Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sinung Nugroho
"Kondisi arus lalu lintas di Jakarta menunjukkan kecenderungan naik, hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah lokasi maupun luasnya kemacetan yang terjadi terutama pada kondisi peak hour pagi, siang maupun sore hari. Kemacetan yang terjadi ternyata tidak dapat diatasi dengan peningkatan supply dan bahkan peningkatan supply merangsang tumbuhnya keinginan untuk melakukan perjalanan. Terjadinya kemacetan lalu lintas akan menimbulkan inefisiensi ekonomi, kerusakan lingkungan dan dampak psikologis karena penambahan satu kendaraan ke dalam arus lalu lintas yang sudah padat akan meningkatkan biaya sosial yang menjadi beban semua kendaraan di dalam arus. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan upaya untuk mengatur dan mengelola demand sedemikian rupa sehingga keuntungan ekonomi secara total keseluruhan jaringan dapat dimaksimalkan.
Tujuan penelitian ini adalah menghitung besarnya biaya kemacetan dengan metode point pricing, metode trip-end pricing dan zona pricing serta menghitung besarnya manfaat dan kerugian yang diterima pengguna mobil pribadi dari sudut pandang efisiensi ekonomi. Perhitungan manfaat dan kerugian berdasarkan perbandingan antara dengan dan tanpa (with and without) biaya kemacetan dad hasil simulasi pembebanan jaringan, dengan bantuan perangkat lunak EMME12 (Equilibre Multimodal, Multimodal Equilibrium).
Dari hasil simulasi dan analsis diperoleh hasil bahwa dengan metode point pricing besarnya biaya kemacetan Rp. 5.000,00 dengan manfaat bersih di koridor Sudirman - Thamrin dan Gatot Subroto sebesar Rp. 18.527.598,43 per jam, dan total manfaat bersih untuk total jaringan Jakarta dan sekitarnya sebesar Rp. 110.192.597,42 dengan metode trip-end pricing biaya kemacetan sebesar Rp. 5.000,00 dengan manfaat bersih sebesar Rp.212.192.167,37 per jam dan dengan metode zona pricing besar biaya kemacetan di zona 1 adalah sebesar Rp. 2.000,00 sedangkan di zona 2 sebesar Rp. 3.000,00."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2000
T5204
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Banduningsih Rahayu
"Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persebaran pusat kota di DKI Jakarta berdasarkan tiga sudut pandang, yaitu empiris, keilmuan, dan kebijakan publik. Selain menggunakan metode overlay peta, penelitian ini juga menggunakan menggunakan Teknik Delphi terutama untuk mengumpulkan pendapat ahli planologi, arsitektur, dan sosiologi mengenai kriteria dan lokasi pusat kota di DKI Jakarta. Sementara itu, sudut pandang empiris dilandasi oleh teori kota inti berganda, sedangkan sudut pandang kebijakan publik ditinjau berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta Tahun 2010. Semua data yang diperoleh kemudian disintesiskan sehingga menghasilkan pandangan utuh mengenai pusat kota.
Hasil penelitian ini memperlihatkan ada 14 lokasi pusat kota yang terbagi menjadi : 6 lokasi pusat perkantoran yang tersebar baik di bagian tengah maupun di sisi barat dan timur kota; 6 lokasi pusat perdagangan dan komersil yang tersebar memanjang dari utara hingga ke tengah kota; 4 lokasi pusat industri yang tersebar di bagian barat dan timur kota; dan 2 lokasi pusat hiburan dan jasa yang tersebar di bagian tengah kota. Pusat kota yang sesungguhnya di DKI Jakarta adalah di kawasan Sudirman - Thamrin.

This study aims the distribution center city in DKI Jakarta. Jakarta City Center examined using the method Technuique Delphy (Delphi technique) to assess the arguments of experts urban design, architecture, and sociology through the interview process. The results of these interviews will be obtained based on the views of the city center of scientific fields. Empirical point of view obtained through the theory of multiple core city sedangakn public policy point of view seen by Spatial Plan of DKI Jakarta in 2010. Data obtained in the form of each view of city center synthesized or combined to produce acomplete view of city center.
The results obtained there are 14 city center locations which are divided into several functions of 6 as a central office locations spread across the central part of town, west side, and east of the city; 6 locations as trade and commercial center of the scattered extends from north to city center; 4 locations as scattered industrial centers in western and eastern cities, and 2 locations as a center of entertainment and services that are scattered in the middle of town.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S42404
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Amira Paramitha
"Dalam memprosese sebuah Urban Space, indera penglihatan kita mempunyai peran yang penting. Indera ini merupakan indera yang akan menangkap informasi visual dari objek yang membentuk sebuah pengalaman visual. Pengalaman visual yang tercipta merupakan interelasi dari informasi yang diberikan oleh objek visual, darimana dan bagaimana sebuah objek dialami dan persepsi manusia. Sudut pandang yang terbentuk dari bagaimana sebuah objek dialami akan penting, karena sebuah objek dapat menciptakan pengalaman visual yang berbeda pada saat dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan pengalaman visual berdasarkan 3 sudut pandang di koridor Sudirman - Thamrin, yaitu sudut pandang pedestrian, sudut pandang pengguna kendaraan bermotor dan sudut pandang pengguna Car Free Day.

