Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Husein Barnedh
"ABSTRAK
Latar belakang: Gangguan keseimbangan merupakan salah satu masalah neurologis yang penting pada lansia, sedangkan penelitian tentang hal tersebut belum banyak dilakukan di Indonesia.Beberapa faktor yang diduga berhubungan dengan gangguan keseimbangan adalah aktivitas fisik, tingkat independensi,umurjenis kelamin, demensia, gangguan visus dan gangguan proprioseptif.
Tujuan: Untuk mengetahui proporsi gangguan keseimbangan dan jatuh, rerata skala keseimbangan Berg serta faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan keseimbangan pada lansia.
Metodologi. Penelitian menggunakan desain potong lintang. Subyek yang mengikuti penelitian berjumiah 300 orang, terdiri dari 244 wanita dan 56 pria, usia berkisar antara 60-88 tahun. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan neurologis umum, proprioseptif, dan visus, pemeriksaan MMSE serta pemeriksaan keseimbangan menggunakan skala keseimbangan Berg. Kriteria gangguan keseimbangan adalah bila nilai skala keseimbangan Berg < 46. Variabel-variabel yang diduga berperan dalam gangguan keseimbangan diuji statistik menggunakan analisis bivariat dan multivariat. Hash Penelitian. Proporsi gangguan keseimbangan adalah 28,7%. Proporsi jatuh 10,3%.Subyek dengan gangguan keseimbangan mempunyai OR 2,2 (95% CI 1,06-4,80) untuk mengalami jatuh (p<0,05) Rerata skala keseimbangan Berg 50.Pada analisis bivariat didapatkan 6 variabel yang berhubungan dengan gangguan keseimbangan, yaitu: aktivitas fisik, tingkat independensi, usia, demensia, gangguan visus dan gangguan proprioseptif. Pada analisis multivariat 4 variabel, yaitu aktivitas fisik (OR 2,61; 95%CI 1,75-3,87), tingkat independensi (OR 13,15;95%Cl 3,77-45,82), usia (OR 1,86; 95%CI I,01-3,45) dan gangguan proprioseptif (OR 3,88; 95% CI 1,63-9,21) didapatkan berhubungan dengan gangguan keseimbangan (p<0,05). Jenis kelamin ditemukan tidak berhubungan bermakna dengan gangguan keseimbangan.
Kesimpulan: Aktivitas fisik, tingkat independensi, usia dan gangguan proprioseptif merupakan faktor risiko untuk gangguan keseimbangan pada lansia.

Background. Disequilibrium is one of the major neurological problems in elderly people, unfortunately there are only few studies about postural balance in elderly , especially in Indonesia. Physical activity, functional disability, age, gender, demensia, visual acuity decline and proprioceptive decline might be related to disequilibrium in elderly and need further explorations.

ABSTRACT
Objective. To determine proportion of disequilibrium dan falls, mean of Berg Balance Scale and risk factors related to disequilibrium in elderly.
Methods. This study was a cross sectional study. Three hundreds subjects , 244 women and 56 men, age 60-88 years old, participated in this study. History taking, general neurological examination, proprioceptive and visual acuity examination, MMSE and Berg Balance scale (BBS) was performed on every subject. Criteria for disequilibrium was BBS < 46. All variables was analyzed statistically by bivariate and multivariate analysis.
Results. Disequilibrium proportion was 28.7 %. Falls proportion was 10.3 %. Subjects with disequilibrium had OR 2.2 (95% CI: 1.06-4.80) for falls (p'(0.05). Mean value of BBS was 50. Variables which had correlation with disequilibrium on bivariate analysis was physical activity, functional disability, age, demensia, visual acuity decline, and proprioceptive decline. Multivariate analysis showed 4 variables related to disequilibrium: physical activity (OR 2.61; 95% CI: 1.75-3.87), functional disability (OR 13.15; 95% Cl: 3.77-45.82), age (OR 1.86; 95%CI: 1.01-3.45) and proprioceptive decline (OR 3.88; 95% Cl: 1.63-9.21) with p<0.05. Gender was not significantly related to disequilibrium.
