Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Penduduk Kota Jakarta yang terus bertambah memaksa terjadinya
perubahan penggunaan tanah. Penggunaan tanah alami diuruk dan dibangun
menjadi penggunaan tanah buatan yang sebagian besar berbahan material
aspal, besi, kaca, dan beton. Perubahan tersebut memberikan efek signifikan
terhadap iklim dan cuaca lokal di kota, salah satunya adalah peningkatan
suhu udara lebih tinggi daripada suhu udara sekitarnya (urban heat island).
Distribusi suhu kota diasosiasikan dengan penggunaan tanah dan morfologi.
Suhu udara meningkat secara progresif pada daerah yang mendekati pusat
kegiatan atau pusat kota, dengan kepadatan bangunan yang berbeda di tiap
wilayah. Dalam kaitannya dengan peningkatan suhu, perkembangan daerah
Jakarta Selatan dari pusat kota (koridor H. R. Rasuna Said) hingga ke arah
pinggiran kota (koridor Lenteng Agung) membentuk karakter tersendiri pada
tiap wilayahnya yang dicirikan dengan perbedaan morfologi bangunan serta
kepadatan bangunan yang memberikan kontribusi berbeda terhadap
peningkatan suhu udara di permukaan kota.
Data suhu udara diperoleh dengan melakukan sampling pengukuran
langsung di lapangan. Lokasi pengamatan dipilih dengan metode non
probabilitas-purposif sebanyak 12 lokasi pengamatan. Suhu udara yang
diteliti difokuskan pada urban canopy layer dengan waktu pengamatan
selama tiga hari dengan empat periode waktu pengukuran (pukul 06.00?
18.00 WIB). Variabel yang digunakan adalah suhu udara permukaan dengan
parameter penggunaan tanah, insolasi dan waktu sibuk (peak hour) Kota
Jakarta.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variasi suhu udara
permukaan menunjukkan kecenderungan suhu semakin meningkat pada
setiap jenis penggunaan tanah yang berada di koridor yang mendekati pusat
kota dengan karakteristik daerah perkotaan yang kuat dengan bangunan
tingkat tinggi yang padat. Variasi suhu udara permukaan juga terjadi pada
setiap periode pengamatan. Pada penggunaan tanah terbangun, suhu
maksimum terjadi pada saat radiasi matahari paling kuat (Periode ketiga,
Pukul 12.00-14.00 WIB), sedangkan pada penggunaan tanah ruang terbuka
hijau suhu maksimum terjadi pada saat radiasi matahari mulai menguat
(Periode kedua, Pukul 09.00-11.00 WIB). Suhu terendah pada setiap periode
pengukuran terjadi pada lokasi dengan penggunaan tanah ruang terbuka
hijau berupa hutan kota. Pada periode yang sama, selain dipengaruhi oleh
jenis penggunaan tanah, suhu udara permukaan juga dipengaruhi oleh
kepadatan bangunan.
Kata Kunci : Urban Heat Island, Suhu Udara Permukaan, Penggunaan Tanah,
Kepadatan Bangunan
ix + 77 halaman; 15 gambar; 5 tabel; 5 peta; 13 Foto; 1 Lampiran;
Bibliografi : 25 (1978 ? 2006)"
Universitas Indonesia, 2007
S33887
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aliza
"Kabupaten Majalengka dinilai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu prioritas pembangunan infra struktur untuk menopang percepatan pembangunan seperti Bandara Internasional Jawa Barat, Kertajati Aero City, permukiman, rumah sakit, pusat perbelanjaan, bussines center, resort, sarana hiburan. Alih fungsi lahan dari tutupan vegetasi menjadi lahan terbangun akan memengaruhi suhu permukaan daratan yang memicu adanya fenomena urban heat island.
