Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
Ryszcha Mirdania
"Tesis ini meninjau bagaimana Bilateral Investment Treaty (BIT) generasi baru Indonesia mengatur dan melindungi right to regulate khususnya dari gugatan legitimate expectation berdasarkan klausul Fair and Equitable Treatment (FET). Tesis ini disusun dengan menggunakan metode penelitian doktrinal. Penelitian ini meninjau bagaimana majelis arbitrase memutuskan perkara-perkara dengan gugatan legitimate expectation berdasarkan klausul FET untuk menemukan ketentuan-ketentuan apa saja yang harus dimasukkan dalam BIT demi memastikan perlindungan atas right to regulate. Penelitian ini menemukan bahwa BIT generasi lama belum memberikan pengakuan yang tegas terhadap right to regulate, dan bahwa terdapat kecenderungan majelis arbitrase investasi internasional untuk mengabulkan gugatan legitimate expectation ketimbang melindungi right to regulate milik host state. Berdasarkan putusan yang ditinjau, penelitian ini menemukan bahwa perlindungan terhadap right to regulate perlu diatur secara komprehensif dalam BIT, khususnya pada rumusan pendahuluan, klausul FET, pembatasan terhadap legitimate expectation, pengakuan terhadap right to regulate secara tegas, joint-interpretation, dan kewajiban investor untuk mematuhi peraturan perundang-undangan milik host state. Selanjutnya, penelitian ini menggunakan pendekatan komparatif untuk membandingkan bagaimana ketentuan-ketentuan tersebut dimuat dalam BIT generasi baru Indonesia dengan model BIT Belanda tahun 2019. Penelitian ini menemukan pula bahwa, apabila dibandingkan dengan model BIT baru Belanda, ketentuan dalam BIT generasi baru Indonesia belum secara komprehensif melindungi right to regulate dari gugatan legitimate expectation.
This thesis reviews how Indonesia's new generation Bilateral Investment Treaty (BIT) regulates and protects the right to regulate, especially from legitimate expectation claims based on the Fair and Equitable Treatment (FET) clause. This thesis is compiled using a doctrinal research method. This study reviews how arbitral tribunals decide cases with legitimate expectation claims based on the FET clause to find out what provisions must be included in the BIT to ensure protection of the right to regulate. This study finds that old generation BITs have not provided explicit recognition of the right to regulate, and that there is a tendency for international investment arbitral tribunals to grant legitimate expectation claims rather than protect the host state's right to regulate. Based on the decisions reviewed, this study finds that protection of the right to regulate needs to be regulated comprehensively in the BIT, especially in the preliminary formulation, FET clause, limitations on legitimate expectations, explicit recognition of the right to regulate, joint interpretation, and the obligation of investors to comply with the laws and regulations of the host state. Furthermore, this study uses a comparative approach to compare how these provisions are contained in Indonesia's new generation BIT with the 2019 Dutch BIT model. This study also found that, when compared to the Dutch new BIT model, the provisions in Indonesia's new generation BIT do not comprehensively protect the right to regulate from legitimate expectation lawsuits."
Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
Moh. Zahron
"Pada skripsi ini dirancang struktur PSFET berdimensi chip 360 _m x 290 pm x 400 }gym yang bekerja untuk daerah 0 kPa-16 kPa dengan Batas tekanan maksimumnya 40 kPa untuk aplikasi pengukuran tekanan darah dalam pembuluh darah manusia. Membran mempunyai tiga lapisan penyusun (Si3N4, polisilikon dan Si3NA berdimensi 80 pm x 80 yam x 0.78 pm dengan kondisi tepi jepit pada keempat sisi membran. Pada catu tegangan drain 6 volt, tegangan gate 12 volt PSFET rancangan memiliki keiinieran yang tinggi pads daerah pengukurannya, dan sensitivitas sebesar 0.0192 mA.mA'1.kPa-i.
Modifikasi struktur PSFET diiakukan dengan menambahkan celah udara pada bagian rongga PSFET, sebagai upaya untuk meminimalkan pengaruh temperatur dan tekanan ruang dari dalam rongga jika keadaan rongga vakum. Selain itu modifkasi struktur tersebut bertujuan untuk menyederhanakan dalam penggunaan persamaan lendutan membran PSFET.
Simulasi Perancangan PSFET berdasarkan pada model PSFET dan penyesuaiannya dengan parameter dan persamaan level-1 MOSFET guna memperbaiki karakteristik PSFET rancangan. Program Simulasi Perancangan dibuat dengan perangkat iunak Matlab 4.0 dari Matrix Laboratory. Sementara perancangan Layout dan Masker berdasarkan aturan proses 3 P NMOS, proses fabrikasi model PSFET, dan fabrikasi sensor tekanan Micro-diapragm tipe-C serta aturan pendisainan wire untuk pengabaian delay resistansi dan kapasitansi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
S38862
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Lenny Syarlitha Virgasari Sriyanto
"Klausul fair and equitable treatment FET merupakan salah satu bentuk perlindungan terhadap kegiatan investasi asing. Klausul FET tersebut muncul dalam hampir seluruh perjanjian penanaman modal asing antar negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Akan tetapi, klausul FET masih menjadi kontroversi karena definisi dan ruang lingkupnya yang belum diatur secara tegas dalam hukum internasional, sehingga dalam penerapannya, majelis arbitrase yang memeriksa dan memutus sengketa investasi tentang pelanggaran klausul FET menafsirkan klausul FET secara luas. Akibatnya, klausul FET dianggap hanya memihak kepada kepentingan investor asing yang mayoritas merupakan negara maju, dan merugikan kepentingan host state selaku negara yang menerima investasi, yang mayoritas merupakan negara berkembang. Oleh karena itu, diperlukan pembatasan terhadap klausul FET dengan menentukan komponen-komponen yang terkandung dalam klausul FET dan memasukannya ke dalam ketentuan-ketentuan yang lebih spesifik. Selain itu, diperlukan juga keseimbangan antara penerapan klausul FET terhadap negara maju dan negara berkembang, dengan menyesuaikan pada tahap pembangunan negara terkait.
Fair and equitable treatment FET is one of the protection clauses in foreign investment. The FET clause exists in almost all international investment agreements between countries, whether in developed countries or developing countries. However, the existence of the said clause is still an object of controversy, since the meaning and scope of the clause have not been stipulated strictly in international law. As a result, during the implementation, the arbitrators who examine and rule the investment cases regarding breach of the FET clause could interpret the clause widely, resulting in bias that the arbitrators only side with the foreign investors from developed countries, and harm the interest of host states from developing countries. Therefore, the limitation of the FET clause is needed, by deciding the components contained in the FET clause and specify the components into more specific rules. Besides, balance is also needed when implementing the FET clause between developed countries and developing countries, to adjust with the development level currently take place in related countries."
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2018
T49485
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
"This book describes the bottleneck faced soon by designers of traditional CMOS devices, due to device scaling, power and energy consumption, and variability limitations. This book aims at bridging the gap between device technology and architecture/system design. Readers will learn about challenges and opportunities presented by “beyond-CMOS devices” and gain insight into how these might be leveraged to build energy-efficient electronic systems."
Switzerland: Springer Cham, 2019
e20502413
eBooks Universitas Indonesia Library