Conclusion. Physical activity, functional disability, age and proprioceptive decline are the risk factors for disequilibrium in elderly.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18160
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arla Risma Anjani
"Penelitian ini menganalisis efektivitas Dual Task Training untuk mengetahui pengaruh terhadap tingkat risiko jatuh pada pasien stroke melalui pendekatan kuantitatif dengan bentuk penelitian quasi eksperimen nonequivalent control group design yaitu membandingkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Subjek penelitian terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, masing-masing terdiri dari delapan responden pasien post-stroke berusia 45-72 tahun. Kelompok eksperimen diberikan intervensi Dual Task Training dengan frekuensi tiga kali seminggu selama tiga minggu, sementara kelompok kontrol tidak menerima intervensi serupa. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen Berg Balance Scale (BBS) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan skor BBS pada kelompok eksperimen, yang mengindikasikan penurunan risiko jatuh, dengan nilai p<0,001 (p<0,05). Sebaliknya, pada kelompok kontrol tidak ditemukan perbedaan signifikan dengan nilai p=0,712 (p>0,05). Berdasarkan temuan ini, Dual Task Training terbukti efektif dan dapat direkomendasikan sebagai salah satu metode rehabilitasi untuk meningkatkan keseimbangan dan menurunkan risiko jatuh pada pasien pasca stroke.

This study examines the effectiveness of Dual Task Training to determine the effect on the risk level of falls in stroke patients through a quantitative approach in the form of a quasi-experimental nonequivalent control group design, namely comparing the experimental group and the control group. The study consisted of two groups, each comprising eight post-stroke patients aged 45-72 years. The experimental group received Dual Task Training interventions three times a week for three weeks, while the control group did not receive the intervention. Evaluations were conducted before and after the intervention using the Berg Balance Scale (BBS). The data analysis showed a significant improvement in BBS scores in the experimental group, indicating a reduced risk of falling, with a p-value of <0,001 (p<0.05). In contrast, no significant change was found in the control group, with a p-value of 0,712 (p>0,05). Based on these findings, Dual Task Training is proven to be effective and can be recommended as a rehabilitation method to improve balance and reduce the risk of falls in post-stroke patients."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuli Suciati
"ABSTRAK
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan berbagai parameter
posturografi pada risiko jatuh derajat ringan dan sedang.
Metode: Dilakukan studi potong lintang pada 163 usila yang mampu ambulasi
mandiri, terdiri dari 108 subjek dengan risiko jatuh ringan dan 55 subjek dengan
risiko jatuh sedang yang datang ke poli geriatri terpadu dan poli Departemen
Rehabilitasi Medik RSCM. Parameter posturografi statik (Gravicorder GS-Anima
3000, Tokyo-Japan) adalah panjang ayun tubuh (PA), kecepatan ayun tubuh (KA),
Luas area (LA), Romberg quotient (RQ) dan deviasi Centre of Pressure (COP).
Penilaian posturografi dilakukan dalam 4 kondisi yaitu keadaan mata terbuka dan
tertutup serta dengan atau tanpa busa. Risiko jatuh dinilai dengan Berg Balance Scale
(BBS).
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nilai PA, KA, LA dan RQ
antara kedua kelompok risiko jatuh, namun hanya nilai LA yang bermakna secara
statistik. Terdapat kecenderungan deviasi COP ke arah antero-posterior (AP)
dibandingkan ke arah medio-lateral (ML) pada kedua kelompok risiko jatuh.
Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara panjang ayun tubuh,
kecepatan ayun tubuh serta Romberg quotient pada kelompok usila dengan risiko
jatuh ringan dan risiko jatuh sedang. Terdapat perbedaan yang bermakna luas area
ayun tubuh pada kelompok usila dengan risiko jatuh ringan dan risiko jatuh sedang.
Kata kunci: usila, risiko jatuh, posturografi statik, Berg Balance Scale

ABSTRACT
Study purpose: To evaluate different parameters of static posturography in elderly
with mild and moderate risk of falls that lives in community.
