasible or not to be developed technically and economically. This study could be recommended as an alternative to fulfill the LPG demand in domestic. Selected process for LPG recovery is Refrigeration system. The product has to fulfill the LPG specification which contains more than 97.5 % of propane and butane.
From the simulation, the result product of LPG Plant is 120 tonne/day of LPG, 240 barrel/day of condensates and 11 MMSCFD of lean gas to pipeline. Economic analysis shows that the total capital investment of this plant with 15 MMSCFD capacity is US $ 31.63 million. In case of 10 % MARR, NPV results are US $ 121,45 million , IRR 62,58 % and payback period is 2 years.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
T32581
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>