Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Tri Susanti
"Penelit an ini bertujuan untuk lebih mengenal khalayak dengan keunikannya masing-masing, sebagai sosok yang aktif. Bagaimanakah khalayak menerima dan memaknai kembali pesan yang telah diterimanya dari media, inilah yang menjadi focus dari penelitian, yang sering disebut dengan Reception Analysia. Penelitian ini menggunakan pemikiran atau teori-teori cultural atau yang dihasilkan ole i British Cultural Studies. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan bagaimanakah proses pemaknaan di khalayak, dalam hal ini adalah pemaknaan yang dihasilkan pen >gemar Jamrud. Jamrud adalah sebuah grup musik rock, dimana musik rock sering di.dentikkan dengan pemberontakan, anti kemapanan, kekuasaan ataupun penolakan terhadap ideologi dominan. Tetapi musik rock yang diusung oleh Jamrud ini membawa nilai yang dominan. Pemaknaan seperti apakah yang dihasilkan oleh penggemar Jamrud terhadap lagu yang dihasilkan oleh Jamrud. Pemaknaan yang dihasilkan oleh penggemar Jamrud terhadap lirik lagu Jamrud, kemudian dimasukkan ke dalam tipe decoding yang dihasilkan oleh Stuart Hall. Di dalam pengkategorian ini dilihat bagaimanakah pemaknaan yang dihasilkan, apakah pemaknaan tersebut masuk ke dalam pemaknaan yang dominant, negotiated ataukah oppositional. Penelitian ini melihat pemaknaan sebagai bagian dari konteks kehidupan seperti apakah yang menghasilkan pemaknaan tersebut. Konteks kehidupan yang dimaksudkan disini adalah seperti latar belakang keluarga, keseharian informan, teman-teman informan, interest politik informan, daerah tempat tinggal informan, dll. Sehingga bisa dijelaskan lebih lanjut mengenai apa penyebab atau latar belakang dari pemaknaan yang dihasilkan individu di dalam konteks. Data dikiunpulkan melalui wawancara mendalam atau in depth interview dengan lima orang penggemar Jamrud. Analisis data yang didapatkan dari pemaknaan khalayak, dalam penelitian ini dilakukan dengan analisis kualitatif komparatif. Dimana semua informasi yang diterima mengenai khalayak disajikan , lalu dibandingkan satu dengan lainnya. Dari perbandingan itu akan dilihat persamaan dan juga perbedaan dari pemaknaan yang dihasilkan sehingga bisa memberikan gambaran yang utuh mengenai pemaknaan yang dihasilkan oleli individu-individu ini. Dari penelitian ditemukan pemaknaan yang dihasilkan oleh khalayak secara umum masuk ke dalam kategori dominan, walaupun memang ada juga pemaknaan resistensi yaitu yang negotiated dan oppositional. Nilai-nilai atau budaya dominan yang disajikan oleh Jamrud, sebagian besar masih dimaknai sama oleh infonnan. Pengalaman hidup dari masing-masing informan tampak jelas membentuk pemaknaan yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pemikiran dan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan dalam reception analisis, bahwa makna datang dari pengalaman hidup."
2004
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aghita Kruliane
"Skripsi ini meneliti tentang penggunaan bahasa alay yang sedang berkembang di kalangan remaja yang membutuhkan suatu identitas untuk menunjukkan eksistensinya di lingkungan masyarakat. Lalu remaja mulai mencari cara untuk mendapat tempat dalam masyarakat, dengan menggunakan bahasa alay. Dengan teori reception analysis dan paradigma konstruktivis, tujuan penelitian kualitatif ini adalah mendeskripsikan cara berkomunikasi remaja yang menggunakan bahasa alay melalui ragam tulisan dan perilaku non verbal yang terpengaruh dari lingkungan remaja. Unit analisis yang diangkat dalam penelitian ini adalah individu yang menggunakan bahasa tersebut dan pengambilan bahasa yang diambil dari MTV Alay.
