Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Leo Panji Mahendra
"Dalam perdebatan tentang musik, terdapat gagasan bahwa akses manusia kepada musik dapat dicapai melalui emosi. Gagasan ini memiliki kelemahan, yaitu bahwa kita menyandarkan pemahaman kita pada hal yang bersifat tidak stabil. Akses yang layak bagi manusia adalah melalui kognisi. Kognisi bekerja melalui proses sosial, lebih daripada proses individual. Melalui interaksi sosial, manusia mendapatkan kontak yang intens terhadap musik dan nilai-nilai estetika yang berkembang. Dalam interaksi sosial, pola pikir dan perilaku manusia mengalami modifikasi atas dasar gaya-gaya sosial yang bekerja di dalam masyarakat. Kognisi manusia dapat mengalami tekanan tertentu yang mendorongnya untuk memiliki kepekaan tertentu terhadap kualitas musikal, sehingga manusia dapat memiliki kecerdasan selera tertentu, dengan intervensi yang kuat dari pendidikan.

In the academic debate, there is an idea of human’s understanding of music, which is reached by the human’s emotion. This idea had a weakness, i.e. we cannot rely our understanding on that unstable thing. The proper access for human understanding is through the cognition. Human’s cognition is worked under the force of the social process, rather than an individual force. Through the social interaction, human makes some intense contacts to the music and any developed aesthetic’s value. With those social interactions, human’s mind and behaviour are modified under the social forces. Human’s cognition has been driven to be able to get some certain sensitivities to the musical quality, so that human can modified his/her own particular inteligence of taste, with a strong intervention of eduacational system.;In the academic debate, there is an idea of human’s understanding of music, which is reached by the human’s emotion. This idea had a weakness, i.e. we cannot rely our understanding on that unstable thing. The proper access for human understanding is through the cognition. Human’s cognition is worked under the force of the social process, rather than an individual force. Through the social interaction, human makes some intense contacts to the music and any developed aesthetic’s value. With those social interactions, human’s mind and behaviour are modified under the social forces. Human’s cognition has been driven to be able to get some certain sensitivities to the musical quality, so that human can modified his/her own particular inteligence of taste, with a strong intervention of eduacational system."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S53450
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kalenuik, Ron
Jakarta: Tira Pustaka, 1995
R 641.5 KAL f
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Cahayatunnisa
"Judgment of Taste yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa melalui kajian selera dapat diungkap makna dan faktor-faktor yang mendorong terbentuknya suatu praktik sosial termasuk terhadap sebuah material culture. Masjid kerajaan merupakan salah satu bentuk bangunan peninggalan bercorak Islam yang pada dasarnya tidak memiliki aturan khusus atau panduan dalam pendiriannya. Dalam konteks masjid kerajaan, penguasa memiliki peran penting dalam menentukan bentuk bangunan yang menjadi representasi kewibawaan dan kekuasaannya. Oleh karenanya, ingin diungkap melalui pendekatan selera Pierre Bourdieu dengan analisis arkeologi bagaimana masjid-masjid kerajaan dijadikan sebagai representasi selera penguasa. Metode yang digunakan berupa penelitian kualitatif dengan tahap-tahap yakni pengumpulan data, pengolahan data, analisis data dan interpretasi data. Kajian ini menggunakan analisis arkeologi yang terdiri dari analisis morfologi, gaya dan kontekstual. Hasil yang diperoleh adalah bahwa masjid-masjid Kesultanan Langkat memiliki bentuk arsitektur dan ornamen yang beragam sebagai bentuk representasi selera penguasa. Selera penguasa tersebut didorong oleh ruang sosial atau arena, habitus dan berbagai modal, baik modal sosial, budaya, simbolik maupun ekonomi. Hasil kajian ini juga mengungkap perbedaan antara bentuk masjid pusat pemerintahan dengan masjid-masjid yang ada di daerah bagian (kejuruan) dan dipimpin oleh raja kecil. Selera sultan yang pada awalnya direpresentasikan pada masjid pusat pemerintahan, pada pembangunan berikutnya juga diikuti pula oleh masjid-masjid yang berada di kejuruan sehingga menjadi identitas masjid-masjid di bawah kekuasaan Kesultanan Langkat.