Methods: A cross sectional study was conducted in 163 elderly who can ambulate
independently without assistive device in Poliklinik Geriatri Terpadu, PM&R
department and Neuro-Otology division ENT department RSCM. There were 108
subjects with mild risk of falls and 55 subjects with moderate risk of falls. Static
posturography (Gravicorder GS-Anima 3000, Tokyo-Japan) parameters were length
of body sway (LNG), velocity of body sway (LNG/TIME), Envelope Area (ENV),
Romberg quotient (RQ) and Centre of Pressure (COP) deviation. Posturography
measurement was taken in four conditions, with eyes open (EO) and closed (EC) and
also with and without rubber foam (R). Risk of falls measurement was using Berg
Balance Scale (BBS).
Results: There were different values in length of body sway (LNG), velocity of body
sway (LNG/TIME) and Romberg quotient (RQ). Envelope Area (ENV) has
statistically significant value between mild and moderate risk of falls. The COP was
tended to deviate more in antero-posterior (AP) than in medio-lateral (ML) direction.
Conclusion: The values of length of body sway (LNG), velocity of body sway
(LNG/TIME) and Romberg quotient (RQ) has not statistically significant. Envelope
Area (ENV) has statistically significant value between mild and moderate risk of falls"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T58679
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rifalisanto
"ABSTRAK
LATAR BELAKANG. Kecepatan berjalan jarak pendek merupakan pengukuran yang reliabel untuk menilai risiko jatuh dirumah sakit pada pasien usia lanjut. Dengan adanya penurunan kecepatan berjalan pada usia lanjut yang dipengaruhi oleh berbagai risiko jatuh dan besarnya masalah yang ditimbulkan oleh jatuh maka, perlu dilakukan penelitian. Saat ini belum ada penelitian yang menghubungkan korelasi antara kecepatan berjalan dengan besarnya risiko jatuh pada usia lanjut di Indonesia.
METODE. Penelitian deskriptif analitik dengan periode sewaktu. Pada pasien usia lanjut dengan risiko jatuh ringan dan sedang secara consecutive sampling. Penilaian risiko jatuh dengan Berg Balance scale, kemudian dilakukan pemeriksaan kecepatan berjalan 10 meter. Penilaian korelasi Berg Balance scale dengan kecepatan berjalan. Menentukan hubungan antara kategori kecepatan berjalan dengan kategori risiko jatuh dilakukan uji Chi Square sehingga dapat menghitung Crude Odds Ratio dan adjusted Odds Ratio.
HASIL. Terdapat korelasi positif sedang yang bermakna secara statistik antara nilai Berg Balance Scale dengan kecepatan berjalan (r=0,492, p<0,001). Terdapat perubahan Odds Ratio ≥ 10 % untuk variabel usia (11,6 %), jenis kelamin (18,48%) dan status gizi (10,16%) menunjukkan semua variabel merupakan variabel perancu untuk variabel kecepatan berjalan.
KESIMPULAN. Terdapatnya korelasi sedang antara Berg Balance Scale dengan kecepatan berjalan pada usia lanjut. Terdapat hubungan antara kecepatan berjalan dengan risiko jatuh pada usia lanjut.

ABSTRACT
BACKGROUND. One in three elderly falls each year and cause many complication. The most common etiology of falls in elderly is balance disorder that will reduce their walking speed. Short walking distance is a reliable measurement for assessing the risk of falls in hospital for elderly patients. This study is purposed to assess the correlation between the walking speed and the magnitude of the risk of falls in elderly people.
METHOD. Descriptive analytic research with cross-sectional method and consecutive sampling in mild and moderate risk of fall elderly patients. Risk of falls was assessed using Berg Balance Scale and walking speed using 10 meters distance walking test. Spearman correlation analysis test between Berg Balance Scale compare and walking speed. Chi Square Test to determine the correlation between confounding variable with walking speed category and category risk of falls.
RESULTS. There is a statistically significant positive moderate correlation between the Berg Balance Scale and walking speed (r = 0.492, p <0.001). There is a change of more than 10% of the odds ratio for the age (11.6%), sex (18.48%) and nutritional status (10.16%) which showed that all the variables are the confounding variable for walking speed.
CONCLUSION. The presence of moderate correlation between the Berg Balance Scale and walking speed in the elderly. There is a relationship between walking speed and the risk of falls in the elderly."
