Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
New Jersey: Noyes Data Corporation, 1982
662.662 3 CBA
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Gondang Andika Kuntoro
"Kasus kebakaran sebagai penghasil gas karbon monoksida (CO) yang tinggi masih menjadi salah satu permasalahan yang harus diselesaikan, mengingat seringnya terjadi peristiwa kebakaran. Jika terjadi kebakaran, potensi kematian akibat keracunan gas CO akan semakin meningkat. Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha untuk mengurangi kadar CO, salah satunya adalah dengan metode adsorpsi gas CO menggunakan metode volumetrik dengan temperatur konstan (temperetur 25°C) pada tekanan 0 psia -315 psia dengan interval 50 psi. Sehingga dapat dilakukan perhitungan adsorpsi isotermal Gibbs menggunakan Zeolit Alam Lampung teraktivasi yang dimodifikasi oleh TiO2 melalui metode sol-gel. Variasi kandungan TiO2 yang dilakukan adalah 10, 15, 20, 25 dan 30 (wt%). Dari hasil penelitian diketahui bahwa pelapisan TiO2 terhadap Zeolit Alam Lampung dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi. Dari variasi kandungan TiO2 yang telah dilakukan didapatkan komposisi optimum TiO2 sebesar 20 % dan didapatkan kapasitas adsorpsi paling besar yaitu nmax= 0,54361 mmol/gram dengan kandungan TiO2 3,58 (wt%) dan luas permukaan 96,25 m2/gram.

Case of fire has a high content of gas carbon monoxide production which has to be solved because of the high frequency of this incident. If it happens, the potential death caused by CO poisoning will increase. Therefore, an effort is needed to reduce CO concentration. One of them is CO gas adsorption method using a volumetric method with a constant temperature (25°C) at pressure 0 psia -315 psia at intervals of 50 psi. It can be calculated by Gibbs adsorption isotherm using activated Lampung Natural Zeolites modified by TiO2 via sol-gel methods. Variations of TiO2 content is done with 10, 15, 20, 25 and 30 (wt%). From the result of this research shows that TiO2 coating on Natural Zeolites Lampung can increase adsorption capacity. TiO2 content of the variations that have been carried out the optimum composition of TiO2 obtained by 20% and the greatest adsorption capacity is nmax = 0.54361 mmol / g with a TiO2 content of 3.58 (wt%) and the surface area 96.25 m2/gram."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S1634
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sukentyas Estuti Siwi
"Ruang Hijau (RH) merupakan bagian penting bagi kehidupan masyarakat di wilayah perkotaan. Tesis ini meneliti tentang kemampuan ruang hijau dalam menyerap Gas Karbon Dioksida (CO2) di wilayah Kota Depok dalam periode tahun 2000 sampai 2011. Data yang digunakan adalah data Landsat 7 ETM+ dan SPOT 4. Pengolahan awal meliputi koreksi geometris dan radiometris. Pengolahan tahap lanjut adalah menerapkan algoritma Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk pemisahan antara obyek vegetasi dengan nonvegetasi.
Analisis dilakukan untuk melihat perubahan ruang hijau antara tahun 2000 dan 2011, bagaimana hubungan antara NDVI dengan karakteristik tajuk, persentase tutupan vegetasi bawah dan biomassa lapangan.
Hasil yang diperoleh selama kurun waktu 11 tahun (tahun 2000-2011) telah terjadi penurunan luas ruang hijau di wilayah Kota Depok sebesar 2.691,22 ha dengan semakin berkurangnya luas ruang hijau mengakibatkan menurunnya kandungan biomassa hijau sebesar 759.890 kg dan kemampuan ruang hijau tersebut dalam menyerap gas CO2 sebesar 1.116.681 kg CO2.

Green space (RH) is an important part of community life in urban areas. This thesis examines the ability of green space to absorb Carbon Dioxide (CO2) Gas in Depok city in the period 2000 to 2011 using Landsat 7 ETM+ and SPOT-4 image. Images pre-processing are geometric and radiometric correction and then Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) for separating between objects non-vegetation and vegetation.
Spatial and quantitative analysis were performed to see changes of green space and relationship between NDVI with canopy characteristics, the percentage of vegetation cover and biomass below ground.
