Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query
cover
I Nyoman Adnyana
"Latar belakang. Nyeri tenggorok paseaoperasi merupakan komplikasi yang umum terjadi setelah anestesia umum dengan intubasi endotrakeal. 8erbagai macam usaha pencegahan telah dilakukan baik nonfarmakologis maupun farmakologis dengan keuntungan dan kerugian masing-masing. Pemberian ketamin seeara perifer memiliki efek analgetik dan antiinflamasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efek pemberian obat kumur ketamin untuk mengurangi nyeri tenggorok pascaoperasi setelah intubasi endotrakeal. Metode. Penelitian ini mengikutkan 146 pasien yang menjalani anestesia umum dengan intubasi endotrakeal. Pasien dikelompokkan secara aeak untuk menerima ketamin kumur 40 mg dalam NaCI 0,9% sebanyak 30 mL atau larutan NaCI 0,9% sebanyak 30 mL sebelum induksi anestesia. Premedikasi menggunakan midazolam 0,05 mglkg88 dan petidin 1 mglkgBB. Induksi anestesia dengan propofol 1 % 2 mg/kg8B. Intubasi difasilitasi dengan atrakurium 0,5 mg/kg8B. Pemeliharaan anestesia menggunakan N20:02=2:1 dan isofluran 1-2 vol%. Penilaian nyeri tenggorok dilakukan tiga kali pada jam ke 0, 2 dan 24 setelah operasi. Derajat nyeri tenggorok dinilai dengan menggunakan Visual Analogue Score 0JAS). HasH. Pada akhir penelitian 4 orang pasien dikeluarkan dari penelitian. Pada kelompok ketamin insiden nyeri tenggorok 31 ,9% dan pada kelompok kontrol sebesar 78,6% dengan Number Needed to Treat sebesar 2. Berdasarkan uji statistik didapatkan perbedaan berrnakna antara kedua kelompok (P

Background. Postoperative sore throat ( POST) is a common complication general anaesthesia with endo.tracheal intubation. Various non-pharmacological and pharmacological methods have been used to prevent this complication, but some have it own advantages and disadvantages. Peripherally administration of ketamine has analgetic and anti-inflammatory effects. We compared the effectiveness of ketamine gargle with placebo for prevention of POST after oral endotracheal intubation. Methods. We studied 146 ASA I or 1/ adult patients who received general anaesthesia with endotracheal intubation. Patients randomly allocated to recieve either 40mg ketamine gargles in nomal saline 30 mL or normal saline 30 mL before induction of anaesthesia. Premedication using midazolam 0,05mg/kgBB and pethidine 1 mglkgBB. Induction of anaesthesia using propofol2mglkgBB. Tracheal intubation was facilitated by atracurium 0,5mglkgBB. Anaesthesia was maintained with N20 : 02 = 2 : 1 and isoflurane 1-2 %. Evaluation of POST was done three times at 0,2 and 24 hours postoperative with visual analogue score (VAS). Results. At the end of study there were four patients excluded from the study. 142 patients completed the study. The insidence of POST in ketamine group was 31,9% and in placebo group was 78,6% with number needed to treat was 2. There was significant difference (P<0,05) between groups in POST. Conclusions. Administered ketamine gargle before insertion of endotracheal tube reduced incidence and severity of POST.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2008
T59054
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Gloria Gandasari S.
"Tujuan : Mengetahui efek penambahan premedikasi dexmedetomidin intravena dengan dosis rendah 0,3 μg/kg dibandingkan dengan lidokain intravena 1,5 mg/kg terhadap tanggapan kardiovaskular akibat tindakan laringoskopi dan intubasi orotrakea.