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis distribusi spasial dan temporal urban heat island serta asosiasi tutupan lahan, kerapatan bangunan, dan kehijauan vegetasi terhadap suhu permukaan daratan di Kabupaten Majalengka tahun 2013, 2016 dan 2019. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini berupa tutupan lahan, kehijauan vegetasi, kerapatan bangunan, dan suhu permukaan daratan yang didapatkan dari hasil pengolahan Citra Landsat 8 Tahun 2013, 2016, dan 2019 yang divalidasi dengan data survei lapang pada 98 titik yang dipilih dengan metode randomsampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai suhu permukaan daratan Kabupaten Majalengka berada antara 15,26 derajat celsius hingga 39,99 derajat celcius. Fenomena urban heat island mendominasi bagian tengah hingga utara Kabupaten Majalengka dengan tutupan lahan berupa lahan terbangun, kehijauan rendah, dan kerapatan bangunan tinggi. Bagian selatan suhu permukaan daratan semakin rendah dengan tutupan lahan vegetasi, kehijauan vegetasi tinggi, dan kerapatan bangunan rendah. Suhu permukaan daratan rendah berasosiasi dengan kehijauan vegetasi tinggi dan kerapatan bangunan rendah sedangkan suhu permukaan tinggi berasosiasi dengan tutupan lahan terbangun dengan kerapatan bangunan tinggi.

The Majalengka Regency considering by The Government of West Java Province is one of the priorities of infrastructure development to sustain the accelerate of development such as West Java International Airport, Kertajati Aero City, settlements, hospitals, shopping centres, business centres, resorts, entertainment facilities. The conversion function of agricultural land into non-agricultural or industrial will affect land surface temperature, which triggers the urban heat island phenomenon.
The purpose of this study was to analyze the spatial and temporal distribution of urban heat island and the effect of land cover, building density, and vegetation greennesson land surface temperatures in Majalengka in 2013, 2016 and 2019. Variables used in this study were land cover, vegetation greenness, building density, and land surface temperature obtained from the processing of Landsat Image 8 of 2013, 2016, and 2019 are validating survey at 98 points selected by random sampling method.
The results showed that the land surface temperature values of Majalengka areas were between 15.26°C to 39.99°C. The phenomenon of urban heat island dominates the north to the Majalengka Regency. The Areas with low land surface temperatures found in areas with land cover in the form of built land, low greenness, and high building density. The southern of Majalengka Regency of the land surface temperature is getting lower with vegetation land cover, high vegetation greenness, and low building density. Low land surface temperature is associated with high vegetation greenness and low building density while the highest surface temperature associated with build up area with high building density.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gilang Buditama
"Pembangunan kota dapat menyebabkan pemanasan suhu kota, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan termal, bahkan berpotensi terjadinya Urban Heat Island (UHI). Masalah dalam penelitian ini diawali dari sudah banyaknya metode pengukuran tingkat kenyamanan termal dan UHI sebelumnya, namun belum cukup berpengaruh terhadap perencanaan tata ruang. Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan model kenyamanan termal yang mengelaborasikan metode pengukuran kenyamanan termal eksisting dengan konsep UHI. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan dan metode kuantitatif. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Tangerang Selatan dengan periode waktu pengamatan selama 2004-2020. Hasil penelitian atau model ini menunjukkan Kota Tangerang Selatan tahun 2004-2020 terindikasi kenyamanan termal yang rendah mencakup 62% luas kota, walaupun masih ditemukan kenyamanan sangat tinggi mencakup 15% luas kota. Kesimpulan penelitian ini bahwa kenyamanan termal berbasis UHI merupakan model yang merepresentasikan sensasi panas atau dingin yang dirasakan manusia terhadap suhu lingkungannya dengan mempertimbangkan kondisi fisik (suhu permukaan daratan), persepsi, dan kondisi perkotaan (lahan terbangun dan vegetasi) dalam rentang waktu tertentu.

Urban development can cause city temperature increase, so it causing thermal discomfort, and even has the potential to occur Urban Heat Island (UHI). Problem begins with much research has been done on methods for measuring thermal comfort and UHI intensity, but they have not had much effect on spatial planning. Objective of this study is to produce a thermal comfort model that elaborates existing thermal comfort measurement methods with the UHI concept. Methods of the study is using quantitative approach and method. The research location was conducted in Tangerang Selatan City with an observation period of 2004-2020. Results of this model show that the Tangerang Selatan City in 2004-2020 has indications of low thermal comfort covering 62% of the city area, although very high comfort is still found covering 15% of the city area. Conclusion of this study that UHI-based thermal comfort is a model that represents the sensation of hot or cold that humans feel about their environmental temperature by considering physical conditions (land surface temperature), perception, and urban conditions (built-up land and vegetation) within a certain time span."
