Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sarah Nadhila Hardiana
"Dalam dekade terakhir, banyak ahli ekonomi yang telah membahas fenomena yang disebut middle-income trap sejalan bertumbuhnya pangsa ekonomi pendapatan. Fenomena middle-income trap ini dikenal sebagai kondisi dimana pertumbuhan ekonomi yang stagnan mencegah sebuah negara untuk mencapai tingkat pendapatan tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, negara anggota ASEAN telah berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara inovasi dan pendapatan per kapita untuk negara-negara ASEAN dan memahami peran inovasi dalam mendukung negara-negara ASEAN untuk beralih ke tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Studi ini menemukan bahwa inovasi bersama dengan investasi asing langsung dan produktivitas berkontribusi positif terhadap pendapatan per kapita. Inovasi juga ditemukan dapat meningkatkan kemungkinan naiknya tingkat pendapatan, khususnya untuk tingkat pendapatan menengah ke bawah menuju tingkat menengah ke atas. Produktivitas ditemukan sangat mempengaruhi kemungkinan pindah ke tingkat pendapatan yang lebih tinggi pada setiap tingkat kelompok pendapatan. Temuan lain dalam studi ini bahwa adanya hubungan curvilinear antara faktor pertumbuhan dan pendapatan per kapita, yang menunjukkan bahwa kontribusi faktor pertumbuhan disertai dengan efek marginal yang semakin berkurang. Ketika pendapatan per kapita tumbuh menuju tingkat pendapatan yang lebih tinggi, faktor pertumbuhan berkontribusi terhadap pendapatan pada tingkat yang menurun, maka menunjukkan kesulitan yang meningkat ketika naik ke kategori pendapatan yang lebih tinggi

In the past decade, many economists have discussed a phenomenon called the middle-income trap as the share of middle-income economies are growing. The trap is known as a condition of stagnant economic growth that prevents economies from reaching high-income level. In recent years, ASEAN countries have successfully reached the middle-income level. This research aims to understand the relationship between innovation and per capita income for ASEAN countries and understand the role of innovation in supporting ASEAN countries to switch towards a higher income level. This study found that innovation along with foreign direct investment and productivity contributes positively towards per capita income. Innovation was also found to increase the probability of moving up the income ladder, specifically for lower middle-income level towards upper middle-income level. Productivity was found to strongly influence the probability of moving up to a higher income level on any level of initial income group. Furthermore, we found that there is a curvilinear relationship between growth factors and per capita income, which indicates that the contribution of growth factors comes with diminishing marginal effects. As income per capita grows towards a higher income level, growth factors contribute towards income at a decreasing rate, which suggests heightened difficulty when moving up the income stages."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tambunan, Nathania Riris M.
"Sistem demokrasi dianggap menjadi dasar untuk mencapai kemajuan ekonomi, yang membawa implikasi langsung pada ketebukaan perdagangan. Namun, tak sedikit yang menganggap demokrasi  memborgol perdagangan. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah demokrasi memiliki dampak bagi perdagangan di negara berpendapatan menengah dan tinggi di Asia. Penelitian ini berfokus pada 11 negara di Asia yang dibagi berdasarkan negara pendapatan tinggi dan menengah periode 2009 hingga 2018.
Menggunakan model regresi data panel, hasil penelitian menemukan variabel interaksi demokrasi dan negara di Asia berpengaruh terhadap perdagangan. Namun, ditemukan bahwa perdagangan di negara pendapatan tinggi tidak terpengaruh demokrasi, sedangkan perdagangan di negara berpendapatan rendah sangat dipengaruhi demokrasi.

Economic progress is expected to go hand in hand with the establishment of the country's democratic system. However, there are those who consider democracy to 'handcuff' trade. This study aims to determine whether democracy has an impact on trade in the middle and high income countries in Asia. This study focuses on 11 countries in Asia which are divided by high-income and middle-income countries from 2009 to 2018.
