Hasil Pencarian

Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Eldesta Nisa Nabila
"Preeklamsia (PE) selama ini selalu menjadi salah satu masalah terbesar di dunia kesehatan. Tidak hanya karena kondisi ini meyebabkan tingginya angka kematian ibu, namun keadaan ini juga dapat memicu berbagai efek negatif pada bayi. Fokus dari studi ini adalah untuk melihat peran dari prorenin dalam patogenesis PE dengan membandingkan konsentrasi prorenin pada plasenta normal dan plasenta yang diambil dari pasien PE. Sampel plasenta diperoleh dari 69 ibu hamil yang berumur sekitar 30 tahun dengan umur kehamilan bekisar 26-41 minggu. Jaringan plasenta terdiri atas 12 sampel normal, 12 sampel PE onset akhir, dan 1 sampel PE onset awal. Kit ELISA digunakan pada prosedur ini untuk meneliti konsentrasi prorenin pada jaringan secara langsung serta hasilnya diinterpretasikan bedasarkan nilai absorbansi. Normalitas distribusi data dinilai menggunakan metode SHAPIRO WILK dan ditemukan bahwa distribusi data merupakan data nonparametrik. Oleh karena itu, MANN-WHITNEY dipilih sebagai metode untuk melihat signifikansi dari perbedaan level prorenin pada sampel jaringan normal dan PE. Hasil yang didapatkan adalah p=0.932 yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan akan level prorenin pada sampel normal dan sampel PE. Bedasarkan penemuan ini, dapat dispekulasikan bahwa prorenin tidak secara langsung berpartisipasi dalam patogenesis PE.

Preeclampsia (PE) has always been regarded as one of the most deteriorating burdens in the world of medicine. Not only it contributes to high maternal mortality, but it also impose numerous drawbacks to the babies. The focus of this study is to investigate the involvement of prorenin in the pathogenesis of preeclampsia by comparing its concentration in the placenta sample of normal pregnancy and both early and late onset PE. The placenta was taken from 69 pregnant women ageing around 30 years old whose gestational age ranging between 26-41 weeks. The placental tissue were consisting of 12 normal samples, 12 late-onset PE samples, and 1 early-onset PE sample. ELISA kit was used to directly observe the concentration of prorenin and the result was interpreted based on the absorbance value.  The normality of the data distribution was assessed by SHAPIRO WILK method from which the data was found to be nonparametric. Therefore, Mann-Whitney method was used in order to found the significance of prorenin level difference in normal and preeclamptic pregnancy and the obtained value was p=0.932, meaning that no significant difference was observed between prorenin level of normal and preeclamptic placenta sample. Based on this finding, it can be speculated that prorenin does not directly participate in the pathogenesis of PE."
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fahmi
"Latar belakang: Pasien preeklampsia mengalami disfungsi endotel sistemik. Manifestasi disfungsi endotel pada ginjal terlihat dengan adanya proteinuria yang dapat diukur menggunakan rasio protein-kreatinin urin. Manifestasi pada jantung terlihat dengan adanya disfungsi sistolik subklinik pada keadaan disfungsi diastolik. Hubungan antara proteinuria dengan fungsi intrinsik ventrikel kiri pada pasien preeklampsia belum diketahui.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan fungsi intrinsik ventrikel kiri dengan rasio protein-kreatinin urin pada pasien preeklampsia.
Metode: Penelitian ini adalah studi korelasi dengan desain prospektif. Subjek penelitian adalah pasien preeklampsia yang akan dilakukan terminasi kehamilan. Dilakukan pemeriksaan ekokardiografi dan rasio protein-kreatinin urin sebelum melahirkan. Dilakukan evaluasi ekokardiografi 48-72 jam pasca melahirkan. Pemeriksaan ekokardiografi dan rasio protein-kreatinin urin dilakukan kembali pasca nifas. Dilakukan pemeriksaan global longitudinal strain (GLS) secara offline dengan software tertentu.
