Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2458 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Retrian Nugraha
"Thesis ini membahas perubahan sistem administrasi yang terjadi pada distributor Tupperware didalam membangun sistem yang terintegrasi antara Distributor dengan PT. Cahaya Prestasi Indonesia. Penelitian ini adalah gabungan dari penelitian eksploratori dan penelitian deskriptif. Hasil penelitian adalah bahwa perpindahan dari sistem DIMAS ke DIMAS2 telah mengurangi pekerjaan manual, tetapi didalam implementasinya perlu dilakukan pendekatan dan pelatihan kepada user agar tidak terjadi penolakan terhadap perubahan dan sistem baru perlu juga dilakukan pengembangan lebih lanjut untuk mengurangi kekurangan-kekurangannya.

The focus of this study is the changes made in administration system that happened at distributor of Tupperware in developing integrated system between distributors with PT. Cahaya Prestasi Indonesia. This research is aliance of research of exploratory and descriptive research. Result of research is the change of system DIMAS to DIMAS2 have lessened work of manual, but in its implementation require training and approach to the user in order avoid deduction to the new system and Dimas2 need further development to iessen its insuffiencys."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
T26502
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rio Christian
"Pembangunan ekonomi sebuah Negara pada dasarnya bertujuan untuk mencapai kemakmuran masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan distribusi pendapatan yang merata. Salah satu lembaga keuangan yang memegang peran sentral dalam mendukung pertumbuhan ekonomi adalah lembaga yang disebut bank. Bank memiliki fungsi intermediasi. Fungsi ini adalah upaya maksimal Bank untuk menyalurkan dana yang dikumpulkannya dari masyarakat guna menggerakkan sektor ekonomi riil.
Lembaga Bank dalam menjalankan fungsi intermediasi, tidak akan lepas dari apa yang disebut sistem perbankan. Sistem perbankan merupakan suatu sistem yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses melaksanakan kegiatan usahanya secara keseluruhan. Dalam menjalankan usahanya lembaga bank dapat menjadi bank gagal (failure bank). Kegagalan ini disebabkan disebabkan tata kelola usaha perbankan yang buruk, lemahnya aspek pengawasan serta adanya manipulasi (fraud) data baik keuangan maupun non keuangan. Kelahiran bank gagal ini dapat memberi dampak sistemik atau tidak berdampak sistemik pada sistem keuangan dan sistem ekonomi suatu Negara.
Untuk menangani Bank gagal dalam sistem perbankan, dibutuhkan suatu sistem hukum yang kuat. Menurut Lawrence M. Friedman terdapat tiga pilar yang sangat penting dalam sistem hukum yang harus bersinergi, yaitu struktur hukum (structure), substansi hukum (substance) dan kultur/budaya hukum (culture). Selain memperhatikan apakah sistem hukum dalam menyelesaian masalah suatu bank gagal dalam sistem perbankan, sepatutnya kita pun harus memperhatikan aspek-aspek yang berhubungan dengan ekonomi makro dan ekonomi mikro. Aspek tersebut adalah aspek institusi keuangan, aspek pasar keuangan, aspek sistem pembayaran, aspek sektor riil dan aspek psikologi pasar.

The main purpose of economic development in any country is surely to achieve and maintain societal prosperity through considerable economic growth and equitable income distribution. One particular financial institution holding a central role in supporting such economic growth is the institution referred as Bank. Banks hold the function of intermediation, to which refers to it's maximum effort and capacity to channel funds collected from a larger society to advance real economic sectors.
In conducting this intermediation function, Banks are integrated from what is called the banking system. Banking system is a system that concerns everything relating to banks, including institutional aspects, business activities, as well as the manner and process of conducting its business activities as a whole. In conducting its business banking institution may face the threat of bank failure. This failure is caused due to the lack of good governance of the banking sector, poor supervision and manipulation (fraud) of data both financial and non financial. Bank failures can result systemic or non systemic impact upon the financial system and economic system of a country.
