Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 47 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rista Lewiyonah
"Salah satu faktor virulensi Candida albicans adalah kemampuannya dalam membentuk biofilm sehingga meningkatkan resistensi terhadap agen antifungal. Fase awal merupakan prasyarat terbentuknya biofilm serta ditandai dengan adhesi dan proliferasi sel C. albicans. Temulawak merupakan tanaman khas Indonesia dan dilaporkan memiliki efek antifungal karena mengandung zat aktif yaitu xanthorrhizol. Penelitian ini dilakukan dengan MTT assay untuk mengukur viabilitas C. albicans pada biofilm setelah pemaparan ekstrak etanol temulawak secara in vitro.
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak dengan konsentrasi 35% dapat menurunkan viabilitas C. albicans setara dengan nystatin. Ekstrak etanol temulawak terbukti memiliki efek antifungal terhadap C. albicans pada biofilm fase adhesi dan proliferasi.

Candida albicans has the ability to form biofilm that increase resistance to antifungal agents. Early phase is a prerequisite, characterized by adhesion and proliferation. Java turmeric is an Indonesian medicinal plants and reported to have antifungal effect due to its active component, xanthorrhizol. This study was conducted using MTT assay to measure viability of C. albicans in biofilm after exposure to Java Turmeric ethanol extract.
The result showed extract in 35% concentration can reduce the viability of C. albicans equal to nystatin’s capability. Java Turmeric ethanol extract has antifungal effect against C. albicans in adhesion and proliferation phase of biofilm.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2016
S641607
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"The recent proliferation of free trade agreements (FTAs) in Asia has created a need for a policy response to the RoO labyrinth. The RoO regimes of the ASEAN - China and ASEAN - Korea free trade agreements are described, analyzed and assessed against some best practices...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rizka Andini Pratiwi
"Latar Belakang: Pada kondisi inflamasi pulpa, terdapat penurunan dari jumlah protein dan asam amino. L-Arginine adalah asam amino semi-esensial karena berperan penting pada kondisi tertentu, gangguan imun berat dan luka bakar, yang membutuhkan asupan tambahan L-Arginine eksternal. Asam amino L-Arginine menjadi satu-satunya substrat sintesis nitric oxide (NO) dan poliamina berasal dari konversi L-Arginine menjadi ornithinen melalui arginase. NO dan poliamina merangsang proliferasi sel dan memiliki efek positif pada perkembangan melalui siklus sel. Tujuan: Mengetahui potensi asam amino L-Arginine terhadap proliferasi hDPSCs. Metode: Evaluasi asam amino L- Arginine konsentrasi 300, 400, 500 μmol/L, serta DMEM sebagai kontrol terhadap proliferasi hDPSCs menggunakan uji cell count setelah 24 jam. Analisis statistic menggunakan Oneway ANOVA dengan post hoc Bonferroni. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna potensi L-Arginine 300,400 dan 500 μmol/L dibandingkan kontrol, dan L- Arginine 500 μmol/L memiliki rerata proliferasi hDPSCs paling tinggi sebesar 436.666 sel/ml. Kesimpulan: Asam amino L-Argininee memiliki potensi terhadap proliferasi hDPSCs dan proliferasi tertinggi pada asam amino L-Arginine konsentrasi 500 μmol/L.

