Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yustina Anie Indriastuti
"An intervention program on the impact of iron preparation with intensive nutrition education among pregnant women was undertaken in Kecamatan Curug, Kabupaten Tanggerang.
Twwo kinds of iron tablets, both containing 200 mg ferrous sulphate and 0,25 mg folic acid were distributed in four villages, namely village A: Kadu Jaya, village B: Kadu, village C: Curug Wetan and village D: Cukang Galih. The new iron tablet was prepared in a coated membrane form, with red coloring and was distributed in sachets containing 14 or 28 tablets. The existing (currently used) tablet was prepared in coated film form, with grey coloring and was loosely packaged. Intensive nutrition educaation was delivered to twwo villages, which were given the different iron tablet forms as described above.
A number of 162 pregnant women as subjects in four villages were divided into four different intervention groups, 41 of them in village A received new iron with intensive nutition education, 41 in village B received new iron, 40 in village C received existing iron with intensive nutrition education and 40 in village D received exixting iron alone was as the control group, for 12 weeks of intervention period, however only 127 of them could be monitored and evaluated.
Analysisi of nutrition knowledge, attitude and behavior of the subjects, recording of iron tablet consumption, dietary habits, nutrient intake and nutritional status was conducted in the four villages, for each of the four groups before and after intervention. In addition serum ferritin and hemoglobin concentration were determined to evaluate the change in the prevalence of anemia.
Distribution of new iron or existing iron tablets without intensive nutrition knowledge, attitude, behavior of the subjects towards anemia problem. he results show that subjects which received new iron could improve their dietary habits, calories and protein intakes, but not in iron and vitamin C intakes. Although, a significantly higher (p<0.0500) consumption of iron was observed in the group which received new iron, neither in the subsequent improvement in hemoglobin and serum ferritin values.
Intensive nutrition education was positively associated with the improvement of nutritional knowledge, attitude and behavior of the pregnant women as well as significant increase in iron tablet consumption (p<0.0500). Dietary habits were improved, as seen in the increase in calorie and protein intake and the resulting improvement in the nutritional status of the mothers.
The results indicated that the new iron supplementation with intensive nutrition education had a greater effect on invreasing the iron tablet consumption of pregnant women compared to those who only received existing iron supplementation without intensive nutrition education. Since the iron intake was not different in the two villages, their effect on hrmoglobin and serum ferritin concetration was not different.
Witihin the time period of observation, there was no different reduction in the prevalence of anemia between each village of the population studied."
1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Bahwa kerajinan tangan dapat dojadikan sumber penghasilan pokok, terbukti dengna adanya raumah tangga yang hanya menggantungkan hidupnya dari pembuatan loak saja, yang bisa hidup senang, malahan cukup mewah menurut ukuran para tetangganya. Adalah tergantung kepada kegiatan dan kemampuan kerja orang-orang yang bersangkutan untuk menentukan jumlah penghasilan dari pembuatan kerajinan ini..."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1968
S12798
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ari Wibowo
"ABSTRAK
Pertumbuhan transportasi udara dewasa ini menuntut
dibutuhkannya tenaga penerbang yang andal dan siap pakai.
Tingginya tingkat kebutuhan penerbang di Indonesia membuat
nilai tenaga penerbang ini sangat tinggi di bursa tenaga
kerja. Hal ini juga menyebabkan banyak orang tertarik untuk
menjadi penerbang. Meskipun banyak orang, terutama para
pemuda tertarik menjadi penerbang, namun sesungguhnya tugas
yang dihadapi seorang penerbang tidaklah ringan. Seorang
penerbang harus mampu nenyerap berbagai informasi yang ada
dengan cepat, mengolahnya, untuk kemudian mengambil
tindakan yang semestinya dengan cepat. Tugas ini menuntut
keterampilan kognitif dan motorik yang sangat tinggi.
Selain berat tugas ini mengandung risiko yang sangat
tinggi, karena sangat banyak kecelakaan pesawat yang
menelan korban jiwa. Berbagai penelitian juga membuktikan
sebagian besar kecelakaan pesawat diakibatkan oleh
kesalahan awak pesawat itu sendiri. Dengan demikian
individu yang bertugas sebagai penerbang harus benar-benar
menguasai dengan sangat baik keterampilan yang
dipersyaratkan. Ini merupakan tantangan bagi sekolah-
sekolah penerbang yang ada, dimana mereka harus benar-benar
memperhatikan keterampilan yang telah dikuasai siswanya
untuk menjamin keselamatan terbang.