Using panel data regression method, the results of the study found that the interaction between democracy and countries in Asia influences trade. However, it was found that trade in high-income countries was not affected by democracy, whereas trade in low-income countries was strongly influenced by democracy.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2020
T55005
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tono Setiadi
"ABSTRAK
Suatu rancangan rumah yang baik dapat memberikan Penampilan Bangunan (Building Performance) yang memenuhi kebutuhan kepuasan penghuni dalam penggunaan rumah itu sehari-hari. Dari ketiga aspek (aspek Teknikal, Fungsional, dan Perilaku) yang menentukan kualitas Penampilan Bangunan, aspek Perilaku (behavioral) sering kali kurang mendapat perhatian para arsitek dalam proses perancangan. Hal demikian diperkirakan terjadi pula pada unit rumah massal di lingkungan perumahan Real Estate yang dalam proses perancangan prototipe unitnya tidak dapat melibatkan partisipasi calon penghuni. Dengan kondisi proses seperti itu, memang patut dipertanyakan apakah karya arsitek tersebut benar-benar telah dapat memenuhi kebutuhan kesejahteraan sosiologikal dan psikologikal penghuni dari aspek Perilaku atau aspek lain-lain yang terkait. Pertanyaan yang sama pantas dilontarkan kepada para penghuni yang mendiami unit-unit rumah di lingkungan perumahan Bintaro Jaya. Penghuni dari golongan masyarakat berpenghasilan menengah ini dijadikan obyek penelitian karena memiliki beberapa kekhususan. Kelompok ini di Jakarta berjumlah cukup besar dan merupakan golongan profesional atau golongan tenaga terdidik yang potensial bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. Dari segi reliabilitas penelitian, golongan ini dapat diandalkan karena kemampuan mereka dalam memberikan pendapat atau opini yang obyektif dan netral. Dengan pertimbangan demikian, diharapkan hasil evaluasi Penampilan Bangunan dari aspek Perilaku dapat terungkap lebih akurat, dan sekaligus bermanfaat sebagai umpan balik penyempurnaan Kriteria Rancangan (Design Criteria) dalam penyiapan pembangunan unit rumah berikutnya.
Penelitian ini terutama bertujuan untuk mengungkapkan tanggapan penghuni terhadap Penampilan Bangunan ditinjau dari aspek Perilaku (dengan sub aspek Privasi, Teritorialitas, Ruang Personal, Kesesakan, dan Citra) dan bagaimana kondisi saling hubungan antar sub aspek Perilaku tersebut. Selain itu ingin pula mengetahui tingkat Kepuasan Keseluruhan (Overall Satisfaction) yang dirasakan penghuni atas unit rumah itu, dan bagaimana kondisi saling hubungan antara Kepuasan Keseluruhan tersebut dengan tiap sub aspek Perilaku. Untuk memperoleh pendapat atau opini penghuni, sebagai instrumen utama telah disebarkan sebanyak 152 kuesioner berskala kepada responden yang memenuhi kriteria/persyaratan sebagai penghuni kelas menengah di lingkungan Bintaro Jaya. Dari kuesioner yang masuk, setelah diseleksi, ditetapkan 80 kuesioner yang memenuhi syarat untuk dijadikan data penelitian. Data tersebut disusun dalam Tabel Induk, untuk kemudian dianalisis dan uji statistik, diinterpretasi, dan dibahas untuk memperoleh kejernihan masalah dan pemecahannya. Arah pembahasan ditujukan untuk memberikan bahan masukan terhadap pembentukan Kriteria Rancangan yang nantinya akan bermanfaat bagi para arsitek.
Hasil penelitian dilaporkan sebagai berikut:
1 Profit Penghuni
a. 58% berpendidikan Sarjana ke atas dan 42% Sarjana Muda/ SLTA.
b. 81% Pegawai Swasta dan 19% Pegawai Negeri.
c. 29% berpenghasilan kurang dari. 1 juta rupiah, 47% berpenghasilan 1-2 juta rupiah, 9% berpenghasilan 2-3 juta rupiah, 9% berpenghasilan 3-5 juta rupiah, dan 6% berpenghasilan lebih dari 5 juta rupiah.
d. 60% berusia 40 tahun ke bawah, 29% antara 41-50 tahun, dan 11% berusia 51 tahun ke atas.
e. 62% mempunyai anak 1-3 orang, 13% antara 4-5 orang, dan 25% tidak mempunyai anak/tidak tinggal bersamanya.
f. 79% memiliki pembantu antara 1-2 orang, 19% memiliki pembantu 3-4 orang, dan hanya 2% yang tidak memiliki.
