Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Azhar Satrio Wibisono
"Latar Belakang : Bernapas melalui mulut merupakan upaya adaptasi untuk memenuhi kebutuhan udara. Kebiasaan ini dapat mengubah kondisi biologis di dalam lingkungan rongga mulut serta perkembangan anak-anak. Kondisi tersebut mempengaruhi kebersihan rongga mulut yang dapat menimbulkan bau mulut. Pengukuran kondisi bau mulut dapat diukur menggunakan metode organoleptik dengan indra. Enterococcus faecalis merupakan bakteri transien rongga mulut yang dapat ditemukan terutama pada saluran akar yang mengalami kegagalan perawatan endodontik. Penelitian mengenai keberadaan Enterococus faecalis pada anak-anak belum diketahui.
Tujuan : Menganalisis keberadaaan Enteroccocus faecalis pada sampel saliva dan plak gigi anak-anak berdasarkan kelompok skor organoleptik dan OHI-S (Oral Hygiene Index-Simplified).
Metode : Sampel saliva dan plak gigi anak usia 8-11 tahun diuji menggunakan metode ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay), kemudian dikelompokkan berdasarkan nilai organoleptik dan OHIS. Pengelolaan data dilakukan dengan membandingkan nilai antar kelompok anak-anak memiliki kecenderungan bernapas melalui mulut dengan tidak melalui mulut (bernafas melalui hidung).
Hasil : Sebagian besar tidak ditemukan perbedaan bermakna antara kelompok anak-anak memiliki kecenderungan bernapas melalui mulut dan hidung berdasarkan pembagian nilai organoleptik dan OHI-S. Pada salah satu uji ditemukan terdapat perbedaan bermakna pada kelompok bernapas melalui hidung berdasarkan nilai organoleptik. Terdapat kecenderungan keberadaan antigen Enterococcus faecalis lebih tinggi pada plak gigi daripada saliva.
Kesimpulan : Keberadaan antigen Enterococcus faecalis ditemukan lebih tinggi pada plak gigi dan terdapat kecenderungan keberadaan antigen Enteroccocus faecalis meningkat berkaitan dengan kondisi OHI-S.

Background: Mouth breathing is a type of habitual adaptation of breathing to fulfill the needs of oxygen. This habit could alter the biological oral condition and development of children. The altered condition of the oral environment could affect oral hygiene and cause oral malodor. Organoleptic is using human sense as a measurement to assess severity of oral malodor. Enterococcus faecalis is the transient bacteria of the oral cavity particularly found in the root canal of the failed endodontic treatment teeth. Based on previous studies, Enterococcus faecalis existence in children is unknown.
Purpose: To analyze the existence of Enterococcus faecalis antigen in salivary and tooth plaque samples of children based on organoleptic and OHI-S (Oral Hygiene Index-Simplified) score.
Methods: Salivary and tooth plaque sample of children age 8-11 were tested with ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay) technique and divided into several groups. The grouping was done based on the organoleptic and OHI-S score of subjects. Data analyzed by comparing scores between children who have a tendency toward mouth breathing with those who breathe with nose based on their organoleptic and OHI-S score.
Result: Mostly, there is no significant difference between groups who tend mouth breathing with those who breathe with nose based on organoleptic and OHI-S score. However, in one of the tests, there is significant difference within groups who breathe with nose based on organoleptic score. The antigen amount of Enterococcus faecalis was found higher in tooth plaque rather than in saliva.
Conclusion: The amount of Enterococcus faecalis antigen is higher in tooth plaque and there is a tendency that the amount of Enterococcus faecalis is influenced by the OHI-S score.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dela Vikantika Ponglabba
"Bubur daging buah merah (Pandanus conoideus Lamk) diperoleh tanpa didahului proses ekstraksi minyak dan ditambahkan pengemulsi, penstabil dan bahan lainnya seperti garam, gula dan asam sitrat. Bubur daging buah merah merupakan bahan baku yang dapat digunakan untuk pembuatan selai, dodol dan kue. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat fisik dan organoleptik beberapa formula bubur daging buah merah. Bubur daging buah merah dibuat dengan perlakuan jenis pengemulsi dan penstabil yaitu F0 (kontrol), F1 (Tween 80 2% dan CMC 1%), F2 (gelatin 2%), dan F3 (Tween 80 0,5% dan gelatin 1%). Sifat fisik dari keempat formulasi bubur daging buah merah adalah berwarna merah hingga merah oranye, beraroma khas buah merah, pH 6,64, viskositas 108-150 dPa.s, total padatan terlarut 8,4 - 8,5 oBrix, dengan kestabilan emulsi 2 sampai 7 hari. Berdasarkan hasil pengujian organoleptik, formula bubur daging buah merah yang paling disukai panelis adalah F3 dengan komposisi daging buah merah 95,1%, Tween 80 0,5%, gelatin 1%, garam 0,3%, gula 3% dan asam sitrat 0,1%, dengan tingkat penerimaan warna dengan skor 5,8 (agak suka sampai suka), aroma 4,9 (netral sampai agak suka), rasa 5,0 (agak suka), dan tampilan produk secara keseluruhan 5,0 (agak suka)."