Besarnya penguasaan keterampilan seseorang dapat
diketahui dari kinerja yang ditampilkan dalam menjalankan
tugas. Adapun yang dimaksud dengan kinerja di sini adalah
perilaku yang ditampilkan seseorang sebagai respon terhadap
situasi atau tugas yang dihadapi. Dengan demikian besarnya
keterampilan yang telah dikuasai seorang siswa penerbang
dapat terlihat dari kinerja yang ditampilkannya dalam
menerbangkan pesawat.
Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang,
salah satu faktor tersebut adalah self efficacy atau
tingkat keyakinan individu akan kemampuannya dalam mengatasi situasi tertentu. Banyak hasil penelitian yang
dilakukan terhadap siswa sekolah umum mengungkapkan bahwa
self efficacy sangat berperan dalam membentuk motivasi dan
meningkatkan usaha seseorang dalam mengatasi situasi yang
kompleks.
Mengingat cukup kuatnya hubungan antara self efficacy
dengan kinerja yang ditampilkan seseorang secara umum, maka
penelitian ini ingin mencoba untuk mengetahui lebih jauh
hubungan self efficacy dengan kinerja seseorang dalam
menerbangkan pesawat. Selanjutnya, hasil penelitian ini
diharapkan dapat membuka landasan baru untuk dilakukan
suatu intervensi terhadap pendidikan penerbang jika
terbukti adanya hubungan yang kuat antara self efficacy
dengan kinerja siswa penerbang dalan menerbangkan pesawat.
Penelitian ini dilakukan terhadap 31 siswa Penerbang
di PLP Curug, mengingat PLP Curug adalah satu-satunya
lembaga pendidikan penerbang sipil yang terbesar dan
terlengkap di Indonesia. Selain itu program pendidikan
penerbang di tempat ini juga menjdai acuan bagi sekolah
penerbang lain di Indonesia.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala
Self Efficacy dan lembar lembar observasi untuk menguji
keterampilan terbang. Skala self efficacy diberikan
langsung pada subyek yang memenuhi syarat untuk mengukur
tingkat self efficacy mereka. Sedangkan untuk mengukur
kinerja para siswa penerbang, dibutuhkan seorang pengamat
yang akan mendampingi subyek selama menerbangkan pesawat
untuk kemudian memberi penilaian.
Hasil utama penelitian ini menunjukkan tidak adanya
hubungan yang bermakna antara self efficacy dengan kinerja
yang ditampilkan siswa penerbang selama menerbangkan
pesawat. Hal ini mungkin terjadi karena beberapa sebab,
antara lain tidak dilakukannya pengujian reliabilitas antar
pengamat dalam mengukur kinerja subyek. Alasan tidak
dilakukannya hal tersebut adalah sangat terbatasnya tempat
di dalam pesawat. Sehingga hanya mungkin menampung satu
orang pengamat. Selain itu penyebaran skor self efficacy
yang diperloeh cenderung menyempit sehingga koefisien
korelasi yang diperoleh menjadi rendah. Untuk itu saran
yang diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah
dilakukan uji reliabilitas terhadap alat ukur kinerja.
Selain itu sebaiknya jumlah sampel penelitian diperbesar
agar dapat dicapai hasil yang lebih baik."
