Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 77 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Lendutan yang terjadi pada struktur blok atau rangka batang akan berbanding lures dengan panjang bentang balok atau rangka batang tersebut, artinya semakin panjang bentang maka lendutan yang terjadi akan sernakin besar, diiihat dari aspek teknis lendutan yang besar akan mengurangi keamanan struktur oleh karena itu lendutan yang terjadi harus dibmasi. Pembatasan lendutan ini selanjutnya disebut dengan lendutan izin yang besarnya menurut Peratu.ran Perencanaan Bangunari Baja Indonesia (PPBBI 1984) adalah L1360 dimana L adalah panjang bentang struktur tersebut. Apabila struktur baloklrangka baja mengalami lendutan yang melebihi lendutan ijinya belum tentu bahwa struktur tersebut tidak kuat terhadap beban atau gaya yang dipikulnya, karena kontrol lendutan baru bisa dilakukan setetah ukuran profil ditentukan terlebih dahulu. Adanya kontrol lendutan adalah sebagai syarat dari days layan (serviceability) dari suatu struktur. Kasus yang akan dianalisa oleh penulis adalah yang terjadi pads Jembatan Pipa Pertamina Cipunegara, dimana lendutan yang terjadi adalah 31,30 cm sedangkan lendutan yang diijinkan untuk bentang 80 m adalah 22,20 cm (L1360 sedangkan berdasarkan data yang diperoleh penulis hasil perhitungan kontraktor lendutan yang diijinkan adalah 1,1300 atau 26 cm) sehingga dapat disimpulkan bahwa lendutan yang terjadi melebihi dari yang diijinkan. Untuk mengatasi hal ini dengan tidak mengganti profil yang telah dipakai maka pada jembatan tersebut dipasang kabel prategang external pada kedua balok induk jembatan, sehingga dengan memberikan gaya tank pads kabei prategang diharapkan lendutan yang ter adi pada jembatan tersebut akan lebih kecil. Dalam Tugas Akhir ini penulis akan menganalisa berapa besarnya gaya prategang yang harus diberikan sehingga sehingga lendutan yang terjadi lebih keeil dari yang diij:nkan_ Untuk perhitungan lendutan yang terjadi pada struktur rangka penulis akan menggunakan program komputer seperti STAAD Ill"
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2002
S35660
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gunawan T.
Jakarta : Delta teknik group, 1988
620.1 GUN t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Wasisto
"ABSTRAK
Keberadaan kapal di Indonesia sangat diperlukan untuk mempersatukan kegiatan antarpulau dan sebagai sarana kegiatan ekspor non-migas. Kapal-kapal dalam kegiatannya diancam oleh banyak risiko, oleh karena itu keberadaan kapal harus dilindungi oleh asuransi rangka kapal. Di Indonesia saat ini banyak terdapat kapal-kapal berusia tua yang apabila dipandang dari sisi perusahaan asuransi maupun reasuransi, akan menyulitkan proses analisa risiko dalam kegiatan underwritingnya. Hal ini akan lebih terasa apabila perusahaan reasuransi yang dimaksud adalah perusahaan reasuransi profesional, yang mana tidak dapat menutup pertanggungan dari tertanggung langsung tetapi -melalui ceding company. Dan masalah ini akan lebih bertambah penting, sebab dalam perkembangannya tidak sedikit ceding company yang hanya lebih mementingkan kuantitas dari pada kualitas risikonya. Dalam skripsi dengan metode yang bersifat studi kasus pada PT. Tugu Jasatarna penulis tertarik untuk perusahaan rasuransi profesional menganalisa risiko terhadap kapal-kapal yang direasuransikan oleh ceding company dalam proses reunderwriting, pada perjanjian penelitian deskriptif Reasuransi Indonesia ini, melihat bagaimana reasuransi secara treaty (otomatis). Penulis juga tertarik untuk melihat bagaimana penerapan program retrosesi rangka kapalnya serta keterkaitannya dengan kegiatan reunderwriting. Kegiatan analisa risiko reasuransi rangka kapal di PT. Tugu Jasatarna Reasuransi Indonesia sangat dipengaruhi oleh kebijaksanaan underwritingnya, karena tidak semua pospos bisnis yang ditawarkan akan menguntungkan dan tidak semua pertanggungan