Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Tri Fajarwati
"STEMI masih menjadi penyebab kasus kematian utama di Indonesia. Di Jakarta, angka kejadian STEMI meningkat setiap tahunnya. IKP primer merupakan tindakan utama untuk penanganan STEMI, namun tidak mengatasi penyebab terjadinya oklusi. Pengetahuan pencegahan sekunder diperlukan untuk mencegah terjadinya restenosis sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup setelah IKP primer.
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan pencegahan sekunder dengan kualitas hidup pada pasien STEMI Pasca IKP Primer. Desain penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan potong lintang cross sectional. Responden terdiri dari 60 pasien STEMI pasca IKP Primer yang dipilih melalui teknik consequtive sampling. Instrumen yang digunakan Maugerl Cardiac Prevention Questionnare MICRO-Q dan Seattle Angina Questionaire-7 SAQ 7.
Hasil penelitian menunjukkan hasil tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan pencegahan sekunder dengan kualitas hidup pada STEMI pasca IKP primer p=0,662; =0,05. Namun, pengetahuan pencegahan sekunder penting untuk tetap diperlukan sabagai salah satu komponen yang dapat meningkatkan kualitas hidup pada pasien STEMI pasca IKP primer.

STEMI is one a leading cause of death cases in Indonesia. In Jakarta, the incidence of STEMI increases anually. Primary PCI is the main treatment eventhough it is not the causes of occlusion. Secondary prevention knowledge is needed to prevent the occurrence of restenosis so it can improve quality of life after primary PCI.
This research has purpose to know the relationship between knowledge level about secondary prevention and quality of life in STEMI patient after Primary PCI. This is analytic with cross sectional approach. Respondents consisted of 60 STEMI patients post Primary PCI selected through concequtive sampling technique. The instrument is the Maugerl Cardiac Prevention Questionnare MICRO Q and Seattle Angina Questionaire 7 SAQ 7.
The results showed no correlation between knowledge level and quality of life in STEMI after primary IKP p 0,662 0,05. However, secondary prevention knowledge is important to remain as one of the components that can improve quality of life in STEMI post primary IKP.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Ginanjar
Jakarta: University of Indonesia. Faculty of Medicine, 2018
610 UI-IJIM 50:2 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Lailiyatul Munawaroh
"ST elevation myocardial infarction STEMI merupakan kasus infark miokardium yang paling banyak ditemukan dengan intervensi utamanya ialah primary percutaneous coronary intervention PPCI. Pasca PPCI, kualitas hidup pasien STEMI ditentukan oleh kemampuannya mengontrol faktor risiko terjadinya infark berulang. Dalam hal ini diperlukan dukungan keluarga. Karena itu peneliti ingin melihat hubungan dukungan keluarga dengan pasien STEMI pasca PPCI. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan desain cross sectional. 34 responden direkrut dalam penelitian ini.
Hasil menunjukan nilai mean dukungan keluarga ialah 64,44 dari nilai maksimal 75 dan nilai mean kualitas hidup 68,36 dari nilai maksimal 100. Hasil uji korelasi menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup p value = 0,310, Hasil penelitian merekomendasikan perlu dilakukan penelitian serupa dengan menyeragamkan karakteristik responden dan mengontrol faktor perancu.

ST elevation myocardial infarction is the most common myocardial infarction cases. The main intervention of this case is primary percutaneous coronary intervention PPCI. After PPCI, quality of life in STEMI patienst is depend on their ability to control risk factor of reinfarction. In this condition patients need family support. Therefore, the researcher want to know about the correlation between family support and quality of life in patient after PPCI. This research is a correlation research which use cross sectional dsign. 34 respondents are recruited in this research.