The results show that green space in Depok City in the period 2000 to 2011 decreased by 2.691.22 ha with the reduction in area of green space resulted in a decreased of the green biomass of 759.890 kg and the ability to absorb CO2 gas 1,116,681 kg CO2.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
T31199
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dhaniswara Wiradharma
"Ruang Hijau (RH) adalah bagian dari pola ruang kota yang penting keberadaanya bagi lingkungan perkotaan dan kehidupan manusia. Biomassa hijau yang terkandung dalam ruang hijau memiliki peranan ekologis sebagai penyerap gas karbon dioksida (CO2). Dengan memanfaatkan citra Landsat 7 ETM+ dan Landsat 8, dapat diketahui perubahan luasan ruang hijau dengan menggunakan meteode (Normalized Differential Vegetation Index) NDVI yang mampu melakukan klasifikasi objek identik vegetasi dan non vegetasi. Analisis meliputi hubungan antara NDVI dan biomassa hijau lapangan yang meliputi karakteristik tajuk dan tutupan vegetasi bawah.
Hasil yang diperoleh yaitu sebaran kandungan biomassa hijau di Kota Bogor tidak merata. Terjadi perubahan yaitu penurunan kandungan biomassa hijau sebesar 13.111 ton sehingga terjadi penurunan kemampuan serapan CO2 Kota Bogor sebesar 19.273 ton. Hal ini disebabkan karena penurunan luas ruang hijau sebesar 135,86 Hektar (1,15%) atau + 11,32 Hektar per tahunnya di Kota Bogor dari tahun 2001 hingga 2013.

Green Space is necessary part of urban space pattern for urban environment and human life. Green biomass on the green space has an ecological role as an absorber of carbon dioxide gas (CO2). Information of changing area of green space derived from utilization of remotely sensed data of Landsat 7 ETM + and Landsat 8 by using NDVI (Normalized Differential Vegetation Index) method known capable of performing object classification to identical vegetation and non vegetation. The analysis includes the relationship between NDVI and field-derived green biomass, includes the characteristics of vegetation cover and lower canopy.
The result show that distribution of green biomass properties in Bogor is uneven. There were changes in the levels, decrease up to 13.111 tons of green biomass resulting in decreased ability to uptake of CO2 by 19.273 tons in Bogor City. This is because the area of green space is reduced by 135.86 hectares (1.15%) or approximately 11.32 hectares per year respectively in Bogor City from 2001 to 2013.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S55511
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Debie Ari Kesnawaty
"Kasus kebakaran sebagai penghasil gas karbon monoksida (CO) yang tinggi masih menjadi salah satu permasalahan yang harus diselesaikan, mengingat seringnya terjadi peristiwa kebakaran. Jika terjadi kebakaran, potensi kematian akibat keracunan gas CO akan semakin meningkat. Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha untuk mengurangi kadar CO, salah satunya adalah dengan metode adsorpsi menggunakan oksida logam berupa TiO2, MgO, CuO, zeolit alam, zeolit sintesis, dan karbon aktif. Konsentrasi gas CO yang dapat terserap oleh berbagai adsorben dianalisis menggunakan Gas Cromatography. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tiga adsorben dengan kapasitas adsorpsi terbesar yakni karbon aktif: 115,623 ml/g = 4,702 mmol/g; TiO2: 94,709 ml/g = 3,847 mmol/g; MgO: 80,116 ml/g = 3,252 mmol/g.

Case of fire has a high rate of gas carbon monoxide production which have to be solved because of the high frequency of this incident. If it happens, the potential death fom CO poisoning will increase. Therefore, it needed an effort to reduce levels of CO. One of them is the method of adsorption using metal oxides such as TiO2, MgO, CuO, natural zeolite, synthetic zeolite, and activated carbon. CO gas concentration that can be absorbed by the various adsorbents were analyzed using Gas Cromatography. The survey results revealed that three of the adsorbent with the largest adsorption capacity of activated carbon: 115.623 ml/g = 4.702 mmol/g; TiO2: 94.709 ml/g = 3.847 mmol/g; MgO: 80.116 ml/g = 3.252 mmol/g."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51679
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
I Putu Putra Jaya Parwatha
"Gas karbon monoksida (CO) adalah hasil produksi dari pembakaran tidak sempurna senyawa-senyawa organik dan berbagai bentuk karbon yang paling banyak dihasilkan dibanding komponen lainya dalam asap. Simulasi proses adsorpsi digunakan untuk untuk mengetahui laju adsorpsi yang efektif, kemampuan adsorpsi dari tiap ukuran partikel, dan konsentrasi sisa pada ruang uji. Ruang uji yang digunakan berukuran 0,4 m x 0,4 m x 1,2 m.