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Retno Savitri Koeswardhani
"ABSTRACT
LATAR BELAKANG: Neuropati diabetes adalah komplikasi diabetes melitus tipe dua DMT2 yang paling sering terjadi. Polineuropati sensori motor distal simetris merupakan tipe yang paling banyak, dimana terdapat gangguan sensoris yang menyebabkan sensori ataxia dan gangguan motorik yang menyebabkan penurunan massa dan kekuatan otot tungkai. Gangguan tersebut menyebabkan gangguan fungsional berupa gangguan keseimbangan yang dapat ditatalaksana dengan pemberian latihan keseimbangan dengan atau tanpa disertai latihan penguatan otot tungkai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian latihan keseimbangan yang disertai latihan penguatan otot tungkai pada penderita neuropati diabetes terhadap fungsi keseimbangan dibandingkan dengan pemberian latihan keseimbangan saja. METODE: Desain penelitian ini adalah quasi experimental. Populasi terjangkau adalah perempuan dan laki-laki usia 45-65 tahun dengan neuropati diabetes yang datang berobat ke poliklinik endokrin dan saraf rumah sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta yang memenuhi kriteria penelitian. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok secara randomisasi. Kelompok perlakuan diberi latihan keseimbangan disertai latihan penguatan otot tungkai dan kelompok kontrol diberi latihan keseimbangan saja. Intervensi dilakukan selama 8 minggu. Penilaian fungsi keseimbangan dilakukan dengan pemeriksaan Berg Balance Scale BBS dan posturografi statik. Penilaian kekuatan empat kelompok otot tungkai menggunakan hand held dynamometer. HASIL: Sebanyak 12 responden mengikuti program latihan sampai selesai, kelompok perlakuan 8 orang dengan rerata skor BBS 49,13 2,90 dan kelompok kontrol 4 orang dengan rerata skor BBS 49,75 1,26. Setelah 8 minggu didapatkan perbaikan skor BBS pada kedua kelompok, yaitu 4,00 1,2 pada kelompok perlakuan dan 2,25 0,9 pada kelompok kontrol dengan perbedaan signifikan p = 0,030 . Pada pemeriksaan posturografi, terdapat kecenderungan perbaikan parameter posturografi. Pada penilaian kekuatan otot didapatkan perbaikan kekuatan otot pada keempat kelompok otot tungkai kedua kelompok. Perbedaan signifikan didapatkan pada kelompok otot hip abduktor dekstra, sebesar 5,53 1,94 pada kelompok perlakuan dan 1,80 2,38 pada kelompok kontrol p = 0,006 dan pada kelompok otot hip abduktor sinistra, sebesar 6,26 2,82 pada kelompok perlakuan dan 2,03 3,24 pada kelompok kontrol p = 0,042 . KESIMPULAN: Pemberian latihan keseimbangan disertai latihan penguatan otot tungkai lebih efektif dalam meningkatkan fungsi keseimbangan dibandingkan dengan pemberian latihan keseimbangan saja pada pasien neuropati diabetes.
"
"
"ABSTRACT
"
BACKGROUND. Diabetic neuropathy is the most common complication of type two diabetes melitus. Distal symmetrical sensorimotor polyneuropathy is the most common type, where sensory deficit will cause sensory ataxia and motor deficit will cause decrease muscle mass and strength. These will cause balance problems in patients. One of treatments for balance problems is balance exercise with or without lower extremity strengthening exercise. The aim of this study is to determine the efficacy of balance and lower extremity strengthening exercise on balance functions compare to balance exercise alone in patient with diabetic neuropathy. METHODS. Design of the study is quasi experimental. The population was male and female patient with diabetic neuropathy aged 45 65 years old who came to endocrine and neurology Outpatient Department Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta who fit the criteria. Sampling was done by consecutive sampling, and were divided into two groups by randomizations. The intervention group was given balance and lower extremity strengthening exercise, and the control group was given balance exercise alone. Balance function measurement was done by using Berg Balance Scale BBS and static posturography. Measurement of muscle strength on four lower extremity muscle group was done by using hand held dynamometer. RESULTS. Twelve respondents were completed the exercise program, the intervention group 8 people with mean BBS score 49,13 2,90 and control group 4 people with mean BBS score 49,75 1,26. After 8 weeks of exercise, there are improvements in BBS score in both groups, 4,00 1,2 on intervention group and 2,25 0,9 on control group with significant difference p 0,030 . On static posturography examination there were tendency of improvements in posturography parameters. On muscle power measurements, there are improvements in muscle power in all four muscle groups in both groups. Significant difference was found in right hip abductor muscle group 5,53 1,94 on intervention group and 1,80 2,38 on control group p 0,006 and on left hip abductor muscle group 6,26 2,82 on intervention group and 2,03 3,24 on control group p 0,042 . CONCLUSIONS. Balance and lower extrimity strengthening exercise is more effective in improving balance function compare to balance exercise alone in patient with diabetic neuropathy."