Metode : Uji klinik tersamar ganda. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Pusat RSCM pada bulan Desember 2004 sampai dengan Pebruari 2005, pada 90 pasien dewasa yang menjalani operasi berencana dengan anestesia umum dan fasilitasi intubasi orotrakea. Pasien dibagi secara acak menjadi 2 kelompok; 45 pasien mendapat penambahan premedikasi dexmedetomidine intravena 0,3 µg/kg 10 menit sebelum intubasi dan 45 pasien lainnya mendapat penambahan premedikasi lidokain intravena 1,5 mg/kg 2 menit sebelum intubasi. Parameter kardiovaskular yang diukur yaitu tekanan darah sistolik - diastolik, tekanan arteri rata-rata dan laju jantung. Analisa statistik melihat perbedaan pada dua data kategori digunakan uji chi-square. Perubahan kardiovaskular pada tiap kelompok dipakai uji wilcoxon, dan melihat perbedaan kardiovaskular antara kedua kelompok dipakai uji Mann-Whitney.
HasiI : Saat intubasi pada kedua kelompok terjadi peningkatan tanggapan kardiovaskular bermakna secara statistik dibandingkan dengan nilai sesaat sebelum intubasi. Tanggapan kardiovaskular pada kelompok dexmedetomidin lebih rendah bermakna secara statistik dibandingkan dengan kelompok lidokain. Ini membuktikan bahwa baik dexmedetomidin maupun lidokain belum dapat mencegah tanggapan kardiovaskular akibat laringoskopi dan intubasi orotrakea, tetapi dexmedetomidin mempunyai efek yang lebih balk bennakna secara statistik dibandingkan dengan lidokain dalam hal mengurangi tanggapan kardiovaskular akibat laringoskopi dan intubasi. Ada 2 sampel yang dikeluarkan, masing-masing 1 sampel dari kelompok dexmedetomidin dan lidokain."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chrisma A. Albandjar-Oemardi
"Latar Belakang: Laringoskopi dan intubasi dapat mengakibatkan perubahan kardiovaskular yang merugikan. Pada studi ini dibandingkan keefektifan premedikasi clonidine 4 mcg/kgbb dengan fentanyl 2 mcg/kgbb untuk menekan tanggapan kardiovaskular akibat laringoskopi dan intubasi orotrakca.
Metode: Sembilan puluh pasien ASA I-II yang akan menjalani pembedahan elektif dalam anestesia umum dan menjalani prosedur intubasi orotrakea secara acak tersamar ganda dibagi menjadi dua kelompok: 45 pasien mendapatkan premedikasi clonidine 4 mcg/kgbb dan 45 pasien lainnya mendapatkan fentanyl 2 mcg/kgbb. Parameter yang diamati, tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik tekanan arterti rata-rata, dan laju nadi, diukur secara berkala hingga 5 menit pasca intubasi.
Hasil: Clonidine secara bermakna lebih dapat menekan kenaikan tekanan darah sistolik, diastolil, dan tekanan arteri rata-rata dibandingkan fentanyl. Tidak ada perbedaan yang bermakna efek premedikasi clonidine dan fentanyl dalam menekan laju nadi. Efek samping yang didapatkan pada kelompok clonidinc adalah 1 pasien menglami hipotensi, sedangkan pada kelompok fentanyl 12 pasien mengalami depresi pemapasan.
Kesimpulan: Preredikasi clonidine 4 mcg/kgbb lebih baik dalam menekan tanggapan kardiovaskular dibandingkan fentanyl 2 mcg/kgbb

Background: Laringoscopy and intubation can alter cardiovascular response. The purpose of our study was to investigate, whether premdication clonidine 4mcg/kg or fentanyl 2 mcg/kg is more efficient to attenuate stress response due-to intubation
Method: This is a randomized double blind study. Ninty patients ASA I-II undergo elective surgery under general anesthesia and intubation were treated with clonidine (n=45) or fentanyl (n=45) prior to induction of anesthesia. Systolic blood pressure, diastolic blood pressure, mean arterial pressure, and heart rate were measured at predefined intervals until 5 minutes after intubation.
Result: Clonidine significantly attenuated systolic, diastolyc pressure, and mean arterial pressure compared to fentanyl. There was no significant difference in heart rate. During observation there was 1 patient in clonidine group that suffered hypotension, and 12 patients in fentanyl group had respiratory depression.