To handle bank failures in the banking system, a strong and comprehensive legal system is imperative. According to Lawrence M. Friedman, there are three very important pillars in the legal system that must be synergistic, ie the legal structure, the substance of the law and legal culture. In addition to having a great consideration about the legal system in solving the problems of bank failures in the banking system, we should also pay close attention to the interrelated macroeconomic and microeconomic aspects that includes aspects of financial institution, financial markets, payment system, real sector and market psychology."
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2010
T27855
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Boston: Boyd & Fraser , 1991
658.403 2 SYS
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Memoria Dwi Prasita
"Pengiriman merupakan hal yang penting dalam industri. Pengiriman yang efisien dapat terwujud dengan adanya penjadwalan yang baik. Untuk menghasilkan penjadwalan yang baik, perlu adanya suatu perhitungan dengan melibatkan semua kendala yang ada. Kompleksitas yang tinggi inilah yang sering menjadi masalah perusahaan dalam melakukan penjadwalan. Selarna ini, unit usaha Industrial Special Product PT. BOC Gases Indonesia tidak pernah menggunakan metode perhitungan tertentu clalam menyusun jadwal dan rute pengiriman produk silindernya. Dengan tidak menentunya siapa yang memesan, berapa yang dipesan, dan kapan pesanan dilakukan, jadwal dan rute disusun per hari dan hanya berdasarkan pengalaman.
Permasalahan ini merupakan salah satu bentuk permasalahan dalam Vehicle Routing Problem (VRP) dimana terdapat satu depot dengan kendala kapasitas, waktu kelja, dan lokasi pelanggan yang tersebar secara geogratis. Untuk menyelesaikannya, digunakan metode Savings dengan teknik penyelesaian Preview-Solve-Review dan dibantu oleh modul ROUTER.
Penyelesaian dimulai dengan mengolah data penjadwalan dan pengiriman bulan Mei 2003 sehingga menghasilkan jadwal dan nite pengiriman yang lebih elisien dari keadaan awal. Parameter pengukuran efisiensi yang digunakan adalah jarak rata-rata untuk mengangkut satu unit silinder (Distance/Nominal Cylinder), tingkat penggunaan kapasitas (Capacity Utilization), jumlah rata-rata silinder yang diangkut per trip (Nominal Cylinder/Trip), jarak rata-rata tiap trip (Distance/Trip), dan biaya bahan bakar solar (Fuel Cost).

Distribution is an important matter in industry. An efhcient distribution can be done if it has a well-arranged schedule. Thus, it is necessary to use good calculation which considers any potential problems and which may be very complicated. Industrial Special Product, a business unit of PT BOC Gases Indonesia, has not used a certain calculation method in making schedules and routes of distributing its cylinder product There is no certainty in which customer does the order, the amount of the order, and when the order is placed. Therefore the schedules and routes are arranged daily and based only on experience.
This problem is an example of Vehicle Routing Problem (VRP) where there is a central depot with limited capacities, working hours and geographically dispersed customers. To overcome this problem, Savings method is chosen using Preview-Solve-Review solution technique and ROUTER module.
The solving steps starts with processing the scheduling and distribution data in May 2003 to produce more efncient schedule and route of distribution. Greater efficiency is shown by measuring the average distance used to transport one cylinder (Distance/Nominal Cylinder), Capacity Utilization, average number of cylinder transported in each trip (Nominal Cylinder/T rip), average distance in each trip (Distance/ trip), dan Fuel Cost.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
S50138
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Blanchard, Benjamin S.
New Jersey: Prentice-Hall, 1998
620.001 1 BLA s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
London : Pitman, 1988.
003 BAS
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Wattimena, Jeffrey A.
Jakarta: Elex Media Komputindo , 1991
005.71 JEF p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Kahrudin Yunus
Djakarta: Fikiran Baru, 1956
297.63 KAH s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Asep Mahfudz
"ABSTRAK
Dengan menyadari bahwa pembangunan pendidikan sebagai suatu proses yang berkesinambungan, maka sangat diperlukan upaya inovasi yanag terus menerus. Hal ini karena pada hakekatnya keberhasilan daripada pembangunan pendidikan tidak akan diperoleh dalam waktu singkat. Oleh karena itu di dalam pembangunan pendidikan perlu dilakukan evaluasi terhadap kebijaksanaan yang ditetapkan secara bertahap dan konsisten agar tetap sesuai dengan tujuan yang disepakati.