2016
T55625
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Silvony Chandra
"Latar Belakang: Perubahan sistemik pada PPOK menyebabkan terjadinya disfungsi otot yang berhubungan dengan penurunan fungsi keseimbangan. Gangguan keseimbangan menimbulkan konsekuensi terhadap kejadian jatuh. Penambahan latihan keseimbangan pada PPOK dapat meningkatkan fungsi keseimbangan, namun belum menjadi standar tatalaksana pada program rehabilitasi PPOK. Latihan ketahanan dengan menggunakan jentera dan sepeda statis menunjukkan adanya peningkatan nilai uji fungsi keseimbangan pasien PPOK, namun belum ada penelitian yang membandingkan antara kedua latihan tersebut dalam meningkatkan fungsi keseimbangan pasien PPOK.
Tujuan: Menilai efek latihan jentera dan latihan sepeda statis selama delapan minggu terhadap perbaikan fungsi keseimbangan pasien PPOK.Metode. Uji klinis teracak terhadap pasien PPOK stabil grup A,B,C dan D pada usia 55-80 tahun. Subjek dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok jentera dan kelompok sepeda statis. Kedua kelompok mendapat program rehabilitasi paru selama delapan minggu. Dilakukan evaluasi fungsi keseimbangan dengan menggunakan Berg Balance Scale BBS pada awal penelitian, 4 dan 8 minggu setelah mulai penelitian.
Hasil: Terdapat 16 subjek PPOK yang menyelesaikan penelitian. Didapatkan peningkatan yang signifikan secara statistik pada nilai BBS baik pada latihan jentera maupun pada latihan sepeda statis setelah delapan minggu latihan dengan nilai akhir BBS 51,88 dan 50,25 secara berurutan. Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna secara statistik antara selisih peningkatan nilai BBS latihan jentera dan latihan sepeda statis dengan nilai tengah 3,00 dan 3,50 secara berurutan.
Kesimpulan: Nilai BBS menunjukkan perbaikan bermakna secara statistik baik pada latihan jentera maupun sepeda statis. Tidak terdapat perbedaan efek yang bermakna secara statistik antara latihan pada kedua kelompok tersebut.

Background: Systemic changes in COPD result in muscle dysfunction that associated with decreased balance function. Impaired balance has consequences for falling events. The addition of balance exercises to COPD can improve balance function, but it has not yet become the standard treatment for COPD rehabilitation programs. Endurance exercises using treadmill and static cycle show an increase in balance function test of COPD patients, but no studies have compared the two exercises in order to improve the balance function of COPD patients.
Aim: To assess the effects of treadmill and static cycle exercise for eight weeks on improving balance function of COPD patients. Method. Randomized Clinical trials of stable COPD patients on A, B, C and D group at age 55 80 years. Subjects were divided into two groups, treadmill and static cycle group. Both groups received pulmonary rehabilitation program for eight weeks. Evaluation of balance function using Berg Balance Scale BBS at the beginning of the study, 4 and 8 weeks after the study.
Results: There were 16 subjects of COPD who completed the study. There was a statistically significant increase in the value of BBS in both treadmill and static cycle group after eight weeks of exercise with a final BBS score of 51.88 and 50.25 respectively. There was no statistically significant difference between the improvement value of BBS in treadmill and static cycle exercise with median values of 3.00 and 3.50 respectively.
