Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Evana Clarentina Kadi
"Semua aktivitas yang dilakukan dalam memberikan pelayanan kesehatan menempatkan tenaga kesehatan pada risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), termasuk perawat. Salah satu kecelakaan yang dapat menimbulkan cedera, penyakit bahkan kematian akibat infeksi yang ditularkan melalui darah adalah kejadian Needle-stick and Sharp Injuries (NSSI). Kejadian NSSI dan faktor-faktor yang berhubungan di RS PMI Bogor pada perawat belum terdata dengan baik. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dan kuesioner sebagai instrumen dalam mengumpulkan data. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode total sampling, yaitu seluruh perawat yang bekerja di Instalasi Rawat Inap, Instalasi Gawat Darurat dan Instalasi Bedah RS PMI Bogor dengan jumlah responden 216 Orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian NSSI dalam 1 tahun terakhir adalah 49,5% dengan penyebab tersering adalah terkena pecahan ampul (49,5%) dan pada saat mematahkan tutup ampul kaca (48,6%). Tidak ada hubungan yang bermakna antara masa kerja, pelatihan, unsafe acts, dan unsafe conditions dengan kejadian NSSI. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian NSSI. Untuk mencegah terjadinya NSSI maka perlu dilakukan peningkatan pengetahuan perawat, pemerataan promosi pencegahan dan penatalaksanaan kejadian NSSI serta sistem pelaporan kecelakaan kerja yang terintegrasi dan diikuti dengan surveilans.

All activities undertaken in providing health care put health workers at Occupational Health and Safety risk, including nurses. One of the accidents that can cause injury, illness and even death from blood-borne infections is Needle Stick and Sharp Injuries (NSSI). NSSI incidence and factor associated with NSSI at Indonesian Red Cross Hospital nurses have not been recorded properly. A cross-sectional study was conducted, using questionnaire as an instrument to collect data. The sampling technique in this study used total sampling method, which was all nurses working in Inpatient, Emergency and Surgical Installation. A total of 216 nurses were accepted for inclusion.
Results showed that the incidence of NSSI in the last 1 year was 49.5%, with the most common cause was glass ampoule cap (49.5%) and the most frequently reported circumstances of NSSI was breaking the glass ampule cap (48.6%). There was no statistically significant association between experience, training, unsafe acts and unsafe conditions with NSSI. There was statistically significant association between knowledge with NSSI. To prevent the occurrence of NSSI it is necessary to increase the knowledge of nurses, promotion and integrated reporting of occupational accident, followed by surveillance.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
T46001
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indiarta Solihin
"Salah satu risiko keselamatan dan kesehatan perawat di Rumah sakit adalah needle stick and sharp injuries (NSSI) yang dapat menimbulkan cedera, penyakit bahkan kematian akibat infeksi yang ditularkan melalui darah atau cairan tubuh lainnya. Kejadian dan pelaporan NSSI di RSKO pada perawat belum terdata dengan baik. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan desain cross sectional, meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan NSSI.
Pada penelitian kuantitatif, pengambilan data dilakukan pada 76 responden di Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Rawat Inap Bidadari/HCU, Instalasi Rawat Jalan dan Rehabilitasi/Detok. Hasil penelitian menunjukan dalam 1 tahun terakhir, sebanyak 40 orang (52,6 persen) mengalami NSSI, penyebab tersering NSSI adalah pecahan vial/ampul 32,5 persen dan 32,5 persen mengalami NSSI saat mematahkan ampul/vial.
Tidak ada hubungan bermakna antara faktor predisposisi dan faktor pemungkin dengan NSSI. Ada hubungan bermakna antara faktor penguat yaitu faktor punishment dengan NSSI dengan nilai p 0.042. Pada penelitian kualitatif diketahui Pelatihan merupakan faktor predisposisi/individu yang paling penting terkait NSSI, Ketersediaan APD adalah faktor pemungkin/sarana paling penting yang harus disediakan RS untuk mencegah NSSI. Adanya SOP merupakan faktor penguat yang penting untuk pencegahan NSSI. Untuk mencegah NSSI perlu pelatihan berkala, ketersediaan APD dan sosialisasi SOP.