The result shows that the average value of family support is 64.44 from maximumvalue 75 and the average value of quality of life is 68,36 from maximum value 100. Correlation test result shows that there is no correlation between family support and quality of life p value 0,310. This result recommend that similar research should be done with equal respondents characteristics and controlled counfounding factors.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Leroy Leon Leopold Lasanudin
"Sindrom koroner akut (SKA) merupakan kondisi ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan oksigen pada otot jantung yang disebabkan oleh obstruksi arteri koroner. Elevasi segmen-ST infark miokard (STEMI) akut terjadi ketika pasien dengan SKA mengalami oklusi total pada pembuluh arteri koroner. Penanganan utama untuk pasien dengan STEMI adalah terapi reperfusi menggunakan angioplasti primer. Thrombolysis in myocardial infarction (TIMI) flow grade merupakan metode penilaian aliran darah, dimana TIMI 0 flow menandakan tidak adanya perfusi dan TIMI 3 flow menandakan perfusi lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prediktor klinis pasien yang berhubungan dengan TIMI flow akhir 3. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional analitik yang dilaksanakan melalui pengumpulan data karakteristik klinis pasien STEMI dan TIMI flow akhir dari Jakarta Acute Coronary Syndrome (JAC) Registry. Sampel penelitian melibatkan 3706 pasien STEMI yang diobati dengan angioplasti primer antara Februari 1, 2011 dan Agustus 31, 2019. Data dianalisis menggunakan IBM SPSS versi 20. TIMI flow akhir 3 berhubungan dengan durasi antara gejala awal dan terapi reperfusi ≤6 jam (p<0.001) dan dislipidemia (p = 0.008). Sedangkan, TIMI flow akhir <3 berhubungan dengan infark miokard pada dinding anterior jantung (p = 0.03) dan kadar kreatinin dalam darah di atas 1.2 mg/dl (p = 0.03). Durasi antara gejala awal dan terapi reperfusi yang lebih dini (≤6 jam) merupakan prediktor klinis terkuat untuk TIMI flow akhir 3.

Acute coronary syndrome (ACS) is an imbalance between oxygen supply and demand of the heart muscle due to an obstruction in the coronary artery. Acute ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI) occurs when a patient with ACS has a complete coronary artery occlusion. The main treatment for patients with STEMI is reperfusion therapy using primary angioplasty. Thrombolysis in myocardial infarction (TIMI) flow grade is a method of measuring blood flow, where TIMI 0 flow indicates no perfusion and TIMI 3 flow indicates complete perfusion. This study is aimed to determine which clinical predictors are associated with final TIMI 3 flow. This is an analytical, cross-sectional study which was conducted through data collection of STEMI patients’ clinical characteristics and final TIMI flow from the Jakarta Acute Coronary Syndrome (JAC) Registry. The study samples include 3706 STEMI patients who were treated with primary angioplasty between February 1, 2011 and August 31, 2019. The data was analyzed using IBM SPSS version 20. Final TIMI 3 flow is associated with the duration between symptom onset and reperfusion therapy of ≤6 hours (p<0.001) and dyslipidemia (p = 0.008). Meanwhile, final TIMI <3 flow is associated with anterior wall myocardial infarction (p = 0.03) and creatinine level above 1.2 mg/dl (p = 0.03). An earlier duration between symptom onset and reperfusion therapy (≤6 hours) is the strongest clinical predictor of final TIMI 3 flow."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vireza Pratama
"Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian simvastatin dosis tinggi (40 mg) sebelum tindakan lntervensi Koroner Perkutan Primer terhadap perubahan kadar high sensitive C-Reactive Protein pad a pasien Infark Miokard Aleut dengan Elevasi ST Latar Belakang : Pemberian statin telah terbukti dapat memperbaiki luaran pada pasien-pasien angina stabil dan sindroma koroner akut yang menjalani intervensi koroner perkutan secara elektif. Statin terbukti memiliki efek pleiotropik yang mampu menekan respon inflamasi pembuluh darah. Studi yang meneliti pemberian statin pada pasien IMA-EST yang menjalani intervensi kOTOner perkutan primer masih sedikit. Simvastatin merupakan obat statin yang banyak digunakan di Indonesia dengan harga yang relatif lebih murah, sehingga diperlukan penelitian yang dapat membuktikan efektivitas simvastatin dalam menekan respon inflamasi koroner. Metode : Penelitian ini merupakan percobaan klinik teracak dan tersamar ganda (double-blinded, randomized clinical trial) pada penderita infark miokard akut dengan elevasi ST yang menjalani intervensi koroner perkutan primer (IKPP) di Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUIIPJNHK. dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 20 II . Pasien dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok simvastatin 40 mg dan plasebo. Dilakukan pemeriksaan hsCRP sebelum dan 24 jam sesudah IKPP. Perubahan hsCRP antara sebelum dan sesudah IKPP dihitung sebagai delta-hsCRP. Hasil : Terdapat 62 pasien yang dirandomisasi kedalam kelompok simvastatin 40 mg (n=31) dan plasebo (n=31). Tidak ada perbedaan yang bermakna pada nilai hsCRP sebelum dan 24 jam sesudah TKPP pada kedua kelompok. Nilai delta-hsCRP pada kelompok simvastatin 40 mg lebih rendah secara bermakna dibandingkan dengan plasebo (15.1 mgIL (0 .5 - 33.3) vs. 23 .0 mglL (5 .6 - 133 .6) ; P=0.016). Kesimpulan : Pemberian simvastatin dosis tinggi (40 mg) segera sebelum tindakan IKPP dapat memperbaiki respon inflamasi 24 jam pasea IKPP yang ditunjukkan dengan perubahan hsCRP (delta-hsCRP) yang lebih rendah dibandingkan dengan plasebo.