Background: In the inflammatory condition of the pulp, there is a decrease in the amount of protein and amino acids. L-Arginine is a semi-essential amino acid because it plays an important role in certain conditions, severe immune disorders and burns, which require additional intake of external L-Arginine. The amino acid L-Arginine is the sole substrate for the synthesis of nitric oxide (NO) and polyamines derived from the conversion of L- Arginine to ornithine via arginase. NO and polyamines stimulate cell proliferation and have a positive effect on progression through the cell cycle. Objective: To determine the potential of L-Arginine amino acid on the proliferation of hDPSCs. Methods: Evaluation of L-Arginine amino acid with concentrations of 300, 400, 500 μmol/L, and DMEM as a control for hDPSCs proliferation using cell count test after 24 hours. Statistical analysis using Oneway ANOVA with Bonferroni post hoc. Results: There was a significant difference in the potency of L-Arginine 300,400 and 500 μmol/L compared to control, and L-Arginine 500 mol/L had the highest average proliferation of hDPSCs of 436.666 cells/ml. Conclusion: The amino acid L-arginine has the potential to proliferate hDPSCs and the highest concentration at 500 μmol/L."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Silviatun Nihayah
"Pendahuluan: Tingkat kematian pasien kanker payudara menempati posisis tertinggi dunia dan umum terjadi pada wanita. TNBC merupakan jenis kanker payudara yang memiliki prognosis buruk. Selain tidak memiliki reseptor hormonal (ER, PR, dan HER2), TNBC memiliki kemampuan yang tinggi dalam mempertahankan hidup dan menolak apoptosis. Hal ini berkaitan dengan tingginya ekspresi gen Survivin, sebagai protein IAP (inhibitor apoptosis protein) yang berperan dalam menghambat apoptosis dan meningkatkan proliferasi. Studi terbaru menunjukkan bahwa CRISPR/Cas9 merupakan pendekatan yang sesuai untuk mengedit gen yang berpeluang besar dalam terapi kanker.
Bahan dan Metode: Sel TNBC BT549 yang telah ditransfeksi dengan Cas9 dan sgRNA. Analisis molekuler dimulai dengan analisis aktifitas pembelahan gen menggunakan (PCR), efisiensi pengeditan genom (Sanger Sequencing), ekspresi mRNA Survivin (qRT-PCR), dan analisis ekspresi protein Survivin (westernblot). Analisis fenotipe dilakukan dengan uji apoptosis (flowcytometry) dan proliferasi (tripan-blue exclusion assay). Analisis bioinformatika dilakukan dengan menganalisis struktur protein (PyMoL) dan analisis interaksi protein (Cytoscape).
Hasil: CRISPR/Cas9 berhasil menghilangkan fungsi gen Survivin pada sel TNBC BT549. Penurunan ekspresi mRNA dan protein Survivin signifikan, peningkatan apoptosis dan penghambatan proliferasi pada sel TNBC BT549.
Kesimpulan: Penelitian ini merupakan riset pertama kali yang berhasil membuktikan efek dari KO Survivin pada apoptosis dan proliferasi sel TNBC BT549.

Introduction: Breast cancer has the highest mortality rate in the world and is most common in women. TNBC is a type of breast cancer with a poor prognosis. TNBC, in addition to lacking hormonal receptors (ER, PR, and HER2), has a high ability to maintain life and resist apoptosis. This is due to the high expression of the Survivin gene, an apoptotic inhibitor protein that plays a role in inhibiting apoptosis and increasing proliferation. Recent research has shown that CRISPR/Cas9 is a suitable approach for gene editing with great potential in cancer therapy.
Materials and Methods: Cas9 and sgRNA were transfected into BT549 TNBC cells. Molecular analysis with PCR, genome editing efficiency (Sanger Sequencing), Survivin mRNA expression (qRT-PCR), and protein expression analysis (westernblot). Phenotypic analysis were carried out by apoptosis (flowcytometry) and proliferation (trypan-blue exclusion assay). Protein structure were studied using (PyMoL) and protein interaction (Cytoscape).
Results: CRISPR/Cas9 successfully eliminated the function of the Survivin gene in BT549 TNBC cells. Significant reduction in Survivin mRNA and protein expression, increased apoptosis, and inhibition of proliferation in BT549 TNBC cells.