Disadari pula bahwa sampai sekarang masih banyak komentar dan kritik, baik positif maupun negatif terhadap keberhasilan pembangunan pendidikan selama PJP I, khususnya kritik berkenaan dengan peran pendidikan tinggi yang dikaitkan dengan dunia kerja dan pembangunan.
Berdasarkan kenyataan tersebut, pokok masalah penelitian ini di pusatkan untuk mencari sebab-sebab tiadanya kesejajaran/kesesuaian antara perumusan tujuan, sasaran pendidikan dengan pelaksanaannya. Dimana terjadinya distorsi tersebut? Apakah dalam interpretasi kebijaksanaan atau karena alasan praktis, sehingga terjadi penyesuaian-penyesuaian kebijaksanaan pendidikan yang ditetapkan pada pelaksanaannya?
Tetapi agar dapat lebih menajamkan permasalahan dan pembahasan, pada penelitian ini memfokuskan pada kebijaksanaan pendidikan jenjang pendidikan tinggi dengan melihat pada pembabakan pembangunan pendidikan tiap-tiap Repelita selama masa tahun 1969 - 1995, dengan kajian analisis meliputi aspek sasaran, tugas dan wewenang pendidikan tinggi ; sistem penyelenggaraan pendidikan tinggi ; dan aspek perencanaan pendidikan tinggi.
Pemilihan objek penelitian yang menekankan pada jenjang pendidikan tinggi dengan alasan pokok bahwa pada dasarnya pendidikan tinggi memiliki fungsi strategis, terutama dalam upaya pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia Indonesia yang diperlukan bagi pembangunan. Oleh karena itu, secara khusus masalah yang diteliti terungkap dalam pertanyaan penelitian ; (1) Bagaimana kontinuitas dan konsistensi sasaran pembangunan pendidikan jenjang pendidikan tinggi sebagai bagian dari kebijaksanaan pendidikan nasional masa tahun 1969 - 1995 ? dan (2) Bagaimana perspektif Ketahanan Nasional dalam melihat pelaksanaan kebijaksanaan pembangunan pendidikan jenjang pendidikan tinggi dalam lingkup pembangunan pendidikan nasional dan pembangunan nasional selama masa tahun 1969 - 1995 ?
Sehubungan dengan hal tersebut, data yang menjadi objek kajian analisis antara lain berupa dokumen dalam bentuk peraturan menteri, keputusan menteri, instruksi menteri, edaran menteri dan hasil-hasil Rapat Kerja Nasional dalam lingkup kebijaksanaan manajerial Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak tahun 1969 -1995. Sehingga dapat dikatakan bahwa penelitian ini termasuk ke dalam evaluasi kebijaksanaan dan mencoba mencari jawaban sejauh mana suatu kebijaksanaan pendidikan jenjang pendidikan tinggi pada tiap-tiap Repelita telah mencapai sasaran, peluang dan kendala apa yang mempengaruhi serta yang dipengaruhi kebijaksanaan pendidikan dimaksud.
Dengan memperhatikan hal ini, teknik penelitian yang digunakan adalah teknik analisis ini (content analysis) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
(1) Pengumpulan data, yang terdiri dari unitisasi, sampling dan pencatatan. Dan sejumlah dokumen yang terkumpul diklasifikasikan menjadi beberapa jenis dokumen, antara lain sejumlah peraturan menteri, keputusan menteri, instruksi menteri, edaran menteri dan hasil Rapat Kerja Nasional. Kemudian dari klasifikasi data tersebut diambil sampling mengenai kebijaksanaan pendidikan tinggi yang menyangkut arah sasaran, tugas dan wewenang pendidikan tinggi, penyelenggaraan pendidikan tinggi dan perencanaan pendidikan tinggi, (2) Reduksi data, yang dilakukan sepanjang penelitian berlangsung, (3) Penarikan inferensi, (4) Analisis, dengan menggunakan pendekatan Ketahanan Nasional meliputi aspek Geografi, Sumber Daya Alam, Demografi, Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan aspek Pertahanan Keamanan. Proses analisis ini dilakukan dalam tiga tahap "cross matrix" sebagai berikut : (a) tahap pertama, analisis perspektif Ketahanan Nasional terhadap kebijaksanaan pembangunan pendidikan tinggi pada Repelita I sampai Repelita V, (b) tahap kedua, analisis perspektif Ketahanan Nasional terhadap kebijaksanaan pembangunan pendidikan tinggi pada tiap Repelita dengan fokus masalah tentang sasaran, tugas dan wewenang pendidikan tinggi, penyelenggaraan pendidikan tinggi dan perencanaan pendidikan tinggi, (c) tahap ketiga, analisis perspektif pendidikan meliputi aspek kualitas, kuantitas, relevansi dan efektivitas/efisiensi terhadap kebijaksanaan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang ditetapkan.