One of the risks to the nurses' safety and health in the hospital is the needle stick and sharp injuries (NSSI) that can cause injury, disease and even death from blood-borne infections or other body fluids. The incident and reporting of NSSI in RSKO on the nurse has not been properly recorded. This research is quantitative and qualitative research with cross sectional design, researching factors related to NSSI.
In quantitative research, data collection was done on 76 respondents in Emergency Installation, Installation Bidadari / HCU, Outpatient Installation and Rehabilitation / Detok. The results showed in the last 1 year, as many as 40 people (52.6 percent) experienced NSSI, the most common cause NSSI fraction vial / ampoule 32.5 percent and 32.5 percent experienced NSSI when break ampoules / vials.
There was no significant association between predisposing factors and enabling factors with NSSI. There is significant relation between amplifier factor that is punishment factor with NSSI with p value 0.042. In qualitative research, it is known that Training is the most important predisposing factor / individual related to NSSI. The availability of PPE is the most important factor to be provided by RS to prevent NSSI. The existence of SOP is an important reinforcing factor for NSSI prevention. To prevent NSSI need to regular training and availability of PPE and socialization of SOP.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2017
T48685
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yosia Efa
"

Latar Belakang: Needle Stick Injury (NSI) masih menjadi masalah keselamatan kerja bagi tenaga kesehatan. Hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk dapat bekerja dalam lingkungan yang lebih aman.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil program Needle Safety Contest (NSC) dalam menurunkan angka NSI. Metode: Penelitian ini adalah evaluasi program yang menggunakan mixed methods. Kuantitatif berupa jumlah NSI yang dibandingkan empat bulan sebelum, dan sesudah kontes. Kualitatif berupa pendalaman penyebab masalah dalam Focus Group Discussion (FGD). Hasil: Terjadi penurunan 50% prevalensi NSI pada periode sesudah kontes. Dari FGD didapatkan penyebab NSI adalah recapping jarum insulin; tindakan yang kurang berhati-hati saat menjahit luka, pengambilan darah, memasang infus, dan menyuntikkan obat ke pasien; jarum yang ditemukan tidak pada tempatnya atau dalam keadaan terbuka; melakukan modifikasi jarum yang tidak sesuai kegunaannya; kurangnya SOP tindakan menjahit luka, melakukan tindakan yang tidak sesuai kewenangan klinis; kurangnya supervisi staf baru, terutama saat melakukan tindakan invasif; kurangnya pengecekan inden consumables. Kesimpulan: NSC berhasil menurunkan prevalensi NSI pada periode sesudah kontes. Faktor penyebab NSI adalah recapping jarum insulin yang banyak terjadi pada pekerja shift dan staf baru; tindakan kurang berhati-hati saat tindakan invasif; penggunaan jarum yang tidak sesuai prosedur; kurangnya SOP tindakan penjahitan luka, kurangnya pengawasan dari senior.

 


Background: Needle Stick Injury (NSI) is still a safety issue for all health workers. Our shared responsibility to be able to work in a safer environment. This study aims to evaluate the Needle Safety Contest (NSC) program in reducing NSI. Methods: This study is an evaluation program that used mixed methods. Quantitative data is the number of NSI compared to four months before and after the contest. Qualitative will deepen the causative problem, using Focus Group Discussion (FGD). Results: There was a 50% decrease in NSI prevalence after the contest period. From the FGD, the cause of NSI are recapping insulin needles; careless actions when suturing wounds, preparing blood sample, infusing patients, and injecting drugs into patients; misplaced needle or put needle not properly; modifying needles not suitable for the use; lack of suture care SOP; perform actions not according to clinical authority; less senior supervision, especially when doing an invasive procedure; and lack of consumables indent checking. Conclusion: NSC succeeded in reducing the NSI prevalence in the post-contest period. NSI causative factors are recapping insulin needles, usually among shift workers and new staff; careless actions when doing invasive procedures; needles that are not suitable for the use; lack of suture care SOP; needles used not ideal with the process; less senior supervision.