Hasil Penelitian: Tiga puluh subjek ikut dalam penelitian ini dengan rerata usia adalah 28,5±6,4 tahun. Fungsi intrinsik ventrikel kiri pasien preeklampsia pada penelitian ini mengalami perbaikan, jika dibandingkan dari sebelum melahirkan dengan pasca nifas dengan nilai GLS masing-masing -17,65±2,9% dan 18,75±2,44% (p=0,024). Pada analisis bivariat didapatkan hubungan antara rasioprotein kreatinin urin sebelum melahirkan dengan fungsi intrinsik ventrikel kiri sebelum melahirkan (r= 0,445 p=0,014). Analisis multivariat tetap menunjukkan adanya hubungan antara rasio-protein kreatinin urin sebelum melahirkan dengan fungsi intrinsik ventrikel kiri sebelum melahirkan (r=0,426 p=0,011). Tidak terdapat hubungan antara rasio protein-kreatinin urin sebelum melahirkan dengan perubahan GLS (r=0,157 p= 0,408).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara rasio protein-kreatinin urin sebelum melahirkan dengan fungsi intrinsik ventrikel kiri sebelum melahirkan yang dinilai dengan global longitudinal strain speckle tracking pada pasien preeklampsia.

Background: Preeclampsia (PE) is a complication of pregnancy caused by endothelial dysfunction. One of the manifestation of endothelial dysfunction in PE is glomerular endotheliosis that shown by proteinuria. In this study the parameter for proteinuria is an urine protein-creatinine ratio. The cardiac manifestation of endothelial dysfunction in PE is a subclinic sistolic dysfunction in diastolic dysfunction.
Objectives: To study the correlation of left ventricle intrinsic function with urine protein-creatinine ratio in preeclampsia.
Methods: This is a correlation study with prospective design. The subjects were preeclampsia patients of which the gestation would be terminated. The echocardiography was performed 3 times; prior to delivery, 48-72 hours after delivery and 40-60 day after delivery. Urine protein-creatinine ratio was measured twice; prior to delivery and 40-60 days after delivery. The global longitudinal strain (GLS) was analyzed offline.
Results: Thirty patients were enrolled in this study. The mean ages was 28±6,4 years old. Left ventricle intrinsic function after parturition had improved. GLS before delivery was -17,65±2,9% and after parturition was -18,75±2,44%. Bivariate analysis showed there was a positive correlation between GLS prior to delivery with urine protein-creatinine ratio prior to delivery (r=0,445 p=0,014). Multivariate analysis showed a positive correlation between GLS prior to delivery with urine protein-creatinine ratio prior to delivery. (r=0,426 p=0,011). There was no correlation between urine protein-creatinine ratio prior to delivery with GLS changes (r=0,157 p=0,408).
Conclusion: This prospective study demonstrated there was a moderate correlation between left ventricle intrinsic function (GLS) prior to delivery with urine protein-creatinine ratio prior to delivery.
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andi Deviriyanti Agung
"Latar Belakang: Preeklamsia merupakan masalah penting yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal. Preeklamsia berhubungan dengan stres oksidatif pada sirkulasi maternal. Preeklampsia merupakan hasil dari ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan antioksidan sehingga terjadi reaksi inflamasi berlebihan pada kehamilan yang berakibat disfungsi endotel. Antioksidan dan inflamasi dalam tubuh ditentukan oleh status gizi ibu dan bayi yang dapat dinilai dari kadar serum ibu seperti zink, selenium, besi dan tembaga.
Tujuan: Diketahuinya perbedaan kadar zink, selenium, besi dan tembaga dalam serum maternal dan tali pusat pada preeklamsia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan jumlah sampel 35 yang melakukan persalinan di RS Cipto Mangunkusumo. Setelah itu data disajikan dalam tabel dan dianalisis dengan uji T berpasangan dan uji Wilcoxon. Penelitian ini sudah lolos kaji etik dan mendapat persetujuan pelaksanaan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan FKUI-RSCM.
Hasil: Kadar rerata zink pada serum maternal dan tali pusat adalah 43,17 11,07 g/dl dan 86,66 25,54 g/dl dengan selisih rerata -43,49 27,83, nilai p

Background: Preeclampsia is a significant health problem and is the leading cause of maternal and perinatal mortality and morbidity. Preeclampsia is associated with oxidative stress in the maternal circulation. Preeclampsia was a manifestation of the free radical and antioxidant imbalance resulting inflammation and endothelial dysfunction. Antioxidant dan inflammation was determined by nutrition status that measured in maternal and fetal serum such zinc, selenium, iron and copper.
Objective: Investigate the mean difference of zinc, selenium, iron and copper in maternal serum and fetal umbilical cord in pregnancy with preeclampsia.
