Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 72 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Haerun
"Merujuk pada ketentuan ILO (International Labour Organizations), perusahaan petrokimia merupakan perusahaan yang dikategorikan sebagai perusahaan dengan risiko Major Hazard. PT Pupuk Kujang melibatkan amonia untuk proses produksinya yang disimpan pada tanki penyimpanan 10000 MT. Meskipun peristiwa kebocoran pada tanki amonia di PT Pupuk Kujang belum pernah terjadi, akan tetapi risiko kebocoran tersebut seluruhya masih tetap ada. Penyimpanan amonia di PT Pupuk Kujang masih menyimpan potensi-potensi terjadinya kerusakan atau gangguan pada proses penyimpanannya yang dapat merusak tanki, sehingga timbul kebocoran amonia dalam jumlah besar. Dengan kemungkinan tersebut PT Pupuk Kujang memerlukan analisis konsekuensi untuk dijadikan landasan perencanaan sistem tanggap darurat jika skenario kebocoran dalam jumlah besar terjadi.
Dalam studi ini analisa konsekuensi kebocoran dilakukan dengan menggunakan BREEZE Incident Analyst. Hasil Penelitian menunjukan bahwa terjadinya bahaya dan dampak kebocoran dapat disebabkan oleh kegagalan major dan kegagalan minor yang dianalisa dengan Fault Tree Analysis jarak dispersi terjauh mencapai lebih dari 262.6 m dengan kadar amonia 25 ppm dan 164.6 m untuk kadar 150 ppm dan 116.9 m untuk kadar 750 ppm. Daerah yang berisiko terkena sebaran dispersi amonia dalam berbagai skenario adalah Pabrik Kujang 1A, utility Pabrik Kujang 1B,cooling tower dan refrigerant amonia."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
S45564
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iswardi
"Dalam Karya Akhir ini akan dibahas bagaimana suatu portofolio investasi dan kewajiban dari Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) ABC akan diimunisasi sehingga akan terproteksi dari adanya perubahan tingkat suku bunga. Untuk tercapainya aset dan kewajiban yang terimunisasi, nilai wajar dari aset investasi harus sama atau lebih besar dari nilai sekarang kewajiban, durasi aset (DA) = durasi kewajiban (DL) dan dispersi aset investasi lebih besar dari dispersi kewajiban. Aset investasi yang terimunisasi mempunyai potensi imbal hasil yang lebih tinggi dibanding dengan aset investasi yang tidak terimunisasi.

In this final task, will show how the investment portfolio and the liability of DPPK ABC will immune so that will protected from the changing of interest rate. In order to immunize asset and liability, market value of assets is greater than or equal to present
value of liability, assets duration (DA) = liability duration (DL) and assets dispersion is greater than liability dispersion. Immunized assets have potensial return, where this potensial return will be higher than not immunize assets."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T25753
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dicky Irawan
"Penggunaan biodiesel di Indonesia saat ini belum sepenuhnya dijalankan karena biodiesel mudah teroksidasi. Salah satu cara untuk mengatasi masalah oksidasi biodiesel adalah dengan penambahan antioksidan. Pyrogallol adalah antioksidan yang umum digunakan, tetapi pyrogallol dan biodiesel memiliki polaritas yang berbeda sehingga menyebabkan keduanya tidak terdistribusi dengan baik. Perlu dilakukan peningkatan distribusi pyrogallol di dalam biodiesel dengan penambahan surfaktan. Surfaktan adalah senyawa yang digunakan untuk meningkatkan dispersi antara dua senyawa yang tidak saling larut. Glycerol monostearate adalah surfaktan yang umum digunakan untuk mencampurkan bahan aditif yang bersifat polar pada minyak nabati.
Pada riset ini, biodiesel akan diberikan aditif pyrogallol dan glycerol monostearate. Penambahan pyrogallol dilakukan dengan konsentrasi tetap pada seluruh sampel, sementara konsentrasi glycerol monostearate divariasikan. Karakteristik biodiesel yang dilihat untuk melihat stabilitas oksidasi adalah bilangan asam dan viskositas selama enam belas hari penyimpanan.
Hasil penelitian menunjukkan penambahan glycerol monostearate dapat meningkatkan dispersi pyrogallol dalam biodiesel dan meningkatkan kinerja pyrogallol dalam menahan perubahan karakteristik biodiesel terkait oksidasi. Terdapat pengaruh perbedaan konsentrasi surfaktan glycerol monostearate terhadap penambahan kinerja antioksidan pyrogallol dimana penambahan glycerol monostearate 300 ppm dan pyrogallol sebesar 1000 ppm rasio 3:10 merupakan penambahan yang dapat mempertahankan karakteristik biodiesel paling baik.

