Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Wardah Citra Saraswati
"Pada penelitian ini dilakukan anodisasi menggunakan elektrolit 1 M KOH pada suhu 25°C selama 20 detik dengan variasi tegangan 10, 20, dan 30 V. Uji bioaktivitas dilakukan selama 14 hari didalam larutan Simulated Body Fluid (SBF) berdasarkan ISO 23271-2007. Pengamatan permukaan dengan mikroskop optik menunjukkan bahwa lapisan oksida anodik memiliki struktur berpori. Penampang lintang lapisan oksida diuji dengan FE-SEM menunjukkan ketebalan lapisan meningkat yaitu 199; 436; dan 1199 nm untuk lapisan yang terbentuk pada 10, 20, dan 30 V. Kekerasan lapisan oksida anodik sedikit meningkat: 327,80 ± 2,05; 332,40 ± 2,60; dan 342,80 ± 2,95 HV untuk tegangan 10, 20, dan 30 V, sedangkan substrat memiliki kekerasan 325,8 ± 5,54 HV. Uji Open Circuit Potential (OCP) menunjukkan kenaikan nilai potensial, hal ini sejalan dengan hasil uji polarisasi dimana rapat arus korosi menurun secara berurutan yaitu 1,99 x 10-7; 1,78 x 10-7; dan 3,65 x 10-8A/cm2 untuk masing-masing tegangan 10, 20, 30 V. Setelah uji bioaktivitas selama 14 hari, hasil uji SEM belum menunjukkan adanya deposisi apatit di permukaan sampel. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh waktu uji yang relatif singkat, lapisan yang bersifat amorf, dan ukuran pori yang relatif kecil, yaitu nanometer.

In this study, anodization was carried out using 1 M KOH electrolyte at 25°C for 20 seconds with a voltage variation of 10, 20, and 30 V. Bioactivity tests were carried out for 14 days in a Simulated Body Fluid (SBF) solution based on ISO 23271-2007. Observation of the surface with an optical microscope shows that the anodic oxide layer has a porous structure. The cross-section of the oxide layer tested by FE-SEM showed an increased layer thickness of 199; 436; and 1199 nm for layers formed at 10, 20, and 30 V. The hardness of the anodic oxide layer increased slightly: 327.80 ± 2.05; 332.40 ± 2.60; and 342.80 ± 2.95 HV for 10, 20, and 30 V, while the substrate had a hardness of 325.8 ± 5.54 HV. The Open Circuit Potential (OCP) test shows an increase in the potential value, this is in line with the results of the polarization test where the corrosion current density decreases sequentially, 1.99 x 10-7; 1.78 x 10-7; and 3.65 x 10-8A / cm2 for each voltage 10, 20, 30 V. After bioactivity testing for 14 days, SEM test results have not shown the presence of apatite deposition on the sample surface. This is likely due to the relatively short test time, the amorphous layer, and the relatively small pore size, nanometer."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yoza Kurniawan
"Pengembangan paduan zirkonium sebagai biomaterial diproduksi melalui metode metalurgi serbuk diteliti dengan penambahan unsur paduan molibdenum 1%, 3%, 6% dan 9% dan hubungannya terhadap densitas dan porositas, struktur mikro, kekerasan Rockwell C dan sifat bioaktivitas dengan simulated body fluid (SBF). Hasil dari pengujian densitas dan porositas didapatkan bahwa seiring dengan penambahan molibdenum akan menghasilkan porositas yang semakin banyak. Hal ini terjadi karena seiring dengan penambahan molibdenum akan menurunkan koefisien difusivitas pada paduan zirkonium. Struktur mikro yang terbentuk didominasi fasa α-Zr dan Mo2Zr. Namun seiring dengan penambahan molibdenum, akan terbentuk fasa γ-Mo yang merupakan serbuk molibdenum yang tidak terdifusi ke dalam β-Zr dalam proses sinter. Kekerasan yang dicapai pada penambahan molibdenum bervariasi antara 42 HRC hingga 45 HRC, dimana terendah dicapai 3% Mo dengan 42,14 HRC dan tertinggi 6% Mo dengan 45,08 HRC. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah porositas dan fasa Mo2Zr yang terbentuk di dalam paduan. Sifat bioaktivitas logam zirkonium semakin menurun seiring dengan penambahan molibdenum yang disebabkan oleh terbentuknya fasa γ-Mo pada struktur mikro.

