Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 22 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Wina Widiarti
"Sepsis merupakan suatu disfungsi organ yang bersifat mengancam jiwa yang disebabkan oleh infeksi, sedangkan syok septik adalah sekumpulan tanda-tanda sepsis dengan resiko mortalitas yang lebih tinggi. Penatalaksanaan pasien bergantung pada pemberian antibiotik empiris yang sesuai untuk mencegah resistensi bakteri terhadap antibiotik yang diberikan.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk melihat pola antibiotik yang diberikan kepada pasien sepsis dan menilai kesesuaian penggunaan antibiotik pada pasien sepsis di Instalasi Gawat Darurat RSUP Fatmawati periode Oktober-Desember 2016.
Penelitian ini dilakukan dengan desain cross sectional dan bersifat deskriptif secara retrospektif dengan mengevaluasi catatan rekam medis dari 99 pasien sepsis. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik total sampling.
Hasil analisis pada 99 pasien sepsis, didapatkan jumlah penderita laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, yaitu sebesar 56.57 dan paling banyak diderita oleh pasien lansia akhir >55-65 tahun sebesar 34.34.
Kriteria pasien sepsis didapatkan bahwa pasien sepsis sebesar 73.74 dan syok septik sebesar 26.26. Antibiotik tunggal yang paling sering digunakan adalah seftriakson, sedangkan antibiotik yang paling sering dikombinasi adalah levofloksasin seftriakson. Penggunaan antibiotik yang memenuhi kriteria tepat pasien sebanyak 49.49 , tepat indikasi sebanyak 70.71 , dan tepat dosis sebanyak 34.34.

Sepsis is defined as life threatening organ dysfunction caused by infection, whereas septic shock is a subset of sepsis in which substantially increase mortality. The management of the patient depends on treating septic patient especially with appropriate empirical antibiotics to prevent bacterial resistance.
The purpose of this study was to perceive of the antibiotic prescription patterns given to sepsis patients and assess the accuracy of antibiotic usage in sepsis patients in the Emergency Department of Fatmawati Central General Hospital October to December 2016 period.
The design of this study was cross sectional and this sudy was descriptive with retrospective data collection by evaluated medical records from 99 patients. This sudy used the total sampling technique.
Based on analysis of 99 sepsis patients, the number of men was higher than women, which was 56.57 and the most suffered by the elderly 55 65 years old patients was 34.34.
This study showed that sepsis patients were 73.74 and septic shock were 26.26. The single most antibiotic commonly used was ceftriaxone and the most combined antibiotic was levofloxacin ceftriaxone. The administration of antibiotics which patient 39 s properly criteria was 49.49 , appropriate indication was 70.71 , and appropriate dosage was 34.34.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
S68062
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iris Rengganis
2017
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Ratih Priyantiningsih
"Sepsis merupakan kondisi yang sulit untuk didiagnosis. Definisi sepsis berdasarkan International Consensus Conference on Pediatric Sepsis 2005 terlalu sensitif dan tidak spesifik. Akibatnya sering terjadi underdiagnosed/overdiagnosis terhadap sepsis. Sampai saat ini tidak ada data tentang karakteristik pasien sepsis, kepatuhan diagnosis berdasarkan konsensus yang disepakati, dan luaran sepsis pasien di PICU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik sepsis di PICU RS dr. Cipto Mangunkusumo. Metode penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dari data rekam medis pasien sepsis di PICU periode Januari 2012 sampai April 2016. Didapatkan 85 pasien yang didiagnosis dokter dengan sepsis, 7 pasien diantaranya tidak memenuhi kriteria konsensus. Hanya 1 pasien yang didiagnosis sepsis berat oleh dokter, sedangkan berdasarkan konsensus didapatkan 66 pasien sepsis berat. Infeksi respiratorik adalah penyakit primer penyebab sepsis di PICU (51,3%). Angka kejadian sepsis berat di PICU sebesar 85% dan syok septik 70%. Klebsiella pneumonia kuman gram negatif terbanyak penyebab sepsis (22%). Angka kematian sepsis sebesar 29%, pada sepsis berat 32% dan meningkat pada syok septik 37%. Penelitian ini menunjukkan kepatuhan diagnosis sepsis oleh dokter berdasarkan konsensus masih kurang. Diagnosis sepsis pasien di PICU berdasarkan kadar prokalsitonin yang meningkat.