The utilization of biodiesel in Indonesia today isn rsquo t fully applied because of its vulnerability to oxidation. One of the way to counter this problem is by adding antioxidant. Pyrogallol is a widely used antioxidant for biodiesel but its difference in polarity flawed its solubility. The distribution of pyrogallol in biodiesel needs to be increased by adding surfactant. Surfactant is a type of compounds used to increase the dispersion of two compounds with different polarity. Glycerol monostearate is a type of surfactant commonly used to mix polar additives with palm oil.
In this research, biodiesel is given pyrogallol and glycerol monostearate as additives. Pyrogallol is added in same concentration for all samples, while glycerol monostearate concentration is varied. The characteristics of biodiesel used to determine oxidation stability is acid number and viscosity within sixteen days of storage.
The result shows that the addition of glycerol monostearate can increase the dispersion of pyrogallol in biodiesel and improve the antioxidant activity of pyrogallol. An effect of glycerol monostearate concentration to the improvement of antioxidant activity of pyrogallol is also detected, where the addition of 300 ppm glycerol monostearate and 1000 ppm pyrogallol ratio 3 10 is the best to improve oxidation stability of biodiesel.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Madani
"Permasalahan energi mendorong dikembangkannya bahan bakar alternatif terbarukan yaitu biodiesel. Namun penggunaan biodiesel terkendala karena memiliki kekurangan yaitu rendahnya stabilitas oksidasi. Reaksi oksidasi menyebabkan biodiesel mengalami perubahan sifat sehingga mengakibatkan korosi, penyumbatan jalur bahan bakar, dan pengotoran saat biodiesel digunakan. Oksidasi biodiesel dapat dihindari dengan penambahan antioksidan. Pyrogallol merupakan antioksidan yang memiliki efektivitas paling tinggi dibandingkan antioksidan lain. Akan tetapi, pyrogallol memiliki kekurangan yaitu sulit larut dalam biodiesel. Untuk mengoptimalkan performa pyrogallol dalam meningkatkan stabilitas oksidasi biodiesel maka dispersi pyrogallol harus ditingkatkan.
Pada penelitian ini surfaktan sorbitan monooleate ditambahkan ke dalam biodiesel untuk meningkatkan dispersi pyrogallol karena merupakan surfaktan nonionic yang baik sebagai pengemulsi water in oil. Penambahan sorbitan monooleate dilakukan dengan variasi konsentrasi yang berbeda untuk mengetahui jumlah komposisi sorbitan monooleate terbaik yang dapat meningkatkan stabilitas oksidasi biodiesel. Stabilitas oksidasi biodiesel diukur berdasarkan penambahan angka asam dan viskositas kinematic selama enam belas hari masa penyimpanan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penambahan surfaktan sorbitan monooleate dapat meningkatkan dispersi pyrogallol dalam biodiesel dan meningkatkan kinerja pyrogallol dalam menjaga stabilitas oksidasi biodiesel. Selain itu konsentrasi surfaktan sorbitan monooleate yang ditambahkan berpengaruh terhadap kinerja antioksidan. Penambahan surfaktan sorbitan monooleate 300 ppm dan pyrogallol 1000 ppm rasio 3:10 merupakan penambahan yang paling baik yang dapat menjaga oksidasi biodiesel.

Energy problems encourage for development of alternative renewable fuel, biodiesel. However usage of biodiesel is obstructed because of its weakness, low oxidation stability. Oxidation reaction makes change of biodiesel properties so it causes corrosion, plugging of fuel lines, and fouling when it is used. Oxidation of biodiesel can be prevented by adding antioxidant. Pyrogallol is one of antioxidant which has the highest effectivity than other antioxidant. However pyrogallol has weakness, it is easier to soluble in water than in biodiesel. To optimize pyrogallol performance in increasing oxidation stability of biodiesel, pyrogallol dispersion need to be improved.
In this research surfactant sorbitan monooelate is added in increasing pyrogallol dispersion because it is nonionic surfactant which is good as emulsifier water in oil. Sorbitan monooelate surfactant is added by varying its concentration to know the best composition of sorbitan monooleate which can increase oxidation stability of biodiesel. Oxidation stability is measured by acid and viscosity in sixteen days of storage.