This thesis researched the use of alay language among teenagers that requires a sense of identity to show their existence in the community. Then teenagers start looking for a way to take the place in their community by the use of alay language. With the reception analysis theory and the constructivism as a paradigm, this qualitative research aims to describe teenagers ways of communicating by using alay language through variety of writing and non verbal behavior that affected of their neighborhood. The unit of analysis in this research is an individual that uses such language and language retrieval that is taken from MTV Alay."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Niken Larasati
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2009
S5969
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yoedo Shambodo
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana khalayak memaknai transparansi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada media sosial YouTube. Pemaknaan disini dilihat apakah khalayak memaknai sebuah informasi yang disampaikan melalui media sosial YouTube dengan karateristik dimana informasi yang disampaikan bebas tanpa harus melalui suatu Gatekeeper dimaknai sama antara pembuat atau pemilik informasi dengan penerima informasi sebagai bentuk transparansi pemerintah daerah. Informasi yang dimaksud adalah tiga video milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang diunggah pada media sosial YoTube yang dipilih oleh peneliti menjadi objek penelitian dengan berbagai alasan tertentu.
Penelitian mengacu kepada teori televisual Stuart Hall dengan menggunakan reception analysis yangmemfokuskan pada pengalaman subjektif sebagai khalayak aktif (meaning-contruction) memahami suatu fenomena serta bagaimana makna diciptakan melalui pengalaman tersebut. Mengacu pada studi pemaknaan penelitian ini mengacu pada tiga hipotesis dimana khalayak terbagi menjadi tiga posisi pemaknaan, yaitu dominan-hegemonik, negosiasi, dan oposisi.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam sebagai metode untuk mencari data primer. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi kasus (single case, single level).Pemilihan informan dilakukan secara purposive samplingdengan mempertimbangkan variasi berdasarkan latar belakang konteks sosial budaya informan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pemaknaan beragam karena berbagai macam faktor, salah satunya adalah faktor pengalaman dan pengetahuan informan. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan interpretive communities, dimanakhalayak sebagai anggota atau bagian dari komunitas tertentu sebagai pemberi makna dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya serta adanya pembagian pengalaman-pengalaman diantara anggota komunitas.

This study aimed to see how audiences interpret the transparency of the Government of Jakarta on social media YouTube. Meanings here seen whether the audience to interpret an information delivered through social media YouTube with characteristics which are delivered free information without having to go through a Gatekeeper interpreted equally between the author or owner of the information with the recipient information as a form of local government transparency. The information that mean is three videos belong to the Government of Jakarta are uploaded to social media YoTube chosen by the researcher becomes the object of research with a variety of reasons.
The study refers to the theory of Stuart Hall televisual using the reception analysis that focuses on the subjective experience as an active audience (meaning-contruction) understand a phenomenon and how meaning is created through the experience. Referring to the study of the meaning of this study refers to the three hypotheses in which the audience is divided into three positions of meaning, which is the dominant-hegemonic, negotiation, and opposition.
The study used a qualitative approach with in-depth interviews as a method to locate the primary data. The method used is a case study (single case, single level). Selection of informants is purposive sampling by considering variations based on the cultural background of the social context of informants.
The results showed that there is meaning vary due to various factors, one of which is a factor of experience and knowledge of the informant. This study also uses the interpretive communitiesto approach, to which the audience as a member or part of a particular community as a giver of meaning is affected by social and cultural environment as well as the sharing of experiences among members of the community.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
T42832
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Felicia Stefanie
"Skripsi ini membahas mengenai pemaknaan mahasiswi di Jakarta terhadap premarital sexual intercourse di dalam film porno Indonesia. Latar belakang dari penelitian ini yaitu peredaran film porno Indonesia di Jakarta ternyata juga dikonsumsi oleh mahasiswi di Jakarta. Mereka memberikan pemaknaan yang berbeda-beda terhadap aktivitas premarital sexual intercourse di dalam film porno Indonesia dan pemaknaan tersebut ternyata juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan metode penelitian konstruktivis.