Development of zirconium alloy as biomaterial produced with powder metallurgy method is observed from the effect of 1%, 3%, 6% and 9% molybdenum addition on density and porosity, microstructure, Rockwell C hardness and bioactivity properties with simulated body fluid (SBF). The result of density and porosity testing shows the increasing molybdenum content can produce more porosity on alloys. That caused by the addition of molybdenum would decrease coefficient of diffusivity in zirconium alloys. Microstructure formed predominantly α-Zr phase and Mo2Zr. But along with the addition of molybdenum, will form γ-Mo phase which is the molybdenum powders did not diffuse into β-Zr on sintering process. Hardness on addition of molybdenum varies between 42 HRC to 45 HRC, which in the lowest achieved by 3% Mo with 42,12 HRC and the highest achieved by 6% Mo with 45,08 HRC. That in influenced by the amount of porosity and Mo2Zr phase in the alloys. Bioactivity properties in zirconium alloy will decrease along with the addition of molybdenum, which caused the formation of γ-Mo phase on the microstructure.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S53849
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ilmi Fadhilah Rizki
"Caulerpa lentillifera termasuk dalam genus Caulerpa yang umumnya ditemukan di perairan tropis dan subtropis. Polisakarida merupakan komponen terbesar yang terdapat pada rumput laut, dan memiliki beberapa aktivitas biologis yang berpotensi sebagai obat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengekstrak dan mengevaluasi polisakarida pada Caulerpa lentillifera sebagai bahan bioaktif antidiabetes. Sampel dimaserasi dengan etanol dan direndam selama semalaman pada suhu ruang. Selanjutnya, residu diekstraksi dengan air pada suhu 75oC selama tiga jam. Pengendapan filtrat dilakukan dengan penambahan etanol untuk sehingga diperoleh ekstrak kasar sebesar 4,16%. Ekstrak kasar dimurnikan dengan menggunakan kolom DEAE-Sepharose dengan hasil rendemean yang diperoleh sebesar 14,8%. Kedua ekstrak tersebut kemudian dikarakterisasi dengan menganalisis total karbohidrat dan sulfat dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, gugus fungsional dengan menggunakan FT-IR, komponen gula dengan menggunakan HPLC, dan analisis 1H-NMR. Aktifitas antidiabetes kedua ekstrak tersebut dianalisis secara in vitro dengan metode penghambatan enzim α-glukosidase. Berdasarkan hasil analisis tersebut, ekstrak yang telah dimurnikan memberikan aktivitas antidiabetes yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak kasar.

Caulerpa lentillifera belongs to Caulerpa genus which is commonly found in tropical and subtropical waters. Polysaccharides are the largest component found in seaweed, and have several biological activities that have the potential in medicinal. Therefore, this study aims to extract and evaluate the polysaccharides in Caulerpa lentillifera as antidiabetic bioactive material. The sample was macerated by adding ethanol and soaked overnight at room temperature. Furthermore, the dry residue was extracted by water at 75oC for three hours. The filtrate precipitation was done by adding ethanol and the crude extract was obtained 4.16%. The crude extract was purified using the DEAE-Sepharose column with the resulting yield obtained 14.8%. Both extracts were then characterized by analyzing total carbohydrates and sulfates using a UV-Vis spectrophotometer, functional groups using FT-IR, sugar components using HPLC, and 1H-NMR analysis. The antidiabetic activity of the two extracts was analyzed by in vitro by the α-glucosidase inhibition method. Based on the results of the analysis, purified polysaccharide extract gave higher antidiabetic activity than crude extract."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
T54495
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Rahmadani