Jakarta: Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Agita Devi Prastiwi
"Pertumbuhan Jakarta meluas secara spasial membentuk wilayah Jabodetabek. Seiring dengan pertumbuhan kota, ruang hijau digantikan dengan gedung dan jalan menghasilkan fenomena Urban Heat Island. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi spasial UHI, pola hubungan antara LST, NDVI dan NDBI serta memodelkan prediksi UHI dengan metode Long Short Term Memory (LSTM). LSTM adalah variasi RNN yang memiliki prinsip kerja dengan menyimpan informasi terhadap pola-pola data. Hasilnya distribusi spasial UHI arahnya cenderung kearah timur dan selatan Jakarta. Karakteristik wilayah terdampak fenomena UHI berada pada daerah pusat industri, pengembangan pemukiman, perekonomian, transportasi, pelayanan, serta perdagangan. Profil LST bervariasi berdasarkan jarak dan ketinggian elevasi. Fenomena UHI mampu menghangatkan suatu wilayah sebesar 10C dibandingkan suhu normalnya. Pola spasial UHI berpola random akibat mengikuti pola jaringan jalan yang menyebar secara tidak teratur. Hasil pembangunan model sistem prediksi UHI bulan Januari tahun 2021 – Oktober tahun 2022 didapatkan nilai indeks positive 4,3 – 7,1 ini menunjukan suhu di wilayah Jakarta lebih panas dibandingkan Bogor. Pada uji nilai akurasi didapatkan RMSE sebesar 1,65 dan MAE sebesar 2,73

akarta’s growth expanded spatially to the Jabodetabek area. As cities grow, green spaces replaced with buildings and roads, resulting in a temperature difference phenomenon known as Urban Heat Island. This study aims to analyze the occurrence of UHI, synthesize the relationship between LST, NDVI, and NDBI, and model temperature prediction using Long Short-Term Memory (LSTM) method. LSTM is a variation of RNN which has a working principle by storing information and data patterns. The result is that the spatial distribution of UHI tends to be towards east and south Jakarta. The characteristics of the area affected by UHI are areas that centers of industry, settlements, economy, transportation, services, and trade. The LST profile varies with distance and elevation. UHI phenomenon can warm an area by 1°C compared to the average temperature. The spatial pattern of UHI is random as a result of following a road network pattern that spreads irregularly. The results of the development of the UHI prediction system model for January 2021 - October 2022 obtained a positive index value of 4.30C – 7.10C, this shows that temperature in Jakarta always hotter than temperature in Bogor. Accuracy value test, RMSE was 1.65, and the MAE was 2.73."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Widodo Brontowiyono
"The growth of the Yogyakarta Urban Area (YUA) has led to an increasing of the microclimate, characterized by elevated temperatures. One of the efforts to decrease temperature is by establishing the development of Green Open Space (GOS). According to Law Number 26/2007 about Spatial Planning, a minimum of 30% of the total area must be designated as green open space. IKONOS satellite images taken in 2009 showed that GOS represented 43.36% of the total area for YUA. However, there are still areas which are characterized by high temperatures (more than 36.5o C). By applying Geographical Information System (GIS) analysis with an overlay technique among three factors such as canopy, building and population density, the priority zone for GOS development was identified. Based on the analysis, 38.82% of the area was designated as low priority for GOS development, 32.38% as middle priority, and 28.80% as very high priority to be developed as GOS. The land conversion is bigger and has high potency on private sector. GOS development needs to be established in the public sector, such as the creation of urban parks. Community empowerment strategies, application of incentive - disincentive mechanisms, and efforts towards GOS productivity improvement can encourage implementation."
Depok: Faculty of Engineering, Universitas Indonesia, 2011
UI-IJTECH 2:3 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dinda Jaelani Hidayat
"Pertambahan penduduk di daerah perkotaan merupakan salah satu alasan utama
terjadinya perubahan iklim lokal, dan berdampak besar pada daerah sekitarnya.
Urbanisasi yang cepat dan daerah lahan terbuka yang digantikan oleh tutupan lahan
buatan yang berdampak negatif pada ekosistem yang mengakibatkan efek Urban Heat
Island (UHI). Hal tersebut berdampak merugikan pada lingkungan pemukiman dan
berimplikasi pada kesehatan manusia.