Judgment of Taste proposed by Pierre Bourdieu explains that through the study of taste can be revealed the meaning and factors that encourage the formation of a social practice including a material culture. The royal mosque is one form of Islamic heritage building which basically has no specific rules or guidelines for its establishment. In the context of the royal mosque, the ruler has an important role in determining the shape of the building which represents his authority and power. Therefore, it wants to be revealed through Pierre Bourdieu's taste approach with archaeological analysis how royal mosques are used as a representation of the ruler's taste. The method used is qualitative research with the stages of data collection, data processing, data analysis and data interpretation. This study uses archaeological analysis consisting of morphological, stylistic and contextual analysis. The results obtained are that the mosques of the Langkat Sultanate have diverse architectural forms and ornaments as a form of representation of the tastes of the ruler. The ruler's taste is driven by social space or arena, habitus and various capitals, both social, cultural, symbolic and economic capitals. The results of this study also reveal the difference between the form of the mosque at the center of government and the mosques in the provinces (kejuruan) and led by small kings. The sultan's taste, which was initially represented in the central government mosque, was also followed by the mosques in the vocational area so that it became the identity of the mosques under the rule of the Sultanate of Langkat."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Jonathan Christopher Rumphius
"ABSTRAK
Fungsi makanan sudah bergeser sangat jauh, berawal dari makanan sebagai nutrisi, gizi, pemenuhan rasa lapar mengalami pergeseran hingga makanan sebagai representasi suatu kebudayaan, sebagai seni, sebagai penentu kelas sosial dan sebagainya. Makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat sangat ditentukan oleh posisi mereka dalam kelas sosial, dimana kelas bisa ditentukan dari apa yang dimakan seseorang. Namun dalam budaya milenial, makanan sudah berada dalam barisan depan kebudayaan ini. Makanan sudah tidak lagi dianggap sebagai nutrisi dan pemenuhan gizi, namun sebagai suatu bentuk karya ekspresi seseorang. Budaya milenial menuntut perlombaan masyarakat untuk masuk atau tetap berada dalam kelas sosial teratas, sehingga pergantian trend yang selalu berubah dengan cepat terus-meneruus dikejar demi keberadaan kelas sosial seseorang. Usaha masyarakat untuk menetapkan kelas mereka dalam masyarakat dengan selalu memperbaharui pengetahuan mereka tentang makanan, mengakibatkan tindakan konsumerisme berhasil terjadi. Menurut Baudrillard, kita adalah apa yang kita beli, karena menurutnya seseorang mengonsumsi sesuatu bukan lagi karena value , namun karena sign yang dikandung dalam obyek yang dikonsumsi tersebut. Makanan dikonsumsi tidak lagi berdasarkan kegunaan gizi, namun sebagai suatu tanda dalam hierarki sosial yang ada, karena "tanda" tersebut menekan suatu individu dalam lingkungan sosial milenial, makanan atau pengetahuan makanan yang selalu baru dan ekspresif menjadi suatu penentu kelas sosial seseorang.

ABSTRACT
The function of food has ranged to a wider function, started from food as a nutrition, hunger fulfilling and all the way to food as a representation of culture, art, determining of social class, and so on. Food that are consumed by the people are defined by their position in social class, in which class can be defined by what someone ate. But in the culture of the millenials, food has been in the front row of the culture. Food is no longer considered as a nutrition need for the humans, but as a form of expression. The millenial culture demands a competition of the people to set foot in or stay in a high social class, which trends that evolves quickly is being chased for the sake of social class position. The peoples effort to stay in their social class with renewing the knowledge of food, results in the behavior of consumerism. According to Baudrillard, we are what we consume, as in, for him, and individual consumes no longer for the value of the object, but for the sign that is stampled on the consumed object. Food is consumed no longer for the need of nutrition, but for the sign stampled on that individual in the social hierarchy, for sign is repressing an individual in the millenial society, for the food or the knowledge about food that are always new and more expressive which ables it to be an indicator of one`s social class positioning."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2019
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Salim
"Kereta kuda merupakan produk budaya yang telah digunakan sejak masa peradaban kuno. Bangsa Mesir, Yunani dan Roma telah menggunakannya sebagai alat perang. Pada abad pertengahan kereta kuda kemudian mengalami perubahan fungsi menjadi alat transportasi, kemudian negara Eropa membentuk kebudayaan baru yang menggunakan kereta kuda sebagai penanda status kebangsawanannya. Kereta kuda kemudian tidak lagi menjadi alat transportasi biasa melainkan menjadi artefak tersier bagi kalangan bangsawan di Eropa. Kaum bangsawan tidak sembarangan dalam menentukan kereta kudanya karena kereta kuda juga menunjukkan selera mereka sebagai bangsawan yang ingin dibedakan dengan bangsawan lainnya. Bordieau mengungkapkan bahwa dalam pilihan akan suatu produk budaya seorang bangsawan atau upper class mempunyai kecenderungan untuk membedakan dirinya dengan bangsawan lainnya. Dalam kacamata arkeologi teori ini juga berlaku dalam melihat kereta kuda sebagai produk budaya. Kesultanan Yogyakarta merupakan kesultanan dengan koleksi kereta kuda terbanyak, kereta-kereta tersebut kemudian dapat menwakili selera atau judgment of taste yang dimiliki oleh para sultan. 