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ramonaldi
"Pada studi ini dilakukan peninjauan kembali data pengeboran untuk perbaikan disain Bottom Hole Assembly dan prosedur pemboran pada salah satu sumur yang dimiliki oleh ConocoPhillips Indonesia Inc. Ltd. Proses pengeboran minyak dan gas memerlukan perencanaan yang baik dan banyak proses saling berhubungan untuk menjadikannya operasi yang mencapai tujuan yang diinginkan. Bottom hole assembly (BHA) didefinisikan sebagai serangkaian kombinasi peralatan bawah permukaan yang dipasang pada rangkaian drill string sehingga diperoleh suatu kinerja yang diinginkan untuk tercapainya pemboran yang efisien dan efektif. Dengan pergerakan dan perputaran BHA dan profil sumur yang akan di bor serta panjang dari well displacement akan sangat memungkinkan ditemui masalah. Diantara banyak potensi masalah diatas kita akan memfokuskan pada vibrasi stick-slips dan efek yang ditimbulkan apabila kita tidak mengantisipasinya.
Drillstring vibration adalah suatu kondisi dimana pada saat berotasi BHA yang terdiri dari berbagai macam komponen mempunyai ketidak setimbangan dan juga terdapat ketidak centeran dan bengkokan pada pipa, pemilihan jenis bit juga akan berpengaruh dan fenomena geometrik lainnya yang menghasilkan eksitasi pada frekuensi rotasi atau multipel dari frekuensi rotasi. Pada tulisan ini dilakukan pengolahan data yang diperoleh pada saat pemboran. Metode yang dilakukan adalah melakukan perancangan ulang pada software wellplan dari Halliburton dengan parameter dan setingan dari data real time dan menganalisa hasil keluaran berupa grafik-grafik dan data lainnya yang dapat menentukan apakah pada saat kondisi nyata pemboran benar telah terjadi stickslips. Dengan data yang didapat dan hasil pengamatan data log, pada sumur ini memang telah terjadi stick-slips dan kita perlu melakukan perbaikan untuk acuan di masa datang.
Hasil analisa data yang didapat menunjukkan vibrasi yang terjadi jika ditinjau dari efek kerusakan pada pipa pemboran tidak terdapat cukup torsi yang terjadi untuk dapat membuat kerusakan pada koneksi pipa dan pipa itu sendiri. Dengan perbandingan dua sumur berdekatan kita melihat efek dari vibrasi stick-slips adalah berkurangnya Rate of Penetration yang cukup banyak sehingga nantinya akan berpengaruh pada biaya pemboran yang meningkat. Keluaran yang di harapkan dari tulisan ini adalah suatu acuan disain BHA dan atau prosedur pemboran yang dapat mereduksi potensi bahaya dari vibrasi stick-slips dan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi drilling dari segi waktu dan biaya. Manfaat dari tulisan ini bagi penulis sendiri adalah sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam dunia perminyakan pada umumnya dan drilling khususnya. Semoga tulisan ini juga memberi manfaat bagi pembaca lainnya.