Berdasarkan analisis dan interpretasi data yang dilakukan, maka diperoleh kesimpulan :
1. Program dan langkah kebijaksanaaan pembangunan pendidikan tinggi yang telah dilaksanakan selama masa 1969 - 1995, dapat dikategorikan tahap kebijaksanaan sebagai berikut :
a. Kebijaksanaan pembangunan pendidikan tinggi pada masa Pelita I (1969/70 - 1973/74) lebih banyak menekankan pada masalah sasaran, tugas dan wewenang pendidikan tinggi sebagai lembaga pendidikan yang mempersiapkan sumber daya manusia untuk dapat mengembangkan kepribadian individu yang terpelajar, memiliki intelektualitas sehingga pada gilirannya dapat berperan dengan mengamalkan pengetahuan yang dimiliki bagi lingkungannnya.
b. Kebijaksanaan pembangunan pendidikan tinggi pada masa Pelita II (1974/75 - 1978/79) lebih menekankan pada penataan bentuk pendidikan tinggi, terutama dalam penyelenggaraan kegiatan akademik dan organisasi pendidikan tinggi.
c. Kebijaksanaan pembangunan tinggi pada masa Pelita III (1979180 - 1983183) lebih banyak menekankan pada upaya konsolidasi kelembagaan pendidikan tinggi dalam rangka pemantapan sistem penyelenggaraan pendidikan tinggi.
d. Kebijaksanaan pembangunan pendidikan tinggi pada masa Pelita IV ( 1984/85 ? 1988/89) lebih banyak menekankan pada upaya pemantapan sistem penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan mendasarkan pada perencanaan pendidikan tinggi, yang meliputi faktor akademik, kelembagaan/administrasi, kemahasiswaan dan anggaran.
e. Kebijaksaanaan pembangunan pendidikan tinggi pada masa Pelita V (1989/90 ? 1993/94) lebih banyak menekankan pada pemantapan sistem pendidikan tinggi sebagai bagian tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional dan sistem pembangunan nasional secara keseluruhan.
2. Kebijaksanaan berupa penetapan sasaran program pada kebijaksanaan pendidikan tinggi selama masa tahun 1969 - 1995 telah secara kontinu dan bertahap dilaksanakan. Namun demikian, antara program yang ditetapkan dengan kebijaksanaan yang dilaksanakan dalam bentuk keputusan dan Instruksi Menteri kurang menunjukkan konsistensi dan berkelanjutan. Lebih banyak kebijaksanaan yang dilaksanakan merupakan langkah-langkah yang bersifat reaktif terhadap permasalahan dan peristiwa yang terjadi pada waktu yang bersangkutan.
3. Pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan jenjang pendidikan tinggi selama masa tahun 1969 - 1995 dalam bentuk keputusan dan instruksi menteri terlihat kurang berinterrelasi ataupun interdependensi dengan jenis dan jenjang pendidikan lainnya sebagai satu sistem pendidikan nasional. Pendidikan tinggi lebih banyak diorientasikan sebagai sistem tersendiri dan senantiasa dikaitkan dengan sistem pembangunan nasional.