Horse Carriage is one of the oldest artefacts that has been used since ancient civilization. Egypt, Greece and Rome already used horse cart for war. In the middle ages there is a change in Europe to use carriage as a transportation wheel, later on the carriages also become as sign of aristocratic and wealth. Carriage then become a luxury artefacts for the noble to show their nobility. The Noble also got different taste to distinguish theirself from one to another. Bordieau also states that the upper class got tendency for distinguish to creat their identity. In the archaeological point of view, the theory also apply towards the horse carriages. Kesultanan Yogyakarta is the empire that has many horse carriages compares to other empire, the carriage then can represent the tastes that possessed by the sultans. "
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ninda Ulva Novirman
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan pada risk appetite dan stakeholder pada pemangku kepentingan utama di Perguruan Tinggi akibat dampak dari COVID-19. Penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan penelitian yaitu bagaimana perubahan risk appetite dan stakeholder engagement pada pemangku kepentingan utama setelah dampak pandemi COVID-19 dan bagaimana dampak perubahan risk appetite dan stakeholder engagement dalam kampus berkelanjutan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada Universitas X. Data yang digunakan adalah data primer yaitu hasil wawancara dan observasi dan data sekunder yaitu dokumen berupa peraturan dan laporan dari Universitas X. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perubahan pada risk appetite dan stakeholder engagement di Universitas X atas dampak dari COVID-19. Perubahan tersebut berkaitan dengan aspek kesehatan dan lingkungan, pelaksanaan pendidikan, dan sosial serta memberikan dampak pada pelaksanaan kampus berkelanjutan di Universitas X.

The purpose of this study was to determine changes in risk appetite and stakeholders in primary stakeholders in Higher Education due to the impact of COVID-19. This research is to answer research questions, namely how changes in risk appetite and stakeholder engagement to primary stakeholders after the impact of the COVID-19 pandemic and how is the impact of changes in risk appetite and stakeholder engagement on sustainable campuses. This research is qualitative research with a case study approach at University X. This study uses primary data which is the result of interviews and observations and secondary data from regulations as well as reports and documents from University X which are related to the research. The results of this study indicate a change in risk appetite and stakeholder engagement at University X related to health and environmental aspects, education implementation, and social aspects and have had an impact on the implementation of a sustainable campus at University X
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fattrias Handayani Jayaatmaja
"Kadar TNF-α didapatkan jauh lebih tinggi pada penderita MDR-TB dibandingkan dengan penderita TB sensitif obat, TNF-α dinyatakan sebagai salah satu sitokin proinflamasi yang dapat menekan selera makan. Asam lemak omega-3 diketahui memiliki efek antiinflamasi, namun efek terhadap selera makan masih menunjukkan hasil beragam, penelitian mengenai asupan asam lemak omega- 3/omega-6 yang dapat mendukung selera makan pada penderita MDR-TB belum pernah dilakukan.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara rasio asupan asam lemak omega-3/omega-6 dengan selera makan yang dimediasi oleh TNF-α pada pasien MDR-TB paru. Penelitian potong lintang ini dilakukan kepada 46 subyek laki-laki dan perempuan dewasa penderita MDR-TB yang sedang menjalani terapi fase intensif. Data dikumpulkan melalui kuesioner, food recall 1x24 jam, pengukuran antropometri dan pengambilan darah vena. Analisis korelasi menggunakan uji pearson dan spearman. Rasio asupan asam lemak omega- 3/omega-6 yang didapatkan adalah 0,11±0,05, nilai tengah TNF-α 7,49(1,66- 447,62) pg/ml dan rerata selera makan 58,72±26,7.
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara rasio asupan asam lemak omega-3/omega-6 dan TNF-α (r=0,16; p=0,91), terdapat hubungan positif antara TNF-α dengan selera makan (r=0,31; p=0,04), serta tidak terdapat hubungan antara rasio asupan asam lemak omega-3/omega-6 dengan selera makan (r=-0,1; p=0,54) pada penderita MDR-TB paru.

