Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kartika Sari Dewi
"Memasuki masa usia lanjut menimbulkan stresor tersendiri bagi individu. Penyesuaian yang terus-merems harus dilakukan agar mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Akan tetapi, penurunan kondisi fisik secara degeneratif sering disalahartikan oleh masyarakat sebagai penurunan kesehatan mental dan kualitas hidup. Lansia juga harus menghadapi kenyataan kurangnya fasilitas umum maupun pelayanan kesehatan yang memadai. Hal ini membuat lansia semakin sulit mempertahankan kesehatan mental, sehingga tidak jarang muncul kasus depresi Lima belas dari Seratus orang lansia mengalami depresi klinis, yang kebanyakan penderitanya adalah lansia yang menderita sakit fisik. Selain itu, kebanyakan lansia yang mengalami depresi adalah mereka yang merasa teerisolasi secara sosial atau kehilangan malcna perannya di masyarakat dan merasa kekurangan dukungan emosional dari lingkungan terdekatnya, terutama keluarga. Padahal tidak Sedikit dari mereka yang berada pada sistem jaringan dukungan sosial yang kuat. Selain itu, diketahui bahwa sebagian besar lansia yang mengalami depresi akan berusaha menyangkal kondisi depresinya agar tidak tampak Iemah atau aneh. Tidak sedikit Iansia juga sulit mengungkapkan kondisi depresi yang dialaminya karena kurang memahami sistem-sistem depresi yang diungkap dalam alat ukur depresi standar, seperti BDI. Menglngat depresi bukanlah suatu kondisi wajar yang harus dialami lansia dan semakin pesatnya pertambahan jumlah lansia dewasa ini, peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penerimaan dukungan sosial dan intensitas sakit terhadap tingkat depresi yang dialami lansia yang menderita sakit. Dalam penelitian ini juga dikembangkan Skala Peneeirimaan Dukungan Sosial pada Lansia yang Menderita. Sakit (PDS), yang diharapkan mampu mengetahui sejauhmana penerimaan dukungan sosial pada lansia yang menderita sakit dan sejauhmana PDS mampu memprediksikan lansia tersebut masuk dalam kelompok yang mengalami depresi atau tidak. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif dengan 36 subjek, yang memiliki karakteristik berusia 60 tahun ke atas, tidak tinggal di panti werdha, memiliki riwayat penyakit akut atau kronis, dapat membaca dan menulis Bahasa Indonesia, dan berdomisili di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua skala, yaitu Skala Penerimaan Dukungan Sosial pada Lansia yang Menderita Sakit (PDS), yang disusun peneliti dan Beck Depression Invenlory (BDI), yang telah terstandansasi untuk mengetahui profi1 depresi subjek penelitian. Hipotesis penelitian ini adalah ada pengaruh penerimaan dukungan sosial dan intensitas Sakit terhadap tingkat profil BDI pada Lansia yang menderita sakit. Data penelitian tersebut akan dianalisis dengan bantuan SPSS for Windows versi 11.0. Untuk menguji hipotcsis digunakan analisis regresi berganda dan analisis dikriminan., sedangkan untuk analisis tambahan digunakan analisis desknptif dengan menghitung distribusi frekuensi data. Hasil penelitian ini menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,819 dengan t hitung = 8,041 dan sig.