Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 35 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nunung Kurniasih
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
S26427
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Kartika Ulfa
"Skripsi ini membahas tentang keluhan nonauditory terhadap tingkat kebisingan di Dept. Cor Unit II PT. X. Keluhan nonauditory meliputi gangguan komunikasi, gangguan psikologis dan gangguan fisiologis. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan semikuantitatif, cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2016. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kebisingan di Departemen Cor Unit II di PT. X berkisar antara 80,1 - 99,3 dB (A) dan gambaran tingkat kebisingan dengan keluhan yang dirasakan oleh para pekerja, keluhan yang paling banyak dirasakan adalah lelah (76,2%), tidak nyaman (71,4%), harus berteriak (61,9%) dan harus memperkeras suara (61,9%).

This thesis discusses complaints nonauditory against the noise level in Dept. Cast Unit II PT. X. Complaints nonauditory are physiological disorders, psychological disorders, and communication disorders. This research is descriptive research by using a semiquantitative, cross-sectional. This study was conducted in May and June 2016. The results show the noise level in the Department of Cor Unit II PT. X ranged from 80,1 to 99,3 dB (A) and the description of the noise level with subjective complaints felt by workers, complaints are the most widely perceived fatigue (76.2%), discomfort (71, 4%), had to shout (61.9%) and should amplify the sound (61.9%).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
S63377
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Irma Nova Prihatini
"ABSTRAK
Latar belakang: Bising dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Selain intensitas bising, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah jenis bising. Jenis bising yang berbeda akan menyebabkan efek pendengaran yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan gambaran audiogram antara pekerja yang terpajan bising kontinu dan bising intermiten, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Metode: Penelitian Cross Sectional Comparative dilakukan pada pekerja bagian fabrication dan assembling di industri alat berat. Data yang diperoleh dari kuesioner dan rekam medis berupa umur, status pernikahan, masa kerja, kadar gula darah, tekanan darah, kebiasaan merokok, hobi, dan hasil pemeriksaan audiometri.
Hasil: Dari 167 orang pekerja, terdapat 15 orang (9%) yang mengalami peningkatan gambaran audiogram. Dari 15 orang pekerja tersebut, 13 orang (86,7%) terpajan bising kontinu dan 2 orang (13,3%) terpajan bising intermiten. Pekerja dengan umur > 40 tahun mempunyai risiko peningkatan gambaran audiogram sebesar lebih dari 4 kali lipat (OR = 4,44, 95% CI = 1,21-16,4, p = 0,016). Mereka yang memiliki masa kerja > 3,9 tahun berisiko lebih tinggi mengalami gambaran audiogram yang meningkat. Dan mereka yang mendapat pajanan bising kontinu dibandingkan bising intermiten memiliki risiko sebesar hampir 5 kali lipat mengalami peningkatan gambaran audiogram (OR = 4,73, 95% CI = 1,03-21,7, p = 0,030).
Kesimpulan: Umur yang tua, masa kerja yang lama, dan pajanan terhadap bising kontinu meningkatkan risiko terjadinya peningkatan gambaran audiogram pada pekerja.

ABSTRACT
Background: Noise may cause hearing disorder. Not only its intensity, the types of noise are also contributing factors that need to be considered. Different types of noise may cause different auditory effects. This study aimed to compare the audiograms between workers who are exposed to continuous noise and intermittent noise, along with its contributing factors.
Methods: A cross sectional comparative study was conducted on heavy equipment industry workers in fabrication and assembling department. Data that collected from questionnaires and medical records were age, marital status, work period, blood sugar level, blood pressure, smoking habbit, hobby, and the results of audiometric examination.
Results: Amongst 167 workers, there were 15 people (9%) who had an increase of audiogram image. Out of these 15 workers, 13 people (86,7%) exposed to continuous noise and 2 people (13,3%) exposed to intermittent noise. Workers at age above 40 had risk more than 4-fold of having an increase of audiogram image (OR = 4,44, 95% CI = 1,21-16,4, p = 0,016). Those who had work period more than 3,9 years were at high risk in having an increase of audiogram image. And those who were exposed to continuous noise compare to intermittent noise had risk nearly 5-fold of having an increase of audiogram image (OR = 4,73, 95% CI = 1,03-21,7, p = 0,030).
Conclusion: Old age, long working period, and exposure of continuous noise increase risk of an increased audiogram image on workers.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T58880
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Nugroho Ratrian C.