yang baik akan diberikan kepada perusahaan. Salah satu faktor paling dominan yang mempengaruhi underwriting adalah kredibilitas dari ceding company. Hal ini akan tampak ketika PT. Tugu Jasatarna Reasuransi Indonesia melakukan proses analisa risiko reasuransi rangka kapal yang pada penerapannya dilakukan pada empat situasi, yaitu pada saat pra-negosiasi treaty, negosiasi treaty, saat evaluasi risiko yang sudah habis masa pertanggungannya dan pada saat treaty review. Kredibilitas dan kondite dari ceding company amat menentukan, mengingat«bahwa dalam suatu treaty, pelimpahan risikonya adalah otomatis dan segera. Akibatnya adalah hanya menganalisa hazard-hazard yang mungkin ditimbulkan oleh para pimpinan maupun underwriter dari ceding cornpany. Dengan demikian aspek yang menonjol pada analisa risiko pada reasuransi adalah analisa orang-orang dibelakang ceding cornpany. Konsekuensinya, hasil analisa risiko dari perusahaan reasuransi banyak dipengaruhi oleh hasil analisa belum tentu memberikan PT. Tugu Jasatama Reasuransi risiko ceding cornpany, yang mana hasil yang memadai bagi Indonesia. Untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut di maka perlu bagi PT. Tugu Jasatama Reasuransi Indonesia untuk menyelidiki ceding cornpany selengkap mungkin dalam hal motivasi atas, sejarah perusahaan, reputasi, manajemen, reasuransi, analisa terhadap laporan tahunan dan mempelajari bentuk kontrak reasuransi rangka kapal yang akan digunakan dengan ceding companynya. Untuk penerapan kegiatan retrosesi pada PT. Tugu Jasatama Reasuransi Indonesia, mempunyai program yang berbeda-beda tergantung pada jenis reasuransi yang akan diretrosesikan. Untuk jenis rangka kapal, program retrosesi terbagi dua, yaitu secara agreement atau treaty dan nonagreement atau fakultatif. Pada bentuk agreement, bisnis rangka kapal diretrosesikan secara surplus treaty. Retrosesi diperlukan karena tidak semua bisnis-bisnis reasuransi dapat ditampung oleh PT. Tugu Jasatama Reasuransi Indonesia. Oleh karena itu perlu kiranya PT. Tugu Jasatama Reasuransi Indonesia untuk memperbesar kapasitasnya baik treaty maupun fakultatif karena ketergantungan ceding company yang sangat besar. Keseimbangan antara kebijaksanaan underwriting dengan kebijaksanaan retrosesi merupakan suatu hal yang penting. Di dalam kebijaksanaan underwriting diusahakan agar dapat mengaksep bisnis sebanyak mungkin dengan tetap menjaga kualitas bisnis, dimana hal ini akan menguntungkan para retrosesionernya. Dengan hubungan yang serasi inilah akan dapat dicapai keuntungan bisnis yang maksimal"
1990
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Febria Rachmadini
"Penelitian ini merupakan penilaian ergonomi di tempat kerja konstruksi Proyek Apartemen Pejaten Park Residence PT PP Persero tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian dekskriptif kuantitatif dengan desain studi cross sectional, melalui observasi langsung pada seluruh tahapan kegiatan. Penilaian tingkat risiko ergonomi menggunakan metode Ovake Working Assesment (OWAS) dan Quick Exposure Checklist (QEC), sedangkan keluhan MSDs per bagian tubuh yang dirasakan pekerja menggunakan kuesioner Nordic Body Maps. Berdasarkan metode OWAS hasil analisis risiko ergonomi pada pekerjaan plesteran, pengecatan, pemasangan keramik, dan pemasangan plafon memiliki tingkat risiko menengah, sedangkan berdasarkan metode QEC tingkat risiko ergonomi per bagian tubuh rata- rata pada setiap pekerjaan, pada punggung memiliki risiko tinggi, bahu/lengan dan pergelangan tangan memiliki risiko sedang, dan leher memiliki risiko sangat tinggi. Hasil kuesioner Nordic Body Maps, paling banyak merasakan keluhan gangguan otot rangka pada pinggang (62,9%), leher bagian atas (61,4%), punggung (60%), bahu kanan (58,6%), dan bahu kiri (55,7%). Upaya untuk mengatasi pajanan ergonomi dan keluhan MSDs dapat dilakukan dengan meninjau kembali desain kerja, peralatan kerja, dan lingkungan kerja.