= 0,000 untuk prediktor Penerimaan Dukungan Sosial pada Lansia yang Menderita Sakit, serta koeiisien korelasi sebesar 0,344 dengan t hitung = 1,866 (t tabel = 2,0322). Adapun R square = 0,702. Hasil tcrscbut mcnunjukkan bahwa ada pengamh negatif yang sangat signiiikan pada Penerimaan Dukungan Sosial pada Lansia yang Menderita Sakit terhadap Profil BDI subjek. Selain itu, ada pengaruh yang tidal-c signitikan pada Intesitas Sakit terhadap Profil BDI subjek. Akan tetapi, keduanya memiliki sumbangan sebesar ‘70,2% dalam memprediksi profil BDI Subjek. Dengan menggunakan analisis diskriminan, diketahui bahwa Skala PDS dapat memprediksi perbedaan antara kelompok subjek penelitian yang tidak mengalami depresi dengan kelompok yang mengalami depresi. Akan tetapi, fungsi diskriminan tersebut dapat memprediksi perbedaan dengan baik apabila mempertimbangkan intensitas sakit yang dialami subjek. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah bahwa ada pengaruh penerimaaan dukungan sosial dan intensitas sakit terhadap profil BDI pada Lansia yang menderita sakit. Selain itu, diungkapkan bahwa Skala PDS dapat memprediksi perbedaan antara kelompok subjek penelitian yang tidak mengalami depresi dengan kelompok yang mengalami depresi. Akan telapi, fungsi diskriminan tersebut dapat memprediksi perbedaan dengan baik apabila mempertimbangkan intensitas sakit yang dialami subjek. Bagi pencliti berikutnya, disarankan untuk melakukan penelitian serupa dengan pendekatan kualitatif sehingga diharapkan akan lebih tergali mengenai keterlibatan pasangan atau keluarga, mengingat lingkungan sosial disekitarnya sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia Selain itu, diharapkan pula terungkap perubahan peran gender pada lansia laki-Iaki dan perempuan serta pengaruh budaya yang melatarbelakangi kehidupan lansia tersebut. Peneliti berikutnya juga diharapkan mempertimbangkan kembali faktor-faktor lain, seperti faktor kepribadian dan faktor biologis pada Iansia dalam penelitian selanjutnya."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2003
T38782
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tia Nastiti Purwitasari
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1997
S2601
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Desy Chrisnatalia
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2003
S3279
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuniasih Restu Putri
"Sekitar 62% terdapat stresor di tempat kerja. Individu yang kurang memiliki kemampuan koping sering mengalami distres. Belum ada instrumen khusus yang dapat menilai stresor kerja dan persepsi stres terhadap stresor di tempat kerja di Indonesia. Uji validitas dan reliabilitas Work Stress Questionnaire (WSQ) versi bahasa Indonesia bertujuan menilai efektivitasnya dalam mengukur stresor dan persepsi stres di tempat kerja yang dapat digunakan oleh tenaga profesional medis untuk individu maupun komunitas pekerja. Metode International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) yang digunakan untuk adaptasi linguistik transcultural, uji validitas internal dengan nilai item total korelasi, uji validitas kriteria yang membandingkan WSQ dengan kuesioner lainnya, uji reliabilitas menggunakan cronbach alpha. Lima dari enam dimensi terbukti valid dan reliabel, kecuali beberapa item dalam dimensi konflik – konflik dan organisasi tidak jelas menujukkan hasil tidak valid dan tidak reliabel. Namun, dimensi ini memberikan hasil yang valid dan reliabel pada responden dengan tingkat pendidikan S1. Hasil dari lima dimensi lainnya didapatkan nilai koefisien item total skor korelasi 0.272 – 0.822 dan cronbach alpha 0.596 – 0.906. Analisis validitas kriteria tidak ada korelasi yang bermakna antara WSQ dengan kuesioner tervalidasi lainnya. WSQ versi Indonesia memerlukan penyesuaian dan penelitian lebih lanjut agar sesuai digunakan oleh pekerja dengan pendidikan di bawah S1.