4. Dalam perspektif Ketahanan Nasional, melalui pendekatan Astagatra di dalam kebijaksanaan pendidikan jenjang pendidikan tinggi yang ditetapkan menunjukkan adanya hubungan dan kaitan pengaruh baik sebagai pertimbangan kebijaksanaan maupun sebagai faktor yang dipengaruhi oleh kebijaksanaan dimaksud.
5. Kabijaksanaan pendidikan jenjang pendidikan tinggi dalam konteks kebijaksanaan pembangunan nasional menunjukkan fungsi dan peran strategis, terutama dalam pemenuhan dan penetapan tenaga-tenaga pelaksana pembangunan. Adanya tiga fungsi pendidikan tinggi yang disebut Tridharma perguruan tinggi, yakni : pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat merupakan bukti eratnya kaitan pendidikan tinggi dengan pembangunan nasional.
6. Dilihat dari tahap pembangunan (Pembangunan Lima Tahunan) dari tahun 1969 - 1995, menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan jenjang pendidikan tinggi pada tiap-tiap Pelita telah memenuhi sasaran yang ditetapkan. Namun kebijaksanaan yang dilaksanakan berupa keputusan maupun instruksi menteri kurang bersifat mendasar konsepsional dan berjangka panjang, lebih banyak kebijaksanaan yang ditetapkan bersifat teknis operasional dan berjangka pendek sebatas masa pembangunan lima tahunan. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor antara lain : tuntutan keputusan pembangunan yang mendesak untuk diselesaikan, intensitas keterlibatan para pemikir pendidikan masih kurang dalam perencanaan pembangunan nasional, "style" pejabat menteri, dan pembangunan pendidikan belum menjadi prioritas utama pada masa PJP I.
Selanjutnya berdasarkan pelaksanaan, pembahasan dan hasil penelitian terhadap sasaran dan pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan jenjang pendidikan tinggi masa tahun 1969 - 1995, maka perlu dikemukakan beberapa hal yang yang kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan di dalam penetapan kebijaksanaan pendidikan tinggi pada masa depan. Dalam kaitan ini yang dimaksud adalah kebijaksanaan pendidikan tinggi sebagai bagian tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional dan pembangunan nasional.
1. Agar sasaran, tugas dan wewenang pendidikan tinggi dapat sesuai dan sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka hendaknya kebijaksanaan yang ditetapkan dalam bentuk keputusan menteri dan kebijaksanaan dibawahnya perlu mendasarkan pada pertimbangan sifat prinsipal konsepsional. Langkah ini perlu dijadikan bahan pertimbangan agar sistem penyelenggaraan pendidikan tinggi yang cukup mapan sekarang ini tidak mudah goyah, dalam arti tidak mudah terpengaruh oleh gejolak situasional dan kondisional temporer.
2. Diharapkan kebijaksanaan pendidikan tinggi untuk masa lima tahun atau sepuluh tahun kedepan, tetap konsisten mengacu pada UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP Nomor 30 Tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi dalam Kerangka Pemantapan Sistem Pendidikan Tinggi. Sehubungan dengan hendaknya semakin menjadi penting setiap kebijaksanaan berkenaan dengan pendidikan tinggi dalam bentuk keputusan menteri dan kebijaksanaan dibawahnya lebih memperhatikan aspek kualitas perencanaan pendidikan tinggi yang meliputi akademik, kelembagaan/administrasi, kemahasiswaan dan kualitas pendayagunaan anggaran.
3. Dalam kaitan mengenai fungsi penyelenggaraan pendidikan tinggi, yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, hendaknya menjadi dasar orientasi di dalam penetapan setiap kebijaksanaan menteri dan kebijaksanaan dibawahnya secara tidak terpisah-pisah, Terutama apabila dikaitkan dengan kondisi dinamis masyarakat yang terus berkembang, pendidikan tinggi memiliki peran strategis. Alangkah lebih baik ketiga fungsi tersebut disinergikan dengan potensi Astagatra menjadi landasan operasional kebijaksanaan pendidikan tinggi."