TNF-α levels were found to be much higher in MDR-TB patients compared to drugsensitive TB patients, TNF-α is stated as one of the pro-inflammatory cytokines that can suppress appetite. Omega-3 fatty acid are known to have anti-inflammatory effects, but the effects towards appetite are still conflicting, research on the intake of omega-3 / omega-6 fatty acid which can support appetite in patients with MDRTB has never been done.
This study was conducted to determine the relationship between ratio of omega-3 / omega-6 fatty acid intake and appetite mediated by TNF-α in pulmonary MDR-TB. This cross-sectional study was conducted on 46 adult male and female subjects with MDR-TB who were undergoing intensive phase therapy. Data were collected through questionnaires, 1x24 hours food recall, anthropometric measurements and venous blood collection. Correlation analysis used pearson and spearman test. The ratio of omega-3 / omega-6 fatty acid intake is 0.11±0.05, median value of TNF-α 7.49(1.66-447.62) pg/ml and average of appetite 58.72±26.7.
In conclusion, there is no relationship between the ratio of omega-3 / omega-6 fatty acid intake and TNF-α (r=0,16; p=0,91), there is correlation between TNF-α and appetite (r=0.31; p=0.04), and there is no relationship between the ratio of omega-3 / omega-6 fatty acid intake with appetite (r=-0,1; p=0,54) in patients with pulmonary MDR-TB.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jessica Salsabilla Cavalera Priatna
"Artikel ini berfokus pada studi tentang filsafat fashion dan kaitannya pada penandaan estetis. Persoalan fashion yang terkait dengan penyebaran, kebaruan dan selera memunculkan tandatanda yang saling berelasi di dalamnya. Dari setiap tanda-tanda tersebut ternyata ditemukan satu kata yang menjadi pusat dari semua itu, yakni “keren”. Dalam tulisan ini, saya menunjukkan bahwa kata keren tidaklah muncul dengan sendirinya, keren dalam fashion adalah keren sebagai penandaan estetis. Hal inilah yang kemudian membuat fashion penting bagi filsafat, sebab fashion memunculkan keren sebagai salah satu faktor realisasi diri. Sehingga untuk membuktikan hal tersebut, saya menggunakan pendekatan semiosphere dari Yuri Lotman untuk membaca teori fashion menurut Lars Svendsen. Analisis fashion dengan menggunakan relasi-relasi yang terkait di segala bidang seperti bahasa, seni, tubuh dan konsumsi telah mengungkapkan bahwa keren ternyata telah melampaui maknanya dari hanya sekedar menjadi bahasa.

This article focuses on the study of the philosophy of fashion and its relation to aesthetic marking. Fashion issues related to the spread, novelty and taste bring out the signs that are interrelated in it. From each of these signs, one word was found that became the center of it all, namely "cool". In this paper, I show that the word cool does not appear by itself, cool in fashion is cool as an aesthetic signifier. This is what makes fashion important for philosophy because fashion creates coolness as a factor in self-realization. To prove this point, I use Yuri Lotman's semiosphere approach to read Lars Svendsen's fashion theory. Fashion analysis using related relationships in all fields such as language, art, body, and consumption has revealed that cool has actually gone beyond its meaning from just being a language."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nandi Karuniko
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan keluarga dan intensitas penggunaan media streaming musik digital terhadap perilaku music omnivorousness pada individu Gen Z di Jabodetabek. Studi-studi terdahulu yang membahas mengenai selera budaya didominasi oleh dua peta studi, yakni perspektif cultural homology Bourdieusian dan perspektif cultural omnivorism Petersonian. Perspektif cultural homology menyatakan bahwa posisi kelas di seluruh hierarki kelas disertai dengan selera budaya tertentu dan cara-cara yang khas untuk mengapresiasinya. Sementara itu, perspektif cultural omnivorism memandang bahwa bahwa diferensiasi sosial dari selera budaya tidak bisa lagi dibahas dalam hal budaya massa vs budaya elit, melainkan dalam hal keterbukaan terhadap keragaman budaya. Namun demikian, dalam studi-studi terdahulu belum banyak yang mengikutsertakan pengaruh hadirnya media streaming musik digital yang tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat dari seluruh kelas sosial untuk mengakses berbagai macam genre musik yang tersedia. Karenanya, melalui domain budaya yang peneliti pilih yakni musik dan dengan menambahkan variabel intensitas penggunaan media streaming musik digital, serta teknik pengumpulan data yang mengombinasikan survei kuesioner kuantitatif dan in-depth interview, peneliti memperoleh hasil bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki, berusia 12-19 tahun, memiliki tingkat pendidikan tinggi dan memiliki intensitas penggunaan media streaming musik yang tinggi, akan lebih menunjukkan perilaku music omnivorousness jika dibandingkan responden dari kategori lainnya. Meskipun demikian, peneliti juga menemukan bahwa jejak-jejak peninggalan Bourdieu masih tetap eksis dan cukup memadai untuk menjelaskan keterkaitan antara selera budaya dan kelas sosial individu pada masyarakat saat ini, meskipun bukan secara keseluruhan.