Conclusion: This study is the first to demonstrate the effect of Survivin knockout on apoptosis and proliferation of TNBC BT549 cells.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Digna Permata
"Isu kepemilikan dan pengembangan peluru kendali atau senjata nuklir yang selanjutnya lebih dikenal dengan WMD dimana di dalamya meliputi kepemilikan senjata kimia, senjata biologi dan senjata nuklir telah menjadi fenomena dalam politik keamanan internasional. Komunitas internasional berusaha meminimalkan risiko yang ditimbulkan oleh perdagangan barang-barang penggunaan ganda dan militer. Proses proliferasi senjata pemusnah massal sendiri melibatkan beragam pelaku dengan kepentingan dan motivasi yang berbeda-beda. Negara-negara yang dikenal memiliki program senjata nuklir yang kontroversial adalah Korea Utara dan Iran. Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, modus pendanaan terorisme dan pendanaan senjata pemusnah massal semakin berubah. Ancaman proliferasi senjata pemusnah massal juga menjadi semakin kompleks. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana data yang diperoleh berasal dari wawancara dan studi dokumentasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa proliferasi senjata pemusnah massal, seperti nuklir, biologi, dan kimia, merupakan ancaman serius bagi Indonesia dan masyarakat internasional secara keseluruhan. Analisis intelijen strategis diperlukan untuk mengidentifikasi risiko, mengevaluasi dampak, dan menganalisis tren dalam menghadapi ancaman ini. Upaya internasional melalui traktat, protokol, diplomasi multilateral, dan dialog antar negara sangat penting untuk menangani proliferasi tersebut. Peningkatan pengawasan internasional, penerapan sanksi yang tegas, serta pertukaran informasi intelijen menjadi langkah kunci dalam menghadapi masalah ini. Rekomendasi kebijakan termasuk penegakan hukum yang efektif, peningkatan kerjasama internasional, kapasitas intelijen yang lebih baik, dan peningkatan kesadaran publik. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa proliferasi senjata pemusnah massal memiliki konsekuensi serius bagi Indonesia dan masyarakat internasional. Upaya kolaboratif melalui traktat, protokol, diplomasi multilateral, dan dialog antar negara sangat penting dalam menghadapi tantangan ini. Langkah-langkah penting meliputi peningkatan pengawasan internasional, penerapan sanksi yang efektif, serta pertukaran informasi intelijen. Rekomendasi kebijakan mencakup penegakan hukum yang kuat, peningkatan kerjasama internasional, peningkatan kapasitas intelijen, dan peningkatan kesadaran publik.

The issue of possession and development of ballistic missiles or nuclear weapons, commonly referred to as Weapons of Mass Destruction (WMD), has become a phenomenon in international security politics. The international community strives to minimize the risks posed by the trade of dual-use and military goods. The process of WMD proliferation involves various actors with different interests and motivations. Countries known for their controversial nuclear weapons programs include North Korea and Iran. With the advancement of time and technology, the modes of terrorism financing and funding for WMD have evolved. The threat of WMD proliferation has also become increasingly complex. This research adopts a qualitative method, gathering data through interviews and documentary studies.

In conclusion, this study asserts that the proliferation of WMD, including nuclear, biological, and chemical weapons, poses a serious threat to Indonesia and the international community as a whole. Strategic intelligence analysis is required to identify risks, evaluate impacts, and analyze trends in addressing these threats. International efforts through treaties, protocols, multilateral diplomacy, and inter-state dialogues are crucial in addressing proliferation. Key steps involve enhancing international monitoring, implementing stringent sanctions, and facilitating intelligence information exchange. Policy recommendations include effective law enforcement, increased international cooperation, improved intelligence capacity, and heightened public awareness.

Overall, this research concludes that the proliferation of WMD has significant consequences for Indonesia and the international community. Collaborative efforts through treaties, protocols, multilateral diplomacy, and inter-state dialogues are vital in addressing these challenges. Important measures include enhancing international monitoring, implementing effective sanctions, and facilitating intelligence information exchange. Policy recommendations encompass robust law enforcement, increased international cooperation, improved intelligence capacity, and heightened public awareness."