1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dadang Sunendar
"Kita mungkin tidak dapat memberikan suatu batasan yang memuaskan tentang roman, namun roman merupakan suatu sumbangan yang dapat menunjukkan suatu bentuk sejarah (Goldenstein, 1988 4). Banyak batasan-batasan mengenai roman yang diajukan oleh beberapa ahli, salah satunya adalah yang dikemukakan Michel Raimond dalam Le Roman :
"Le roman est une histoire feinte, ecrite en prose, ou l'auteur cherche a exiter l'interet par la peinture des passions, des moeurs, ou par la singularite des aventures" (Raimond, 1989 : 20).
(Roman adalah sebuah kisah fiktif yang ditulis dalam bentuk prosa. Seorang pengarang berupaya untuk membangkitkan minat melalui gambaran-gambaran yang mengasyikkan, adat kebiasaan, atau melalui keunikan petualangan--petualangan).
Roman berkembang dengan pesat pada abad XIX. Perkembangan ini tidak dicapai dengan mudah. Pada awalnya roman hanya merupakan salah satu bentuk karya sastra di samping puisi dan drama. Sejak abad XVII1 kemunculannya diikuti oleh menjamurnya bentuk-bentuk beragam yang tidak terikat pada kaidah yang tetap dan ketat seperti pada puisi dan drama pada masa itu. Pada perkembangannya, bermunculan jenis-jenis roman yang oleh Paul Robert dikiasifikasikan menjadi roman sejarah (roman historique), roman cinta (roman d'amour), roman tentang adat kebiasaan (roman de moeurs), roman eksotis (roman exotique), roman otobiografis (roman. autobiographique), roman hitam (roman noir) (Robert, 1987 . 1223).
Pada paruh abad XVIII Madame de Stael menyatakan bahwa perkembangan roman waktu itu menyedihkan karena temanya hanya tentang cinta dan keiahatan_ Ia menyebutkan bahwa roman harus lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, hal ini baru terwujud pada abad XIX melalui karya Stendhal.
Henri Beyle lahir pada tanggal 23 Januari 1783. Pada usia 7 tahun ibunya meninggal. Hal ini menandai masa kecilnya yang tidak menyenangkan karena ia harus hidup dengan ayahnya yang tidak ia senangi. Ia masuk sekolah menengah di Grenoble. Atas saran sepupunya, Daru, ia memasuki kehidupan militer, dan ia ditempatkan di Milan, Italia. la pernah keluar dari militer, namun kembali pada tahun 1810 dan diangkat menjadi penasihat negara.
Pada saat tinggal di Italia ia menghasilkan beberapa kritik sastra seperti Vie de Haydn (1814), Vie de Mozart (1814), Vie de Metastase (1814), Vie de Napoleon (1816). Tahun 1817 ia membuat esei Histoire de to Peinture en Italie. Rome, Naples, et Florence, dan untuk pertama kalinya ia memakai nama samaran Stendhal.
Pada tahun 1821 ia kembali ke Paris karena dicurigai polisi Austria. Ia menjalin hubungan asmara dengan Clementine Curial yang memberinya inspirasi untuk membuat esei de rumour ( 1822) dan vie de Rossini {1823), namun terutama hal itu melahirkan sosok Mathilde dalam Le Rouge Et Le Noir 11830). Ia pun membuat analisis tentang romantisme, seperti Racine et Shakespeare (1825).
Akhirnya pada tahun 1827 ia menghasilkan roman pertamanya Armance. Dua tahun kemudian ia menuliskan sebuah pengalaman di Roma dalam Promenades dans Rome {1829). Le Rouge Et Le Noir (1830) merupakan roman kedua Stendhal.
Berkat pergantian sistem pemerintahan waktu itu, ia ditunjuk menjadi Konsul Perancis di Trieste, kemudian di Civita-Vecchia (1830-1835). Pada rasa jabatannya tersebut is menulis dua roman yang tidak diselesaikannya, yaitu Lucien Leuwen dan Lamiel. Pada tahun yang sama ia membuat sebuah roman La vie de Henri Br-Ward. Roman lain yang dibuatnya adalah Souvenirs d'Egotisme (1832). Ia pergi ke Inggris dan menghasilkan Memoires d?un touriste ( 1838) dan pada tahun..."
Depok: Universitas Indonesia, 1994
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>