Pada penelitian ini digunakan adsorben karbon aktif komesial yang memiliki nilai bilangan Iodin 1000 mg/g, luas permukaan (BET) 1050 m2/g, adsorpsi maksimum gas karbon monoksida (CO) (nmaks) 1,58827 mol/g, dan konstanta adsorpsi Langmuir untuk gas karbon monoksida (b) 0,00305. Massa adsorben yang digunakan adalah 3 gram. Ukuran partikel adsorben yang digunakan adalah 1,59.10-4 m, 7,95.10-5 m, 8.10-7 m, dan 4.10-7 m. Simulasi menggunakan aplikasi Comsol Multiphysics versi 4.3b.
Berdasarkan hasil simulasi, diperoleh unggun dengan ukuran partikel 8.10-7 m memiliki waktu jenuh yang paling lama dan konsentrasi sisa 35,4 mol. Konsentrasi sisa yang terbentuk setelah proses adsorpsi unggun dengan partikel berukuran 7,95.10-5 m, 8.10-7 m, dan 4.10-7 m nilainya berkisar antara 0,03545 mol - 0,0355 mol.

Carbon monoxide (CO) is the highest composition in combustion smoke. Carbon monoxide (CO) is produced by incomplete combustion of organic compounds and various forms of carbon. Simulation of adsorption process used to determine the effective adsorption rate, adsorption capacity of each particle size, and the residual concentration in the test chamber. Test chamber size is 0,4 m x 0,4 m x 1,2 m.
In this research, properties of activated carbon which is used for adsorbent 1000 mg/g Iodine number, surface area (BET) 1050 m2/g, maximum adsorption capacity of carbon monoxide (CO) (nmaks) 1.58827 mol/g, and Langmuir adsorption constants for carbon monoxide (b) 0.00305. Mass of activated carbon adsorbent is 3 grams. Variations of particle size used for this research are 1,59.10-4 m, 7,95.10-5 m, 8.10-7 m, and 4.10-7 m. Comsol Multiphysics simulation program version 4.3b used for process simulation.
Based on the simulation results, bed with particle size 8.10-7 m has the longest saturated time and residual gas carbon monoxide (CO) is 35,4 mol. Residue of gas carbon monoxide (CO) composition in the chamber for particle size 7,95.10-5 m, 8.10-7 m, and 4.10-7 m approximately 0,03545 mol - 0,0355 mol.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S54856
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eric Adelwin
"[Gas alam sudah menjadi alternatif bahan bakar maupun digunakan sebagai bahan baku industri. Gas alam terdiri dari senyawa hidrokarbon berupa gas, seperti metana, etana, propana, butana, dan kondensat. Namun gas alam memiliki kandungan pengotor berupa air, nitrogen, karbon dioksida, hidrogen sulfida, dan merkuri yang harus dihilangkan. Teknologi kontaktor membran merupakan salah
satu cara dalam menghilangkan kandungan karbon dioksida yang terdapat di dalam gas alam. Pada penelitian ini digunakan teknologi kontaktor membran serat berongga superhidrofobik dengan menggunakan pelarut DEA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persen penyerapan gas karbon dioksida dari pelarut DEA serta untuk mengetahui pengaruh laju alir gas umpan terhadap fenomena perpindahan massa yang terjadi di membran. Dari fenomena perpindahan massa yang terjadi, akan didapatkan kinerja dari kontaktor membran serat berongga superhidrofobik dalam proses absorbsi gas karbon dioksida. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, jumlah gas karbon dioksida yang terserap sebesar 0,03128-0,05331 mmol/s untuk modul dengan jumlah serat 8000 dan untuk modul dengan jumlah serat 2000 mampu menyerap gas CO2 sebesar 0,0268-0,02994 mmol/s. Nilai koefisien perpindahan massa yang didapatkan untuk modul dengan jumlah serat 2000 adalah sebesar 1,93x10-4-2,5x10-4 cm/s dan modul dengan jumlah serat 8000 sebesar 9,8x10-5 – 1,44x10-4 cm/s untuk variasi laju alir gas sebesar 170, 255, dan 340 cm3/min dengan laju alir pelarut DEA yang tetap sebesar 500 cm3/min.