Around 62% of stressor comes from workplace. Person who lacks coping abilities, leading to distress. Currently, there is no instrument in Indonesia to assess workplace stressors and stress perception. The validity and reliability study of the Work Stress Questionnaire (WSQ) Indonesian version aims to assess its effectiveness in measuring work-related stressors and stress perception that can be used by medical professional for both individual and community of workers. The International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) method was use for transcultural linguistic adaptation. Internal validity was confirmed with item-total correlations, criteria validity was assessed against established questionnaires and reliability measured by Cronbach alpha. Five out of six dimensions in the WSQ were valid and reliable, except for certain items in indistinct organization and conflicts dimension which show invalid and unreliable. However, this dimension has valid and reliable results in respondents with a bachelor degree. Item total correlations of other dimensions ranged from 0.272 to 0.822 and Cronbach alpha ranged from 0.596 to 0.906. Criterion validity analysis showed no significant correlation between WSQ compared to other questionnaires. The Indonesian WSQ needs adjustments and future research to be suitable for workers with an education level below a bachelor's degree."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Dian Anggraeni
"Pendahuluan: Guru merupakan ujung tombak dalam proses pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa yang memiliki tanggung jawab besar dan banyak menghadapi tantangan dan tidak jarang mengakibatkan stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stresor dan strategi koping dengan stres kerja yang terjadi pada guru SMP Negeri di Jakarta Timur. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dengan teknik proportional random sampling dan mendapatkan sampel berjumlah 213 sampel dari 13 SMP Negeri di Kecamatan Cipayung Jakarta Timur. Penelitian menggunakan 3 kuesioner yaitu kuesioner stresor, kuesioner Brief Cope inventory dan Perceived Stress Scale-10 (PSS10). Hasil: Mayoritas guru mengalami stres kerja ringan (72,3%) dan sisanya stres kerja sedang (27,7%). Stresor yang paling banyak dirasakan oleh guru adalah stresor psikologis (30%). Strategi koping yang paling dominan digunakan oleh guru dalam menghadapi stres adalah dengan Problem Focused Coping (79%). Berdasarkan analisis Kendall Taub didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara stresor psikologis (p-value <0,001 < 0,05), stresor sosial-budaya (p-value 0,007 < 0,05), Problem Focused Coping (p value = 0,001 < 0,05), Emotional Focused Coping (p value = 0,008 < 0,05) dan Less Useful Coping (p value = 0,001 < 0,05), usia (p value = 0,022 < 0,05), masa kerja (p value = 0,047 < 0,05), status kepegawaian (p value = 0,019 < 0,05), dengan stres kerja guru. Saran: Penelitian ini diharapkan dapat membangun kesadaran guru akan mengenai stres kerja yang mungkin dihadapi dan mengoptimalkan peran sekolah maupun institusi pendidikan dalamhal menjaga kesehatan mental guru.

Introduction: Teachers are the spearhead in the educational process to educate the children who have great responsibilities and face many challenges and this often results in stress. This research aims to determine the relationship between stressors and coping strategies and work stress that occurs in State Middle School teachers in East Jakarta. Method: This research is a quantitative study with a cross-sectional approach using proportional random sampling technique and obtained a sample of 213 samples from 13 State Middle Schools in Cipayung District, East Jakarta. The research used 3 questionnaires, namely the stressor questionnaire, the Brief Cope inventory questionnaire and the Perceived Stress Scale-10 (PSS-10). Results: The majority of teachers experienced mild work stress (72.3%) and the remainder had moderate work stress (27.7%). The stressors most often felt by teachers are psychological stressors (30%). The most dominant coping strategy used by teachers in dealing with stress is Problem Focused Coping (79 Based on Kendall Tau-b analysis, it was found that there was a significant relationship between psychological stressors (p-value < 0.001 < 0.05), socio-cultural stressors (p-value 0.007 < 0.05), Problem Focused Coping (p value = 0.001 < 0.05), Emotional Focused Coping (p value = 0.008 < 0.05) and Less Useful Coping (p value = 0.001 < 0.05), age (p value = 0.022 < 0.05), length of service (p value = 0.047 < 0.05), employment status (p value = 0.019 < 0.05), with teacher work stress. Suggestion: This research is expected to raise teachers' awareness of the work stress they may face and optimize the role of schools and educational institutions in maintaining teachers' mental health."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Hipertensi dapat terjadi pada semua orang termasuk para karyawan."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Doloksaribu, Tiurlan Mariasima
"Tujuan penelitian mengeksplorasi stresor anak penderita Leukemia Limfoblastik Akut (LLA), respon terhadap stresor dan koping yang diadopsi selama terapi. Wawancara terhadap 7 anak penderita LLA yang menjalani terapi pada salah satu rumah sakit di Jakarta, 7 orang tua anak dan 3 orang guru walikelasnya. Penelitian kualitatif grounded theory dengan metode wawancara pengumpulan data dan analisis constant comparative method. Stresor utama yaitu prosedur tindakan dan hospitalisasi, menimbulkan sensasi sakit yang tidak tertahankan dan perasaan takut yang luar biasa. Kelemahan fisik merupakan masalah terbesar anak. Penelitian ini menambah komponen baru yaitu stresor kontinual yang terdiri dari tugas perkembangan dan pola asuh pada anak dengan LLA. Penelitian tidak menemukan tahapan tawar-menawar di tahap berduka pada anak. Tenaga kesehatan perlu meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan perawatan atraumatik dalam menurunkan stres.