Result shows that addition of surfactant sorbitan monoolete can increase dispersion of pyrogallol in biodiesel and performance of pyrogallol to keep oxidation stability of biodiesel. Concentration of surfactant sorbitan monooleate which is added also has effect to performance of antioxidant pyrogallol. Adding surfactant sorbitan monooleate 300 ppm and pyrogallol 1000 ppm rasio 3 10 is the best for keep oxidation stability of biodiesel.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kemas Syamsudin
"ABSTRAK
Selama kurun waktu 25 tahun khususnya sepuluh tahun terakhir dari tahun 1985 sampai 1995 pembangunan di berbagai sektor di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Pertumbuhan sektor pembangunan yang pesat diikuti pula oleh pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Pertumbuhan penduduk yang pesat ini umumnya terjadi pada propinsi-propinsi tertentu saja, sehingga propinsi yang sudah padat penduduknya akan menjadi semakin padat.
Propinsi yang kepadatan penduduknya tinggi akan berkorelasi terhadap kualitas lingkungan. Yang menjadi permasalahan di sini adalah sektor pembangunan meningkat, jumlah penduduk rneningkat tetapi kualitas liugkungan khususnya kualitas udara menurun.
Sebaran penduduk yang belum merata ini diduga ada korelasinya dengan penduduk masih terpusat pada daerah-daerah tertentu. Sebaran industri maupun sebaran penduduk yang belum merata, khususnya di daerahdaerah yang sangat padat penduduknya tentu akan berdampak pada kualitas lingkungan khususnya kualitas udara.
Untuk mengetahui apakah sebaran industri manufaktur mempunyai korelasi terhadap sebaran penduduk maupun terhadap kualitas lingkungan, khususnya kualitas udara maka dilakukan studi ini.
Studi ini dilakukan dengan mengolah data sekunder, terutama dan Sensus Ekonomi 1985, Sensus Ekonomi 1995, Supas 1985, Supas 1995 dan Neraca Kependudukan Lingkungan Hidup Daerah 1995.
Manfaat studi ini adalah untuk memberikan masukan pada .suatu pengambilan keputusan dalam perencanaan tata ruang.
Pada studi ini diajukan empat hipotesis yaitu: (i) Penyebaran industri manufaktur mempunyai korelasi yang kuat terhadap penyebaran penduduk di tiap-tiap propinsi di Indonesia, (ii) Sektor usaha jasa (perdagangan besar, eceran, rumah makan, restoran, serta hotel; angkutan, penggudangan, komunikasi; jasa keuangan, asuransi, usaha persewaan, bangunan tanah, jasa prusahaan; jasa kemasyarakatan dan sosial hiburan dan peroraugan) mempunyai korelasi yang lebih kuat dibandingkan dengan sektor industri (pertambangan dan penggalian; manufakur; lisirik, gas, dan air, bangunan dan konstruksi) terhadap penyebaran penduduk di tiap-tiap propinsi di Indonesia, (iii) Sektor industri manufaktur secara umum mempunyai korelasi yang kuat terhadap pertumbuhan sektor-sektor usaha jasa industri lain terutama sektor usaha jasa, (iv) Sebaran industri manufaktur maupun sebaran penduduk mempunyai korelasi yang kuat terhadap kualitas udara.
Dari hasil analisis data dengan menggunakan persarnaan regresi dan korelasi melalui Program Statistika 5 maka dapat disimpulkan bnhwa hipotesis 1, 2, 3, dan 4 dapat diterima. Dalam hal korelasi antara penyebaran industri, penyebaran penduduk dan kualitas lingkungan, khususnya kualitas udara dapat dikatakan bahwa :
Semakin padat industri manufaktur di suatu daerah maka semakin padat penduduknya, demikian juga pencemaran udaranya akan semakin meningkat. Bahan pencemar udara yang berkorelasi dengan meningkatnya kepadatan industri manufaktur adalah debu, NOx, HC, CO, dan CO2, sedangkan bahan pencemar udara yang berkorelasi laugsung dengan uktivitas kepadatan penduduk adalah debu, CO, dan CO2 ini menunjukkan bahwa sebaran industri manufaktur dan sebaran penduduk mempunyai korelasi yang kuat terhadap kualitas lingkungan khususnya kualitas udara. Semakin padat industri manufaktur di suatu propinsi, maka semakin padat penduduknya sedangkan kualitas udaranya menjadi semakin rendah.