This study will evaluate a set of drilling data to try to find the root cause of drilling stick-slips that we?re experienced. The data were real time data coming from the field at one of ConocoPhillips Indonesia?s well. Oil and gas drilling process required a good planning with a lot of aspects connect to each other, making it a very complicated process. The goal is to drill a well in a most efficient ways. BHA was define as a set of down- hole tool using in drilling operation that connect to drill pipe. The idea is to drill the well to a target that we have pointed, and hoping the design BHA will perform efficiently and effectively. With a combination of the tool above plus the profile of the well including the length of the well, it will have a potential to face difficulties and problems during drilling, among the problems we will focus on the stick-slips phenomena and the theconsequences if we tend to ignore it.
Drillstring vibration is a condition where during rotation a BHA that contain many tool configuration and dimension experience . Not all the tool are symmetrical, this could lead to vibration. The bit selection is also affecting BHA in terms of vibration. On this study, we are going to process a set of data from realtime and also later on we will compare two data from near by well as our methode of study. We are going to use a landmark Halliburton software called wellplan as a tool to analyze realtime data so that from the output we can make a conclution weather or not the BHA has undergo a stick-slips vibration. The out put can be in graphics or tables. In the end we are trying to find solution to the stick-slips.
The result of the software tells us that the BHA was experienced stick and slip and from the reference to our connection torque, the pipe was not torqued high enough to damage the connection. From the comparison of two data well, we make conclusion that the well that experienced stick-slips will affect its Rate of penetration quite significant where it will eventually damaged us in terms of well cost.The output that we are getting later on is the improvement on BHA design and the procedure of drilling where we are hoping it will reduce the potential of stick-slip vibration, and we will increase drilling efficiency. To me this paper not only increase my understanding on drilling vibration, but also to learn drilling operation. As a student of mechanical engineering, I get to see the connection of my study to my day to day work in oil and gas sector. In general I hope this paper will be used as an alternative to solve drilling process that also experience stick-slips.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S45700
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ni Luh Gede Hari Setiawati
"ABSTRAK
Hasil Prestack time migration (PSTM) kurang akurat untuk digunakan dalam menginterpretasi zona target hidrokarbon. Kekurangan PSTM terletak pada hal positioning dan image quality. Tidak hanya itu, PSTM juga tidak mampu mengatasi adanya variasi kecepatan lateral dikarenakan PSTM menggunakan kecepatan RMS yang tidak mampu mengatasi pembelokan sinar ketika menemui batas lapisan. Prestack depth migration (PSDM) mampu mengatasi keterbatasan dari PSTM.
PSDM menggunakan kecepatan interval dalam pencitraan bawah permukaan yang mengikuti prinsip Snellius yang membelokkan sinar ketika menemui 2 lapisan yang berbeda sehingga memberikan informasi yang lebih detail mengenai struktur bawah permukaan dibandingkan kecepatan RMS yang digunakan dalam PSTM. PSDM dengan asumsi isotropi kurang menghasilkan pencitraan dan posisi
yang akurat dikarenakan PSDM asumsi isotropi tidak mampu menyelesaikan nonhyperbolic moveout yang dikenal dengan efek hockey stick yang muncul pada far offset. Nonhyperbolic moveout tersebut bisa diselesaikan dengan asumsi anisotropi dengan memperhitungkan parameter anisotropi Thomsen yaitu delta
dan epsilon. Dalam penelitian ini menggunakan asumsi jenis anisotropi Vertical Transverse Isotropy (VTI). Dalam penelitian ini mengasumsikan parameter anisotropi delta sama dengan epsilon dikarenakan tidak menggunakan data sumur. Nilai merupakan pendekatan elliptical anisotropy yang jarang ditemukan di alam. Parameter delta
(mendeskripsikan penjalaran gelombang P pada sudut sekitar arah vertikal. Parameter epsilon (mendeskripsikan perbedaan fraksi kecepatan gelombang P pada arah vertikal dan horizontal. Dengan melakukan perbaikan pada parameter epsilon maka menghasilkan pencitraan bawah permukaan yang lebih jelas. Nilai
parameter epsilon yang diperoleh pada penelitian ini berkisar antara 0-0,28, kisaran nilai tersebut termasuk dalam parameter weak elastic anisotropy Thomsen.