Bogor: Balai Besar Industri Agro, 2020
338.1 WIHP 37:1 (2020)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Irene Aimee Suhardi
"Pendahuluan: Pada anak-anak prevalensi bernapas mulut mencapai 55% dan 85% diantaranya merupakan suatu kebiasaan yang terjadi tanpa disadari. Bernapas melalui mulut adalah suatu kebiasan buruk yang dapat menyebabkan penurunan laju alir saliva. Penurunan laju alir saliva ini dapat menyebabkan perubahan protein dalam rongga mulut, sehingga fungsi proteksi protein dari saliva yang akan menurun dan mikoorganisme di dalam rongga mulut akan meningkat. Hal ini menunjukan bahwa keadaan homeostasis di dalam rongga mulut dapat terganggu karena kebiasaan bernapas melalui mulut. Kondisi mikroorganisme yang semakin banyak akan meningkatkan aktivitas proteolitik sehingga protein akan terdegradasi menjadi gas-gas Volatile Sulfur Compound dan menyebabkan terjadinya bau mulut. Kondisi bau mulut dapat diuji secara klinis dengan uji organoleptik.
Tujuan: menganalisis total protein dan deteksi profil protein saliva terhadap skor organoleptik serta kondisi bernapas melalui mulut dan bernapas normal.
Metode: Sumber sampel dari tongue biofilm, saliva, dental biofilm, serta mukosa bukal anak yang bernapas normal dan melalui mulut. Kemudian dilakukan uji Bradford untuk mengetahui total protein dan uji SDS-PAGE untuk mengetahui profil protein pada saliva.
Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna kondisi bernapas mulut dan normal terhadap skor organoleptik dan total protein dari keempat sumber sampel. Korelasi total protein tongue biofilm dengan skor organoleptik pada anak bernapas mulut dan normal negatif sangat lemah tidak signifikan, sedangkan pada saliva positif lemah tidak signifikan. Korelasi total protein dental biofilm dengan skor organoleptik pada anak bernapas normal negatif sangat lemah tidak signifikan dan pada anak bernapas melalui mulut positif sangat lemah tidak signifikan. Akan tetapi, hasil korelasi total protein mukosa bukal berkebalikan dengan hasil korelasi dental biofilm baik pada kelompok bernapas normal dan mulut. Protein Amilase, MUC7, dan Cystatin yang terdeteksi pada saliva sampel lebih banyak terdapat pada anak bernapas normal. Protein MUC7dan Cystatin banyak terdapat pada anak dengan skor organoleptik rendah.
Kesimpulan: Hasil analisis total protein menunjukan tidak ada perbedaan total protein terhadap kelompok bernapas mulut dan kelompok bernapas melalui hidung. Korelasi total protein dengan skor organoleptik yang menunjukkan hubungan yang berbeda-beda pada setiap sumber sampel baik pada kelompok bernapas mulut dan kelompok bernapas melalui hidung. Protein MUC7 dan Cystatin pada saliva dapat menjadi indikator kondisi bernapas melalui mulut dan skor organoleptik.

Background: In children, the prevalence of mouth breathing reaches 55% and 85% of them are habits that occur unwittingly . Mouth breathing is one of the bad habit that can reduce salivary flow rate. Decreased salivary flow rate can affect condition of protein in oral cavity, so that the protective function of saliva will decrease and microorganism in oral cavity will increase. This shows that the state of homeostasis in the oral cavity can be disrupted due to the habit of mouth breathing. The increasing number of microorganisms will increase proteolytic activity so that the protein will be degraded into Volatile Sulfur Compound gases and cause bad breath. The condition of bad breath can be clinically tested with organoleptic tests.
Objective: to analyse total protein and detection of salivary protein against organoleptic score in mouth breathing children.