Methods: This was a cross sectional study enrolled 35 preeclampsia patients pregnancy visiting Cipto Mangunkusumo Hospital. Data was presented in table and was analyzed by paired T test and Wilcoxon test. This study had been granted ethical clearence and approved by Ethical Committee for Health Research Faculty of Medicine University of Indonesia Cipto Mangunkusumo Hospital.
Result: The zinc maternal level and fetal umbilical cord were 43,17 11,07 g dl and 86,66 25,54 g dl, p
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Astrisa Faadhilah
"Berat badan lahir rendah didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) sebagai berat saat lahir kurang dari 2500 g. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) meningkatkan angka kesakitan dan kematian dua kali lipat dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan 2500 g atau lebih (Gopalan, 2018). Berat lahir rendah menjadi masalah kesehatan masyarakat berkelanjutan secara signifikan dan global dikaitkan dengan serangkaian konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang (WHO, 2014). Faktor resiko utama yang berhubungan dengan tingginya kejadian BBLR adalah faktor demografi, penyakit kronis sebelum hamil, status gizi ibu hamil, komplikasi dalam kehamilan, dan status pemeriksaan kehamilan (Committee on Prevention of Low Birth Weight, 1985; Gopalan, 2018). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan pendekatan case control. Penelitian ini menggunakan analisis cox regression dengan hasil ukur prevalence ratio (PR).
Hasil penelitian ini menemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara preeklamsia dengan kejadian BBLR dengan p value = 0,000, yang berarti <0,05 dengan nilai PR adjusted 1,497 (CI 95% 1,207-1,846) setelah dikontrol oleh variabel kovariat. Angka kejadian BBLR berhubungan dengan penanganan kasus preeklamsia dan eklamsia yang gawat memerlukan tindakan aktif, yaitu terminasi kehamilan segera tanpa memandang usia kehamilan dan perkiraan berat badan janin sehingga dapat melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Oleh sebab itu, sangat diperlukan pemantauan oleh tenaga kesehatan terhadap ibu-ibu yang mengalami komplikasi dalam kehamilannya terutama yang memiliki tekanan darah yang tinggi dalam kehamilannya agar dapat ditangani secara dini dan dilakukan perawatan konservatif sehingga kejadian BBLR dapat dicegah.

Low birth weight is defined by the World Health Organization (WHO) as birth weight less than 2500 g. Babies with low birth weight (LBW) increase the morbidity and mortality doubled compared to babies born with a body weight of 2500 g or more (Gopalan, 2018). Low birth weight is a significant public health problem globally and is associated with a series of short and long-term consequences (WHO, 2014). The main risk factors associated with the high incidence of LBW are demographic factors, chronic pre-pregnancy disease, nutritional status of pregnant women, complications in pregnancy, and pregnancy examination status (Committee on Prevention of Low Birth Weight, 1985; Gopalan, 2018). The method used in this study is cross sectional with a case control approach. This study uses cox regression analysis with the results of measuring prevalence ratio (PR).
The results of this study found that there was a significant relationship between preeclampsia and the incidence of LBW with p value = 0,000 (<0,05), PR adjusted 1,497 (CI 95% 1,207-1,846). after being controlled by covariate variables. The incidence of LBW associated with the handling of severe cases of preeclampsia and eclampsia requires active action, namely immediate termination of pregnancy regardless of gestational age and the estimated body weight of the fetus so that it can give birth to babies with low birth weight. Therefore, it is necessary to monitor health personnel for mothers who experience complications in their pregnancy, especially those who have high blood pressure in their pregnancy so that they can be treated early and conservative care so that the incidence of LBW can be prevented.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T52890
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riyan Hari Kurniawan
"Tesis ini bertujuan mengetahui kadar vitamin D dan zinc serum pasien preeklamsia berat dan hamil normal, mengetahui hubungan antara kadar vitamin D dan zinc dengan kejadian preklamsia berat, dan prevalensi preeklamsia berat di RSCM. Penelitian ini merupakan observasional potong lintang. Subyek penelitian adalah perempuan hamil yang menjalani persalinan di Kamar Bersalin RSCM pada Januari sampai dengan April 2014. Terdapat 22 subyek kelompok preeklamsia berat dan 22 subyek kelompok hamil dengan tekanan darah normal. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar vitamin D dan median kadar zinc lebih rendah pada kelompok preeklamsia berat dibandingkan hamil normal, namun tidak berbeda bermakna. Kadar vitamin D dan zinc tidak berhubungan bermakna dengan kejadian preklamsia berat, dengan p=0,689 dan 0=0,517. Prevalensi hipertensi dalam kehamilan di RSCM adalah 31,07%, dengan rincian sebagai berikut: hipertensi kronik, hipertensi gestasional, preeklamsia ringan, preeklamsia berat, preeklamsia berat superimposed, sindrom HELLP, dan eklamsia gravidarum adalah 0,54%, 2,14%, 1,96%, 17,14%, 3,21%, 4,64%, dan 1,44%.