Jakarta: Sekolah Kajian dan Stratejik Global Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fuad Putera Perdana Ginting
"Arus desentralisasi memicu terjadinya pemekaran daerah di seluruh wilayah Indonesia. Alasan dan pertimbangan pemekaran ini tidak hanya dari sisi politis seperti; keinginan mendapatkan jabatan pemerintahan di DOB baru, atau alasan administratif seperti; upaya mendekatkan pemerintahan kepada masyarakatnya, ada juga pemekaran daerah yang dilandasi oleh semangat kolektivitas etnis. Salah satunya adalah Kabupaten Pakpak Bharat yang terbentuk pada tahun 2003. Pemekaran itu menjadikan Kabupaten Pakpak Bharat daerah dengan etnis yang homogen (etnis Pakpak), meskipun harus melepaskan sebagian besar tanah ulayatnya kepada kabupaten induk yang telah didominasi oleh etnis lain.
Penelitian menggunakan teori etnis (Kanchan Chandra), politik etnis (Kellas, McCarthy, Fearon, dan Caselli & Coleman), dan koalisi vertikal (Kimura) dalam menganalisis dan memahami fenomena pembentukan Daerah Otonomi Baru Kabupaten Pakpak Bharat yang bermotivasi etnis. Tesis ini berusaha memahami bagaimana tahapan politik yang dilalui oleh aktor-aktor dalam pembentukan Kabupaten Pakpak Bharat dan bagaimana eksistensi aktor-aktor tersebut setelah terwujudnya pemekaran.
Penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara baik dengan aktor politik yang terlibat, juga dengan akademisi yang pernah meneliti kajian terkait. Studi literatur mengenai Kabupaten Pakpak Bharat dan Kabupaten Dairi dari skripsi, tesis dan disertasi juga digunakan untuk memperkaya data dan informasi.
Laporan-laporan mengenai daerah pemekaran didominasi oleh kegagalan DOB dalam mencapai target-target desentralisasi politik dan ekonominya. Banyak terjadi pembajakan oleh elit (elit capture) pada daerah otonom baru, elit lokal terutama dalam birokrasi dan parlemen menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri. Pakpak Bharat termasuk dalam kabupaten hasil pemekaran yang dianggap belum berhasil mensejahterakan rakyatnya. Namun berbeda dengan daerah lain, tujuan awal dan motivasi homogenitas etnis dalam memekarkan daerahnya membuat persoalan kesejahteraan dan infrastruktur menjadi kurang berarti di Pakpak Bharat. Elit lokal yang terlibat sejak awal rencana pendirian Pakpak Bharat pun tidak ada yang menjadi pejabat di kabupaten baru tersebut, mereka bekerja karena semangat kolektivitas etnis.
Implikasi teoritis yang didapat adalah, bahwa etnis adalah suatu identitas yang dapat dikonstruksikan sesuai dengan situasi dan kepentingan tertentu. Dalam kasus DOB Kabupaten Pakpak Bharat, etnis Pakpak merekonstruksi ulang identitas etnis mereka yang sebelumnya telah memudar karena banyak orang Pakpak berpindah identitas menjadi orang Toba. Dalam hal koalisi vertikal, koalisi politik dalam pembentukan DOB, identitas etnis Pakpak adalah perekat antar level administrasi setiap aktornya. Namun koalisi ini hanya eksis sampai pada terwujudnya DOB, setelah itu koalisi vertikal ini bubar dengan sendirinya seperti terbentuk juga dengan sendirinya.

The decentralization streaming caused massive territorial proliferation in entire of Indonesia. Apparently the reason and consideration in the discourse of the proliferation is not only from the political side like; the desire of getting the position at the new government, or administrative reasons such as; the efforts to get the government closer to the citizens, there is also a proliferation based on ethnic collectivity. One of them is formed in Pakpak Bharat Regency in 2003. The proliferation made the Pakpak Bharat District an area with a homogeneous ethnic (ethnic Pakpak), although they have to detach a large extent of their traditional land to the main region that has been dominated by another ethnic group.