ABSTRACT
Result of Prestack time migration (PSTM) less accurate to use in interpretation of
target zone. Limitation of PSTM are in positioning, image quality and can not
solve lateral velocity variations because PSTM uses RMS velocity which can not
solve ray deflection when meets boundary layer. Prestack depth migration
(PSDM) can solves the limitation of PSTM.
PSDM uses interval velocity in subsurface imaging obeys Snellius’s principle
which deflection the ray when meets boundary layer so that give detail
information about subsurface structure than RMS velocity. Isotropy assumption in
PSDM less acurrate in imaging and positioning because isotropy PSDM can not
solve nonhyperbolic moveout known as hockey stick effect appears in far offset.
Nonhyperbolic moveout can be solved uses anisotropy assumption which
calculates Thomsen’s anisotropy parameters, delta and epsilon. In this research
uses type of anisotropy VTI (Vertical Transverse Isotropy).
In this research , assumed that anisotropy parameter of delta is equal with epsilon
because well data is absence. Value of is elliptical anisotropy approach
which rare found in nature. Delta parameter describes propagation of P-wave in
angle around vertical direction. Epsilon parameter describes fractional difference
between vertical and horizontal P velocities. To get the accurate result, epsilon
refinement is the way to get image of subsurface clearly. In this reseach, writer get
value of epsilon between 0-0.28, which it refers to Thomsen’s weak elastic
anisotropy."
2015
S60438
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cut Rulia
"Pencitraan bawah permukaan menggunakan metode pre-stack time migration (PSTM) biasanya menghasilkan kualitas data seismik yang rendah jika diaplikasikan pada struktur geologi yang kompleks. Hal ini dapat terjadi karena metode PSTM menggunakan kecepatan rms yang merupakan kecepatan rata-rata dari beberapa lapisan, dan tidak seperti metode pre stack depth migration (PSDM) yang menggunakan kecepatan interval sebagai kecepatan sebenarnya dari tiap lapisan. Selain itu, metode PSTM juga tidak mampu mengoreksi efek hockey stick yang terdapat pada data gather di far offset akibat dari lapisan anisotropi. Untuk mengatasi kekurangan kualitas citra bawah permukaan dari metode PSTM, maka dilakukan penilitan menggunakan metode PSDM anisotropi dengan asumsi medium vertical transverse isotropy (VTI) yang melibatkan parameter anisotropi, yaitu parameter delta (d) dan epsilon (e). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data seismik dari Lapangan CR yang memiliki struktur geologi yang kompleks. Metode PSDM ansiotropi ini berhasil mengoreksi efek hockey stick di far offset pada Lapangan CR dengan nilai epsilon berkisar 0 hingga 0.27. Sehingga, kualitas citra bawah permukaan pada penampang seismik mengalami banyak peningkatan yang ditunjukkan oleh reflektor yang lebih kuat dan kemenerusan yang lebih konsisten.

Subsurface imaging using pre-stack time migration (PSTM) usually produces low quality in seismic data when it is applied to complex geology structures. This is because PSTM method uses rms velocity which is the average velocity of several subsurface layers, and unlike pre stack depth migration (PSDM) method that uses interval velocity which is the actual velocity of each subsurface layer. Moreover, PSTM method also cannot be used to correct hockey stick effect at far offset because of anisotropy layer. To enhance the subsurface images quality produced by PSTM method, then a study was has been performed using anisotropy PSDM method with vertical transverse isotropy (VTI) medium assumption. This anisotropy PSDM method involved the anisotropy parameters such as delta (d) and epsilon (e) parameters. Seismic data taken from geological complex area in CR field has been used to test the anisotropy PSDM method. The result of this study shows that the anisotropy PSDM method succeeds in correcting the hockey stick effect at far offset with epsilon parameter value ranges from 0 to 0.27. Therefore, the subsurface image quality at seismic section is increasing indicated by strong seismic reflectors and more consistent in reflector continuity."
2015
T44485
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadia Nur Fadilla
"ABSTRAK
Tesis ini membahas mengenai kegiatan Business Coaching yang dilakukan kepada PT Anugrah Bersama Sejahtera yang merupakan UMKM yang bergerak di bidang plastik komponen, metal komponen, dan autolathe bubutan . UMKM yang berlokasi di Depok ini memiliki produk unggulannya yakni tongkat pentungan. Strategi promosi dari tongkat pentungan yang selama ini dilakukan oleh perusahaan hanya bergantung pada pemesanan dari dua distributor rekanan serta mengandalkan media komunikasi seperti company profile, brosur, dan materi presentasi saja. Hal ini menjadikan perusahaan tidak dapat memaksimalkan kegiatan penjualan tongkat pentungan. Maka, tujuan dari kegiatan Business Coaching dan penulisan tesis ini adalah untuk membantu mengimplementasikan strategi promosi baru pada PT Anugrah Bersama Sejahtera agar dapat meningkatkan penjualan dari produk tongkat pentungan.