The purpose of this investigation was to examine the maternal plasma level of vitamin D and zinc in cases of severe preeclampsia compare to normal pregnancy, to know association between level of vitamin D and zinc and severe preeclampsia, and to know prevalence of severe preeclampsia in Cipto Mangunkusumo. This is a cross sectional observational study. Subjects were pregnant women who gave birth in delivery room Cipto Mangunkusumo Hospital in between January and April 2014. There are 22 subjects in severe preeclampsia group and 22 subjects in normotensive pregnancy. Subject with severe preeclampsia were noted to have lower maternal vitamin D and zinc level to normotensive pregnancy with not significant statistically (p 0,689 and p 0,517). Prevalence of hypertension in Cipto Mangunkusumo hospital is 31,07% which is contain of: chronic hypertension 0,54%, gestational hypertension 2,14%, mild preeclampsia 1,96%, severe preeclampsia 17,14%, superimposed severe preeclampsia 3,21%, HELLP syndrome 4,64%, and eclampsia 1,44%."
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yanti Susianti
"[ABSTRAK
Latar Belakang. Tujuan penelitian untuk melihat faktor ibu dan neonatus yang dapat menyebabkan keberhasilan minum pada neonatus yang lahir dari ibu preeklamsi. Intoleransi minum yang tidak disebabkan sepsis seringkali menyulitkan pemberian makan pada neonatus agar tumbuh kembangnya sempurna. Akan diteliti faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan minum.
Metode Penelitian. Dengan menggunakan desain potong lintang dan rumus analisis multivariat didapatkan 72 sampel rekam medik dari ibu dan neonatus yang diambil secara consecutive sampling di rekam medik RSCM kemudian dilakukan analisis univariat, bivariat, dan multivariat.
Hasil. Karakteristik ibu dan bayi yaitu sebagian besar bayi lahir dari ibu berusia 31-35 tahun, tingkat pendidikan SMA, memiliki anak usia 1-3 tahun, ANC ≥ 4x, cara persalinan bedah kaisar, kriteria preeklamsia berat, nilai SDAU tidak membuat hipoksia. Sebagian besar bayi lahir usia gestasi ≤ 32 minggu, terbanyak berjenis kelamin perempuan. Proporsi bayi yang lahir dengan dengan berat lahir 1000-1500 gram tidak berbeda dengan 1501-2000 gram, terbanyak tidak PJT, terbanyak menggunakan CPAP, dan nilai APGAR menit ke-5 ≥ 7. Analisis multivariat menunjukkan ada 2 faktor yang dapat dijadikan prediktor keberhasilan minum yaitu usia gestasi dan kondisi klinis. Bayi dapat minum full feed dengan median 9,5 hari dengan rentang 3,5-15,5 hari.
Simpulan. Faktor keberhasilan minum adalah usia gestasi ˃ 32 minggu dan tidak ditemukan intoleransi klinis.

ABSTRACT
Introduction. The aim of this study is to observe predictive factors from mothers and neonates for successful feeding. Feeding intolerance can happen without sepsis and becomes worst in the future. Other factors that influence successful feeding will be assessed in this study.
Methods. This study is a cross sectional study using secondary data obtained from medical records of 72 subject, recruited with consecutive sampling. Univariate, bivariate, and multivariate analyses were performed in this study.
Results. A large proportion of the babies were born from mothers aged 31-35 years old, senior high school graduated, having an 1-3 year-parity interval, giving birth through sectio caesaria delivery, ANC ≥ 4x, and having severe preeclampsia, and non hypoxic SDAU. The most of the babies born at gestational age ≥ 32 weeks and females. The most of the babies born with a birth weight of 1000-1500 grams and 1501-2000 grams weeks were not different, the most babies not IUGR, being assisted with CPAP, having an APGAR score at the 5th minutes ≥ 7. Multivariate analyses revealed the gestational age and clinical symptoms were predictor factors for successful feeding in neonates. Neonates successful feeding in median 9,5 days and range from 3,5 to 15,5 days.