Conclusion: Clonidine (4 mcg/kg) is more efficient than fentanyl (2 mcg/kg) in blunting cardiovascular response due to laryngoscopy and endotracheal intubation."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zeta Auriga
"Pendahuluan: Pemasangan pipa nasogastrik (NGT) pada pasien terintubasi memiliki beberapa kesulitan. Beberapa metode pemasangan NGT telah diteliti dengan tujuan untuk mencari cara yang lebih mudah, cepat dan kurang traumatik bagi pasien. Metode chin lift merupakan cara baru yang digunakan untuk memasang NGT pada pasien terintubasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keberhasilan, lamanya waktu pemasangan dan kejadian komplikasi bercak darah saat pemasangan NGT pada pasien terintubasi antara metode chin lift dan reverse Sellick.
Metode: Penelitian ini adalah uji klinis, acak dan tersamar tunggal yang dilakukan pada 210 pasien yang menjalani anestesia umum terintubasi lalu dilakukan randomisasi untuk dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok A menggunakan metode chin lift dan kelompok B menggunakan metode reverse Sellick untuk pemasangan NGT. Angka keberhasilan, lamanya waktu pemasangan dan kejadian komplikasi bercak darah dicatat pada penelitian ini.
Hasil: Tidak ada perbedaan bermakna (p=0,786) antara angka keberhasilan pemasangan NGT pada kelompok chin lift (79,2%) dengan reverse Sellick (81,7%). Lamanya waktu pemasangan dan kejadian komplikasi bercak darah saat pemasangan NGT juga tidak berbeda bermakna.
Simpulan: chin lift tidak meningkatkan keberhasilan pemasangan pipa nasogastrik (NGT) pada pasien terintubasi dibandingkan dengan metode reverse sellick.

Introduction: Nasogastric tube (NGT) insertion in intubated patients has several difficulties. Several researches of NGT insertion have been conducted aiming to find the fastest, easiest, and less traumatic method to the patients. Chin lift is the new method to insert the NGT in intubated patients. The aim of this study is to compare the success rate, duration of insertion, and the incidence of blood spot complications of NGT insertion in intubated patients between chin lift and reverse Sellick's methods.
Methods: This study is a single blinded randomized controlled trial. 210 patients who underwent general anesthesia and intubated were randomly allocated into two groups. Group A is the chin lift method and group B is the reverse Sellick's method. The success rate, duration of insertion, and the incidence of blood spot complications were noted in this study.
Results: There were no significant differences (p = 0.786) between the success rate of NGT insertion in the chin lift group (79.2%) and the reverse Sellick's group (81.7%). The duration of insertion, and the incidence of blood spot complications during NGT insertion were also not significantly different.
Conclusion: The chin lift method did not increase the success rate of NGT insertion in intubated patients compared to the reverse sellick method.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hutahaean, Amelya
"Latar Belakang: N-asetilsistein (NAS) memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai antikoksidan dan antiinflamasi. Belum banyak penelitian pemberian NAS pada pasien COVID-19. Pemberian NAS pada pasien COVID-19 derajat berat memiliki hasil luaran yang bervariasi, salah satunya diduga disebabkan lama terapi yang hanya beberapa jamhari.
Tujuan: Rancangan penelitian ini adalah kohort retrospektif di ICU RS PELNI, Jakarta. Penelitian ini dimulai setelah mendapat sertifikat etik dan ijin lokasi yang dimulai pada bulan Februari-April 2023. Pengambilan sampel secara consecutive sampling. Kriteria penerimaan meliputi pasien COVID-19 derajat berat dengan usia ≥18 tahun. Kriteria penolakan meliputi pasien sedang hamil/menyusui. Kriteria pengeluaran meliputi pasien meninggal sebelum pemberian NAS mencapai 14 hari. Luaran yang diamati adalah kejadian intubasi, mortalitas, nilai rasio netrofil limfosit, kadar D-dimer, dan CRP. Data penelitian merupakan data sekunder dari rekam medis. Data dianalisis dengan uji statistik yang sesuai menggunakan program SPSS versi 27.