Objective : To investigate the influence of high dose simvastatin treatment (40 mg) before primary peiCutaneus coronary intervention (PPCI) with the improvement of high sensitive C=ReaCtive Protem (hsCRP) level in STEMI patients. Background : Pre-treatment of statins had been proven' to improve outcomes in patients with stable angina and acute coronary syndromes undergoing elective percutaneus coronary intervention. Statins have pleiotropic effects which able to suppress inflammatory responses in vessels. However, there are only few of study which investigate the benefit of statin therapy before primary PCI in STEMI patients. Simvastatin is the most common statin used in Indonesia with relatively lower price than another statins. Methods : This is a double-blind randomized clinical trial in STEMI patients undergoing primary percutaneus coronary intervention (PPCI) at Department of Cardiology and Vascular Medicine FKUIlNCCHK. since August to October 2011. The patients was devided into two groups; simvastatin-40 mg and plasebo group. The hsCRP level examination was done before and 24 hours after PPCI. The changes of hsCRP level was labeled as delta-hsCRP. Results : There were 62 patients randomized into simvastatin 40 mg group (n=31) and placebo group (n=31). There were no significant difference between hsCRP levels before and 24 hours after PPCI . for both groups. The delta-hsCRP value in simvastatin 40 mg group were lower significantly compared to placebo (15.1 mg/L (0 .5 - 33.3) vs. 23 .0 mg/L (5 .6 - 133.6) ; P=0.016). Conclusion : Administration of high dose simvastatin (40 mg) immediately before PPCI may improve inflammatory response in 24 hours after PPCI which proven by lower hsCRP changes (delta-hsCRP) compared to placebo .
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2011
T58348
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rachmat Susanto
"Model Konservasi merupakan proses adaptasi terhadap diri sendiri, lingkungan, kesehatan, dan perawatan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup pasien sebagai upaya mempertahankan fungsinya. Prinsip Myra E. Levine tentang konservasi energi, integritas struktur, integritas personal dan integritas sosial memberikan pendekatan yang nyata untuk membuat keputusan dalam pemberian asuhan keperawatan bagi pasien dengan masalah kardiovaskular dengan tujuan akhir pasien adaptif dengan kondisi kesehatannya. Untuk merubah prilaku tidak efektif menjadi prilaku adaptif telah disusun dan dilaksanakan berbagai intervensi keperawatan yang bersifat memberdayakan konservasi energy, integritas structural serta peningkatan integritas personal dan daya dukung integritas sosialnya sehingga pada akhirnya membentuk individu yang adaptif dengan kondisi kesehatannya. Pengelolaan pasien sebagai wujud peran perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan. Selanjutnya residen sebagai peran peneliti telah melakukan pelaksanaan hipnoterapi untuk mengurangi intensitas nyeri pada pasien post operasi CABG dan program inovasi meningkatkan kualitas serah terima pasien dengan menggunakan format handover. Residen sebagai peran pendidik telah menerapkan pendidikan kesehatan kepada mahasiswa, perawat, dan pasien serta keluarga. Kesimpulannya bahwa perawat memiliki beberapa peran yaitu peran sebagai pemberi pelayanan keperawatan, peran peneliti, peran pendidik, dan peran inovator. Residen memberikan saran kepada semua elemen yang berkaitan dengan keperawatan agar memberikan stimulasi untuk berkembangnya peran-peran perawat tersebut melalui pendidikan klinik yang lebih intensif dan terprogram.