Conclusion. Predictor factors for successful feeding in neonates were gestational age more than 32 weeks and the absence of clinical symptoms, Introduction. The aim of this study is to observe predictive factors from mothers and neonates for successful feeding. Feeding intolerance can happen without sepsis and becomes worst in the future. Other factors that influence successful feeding will be assessed in this study.
Methods. This study is a cross sectional study using secondary data obtained from medical records of 72 subject, recruited with consecutive sampling. Univariate, bivariate, and multivariate analyses were performed in this study.
Results. A large proportion of the babies were born from mothers aged 31-35 years old, senior high school graduated, having an 1-3 year-parity interval, giving birth through sectio caesaria delivery, ANC ≥ 4x, and having severe preeclampsia, and non hypoxic SDAU. The most of the babies born at gestational age ≥ 32 weeks and females. The most of the babies born with a birth weight of 1000-1500 grams and 1501-2000 grams weeks were not different, the most babies not IUGR, being assisted with CPAP, having an APGAR score at the 5th minutes ≥ 7. Multivariate analyses revealed the gestational age and clinical symptoms were predictor factors for successful feeding in neonates. Neonates successful feeding in median 9,5 days and range from 3,5 to 15,5 days.
Conclusion. Predictor factors for successful feeding in neonates were gestational age more than 32 weeks and the absence of clinical symptoms]"
Lengkap +
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hutabarat, Martina
"ABSTRAK
Preeklamsia merupakan masalah kesehatan maternal yang berdampak luas pada kesehatan manusia. Defek plasentasi merupakan faktor predisposisi utama preeklamsia yang mengakibatkan spektrum kematian sel apoptosis, aponekrosis dan autofagi. Autofagi juga berperan sebagai mekanisme ketahanan selular melalui nutrisi sebagai regulator utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran nutrisi dan autofagi sebagai ketahanan selular pada patomekanisme preeklamsia . Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain potong lintang yang dilakukan terhadap 4 kelompok yakni; hamil normal, preeklamsia awitan lanjut, preeklamsia awitan dini dan PJT dengan jumlah sampel 10 pasien tiap kelompok. Dilakukan analisis nutrisi secara kualitatif dan kuantitatif untuk zat nutrisi vitamin D, kalsium dan seng serta zat nutrisi sebagai marka inflamasi yaitu vitamin A dan mineral besi. Dilakukan pemeriksaan marka kematian sel LDH dan pemeriksaan marka autofagi LC3, Beclin-1, kegagalan autofagi rasio LC3/Beclin-1 serta marka nutrisi plasenta VDR. Selama periode Agustus hingga Oktober 2015 terdapat 40 pasien yang mengikuti penelitian di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan RS Budi Kemuliaan Jakarta. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi LC3 dan Beclin-1 serta rasio LC3/Beclin-1 di antara kelompok penelitian. Kelompok preeklamsia awitan dini dan PJT memiliki ekspresi LC3 dan Beclin-1 tertinggi, sedangkan kelompok hamil normal dan preeklamsia awitan lanjut memiliki rasio LC3/Beclin-1 tertinggi. Terdapat korelasi antara kegagalan autofagi dengan LDH. Terdapat defisiensi vitamin D, kalsium dan seng serta terdapat peningkatan retinol dan ferrum sebagai marka inflamasi pada kelompok kehamilan patologis. Terdapat mekanisme up regulation ekspresi nutrisi plasenta reseptor vitamin D VDR pada kelompok preeklamsia awitan lanjut dan awitan dini , sementara ditemukan ekspresi VDR yang rendah pada kelompok PJT. Terdapat korelasi negatif antara rasio LC3/Beclin-1 dengan marka nutrisi maternal terutama kelompok preeklamsia awitan lanjut dan awitan dini. Terdapat korelasi bermakna antara rasio LC3/Beclin-1 dengan ekspresi VDR sebagai marka nutrisi plasenta pada kelompok preeklamsia awitan dini. Autofagi berperan dalam proses kematian sel dan ketahanan selular trofoblas. Terdapat peran nutrisi yang berkorelasi dengan proses autofagi pada patomekanisme preeklamsia. Kata kunci : Autofagi, kematian sel, ketahanan selular, nutrisi, preeklamsia.