"Metode elektroforesis menawarkan proses pelapisan hidroksiapatit (HA) diatas permukaan logam yang relatif murah, mudah, dan hasil yang homogen. Struktur lapisan sangat ditentukan oleh parameter proses yang dapat dikontrol selama proses pelapisan. Pada penelitian ini digunakan metode elektroforesis untuk melapisi hidrokstiapatit di atas logam Ti. Tegangan divariasikan 20, 30, dan 40 V pada waktu konstan 30 menit. Pengaruh sintering dipelajari dengan memanaskan sebagian sampel pada suhu 950 °C selama 2 jam. Hasil FTIR menunjukkan tidak ada perubahan fasa HA pada serbuk dan lapisan yang dibuktikan dengan kesamaan posisi puncak karbonat (CO32-) dan posfat (PO43-). Tegangan optimum untuk menumbuhkan lapisan HA dengan tebal ~50 µm dan jumlah retakan minimum adalah 30 V. Walau ketebalan meningkat dengan tegangan, namun tegangan 20 dan 40 V menghasilkan lapisan HA yang mengandung banyak pori dan retakan. Ketahanan korosi yang baik diperoleh pada HA yang dideposisi pada tegangan 30 V, yang ditunjukkan oleh nilai resistansi polarisasi tertinggi yaitu 200 kΩ.cm2 satu orde diatas lapisan yang lain pada spectra EIS, serta nilai Icorr terkecil yaitu  8,53x10-9 A.cm-2 yaitu 10x dan 100x lebih kecil dari lapisan 20 dan 40 V pada hasil polarisasi potensiodinamik. Pengaruh sintering belum dapat dianalisis karena data yang diperoleh belum lengkap. Namun, hasil SEM menunjukkan bahwa sintering menimbulkan banyak retakan pada lapisan yang dapat menurunkan nilai proteksi terhadap korosi. Uji bioaktivitas dilakukan dengan perendaman sampel dalam larutan Simulated Body Fluid (SBF) selama 28 hari pada suhu 37°C belum menunjukkan penebalan lapisan HA.

The electrophoresis method offers a hydroxyapatite (HA) coating process on a metal surface that is relatively inexpensive, easy, and has homogeneous results. The structure of the layer is largely determined by the process parameters that can be controlled during the coating process. In this study the electrophoresis method was used to coat the hydroxyapatite on Ti metal. The voltage varies 20, 30, and 40 V at a constant time of 30 minutes. The effect of sintering was studied by heating a part of the sample at 950 ° C for 2 hours. FTIR results showed no changes in the HA phase of the powder and layers as evidenced by the similarity of the positions of the carbonate (CO32-) and phosphate (PO43-) peaks. The optimum stress for growing HA layers is ~ 50 µm thick and the minimum number of cracks is 30 V. Although thickness increases with stress, stresses of 20 and 40 V produce HA layers that contain many pores and cracks. Good corrosion resistance is obtained at HA deposited at a voltage of 30 V, which is indicated by the highest polarization resistance value of 200 kΩ.cm2 one order above the other layers in the EIS spectra, as well as the smallest Icorr value of 8.53x10-9 A.cm- 2 namely 10x and 100x smaller than the 20 and 40 V layers of the potentiodynamic polarization results. The effect of sintering cannot be analyzed because the data obtained is not complete. However, SEM results show that sintering causes many cracks in the coating which can reduce the value of protection against corrosion. Bioactivity tests were carried out by immersing the sample in a Simulated Body Fluid (SBF) solution for 28 days at 37°C but it did not show thickening of the HA layer."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Eka Purnama
"Inovasi dalam bidang rekayasa jaringan dan manufaktur aditif mendorong pengembangan scaffold tulang cerdas yang dapat disesuaikan secara kustomisasi. Scaffold cerdas ini meniru sifat mekanik dan biologis tulang asli, dan memiliki kemampuan self-fitting. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penambahan senyawa bioaktif hidroksiapatit (HAp) pada scaffold berbahan PLA yang dibuat menggunakan metode pencetakan 3D FDM. Scaffold PLA kemudian dilapisi dengan lapisan HAp melalui proses perlakuan alkali selama 1 jam, diikuti dengan coating dispersi 1% w/v HAp. Penambahan HAp bertujuan untuk meningkatkan biokompatibilitas dan bioaktivitas scaffold. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah waktu agitasi coating dispersi HAp, yaitu 0,5, 1, dan 2 jam. Pengaruh waktu agitasi terhadap bioaktivitas dan sifat mekanik scaffold diamati melalui pengujian imersi dalam larutan simulasi cairan tubuh (r-SBF), pengujian swelling, observasi visual menggunakan mikroskop optik, SEM & EDS, dan pengujian kompresi dinamis. Hasil pengujian imersi menunjukkan bahwa scaffold PLA/HAp memiliki bioaktivitas enam kali lipat dibandingkan dengan scaffold PLA dengan variabel 1% w/v HAp-1 jam sebagai kondisi optimal. Deposisi mineral apatit terjadi selama tujuh minggu imersi dalam r-SBF, sedangkan perubahan warna PLA terjadi pada minggu ketiga hingga keempat. Hasil SEM & EDS pada scaffold imersi r-SBF selama 7 minggu menunjukkan ukuran deposisi apatit lebih besar pada sampel PLA/HAp, munculnya porositas pada permukaan scaffold, dan retakan permukaan. Hasil pengujian swelling menunjukkan peningkatan rasio swelling seiring peningkatan waktu agitasi, yang menunjukkan peningkatan sifat hidrofilik scaffold. Namun, penambahan waktu agitasi juga berhubungan dengan penurunan kemampuan self-fitting scaffold. Scaffold PLA dapat mengalami enam siklus kompresi dan pemulihan sebelum mengalami kegagalan, sebesar 97-99%. Sementara itu, scaffold PLA/HAp mengalami kegagalan setelah dua siklus kompresi dan pemulihan, dengan pemulihan mencapai 90-91% akibat intrusi HAp pada penampang strut. Secara keseluruhan, penambahan HAp pada scaffold berbasis PLA meningkatkan biokompatibilitas dan bioaktivitas. Kondisi optimalnya adalah 1% w/v HAp-1 jam, memberikan solusi yang menjanjikan untuk aplikasi regenerasi medis dan rekayasa jaringan.

Innovation in the field of tissue engineering and additive manufacturing is driving the development of customizable smart bone scaffolds. These smart scaffolds mimic the mechanical and biological properties of natural bone and possess self-fitting capabilities. This research aims to investigate the influence of adding bioactive compound hydroxyapatit (HAp) to PLA-based scaffolds produced using the FDM 3D printing method. The PLA scaffold was subsequently coated with an HAp layer through an alkaline treatment process for 1 hour, followed by a 1% w/v HAp dispersion coating. The addition of HAp aims to enhance the biocompatibility and bioactivity of the scaffold. The variable observed in this study is the agitation time for the HAp dispersion coating, which was set at 0.5, 1, and 2 hours. The influence of agitation time on the bioactivity and mechanical properties of the scaffold was evaluated through immersion testing in simulated body fluid (r-SBF), swelling testing, visual observation using optical microscopy, SEM & EDS analysis, and dynamic compression testing. The immersion test results revealed that the PLA/HAp scaffold exhibited six times higher bioactivity compared to the PLA scaffold, with the optimal condition being 1% w/v HAp-1 hour. Apatit mineral deposition occurred during a seven-week immersion in r-SBF, while PLA color change was observed from the third to fourth week. SEM & EDS analysis of the scaffolds immersed in r-SBF for seven weeks showed larger apatit deposition on the PLA/HAp samples, the appearance of surface porosity in the scaffold, and surface cracking. Swelling testing demonstrated an increase in swelling ratio with longer agitation time, indicating improved hydrophilic properties of the scaffold. However, longer agitation time was also associated with a decrease in the self-fitting ability of the scaffold. The PLA scaffold endured six cycles of compression and recovery before failure, with a recovery rate of 97-99%. In contrast, the PLA/HAp scaffold failed after two cycles of compression and recovery, with a recovery rate of 90-91% due to HAp intrusion into the strut cross-section. In summary, adding HAp to PLA-based scaffolds enhances biocompatibility and bioactivity. The optimal condition is 1% w/v HAp-1 hour, providing a promising solution for regenerative medicine and tissue engineering applications."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raisa Hajraeni