Natural gas has been used as alternative fuel or used as industrial raw materials. Natural gas consists of hydrocarbon compounds such as methane, ethane, propane, butane, dan condensats. However, natural gas also consists of impurities such as water, nitrogen, carbon dioxide, hydrogen sulfide, and mercury which have to remove. Membrane contactor technology is one of the methods which is used to remove carbon dioxide contents that contained in natural gas. In this study, we use hollow fiber membrane contactor using DEA as the solvent. The aim of this study is to know the absorption percentage of carbon dioxide and to know the effect of feed gas flow to mass transfer phenomenon which is occurred in membrane contactor. From the mass transfer phenomenon, we will obtain the performance of superhydrophobic hollow fiber membrane contactor in the absorption process. According to this study, the amount of carbon dioxide absorbed are about 0,03128-0,05331 mmol/s for the module with 8000 fibers and for the module with 2000 fibers able to absorb CO2 about 0,0268-0,02994 mmol/s. The value of mass transfer coefficient which yang is obtained from the module with 2000 fibers are 1,93x10-4-2,5x10-4 cm/s and for the module with 8000 fibers are 9,8x10-5-1,44x10-4 cm/s for the variation of the feed gas flow: 170, 255, dan 340 cm3/min with the DEA constant flowrate about 500 cm3/min., Natural gas has been used as alternative fuel or used as industrial raw materials.
Natural gas consists of hydrocarbon compounds such as methane, ethane,
propane, butane, dan condensats. However, natural gas also consists of impurities
such as water, nitrogen, carbon dioxide, hydrogen sulfide, and mercury which
have to remove. Membrane contactor technology is one of the methods which is
used to remove carbon dioxide contents that contained in natural gas. In this
study, we use hollow fiber membrane contactor using DEA as the solvent. The
aim of this study is to know the absorption percentage of carbon dioxide and to
know the effect of feed gas flow to mass transfer phenomenon which is occurred
in membrane contactor. From the mass transfer phenomenon, we will obtain the
performance of superhydrophobic hollow fiber membrane contactor in the
absorption process. According to this study, the amount of carbon dioxide
absorbed are about 0,03128 – 0,05331 mmol/s for the module with 8000 fibers
and for the module with 2000 fibers able to absorb CO2 about 0,0268 – 0,02994
mmol/s. The value of mass transfer coefficient which yang is obtained from the
module with 2000 fibers are 1,93x10-4 – 2,5x10-4 cm/s and for the module with
8000 fibers are 9,8x10-5 – 1,44x10-4 cm/s for the variation of the feed gas flow:
170, 255, dan 340 cm3/min with the DEA constant flowrate about 500 cm3/min.]
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S62295
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Danisha
"Pada tahun 2023, sektor limbah menyumbang 12% emisi GRK di Indonesia, dimana perhitungannya masih menggunakan pendekatan pemodelan. Dimana, sekitar 80% masyarakat di Indonesia menggunakan teknologi air limbah setempat. Hal ini merupakan tantangan besar dalam perhitungan GRK dari sektor air limbah yang berkorelasi dengan rencana mitigasi pengurangannya. Penelitian ini berfokus dalam mengukur laju emisi GRK secara langsung (direct measurement) dari sistem pengolahan air limbah setempat. Hingga saat ini, belum terdapat standar pengukuran emisi GRK dari sistem pengolahan air limbah setempat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendesain dan mengembangkan perangkat penangkap GRK berupa flux chamber (FC), mengestimasi laju emisi GRK berdasarkan sampel GRK yang diambil secara langsung, dan menganalisis dampaknya pada skala nasional dengan menggunakan studi kasus di Asrama Universitas Indonesia. Tangki septik objek studi dipilih karena memiliki ukuran manhole yang cukup untuk perangkat FC dan pengurasan rutin yang dilakukan oleh pihak Asrama UI. Dari segi infrastruktur, tangki septik Asrama UI memiliki kekurangan berupa lubang manhole tidak tertutup sempurna, tidak ada pipa ventilasi, dan terdapat genangan air pada outlet. Perangkat FC yang dirakit dalam penelitian ini dibuat menggunakan pipa PVC yang bersifat non-reaktif dan mudah ditemukan sehingga cocok untuk digunakan di negara berkembang. Pengambilan data penelitian dilakukan pada tangki septik yang terletak di Gedung F Asrama UI dan data diambil sebanyak dua kali dalam bulan yang berbeda. Tangki septik Gedung F