Hasil: Didapatkan total 112 pasien dengan 55 pasien tidak mendapatkan terapi NAS dan 57 pasien mendapatkan terapi NAS. Dari hasil analisis bivariat didapatkan pasien dengan terapi NAS memiliki kemungkinan untuk diintubasi sebesar 2,7 kali dan tidak berhubugan dengan mortalitas. Dari hasil analisis multivariat, didapatkan hanya variabel kejadian intubasi yang bermakna terhadap mortalitas.
Simpulan: Terapi ajuvan NAS tidak menurunkan kejadian intubasi dan mortalitas.

Background: N-acetylcysteine (NAS) has many benefits, one of which is as an antioxidant and anti-inflammatory. There have not been many studies of giving NAS to COVID-19 patients. Giving NAS to patients with severe degrees of COVID-19 has varied outcomes, one of which is thought to be caused by the duration of therapy which is only a few hours-days.
Purpose: This retrospective cohort study was conducted in the ICU of PELNI Hospital, Jakarta. This research was started after obtaining an ethical certificate and location permit which began in February-April 2023. The samples were taken using consecutive sampling. Inclusion criteria was patients with severe degree of COVID-19 aged ≥18 years. Exclusion criteria was patients who are pregnant/breastfeeding. Drop out criteria was patients who died before 14 days of NAS administration. The observed outcomes were intubation events, mortality, neutrophil lymphocyte ratio D-dimer and CRP levels. The research data is secondary data from medical records. Data were analyzed with appropriate statistical tests using the SPSS version 27 program.
Results: There were a total of 112 patients with 55 patients not receiving NAS therapy and 57 patients receiving NAS therapy. From the results of bivariate analysis, it was found that patients with NAS therapy had a 2.7 times the likelihood of being intubated and had no association with mortality. From the results of the multivariate analysis, it was found that only the intubation event variable had a significant effect on mortality.
Conclusion: Adjuvant therapy for NAS does not reduce the incidence of intubation and mortality.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sanjaya Normansah
"Latar belakang: Kejadian pada manajemen jalan napas yang sulit sebesar 0,86%. Sebesar 0,07% kejadian membutuhkan tindakan bedah darurat, sebesar 0,04% merupakan kejadian ‘tidak bisa intubasi tidak bisa ventilasi’. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut diantaranya skor LEMON, ketinggian meja operasi, posisi kepala pasien, pemilihan bilah laringoskop dan teknik serta pengalaman pelaku intubasi. Pada penelitian ini. ketinggian meja operasi yang digunakan adalah setinggi umbilikus dan xyphoid pelaku intubasi. Kebiasaan residen pemula di RSCM adalah mengambil posisi awal dan melakukan intubasi dengan posisi meja setinggi umbilikus dan hal ini kadang memberikan kesulitan visualisasi dan intubasi. Sedangkan ketinggian meja operasi yang dapat menghasilkan kualitas visualisasi laring yang baik adalah mendekati setinggi xyphoid pelaku intubasi.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan (preliminary study) dengan uji klinis randomized clinical trial dengan Open Trial. Pengambilan data penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Pusat, CCC, dan Kirana RSUPN Cipto Mangunkusumo pada bulan Oktober sampai Desember 2021. Intubasi dilakukan oleh residen Anestesiologi dan Terapi Intensif minimal tahap III. Populasi subjek adalah pasien yang akan menjalani pembedahan elektif dengan pembiusan total dan menggunakan ETT.
Hasil: Visualisasi laring cenderung lebih baik pada kelompok ketinggian meja operasi xyphoid. Perbandingan waktu intubasi antara ketinggian meja operasi umbilikus dan xyphoid memiliki perbedaan yang signifikan. Pelaku intubasi pada studi ini menilai ketinggian meja operasi xyphoid memiliki kenyamanan yang lebih baik dalam melakukan tindakan intubasi.
