Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Luwi Wahyu Adi
"Pembangunan perumahan bersubsidi di wilayah Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek) menimbulkan kekawatiran penurunan kualitas manusia dan lingkungan jika tidak diawasi. Dengan adanya konsep perumahan hijau dan sejalan dengan komitmen global tentang lingkungan, maka perumahan bersubsidi perlu didorong untuk lebih berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana implementasi konsep keberlanjutan di perumahan bersubsidi di Bodetabek. Analisis yang dilakukan mencakup pola distribusi, hasil penilaian potensi hijau, serta sikap dan perilaku yang membentuk perumahan bersubsidi hijau. Metode yang digunakan adalah analisis klaster dengan algoritma K-means, penilaian terukur berdasarkan kriteria perumahan hijau, observasi lapang, serta kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perumahan bersubsidi tumbuh di wilayah kepadatan rendah-sedang, karakteristik perdesaan (sawah, kebun, dll) dan akses jalan lokal. Rata-rata pemenuhan kriteria perumahan hijau adalah 44,28% sedangkan rata-rata ekspektasi masyarakat adalah 75,55%, sehingga dapat dikatakan belum optimal (gap negatif). Aspek spasial (kepadatan, tata guna/tutupan lahan, aksesibilitas) merupakan faktor strategis pembentuk harga tanah sedangkan aspek non spasial (kriteria/variabel hijau) merupakan bagian komponen biaya konstruksi rumah. Keduanya memiliki keterkaitan tidak langsung. Terdapat variasi kriteria/variabel yang membentuk pola perilaku spasial yaitu variabel transportasi umum dan resapan air. Pemenuhan kriteria perumahan hijau tidak selalu memicu pemenuhan kriteria perilaku hijau. Sikap dan perilaku pengembang dan masyarakat sangat menentukan hasil penilaian ditambah faktor lain. Penerapan konsep berkelanjutan diharapkan mampu mengurangi pengaruh dampak negatif yang dapat terjadi di perumahan bersubsidi.

The development of subsidized housing in the Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi (Bodetabek), prompts worries regarding the degradation of human and environmental quality if left unchecked. Sustainable practices in subsidized housing should be promoted through the idea of green subsidized housing, aligning with global efforts to protect the environment. This research seeks to examine how well the idea of sustainability has been applied in subsidized housing in Bodetabek. The examination encompasses distribution patterns, outcomes from green potential evaluations, and the attitudes and behaviors influencing green subsidized housing. This study employs cluster analysis through the K-means algorithm, evaluating criteria related to green housing, as well as utilizing field observations, surveys, and interviews. The findings indicate that subsidized housing increases in areas with low to medium density, featuring rural traits (such as rice fields, gardens, etc.) and accessibility to local roads. The mean attainment of green housing standards is 44.28%, whereas the average community expectation stands at 75.55%, indicating a suboptimal situation (negative gap). Spatial factors (density, land use/land cover, accessibility) are key elements influencing land prices, whereas non-spatial factors (green criteria/variables) contribute to the cost of house construction. They share an indirect association. Variations exist in the criteria and variables that influence spatial behavior patterns, specifically regarding public transportation and water catchment factors. Meeting green housing standards does not necessarily lead to meeting green behavior standards. The results of the assessment are influenced by the attitude and behavior of developers and the community, along with other factors. The use of sustainable ideas is anticipated to diminish the effects of adverse outcomes that may arise in subsidized housing. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andrean Eka Lucianto
"Pertumbuhan penduduk di Indonesia senantiasa diikuti oleh peningkatan kebutuhan hunian. Permasalahan yang timbul adalah adanya gap antara indeks Green Neighborhood untuk kawasan perumahan dengan kondisi riil perumahan bersubsidi, sehingga integrasi antara Affordable Housing dengan konsep keberlanjutan khususnya untuk kawasan perumahan bersubsidi dalam kerangka indeks Green Neighborhood menjadi tantangan utama. Riset ini bertujuan untuk merumuskan indeks Green Neighborhood pada perumahan bersubsidi. Metode riset menggunakan analisis spasial, site analysis, scoring/penilaian indeks, wawancara dan wawancara mendalam. Penilaian menggunakan variabel dalam Definisi Operasional Variabel memperoleh poin 16 dengan tingkat penilaian Kurang Baik. Besarnya prosentase perbandingan variabel dari aspek ekonomi 3,31%, aspek sosial 22,55% dan aspek lingkungan 68,14%. Rumusan indeks Green Neighborhood khusus untuk perumahan bersubsidi variabel aspek lingkungan: Ekologi Lahan, Pergerakan dan Konektivitas, Manajemen Air dan Konservasi, Limbah Padat dan Material. Variabel pada aspek sosial: Fasilitas Sosial Komunitas, Kesejahteraan Sosial Komunitas. Variabel pada aspek ekonomi: Keterjangkauan Harga, Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat, Inovasi dan Pengembangan.