Methods : Sample sources of tongue biofilms, saliva, dental biofilms, and buccal mucosa of children mouth breathers and nasal breathers. Then, the Bradford Assay was performed to determine the total protein and SDS-PAGE test to determine the protein profile in saliva.
Result : there is no significant difference between mouth breathing and nose breathing against organoleptic score and total protein. The correlation of total tongue biofilm protein and organoleptic score in mouth breathing and nasal breathing children was negative very weak and not significant, while positive weak relationship was found in the correlation of total salivary protein and organoleptic score in mouth breathing and nasal breathing children. The correlation of total dental biofilm protein with organoleptic score in nasal breathers was negative very weak not significant, although in mouth breathers was found positive very weak not significant. However, the relationship between total buccal mucosa protein and score organoleptic was the opposite of the result of dental biofilm correlation. Amylase, MUC7, and Cystatin were found more in nasal breathers. MUC7 and Cystatin were found more in low organoleptic score.
Conclusion : The result of total protein analysis show that there is no significant difference data in mouth breathers and nasal breathers children also there are variant correlation between total protein and organoleptic score. MUC7 and Cystatin protein in saliva can be indicators of mouth breathing condition and organoleptic score."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syahfina Farahmida Aljogja
"ABSTRAK
Pendahuluan: Bernapas melalui mulut merupakan suatu kebiasaan buruk yang berdampak terhadap tumbuh kembang dentokraniofasial anak serta menyebabkan masalah lain pada rongga mulut, seperti kebersihan rongga mulut yang buruk dan bau mulut. Bau mulut dihasilkan oleh hasil produk akhir bakteri anaerob proteolitik. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai parameter biologis yang berkaitan dengan kondisi tersebut. Tujuan: Mengetahui prevalensi bakteri Treponema denticola dan Porphyromonas gingivalis pada anak bernapas melalui mulut. Metode: Jumlah seluruh subjek pada penelitian ini adalah 60 subjek dan telah dilakukan uji bernapas melalui mulut (19 subjek bernapas melalui mulut dan 41 subjek bernapas melalui hidung). Setelah itu, subjek diklasifikasikan berdasarkan skor organoleptik dan status kebersihan mulut. Identifikasi bakteri Treponema denticola dan Porphyromonas gingivalis pada plak supragingiva dan mukosa bukal subjek dilakukan menggunakan metode PCR konvensional. Hasil: Korelasi antara skor OHI-S dan organoleptik pada kelompok bernapas melalui mulut merupakan korelasi positif (r=0.001), sedangkan pada kelompok bernapas melalui hidung merupakan korelasi negatif (r= -0.046). Prevalensi bakteri Treponema denticola dan Porphyromonas gingivalis pada anak yang bernapas melalui mulut dan hidung tidak berbeda signifikan. Demikian pula nilai signifikansi terhadap prevalensi bakteri berdasarkan parameter klinis yang tidak menunjukkan perbedaan. Kesimpulan: Pada penelitian ini, prevalensi Treponema denticola dan Porphyromonas gingivalis tidak dapat dijadikan sebagai indikator biologis pada subjek bernapas melalui mulut.

ABSTRACT
Introduction: Mouth breathing is a bad habit that has several impacts on dentocraniofacial growth and development in children and other problems in the oral cavity condition, such as poor oral hygiene and halitosis. Halitosis caused by an anaerobic proteolytic bacteria product. Therefore, a further study about oral cavity microflora associated these conditions is needed. Objective: To determine the prevalence of Treponema denticola and Porphyromonas gingivalis in mouth breathing children. Method: A total number of 60 subjects had a mouth breathing test (19 subjects were diagnosed as mouth breathers and 41 subjects were diagnosed as nose breathers). Then, subjects were classified based on organoleptic score and oral hygiene status. Identification of Treponema denticola and Porphyromonas gingivalis in supragingival plaque and buccal mucosa subjects were used a conventional PCR method. Result: The correlation between OHI-S and organoleptic score in mouth breathers has a positive correlation (r= 0.001), meanwhile in nose breathers has a negative correlation (r= -0.046). Prevalence of Treponema denticola and Porphyromonas gingivalis in mouth and nose breathers have no significant differences. Moreover, significance value of prevalence Treponema denticola and Porphyromonas gingivalis based on clinical parameters have no differences. Conclusion: The prevalence of Treponema denticola and Porphyromonas gingivalis cannot be used as a biomarker in mouth breathers."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diana Novia
"Penelitian bertujuan untuk menghasilkan produk yogurt nabati hasil fermentasi susu kacang merah menggunakan kultur backslop. Kultur backslop yang digunakan sebanyak 15% (v/v) berasal dari produk BioYogurt, inkubasi dilakukan selama 48 jam pada suhu 38° C. Analisis produk fermentasi meliputi perhitungan jumlah bakteri asam laktat, kadar protein, total asam, pH dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada akhir fermentasi jumlah bakteri asam laktat adalah 7,64 log CFU/ml, kadar protein adalah 14,89 mg/ml, kadar total asam adalah 1,6%, pH adalah 4,00 dan tingkat kesukaan panelis terhadap produk adalah moderate.