This study is an ergonomic assesment in the construction workplace at project of Apartment Pejaten Park Residence PT PP Persero in 2016. This research is a quantitatve descriptive research with cross sectional study design, through direct observation at all stages of activity. The assesment of ergonomic risk level uses Ovake Working Assessment System (OWAS) and Quick Exposure Checklist (QEC), while the level of MSDs complaints that is felt by workers per part of the body using Nordic Body Maps questionnaire. Based on the results of risk analysis methods OWAS ergonomics at work plastering, painting, tiling, and installation of ceiling has a medium risk level, while based on QEC method ergonomic risk levels per body part on average at every task, on the back has a high risk, shoulder / arm and the wrist has a moderate risk, and the neck has a very high risk. Nordic Body Map questionnaire results about MSDs complaints were many who complained on the the waist (62.9%), upper neck (61.4%), back (60%), right shoulder (58.6%), and left shoulder (55,7%). Efforts to overcome the ergonomic exposures and MSDs complaint can be done with the review of design work, equipment, and environment in the workplace.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
S63225
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sidharta S. Kamarwan
"ABSTRAK
Tujuan Umum penelitian ini untuk mengidentifikasi bangunan yang termasuk dalam Dedaunan Tradisional Indonesia. Dalam bangunan tersebut akan diteliti fungsi, bentuk, sistem, struktur, konstruksi dan bahan yang digunakan untuk atap bangunan pada masa itu.
Dari penelitian ini diharapkan dapat mengetahui kaitan antara fungsi, bentuk atap dengan tradisi setempat yang kemudian dapat diangkat sebagai Bangunan Tradisional yang bercirikan Daerah.
Selanjutnya diharapkan dapat mengetahui Kesamaan dan Perbedaan dari bagian-bagian konstruksi Atap Bangunan Tradisional yang berasal dari satu daerah dengan daerah lain di seluruh Indonesia.
Dengan mengetahui persamaan dan perbedaan sistem struktur dan konstruksi bangunan atap, diharapkan dapat digeneralisasikan sistem konstruksi atap yang diterapkan di seluruh Daerah, serta dapat dibedakannya, yang menciptakan varian yang menjadi ciri rasing-messing Daerah. Dengan demikian akan terungkap nilai normatif dan nilai spesifik dari berbagai konstruksi atap bangunan di Indonesia.
Untuk kepentingan pengajaran, tujuan jangka panjang penelitian ini untuk memperkenalkan rekayasa sistem struktur dan konstruksi Atap bangunan Indonesia serta untuk mempopulerkan istilah bahasa Indonesia untuk Ilmu Bangunan di Indonesia, dengan cara mengembangkan sumber daya dan Ilmu Pengetahuan Rekayasa bangunan tradisional Indonesia, serta menggali dan mendokumentasikan Rekayasa Bangunan Tradisional yang masih dapat dijumpai sekarang.
Untuk maksud tersebut harus dilakukan observasi lapangan, untuk meninjau bangunan-bangunan tradisional yang ada, di seluruh persada Nusantara Indonesia. Observasi akan dilakukan oleh beberapa tim yang terdiri dari pakar Arkeologi, Arsitek dan Pakar Bangunan Sipil, dibantu oleh sejumlah asisten dari masing-masing disiplin untuk mempercepat mendapatkan data primer, maupun data sekunder di lapangan.
Bangunan-bangunan itu sesungguhnya dapat di pelajari di Taman-Mini-Indonesia Indah, di Jakarta. Akan tetapi bangunan di Taman Mini akan digunakan sebagai referensi, disamping referensi buku-buku yang ada. Karena luasnya wilayah yang dijangkau, maka rencana penelitian dan observasi ke lapangan akan dijadwalkan secara bertahap.
Lokasi penelitian meliputi wilayah hampir seluruh Indonesia, khususnya daerah Aceh, Batak Toba. Sumatra Barat Jawa Barat, DKI Jakarta, Yogyakarta dan sekitarnya, Madura, Bali, Lombok sampai Timor, Rumah Dayak dan Kalimantan, Tanah Toraja dan Irian. Dipilihnya tempat-tempat tersebut karena bentuk atap bangunannya mempunyai ciri yang khas."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1993
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Etty Indriati, 1963-
"On forensic anthropology legal aspects of its implementation for human identification in Indonesia"
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press , 2004
614 ETT a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Relina Wahyu Muhbiantie
"ABSTRAK
Bambu sudah sejak dahulu dikenal dan dimanfaatkan dalam memenuhi segala kebutuhan manusia. la merupakan bahan yang murah dan banyak tersedia. Dalam fungsinya sebagai bahan bangunan, bambu telah menjadi bagian dari arsitektur vernakular pemukiman di Asia.
