Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kusnaeni
"Di tengah meningkatnya persaingan untuk memenuhi kepuasan pelanggan yang terus berubah, saat ini banyak perusahaan menggunakan sejenis piranti lunak yang banyak dikenal dengan istilah ERP (Enterprise Resource Planning) untuk mengelola rantai suplai untuk menunjang strategi saingnya. Namun demikian, implementasi sistem Enterprise Resource Planning sering menghadapi hambatan-hambatan yang pada akhirnya mengurangi tingkat keefektifannya.
Akar masalah ini seringkali berhubungan dengan budaya organisasi dan perusahaan dimana sistem tersebut dioperasikan. Sistem Enterprise Resource Planning telah diaplikasikan lebih dari 4 tahun di PT. XYZ Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja rantai suplai perusahaan itu. Namun demikian, meskipun sistem ERP dapat menyediakan informasi tepat waktu, pemakai sistem ERP system di PT. XYZ Indonesia masih menggunakan cara lain seperti panggilan telepon dan penggunaan media laporan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi. Situasi ini sebagian besar diakibatkan oleh ketidakmampuan pengguna sistem untuk mengendalikan dan memonitor semua unsur yang ada di dalam sistem karena kurangnya pelatihan, komunikasi dan kepercayaan. Kerangka teori yang menjadi landasan penelitian ini adalah teori mengenai rantai suplai.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Oliver Wight ABCD Checklist yang akan mengungkap bagaimana PT. XYZ Indonesia menggunakan sistem ERP dan budaya pemakai yang ada di lingkungan sistem itu. The Oliver Wight ABCD checklist merupakan metode untuk mengevaluasi kinerja perusahaan sebagai pemakai sistem Enterprise Resource Plannings. Metode ini banyak digunakan sejak pertengahan tahun 1970-an. Metode ini memberikan panduan bagi perusahaan untuk mengetahui jeda antara kinerja saat ini dan kinerja terbaik dan mengetahui wilayah yang memerlukan perbaikan.
Metode yang digunakan menunjukkan bahwa PT. XYZ Indonesia merupakan pemakai sistem ERP kelas B. Pemakai sistem banyak menggunakan sistem dalam pekerjaannya dan perusahaan telah dapat memperoleh berbagai keuntungan seperti mengingkatnya kecepatan dalam pelayanan pelanggan dan komunikasi yang efisien antar tingkat dalam rantai suplai. Namun demikian, kurangnya pelatihan dan pendidikan bagi pemakai dan kurangnya kepercayaan akan keakuratan data telah menyebabkan penggunaan sistem menjadi tidak efektif. Hambatan-hambatan lain yaitu kurangnya penyampaian informasi dan proses pengendalian/monitor telah secara signifikan menurunkan kemampuan sistem untuk dapat berfungsi secara optimal.

Amid increasing competition to satisfy ever-changing demands customers, many firms today are employing a type of software commonly known as ERP (Enterprise Resource Planning) to manage their supply chain and to sustain their competitive strategies. However, the implementation of Enterprise Resource Planning system often faces hurdles which eventually decrease its effectiveness.
The root of this problem related to the organization and the people culture surrounding the system environment. Enterprise Resource Planning system has been in place for more than 4 years at PT XYZ Indonesia aimed at enhancing supply chain performance. However, despite ERP systems? ability to provide real-time information, users of ERP system at PT. XYZ Indonesia still use second option of communication such as phone calls and spreadsheet utilization to meet their information requirements. This situation is mostly caused by users? inability to control and monitor all elements embedded on the system owing to lack of training, communication and trust. The theoretical framework underpinning this research is based on the supply chain theory.
The analysis method used in this research is the Oliver Wight ABCD checklist that will reveal how PT XYZ Indonesia has typically used their ERP system and user?s behavior surrounding the system. The Oliver Wight ABCD checklist is a widely-used method to assess a firm?s performance as an Enterprise Resource Planning system user. This checklist has been in use since mid 1970s. It provides a guideline for companies to view the gap between current performances against best practice and diagnose which area is in need for improvement.