Hasil penelitian ini melihat bahwa film porno Indonesia dimaknai secara berbeda-beda dimana sebagian besar informan mahasiswiwi menganggap hal tersebut tidak sesuai dengan realita dalam masyarakat. Selain itu, faktor seperti agama, orang tua, budaya, lingkungan, kelompok pertemanan, serta pengalaman pribadi khalayak memberikan pengaruh terhadap pemaknaan yang diberikan. Penelitian ini menyatakan bahwa mahasiswi di Jakarta memaknai bahwa apa yang ada di dalam film porno Indonesia tidak sesuai dengan realita dan tidak pantas untuk dilakukan.

Focus of this thesis is reception analysis of female college students in Jakarta againts premarital sexual intercourse in Indonesian porn film. Background of this research is that Indonesian porn actually consumed by female college students. They gave different reception to premarital sexual intercourse in Indonesian porn and those reception affected by many factors. This is a qualitative research with constructivist research method.
Result of this research is that Indonesian porn got mixed reception with majority of female college students said that it doesn?t fit reality in society. Besides, factors like religion, parents, culture, nurture, peer, and individual experience affect the reception they gave. This research pointed that reception analysis of female college students in Jakarta to Indonesian porn film is that it doesn't fit reality and inappropriate to do."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2009
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Agatha Josephine
"Beberapa penelitian menyatakan bahwa sosial media memberikan dampak negatif, ternyata sosial media juga bisa digunakan sebagai jembatan untuk memperbaiki masalah masalah sosial yang terjadi. Kraut et al (2002) menyatakan efek positif dari penggunaan internet terhadap kehidupan sosial dan kesejahteraan psikologis. Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat mengkaji pemaknaan follower akun Instagram @gethappy.id saat mengkonsumsi dan berbagi postingan yang disampaikan oleh akun Instagram tersebut. Penelitian ini menggunakan analisis resepsi terhadap akun instagram @gethappy.id. Melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan dengan kriteria, follower akun @gethappy.id perempuan berusia 20-29tahun. Hasil penelitian ini menemukan bahwa dukungan sosial melalui akun instagram bukanlah menjadi sumber yang utama bagi informan. Selain itu terkait proses pemaknaan dukungan sosial akun @gethappy.id ditemukan dua pemaknaan dominan dan satu pemaknaan negosiasi. Secara keseluruhan, munculnya konten-konten positif di instagram diharapkan mengurangi dampak negatif dari mengkonsumsi media sosial terutama instagram.

Some research states that social media has a negative impact, but social media can also be used as a bridge to fix social problems. Kraut et al (2002) state the positive effects of internet use on social life and psychological well-being. The purpose of this study is expected to be able to examine the meaning of followers of the Instagram @ gethappy.id account when receiving and sharing posts submitted by the Instagram account. This study uses acceptance analysis of the Instagram account @ gethappy.id. Through in-depth interviews with three informants with criteria, female @ gethappy.id account followers won 20-29 years. The results of this study found facts about social through Instagram accounts to be the main source for informants. In addition, related to the meaning of the social support process of the @ gethappy.id account, two dominant meanings and one negotiation interpretation were found. Overall, improve the positive content on Instagram which is expected to reduce the negative impact of the larger social media instagram needed.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
T55067
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vinny Damayanthi
"Penelitian ini berusaha menemukan posisi khalayak ketika memaknai pelaku pembunuhan dalam film The Act of Killing/Jagal dengan pendekatan reception analysis Stuart Hall yang memposisikan 3 (tiga) “posisi hipotesis” decoder: dominan, negotiated, dan oposisi. Jagal adalah film dokumenter yang mengisahkan kehidupan sehari-hari mantan pelaku pembunuhan massal pemberantas anggota Partai Komunis Indonesia pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) dengan tokoh sentral Anwar Congo dan Adi. Sampling penelitian terbatas pada komunitas interpretatif dengan kriteria: lahir setelah tahun 1980, pernah menonton film Pengkhianatan G30S/PKI dan Jagal, pernah mengunjungi museum dan monumen bersejarah terkait G30S, dan memiliki konstruksi tentang PKI sebelum menonton film Jagal.
Peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap 6 (enam) informan dengan beragam latar belakang. Wawancara dilakukan untuk mengetahui pemaknaan komunitas interpretatif terhadap 8 (delapan) adegan yang dinilai relevan dengan penelitian. Peneliti juga menghimpun informasi mengenai encoding sutradara. Dengan reception analysis, peneliti menemukan bahwa keragaman latar belakang dan pengalaman menyebabkan khalayak juga meng-encode teks media dengan beragam. Posisi khalayak tidak konsisten di satu posisi tertentu pada tiap adegan. Ada kalanya cenderung berada di posisi dominan pada adegan tertentu namun cenderung berada di posisi negotiated atau oposisi pada adegan lain.

This research tried to find audiences‟ position when they interpret murderer showed in The Act of Killing/Jagal film with reception analysis approach from Stuart Hall which had 3 (three) “hypothetical position” of decoder: dominan-hegemonic position, negotiated position, and oppositional position. Jagal is a documentary film that told us the daily life of a mass murderer who did massacre of Indonesian Communist Party (PKI) members after September 30th Movement (G30S) with Anwar Congo and Adi as the central role. The sampling were limited to interpretive community with general criteria: were born after 1980, watched Pengkhianatan G30S/PKI and Jagal film, and had construction about PKI before they watched Jagal.
Researcher did depth interview with 6 (six) informants that came from various backgrounds. The aim of the interview was to revealed the meaning of the interpretive community towards 8 (eight) scenes that relevant to the research. Researcher also gathered information about the encoding that the director‟s wanted to present in the film. With reception analysis, researcher found that diversity of backgrounds and experiences caused the audiences encoded media texts in various ways. Audiences positions are not stick to one position for all relevant scenes. There were times when they are dominant on particular scenes but negotiated or oppositional on another.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
T44692
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amadea Yasmin Fatima
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisi pemaknaan laki-laki terhadap film Barbie dan Oppenheimer, serta kaitannya dengan ideologi dominan patriarki dan maskulinitas. Studi-studi sebelumnya mengatakan bahwa konstruksi gender tradisional pada film dapat berdampak pada subordinasi perempuan dan diskriminasi gender dalam masyarakat. Selain itu, budaya patriarki dan nilai-nilai maskulinitas seseorang dapat mempengaruhi interpretasi individu terhadap suatu produk budaya. Studi-studi lainnya mengatakan film Barbie dan Oppenheimer menampilkan dua representasi gender yang berbeda–feminitas dan maskulinitas–serta dapat ditempatkan dalam satu kerangka analisis sebagai fenomena budaya bernama “Barbenheimer”. Namun, peneliti melihat bahwa belum ada penelitian yang membahas bagaimana bentuk pemaknaan audiens laki-laki terhadap fenomena Barbenheimer. Peneliti berargumen bahwa audiens laki-laki yang memiliki ideologi dominan berupa hegemonic masculinity dapat memiliki beragam bentuk pemaknaan terhadap film Barbie dan Oppenheimer, diantaranya dapat diklasifikasikan menjadi dominant-hegemonic reading, negotiated reading, dan oppositional reading. Pemaknaan terhadap kedua film dianalisis menggunakan kerangka reception analysis, tepatnya encoding/decoding untuk melihat variasi bentuk pemaknaan serta internalisasi nilai hegemonic masculinity laki-laki sebagai audience. Data penelitian ini diperoleh melalui pendekatan kualitatif, diantaranya observasi, studi pustaka, dan wawancara mendalam dengan para penikmat fenomena Barbenheimer berusia muda dan berjenis kelamin laki- laki. Temuan dari penelitian ini menyatakan bahwa seluruh informan berada pada posisi pemaknaan negotiated reading, yang mana posisi pemaknaan tidak ada yang condong ke level tertentu saja, melainkan tersebar ke ketiganya dan masih dipengaruhi oleh ideologi dominan hegemonic masculinity.