Sejalan dengan perkembangan struktur dan teknologi konstruksi, peran bambu mulai tergeser dengan material lain seperti beton, baja dan kaca. Kesan bambu yang lekat dengan kemiskinan dan anggapannya sebagai bahan yang rapuh, Iagi-lagi melahirkan bentuk-bentuk konvensional yang kurang optimal.
Melalui pengetahuan akan karakteristik dan kekuatan bambu, ditunjang oleh teori pengawetan dan bagaimana penerapan struktur bambu yang telah dipraktekkan di dalam negeri ataupun mancanegara, bambu masih layak dan potensial untuk berperan sebagai material alternatif pada struktur dan konstruksi bangunan.

"
2001
S48259
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Miski Irfani
"Penanganan beban manual (PBM) merupakan aktivitas yang dapat menimbulkan keluhan gangguan otot rangka pada pekerja. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tingkat risiko ergonomi pada aktivitas PBM dan gambaran distribusi keluhan gangguan otot rangka pada pekerja di back end area Toko X Depok tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain crossectional. Penilaian tingkat risiko ergonomi dilakukan menggunakan metode BRIEF dengan menilai postur, berat beban, durasi, dan frekuensi. Penelitian ini juga menggambarkan karakteristik pekerja yang melakukan aktivitas PBM di back end area, seperti jenis pekerjaan, umur, lama kerja, kebiasaan merokok, pendidikan, dan jenis kelamin. Data keluhan gangguan otot rangka diambil menggunakan kuesioner NMQ dengan jumlah 11 orang responden. Hasil penelitian menunjukkan beberapa aktivitas PBM di back end area toko mempunyai risiko tinggi terhadap bagian tubuh siku kiri, siku kanan, bahu kiri, bahu kanan, dan punggung. Keluhan gangguan otot rangka banyak dirasakan pekerja pada bagian tubuh bahu kanan dan punggung bawah dengan persentase sebesar 45,5%. Upaya perbaikan untuk mengurangi aktivitas PBM dapat dilakukan dengan menggunakan alat memindahkan barang (pallet stacker) yang dapat diatur ketinggiannya dan edukasi pekerja terkait bahaya ergonomi.

Manual handling is an activity that can cause musculoskeletal disorders. This research illustrates ergonomics risk level in manual handling activities and also illustrates the distribution of musculoskeletal complaints at the back end area of store X Depok in 2016. It is a descriptive observational study with cross-sectional design. The ergonomics risk level was assessed by BRIEF method which evaluate posture, force, duration, and frequency. This research also gathered information on individual characteristics (such as occupation, age, job tenure, smoking behavior, education, and gender) of the workers who perform manual handling activity regularly in back end area. The data of musculoskeletal symptoms complaints were collected using NMQ questionnaires with 11 responden. The result of this study indicates several activites in back end area are high risk to left elbow, right elbow, left shoulder, right shoulder, and back. Most complaints come from right shoulder and lower back with 45,5%. Manual handling activity can be reduced by using pallet stacker with adjustable height and educate the workers about ergonomics."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
S65685
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Trysa Arisna
"ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan pada cleaning service di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia yang memiliki aktivitas berisiko mengalami gejala gangguan otot rangka pada pekerja. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran faktor fisik dan psikososial pada cleaning service terhadap gejala gangguan otot rangka. Faktor risiko fisik force, postur janggal, dan gerakan repetitive dan faktor risiko psikososial dukungan sosial,decision latitude, effort, kepuasan kerja, dan tuntutan psikologis menjadi faktor independen penelitian terhadap gejala gangguan otot rangka sebagai faktor dependen. Penelitian dilakukan pada 33 orang pekerja di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan melakukan observasi dan pengisian kuisioner. Tools yang digunakan dalam penelitian ini yaitu QEC untuk menilai faktor fisik, kombinasi kuisioner psikososial untuk menilai faktor psikososial, dan NMQ yang digunakan untuk melihat gejala gangguan otot rangka pada cleaning service. Hasil penelitian univariat menunjukkan bahwa bagian tubuh yang memiliki gejala gangguan otot rangka paling tinggi dalam 7 hari terakhir yaitu bahu dan punggung bawah 54.5 . Sedangkan bagian tubuh yang memiliki gejala gangguan otot rangka dalam hasil penelitian univariat dalam 12 bulan terakhir yaitu bahu, punggung bawah, paha dan bokong 51.5 . Faktor fisik aktivitas pekerja sebagian besar memiliki risiko sedang dan tinggi. Faktor psikososial dilaporkan 67 effort tinggi, 61 decision latitude rendah, 52 tuntutan psikologi tinggi, 55 dukungan rendah, dan 67 kepuasan kerja rendah.