The method reveals that PT. XYZ Indonesia classified as a class B user, ERP system is enterprise-widely used at PT. XYZ Indonesia. Users have been working closely with the system and the company is able to generate various benefits such as responsiveness in customer service function and efficient communication between the supply chain stages. However, lack of training and education for users and lack of trust on information data accuracy has resulted in ineffective system usages. Other existing hurdles: lack of information-sharing and control/monitoring process had also significantly degraded system?s capability to work on its full potential."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2008
T24448
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Manurung, Menaria
"Persaingan yang semakin meningkat membuat kalangan dunia usaha terus meningkatkan daya saingnya, dengan cara implementasi Teknologi Informasi and implementasi ERP. Proyek ERP penuh dengan risiko karena merupakan proyek implementasi yang besar, kompleks, kurang dikenal dan membutuhkan jadwal implementasi yang ketat. Untuk itu perlu model implementasi yang mendukung proses bisnis. Masalah dalam proyek ini adalah kecepatan memetakan antara model dan teknik implementasi yang sebenarnya. Untuk mengurangi risiko dan meningkatkan kemungkinan proyek sukses, suatu organisasi dapat menggunakan pendekatan yang telah dikembangkan seperti layaknya suatu proyek, dimulai dengan fase pemilihan dan diakhiri dengan fase operasi.
Pada penelitian ini dilakukan perbandingan 3 metodologi untuk mengetahui metodologi yang terbaik pada satu perusahaan. Dengan menggunakan metodologi ASAP proyek ini diselesaikan dengan 183 hari, Project Implementation ERP diselesaikan dengan 254 hari dan Cheap Dynamic diselesaikan dengan 236 hari. Perusahaan ini menggunakan metodologi ASAP dalam implementasi ERP nya.

In the recent time, business environment become much more competitive. Dealing with such situation, many companies improve their competitive advantage through implementation information technology and ERP implementation. Enterprise Resource Planning (ERP) project is considered highly risky, since it is large, complex, and usually unfamiliar to the organization and implemented under a tight timetable. To obtain a fair level of understanding of the system, it is then necessary to model to supported business process. However, the problem is the accuracy of the mapping between the model and the actual thecnical implementation. To reduce the risk and improve the probability of project success, an organization can use a structured development approach for such a project, beginning with the selection stage and culminating in the operation stage.
The metodology suggested in this paper is comparison of three methodes to know the best for implementation ERP at one company: (1) ASAP methode, (2) Project Management Implementation ERP Methode, (3) Cheap Dynamic Methode. With using ASAP methode the project is finished by 183 days, Project Implementation ERP is finished by 254 days and Cheap Dynamic is finised by 236 days. This company used ASAP methodology in their implementation of ERP.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
T24541
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Paulus Jimmy Pramudyo
"The successful implementation of a performance measurement system, such as Balanced Scorecard, relies on the company's ability to evaluate the results shown by the performance indicators and to subsequently carry out continuous improvement. One way to evaluate the effectiveness of a performance system is by using data and information obtained from an Enterprise Resource Planning (ERP) system. Based on the collected Information, managers are able to make better decisions as they continuously improve performance. However, there is often a perception gap between the expectations of managers and front-line staff about the results. This paper offers a solution to overcome this gap based on a value realization approach to map the linkage of data, information, knowledge, decisions, and actions. Linking data to actions enables both parties to track the impacts of decision making processes on the results. This approach was applied at a national distribution company in Indonesia. The mapping of value creation process helps the organizational members to understand their own roles in achieving better performance and to be able to trace required data and information to support the process of performance improvement."