ABSTRACT
During the last quarter of a century, especially the last decade, from 1985 to 1995, development in every sector in Indonesia has shown a rapid ,growth_ The rapid growth was followed by an increase in population too. The growth of this population, generally, occurs in certain provinces. Hence, these provinces that are already crowded became even more crowded. Provinces which have a huge population will correlate with environmental quality. The problem here is that development. and population increased but environmental quality, especially air quality, decreased.
Unbalanced population distribution pattern may be due to the distribution are of manufacturing firms. The distribution of both manufacturing firms and population focussed in a certain region. Both these unbalanced distributions will certainly influence environmental quality.
To find out whether or not the distribution of manufacturing firms correlate closely with population distribution, and environmental quality, especially air quality, therefore this research was undertaken.
This research was conducted by processing secondary data, mostly from the economic census 1985, economic census 1995, Supas 1985, Supas 1995 and NKLU 1995.
This research is useful inproviding input for making decisions for site plan. This research proposed four hypotheses as follows:
1. The distribution of manufacturing firms have strong correlations with population distribution in each province in Indonesia
2. Services sectors (big trade, retail, restaurants and hotels, transport, finance services, insurance. rentals, real estates, services company, community social and personal services) have stronger correlations compared to industry sectors (mining and quarrying, manufacturing, electricity, gas and water supply, construction) towards population distribution in every province in Indonesia
3. Manufacturing, generally, has strong correlations towards the growth of service establishment or other industry, especially service establishment.
4. Manufacturing industry distribution as well as population distribution has strong correlations towards air quality.
Results of data analyses by using regression equation and correlation through Statistic Program 5, it could be concluded that hypothesis 1, 2, 3, and 4 can be accepted. Correlations between industry distribution, population distribution and air quality it could be stated that:
The more crowded the manufacturing industries in one region, the more dense population will be; the same is true with air pollution.
The air pollutant that have correlations with increasing manufacturing industries were dust, NOx, HC, CO, and C02. Whilst air pollutants that have correlations with population were dust, CO, and C02. These indicate that the Beater the population in one region, the lower the environmental quality will be, especially air quality.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andi Djalal Latief
"ABSTRAK
Specific performance of an optical waveguide can be achieved by solving the eigen value equation of the respective waveguide. A numerical method to obtain dispersion characteristics of a planar waveguide has been executed on a computer program which run on IBM PC or its compatible with 640 KB memory. Coupler prism method was used to measure the waveguide parameters. A focused beam of TE or TM polarized mode of
He-Ne laser light is fed into the prism and enters the film of the waveguide. At coupling spot, where the beam strikes the prism base, the thickness C d7 and the refractive index (η2 ) of the waveguide was measured. Using the developed numerical method in this study, the dispersion characteristics of a three- layer and a four-layer waveguides with n1 = 1, n2 = 1.54, n3 = 1.447 and n1 = 1, n2 = 1. 5, n3 = 1.6 n4 = 1.447. respectively, have been obtained.
"
1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sutriyo
"The research to accelerate furosemide, dissolution rate has been done through physical property modification by solid dispersion forming polyvinylpyrolidone (PVP) carrier with solvent method.Pure furosemide prosses property of being practically insoluble in water and has low biovailability .In current research,six weight ratio of furosemide to PVP being used are 1:1;1:3;1:5;1:9 and 1:15.Physical mixtures are made in equivalent weight ratio. The dissolution rate was examined by paddle method in phosphat buffer pH5,8.Solid dispersion caracterised with in vitro dissolution study,X -ray diffraction,infra red spectrophometer and differential scanning calometric.The result shows that solid dispersion of furosemide with PVP carrier is lugher compare to physical mixture dissolution rate and pure furosemide.The ratio furosemide to PVP who has the lughest dissolution rate is 1:15.The analyzing shows the existing of altering crystaline to amorphous state."