Population growth in Indonesia has always been followed by an increase in the need for housing. The problem that arises is that there is a gap between the Green Neighborhood index for housing areas and the real conditions of subsidized housing, so that the integration between Affordable Housing and the concept of sustainability, especially for subsidized housing areas within the framework of the Green Neighborhood index, is a major challenge. This research aims to formulate a Green Neighborhood index on subsidized housing. The research method uses spatial analysis, site analysis, scoring / index assessment, interviews and in-depth interviews. The assessment using variables in the Variable Operational Definition gets 16 points with a Poor rating level. The magnitude of the percentage comparison of variables from economic aspects is 3.31%, social aspects are 22.55% and environmental aspects are 68.14%. Green Neighborhood index formulation specifically for subsidized housing with variable environmental aspects: Land Ecology, Movement and Connectivity, Water Management and Conservation, Solid Waste and Materials. Variables in social aspects: Community Social Facilities, Community Social Welfare. Variables in economic aspects: Affordability, Community Economic Welfare, Innovation and Development."
Depok: Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eko Wibisono
"Mahalnya harga rumah merupakan permasalahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Program perumahan bersubsidi diharapkan dapat mengurangi kekurangan suplai perumahan (backlog) terhadap permintaan dan kebutuhan di masyarakat. Seiring berjalannya program, ternyata masih banyak masyarakat yang masih kesulitan untuk mendapatkan fasilitas subsidi tersebut. Kabupaten Bogor memiliki jumlah penduduk paling banyak di Jawa Barat mencapai 4,7 juta jiwa dan diprediksi akan meningkat 127% pada tahun 2030. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa apakah program Fasilitas Likuiditas Perumahan Bersubsidi (FLPP) telah berjalan efektif, kemudian mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan program Fasilitas Likuiditas Perumahan Bersubsidi (FLPP) agar kebijakan program dapat berjalan efektif dalam implementasinya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan tabulasi silang untuk melihat faktor yang mempengaruhi. Hasil penelitian didapatkan bahwa ketepatan sasaran pada program perumahan bersubsidi FLPP di Kabupaten Bogor masih dibawah 75% yang artinya tidak efektif, serta aktor yang mempengaruhi ketepatan tersebut adalah gaji pokok, pendidikan dan usia.

The high price of the house is a problem for low-income communities. Subsidized housing program is expected to reduce the shortage of housing supply (backlog) of the demand and need in the community. Over the program, there are still many people who are still difficult to obtain the subsidy facility. Bogor Regency has the most population in West Java reached 4.7 million people and is predicted to increase by 127% in 2030. The purpose of this study is to analyze whether the subsidized housing program Finance Housing Liquidity Facility (FLPP) are effective, then to identified the factors that influence the success of subsidized housing program Finance Housing Liquidity Facility (FLPP) so that policies can be effective program in implementation. The method used is descriptive quantitative by using cross tabulation to look at the factors that influence. The results showed that the targeting accuracy in subsidized housing programs FLPP in Bogor still below 75% which means ineffective, and the actors that influence the accuracy is the basic salary, education and age."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2014
T43003
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library