"Magnesium dan paduannya telah menjadi salah satu fokus menarik dalam penelitian di bidang material, khususnya untuk aplikasi implan biomedis karena bersifat biodegradable. Namun, tantangan utama dari magnesium ialah ketahanan korosinya yang rendah. Modifikasi permukaan yang dapat digunakan karena efektif untuk meningkatkan ketahanan korosi pada magnesium adalah Plasma Electrolytic Oxidation (PEO). Namun, lapisan PEO menunjukkan bioaktivitas yang rendah, sehingga pertumbuhan apatit berlangsung lambat. Dalam penelitian ini, proses PEO dilakukan menggunakan elektrolit berbasis fosfat, yaitu Na3PO4-KOH dan penambahan ion Ca berupa Ca(OH)2. Untuk meningkatkan mobilitas ion khususnya ion Ca agar dapat masuk ke dalam lapisan oksida, proses PEO dimodifikasi menggunakan ultrasonikasi. Proses PEO dilakukan dalam dua kondisi, yaitu tanpa (PEO) dan dengan ultrasonikasi (UPEO), serta waktu oksidasi divariasikan 10, 15, dan 20 menit. Berdasarkan hasil analisis fasa XRD, terdapat fasa kristalin Mg dan Mg3(PO4)2 pada masing-masing lapisan, serta tambahan fasa C5(PO4)3OH atau HA pada lapisan UPEO. Penggunaan ultrasonikasi cenderung meningkatkan persentase pori pada permukaan lapisan oksida hingga 26% dibandingkan lapisan PEO. Kekerasan lapisan PEO meningkat hingga 6 kali dari substrat, sedangkan lapisan UPEO meningkat hingga 2-4 kali dari substrat. Hasil uji polarisasi menunjukkan bahwa sampel lapisan PEO memiliki ketahanan korosi yang lebih baik dibandingkan sampel lapisan UPEO, dengan nilai Icorr terendah yang didapat dari pengujian PDP dan nilai hambatan total (Rp) yang lebih besar yang didapat dari hasil uji EIS. Hasil uji bioaktivitas menunjukkan adanya penumbuhan lapisan baru akibat dari endapan putih yang menutupi pori-pori pada permukaan sampel yang didukung dengan bertambahnya kandungan Ca pada masing-masing sampel dari hasil analisis EDS. Penambahan Ca(OH)2 dalam elektrolit PEO terbukti dapat meningkatkan bioaktivitas lapisan.

Magnesium and its alloys have become an attractive focus of research in materials science, especially for biomedical implant applications, because they are biodegradable. However, the main challenge of magnesium is its low corrosion resistance. The surface modification method that can effectively increase the corrosion resistance of magnesium is Plasma Electrolytic Oxidation (PEO). However, the PEO layer showed low bioactivity, so the apatite grew slowly. In this study, the PEO process used of phosphate-based electrolyte, namely, Na3PO4-KOH and the addition of Ca ions in the form of Ca(OH)2. To increase the mobility of ions, especially to enter the Ca ion into the oxide layer, a PEO process was modified using ultrasonication. The PEO process was carried out in two conditions, namely without (PEO) and with the ultrasonication (UPEO), and time variations were carried out for 10, 15, and 20 minutes. Based on the results of XRD phase analysis, there are crystalline phases of Mg and Mg3(PO4)2 detected in each layer and additional Ca5(PO4)3OH or HA phase detected in the UPEO layer. The use of ultrasonication tends to produce the oxide layer with a higher percentage of pores until 26%. The hardness value of the PEO layer was increased up to 6 times higher than the substrate, while the UPEO layer only reached 2 – 4 times. The results of the polarization test show that the PEO coatings have better corrosion resistance than the UPEO coatings, with the lowest Icorr values obtained from the PDP test and a higher total resistance (Rp) value obtained from the EIS test results. The results of the bioactivity test showed the growth of a new layer because white particles covered the pores on the sample surface, which is supported by the increasing content of the Ca from the EDS analysis in each sample. The addition of Ca(OH)2 in the electrolyte was proven to increase the bioactivity of the PEO coatings."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ike Dwi Maharti
"Latar Belakang: Siler biokeramik berbasis kalsium silikat diketahui memiliki biokompabilitas tinggi, mampu beradhesi dengan dinding saluran akar serta dapat menginduksi respon osteogenik, yang dikategorikan sebagai material biomimetik. Akan tetapi, siler biokeramik memiliki kekurangan pada sifat fisiknya. Kitosan larut air merupakan bentuk modifikasi kitosan yang memiliki keunggulan sebagai antioksidan, antibakteri, berperan dalam penyembuhan lesi dan regenerasi jaringan serta sebagai dapat memperbaiki sifat fisik semen. Perpaduan kedua bahan dapat menciptakan semen saluran akar biomimetik.