Manajemen Usahawan Indonesia, 2006
MUIN-XXXV-7-Juli2006-3
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Arifin
"Sebuah perusahaan besar pasti memiliki beberapa bagian fungsional, misalnya pembelian, penjualan, produksi, keuangan, dan lain sebagainya. Setiap bagian fungsional dalam perusahaan tersebut juga dapat dipastikan memiliki sejumlah kegiatan operasional sehari-hari sehingga menghasilkan data dan informasi dalam jumlah yang besar. Untuk mencapai tujuan perusahaan, setiap bagian fungsional tersebut harus saling bekerjasama, saling menyebarkan dan menerima informasi. Salah satu kunci keberhasilan kerjasama tersebut adalah harus adanya aliran data yang lancar, akurat dan up to date antar bagian fungsional. Untuk itu dibutuhkan suatu sistem informasi yang mengintegrasikan semua bagian fungsional tersebut. Sistem informasi demikian dinamakan dengan sistem informasi ERP (Enterprise Resource Planning). PT. Padasa Enam Utama merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit dan memiliki empat buah kebun. Perusahaan ini selalu mengalami berbagai masalah, terutama dalam hal aliran data dan informasi antar bagian fungsional, di mana data dan informasi masih diberikan dalam bentuk print out, yang dikirim lewat fax, ratel, bahkan lewat jalan darat. Akibatnya bisa ditebak, mulai dari lamanya penerimaan data dan informasi, kurang jelasnya data dan informasi yang diterima, data yang harus diinput ulang kembali sehingga terdapat redundancy data, hingga pembuatan laporan yang membutuhkan waktu lama. Hal ini disebabkan belum adanya integrasi yang baik antara sistem informasi fungsional di perusahaan tersebut. Untuk mengatasi permasalahan di atas, penelitian ini merancang suatu sistem informasi ERP dengan metodologi System Development Life Cycle (SDLC) model waterfall. Dengan adanya sistem informasi ERP diharapkan aliran data dan informasi dapat disebarkan dari satu bagian ke bagian lainnya dengan lancar sehingga mampu meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja. Sebuah prototipe juga dihasilkan sebagai gambaran hasil akhir dari perancangan, sehingga memudahkan proses evaluasi. Skenario evaluasi percobaan prototipe terhadap proses bisnis yang ada menunjukkan kelancaran aliran data dan informasi dari satu bagian ke bagian lain. Dengan kemudahan suatu bagian mendapatkan data dan informasi dari bagian lain, tidak terjadi lagi data yang harus diinput ulang. Berbagai pekerjaan bahkan sudah digantikan oleh sistem.

Every big company has several functional departments such as purchasing, sales, production, accounting / cashier, etc, and every functional department in that company also has some daily operational activities that produce large quantity of data and information. To achieve company?s purpose, these departments have to work well together to ensure the sending and receiving of the information. One of the key factors for that to work is a good, accurate, and up to date data and information flow between the departments. That is why there is a need for an information system that integrates all the functional departments which will be called ERP (Enterprise Resource Planning) PT. PADASA ENAM UTAMA is a Palm Oil based company and has four plantations. The company experiences several problems, especially with the data and information flow between functional departments where they are still in the forms of print outs, faxes, radios, and also by land mail. The consequences that arise from the problems are the longer time the information received, inaccurate data and information, data that has to be reinput (data redundancy), and the longer amount of time to make reports. These are all caused by the lack of integration of the functional information system in that company. To solve the problems above, this study is to designs an ERP information system by using the Waterfall model of System Development Life Cycle (SDLC) Methodology. With this ERP information system, the flow of data and information is expected to run effective and efficient from one department to the other effectively and efficiently. A system prototype is proposed as an end product of the design for the evaluation process. The scenario of the prototype?s testing evaluation toward the current business process shows a good data and information flow from one department to the other. The departments can easily send and receive data and information, thus there is no more data redundancy that needs to be re-input. Even some of the jobs have been replaced by the system."
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2007
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Saputra Suryodinata
"Tesis ini menganalisis faktor-faktor kritikal yang menentukan keberhasilan implementasi Enterprise Resource Planning (ERP) dilihat dari persepsi praktisi ERP dan korelasi faktor-faktor tersebut dengan keberhasilan suatu implementasi ERP. Faktor-faktor yang dianggap kritikal dikumpulkan dari jurnal-jurnal ilmiah, lalu di bagikan kuesioner untuk mengetahui pendapat praktisi ERP. Hasil penelitian menemukan adanya perbedaan persepsi kepentingan faktor antara pihak perusahaan dengan pihak vendor ERP. Penelitian juga menghasilkan faktor-faktor dengan korelasi terbesar terhadap keberhasilan implementasi, yang berguna bagi praktisi ERP dalam menjalankan implements ERP
This study analyzes critical success factors of enterprise resource planning (ERP) implementation, base on ERP?s practitioners? perception and the factor?s influence on ERP implementation success. Potentials critical factors are collected from science journals. Using survey, the ERP practitioners express their opinion about the importance of the factor and the appearance of the factor in the ERP
implementation. The research finds that there are differences between enterprise?s perception and ERP vendor?s perception. The research also recognizes factors that have the greatest influence on ERP success, which is useful for ERP practitioners implementing ERP implementation.
"
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2010
T-pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library