Conclusion: The BBS score showed statistically significant improvements in treadmill and static cycles exercise. There was no statistically significant different effect of exercises in both groups.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lydia Rizka Achdenissa
"Indonesia sedang memasuki fase ageing population, dimana penduduk lanjut usia semakin meningkat. Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia pada 2023, hampir 12% atau sekitar 29 juta penduduk Indonesia masuk kategori lansia. Dapat dipastikan setiap lansia memiliki banyak masalah kesehatan. Salah satunya adalah masalah keseimbangan. Gangguan keseimbangan ini dapat membuat lansia menjadi memiliki resiko jatuh yang tinggi dan membuat lansia menjadi tidak mandiri. Maka dari itu dibutuhkan intervensi yang dapat diberikan kepada lansia agar dapat meningkatkan keseimbangan dinamis pada lansia, salah satunya Square Stepping Exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dalam pemberian Square Stepping Exercise terhadap peningkatan dynamic balance pada lansia. Metode penelitian yang akan dilakukan bersifat One Group Pretest and Posttest dengan melakukan pengukuran keseimbangan menggunakan Time Up and Go Test (TUG) dan Berg Balance Rating Scale. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia berusia 60-72 tahun dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling di Rumah Lansia Atmabrata, Cilincing, Jakarta Utara. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukan p=0.001 yang berarti terdapat pengaruh SSE terhadap tingkat dynamic balance yang diukur menggunakan BBS. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukan p=0.001 yang berarti terdapat pengaruh SSE terhadap tingkat dynamic balance yang diukur menggunakan TUG.

Indonesia is entering the ageing population phase, where the elderly population is increasing. Based on the Indonesian Population Census in 2023, almost 12% or around 29 million Indonesians are categorized as elderly. It is certain that every elderly person has many health problems. One of them is balance problems. This balance disorder can make the elderly have a high risk of falling and make the elderly not independent. Therefore, interventions are needed that can be given to the elderly in order to improve dynamic balance in the elderly, one of which is Square Stepping Exercise. This study aims to determine whether there is an effect in giving Square Stepping Exercise on increasing dynamic balance in the elderly. The research method to be carried out is One Group Pretest and Posttest by measuring balance using the Time Up and Go Test (TUG) and Berg Balance Rating Scale. The population in this study were elderly aged 60-72 years with purposive sampling technique at Atmabrata Elderly House, Cilincing, North Jakarta. The results of the Wilcoxon Signed Rank Test showed p=0.001 which means there is an effect of SSE on the level of dynamic balance measured using BBS. Paired Sample t-Test results showed p=0.001 which means there is an effect of SSE on the level of dynamic balance measured using BBS."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sembiring, Nindy Ifanka Br
"ABSTRAK vi Nama : Nindy Ifanka Br Sembiring Program Studi : D4-Fisioterapi Judul : Perbandingan Latihan Leg Strengthening dan Core Stability Exercise Terhadap Risiko Jatuh pada Lansia Menggunakan Parameter Berg Balance Scale (BBS) Pembimbing : Safrin Arifin,S.,ST.,S.K.M.,M.Sc Jatuh merupakan kesehatan serius pada lansia yang menyebabkan cedera dan penurunan kualitas hidup, mendorong kebutuhan intervensi pencegahan efektif seperti latihan fisik. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan efektivitas latihan Leg Strengthening dan Core Stability Exercise pada risiko jatuh pada lansia menggunakan Berg Balance Scale, serta membandingkan dengan kelompok kontrol. Mengimplementasikan metode quasi-experiment melalui pendekatan nonequivalent control group design, penelitian ini melibatkan 27 lansia berusia 60-75 tahun dengan risiko jatuh ringan-berat (skor BBS 21- 40) yang berpartisipasi di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3. Subjek dibagi menjadi tiga kelompok (masing-masing 9 subjek) ; kelompok Leg Strengthening, Core Stability Exercise, dan Kontrol yang menerima latihan pernapasan diafragma sebagai intervensi minimal. Pemberian intervensi sebanyak 3 kali dalam 1 minggu dalam durasi 4 minggu. Risiko jatuh dengan BBS diukur sebelum (PRE) dan sesudah (POST) periode intervensi. Analisis data menggunakan non-parametrik