The search aimed to explore the stressors of children with Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL), the response to stressors and coping adopted during therapy. Seven childrens with ALL who underwent therapy at the Jakarta, seven parents and three class teachers. Qualitative research grounded theory method using indepth interviews to comparative analysis data. Main stressors such as clinical procedures and hospitalization, causing the sensation of pain is unbearable and the feeling of incredible fear. This research adds continual as a new stressor that consist or children development task and parenting pattern, in children with ALL. Physical weakness is the biggest problem for the children. Research couldn't find the bargaining stage in grieving process in children. It's important to empower health providers with knowledge, skill dan attitude in traumatic care."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Rosyadi Aziz Rahmat
"ABSTRAK
Latar Belakang
Lingkungan pendidikan di fakultas kedokteran dapat menjadi beban psikis bagi
mahasiswa karena penuh dengan stresor. Besarnya pengaruh stresor tersebut
dibuktikan dengan tingginya angka kejadian distres pada mahasiswa fakultas
kedokteran di seluruh dunia, sehingga diperlukan upaya untuk mengidentifikasi
sumbernya.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan mengembangkan alat ukur untuk mengidentifikasi stresor
bagi mahasiswa pendidikan dokter tahap akademik.
Metode
Penelitian ini menggunakan teknik mixed methods (kualitatif dan kuantitatif),
studi Delphi untuk mengidentifikasi stresor dan desain potong lintang untuk uji
instrumen. Penelitian dilaksanakan pada mahasiswa tahap akademik Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU) dengan populasi 995
orang. Sebanyak 58 mahasiswa dipilih secara stratified simple random sampling
untuk studi Delphi dan total sampling.untuk uji instrumen. Analisis menggunakan
program SPSS versi 17, uji reliabilitas dengan alpha Cronbach dan analisis faktor
dengan rotasi Oblimin.
Hasil
Di antara 90 stresor pada studi Delphi terseleksi 40 yang lolos uji instrumen.
Stresor dikelompokkan menjadi stresor akademis (18 butir), stresor personal (11
butir), stresor lingkungan belajar (6 butir), dan stresor lingkungan sosial (5 butir).
Instrumen Kuesioner Stresor Mahasiswa Pendidikan Dokter Tahap Akademik
(KSMPD-Akademik) yang dihasilkan memiliki nilai alpha Cronbach 0,911.
Masalah fasilitas pendidikan dan masalah akademis merupakan stresor yang
paling banyak dihadapi mahasiswa dan memiliki pengaruh paling besar.
Diskusi
Pada analisis faktor terdapat 43 butir yang memiliki nilai di bawah 0,3 pada
matriks Communalities. Sebanyak 7 butir lainnya memiliki korelasi yang rendah
terhadap seluruh butir karena nilai korelasi item-total di bawah 0,3 pada matriks
Item-Total Statistics. Butir yang terseleksi merupakan butir yang dapat mewakili
stresor bagi mahasiswa tahap akademik FK UISU. KSMPD-Akademik memiliki
reliabilitas yang baik. KSMPD-Akademik dikembangkan pada populasi
terjangkau, sehingga ada kemungkinan fakultas kedokteran lain memiliki stresor
yang berbeda. Mahasiswa FK UISU berpendapat bahwa pada pelaksanaan proses pembelajaran mahasiswa memerlukan fasilitas ruangan kelas dan laboratorium
yang lebih memadai.
Simpulan
KSMPD-Akademik mengukur tingkat kekerapan (frekuensi) dan tingkat pengaruh
stresor yang dihadapi mahasiswa pendidikan dokter tahap akademik. Instrumen
ini dapat dikembangkan dengan menggali stresor lain di institusi yang berbeda.