Kesimpulan: Ketinggian meja operasi xyphoid memberikan visualisasi laring, waktu intubasi dan kenyamanan yang lebih baik dibandingkan ketinggian meja operasi umbilikus.

Background: The incidence of difficult airway management was 0,86%. The 0,07% need surgical emergencies, 0,04% were ‘can’t intubate can’t ventilate’ incidence. Factors that influence this include LEMON score, the height of the operating table, patients head position, selection of the laryngoscope blade and technique and experience of the intubation operator. From this study, the height of the operating table used was at the level of umbilicus and xyphoid of the operator. The resident habit at RSCM was to take the initial position and intubate at the level of the umbilicus, this sometimes makes difficulty in visualization and intubation. Meanwhile, the height of the operating table that can help good visualization quality was close to the xyphoid position of the operator.
Methods: This study was a preliminary study with open trial randomized clinical trial. research data collection was carried out at the Central Surgical Installation, CCC and Kirana RSUPN Cipto Mangunkusumo from October to December 2021. Intubation was carried out by an Anesthesiology and Intensive Therapy resident at least stage III. The subject population was patients who undergo elective surgery under general anesthesia and using ETT.
Results: Laryngeal visualization tends to be better in the xyphoid operating table height group. Comparison of intubation time between the height level of umbilical and xyphoid operating table has a significant difference. Intubation operator in this study assessed that the height of the xyphoid operating table had better comfort in performing intubation procedures.
Conclusion: The xyphoid level of operating table height has better laryngeal visualization, intubation time and comfort than the umbilicus level of operating table height.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kustenti Prima
"ABSTRAK
Intubasi endotrakeal merupakan upaya menjaga jalan nafas dan memberikan ventilasi. Intubasi endotrakeal menggunakan pipa endotrakeal yang memiliki balon dan dapat dikembangkan dengan tekanan yang direkomendasikan adalah 20-30 cmH2O. Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi tekanan balon pipa endotrakeal, salah satunya rotasi kepala dan perubahan posisi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan balon pipa endotrakeal terhadap perubahan posisi rotasi kepala 15o, 45o, 60o, serta perubahan posisi lateral dekubitus. Penelitian dilakukan pada pasien yang menjalani anestesia umum dan terintubasi di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Tekanan awal balon ditetapkan sebesar 25 cmH2O lalu dilakukan perubahan posisi dari supinasi ke lateral dekubitus, rotasi kepala 15°, 45°, dan 60° lalu dilakukan penilaian oleh penilai yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara tekanan balon pipa endotrakeal pada posisi supinasi dengan posisi rotasi kepala 15o, 45o, 60odan lateral dekubitusdengan nilai uji Friedman p<0,001 serta uji post-hocdengan nilai uji Wilcoxon masing-masing p<0,001. Walaupun terdapat perbedaan bermakna secara statistik, namun hanya posisi lateral dekubitus yang memiliki perbedaan bermakna secara klinis. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan bermakna secara statistik pada perubahan posisi rotasi kepala 15o, 45o, 60odan lateral dekubitusdan hanya posisi lateral dekubitus yang memiliki perbedaan tekanan bermakna secara klinis.

ABSTRACT
Endotracheal intubation is an effort to maintain airway and deliver ventilation. It uses endotracheal tube which has inflatable cuff with recommended pressure of 20-30 cmH2O. There are various factors affecting the endotracheal tube cuff pressure, including head rotation and change of body position. This study aims to investigate the effect of 15o, 45o, 60ohead rotation and lateral decubitus body position to endotracheal tube cuff pressure. This study was conducted to intubated patients undergoing general anesthesia in RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Initial cuff pressure was set to 25 cmH2O; then body position was altered from supine to lateral decubitus; head rotated to 15°, 45°, 60°. Cuff pressure was measured by different observers. Results show significant difference in endotracheal tube cuff pressure between supine, head rotations, and lateral decubitus positions, with p<0,001 and subsequent post-hoc analysis yielding to p<0,001. Even though statistically significant, only lateral decubitus position yields to clinically significant pressure difference.