This study aims to analyze the influence of gender, age, education level, family income level and intensity of use of digital music streaming media on music omnivorousness behavior in Gen Z individuals in Jabodetabek. Previous studies that discuss cultural tastes are divided into two study maps, namely the Bourdieusian 'homology' perspective and the Petersonian 'cultural omnivorousness' perspective. The homology perspective states that class positions across the class hierarchy are accompanied by specific cultural tastes and distinctive ways of appreciating them. Meanwhile, the cultural omnivore perspective views that the social differentiation of cultural tastes can no longer be discussed in terms of mass culture vs elite culture, but rather in terms of openness to cultural diversity. Moreover, the influence of digital media certainly makes it easier for people from all social classes to access the various music genres available. Therefore, through the cultural domain of music and by adding the variable of intensity of use of digital music streaming media, as well as data collection techniques that combine quantitative questionnaire surveys and in-depth interviews, we found that respondents who are male, aged 12-19 years old, have a high level of education and have a high intensity of use of music streaming media, will show more music omnivorousness behavior than respondents from other categories. However, the researcher also found that traces of Bourdieu's legacy still exist and are sufficient to explain the relationship between cultural tastes and individual social class in today's society, although not in its entirety."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayu Firiyal Maharani
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana Surveillance Capitalism bekerja terhadap pengguna dan memengaruhi selera bermusiknya di aplikasi Spotify. Surveillance capitalism merupakan bentuk pengawasan oleh kapitalisme dengan basis algoritma yang berorientasi keuntungan ekonomi. Berdasarkan studi sebelumnya, terdapat dua perhatian dalam mengkaji penggunaan aplikasi Spotify. Kelompok pertama melihat bagaimana algoritma personalisasi Spotify dapat mengokohkan identitas bermusik pengguna, sementara kelompok lain mengkaji peran algoritma dalam praktik surveillance kapitalisme demi kepentingan ekonomi. Penelitian ini melihat keberadaan algoritma sangat erat kaitannya dengan kerja pengawasan yang juga memperkuat identitas pengguna, khususnya pada fitur Spotify Wrapped dan Made For You. Kedua fitur tersebut memberikan manfaat berupa personalisasi kepada pengguna, tetapi juga memberikan dampak lain dalam bentuk pengawasan yang mengeksploitasi data pengguna. Personalisasi tersebut menggunakan data selera musik yang merupakan identitas dan privasi pengguna untuk memberikan rekomendasi, hingga dapat memengaruhi selera mereka yang berorientasi keuntungan platform. Penelitian ini akan menggunakan perspektif Surveillance Capitalism dan Privacy serta Algorithmic Culture dengan menggunakan metode in-depth interview terhadap pengguna premium dan observasi online di aplikasi Spotify. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa algoritma di dalam aplikasi Spotify bekerja dengan logika kapitalisme yang menguntungkan platform dengan mengekstraksi data pengguna, hingga dapat mengarahkan perilaku dan selera bermusik pengguna secara tidak sadar. Keterbatasan pengetahuan pengguna akan privacy melanggengkan kerja pengawasan kapitalisme dalam memiliki hak kendali atas data pribadinya.

This research aims to see how surveillance capitalism works on users and influences their musical tastes on Spotify. Surveillance capitalism involves algorithms that prioritize economic profit. Previous studies identify two concerns: one focusing on how Spotify's personalization algorithms enhance users' musical identities, and the other on their role in enabling economic surveillance. This research sees that the existence of algorithms is closely related to surveillance work that also strengthens user identity, especially in Spotify Wrapped and Made For (You) features. This study argues that algorithms are closely linked to surveillance practices that also reinforce user identity. While those features provide personalized recommendations, they also raise concerns about data exploitation. Personalization leverages users' musical tastes—key elements of their identity and privacy—to generate profit-driven recommendations, thus influencing their users' tastes. This research will use the perspectives of Surveillance Capitalism, Privacy, and Algorithmic Culture by using in-depth interviews with premium users and online observations on Spotify application. The findings suggest that Spotify's algorithms function under capitalist principles, extracting user data and subtly influencing user behavior and preferences. Additionally, users' limited awareness of privacy issues further enables the effectiveness of these algorithms, reinforcing capitalism's control over personal data. "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>