"Rumah sakit sebagai tempat proses penyembuhan dan pemulihan kesehatan, merupakan bangunan yang membutuhkan batas toleransi paparan kebisingan guna kenyamanan akustik pasien. Namun karena laju pertumbuhan pembangunan kota dan pemilihan lokasi rumah sakit yang mempertimbangkan kemudahan dalam menjangkau, maka saat ini rumah sakit di kota besar cenderung berada di lingkungan dengan intensitas kebisingan yang lebih besar dari batas yang diperbolehkan. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pengendalian kebisingan yang tepat bagi bangunan rumah sakit yang berada tepat di pinggir jalan utama di kota besar.
Hasil tersebut dikaji secara arsitektural guna memperoleh kenyamanan akustik bagi pasien rumah sakit menurut standar yang telah ditetapkan. Untuk mengetahui besar dan pengaruh kebisingan yang terjadi, maka dilakukan pendataan fisik melalui tahapan pengukuran sesuai metode purposive sampling yang obyek pendataannya meliputi sumber serta jenis kebisingan, besar paparan kebisingan pada titik tertentu, dan pengaruh terhadap kenyamanan pasien. Pada hasil penelitian memperlihatkan bahwa rumah sakit ini masih mendapatkan paparan kebisingan di atas ambang yang ditentukan, baik oleh Departemen Kesehatan RI maupun oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sehingga perlu diadakan perbaikan lingkungan secara akustik.

Hospital as a place of healing and recovery process of health is a building that requires tolerance limit of noise intensity due to the acoustic comfort of the patients. However, because the rate of growth of the city development and selection of the location of the hospital consider the ease in reaching, the hospitals at this time in big cities tend to be in an environment with noise intensity in higher number that allowed. Writing this mini thesis aims to understand the control of noise that is ideal ways for building a hospital that is located right on the roadside in the major cities.
The results are reviewed in order to obtain architectural acoustic comfort for the patient's hospital according to the standards that have been defined. To find out the effects of noise, then the research uses physical measurement method according to purposively sampling of the objects include source and type of noise, noise intensity at the certain point, and the effects for patient comfort. As a result, the research shows that hospitals are still getting noise exposure above the threshold determined, both by the Department of Health Republic of Indonesia and by the World Health Organization (WHO) so it needs to be improved in the acoustic environment ideal standard.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51586
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Eva Nuraini
"Kebisingan merupakan suatu bahaya fisik yang masih menjadi masalah di dunia industri. Pajanan bising intensitas tinggi dapat mempengaruhi fungsi pendengaran dan non pendengaran pekerja. PT. X merupakan suatu industri semen yang memiliki bahaya bising di area produksi, khususnya area raw mill, pembakaran, dan finish mill. Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran pajanan bising, serta melihat gambaran fungsi pendengaran dan keluhan subjektif non pendengaran yang dirasakan oleh pekerja. Penelitian dilakukan dengan metode cross sectional, dengan subjek penelitian adalah seluruh pekerja patrol untuk area raw mill, pembakaran, dan finish mill sebanyak 20 orang.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat kebisingan area produksi (raw mill, pembakaran, dan finish mill) secara keseluruhan berkisar antara 75,4-108,2 dBA, pajanan bising yang diterima pekerja berkisar antara 81,5 ? 92,8 dBA. Terdapat 2 orang (10%) pekerja mengalami tuli ringan berdasarkan Permenakertrans No. 25 Tahun 2008 dari hasil rata-rata frekuensi 500, 1000, 2000 dan 4000 Hz, dan terdapat 2 orang (10%) mengalami NIHL berdasarkan frekuensi 4000 Hz. Faktor yang berkontribusi pada kejadian gangguan pendengaran pada pekerja antara lain, usia, masa kerja, penggunaan alat pelindung telinga yang tidak disiplin dan penggunaannya tidak tepat, riwayat pekerjaan dan perilaku merokok. Keluhan subjektif non pendengaran terkait bising yang paling banyak dirasakan oleh pekerja yaitu, perasaan tidak nyaman (85%).

Noise is a physical hazard which still a problem in the industrialized world. Exposure to high intensity of noise can affect hearing function and non-hearing function. PT. X is a cement industry possessing the noise hazard in the production area, especially at raw mill, kiln and finish mill area. The purpose of this study is to provide an overview of the noise exposure, as well as the auditory function and subjective complaints of non auditory perceived by workers. This study was conducted by cross sectional method, and the subjects of this study were all patroler workers for raw mill, kiln and mill finish area, which all 20 subjects participated in the study.