In processing an urban space, the role of the sense of sight is important. This will be the sense that captures visual information provided by objects to form a visual experience. The visual experience created will be an interrelation of information provided by the objects, where and how the objects are being experience, and human perception. The viewpoint formed by how the objects are being experience becomes important because the same object can create a different visual experience seen from a different viewpoint. Here I will describe about the differences in visual experience by the 3 viewpoints in Sudirman - Thamrin corridor, which is the pedestrian viewpoint, vehicle user viewpoint and Car Free Day user viewpoint.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S56110
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Arus pejalan kaki (pedestrian) pada area pusat pelayanan atau pusat
bisnis di suatu kota, secara umum memiliki perbedaan dari satu lokasi ke
lokasi lainnya serta dari waktu ke waktu. Beberapa nodal prediktor seperti
gedung-gedung perkantoran, stasiun angkutan, pusat perbelanjaan, tempat
makan, tempat hiburan dan lain sebagainya kemudian dijadikan titik sampel
untuk mengetahui di mana dan seberapa besar pengaruh jenis nodal tersebut
sebagai pembangkit atau generator arus pejalan kaki. Melalui pengukuran
langsung pada 18 lokasi diperoleh pola arus pejalan kaki, yang selanjutnya
dikaitkan dengan jenis penggunaan tanah, fisik trotoar dan luas lantai
bangunan melalui analisis deskriptif sehingga diperoleh hasil bahwa secara
temporal arus pejalan kaki pada sore hari lebih tinggi dibandingkan pagi dan
siang hari; dan secara spasial arus pejalan kaki yang sangat tinggi umumnya
terjadi pada penggunaan tanah komersial atau pusat perbelanjaan.
Sedangkan luas lantai bangunan sebagai indikator banyaknya pejalan kaki
potensial ternyata tidak berkorelasi dengan tingkat arus pejalan kaki di
Koridor Sudirman Thamrin."
Universitas Indonesia, 2006
S34014
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ritami
"ABSTRAK
Car Free Day CFD merupakan salah satu cara untuk membentuk kebiasaan hidup sehat masyarakat ibukota Jakarta. Antusiasme masyarakat yang begitu besar menjadikan jalur CFD bertambah fungsi dan semakin banyak variasi penggunaan ruang yang terjadi. Penerapan ruang informal olahraga pada CFD tidak memiliki pengaturan khusus sebagai fasilitas joging. Oleh karena itu skripsi ini membahas pemaparan terkait kualitas ruang kota yang dapat mendukung dalam memperoleh aspek kenyamanan dan memberi pengalaman menyenangkan dalam berjoging. Dengan studi kasus yang secara tidak sengaja sudah teraplikasikan kualitas tersebut pada elemen arsitektural di ruang kota dalam hal ini CFD Sudirman-Thamrin, Jakarta. Penelitian dilakukan secara deskriptif diawali dengan mengkaji teori dari literatur yang terkait dengan berjoging, dalam hal ini pejoging sebagai pengguna ruang dan kualitas lingkungan di ruang kota yang memberi kenyamanan saat berjoging. Kemudian dilakukan analisis berdasarkan literatur dan pengamatan secara visual dari kumpulan foto. Kesimpulannya adalah terdapat dua faktor kualitas lingkungan di CFD Sudirman-Thamrin yaitu, faktor yang menentukan kenyamanan determinan seperti: kualitas permukaan pengalas, batas vertikal ruang, serta keramaian, dan faktor yang mendukung kenyamanan modifier seperti: variasi, dan kekayaan stimulus indera. Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi satu sama lain guna menciptakan kualitas ruang kota yang dapat mengakomodasi pengguna ruang tepatnya pejoging.

ABSTRACT
Car Free Day CFD is one of the ways to establish healthy living habits of Jakarta rsquo s capital community. The enormous enthusiasm of the community makes the CFD path increased functionality and the more varied use of space. The informal sport spaces on CFD does not provide a special setting as a jogging facility. Therefore this study is explane the quality of urban space that can support in provide the comfort aspect and joyful experience in jogging. With case study that have inadvertently applied these qualities to architectural elements in urban space, CFD Sudirman Thamrin, Jakarta. Research done descriptively begins by studying the literature reviews related to jogging, especially the environmental quality in the urban space that gives comfort when jogging, then continued with observations from the field and documented through series of photos. The conclusion of this study is that there are two factors of environmental quality in CFD Sudirman Thamrin, that determine comfort such as the quality of horizontal surface, and vertical boundary including human crowd, and factors that support the comfort modifier such as variations of space and the wealth of sensory stimuli. Both of these factors affect each other to create the quality of the urban space that can accommodate the user space especially joggers.Keywords Jogging Environmental Quality Car Free Day Sudirman Thamrin"
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library