Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
I Made Arya Winatha
"Pada tahun 2010 American Venous Forum mengembangkan sebuah sistem skoring Venous Clinical Severity Score (VCSS) untuk menilai tingkat keparahan Insufisiensi Vena Kronik, dimana system ini dikatakan lebih lengkap daripada system CEAP. Tetapi validasi VCSS terhadap uji obyektif masih kurang. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menguji VCSS terhadap refluks dan diameter vena tungkai berdasarkan ultrasonografi. Penelitian ini merupakan suatu uji diagnostik potong lintang pada pekerja wanita dengan posisi kerja berdiri sebnyak 114 orang (228 tungkai). Dilakukan penilaian VCSS dan pemeriksaan USG pada semua subjek. Hubungan antara VCSS dengan refluks dan diameter vena tungkai dianalisis menggunakan odd rasio dengan interval kepercayaan 95%. Dari 228 tungkai yang diperiksa didapatkan skor VCSS 0-3 sebanyak 18,4%, skor ≥4sebanyak 81,6%. Refluks didapatkan pada 21,9% tungkai. Terdapat hubungan yang signifikan antara VCSS dengan refluks pada vena tungkai. Sedangkan diameter vena safena magna antara 2,1-12,2mm, vena femoral 7,1-17mm, vena popliteal 3-11,4 dan vena safena parva 1,7-7mm. Ketika VCSS dihubungkan dengan diameter vena, didapatkan hubungan yang signifikan. Sensistivitas VCSS dibandingkan dengan refluks berdasarkan USG didapatkan 78%, spesivitas 98,31%, nilai prediksi positif 92,86% dan nilai prediksi negatif 93,86%. Dari hasil penelitian ini disimpulkan skoring VCSS dapat dipakai sebagi metode untuk menilai insufisiensi vena kronik. Meskipun VCSS dirancang untuk menilai keparahan penyakit vena kronis,  VCSS dapat juga dipaki untuk melakukan skrining karena menujukkan hubungan yang baik dengan refluks dan diameter vena tungkai berdasarkan USG.

In 2010 the American Venous Forum developed a scoring system for the Venous Clinical Severity Score (VCSS) to assess the severity of chronic venous insufficiency, where the system is said to be more complete than the CEAP system. But the VCSS validation of the objective test is still lacking. The aim of this study was to test VCSS for reflux and diameter of leg veins based on ultrasonography. This study is a cross-sectional diagnostic test on female workers with a working position standing at 114 people (228 limbs). VCSS assessment and ultrasound examination were performed on all subjects. The relationship between VCSS and reflux and limb vein diameter was analyzed using odds ratios with a 95% confidence interval. From the 228 limbs examined, the VCSS score of 0-3 was 18.4%, the score ≥4 was 81.6%. Reflux is obtained at 21.9% of the legs. There is a significant relationship between VCSS and reflux in the leg veins. Whereas the diameter of the safena magna vein is between 2.1-12.2mm, 7.1-17mm femoral vein, popliteal vein 3-11.4 and safena parva vein 1.7-7mm. When VCSS is associated with vein diameter, a significant relationship is obtained. The sensitivity of VCSS compared with reflux based on USG was 78%, the specificity was 98.31%, the positive predictive value was 92.86% and the negative predictive value was 93.86%. From the results of this study concluded VCSS scoring can be used as a method to assess chronic venous insufficiency. Although VCSS is designed to assess the severity of chronic venous disease, VCSS can also be cited for screening because it shows a good relationship with reflux and diameter of leg veins based on ultrasound.

"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadira Prajnasari Sanjaya
"Anak-anak dengan osteogenesis imperfecta OI diketahui memiliki performa sekolah yang kurang baik dibandingkan teman sebayanya yang normal. Salah satu faktor yang berperan dalam performa sekolah adalah fungsi intelektual. Pada OI tipe letal atau OI dengan tingkat keparahan sangat tinggi, seringkali ditemukan komplikasi neurologis yang mungkin memengaruhi fungsi intelektual anak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keparahan klinis osteogenesis imperfecta dengan fungsi intelektual pasien usia 5-12 tahun. Studi ini menggunakan studi potong lintang dengan 20 subjek. Keparahan klinis subjek dinilai menggunakan Clinical Scoring System CSS untuk OI. Kemudian, subjek diperiksa oleh psikolog berlisensi menggunakan instrumen Weschler Intelligence Scale for Children WISC untuk mengetahui skor Full Scale Intelligence Quotient FSIQ sebagai indikator fungsi intelektual anak. Menggunakan uji Pearson satu arah, didapatkan korelasi keparahan klinis OI dengan fungsi intelektual pasien dengan nilai p=0,005 dan nilai r=-0,56. Selain itu, diketahui juga rerata IQ pada penelitian ini adalah 90,40 SD 4,85 dengan proporsi IQ terbesar pada pasien penelitian ini adalah kelompok pasien dengan IQ 91-110 yang dikategorikan sebagai kelompok dengan taraf kecerdasan rata-rata. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa semakin tinggi keparahan klinis OI, semakin rendah fungsi intelektual. Namun, fungsi intelektual ini bukan merupakan satu-satunya faktor dalam menentukan performa sekolah anak. Minat dan motivasi anak, kondisi dan pola belajar anak di rumah, serta keterlibatan orang tua juga dapat mempengaruhi performa sekolah pada anak OI. Kata kunci: Fungsi intelektual; keparahan klinis; osteogenesis imperfecta; performa sekolah.

Children with osteogenesis imperfecta OI are often associated with poor school performance compared to their healthy peers. One of the key factors in determining school performance is the neurodevelopmental function, specifically the intellectual function. In cases of OI with high clinical severity, neurological complications are often found. These neurological complications might affect intellectual function in children. The purpose of this study is to find out the correlation between clinical severity of osteogenesis imperfecta and the intellectual function of pediatric patients aged 5 12. This study is a cross sectional study with subject of 20 pediatric patients having diagnosed with OI. Subjects who meet the inclusion criteria and do not have the exclusion criteria were selected randomly and assessed using Clinical Scoring System CSS in order to determine their clinical severity. Subjects were then examined by blinded, licensed psychologist using Weschler Intelligence Scale for Children WISC to get the IQ score as a determinant of their intellectual function. Using one tailed Pearson correlation test, correlation between clinical severity of OI and patients rsquo intellectual function is significant at p 0.005 and r 0.56. Results also show that the IQ proportion within subjects are highest in the group of patients with IQ score ranged from 91 to 110 which is categorized as average intelligence with the average IQ score of all subjects is 90.40 SD 4.85 . In conclusion, there is a moderate, negative correlation between the clinical severity of OI and the intellectual function of pediatric patients aged 5 12. However, a child rsquo s interests and motivation, study habits, and parents rsquo involvement also have roles in determining school performance in children with OI. Key words Clinical severity intellectual function osteogenesis Imperfecta school performance."
Depok: Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library