The results showed that overall noise level at production area (raw mill, kiln and mill finish) ranged from 75.4 to 108.2 dBA, noise exposure to workers ranged from 81,5 ? 92,8 dBA. There are 2 workers (10%) suffering mild deafness from the calculation of the average frequency of 500, 1000, 2000 and 4000 Hz based on Permenakertrans No. 25 Tahun 2008, and there are two workers (10%) suffering NIHL based on frequency of 4000 Hz. Factors contributing to the incidence of hearing loss in workers are age, working period, undisciplined and improper use of ear protection, work history and smoking behavior. The majority subjective complaints of non auditory related noise perceived by workers is annoyance (85%).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
S64707
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadira Nur Amyra
"Skripsi ini membahas mengenai pengendalian bising di kawasan ramai dalam penjagaan kualitas akustik lingkungan teater agar optimal. Tulisan ini membahas berbagai metode dan teknik yang diterapkan untuk mereduksi bising, baik dari sumber eksternal maupun internal. Teori mengenai perambatan bunyi, refleksi, difusi, dan absorpsi dijelaskan untuk memberikan pemahaman mengenai cara-cara mengendalikan kebisingan. Studi ini juga membahas tahapan untuk mengidentifikasi masalah bising yang terjadi pada teater dan cara pengendaliannya melalui insulasi suara, lapisan penyerap, dan desain struktural. Gedung Kesenian Jakarta digunakan sebagai studi kasus karena letaknya berada di persimpangan jalan yang ramai. Pengendalian bising dilakukan dengan perhitungan sound transmission loss dan reverberation time dari pengamatan langsung ke studi kasus untuk mencapai noise rating yang sesuai standar. Hasil dari studi ini menciptakan pengalaman audio yang optimal bagi pengguna teater.

This study discusses noise control in busy areas in maintaining optimal acoustic quality of the theater environment. Various methods and techniques are applied to reduce noise, both from external and internal sources. Theories regarding sound propagation, reflection, diffusion, and absorption are explained to provide an understanding of ways to control noise. This study also discusses the stages for identifying noise problems that occur in theaters and how to control them through sound insulation, absorbing layers and structural design. Gedung Kesenian Jakarta is used as a case study because it is located at a busy road intersection. Noise control is carried out by calculating sound transmission loss and reverberation time from direct observations of the case studiy to achieve a noise rating that meets standards. The results of this study create an optimal audio experience for theater users."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moch. Arif Wicaksono
"Peneliti dr. Jenny Bashirudin SpTHT, dan Moch.Arif Wicaksono SSi. Objek penelitian Supir Bajaj dan kendaraannya. Tempat Penelitian RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jalan sekitar Jalan Diponegoro, Jalan Salemba Raya, Jalan Raden Saleh dan Jalan Cikini Raya serta gedung Pasca Sarjana Program Studi Opto Elektroteknika dan Aplikasi Laser Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Perkembangan teknologi komputer yang semakin pesat, membuat manusia menjadi sangat terbantu dalam menyelesaikan perhitungan-perhitungan yang cukup sulit jika dilakukan dengan cara manual. Salah satu contoh adalah pemanfaatan komputer dalam menyelesaikan masalah DSP (Digital Signal Processing).
Tanpa bantuan komputer, masalah ini akan sulit diselesaikan. Dari pencuplikan, filtering sampai pada pembuatan spektrum komputer sangat berperan penting, tentunya semua ini juga harus didukung oleh Algoritma yang efisien dan efektif.
Dalam penyelesaian mencari spektrum dari kendaraan Bajaj ini, dibuat sebuah aplikasi dengan memanfaatkan algoritma FFT (Fast Fourier Transform). Algoritma ini diyakini cepat sekali dalam mengubah domain waktu menjadi domain frekuensi. Dari hasil penelitian didapat bahwa spektrum kendaraan Bajaj mempunyai intensitas dominan pada frekuensi 4000 Hz. "
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2000
T9961
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Iting Shofwati
"Kebisingan yang dihasilkan dari proses industri dan jalan perkotaan mungkin mencapai tingkat yang berlebihan dan menyebabkan dampak negatif pada kesehatan manusia. Pada situasi ini, barrier biasa digunakan untuk mengurangi dampak kebisingan. Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan barrier ramah lingkungan untuk mengendalikan kebisingan industri dan jalan raya perkotaan. Penggunaan daur ulang styrofoam sebagai bahan baku batafoam diharapkan dapat menyelesaikan 2 masalah yaitu polusi suara dan limbah.