2005
MIKE-II-1-Apr2005-30
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan kontradiksi hubungan antara dispersi QT dengan kejadian takiaritmia ventrikel dan atau kematian jantung mendadak. Penelitian-penelitian itu tidak mengeluarkan pengguna obat penghambat reseptor beta, bahkan pengguna obat tersebut merupakan mayoritas pada sampel mereka. Karena penggunaan penghambat reseptor beta sebagai pencegahan sekunder yang masih rendah di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dispersi QT dengan kejadian takiaritmia ventrikel dan atau kematian jantung mendadak pada pasien pascainfark. Interval QT, dispersi QT dan variabel klinis dibandingkan antara 36 orang pasien pascainfark yang mengalami takiaritmia ventrikel dan atau kematian jantung mendadak (kelompok kasus), dengan 75 pasien pascainfark yang tidak mengalami kedua kejadian tersebut (kelompok kelola). Dispersi QT yang lebih panjang (115 + 41 msec vs 81 + 25 msec, p < 0.001). Interval QT maksimal terkoreksi juga lebih panjang pada kelompok kasus (534 + 56 vs 501 + 35 msec, p < 0.001). Analisa regresi logistik menunjukkan adanya hubungan antara pemanjangan dispersi QT dengan kejadian takiaritmia ventrikel dan atau kematian jantung mendadak dengan RO 3,2, 4, dan 5,8 masing-masing untuk nilai potong 80, 90, dan 100 mdet. Dispersi QT dapat memprediksi kejadian takiaritmia ventrikel dan atau kematian jantung mendadak pada pasien infark miokard akut. Hasil ini menunjukkan bahwa dispersi QT tetap bermanfaat pada kondisi bebas pengaruh obat penghambat reseptor beta. (Med J Indones 2005; 14: 230-6)

Recent studies showed contradictive results of the relation between QT dispersion and the occurrence of ventricular tachyarrhythmias and/or sudden cardiac death. In addition, beta adrenoreceptors blocking agents, which are known to decrease the incidence of lethal arrhythmias after myocardial infarction, administered to the majority of patients in those studies population. Since b-blocker as secondary prevention drug was underutilized at National Cardiovascular Center Harapan Kita, this study was performed to find out the relation between QT dispersion and ventricular tachyarrhythmias and/or sudden cardiac death after previous myocardial infarction. The QT interval duration, QT dispersion and clinical variables of 36 postinfarction patients with history of sustained ventricular tachyarrhythmias and/or sudden cardiac death (event group) were compared with 75 postinfarction patients without such events (control group). QT dispersion differed significantly between study groups and was increased in the event group (115 ± 41 msec vs 81 ± 25 msec, p < 0.001). Corrected maximal QT interval duration was also prolonged in the event group (534±56 vs 501±35 msec, p < 0.001). Regression analysis showed that increasing QT dispersion was related to the occurrence of ventricular tachyarrhythmias and/or sudden cardiac death with OR of 3.2, 4, and 5.8 for cut-off point of 80, 90, and 100 msec respectively. The QT dispersion could predict the occurrence of ventricle tachyarrhythmias and/or sudden cardiac death in patient with AMI. This study confirmed that the QTd remain useful in free of beta blocking agents state. (Med J Indones 2005; 14: 230-6)"
Medical Journal Of Indonesia, 14 (4) October December 2005: 230-236, 2005
MJIN-14-4-OctDec2005-230
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"The aim of this research is to estimate dioxin/furan emission and concentration that can be used to present an altermative policy for emission reduction...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Penelitian tentang pengaruh kitosan pada laju disolusi ketoprofen, suatu senyawa obat sukar larut dalam air, telah dilakukan. Campuran fisik dan dispersi padat ketoprofen-kitosan (metode pelarut) dibuat dengan perban-dingan 1:1,1:3 dan 1:5. Laju disolusi sampel ditentukan dengan alat disolusi tipe I dengan menggunakan air sebagai medium. Perubahan fisik yang terjadi diamati dengan menggunakan analisis termal (DSC) dan difraksi sinar-X. Hasil uji dengan analisis termal dan difraksi sinar-X menunjukkan dispersi padat ketoprofen-kitosan berada dalam bentuk amorf sementara campuran fisik masih menunjukkan sifat kristal dari obat dan sifat amorf dari kitosan. Campuran fisik dan dispersi padat ketoprofen-kitosan terbukti meningkatkan laju disolusi ketoprofen dibandingkan laju disolusi ketoprofen tunggal. Peningkatan laju disolusi ketoprofen dalam campuran fisik dan dispersi padat berkorelasi positif dengan konsentrasi kitosan. Laju disolusi ketoprofen dari campuran fisik dan dispersi padat ketoprofen-kitosan 1:5 selama 120 menit 2,7 dan 2,2 kali lebih tinggi daripada laju disolusi ketoprofen tunggal."
Universitas Indonesia, 2005
S32522
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8   >>