A model conservation is the process of adapting to yourself, the environment, health, and treatment is needed for survival patient as the effort to maintain its function. The principle of Myra e. Levine about energy conservation, the integrity of the structure, the integrity of the personal and social integrity gives a real approach to decision making in the delivery of nursing care for patients with cardiovascular problems with the ultimate goal of the adaptive health conditions of patients. To change unmannerly ineffective be unmannerly adaptive have been compiled and carried out various intervention nursing that is spatially empower energy, conservation structural integrity and improve the integrity of personal power and support the integrity of social so that eventually form an individual being adaptive with the condition of his health. Patient management role as the nurse as nursing service providers. The next resident, as the role of researchers has committed implementation of hypnotherapy to reduce pain intensity in patients post CABG operation and innovation program improves the quality of handover of patients using the format handover. As a resident of educators have implemented health education to students, nurses, and patients and families. The conclusion that the nurses have several roles including the role of giver nursing service, role of researchers, educators, and roles the role of innovators. Resident gives advice to all elements relating to nursing to provide stimulation for the development of the roles of nursing education through more intensive clinical and programmatic.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
TA6008
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ika Komar
"Role of Collateral Circulation in MR Imaging-Verified Myocardial Infarct Size in Acute Phase of ST-Segment Elevation Myocardial Infarction Treated with Primary Percutaneous Coronary Intervention
Abstrak Berbahasa Indonesia/Berbahasa Lain (Selain Bahasa Inggris):
Latar Belakang. Intervensi koroner perkutan primer (IKPP) yang dilakukan segera oleh merupakan upaya reperfusi utama dalam tatalaksana infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST). Meskipun disadari betapa pentingnya diagnosis dan reperfusi dini pada pasien IMA-EST, keterlambatan waktu reperfusi seringkali tidak dapat dihindarkan. Selama waktu keterlambatan reperfusi ini sirkulasi kolateral koroner (SKK) menjadi sumber alternatif suplai darah yang penting ketika pembuluh darah utama gagal memberikan aliran darah yang cukup ke jaringan karena adanya oklusi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh SKK terhadap luas infark dan myocardial salvage index (MSI) yang diukur dengan pencitraan resonansi magnetik jantung (RMJ) pada pasien IMA-EST dengan onset <12 jam yang menjalani IKPP.
Metode. Penelitian dirancang potong lintang melibatkan 33 pasien IMA-EST dengan onset <12 jam yang menjalani IKPP yang diambil secara konsekutif pada bulan November 2012 hingga April 2013 di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta. Pasien dibagi dalam 2 kelompok berdasarkan pembagian SKK menurut Rentrop, yakni grup A (Rentrop 0 atau 1) dan grup B (Rentrop 2 atau 3). Pasien menjalani pemeriksaan pencitraan RMJ untuk menilai luas infark dan MSI.
Hasil. Dalam studi ini, dua belas dari 33 (36%) pasien memiliki kolateral yang signifikan (Rentrop 2 atau 3). Angina pre-infark merupakan faktor klinis yang berhubungan dengan kemunculan SKK (p<0,001). Luas infark dihitung sebagai persentase massa infark terhadap massa ventrikel kiri (IS %LV). Dari analisa didapatkan IS %LV lebih kecil pada grup B dibandingkan dengan grup A (14,2% vs 23,3%, p=0,036). Hal ini sejalan dengan besarnya nilai MSI pada grup B dibandingkan dengan grup A (0,6 vs 0,1, p<0,001).
Kesimpulan. Sirkulasi kolateral koroner memiliki pengaruh dalam menurunkan luas area infark dan meningkatkan MSI yang diukur dengan menggunakan pencitraan RMJ pada fase akut IMA-EST yang menjalani IKPP.

Background. Primary percutaneous coronary intervention (PPCI) conducted immediately by an expert operator is a primary reperfusion strategy in acute ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI) patient. Although fully aware of the importance of early diagnosis and reperfusion in patients with STEMI, time delays are often unavoidable. During this period, coronary collateral circulation be an important alternative supply when the main blood vessels fail to provide adequate perfusion to myocardial tissues due to occlusion. This study aims to determine the effect of collateral circulation in MR Imaging-Verified Myocardial infarct size and myocardial salvage index (MSI) in the acute phase of STEMI treated with PPCI.
Methods. Study was designed as cross-sectional study involving 33 STEMI patients with symptoms < 12 hours who underwent successful PPCI. Samples were taken consecutively from November 2012 to April at the National Cardiovascular Center Harapan Kita Jakarta. Collateral flow was gradded regarding to Rentrop classification. Patients were divided into 2 groups; Group A had absent or weak collateral flow and group B had significant flow. All patients underwent cardiac magnetic resonance (CMR) to assess infarct size and MSI.
Result. In our study, 12 out of 33 (36%) patients had significant collateral circulation (Rentrop grade 2 or 3). Pre-infarction angina was a clinical factors associated with recruitable collaterals (p<0,001). Infarct size expressed as percent LV mass (IS %LV) was significantly smaller in group B (14.2% vs. 23.3%; p = 0.036). Extent of MSI was significantly higher in group B (0,6 vs 0,1; p<0,001).
Conclusion. Well-developed collaterals before reperfusion by PPCI in patients with STEMI are associated with a protective effect on infarct size and MSI.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library