ABSTRACT
Preeclampsia is a maternal health problem which largely affects human well being. Placentation defects is the main predisposition factor of preeclampsia which cause cell death spectrum of apoptotic, aponecrosis, and autophagy. Autophagy also has a role as cellular survival mechanism as well through nutrition as main regulator. This research aims to understand the roles of nutrition and autophagy as cellular survival in pathomechanism of preeclampsia. The research has cross sectional study design which was conducted to four groups of pregnancy normal pregnancy, late onset preeclampsia, early onset preeclampsia, and intrauterine growth restriction IUGR with 10 samples for each group. Qualitative and quantitative nutrition analysis was done for vitamin D, calcium and zinc. The same methods was done to nutrients as inflammatory markers which is vitamin A and iron. Assessment was done for cell death marker LDH, autophagy markers LC3, Beclin 1, autophagy failure ratio of LC3 Beclin 1, and placenta nutrition marker VDR. During the period of August to October 2015 there were 40 patients participated in research which was conducted in RSUPN Cipto Mangunkusumo and RS Budi Kemuliaan Jakarta. Analysis shows statistically significant difference between groups of the expression of LC3 and Beclin 1 and ratio of LC3 Beclin 1 as well. Early onset preeclampsia and IUGR group showed the highest LC3 and Beclin 1 expression, while normal pregnancy and late onset preeclampsia group showed the highest ratio of LC3 Beclin 1. There was a correlation between autophagy failure and LDH. There were deficiencies of vitamin D, calcium and zinc and the increase of retinol and iron as inflammatory markers in pathological pregnancy. There was up regulation of vitamin D receptor VDR expression in early and late onset preeclampsia, while low expression of VDR in placenta of IUGR group. There was negative correlation between ratio of LC3 Beclin 1 and maternal nutrition markers particularly in preeclampsia group. There was significant correlation between the ratio of LC3 Beclin 1 and expression of placenta VDR as nutrition marker in early onset preeclampsia group. Autophagy plays a role in the spectrum of cell death and cellular survival in trophoblast. There is role of nutrition in correlation with autophagy process in pathomechanism of preeclampsia Keywords Autophagy, cell death, cellular survival, nutrition, preeclampsia"
Lengkap +
2016
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nelly Marissa
"ABSTRAK
Kematian ibu akibat komplikasi kehamilan menjadi masalah kesehatan utama. Salah satu komplikasi kehamilan adalah preeklamsia. Preeklamsia yang menyebabkan kematian ibu yang tinggi, disebabkan adanya kegagalan vaskulogenesis dan angiogenesis. Oleh karena itu ingin diteliti peran faktor yang dapat menstimulasi VEGF, salah satunya P RR. Penelitian dengan rancangan observasional potong lintang ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis ekspresi mRNA P RR dan VEGF, kadar protein HIF-1?, P RR dan VEGF serta hubungan ekspresi HIF-1? dengan VEGF, dan hubungan P RR dengan VEGF. Sampel yang digunakan adalah 34 jaringan plasenta dari kehamilan normal dan 34 sampel jaringan plasenta preeklamsia. Ekspresi relatif mRNA VEGF dan P RR diukur dengan RT-qPCR, kadar protein HIF-1?, P RR dan VEGF diukur menggunakan teknik sandwich ELISA. Ekspresi mRNA VEGF pada plasenta preeklamsia 2,83 kali lebih tinggi dibandingkan normal p = 0,02 . Ekspresi mRNA P RR pada plasenta preeklamsia 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan plasenta normal p = 0,039 . Ekspresi protein HIF-1?, P RR, dan VEGF lebih rendah pada preeklamsia.