2. Penampilan Bangunan dari aspek Perilaku
a. Privasi, Ruang Personal, Teritorialitas, dan Citra, dirasakan telah memadai.
b. Kesesakan, dirasakan kurang memadai.
3. Hubungan antar sub aspek Perilaku
a. Tidak semua variabel sub aspek saling berhubungan/berkorelasi.
b. Hubungan yang cukup signifikan terjadi antara: Ruang Personal dengan Kesesakan, Ruang Personal dengan Citra, Kesesakan dengan Citra.
4. Hubungan antara sub aspek Perilaku dengan Kepuasan Keseluruhan
a. Unit rumah dirasakan telah memenuhi Kepuasan Keseluruhan pars penghuninya.
b. Tidak semua variabel sub aspek Perilaku berhubungan dengan Kepuasan Keseluruhan. Teritorialitas, Ruang Personal, dan Citra mempunyai hubungan yang signifikan terhadap Kepuasan Keseluruhan.
5. Tanggapan terhadap aspek Perilaku dan Kepuasan Keseluruhan ditinjau dari tingkat Pendidikan
a. Dalam menanggapi penampilan bangunan dari aspek Perilaku, penghuni berpendidikan Sarjana ke atas tidak berbeda jauh dengan penghuni yang berpendidikan Sarjana Muda/ SLTA. Perbedaan yang agak mencolok hanya terjadi pada sub aspek Teritorialitas dan Kesesakan.
b. Begitu pula terhadap Kepuasan Keseluruhan.
"
1993
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadhila Fildza Henryantoputri
"Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada pengalaman belanja konsumen yang terdiri dari perasaan positif, orientasi hedonis, dan orientasi utilitarian, berdasarkan tipe teman belanja dan level mall identification yang berbeda dengan menggunakan MANOVA. Penelitian ini dilakukan di lima mal menengah ke atas di DKI Jakarta yang dipilih berdasarkan banyaknya pengunjung, yakni Mal Kelapa Gading, Gandaria City, Central Park, Grand Indonesia, dan Kota Kasablanka (Supriadi, 2014). Sampel penelitian ini berjumlah 150 orang. Data penelitian ini diadaptasi dari kuisioner pengalaman belanja berdasarkan tipe-tipe teman belanja dan level mall identification oleh Borges, Chebat, dan Babin (2010).
Hasil penelitian ini menemukan bahwa level mall identification yang berbeda menghasilkan perbedaan yang signifikan pada perasaan positif dan orientasi hedonis. Level mall identification yang berbeda tidak menghasilkan perbedaan yang signifikan pada orientasi utilitarian, serta tipe-tipe teman belanja tidak menghasilkan perbedaan yang signifikan pula pada orientasi utilitarian, orientasi hedonis, dan perasaan positif.

The aim of this study is to analyze whether there is significant difference in consumer shopping behavior consisted of positive affect, hedonic orientation, and utilitarian orientation, based on different shopping companion type and level of mall identification using MANOVA. The sample of this research took place at five top middle upper malls in DKI Jakarta, which are Kelapa Gading Mall, Gandaria City, Central Park, Grand Indonesia, and Kota Kasablanka, selected from the amount of visitors (Supriadi, 2014). The total samples of this research are 150 people. The data of this research is adapted from shopping experience questionnaire based on types of shopping companion and levels of mall identification (Borges, Chebat, & Babin, 2010).
This research found that different levels of mall identification have significant differences in positive affect and hedonic orientation. Different levels of mall identification do not generate significant differences in utilitarian orientation, while different types of shopping companion do not generate significant differences as well in utilitarian orientation, hedonic orientation, and positive affect.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2015
S60715
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library