Informasi indeks UHI yang akurat dapat sangat
membantu untuk mengambil strategi perencanaan kota yang efektif. Penelitian ini
berkontribusi pada pengembangan sistem pemantauan suhu berbasis Internet of Things
untuk mendukung informasi indeks UHI. Sistem dirancang dengan menggunakan sensor
suhu DS18b20. Data dari sensor diolah oleh data logger dan dikirim ke server
menggunakan ESP8266. Sistem perancangan akan mengolah data dari sensor menjadi
informasi suhu perkotaan dan pedesaan serta indeks UHI.
Selain itu, pendekatan Long
Short Term Memory yang dihadirkan dalam penelitian ini diharapkan dapat berguna
untuk memprediksi indeks UHI dengan lebih akurat untuk mengantisipasi dampak
peningkatan indeks UHI. Hasil kalibrasi sensor suhu menunjukkan nilai koreksi pada set
point 0 °C ,10 °C, 20 °C , 30 °C dan 40 °C sebesar 0,216 °C, 0,201 °C, -0,295 °C, -0,188
°C dan -0,167 °C untuk sensor di daerah urban dan sensor yang dipasang di daerah rural
memiliki nilai koreksi pada set point tersebut sebesar 0,116 °C, 0,267 °C, 0,165 °C, 0,294
°C dan 0,211 °C . Hasil prediksi menunjukkan nilai MAE sebesar 0,55, RMSE sebesar
0,78 dan akurasi sebesar 68,33%. Hasil penelitian ini menunjukkan sistem dapat
diimplementasikan sebagai alternatif untuk membantu dalam analisis UHI yang berbasis
Internet of Things.
Population growth in urban areas is one of the main reasons for local climate change, and
has a major impact on the surrounding area. Rapid urbanization and areas of open land
replaced by artificial land cover have a negative impact on the ecosystem resulting in the
Urban Heat Island (UHI) effect. This has a detrimental impact on the residential
environment and has implications for human health.
Accurate UHI index information can
be very helpful for adopting an effective urban planning strategy. This research
contributes to the development of a temperature monitoring system based on the Internet
of Things to support the UHI index information. The system is designed using the
DS18b20 temperature sensor.
The data from the sensor is processed by the data logger
and sent to the server using the ESP8266. The design system will process data from
sensors into urban and rural temperature information as well as the UHI index. In
addition, the Long Short Term Memory approach presented in this study is expected to
be useful in predicting the UHI index more accurately to anticipate the impact of
increasing the UHI index. The results of the temperature sensor calibration show a
correction value at set point 0 °C, 10 °C, 20 °C, 30 °C and 40 °C of 0.216 °C, 0.201 °C,
-0.295 °C, -0.188 °C and -0.167 °C for sensors in urban areas and sensors installed in
rural areas have correction values at the set point of 0.116 °C, 0.267 °C, 0.165 °C, 0.294
°C and 0.211 °C . The prediction results show that the MAE value is 0.55, the RMSE
value is 0.78 and the accuration is 68,33%. The results of this study indicate that the
system can be implemented as an alternative to assist in the analysis of UHI based on the
Internet of Things."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tia Sella Isnaini
"Aktivitas manusia di perkotaan telah menyebabkan perubahan tutupan lahan yang masif dan mengakibatkan tingginya land surface temperature di daerah perkotaan dibandingkan dengan lingkungan alam sekitarnya yang dikenal sebagai efek urban heat island (UHI). Fenomena urban heat island (UHI) dapat dinilai berdasarkan suhu land surface temperature (LST) dengan threshold temperature diatas 30°C. Peneliti melakukan analisis fenomena urban heat island di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi spasial temporal urban heat island di Kota Sukabumi tahun 2000, 2010, dan 2020. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis hubungan land surface temperature dengan perubahan tutupan lahan, kehijauan vegetasi, dan kerapatan bangunan di Kota Sukabumi. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena urban heat island semakin meningkat dan menyebar di Kota Sukabumi dan hampir seluruh Kota Sukabumi mengalami fenomena urban heat island. Hasil dari uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara land surface temperature dengan kehijauan vegetasi dan kerapatan bangunan yang diketahui bahwa nilai kehijauan vegetasi berbanding terbalik dengan land surface temperature dan kerapatan bangunan berkorelasi positif atau berbanding lurus dengan land surface temperature.