Tujuan: Melakukan uji karakteristik, sifat fisik dan biologis terhadap novel siler hibrida biokeramik-kitosan larut air (BCC) sebagai semen biomimetik saluran akar.
Metode: Novel siler hibrida BCC dimanipulasi dari semen biokeramik (BC) yang telah melalui proses ball-milling dan sintering, kemudian dicampur kitosan larut air dengan W/P 0,4. Empat variabel penelitian, yaitu semen biokeramik BC, novel siler hibrida BCC, siler biokeramik dan siler epoksi resin dilakukan uji karakterisasi (XRD, SEM/EDS), uji sifat fisik (setting time, daya alir, film thickness), serta uji biologis (sitotoksisitas dan bioaktivitas terhadap hPDLSCs).
Hasil: Novel siler hibrida BCC mengandung unsur dan puncak kristalin yang serupa dengan siler biokeramik (Sure-Seal Root™), memiliki bentuk partikel yang cenderung globular dan homogen dengan jarak antarpartikel lebih rapat serta ukuran partikel deskriptif yang lebih besar dibandingkan Sure-Seal Root™ dan AH Plus® tetapi lebih kecil dibandingkan semen biokeramik BC. Hanya semen biokeramik BC dan novel siler BCC yang memiliki rasio Ca/Si/P. Novel siler BCC menunjukkan perbedaan setting time, daya alir dan film thickness yang bermakna dengan semen biokeramik BC, Sure-Seal Root™ dan AH Plus®. Keempat kelompok menunjukkan sitotoksisitas rendah terhadap hPDLSCs. Bioaktivitas novel siler BCC relatif lebih tinggi dibandingkan semua kelompok perlakuan dan kontrol.
Kesimpulan: Novel siler hibrida BCC berpotensi memberikan implikasi klinis yang baik, menunjukkan sifat fisik yang mendekati standar semen saluran akar dan memiliki bioaktivitas sebagai semen biomimetik saluran akar.

Background: Currently, bioceramic sealers with calcium silicate based have been developed and show high biocompatibility, are able to adhere to root canal dentin and can induce an osteogenic response, which can be categorized as biomimetic materials. On the other hand, water-soluble particle (WSP) chitosan, one of chitosan derivatives, has advantages as an antioxidant, antibacterial, plays a role in wound healing and tissue regeneration as well as a thickening agent. The combination of these two materials can create a biomimetic endodontic sealer.
Objective: To examine the characteristics, physical and biological properties of novel bioceramic-chitosan hybrid sealer (BCC) as biomimetic endodontic sealer.
Methods: Novel BCC sealer were manipulated from bioceramic cement (BC) which had been synthesized through a ball-milling and sintering process, then mixed with WSP chitosan with a W/P of 0,4. Four variables, namely novel BCC sealer, BC bioceramic cement, bioceramic and epoxy resin sealer were tested characterization (XRD, SEM/EDS), physical properties (setting time, flow, film thickness), and biological tests (cytotoxicity and bioactivity on hPDLSCs).
Results: Novel BCC sealer showed bioceramic elements and crystalline peaks similar to bioceramic sealer (Sure-Seal Root™), had a particle shape that tends to be globular and homogeneous with descriptive particle size larger than Sure-Seal Root™ and AH Plus® but smaller compared to BC bioceramic cement. Only BC bioceramic cements and novel BCC sealer had Ca/Si/P ratios. Novel BCC sealer showed significant differences in setting time, flow, and film thickness with BC bioceramic cements, Sure-Seal Root™ and AH Plus®. The four groups showed low cytotoxicity to hPDLSCs. The bioactivity of novel BCC sealer was relatively higher among other groups and control group.