ABSTRACT
The object of this study is the cleaning services of Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia who are at risk having musculoskeletal symptoms due to their task. The purpose of this study is to identify the physical and psychosocial factors of musculoskeletal symptoms on cleaning services. Physical factors force, awkward posture, and repetitive movement and psychosocial factors social support, decision latitude, effort, job satisfaction, and psychological demand are the independent variables of musculoskeletal symptoms which are the dependent variable in this study. The design used in this study is cross sectional design by conducting the observation and sharing questionnaires to 33 workers at Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. The tools used in this study are QEC to assess physical factors, the combination of psychosocial questionnaire to assess psychosocial factors, and NMQ to identify musculoskeletal symptoms in cleaning services. The result of this study shows that shoulder and low back 54.5 are the body parts that have the highest prevalence of musculoskeletal symptoms in the last 7 days. Meanwhile, shoulder, low back, thigh, and buttocks 51.5 have the highest prevalence of musculoskeletal symptoms in the last 12 months. Regarding the physical factors, most of workers have moderate and high risk. On the other hand, regarding the psychosocial factors, results show that 67 workers have high effort, 61 have low decision latitude, 52 have high psychological demand, 55 have low support, and 67 have low job satisfaction. "
2017
S69692
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Stella Chrisantha Yogawisesa
"ABSTRACT
Penggunaan kadaver sebagai alat bantu pembelajaran di pendidikan kedokteran menimbulkan masalah ketika kadaver tersebut telah selesai digunakan dan hendak dikebumikan kembali dengan metode deep burial karena dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan masalah kesehatan. Penggunaan cairan fiksatif formalin 10% merupakan konsentrasi standar. Penelitian dengan mengurangi konsentrasi formalin yang digunakan menjadi 4% dilakukan dengan harapan akan mempercepat proses dekomposisi ketika kadaver sudah dikebumikan. Penelitian ini menggunakan mencit Mus musculus, terutama otot tungkai belakangnya, yang diawetkan dengan cairan fiksatif formalin 10% dan 4% dan membandingkan kecepatan proses dekomposisi yang terjadi perminggu selama 6 minggu penguburan deep burial. Kecepatan dekomposisi dinilai dengan mengukur massa otot tungkai dan massa total mencit perminggu penguburan. Didapatkan hasil penurunan massa total yang berbeda secara signifikan yang terjadi antara kelompok Formalin 10% dan 4%, pada minggu 3-5. Hal ini diduga karena dekomposisi otot yang memang baru terjadi pada tahap lanjut. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya sebelum dapat diterapkan sebagai dasar pengelolaan kadaver manusia yang telah digunakan untuk kepentingan pendidikan dokter

ABSTRACT
.use of human cadaver as an educational tool in medical education may cause many problems when the cadaver is no longer being used and is to be buried, such as environmental problems and health problems. Cadavers are preserved in standardized 10% formalin solution. This research aims to reduce the concentration of formalin solution used to be a solution of 4% to accelerate the decomposition process of the deep buried cadaver, using Mus musculus mice as the samples, specifically the lower limb muscle. The lower limb muscle of the mice is preserved in 10% and 4% formalin solution, and are deep buried. The samples are compared by the decrease of the mass of lower limb muscle and the total mass of the mice per week in a total of 6 weeks period. Significant different results of comparasion are obtained in the total mass of the mice in 10% and 4% formalin solution. The decrease of lower limb muscle mass only significantly differs in week 3-5, presumably due to the decomposition process of muscle tissues that happens in the latter stages of decomposition. This research is expected to be the foundation of further research of comparasion of 10% and 4% formalin solution, before is able to be done in medical education human cadaver."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8   >>