Human activities in urban areas have led to massive changes in land cover, resulting in elevated land surface temperatures in urban areas compared to the surrounding natural environment, known as the urban heat island (UHI). The UHI phenomenon is assessed based on land surface temperature (LST) with a threshold temperature above 30°C. Researchers analyzed the urban heat island phenomenon in Sukabumi City, West Java. This study aims to analyze the spatial-temporal distribution of the urban heat island in Sukabumi City for 2000, 2010, and 2020. Additionally, the research examines the relationship between land surface temperature and changes in land cover, vegetation greenness, and building density in Sukabumi City. The findings reveal a growing and widespread urban heat island phenomenon in Sukabumi City, with almost the entire city experiencing this effect. Statistical tests indicate a correlation between land surface temperature and vegetation greenness and building density. It is observed that vegetation greenness is inversely related to land surface temperature, while building density correlates positively or directly with land surface temperature."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tia Pramudiyasari
"Penyebab utama yang mendasari efek Urban Heat Island (UHI) adalah adanya perubahan pada kondisi permukaan lahan terutama pengaruh dari vegetasi dan bangunan. Profil suhu permukaan tanah (LST) dan suhu udara (AST) dapat dikaitkan dengan fenomena UHI di suatu wilayah. Perkembangan daerah perkotaan yang pesat di Kota Bandar Lampung dapat menyebabkan fenomena UHI meluas dan bisa berdampak pada iklim perkotaan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pola spasial distribusi NDVI, NDBI, LST dan AST di Bandar Lampung serta mengaitkannya dengan kondisi iklim selama 30 tahun dari tahun 1990 hingga 2020. Analisis dilakukan secara spasial dan temporal menggunakan data Landsat dan juga suhu udara observasi. Hasilnya didapati bahwa telah terjadi perluasan wilayah dengan LST >25OC, lahan yang tidak bervegetasi dan lahan terbangun kerapatan tinggi cenderung ke arah utara Kota Bandar Lampung. Perubahan signifikan LST, NDBI dan NDVI yang menyebabkan UHI AST di Bandar Lampung yakni di wilayah kecamatan Way Halim, Kedamaian, Tanjung Karang Pusat, Tanjung Karang Timur, Teluk Betung Utara, Rajabasa, Tanjung Senang, Labuhan Ratu dan Sukarame. Korelasi LST dengan NDBI dan NDVI berbeda di tiap tahunnya dengan kecenderungan korelasi yang semakin meningkat dari tahun 1990 - 2020. Model AST menunjukkan suhu udara >30OC terkonsentrasi di pusat kota Lama (sebelah selatan Bandar Lampung) dan di pusat Kota Bandar Lampung. Dalam kurun waktu 30 tahun suhu udara di Kota Bandar Lampung memanas 0,46OC dan sejalan dengan peningkatan suhu udara dan pergeseran musim di wilayah provinsi Lampung berdasar penelitian terdahulu. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi fenomena UHI di Kota Bandar Lampung yang semakin meluas yang dapat berpotensi menyebabkan perubahan iklim lokal di wilayah Kota Bandar Lampung.