Conclusion: Novel BCC hybrid sealer has good clinical implications, exhibit physical properties close to standard root canal cements and have bioactivity as root canal biomimetic sealer.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Yulli Kartika
"Banyaknya penggunaan plastik konvensional menyebabkan penumpukan sampah plastik, sehingga menimbulkan masalah lingkungan. Plastik biodegradable berbahan dasar selulosa dapat digunakan sebagai alternatif pengganti plastik konvensional, karena ramah lingkungan, mudah didapat dan mudah terdegradasi. Namun, penggunaan selulosa sebagai bahan dasar bioplastik diperlukan modifikasi fisika atau kimia untuk meningkatkan sifat fisik dan mekaniknya. Pada penelitian ini, peningkatan sifat fisik dan mekanik bioplastik berbahan dasar selulosa dilakukan dengan penambahan PVA dan menggunakan agen pengikat silang glutaraldehid serta filler kitosan. Optimasi sintesis film selulosa/PVA dilakukan dengan variasi glutaraldehid 0-56% dan kitosan 0-33%. Hasil sintesis film bioplastik diuji ketebalan, swelling dan kelarutan, biodegradabilitas dan sifat mekanik, konsentrasi optimum masing-masing variasi glutaraldehid dan kitosan dikarakterisasi dengan TGA, FT-IR, SEM dan XRD. Film bioplastik ini juga ditambahkan senyawa aktif antimikroba dan antioksidan Rosemary Essential Oil (REO) untuk meningkatkan keunggulan bioplastik. Hasil penelitian menunjukkan modifikasi filmselulosa/PVA yang diikat silang dengan glutaraldehid dan penambahan filler kitosan dapat meningkatkan sifat fisik dan mekanik bioplastik, dengan konsentrasi optimum masing-masing variasi adalah 56%(b/b) dan 33%(b/b), serta terbukti dapat meningkatkan keunggulan bioplastik karena memiliki aktivitas antimikroba dan antioksidan

A large number of conventional plastic use causes an accumulation of plastic waste, causing environmental problems. Cellulose-based biodegradable plastics can be used as an alternative to conventional plastics, because they are environmentally friendly, easy to obtain, and easily degraded. However, the use of cellulose as a bioplastic base material requires physical or chemical modifications to improve it is physical and mechanical properties. In this study, improvement of physical and mechanical properties of cellulose-based bioplastics was carried out by adding PVA and using glutaraldehyde crosslinking agent and chitosan filler. Optimization of cellulose/PVA films synthesis was done with a series concentration of glutaraldehyde and chitosan, 0-56% and 0-33% (w/w) respectively. The results of bioplastic film synthesis were evaluated for thickness, swelling and solubility, biodegradability and mechanical properties, the optimum concentration of each variation of glutaraldehyde and chitosan was characterized by TGA, FT-IR, SEM, and XRD. Bioplastic films were also added to the antimicrobial and antioxidant properties of Rosemary Essential Oil (REO) to increase the superiority of bioplastics. The results showed that the modification of the cellulose/PVA film crosslinked with glutaraldehyde and the addition of chitosan filler improve the physical and mechanical properties of bioplastic, with the optimum concentration of each variation being 56% (w/w) and 33% (w/w). The addition of Rosemary Essential Oil has been proven can increase the capability of bioplastics because of antimicrobial and antioxidant activity."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alvita Ramadhina
"Titanium memiliki sifat inert dan biokompatibel sebagai bahan dasar implan tulang manusia. Namun, titanium tidak dapat menginduksi osseointegrasi yang berfungsi untuk mempercepat pemulihan tulang karena tidak memilliki sifat bioaktif sehingga dibutuhkan modifikasi permukaan titanium dengan lapisan material bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh energi laser terhadap sifat bioaktivitas Ti-6Al-4V dengan deposisi lapisan tipis magnesium hidroksiapatit menggunakan metode Pulsed Laser Deposition (PLD) ND:YAG dengan panjang gelombang 532 nm (second harmonic). Variasi energi laser berada di energi 60 mJ, 80 mJ, dan 100 mJ. Sampel hasil coating kemudian di-annealing pada temperatur 300 ?C selama dua jam dengan heating rate 5 ?C. Tiap sampel hasil coating kemudian akan direndam dalam r-SBF (Revised Simulated Body Fluid) selama 14 hari dengan temperatur 37 ?C dalam water bath. Karakterisasi sampel hasil coating meliputi uji SEM-EDS, uji XRD, uji kemampubasahan (wettability). Dengan membandingkan uji EDS sampel hasil coating dengan energi 80 mJ memiliki rasio Ca:P tertinggi dibanding sampel lain. Perbandingan hasil tiap sampel menunjukkan semakin tinggi energi laser akan menghasilkan lapisan tipis dengan kemampubasahan lebih rendah. Selain itu, ditemukan bahwa penggunaan energi laser PLD ND:YAG (532 nm) pada energi 60 mJ, 80 mJ, dan 100 mJ tidak berpengaruh pada kristalinitas hidroksiapatit dan hasil deposisi hidroksiapatit merupakan amorf.