This study aims to explore how male audiences interpret the films Barbie and Oppenheimer, and how their interpretations relate to dominant ideologies of patriarchy and masculinity. Previous studies suggest that traditional gender representations in films can contribute to the subordination of women and gender-based discrimination. Additionally, patriarchal culture and masculine values may influence how individuals interpret cultural products. Other studies have noted that Barbie and Oppenheimer represent contrasting gender images—femininity and masculinity—and can be analyzed within a single cultural phenomenon known as “Barbenheimer.” However, this study observes a gap in research on how male audiences make meaning of the Barbenheimer phenomenon. The researcher argues that male viewers who uphold hegemonic masculinity as a dominant ideology may produce varied readings of both films, which can be categorized as dominant-hegemonic reading, negotiated reading, or oppositional reading. The meaning-making process is analyzed using the reception analysis framework, specifically Stuart Hall’s encoding/decoding model, to capture the range of interpretations and the internalization of hegemonic masculinity values. This research uses a qualitative approach, including observation, literature review, and in-depth interviews with young male viewers of Barbenheimer. The findings show that all informants occupy a negotiated reading position, with their interpretations not fixed in a single category but instead spread across all three, while still influenced by the dominant ideology of hegemonic masculinity."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Win Dwitomo
"ABSTRACT
Tesis ini membahas pemakanaan film bertema pernikahan beda agama
khususnya film Cin(T)a oleh penonton remaja Tionghoa. Penelitian ini adalah
penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Metode pemilihan
narasumber menggunakan teknik criterion sampling dimana kriteria narasumber
sudah ditentukan lebih dahulu. Narasumber penelitian ini adalah remaja
Tionghoa, berjumlah 4 orang dan berusia antara 16 sampai 20 tahun. Metode
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui wawancara
mendalam dengan menggunakan pedoman wawancara semi-terstruktur. Metode
analisa data menggunakan teori encoding-decoding Stuart Hall dengan
mengolongkan pemaknaan kedalam dominan, negosiasi dan oposisional. Hasil
penelitian menyimpulkan bahwa pemaknaan remaja Tionghoa mengenai isu
pernikahan beda agama pada film Cin(T)a dipengaruhi oleh faktor frameworks of
knowledge, relation of media dan technical infrastructure. Remaja Tionghoa
Isalam cenderung menolak film-film yang mengangkat isu pernikahan beda
agama sedangkan remaja Tionghoa Kristen lebih terbuka terhadap film-film
tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa relasi antara faktor-faktor yang
mempengaruhi pemaknaan tidak bekerja secara linear. Faktor-faktor yang
mempengaruhi tidak berbanding lurus dengan pemaknaan.

ABSTRACT
This thesis discusses about the construction of meaning of the movie themed
interfaith marriage in chinese youth attendance (case study of Cin(T)a). This
research is a qualitative research using the constructivist paradigm. Researcher
selected the informants purposively with a certain criteria. Informants in this
study were four (4) teenages of Tionghoa aged between 16 and 20 years old. Data
collection methode used in this study was in-depth interviews using a semistructured
interview guide. Coding was then used to help the researcher analyze
the data obtained from the interview. Reception study teory of Stuart Hall with
dominant, negotiaty, and oppotitional reading categories used as research analyze.
The results showed that the Tionghoa teenages in constructing the meaning of
interfaith marriage film Cin(T)a is different for each informant. Chinese Muslim
teenagers tend to resist films that raise the issue of interfaith marriage while
Chinese Christian teenagers more open to such films. Frameworks of knowledge,
relation of media and technical infrastructure was the factors in role influence of
the meaning construct. But in relationship between themselves, the are same
factors that influence was not linear."
Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
T41836
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>