Asrama UI melakukan pengurasan rutin setiap 6 bulan sekali. Hasil analisis gas diuji secara ex situ menggunakan uji gas chromatography (GC). GRK yang diukur dalam penelitian ini adalah gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Konsentrasi gas yang didapatkan selama 60 menit pengambilan data berkisar di angka 276,886—1.931.765 mg/m3 untuk gas CH4 dan 1.150,553—7.381,237 mg/m3 untuk gas CO2. Konsentrasi kedua gas cenderung mengalami peningkatan sepanjang waktu pengambilan sampel. Hasil penelitian menunjukkan laju emisi GRK yang dihasilkan dari penampungan lumpur tinja dalam tangki septik berada 20 kali lipat lebih rendah dibandingkan dengan estimasi laju IPCC. Jika dibandingkan dengan penelitian serupa, laju emisi GRK yang dihasilkan dari penelitian ini tergolong kecil. Hal ini mungkin terjadi karena beberapa kemungkinan, seperti periode pengurasan tangki septik, waktu tinggal air limbah dalam tangki septik, dan infrastruktur tangki septik yang memengaruhi laju emisi GRK. Meskipun data yang digunakan hanya berasal dari 1 tangki septik yang diukur sebanyak dua kali, penelitian ini tetap melakukan perhitungan awal untuk emisi GRK di skala nasional. Hasil penelitian kemudian diekstrakpolasi ke skala nasional dengan mengalikan laju emisi per kapita dengan persentase penduduk yang menggunakan tangki septik. Laju emisi GRK dari sektor pengolahan air limbah setempat berdasarkan penelitian ini diperkirakan berkontribusi hingga 2% dari emisi GRK sektor limbah di Indonesia.

In 2023, the waste sector will contribute 12% of GHG emissions in Indonesia, where the calculations still use a modeling approach. Around 80% of people in Indonesia use local wastewater technology. This is a big challenge in calculating GHG from the wastewater sector, which is correlated with the reduction mitigation plan. This research focuses on measuring the rate of GHG emissions directly (direct measurement) from local wastewater treatment systems. Until now, there is no standard for measuring GHG emissions from local wastewater treatment systems. Therefore, this research aims to design and develop a GHG capture device in the form of a flux chamber (FC), estimate the GHG emission rate based on GHG samples taken directly, and analyze the impact on a national scale using a case study at the University of Indonesia Dormitory. The study object's septic tank was chosen because it has a sufficient maintenance hole size for the FC device, and the UI Dormitory carries out routine draining. Regarding infrastructure, the UI Dormitory septic tank has shortcomings in the form of maintenance holes that are partially closed, no ventilation pipes, and standing water at the outlet. The FC device assembled in this research was made using PVC pipe, which is non-reactive and easy to find, making it suitable for use in developing countries. Research data was collected in a septic tank in Building F of the UI Dormitory, and data was collected twice in different months. The septic tank in Building F, UI Dormitory, is drained routinely every 6 months. The gas analysis results were tested ex-situ using the gas chromatography (GC) test. The GHGs measured in this study are methane gas (CH4) and carbon dioxide (CO2). The gas concentration obtained during 60 minutes of data collection ranged from 276,886—1.931,765 mg/m3 for CH4 gas and 1.150,553— 7.381,237 mg/m3 for CO2 gas. The concentration of both gases tends to increase throughout the sampling time. The research results show that the GHG emission rate from storing fecal sludge in septic tanks is 20 times lower than the IPCC estimated rate. Compared with similar studies, the rate of GHG emissions resulting from this research is relatively small. This may occur due to several possibilities, such as the draining period of the septic tank, the residence time of wastewater in the septic tank, and the septic tank infrastructure, which influences the rate of GHG emissions. Even though the data used only comes from 1 septic tank, which was measured twice, this research still performs initial calculations for GHG emissions nationally. The research results were then extracted to a national scale by multiplying the per capita emission rate by the population percentage using septic tanks. Based on this research, the rate of GHG emissions from the local wastewater processing sector is estimated to contribute up to 2% of the GHG emissions from the waste sector in Indonesia."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library