"
2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"Purpose: We evaluated cultured specimens from silicone tubes removed from patients with congenital nasolacrimal duct obstruction and determined the antibiotic sensitives of the specimens.
Methods: This study included 26 eyes of 22 patients who had received endonasal silicone tube intubation for congenital nasolacrimal duct obstruction. The removed silicone tubes were divided into canalicus, lacrimal sac, nasolacrimal duct and nasal cavity parts according to insertion state. Then, bacteria and fungus cultures were performed and rheir antibiotic sensitivity was tested.
Results: Bacteria culture rate was 80.8% in the canaliculus and the lacrimal sac, and 88.5% in the lacrimal duct, and the nasal cavity, which was not significantly higher in the nasal cavity than in the nasolacrimal duct and in the nasolacrimal duct than in the lacrimal sac and the canaliculus (p-value < 0.05). The species of cultured Gram-positive bacteria were in the following order: Staphylococcus aureus, streptococcus pneumonia and coagulase negative staphylococcus. Common species of cultured Gram-negative bacteria were Pseudomonas and Serratia marcescenes. All six species of cultured fungi were candida. Among 12 Staphylococcus aureus cultured, eight species showd resistance to methicillin (MRSA). In all patients, the symptomps and the signs of nasolacrimal duct obstruction improved after the tube removal.
Conclusions: Bacterial and fungal infection of the silicone tube in patients with congenital nasolacrimal duct obstruction does not appear to affect directly the outcome of silicone tube intubation. Further studies of bacterium and fungi in the nasolacrimal duct before silicone tube intubation are needed for determining the infection causing nasolacarimal duct obstruction J Korean Ophthalmol Soc 2014;55(8): 1121-1125"
Seoul: SKY1004 Building #701,50-1 Jungnim-ro, Jung-gu, Seoul 100-808, Korea,
610 JKOS
Majalah, Jurnal, Buletin  Universitas Indonesia Library
cover
Hafiz Audhar
"Latar belakang:Penggunaan pipa endotrakeal merupakan tindakan yang dapat menciptakan jalan napas yang aman selama operasi. Nyeri tenggorok pascaoperasi masih menempati rangking ke-8 dari komplikasi pascaoperasi terutama akibat intubasi dan penggunaan pipa endotrakeal.Metode: Penelitian ini menggunakan metode uji klinis prospektif acak tersamar ganda pada 88 pasien yang menjalani operasi dengan anestesi umum dengan pipa endotrakeal. Pasien dibagi menjadi dua kelompok secara acak; Grup A 44 orang dan Grup B 44 pasien. Sebelum induksi, pada grup A diberikan inhalasi NaCl 0,9 10 mL dan injeksi deksametason intravena, grup B diberikan inhalasi lidokain 2 1,5 mg/KgBB dan injeksi NaCl 0,9 2 mL. Penilaian tenggorok menggunakan Numerica Rating Scale dalam 3 waktu yang berbeda, jam ke-0, 2 jam dan 24 jam pascaoperasi. Kekerapan dan derajat nyeri dicatat dan dianalisa dengan menggunakan uji chi-kuadrat.Hasil: Tidak didapatkan perbedaan kekerapan nyeri tenggorok pascaoperasi bermakna pada kedua kelompok sesaat setelah operasi selesai 16,3 pada grup A dan 7 pada grup B, p = 0,313 , jam ke-2 dan jam ke-24 pascaoperasi tidak didapatkan nyeri tenggorok pada kedua grup . Derajat nyeri tenggorok pascaoperasi tidak berbeda bermakna di antara kedua kelompok.Simpulan: Inhalasi lidokain sebelum intubasi memiliki efektivits yang sama dengan profilaksis deksametason intravena dalam mencegah nyeri tenggorok pascaoperasi.Kata kunci: Nyeri tenggorok pascaoperasi, intubasi endotrakeal, deksametason, lidokain.