This study using the theory of ethnicity (Kanchan Chandra), political ethnic (Kellas, McCarthy, Fearon, and Caselli & Coleman), and vertically coalition (Kimura) in analyzing and understanding the phenomenon of establishment of New Autonomous Region of Pakpak Bharat which is has an ethnic motivation. This thesis seeks to understand how the political stages traversed by actors in the establishment of Pakpak Bharat and how the existence of the actors after the realization of the proliferation.
This research is a case study with a qualitative approach; data collection was done with interviews both with political actors who involved, as well as with academics who once examined the related studies. To enrich the data and information, the author also uses the study of literature concerning Pakpak Bharat and Dairi District.
Reports about proliferation dominated by the failure of the new autonomous region in achieving targets of political and economic decentralization. There are elite captures in the new autonomous region, the local elite, especially in the bureaucracy and parliament abusing their power to enrich themselves. Pakpak Bharat Regency is also included in the results of the extraction are deemed to have not managed to prosper his people. But in contrast to other areas, the original purpose and motivation of its homogeneity in ethnic regions, making the extract issues of welfare, infrastructure and others became less meaningful in Pakpak Bharat.
The theoretical implication is, that is an ethnic identity can be constructed in accordance with the situation and particular interests. In the case of Pakpak Bharat Regency, Pakpak ethnic reconstruct their ethnic identity which had been fading because many people of Pakpak switch their identities became Tobanese. In terms of vertical coalition, coalition politics in the establishment of new autonomous region, ethnic identity of Pakpak is adhesive between each level of administration actors. However this coalition existed only until the attainment of new autonomous region, after that this vertical coalition broke up on its own as it is formed also by itself
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2017
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Clough, Jonathan
"We live in a digital age. The proliferation of digital technology, and the convergence of computing and communication devices, has transformed the way in which we socialise and do business. While overwhelmingly positive, there has also been a dark side to these developments. Proving the maxim that crime follows opportunity, virtually every advance has been accompanied by a corresponding niche to be exploited for criminal purposes; so-called 'cybercrimes'. Whether it be fraud, child pornography, stalking, criminal copyright infringement or attacks on computers themselves, criminals will find ways to exploit new technology. The challenge for all countries is to ensure their criminal laws keep pace. The challenge is a global one, and much can be learned from the experience of other jurisdictions. Focusing on Australia, Canada, the UK and the US, this book provides a comprehensive analysis of the legal principles that apply to the prosecution of cybercrimes."
United States: Cambridge University Press, 2010
e20528257
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Cornelia Yasmin Gunawan
"mengalami kerusakan dan sirosis hati. Walaupun tidak ada data terbaru mengenai insiden kerusakan hati di Indonesia, Riskesdas 2013 menyampaikan adanya prevalensi yang tinggi dari persentase HBsAg, anti-HBs, dan anti-HBc. Selain itu, dalam kurun waktu 30 tahun (1980—2010), terdapat peningkatan tingkat kematian sirosis hati sebanyak 25,1%. Model hewan yang sesuai sangatlah penting dalam meneliti kerusakan hati. Karbon tetraklorida (CCl4) sudah lama digunakan untuk menginduksi fibrosis hati pada model tikus. Walaupun dapat menginduksi pengendapan jaringan ikat, regenerasi hepatoseluler, proliferase sel stelata, dan infiltrasi sel-sel inflamasi, kerusakan pada model tikus yang diinduksi CCl4 hanya merepresentasikan kerusakan hati sampai batas tertentu, mirip dengan kerusakan hati