1997
S2659
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Daffa Haryadi
"Curug Batu Templek merupakan salah satu situs warisan geologi yang berpotensi dalam menarik wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung karena akses yang mudah dijangkau oleh kendaraan dan keberadaan air terjun yang indah. Lokasi Curug Batu Templek berada di Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Curug Templek merupakan salah satu calon geosite yang masuk ke dalam daftar proyek Geopark Sunda. Daerah Cimenyan, Kabupaten Bandung adalah daerah yang rawan terjadinya bencana longsor. Penyebab utama bencana longsor pada Daerah Cimenyan disebabkan oleh morfologi Kota Bandung yang dilewati oleh beberapa struktur geologi, curah hujan yang tinggi, dan kemiringan lereng yang sangat curam. Kestabilan lereng merupakan aspek penting dalam menjamin keamanan dan kenyamanan calon pengunjung Curug Templek, oleh sebab itu dilakukan analisis kestabilan lereng. Analisis kestabilan lereng pada curug ini dilakukan untuk mengetahui nilai faktor keamanan dari lereng dengan menggunakan metode Rock Mass Rating (RMR), Geological Strength Index (GSI) dan metode kesetimbangan batas serta Slope Mass Rating (SMR) untuk menentukan nilai faktor keamanan. Selain untuk mengetahui nilai faktor keamanan, penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis serta probabilitas terjadinya longsor dengan menggunakan metode analisis petrologi, petrografi, dan kinematik. Hasil penelitian kualitas massa batuan didapatkan bahwa, kualitas massa batuan penyusun Curug Batu Templek sangat bagus. Hasil analisis longsor menggunakan metode analisis petrologi, petrografi, dan kinematik didapatkan bahwa probabilitas terjadinya longsor yang berjenis non circular dengan litologi berupa andesit dan tipe longsorannya adalah toppling dengan kemungkinan terjadinya adalah 30%. Hasil dari analisis kestabilan lereng menggunakan metode deterministik kesetimbangan batas didapatkan nilai faktor keamanan di atas angka 1 yang menunjukkan bahwa lereng tersebut stabil dan data Slope Mass Rating (SMR) termasuk kelas I yaitu sangat stabil dan kemungkinan slope failure-nya sangat kecil.

Curug Batu Templek is one of the geological heritage sites with potential to attract both local and international tourists due to its accessible location by vehicles and the presence of a beautiful waterfall. Curug Batu Templek is located in Cikadut Village, Cimenyan District, Bandung Regency, West Java Province. Curug Templek is one of the candidate geosites listed in the Geopark Sunda project. The Cimenyan area, in the Bandung Regency, is prone to landslides. The main causes of landslides in the Cimenyan area are attributed to the morphology of the Bandung City, which is traversed by several geological structures, high rainfall, and very steep slope inclinations. Slope stability is a crucial aspect in ensuring the safety and comfort of potential visitors to Curug Templek; therefore, slope stability analysis is conducted. The slope stability analysis for this waterfall is performed to determine the safety factor of the slope using the Rock Mass Rating (RMR) method, Geological Strength Index (GSI), and limit equilibrium methods, as well as the Slope Mass Rating (SMR) to determine the safety factor value. In addition to determining the safety factor value, this research aims to identify the type and probability of landslides using petrological, petrographic, and kinematic analysis methods. The research reveals that the quality of the rock mass forming Curug Batu Templek is very good. The landslide analysis using petrological, petrographic, and kinematic methods indicates a 30% probability of a non-circular landslide occurring with andesite lithology, and the landslide type is identified as toppling. The deterministic limit equilibrium analysis of slope stability yields safety factor values above 1, indicating that the slope is stable. The Slope Mass Rating (SMR) data classifies it as class I, meaning it is very stable, and the likelihood of slope failure is very low."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dede Widyawati
"ABSTRAK
Hasil survei cepat tahun 1995 di Kabupaten Tangerang, proporsi ibu bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan sebesar 47,3 % sedangkan proporsi ibu hamil yang melaksanakan `antenatal care' sebesar 94 %. Masih rendahnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan serta belum diketahuinya faktor-faktor apa yang berhubungan dengan pemanfaatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, telah menarik minat peneliti untuk mengetahui proporsi ibu bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan pada tahun 1997-1998 dan hubungan antara faktor- faktor : pendidikan, pendapatan keluarga, sikap, kejadian penyakit saat hamil dan melahirkan, ketersedian fasilitas pelayanan kesehatan, jarak tempuh, ketersedian sarana transportasi, biaya pelayanan, anjuran/nasehat orang lain di lingkungannya untuk memanfaatkan pelayanan; dengan pemanfaatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.
Penelitian dilakukan dengan menganalisa data primer menggunakan metode `cross sectional'. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, proporsi ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan adalah 62,5 %, dan hipotesis peneliti telah terbukti kecuali ketersedian fasilitas pelayanan kesehatan, jarak tempuh serta anjuran/nasehat orang lain di lingkungannya untuk memanfaatkan pelayanan.