ABSTRACT
Background
Educational environment in medical school is very stressful that can cause
psychological problems. Many researches identified high incidence of distress
among medical students around the world. Early identification is necessary,
advisably since undergraduate (academic) medical course to prepare students
facing the clinical situation (workplace) with higher level of stress.
Purpose
To develop instrument to identify stressors for academic medical students.
Methods
A mixed methods study (qualitative and quantitative) using Delphi technique to
identify stressors and cross-sectional design to develop the instrument has been
conducted among 995 academic medical students in Faculty of Medicine, Islamic
University of Sumatera Utara (FM IUSU). Sample of 58 on Delphi study were
chosen by stratified simple random sampling and a total sampling methods on
instrument development. Data were analyzed using SPSS version 17 by reliability
test with Cronbach’s alpha and factor analysis with Oblimin rotation.
Result
About 40 of 90 items obtained from Delphi study fulfill the criteria as stressor
instrument and named as Stressor Questioner for Academic Medical Student
(Kuesioner Stresor Mahasiswa Pendidikan Dokter Tahap Akademik (KSMPDAkademik)).
They are grouped into academic stressors (18 items), personal
stressors (11 items), learning environment stressors (6 items), and social
environment stressors (5 items). KSMPD-Akademik reached 0.911 of Cronbach
alpha. Stressors encountered by the respondents mostly associated with
educational facilities and academic problems. These stressors are well
established as stressor that has the most impact.
Discussion
There were 43 inadequate items removed by factor analysis because the value
found was below 0.3 on Communalities matrix. Seven items were further removed
because the value found was below 0.3 of item-total correlation on Item-Total
Statistics. The items selected by factor analysis and reliability test could represent
the stressors faced by the academic medical student in FM IUSU. KSMPDAkademik
has good reliability. KSMPD-Akademik was developed from FM IUSU
population, with the possibility of having other stressor if applied to other medical school. Students in FM IUSU require more adequate classroom and laboratory
facilities in implementing the learning process.
Conclusion
KSMPD-Akademik could measure the frequency and the degree of influence
(impact) of potential stressors experienced by the academic medical students. This
instrument could be further developed by exploring other stressors in different
institutions."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T58554
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ina Rusliany
"Pendahuluan: Mahasiswa yang baru pertama kali memulai pendidikan di bangku perkuliahan seringkali mendapatkan stresor yang menyebabkan stres sehingga memerlukan strategi koping dan dukungan sosial berupa pola asuh dari orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan strategi koping dan stresor terhadap stres pada mahasiswa baru di fakultas ilmu keperawatan.
Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional melibatkan 100 mahasiswa baru dengan teknik total sampling.
Hasil: Mahasiswa baru sebagian besar menggunakan strategi koping emotional focused coping sebanyak 42,90 , pola asuh orang tua sebagian besar adalah authoritative 69, stresor yang dialami sebagian besar adalah stresor sosial 16,67, mahasiswa baru sebagian besar mengalami stress sedang 87 . Strategi koping, emotional focused coping dengan stress memiliki hubungan yang bermakna. Sedangkan Pola asuh orang tua dan stresor tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan stress.
Rekomendasi: Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk program bimbingan dan konseling bagi baik tingkat fakultas atau universitas dalam rangka skrining kesehatan fisik maupun mental, khususnya kondisi stres yang mungkin dialami oleh mahasiswa dalam menghadapi tahun pertama perkuliahan.

Introduction: Students who are just starting their education on the bench often get stressors that require coping strategies and social support in the form of parental care. This study aims to determine the relationship of coping strategies and stressors to stress in new students in the faculty of nursing science.
Methods: The design of this study was descriptive correlational with cross sectional approach involving 100 new students with total sampling technique.
Result: New students mostly use coping strategy emotional focused coping as much as 42,90, parenting pattern mostly authoritative 69, most of the stressors are social stressors 16,67, new student Most had moderate stress 87. Coping strategies, emotional focused coping with stress has a meaningful relationship. While Parenting parenting and stress does not have a meaningful relationship with stress.
Recommendation: This research is expected to be useful for guidance and counseling programs for both faculty and university levels in the context of physical and mental health screening, especially stress conditions that may be experienced by students in the first year of study.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2017
S67489
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>