ABSTRACT
This thesis discusses about Business Coaching process at PT Anugrah Bersama Sejahtera, an Micro Small Medium Enterprise in manufacturing plastic component, metal component, and autolathe. The company that located in Depok has the best selling product which is security stick baton . Promotional strategy from security stick baton that has been done by the company only rely on orders from two distributor partner as well as relying on company profile, brochures, and presentation materials. This makes the company cannot maximize sales activities of the product. Thus, the purpose of the Business Coaching activities and the writing of this thesis is to help PT Anugrah Bersama Sejahtera implement the new promotion strategy in order to maximize the sales of security stick baton products."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Whinanda Chalista
"Kafein merupakan senyawa alkaloid metilxantin yang tersebar luas penggunaannya dalam bidang kosmetik sebagai anti selulit. Kafein bersifat hidrofilik dimana hal tersebut menunjukkan bahwa kafein sulit berpenetrasi ke dalam kulit yang sebagian besar tersusun oleh lipid. Pada penelitian ini, kafein dibuat dalam bentuk emulsi dan mikroemulsi tipe air dalam minyak yang kemudian dimasukkan ke dalam sediaan berbentuk stik dengan komponen penyusun yang bersifat lipofilik untuk mengatasi permasalahan penetrasi. Tujuan penelitian ini adalah memformulasikan stik yang mengandung zat aktif serbuk kafein stik kontrol, emulsi kafein stik emulsi, dan mikroemulsi kafein stik mikroemulsi serta membandingkan penetrasi diantara ketiganya. Uji penetrasi dilakukan menggunakan sel difusi Franz dengan membran kulit tikus betina galur Sprague-Dawley selama 12 jam.
Berdasarkan hasil uji penetrasi, jumlah kumulatif kafein yang terpenetrasi dari stik kontrol, stik emulsi, dan stik mikroemulsi berturut-turut adalah 306,42 34,92 g/cm2, 927,75 57,38 g/cm2, dan 2408,68 81,65 g/cm2 dengan persentase sebesar 5,90 0,67, 12,76 0,78, dan 35,23 1,19. Selain itu, dilakukan uji stabilitas fisik dan kimia pada penyimpanan selama 8 minggu di suhu kamar 29±2°C, suhu dingin 4±2°C, dan suhu panas 40±2° C. Ketiga stik tidak stabil secara fisik dan kimia dengan parameter organoleptis, homogenitas, dan pengukuran kadar kafein setiap 2 minggu.

Caffeine is a methylxanthin alkaloid compound that has been widely used in cosmetics products as anticellulite. Caffeine has a hydrophilic characteristics and it indicates that caffeine will be difficult to penetratre into the skin that is mostly composed by lipids. In this study, caffeine will be made in the form of water in oil emulsions and microemulsions then form into a sticks shaped with lipophilic constituent component to overcome the penetration problem. The aims of this study were to formulate sticks containing active substances of caffeine control sticks, caffeine emulsions emulsion sticks, and caffeine microemulsions microemulsion sticks and compare the penetration between them. The penetration test was performed using a Franz diffusion cell with a Sprague dawley rat skin for 12 hours.
Based on results, the cumulative amount of caffeine from control sticks, emulsion sticks, and microemulsion sticks were 306.42 34.92 g cm2, 927.75 57.38 g cm2, and 2408.68 81.65 g cm2 respectively, with a percentage 5.90 0.67, 12.76 0.78, and 35.23 1.19. In addition, physical and chemical stability tests were performed for 8 weeks at room temperature 29±27deg;C, cold temperature 4±2°C, and hot temperature 40±2°C. The three sticks showed physical and chemical unstability with organoleptic, homogeneity, and measurement parameters of caffeine content every 2 weeks.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
S69720
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Fahrinaldo Febrian Ramadhan
"Seismik anisotrop didefinisikan sebagai kebergantungan kecepatan seismik terhadap arah penjalaran gelombang di bawah permukaan tanah. Sifat anisotrop dalam batuan dapat muncul akibat beberapa faktor seperti struktur geologi dan jenis litologi. Fenomena hockey stick adalah efek dari medium anisotrop yang sering muncul pada offset jauh. Pengetahuan mengenai efek anisotrop menjadi hal yang penting dalam pengolahan dan intepretasi data seismik.
Proses NMO dengan menggunakan metode waktu tempuh hiperbolik pada medium anisotrop akan memperlihatkan fenomena hockey stick pada far offset. Biasanya fenomena tersebut akan di muting pada pengolahan data seismik dengan pendekatan model bumi isotrop. Hal ini mengakibatkan adanya informasi litologi yang hilang. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan anisotrop untuk mereduksi nilai residual moveout pada data yang memiliki offset panjang.
Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa metode waktu tempuh non-hiperbolik Alkhalifah lebih baik dalam melakukan koreksi NMO untuk medium anisotrop dengan offset yang panjang dibandingkan dengan metode waktu tempuh hiperbolik. Selain itu, metode waktu tempuh Alkhalifah juga dapat mengestimasi litologi suatu reservoir. Nilai parameter anisotrop ? dari persamaan tersebut memiliki pola yang sama dengan log gamma ray. Pada reservoir didapatkan nilai ? sand bernilai negative dan shale positif.