ABSTRACT
Maternal mortality due to pregnancy complications is a major health problem. One of the complications of pregnancy is preeclampsia. Preeclampsia that causes high maternal mortality, due to failure of vasculogenesis and angiogenesis. Therefore we want to examine the role of factors that can stimulate VEGF, one of them is P RR. This cross sectional observational study was aimed to measure and analyze the expression of P RR and VEGF mRNA, HIF 1 , P RR and VEGF protein levels and relationships between expression HIF 1 with VEGF, and P RR with VEGF . The sample used was 34 placental tissue from normal pregnancy and 34 samples from PE placental. The relative expression of VEGF mRNA and P RR was measured by RT qPCR, HIF 1 , P RR and VEGF protein levels were measured using sandwich ELISA technique. The expression of VEGF mRNA in preeclampsia placenta was 2.83 times higher than normal p 0.02 . Expression of P RR mRNA in preeclampsia placenta was 1.7 times higher than that of normal placenta p 0.039 . The expression of HIF 1 , P RR, and VEGF protein was lower in preeclampsia p ;ABSTRAK
Kematian ibu akibat komplikasi kehamilan menjadi masalah kesehatan utama. Salah satu komplikasi kehamilan adalah preeklamsia. Preeklamsia yang menyebabkan kematian ibu yang tinggi, disebabkan adanya kegagalan vaskulogenesis dan angiogenesis. Oleh karena itu ingin diteliti peran faktor yang dapat menstimulasi VEGF, salah satunya P RR. Penelitian dengan rancangan observasional potong lintang ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis ekspresi mRNA P RR dan VEGF, kadar protein HIF-1?, P RR dan VEGF serta hubungan ekspresi HIF-1? dengan VEGF, dan hubungan P RR dengan VEGF. Sampel yang digunakan adalah 34 jaringan plasenta dari kehamilan normal dan 34 sampel jaringan plasenta preeklamsia. Ekspresi relatif mRNA VEGF dan P RR diukur dengan RT-qPCR, kadar protein HIF-1?, P RR dan VEGF diukur menggunakan teknik sandwich ELISA. Ekspresi mRNA VEGF pada plasenta preeklamsia 2,83 kali lebih tinggi dibandingkan normal p = 0,02 . Ekspresi mRNA P RR pada plasenta preeklamsia 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan plasenta normal p = 0,039 . Ekspresi protein HIF-1?, P RR, dan VEGF lebih rendah pada preeklamsia p

ABSTRACT
Maternal mortality due to pregnancy complications is a major health problem. One of the complications of pregnancy is preeclampsia. Preeclampsia that causes high maternal mortality, due to failure of vasculogenesis and angiogenesis. Therefore we want to examine the role of factors that can stimulate VEGF, one of them is P RR. This cross sectional observational study was aimed to measure and analyze the expression of P RR and VEGF mRNA, HIF 1 , P RR and VEGF protein levels and relationships between expression HIF 1 with VEGF, and P RR with VEGF . The sample used was 34 placental tissue from normal pregnancy and 34 samples from PE placental. The relative expression of VEGF mRNA and P RR was measured by RT qPCR, HIF 1 , P RR and VEGF protein levels were measured using sandwich ELISA technique. The expression of VEGF mRNA in preeclampsia placenta was 2.83 times higher than normal p 0.02 . Expression of P RR mRNA in preeclampsia placenta was 1.7 times higher than that of normal placenta p 0.039 . The expression of HIF 1 , P RR, and VEGF protein was lower in preeclampsia p "
Lengkap +
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rosalyn Catherine Jono
"ABSTRAK
Latar Belakang : Preeklamsia pada kehamilan didapatkan sekitar 3-7 dan merupakan salah satu penyebab utama dari kematian ibu, yaitu sekitar 18 .Pemeriksaan petanda preeklamsia masih mahal dan belum rutin dilakukan. Adanya pemeriksaan yang lebih murah dan mudah untuk menilai tingkat keparahan preeklamsia sangat diperlukan dalam penatalaksanaan preeklamsia, terutama di tempat dengan fasilitas yang terbatas. Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui petanda preeklamsia dan keparahannya. Walaupun demikian belum didapatkan petanda yang khusus, disamping biaya yang mahal dan belum rutin digunakan. Rasio netrofil limfosit NLR dan Red Distribution Width RDW diketahui telah banyak diteliti untuk menilai inflamasi yang berhubungan dengan tingkat keparahan preeklamsia. Pemeriksaan ini termasuk dalam pemeriksaan darah lengkap yang relatif murah, mudah dan rutin digunakan. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mencari perbedaan rasio netrofil limfosit NLR dan Red Distribution Width RDW pada pasien dengan preeklamsia dibandingkan dengan kehamilan normal serta perbedaan rasio netrofil limfosit dan RDW pada preeklamsia early onset dan late onset. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan menggunakan data rekam medis pasien hamil normal dan preeklamsia yang ke IGD dan Poliklinik Obstetri RSU Persahabatan pada bulan Juli 2014-Juni 2016. Data penelitian didokumentasikan pada dan ditabulasi serta dianalisis menggunakan SPSS 20.0. Hasil Penelitian : Didapatkan 254 sampel data yang memenuhi kriteria inklusi penelitian, yang terdiri atas 136 preeklamsia dan 118 kehamilan normal, 24 preeklamsia early onset dan 112 preeklamsia late onset. Dilakukan analisis Mann Whitney dan T Test Didapatkan rasio netrofil limfosit preeklamsia 4,41 1,41-32,54 dan pada kehamilan normal 2,61 1,39-5,48 dengan p: 0.000. Red Distribution Width pada preeklamsia adalah 14,2 11,48-23,90 dan pada kehamilan normal 13,8 10,81 ndash; 18,70 dengan p:0.001. Rasio netrofil limfosit pada preeklamsia early onset 4,35 1,41-17,56 dan preeklamsia late onset 4,41 1,69-32,54 dengan p:0,993. Red Distribution Width pada preeklamsia early onset 13,50 1,47 dan preeklamsia late onset 14,91 2,16 dengan p:0.003. Uji power rasio netrofil limfosit pada preeklamsia early onset dan late onset adalah 16,4 . Uji power Red Distribution Width pada preeklamsia early onset dan late onset adalah 97,29 .Kesimpulan : Terdapat perbedaan bermakna rasio netrofil limfosit dan RDW pada preeklamsia dibandingkan dengan kehamilan normal, terdapat perbedaan bermakna RDW preeklamsia early onset dan late onset. Belum dapat disimpulkan tidak ada perbedaan bermakna rasio netrofil limfosit pasien preeklamsia early onset dan late onset.

ABSTRACT
Background Preeclampsia in pregnancy found about 3 7 and is one of the main causes of maternal mortality, which is about 18 . Examination markers of preeclampsia is still expensive and not routinely performed. Inspections are cheaper and easier to assess the severity of preeclampsia is indispensable in the management of pre eclampsia, especially in places with limited facilities. Many studies have been conducted to determine markers of preeclampsia and severity. Nevertheless, specific markers have not been obtained, while costs are expensive and not routinely used. Neutrophil lymphocyte ratio NLR and Red Distribution Width RDW are known to have been studied to assess the inflammation associated with the severity of preeclampsia. These examinations included in the CBC relatively inexpensive, easily and routinely used.Objective This study aims to find differences in neutrophil lymphocyte ratio NLR and Red Distribution Width RDW in patients with preeclampsia compared with normal pregnancy as well as the differences in neutrophil lymphocyte ratio and RDW in preeclampsia early onset and late onset.Methods This study is a cross sectional study using medical records of patients of normal pregnancy and preeclampsia were comes to ER and Obstetrics Clinic Persahabatan Hospital in July 2014 to June 2016. Data were documented in and tabulated and analyzed using SPSS 20.0.Results 254 samples obtained data that met the inclusion criteria research, consisting of 136 preeclampsia and 118 normal pregnancies, 24 preeclampsia early onset and 112 late onset preeclampsia, using Mann Whitney and T Test analysis. Neutrophil lymphocyte ratio obtained in preeclampsia 4.41 1.41 to 32.54 and normal pregnancy 2.61 1.39 to 5.48 with p 0.000. Red Distribution Width in preeclampsia 14.2 11.48 to 23.90 and in normal pregnancies 13.8 10.81 to 18.70 with p 0001. Neutrophil lymphocyte ratio in early onset preeclampsia 4.35 1.41 to 17.56 and late onset preeclampsia 4.41 1.69 to 32.54 with p 0.993. Red Distribution Width in preeclampsia early onset preeclampsia 13.50 1.47 and 14.91 2.16 late onset with p 0003. Test power of neutrophil lymphocyte ratio in preeclampsia early onset and late onset was 16.4 . Test power of Red Distribution Width in preeclampsia early onset and late onset was 97.29 .Conclusions There are significant differences neutrophil lymphocyte ratio and RDW in preeclampsia compared with normal pregnancy, there are significant differences RDW preeclampsia early onset and late onset. Can not be concluded no significant difference in the ratio of neutrophils lymphocytes of patients with preeclampsia early onset and late onset."
Lengkap +
2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>