akibat obat. Dengan tujuan meniru kerusakan hati yang lebih parah, penelitian ini mengkombinasikan penggunaan CCl4 dengan asetilaminofluorena-2 (2AAF) karena 2AAF terbukti dapat menekan proliferasi hepatosit sehingga terjadi proliferasi sel oval yang berakibat pada proliferasi duktular. Metode: Desain penelitian ini adalah penelitian observasional terhadap penelitian analitik eksperimental dengan bahan biologis tersimpan yang diambil dari Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan data primer eksperimental dengan 15 sampel yang dikategorikan dalam 3 kelompok: kontrol sehat, diinduksi CCl4, dan diinduksi 2AAF/CCl4, dan dianalis di bawah mikroskop dalam hal tingkat fibrosis, daerah cakupan fibrosis, dan jumlah proliferasi duktus. Analisis statistik yang digunakan meliputi uji Fisher, Shapiro-Wilk, Kruskal Wallis, dan Mann Whitney menggunakan program SPSS. Hasil: Kelompok 2AAF/CCl4 dan CCl4 memiliki perbedaan derajat fibrosis yang signifikan dengan kontrol sehat (p=0,024 dan p=0,048 secara berurutan), tanpa perbedaan signifikan di antara kedua kelompok tersebut (p=0,286). Perbedaan cakupan area fibrosis antara kedua kelompok juga tidak signifikan (p=0,055), walau kelompok 2AAF/CCl4 dan CCl4 berbeda signifikan dengan kontrol sehat (p=0,007 dan p=0,008 secara berurutan). Dalam hal proliferasi duktular, kelompok CCl4 tidak menunjukkan perbedaan signifikan dengan kontrol sehat (p=0,101), namun berbeda signifikan dengan kelompok 2AAF/CCl4 (p=0,000). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan derajat dan cakupan area fibrosis yang signifikan antara kelompok 2AAF/CCl4 dan CCl4. Namun demikian, terjadi proliferasi duktular yang secara signifikan lebih tinggi pada kelompok 2AAF/CCl4 dibandingkan kelompok CCl4 saja.

Background: In 2017, approximately 1.8% of adult in United States suffer from chronic liver disease and cirrhosis. Although there is not any recent data, Riskesdas 2013 showed a high percentage of HBsAg, anti-HBs, and anti-HBc prevalence in Indonesia. On top of that, in Indonesia, in the course of 30 years (1980—2010), liver cirrhosis mortality rate increased by 25,1%. In order to study liver disease, having an appropriate animal model is crucial. Carbon tetrachloride (CCl4) has been used to induce liver fibrosis in mouse model. Although able to induce connective tissue deposition, hepatocellular regeneration, stellate cells proliferation, and inflammatory infiltration, CCl4-induced rat models only represent liver injury to some extent, similar to drug-induced liver injury. In order to mimic a more severe liver injury, this study combined the use of CCl4 with 2- acetylaminofluorene (2AAF), as 2AAF has proven to be able to suppress hepatocyte proliferation and allow oval cells proliferation that leads to ductular proliferation. Method: This research design is an observational research on an analytic experimental study with stored biological material taken from the Department of Anatomy Faculty of Medicine University of Indonesia. This research uses experimental primary data, with 15 samples categorized into three groups: healthy control, CCl4-induced, and 2AAF/CCl4- induced, and analysed for the degree of fibrosis, fibrosis-affected area, and number of proliferating ductules under the microscope. A statistical analysis is then conducted using Shapiro-Wilk, Kruskal Wallis, and Mann Whitney by using SPSS programme. Result: There is a significant difference in the degree of fibrosis between both 2AAF/CCl4 and CCl4 groups with the healthy control (p=0,024 dan p=0,048 respectively), without any significant difference in between the two groups (p=0,286). The affected fibrosis area difference between the two groups is also insignificant (p=0,055), though the 2AAF/ CCl4 and CCl4 groups are significantly different to the healthy control (p=0,007 and p=0,008 respectively). For ductular proliferation, CCl4 group did not show any significant difference compared to the healthy group (p=0,101), but was significantly different to the 2AAF/CCl4 group (p=0,000). Conclusion: There is not any significant difference regarding the degree of fibrosis and its affected area between the 2AAF/CCl4 and CCl4 groups. However, there is a significant difference between the two groups in terms of ductular proliferation, in which the 2AAF/CCl4 group’s ductular proliferation was higher."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti activitas antikanker ekstrak etanol 70% daging buah mahkota dewa(Plareria marcocurpa (Shelf.)Boert) dengan menggunakan tumor payudara mencit C3H yang diinduksi dengan cara tranplantasi."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Erni Rahmawati