Seismic anisotropy is defined as the dependence of seismic velocity against the direction of wave propagation below the earth surface. The anisotropic properties in rocks arise due to the several factors, such as geological structures and the type of lithology. Hockey stick phenomenon is the result of anisotropic medium that often appears on the far offset. Knowledge of the anisotropic effect becomes important in processing and interpretation of seismic data.
The NMO correction by using the hyperbolic travel time on the anisotropic medium can show hockey stick phenomenon on the far offset. Usually the phenomenon will be muting on the seismic data processing with isotropic earth model approach. It will result in missing some of the lithologic information. Therefore, this research was conducted using anisotropic approach to reducing residual moveout for data which has a very long offset.
The results of this research showed that the Alkhalifah method of non hyperbolic travel time was better in the NMO correction for anisotropy medium with a long offset compared to the method of hyperbolic travel time. In addition, Alkhalifah method can also estimate the lithology of a reservoir. The value of anisotropic parameter from the equation itself has the same pattern as the gamma ray log. In reservoir, the sand has negative value and shale has positif value.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Nurkholifah
"Cedera Jarum Suntik (CJS) dapat dialami mahasiswa keperawatan selama proses pembelajaran. Kesiapan dan harapan mahasiswa keperawatan perlu diteliti guna mencegah timbulnya masalah fisik dan psikologis akibat CJS. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis gambaran kesiapan dan harapan pelaksanaan pencegahan CJS pada mahasiswa keperawatan. Metode penelitian yang digunakan, yaitu deskriptif dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini, yaitu total sampling dengan jumlah 284 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis deskriptif menunjukkan karakteristik usia mahasiswa keperawatan berada pada kategori usia dewasa muda dengan responden didominasi oleh perempuan. Gambaran insiden CJS menunjukkan mayoritas terjadi pada mahasiswa pada level akademik tertusuk jarum suntik (31%) dibanding mahasiswa profesi. Gambaran kesiapan mahasiswa keperawatan mencegah CJS baik/ siap (52,8%) dan harapan mahasiswa keperawatan mencegah CJS tinggi (50,4%). Mahasiswa keperawatan yang memiliki tingkat kesiapan mencegah CJS yang baik hampir sama dengan yang kurang baik. Jumlah mahasiswa yang memiliki harapan mencegah CJS yang tinggi hampir sama dengan mahasiswa yang memiliki harapan yang kurang. Kesadaran untuk meningkatkan kesiapan dan harapan perlu diingatkan terus-menerus oleh institusi pendidikan agar tidak terjadi CJS pada mahasiswa keperawatan.

Needle Stick Injury (NSI) can be experienced by nursing students during the learning process. The readiness and hope of nursing students need to be studied in order to prevent physical and psychological problems arising from NSI. The purpose of this study was to analyze the overview of readiness and hope of implementing of NSI prevention among nursing students. The research method used was descriptive with a cross-sectional design. The sampling technique in this study was total sampling with 284 respondents. Data collection uses a questionnaire that has been tested for validity and reliability. The results of the study using descriptive analysis showed that the age characteristics of nursing students were in the category of young adults with respondents dominated by women. The description of the NSI incident shows that the majority occurred in students at the academic level with needle sticks (31%) compared to professional students. The readiness of nursing students prevents NSI from being good/ ready (52.8%) and the hope of nursing students to prevent NSI is high (50.4%). Nursing students who have a good level of readiness to prevent NSI are almost the same as not good. The number of students who have high hopes of preventing NSI is almost the same as students who have low hope. Awareness to improve readiness and hope needs to be constantly reminded by educational institutions to avoid NSI for nursing students."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>