The research aims to produce natural yogurt products of the fermented red bean milk by backsloping. Backslop culture from BioYogurt used as much as 15% (v/v), incubation performed for 48 hours at temperature of 38° C. Analysis fermentation products included the calculation of the lactic acid bacteria amount, protein content, total acid, pH and levels of panelist?s delight. The results showed that at the end of fermentation were, the number of lactic acid bacteria 7,64 log CFU/ml, protein content 14,89 mg/ml, total acid 1,6%, pH amount 4,00 and the degree of panelist?s delight against the product moderate."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S1249
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aprilia Winanda Miriyanti
"ABSTRAK
Ikan merupakan bahan pangan yang cepat mengalami pembusukan (perishable food) sehingga perlu penanganan yang baik dari penanganan di atas kapal, distribusi, pengumpul, pemasaran sampai dengan pengolahan untuk mengetahui kaitan konsumsi ikan dengan kesehatan masyarakat. Spesies ini adalah salah satu tangkapan dominan yang di daratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu dan mengevaluasi kesesuaian penanganan ikan tongkol abu-abu (Thunnus tonggol) terhadap persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan. Metode diperoleh dari penilaian mutu organoleptik selama proses pembongkaran. Analisa organoleptik dilakukan dengan metode sesuai dengan SNI 2346
: 2011, penentuan kesesuaian standar menggunakan gap analisis sedangkan perumusan strategi menggunakan Analisa SWOT. Kesenjangan dinilai dengan membandingkan proses aktual dengan peraturan pemerintah (KEPMEN KP No.52A/KEPMENKP/2013). Dari hasil penelitian diketahui bahwa nilai organoleptik adalah 7 dengan batasan nilai 7,32 ≤ µ ≤ 8,1. Terdapat kesenjangan sebesar 1,79 dengan tingkat kesesuaian sebesar 64,30 %. Diperoleh enam strategi pemenuhan persyaratan dengan tujuan utama
yaitu ikan bermutu baik. Adapun langkah jangka pendek yang harus dilakukan untuk pencapaian strategi antara lain melakukan pembersihan lingkungan TPI higenis beserta perlengkapan & peralatan pendukungnya, menambah poster peringatan di area Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan tentang pentingnya penanganan ikan yang baik, serta sosialisasi & pendampingan penggunaan teknologi informasi yang baru pada proses pelayanan perijinan.

ABSTRACT
As a perishable food, fishes required a proper handling from onboarding, unloading, marketing and processing. This handling closely related to the effect of fish product consumption to public health. This species is one of the dominant catch that landed at the Pekalongan Archipelagic Fishing Port (AFP). This research aims to evaluate Longtail tuna handling to ensure the standard of quality insurance and safety of fisheries product. Data was collected by organoleptic assessment of fish quality during unloading process. Organoleptic analysis was carried out using a method in accordance with SNI 2346 : 2011, determining the suitability of the standard using gap analysis while the formulation of strategies using SWOT analysis. The gap will assess by comparing the actual process and the goverment regulation (KEPMEN KP No. 52A/ KEPMENKP/2013). The result showed that the quality of longtail tuna landed in Pekalongan AFP was quite acceptable by 7 with range 7,32 ≤ µ ≤ 8,1 and total average 7,85. The suitability with the handling standard was poor by 64,30% with the gap at 1,79. There are six strategies to ensure the standard of quality and safety insurance system standards fisheries product with the main goal of good quality fish. The short-term step that must be taken to achieve the standard fulfillment strategy is to clean the hygienic fishing port environment along with its supporting equipment, adding warning posters in the Pekalongan AFP area about the importance of good fish handling, as well as socialization & mentoring for the use of new information technology in each process of licensing services.
"
2018
T51921
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library