Background The use of endotracheal tube ETT is securing airway during surgery. Postoperative sore throat still holding the 8th rank of anesthesia complication however because endotracheal tube and intubation.Methods This study is prospective randomized clinical trials double blind in 88 patients undergoing surgery under anesthesia with endotracheal tube ETT . Patients was divided into two groups at random Group A 44 patients and group B 44 patient. Before the induction, patient in group A was given NaCl 0,9 inhalation 10 mL and intravenous dexamethasone injection 10 mg, group B was given lidocaine inhalation 1,5 mg KgBW and intravenous NaCl 0,9 injection 2mL. The evaluation using Numerical Rating Scale in three different times early after extubation, 2 hours and 24 hours postoperative. The frequency and degree of POST were recorded and analyzed using chi square.Result there are no differences in postoperative sore throat between both groups at early after surgery 16,3 in group A and 7 in group B, p 0,313 , 2 hour and 24 hour postoperative there is no POST were found in both group . The degree of POST was not significantly different between two group.Conclusion lidocaine inhalationbefore intubation has the same effectiveness compare to prophylactic intravenous dexamethason injection in reducing POST."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Zulfikar
"Latar belakang: Intubasi merupakan standar emas untuk menjaga patensi jalan nafas. Rapid Sequence Induction (RSI) adalah metode induksi anestesia yang cepat untuk mencapai kontrol jalan nafas dengan meminimalkan risiko regurgitasi dan aspirasi lambung. Video laringoskop CMAC® mempermudah tampilan visualisasi laring sehingga diharapkan mempermudah angka keberhasilan intubasi pada pertama kali upaya.
Tujuan: Membandingkan angka keberhasilan intubasi pada pertama kali upaya dengan teknik RSI antara video laringoskop CMAC® dan laringoskop konvensional Macintosh.
Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal. Total 120 pasien Ras Melayu yang memenuhi kriteria penerimaan dan tidak memenuhi kriteria penolakan dan menandatangani informed consent, menjalani operasi elektif dengan anestesia umum fasilitasi intubasi dengan induksi teknik RSI dibagi dalam dua kelompok perlakuan yaitu kelompok dengan menggunakan video laringoskop CMAC® dan laringoskop konvensional Macintosh. Penilaian yang diambil adalah angka keberhasilan intubasi pada pertama kali upaya antara dua kelompok. Data yang terkumpul di olah dengan SPSS dan di uji statisik.
Hasil: Angka keberhasilan intubasi pertama kali upaya dengan video laringoskop CMAC adalah 81,7% dan pada laringoskop konvensional adalah 76,3%. Uji statistik chi-square didapatkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05)
Simpulan: Angka keberhasilan intubasi pada pertama kali upaya menggunakan video laringoskop CMAC® dibandingkan laringoskop konvensional dengan teknik RSI pada ras Melayu tidak lebih tinggi.

Background: Intubation is the gold standard for maintaining airway patency. Rapid Sequence Induction (RSI) is a rapid method of induction of anesthesia to achieve airway control by minimizing the risk of gastric regurgitation and aspiration. The CMAC® laryngoscope video facilitates laryngeal visualization so that it is expected to facilitate the success rate of intubation at the first attempt.
Objective: To compare the first attempt success rate of intubation with the RSI technique between CMAC® video laryngoscope and conventional Macintosh laryngoscope Method: This study was a single blind randomized clinical trial. Total 120 patients Malay Race who met the inclusion criteria, did not meet the exclusion criteria and signed the consent, undergoing elective surgery with general anesthesia and intubation with RSI induction techniques then divide into two treatment groups, namely the group using CMAC® video laryngoscope and conventional Macintosh laryngoscope. The assessment taken was the first attempt success rate of intubation between the two groups. The collected data is analyze and statistically tested with SPSS.
Results: The first attempt success rate of intubation with CMAC® laryngoscope video was 81.7% and the conventional laryngoscope was 76.3%. Chi-square test found no significant difference between two group (p> 0.05).
Conclusion: The first attempt success rate of intubation using CMAC® video laryngoscope compared conventional laryngoscopy with RSI technique in the Malay race is statistically not significant."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>