Titanium has inert and biocompatible properties as the base material of human bone implants. However, titanium cannot induce osseointegration which serves to accelerate bone recovery because it does not have bioactive properties so it requires modification of the titanium surface with a layer of bioactive material. This study aims to determine the effect of laser energy on the bioactivity properties of Ti-6Al-4V by deposition of a thin layer of magnesium hydroxyapatite using the Pulsed Laser Deposition (PLD) method with a wavelength of 532 nm (second harmonic) using ND: YAG laser. Laser energy variations are at energies of 60 mJ, 80 mJ, and 100 mJ. The coating sample was then annealed at 300 ?C for two hours with a heating rate of 5 ?C. Each coated sample will then be immersed in r-SBF (Revised Simulated Body Fluid) for 14 days at a temperature of 37 ?C in a water bath. Characterization of coating samples includes SEM-EDS test, XRD test, and wettability test. By comparing the EDS test, the coating sample with an energy of 80 mJ has the highest Ca:P ratio compared to other samples. A comparison of the results of each sample shows that the higher the laser energy will produce a thin layer with lower wettability. In addition, it was found that the use of ND:YAG (532 nm) PLD laser energy at energies of 60 mJ, 80 mJ, and 100 mJ had no effect on the crystallinity of hydroxyapatite and the resulting hydroxyapatite deposition was amorphous."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Mamluatus Sa`adah
"Peningkatan kebutuhan dan produksi plastik konvensional menimbulkan masalah lingkungan. Biodegradable plastic berbahan dasar pati dapat digunakan sebagai alternatif pengganti plastik konvensional, karena ramah lingkungan, mudah didapat dan mudah terdegradasi. Namun, penggunaan pati sebagai bahan dasar bioplastik diperlukan modifikasi fisika atau kimia untuk meningkatkan sifat fisik dan mekaniknya. Pada penelitian ini, peningkatan sifat fisik dan mekanik bioplastik berbahan dasar pati dilakukan dengan grafting asam laktat dan menambahkan polivinil alkohol, crosslinker asam sitrat (0-25%) serta filler selulosa tongkol jagung 2-8% (b/b pati-g-PLA dan PVA). Film bioplastik juga ditambahkan senyawa aktif antioksidan dan antimikroba daun sirih untuk meningkatkan keunggulan bioplastik. Hasil penelitian menunjukkan modifikasi film Pati-g-PLA/PVA-crosslinked asam sitrat dan penambahan filler selulosa dapat meningkatkan sifat fisik dan mekanik bioplastik, dengan konsentrasi optimum masing-masing variasi adalah 5% (b/b) dan 6% (b/b). Penambahan ekstrak metanol daun sirih juga terbukti dapat meningkatkan keunggulan bioplastik karena memiliki aktivitas antioksidan.

The increasing production of conventional plastics raises environmental problems. Starch-based biodegradable plastics can be used as an alternative to conventional plastics, because they are environmentally friendly, renewable and easily degraded. However, the use of starch as a bioplastic base material requires physical or chemical modifications to improve its physical and mechanical properties. In this study, the improvement of the physical and mechanical properties of starch-based bioplastics was carried out by grafting lactic acid and adding polyvinyl alcohol, citric acid crosslinker (0-25%) and corncob cellulose filler (2-8%, w/w starch-g-PLA and PVA). Bioplastic films are also added with active antioxidant and antimicrobial compounds of betel leaf to increase the advantages of bioplastics. The results showed that modification of the starch-g-PLA/PVA-crosslinked citric acid film and the addition of cellulose fillers could improve the physical and mechanical properties of the bioplastic, with the optimum concentrations of each variation being 5% (w/w) and 6% (w/w). ). The addition of betel leaf methanol extract has also been shown to increase the advantages of bioplastics because it has antioxidant activity."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library