"Tujuan penelitian ini adalah untuik meneliti aktivitas antikanker ekstrak etanol 70 % daging buah Mahkota dewa (Phateria macrocarpa fScheff.J Boerl.,) dengan menggunakan tumor payudara mencit C3H yang diinduksi dengan cara transplantasi. Tigapuluh dua mencit C3H dibagi secara acak menjadi 4 kelompok, yaitu 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok yang mendapat ekstrak etanol daging buah Mahkota dewa masing-masing 20, 40, dan 80 kali dosis manusia, diberikan secara oral melalui sonde lambung runtuk selama 30 hari, setelah transplantasi tumor. Berat mencit dan volume tumor diukur dua kali seminggu. Berat tumor ditimbang setelah hewan coba dimatikan (menggunakan eter), lain difiksasi dengan formaldehid untuk pembuatan preparat histopatologis. Aktivitas proliferaxi sel tumor dinilai dengan menghitung butir AgNOR setdah pewarnaan dengan perak ultrat koloidal. Apoptoxis dinilai dengan pewarnaan Tunel, dan luas daerah nekroxis dinilai dengan pewamaan hematoksilin eosin. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaaan bemakna dalam volume tumor, berat tumor, nilai AgNOR, dan luas daerah nekrosis antara kelompok kontrol dan ketiga kelompok yang mendapat ekstrak etanol daging buah Mahkota dewa (p>0.05), tetapi indeks apoptosis meningkat sccara bermakna pada kelompok D3 (ekstrak Mahkota dewa 80 kali dosis mannsia) (p<0,05). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa ekstrak etanol daging buah Mahkota dewa 20,40,dan 80 kali dosis manusia yang diberikan secara oral setelah transplantasi tumor untuk selama 30 hari, tidak menghambat pertumbuhan tumor payudara mencit C3H yang diinduksi dengan cara transplantasi, tetapi apoptosis meningkat pada kelompok yang mendapat ekstrak etanol daging buah Mahkota dewa 80 kali dosis manusia. (Med J Iiidones 2006; 15:217-22).

The objective of this study is to investigate the anticancer activity of 70 % ethanol extract of Mahkota dewa fruit pulp [Phaleria macrocarpa [Scheff.J Boerl.] using C3H mouse mammary tumor induced by transplantation. Thirty two C3H mice were derided into 4 groups i.e. control and 3 groups of mice treated with ethanol extract of Mahkota dewa fruit pulp with the dose of 20, 40, and 80 fold human dose respectively, given orally by gastric tube after tumor transplantation for 30 days. Body weight and minor volume measured twice a week. Tumor weight was measured after the animal was sacrificed, then fixed in formaldehyde for making histopathological preparation. The proliferation activity of tumor cells were examined by counting the AgNOR deposits detected after colloidal AgNOR staining. Apoptoxis was assessed by mean of Tune! staining, and the width of necrotic area was identified by hematoxylin eosin staining of the histological specimen. The results of the study showed that there were no statistical differences in tumor volumes, tumor weights, AGNOR values, and the necrotic area among control and the three treated groups (p>0,05), but apoptosis index significantly increased in the D3 f Mahkota dewa extract of eighty fold human dose) group (p<0,05). It was concluded that ethanol extract of Mahkota dewa fruit pulp at the dose of 20,40, and 80 fold human dose given orally after tumor transplantation for 30 days, did not inhibit the C3H mouse mammary tumor growth induced by transplantation, bin the increased apoptosis was found in the group receiving ethanol extract of Mahkota dewa fruit pulp at the dose of 80 fold human dose. (Med J Indones 2006; 15:217-22)."
[place of publication not identified]: Medical Journal of Indonesia, 2006
MJIN-15-4-OctDec2006-217
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>