The main cause of the Urban Heat Island (UHI) effect is a change in land surface conditions, especially the influence of vegetation and buildings. The land surface temperature (LST) and air surface temperature (AST) profiles can be related to the UHI phenomenon in an area. The rapid development of urban areas in Bandar Lampung City can cause the UHI phenomenon to expand and impact the urban climate. The objective study was to determine the spatial pattern distribution of NDVI, NDBI, LST and AST in Bandar Lampung then relate it to climatic conditions for 30 years from 1990 to 2020. The spatial and temporal analysis is using both Landsat data and air temperature observations. The result shows that there has been an area expansion with LST > 25OC, unvegetated land, and high-density built-up land tend to be north of Bandar Lampung City. Significant changes in LST, NDBI and NDVI that caused UHI AST in Bandar Lampung, namely in the sub-districts of Way Halim, Kedamaian, Tanjung Karang Pusat, Tanjung Karang Timur, Teluk Betung Utara, Rajabasa, Tanjung Senang, Labuhan Ratu and Sukarame. The correlation between LST, NDBI and NDVI differs yearly with an increasing trend from 1990 to 2020. The AST model shows that air temperatures >30OC concentrated in the centre of the Old City (south of Bandar Lampung) and the centre of Bandar Lampung City. In three decades, from 1990 to 2020, the air temperature in Bandar Lampung City has warmed to 0,46oC and is in line with the increase of air temperature and the change of seasons in Lampung based on previous research. This research concludes that the UHI phenomenon has occurred in Bandar Lampung City, which is increasingly widespread and can potentially cause local climate change in Bandar Lampung City."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pemgetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wendy Triadji Nugroho
"Tesis ini berisi studi eksperimental sifat-sifat termo-optik (reflektivitas dan absorptivitas) material atap teras terhadap pancaran sinar matahari. Ada dua metode yang diterapkan untuk menghitung nilai reflektivitas (albedo) material. Yang pertama adalah menentukan koefisien konveksi lebih dahulu kemudian mencari albedo. Sedangkan metode kedua adalah menetapkan nilai reflektivitas dahulu dan selanjutnya menentukan nilai koefisien konveksi. Hasil dari kedua metode tersebut dibandingkan dengan nilai reflektivitas dan absorptivitas bahan standar produksi. Semakin tinggi nilai albedo akan meningkatkan kenyamanan di dalam ruang (gedung) dan mengurangi efek Urban Heat Island serta menurunkan produksi CO2 akibat pemakaian air conditioning saat musim panas.

This thesis contains experimental studies the properties of thermo-optical (reflectivity and absorptive) material roof terrace on the sun's rays. There are two methods that are applied to calculate the reflectivity (Albedo) material. The first is to determine the convection coefficient first and then look for Albedo. While the second method is to set the reflectivity value first and then determine the value of convection coefficient. Results from both methods were compared with the value of the reflectivity and absorptive of the standard material production. The higher the Albedo value will increase comfort in the room (building) and reduces the Urban Heat Island effect and decrease the production of CO2 resulting from the use air conditioning during the summer."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
T29700
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Anom Cahyo Galih Pranoto
"Urban Heat Island adalah suatu fenomena dimana suhu permukaan kota yang padat bangunan lebih tinggi daripada suhu di sekitarnya baik di desa maupun pinggir kota. Kecamatan Pinang merupakan Kecamatan di Kota Tangerang yang pembangunannya mengalami perubahan secara dinamis. Perubahan kerapatan vegetasi, kerapatan bangunan serta tutupan lahan yang cepat mempengaruhi suhu permukaan darat di Kecamatan Pinang. Metode yang digunakan yaitu pengolahan dari citra Landsat 7 ETM+ dan Landsat 8 OLI untuk mendapatkan nilai Kerapatan Vegetasi (NDVI), Kerapatan Bangunan (NDBI) dan Land Surface Temperature (LST).
Hasil penelitian menunjukan bahwa Kecamatan Pinang telah mengalami perluasan wilayah yang terdampak Urban Heat Island yang menjalar di bagian selatan Kecamatan Pinang. Hasil ini didukung oleh uji statistik yang menunjukan semakin tinggi kerapatan bangunan, semakin tinggi pula suhu permukaan daratnya serta semakin tinggi kerapatan vegetasi, maka semakin rendah suhu permukaan daratnya.

Urban Heat Island is a phenomenom in which the surface temperature of the crowded city buildings higher than the surrounding temperature both in villages and sub urban. Pinang Sub-District is a Sub-District at Tangerang City who had growth dynamic development. Transformation of vegetation density, density of the roof of the buildings and land cover can affect the land surface temperature at Pinang Sub-District. The research method is using by processing satellite imagery from Landsat 7 ETM+ and Landsat 8 OLI to get vegetation density (NDVI), density of the roof of the building (NDBI) and land surface temperature (LST).
The results showed that the Pinang Sub-District have expanded the area affected by the spread of Urban Heat Island in the southern part of the Pinang Sub-District. This result also tested in statistically. Therefore, when land surface temperature rise, the building density are descend. Beside when land surface temperature descend, the vegetation density are rise up.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S65057
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>