Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Leta Lestari
"Tesis desain ini berawal dari sebuah konsep exaggeration yang menjadi awal penemuan sebuah metode perancangan yang berbasis pada konteks. Konteks yang tidak bisa dilepaskan dalam sebuah perancangan dianalisis menggunakan metode layering yang menjadi bagian penting dari konsep exaggeration. Metode layering dalam konteks spasial melibatkan interaksi yang terjadi pada tiga layer, Layer pertama merupakan layer yang menggambarkan adanya hasrat manusia yang perlu dipenuhi. Kemudian layer tersebut ditanggapi oleh layer kedua yang mencoba memasukkan order ke dalamnya. Namun order tersebut seringkali tidak bisa memenuhi kebutuhan pada layer pertama yang akhirnya memunculkan layer ketiga sebagai tanggapan atas layer dua untuk memenuhi layer pertama.
Dalam proses perancangan selanjutnya, layer ketiga merupakan layer terjadinya perkembangan desain yang terbentuk dari interaksi antara layer satu dan layer dua. Perkembangan metode layering diimplementasikan melalui gagasan choreography of movement yang menjadikan movement sebagai hal utama yang menjadi dasar dalam perancangan sebuah pasar di daerah Tanah abang.

This design thesis begins from the concept of exaggeration as an initial idea to context based design method. Context inherent in design process is analyzed by layering method, which is an important aspect on exaggeration. Layering method on spatial context involves three layers of interaction. The first layer describes the human desire to be fulfilled. The second layer responds to the first by trying to impose order into it. However, the order is often unable to meet the needs of the first layer, and this eventually leads to the formation of the third layer in response to the second layer to meet the human desire on the first layer.
In the design process, the third layer is where the design ideas develop, the created by interaction between the first and the second layer. The development of layering method then focuses on the idea of choreography of movement, in which movement becomes the main basis for design development of market in Tanah Abang.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
T39308
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Nabilla Putri
"ABSTRAK
Keberadaan Pusat Kesenian Jakarta - Taman Ismail Marzuki PKJ-TIM merupakan respon terhadap kebutuhan seniman akan ruang berekspresi. Didirikan oleh Ali Sadikin pada tahun 1968, Taman Ismail Marzuki dilengkapi dengan berbagai fasilitas sehingga dapat menampung berbagai kegiatan kesenian. Pada tahun 1970-1990an, menampilkan karya di taman Taman Ismail Marzuki menjadi patokan sukses bagi seniman-seniman, bukan hanya seniman yang berbasis di Jakarta, tetapi juga seniman Indonesia. Selanjutnya dibangun pula Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta LPKJ sebagai tempat untuk belajar dan mengembangkan kesenian, yang pada tahun 1985 berubah nama menjadi Institut Kesenian Jakarta IKJ .Dua institusi kesenian ini terletak di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Akan tetapi, adanya Pusat Kesenian ini tidak menjadikan kawasan Cikini berciri atau memiliki karakter seni. Fungsi-fungsi bangunan berdiri di sepanjang jalan utama Cikini Raya-Pegangsaan Timur dan Teuku Cik Ditiro tanpa menyokong keberadaan satu sama lain. Hal ini salah satunya dikarenakan oleh kurangnya ruang diluar TIM dan IKJ yang menampung kegiatan pelaku seni, khususnya pelajar IKJ. Kolaborasi berbagai elemen, ruang publik dan artspace dengan melibatkan pihak IKJ merupakan bentuk intervensi di kawasan Cikini untuk meningkatkan kualitas pengalaman ruang di Cikini dan menjadikan kawasan ini sebagai lingkungan slow-paced. Menerjemahkan proses koreografi sebagai metode perancangannya, kawasan Cikini kemudian didesain ulang menjadi Kawasan Seni untuk Jakarta.

ABSTRACT
The existence of Jakarta Arts Center Taman Ismail Marzuki PKJ TIM is a response to the needs of Indonesian artists rsquo for a space of expression. Built during Ali Sadikin era in 1968, Taman Ismail Marzuki is equipped with facilities to accommodate numerous arts activities. In 1970 1990s, performing works in Taman Ismail Marzuki became a successful benchmark for artists, not only for Jakarta based artists, but also nation wide artists. Furthermore, the Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta LPKJ was established as a place to learn and develop the arts, which in 1985 changed its name to the Jakarta Art Institute IKJ . These two arts institutions are located in Cikini area, Central Jakarta. However, the existence of the Art Center does not affect the area, character wise. Many buildings with various functions stand along the main roads Cikini Raya Pegangsaan Timur and Teuku Cik Ditiro without supporting each other. One of the reasons is the absence of spaces outside TIM and IKJ that could accommodate the activities of artists, especially students of IKJ. Collaborating and exploring elements of public space and art space through IKJ involvement is then a form of intervention in Cikini to improve the quality of experiencing space and become a slow paced neighborhood. Translating the process of choreography as the design method, Cikini area is then redesigned to be an Art District for Jakarta."
2017
T49359
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library