seperti Wilcoxon Signed-Rank Test (Untuk perubahan dalam kelompok) dan Mann-Whitney U Test (untuk perubahan dalam kelompok) sebab ketidaknormalan pada distribusi data. Hasil analisis menunjukan bahwa baik latihan Leg Strengthening maupun Core Stability Exercise secara signifikan meningkatkan skor Berg Balance Scale pada lansia dibandingkan dengan kelompok kontrol (p=0,000 untuk perbandingan antara kelompok kontrol dan Leg Strengthening; p=0,000 untuk perbandingan kelompok kontrol dengan Core Stability Exercise). Peningkatan skor BBS ini mengindikasikan perbaikan keseimbangan dan penurunan risiko jatuh pada kedua kelompok intervensi. Sementara itu, tidak terdapat perubahan secara signifikan pada kelompok kontrol terhadap skor BBS (p=0,919), Namun Perbandingan efektivitas antara latihan Leg Strengthening dan Core Stability Exercise mendapati nilai Signifikan p=0,173, Nilai p>0,05 ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statis dalam efektivitas kedua jenis latihan tersebut dalam meningkatkan keseimbangan dan menurunkan risiko jatuh pada lansia berdasarkan skor BBS.Meninjau dari temuan, mengindikasikan bahwa latihan Leg Strengthening dan Core Stability Exercise sama-sama efektif secara signifikan dalam upaya peningkatkan keseimbangan dan menurunkan risiko jatuh pada lansia dibandingkan kelompok kontrol. Tidak ditemukan bukti yang cukup untuk menyatakan salah satu latihan secara statistik lebih efektif dibandingkan yang lain dalam konteks penelitian ini. Kedua latihan ini memberikan manfaat yang setara untuk pencegahan risiko jatuh pada lansia.

The risk of falls in the elderly are a significant public healthproblem,often caused by decreased muscle strength and impaired balance. Physical exercises such as Leg Strengthening and Core Stability Exercise habe been identified as preventive approachesto reduce this risk. However, further reseatch is needed to compare the relative effectiveness of these two types of exercises.This study aimed to analyze and compare the effectiveness of leg strengthening and Core Stability Exercise in reducing the risk of falls in the elderly using the Berg Balance Scale parameter, and to compare the effect of both exercises with a control group receiving minimal intervetion. This research employed a quasi-experiment method with a nonequivalent control group design. The study subjects were elderly individuals aged 60-75 years with mild to severe fall risk (BBS secores 21-40), who pasrticipated at Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3. A total of 27 subjects were divided into three group (9 elderly individuals each) : the Leg Strengthening group, the Core Stability Exercise group, and the control group who underwent diaphragmatic breathing exercises. The intervention was conducted 3 times a weeks. Fall risk measurement using BBS was performed before (PRE) and after (POST)the intervention period. Data were analyzed using SPSS version 27 software, including Shapiro- wilk normality test and Levene’s homogeneity test, followed by non-parametric tests suchas the Mann-Whitney U Test for between-group comparisons and Wilcoxon Signed-Rank Test for Within-group comparisons. The analysis results showed that both Leg Strengthening and Core Stability Exercise significantly improved Berg Balance Scale scores in the elderly compared to the control group (p=0,000 for the comparison between Control and Leg Strengthening groups; p=0,000 for the comparison between Control and Core Stability Exercise groups). This increase in BBS scores indicates improved balance and reduced fall risk in both intervention groups. However, the comparison of effectiveness between Leg Strengthening and Core Stability Exercise showed a significance value of p =0,173. This p-value>0,05 indicates that there was no statistically significant difference in the effectiveness ogf the two types of exercises in improving balance and reducing fall risk in the elderly based on BBS scores. Based on the findings, it is concluded that both Leg Stengthening and Core Stability Exercise are equally and significantlt effective in improving balance and reducing fall risk in the elderly compared to the group that did not receive specitic balance training. Insuffcient evidence was found to state that one exercise was statistically more effective that the other in ther context of this study, Both exercises provide equivalent benefits for the prevention of fall risk in the elderly."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library