Berdasarkan hasil penelitian penulis menyarankan, bahwa dalam upaya meningkatkan jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan sebaiknya :
1. Memperlakukan dukun paraji sebagai mitra kerja petugas kesehatan.
2. Memberikan pendidikan kesehatan ibu, terutama kepada ibu-ibu yang berpendidikan rendah beserta suami dan orang tuanya, juga kepada remaja puteri di sekolah-sekolah.
3. Peningkatan tarif pelayanan persalinan dan kualitas `antenatal care' di puskesmas.
4. Pemberdayaan kelompok kerja (pokja) Gerakan Sayang Thu di semua tingkatan, sehingga pokja berfungsi secara efektif terutama dalam pengumpulan dana serta pengadaan transportasi yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan ibu.
Daftar Pustaka : 23 (1975 - 1997)

ABSTRACT
The 1995 Rapid survey's in Tangerang district found that 94 % of all pregnant women had antenatal care, while only 47,3 % of all births were delivered by health staff (midwives and medical persons). Because of the low proportion of births were delivered by health staff and the unknown factors related, so the author was interested to find out the proportion of birth aid by health staff in 1997-1998 and the relationship of the following factors: education, family earning, attitude, incidence illness during pregnancy and childbirth, availability of health facilities, the distance to health facilities, availability of transportation to health facilities, cost of health services, advice from another people to utilize the birth aid by health staff.
The study was done by using primary data, using cross sectional method. The study found that the utilization of birth aid by health staff reached 62,5 %. And, the author's hypothesis was proved except availability of health facilities, the distance to health facilities and advice from another people to utilize the birth aid by health staff.
Recommendations of study are:
1. Promote partnership among health staff and traditional birth attendants.
2. Health education on family life for using to mothers with minimal education, together with their husbands and parents. The family life education could also be taught for adolescent girls at schools.
3. Increase charge for delivery services and improve quality of antenatal care at Public Health Center (Pusat Kesehatan Masyarakat).
4. Encourage community participation to provide fund and transportation for pregnant mothers who need emergency care.
References : 23 (1975- 1997)
"
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aryadita Utama
"Sebuah penelitian yang difokuskan untuk mengindenfikasi keperbakalaan Punden Rajarsi dan Curug Ciangsana sebagai bangunan peninggalan tradisi megalitik. Kepurbakalaan ini ada di Desa Sukaresmi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dimana pada kedua lokasi penelitian ditemukan sejumlah monumen batu yang berciri tradisi megalitik..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S11411
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Watimena, Calvin S.
"Penyakit ISPA pada balita di Puskesmas Curug Kabupaten Tangerang selama 3 tahun berturut-turut selalu menempati posisi 3 besar penyakit dan berdasarkan laporan Puskesmas Curug tahun 2003 menempati urutan pertama (26,8%) dari 10 besar penyakit yang ada. Hal ini diduga karena kondisi fisik rumah, PM10 dan status gizi yang menyebabkan tingginya penyakit ISPA. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian faktor lingkungan rumah yang mempengaruhi hubungan kadar PM10 dan gizi dengan kejadian ISPA.
Desain penelitian menggunakan cross sectional, dirnana data dikumpulkan secara bersamaan dengan jumlah sampel sebanyak 120 rumah tangga yang ada balitanya (14 hari 59 bulan) secara proporsional berdasar jumlah balita yang ada di wilayah Puskesmas Curug Kabupaten Tangerang.
Faktor-faktor yang diteliti adalah PM10, status gizi dan faktor lingkungan rumah (jenis lantai, pencahayaan, ventilasi, kepadatan hunian rumah, kepadatan hunian kamar, penggunaan obat nyamuk, asap rokok dan bahan bakar) yang merupakan confounding PM10 dengan kejadian ISPA pada balita.
Hasil analisis bivariat dengan derajat kepercayaan 95% menunjukkan 8 variabel yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita, yaitu PM10 dengan nilai p = 0,000 (26,047; 3,362-201,783), status gizi p = 0,001 (5,980; 2,090-17,110), pencahayaan p = 0,001 (0,841; 0,756-0,9937), ventilasi p = 0,019 (2,565; I,225-5,361), kepadatan huni kamar p = 0004 (4,930; 1,682-14,451), penggunaan obat nyamuk p = 0,000 (7,115; 1,142-16,114), asap rokok p = 0,000 (4,241; 1,172-15347), bahan bakar p = 0,027 (4,680; 1,259-17397).
Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa PM10, kepadatan hunian kamar, penggunaan obat nyamuk, asap rokok, dan status gi i mempunyai nilai p C 0,05. Pemodelan lengkap antara variabel utama (PM10) dan confounding (kepadatan hunian kamar, penggunaan obat nyamuk, asap rokok) termasuk interaksi, menunjukkan tidak ada interaksi di antara variabel-variabel tersebut.
Penilaian confounding menunjukkan bahwa variabel kepadatan human kamar dan obat nyamuk merupakan confounding terhadap PMI0 dengan kejadian ISPA ppada balita (indexs confounding > 10%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar PM10 berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita setelah variabel kepadatan hunian kamar dan obat nyamuk dikendalikan.
Dari penelitian ini disarankan untuk menghindari pemakaian obat nyamuk bakar dan rumah tidak padat murni sehingga mengurangi kadar PMIO. Risiko kejadian ISPA dapat dikutangi dengan membuka jendela membuka jendela setiap hari, luas ventilasi rumah minimal 10% luas lantai, tidak merokok dalam rumah, membuat lubang asap dapur, dan pemantauan tumbuh kembang anak dengan melakukan penimbangan secara rutin setiap bulan.

House Environmental Factors that Influence the Corellation between the Level of PM10 with the Incedence of Acute Respiratory Infections in Toddlers in Curug Public Health Center Area, Tangerang District, in 2004The incidence of Acute Respiratory Infections (ART) ini toddlers in Curug public health centre, Tangerang District, in 3 consecutive years HAS always BEEN Ranked in the TOP three of all cases of diseases. The report from Curug public Health Centre in 2004 shows that ARI was ranked first (26,8%) out of to diseases in that particular public health centre. It is suspected that physical condition or the house, the level of PM10, and nutritional status are the factors causing the high incidence or ART.
Design of study is cross sectional, where data were colleted simultaneously. The number of samples is 120 house holds that have toddlers (14 day-59 months old). The number of toddlers was proportional to the number of toddlers living in the area surrounding Curug public health centre.
Factors being studied werf PM10, nutritional status, in house environmental factors (type of floor, the amount of light ini the house, ventilation, density of house occupants, density of occupants in a room, the use of mosquito repellent, cigarette smoke, and fuel), which are the confounding factors of PMIO with the incidence of ari in toddlers.
The result of bivariate analysis with degree of confidence of 95% show that there are & variables that correlate with incidence or ari in toddlers, namely PMI0 with pvalue = 0,000 (26.047,3,362-201.78). Nutritional status p value = 0,001 (5,980 ; 2,090-17,110), Ventilation p value = 0,019 (2,565 ; 1,225 - 5,36!). Density of occupants in a form p value = 0,004 (4,920 ; 1,682 - 14,451), the use of mosquito repellent p value - 0,000 (7,115 ; 1,142 - 16,114), Cigarette smoke p value = 0,000 (4,241 ; 1,172 - 15,347) fuel p value = 0,027 (4,680 ; 1,259-17.397).
The results of multivariate analysis show that PM10, density of occupant in a room, and the use of mosquito repellent, cigarette smoke, and nutritional status have p value <0,05, complete mode lung between the main variable (PM10) and confounding factors (density of occupants in a room, /the use of mosquito repellent, and cigarette smoke), as well as the interaction, shows that there is no interactions between those variables.
Confounding show that the variables such as density of occupants in the a room and the use of cigarette smoke are the confounding factors to PM10 with the incidence of ari in toddlers (confounding index >10%). This it can be concluded that the level of PM10 correlates with the incedence of ari in toddlers , when the two confounding factors are under control.
It can be recommended from this study that the use of mosquito repellent should be avoided and the density of occupants in the house is reduced, as to decrease the level of PM1Q. The risks of ari can be minimized by opening windows daily, making a hole for smoke to escape from the kitchen, ensuring that the ventilation in the house is at least 10% of total house area, not smoking inside the house, and routinely maintain the toddlers health each month for example is routine body weighing).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2004
T12820
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library