Batafoam yang terbuat dari daur ulang styrofoam, agregat halus, semen, dan air memiliki beberapa kemampuan yang unik untuk mengurangi kebisingan. Berbagai campuran semen dan agregat halus (1:4, 1:6, 1:8) yang diproduksi dengan mengganti agregat halus dengan styrofoam sebanyak 0%, 20%, 40%, 60%, dan 80% dari volume. Lima belas prototipe batafoam diproduksi rangkap tiga. Densitas, porositas, kuat tekan, koefisien penyerapan suara (?), Noise Reduction Coefficient (NRC), Transmission Loss (TL), dan Sound Transmission Class (STC) diteliti. Pengujian akustik baik absorpsi maupun TL menggunakan Dua Mikrofon dan Empat Mikrofon Impedance Tubes (tipe 2406) dari Bruel dan Kjael sesuai dengan prosedur standar ISO 10534-2. Rentang frekuensi maksimum adalah 6400 Hz.
Studi ini jelas menunjukkan bahwa densitas dan kekuatan tekan batafoam cenderung menurun sejalan dengan peningkatan persentase styrofoam. Komposisi 1: 6 dengan 60-80% styrofoam dan 1: 8 dengan 40-80% styrofoam tidak memenuhi persyaratan aplikasi struktural, tetapi tetap memiliki kemampuan TL yang baik. Karakteristik akustik batafoam menunjukkan bahwa ? berada di kisaran 0,15-0,29, masuk material peredam kelas E. NRC berada di kisaran 0,18-0,33, masuk bahan nonreflektif.
Kemampuan absorpsi batafoam lebih baik dari beton dan dinding bata. Nilainilai STC berada di kisaran 37-40 dB, memenuhi kriteria desain partisi (1) antara kantor dan kantor yang berdekatan, (2) antara kantor dan eksterior bangunan, (3) antara kelas, dan (4) kelas dengan koridor. Batafoam memiliki TL yang baik (> 45 dB), sehingga sangat potensial sebagai bahan penghalang kebisingan. Batafoam efektif mereduksi kebisingan lebih dari 5 dBA. Biaya penerapan barrier adalah 1 dBA /orang/tahun lebih rendah dari biaya penggunaan APT (dengan skenario penggantian APT sekali / bulan atau 1 kali /3bulan).

The noise resulted from industrial process and urban road might reach excessive level and lead to negative impact on human health. In this situation, sound barrier were commonly used to mitigate the noise impact. This research aimed at the development of environmentally friendly barrier for noise control on industry and urban freeways. The use of recycled expanded polystyrene (EPS) in the form of batafoam was expected to combat the existing problems of both noise and waste pollution.
The batafoam, which has some unique capabilities to mitigate noise, was made from recycled EPS, fine aggregate, cement, and water. Various mixture of cement and fine aggregate (1:4, 1:6, 1:8) were produced by replacing fine aggregate with EPS as much as 0%, 20%, 40%, 60%, and 80% of volume. Fifteen prototypes of batafoam were produced triplicate. The density, porosity, compressive strength, sound absorption coefficient (?), Noise Reduction Coefficient (NRC), Transmission Loss (TL), and Sound Transmission Class (STC) were investigated. Two-Microphone and Four-Microphone Impedance rubes (type 2406) of Bruel and Kjael were applied to measure the normal incident absorption coefficient and transmission loss according to the ISO 10534-2 standard procedure. The maximum frequency range of measure was 6400 Hz.
This study clearly demonstrated that the density and compressive strenght of the batafoam tended to decrease as increasing of the percentage of content of EPS. Composition 1:6 with 60-80% of EPS and 1:8 with 40-80% of EPS did not meet the requirements of structural application. The acoustic characteristics of batafoam indicated that ? were in range of 0.15 to 0.29 and were classified as class E of absorbing material. NRCs were in range of 0.18 to 0.33 and were classified as non-reflective material. Those were better than concrete and masonry's sound absorption characteristic.
The STC values were in range of 37-40 dB, which mean they met the design criteria partition (1) between office and adjacent office, (2) between office and exterior of building, (3) between classes, and (4) class with corridor. The batafoam had good transmission loss (>45 dB), so it is potential to utilize the EPS waste as a noise barrier materials. It was effective as well to reduce noise more than 5 dBA. the barrier application cost was 1 dBA/person/year lower than the cost of Hearing Protection Devices use (with once/ month and one/ 3months subtitution).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2015
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>