Sepsis is a condition that is difficult to diagnose. Definition of sepsis based on the International Consensus Conference on Pediatric Sepsis 2005 is too sensitive and not specific. As a result underdiagnosed/overdiagnosis often occurs in sepsis. Until now there are no data on the characteristics of sepsis patients, compliance to diagnosis based on consensus, and the outcome of sepsis patients in PICU. The aim of this study is to determine the characteristic features of sepsis in PICU of dr. Cipto Mangunkusumo hospital. The methods is descriptive retrospective study from medical records of sepsis patients in PICU from January 2012 until April 2016. There were 85 patients diagnosed with sepsis by physicians, 7 of them did not meet the criteria of consensus. Only one severe sepsis patients diagnosed by a doctor, but based on the consensus, there are 66 patients with severe sepsis. Respiratory infections are the primary cause of sepsis (51.3%). The incidence of severe sepsis in PICU is 85% and of septic shock is 70%. Klebsiella pneumonia, Gram negative bacteria, is the most common cause of sepsis (22%). Sepsis mortality rate is 29%, severe sepsis is 32% and increased in septic shock by 37%. This study describes compliance of diagnosis of sepsis by doctor based on consensus is still lacking. The diagnosis of sepsis patients in PICU based on increased levels of procalcitonin.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Euntong Army
"Penelitian ini membahas mengenai pemantauan ketersedian obat syok anafilaktik di setiap poli di puskesmas Kramat Jati. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode non-eksperimental yang dilakukan secara observasional yang bersifat kualitatif dengan cara pengamatan dan wawancara. Hasil penelitian ini menyarankan untuk mengubah waktu pemesanan obat-obat syok anafilaktik menjadi awal tahun agar tidak terjadi kekososngan obat. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan ketersediaan obat-obatan syok anafilaktik di puskesmas sudah sangat baik sesuai dengan formularium nasional serta distribusi obat yang sudah menyeluruh disetiap poli di puskesmas.

This study discusses the monitoring of the availability of anaphylactic shock drugs in each poly at the Kramat Jati health center. The method used in this study is a non-experimental method conducted in an observational manner that is qualitative in nature by means of observations and interviews. The results of this study suggest changing the time of ordering anaphylactic shock drugs to the beginning of the year to avoid drug shortages. Based on observations that have been made, the availability of anaphylactic shock drugs at the puskesmas is very good in accordance with the national formulary and the distribution of drugs that have been thoroughly distributed in every poly at the puskesmas.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Vanda Nur Azizah
"Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Salah satu penyebab perburukan dan kematian pada pasien dengan tuberkulosis paru adalah adanya sepsis. Sepsis merupakan disfungsi organ mengancam nyawa yang disebabkan oleh disregulasi respon host terhadap infeksi. Syok sepsis akibat tuberkulosis dapat menyebabkan beberapa gejala yang umum pada tuberkulosis, seperti demam dan sesak napas hingga disfungsi multiorgan. Angka kematian yang tinggi dan kesalahan diagnosis sepsis pada tuberkulosis masih umum terjadi. Oleh karena itu, perawat berperan penting dalam pengenalan dini dan perawatan pada pasien dengan sepsis. Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk memaparkan hasil praktik mengenai pemberian asuhan keperawatan pada pasien tuberkulosis paru dengan sepsis. Analisis asuhan keperawatan dilakukan pada pasien laki-laki berusia 49 tahun yang mengalami tuberkulosis paru disertai dengan sepsis di ruang rawat inap. Masalah keperawatan yang dapat diangkat pada kasus pasien dengan sepsis, antara lain bersihan jalan napas tidak efektif, ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh, dan risiko syok. Penerapan intervensi pada karya ilmiah ini khususnya berfokus untuk menangani risiko syok dengan menggunakan bundel yang disertai dengan perawatan terperinci pada pasien. Intervensi diberikan selama empat hari kepada pasien. Intervensi yang diterapkan efektif dalam meningkatkan kondisi klinis pasien ketika dilakukan penerapan, namun tidak berdampak signifikan pada peningkatan kondisi klinis pasien secara kumulatif.

Tuberculosis is an infectious disease caused by the bacteria mycobacterium tuberculosis. One of the causes of deterioration and death in patients with pulmonary tuberculosis is sepsis. Sepsis is a life-threatening organ dysfunction caused by dysregulation of the host response to infection. Septic shock due to tuberculosis can cause several symptoms common to tuberculosis, such as fever and shortness of breath to multiorgan dysfunction. The high mortality rate and misdiagnosis of sepsis in tuberculosis are still common. Therefore, nurses play an important role in early recognition and treatment of patients with sepsis. The aim of writing this scientific work is to present practical results regarding the provision of nursing care to pulmonary tuberculosis patients with sepsis. Analysis of nursing care was carried out on a 49 year old male patient who experienced pulmonary tuberculosis accompanied by sepsis in the inpatient room. Nursing problems that can be raised in cases of patients with sepsis include ineffective airway clearance, imbalanced nutrition: less than body requirements, and risk of shock. The implementation of interventions in this scientific work specifically focuses on managing the risk of shock using a bundle accompanied by detailed patient care. The intervention was given for four days to the patient. The intervention implemented was effective in improving the patient's clinical condition when implemented, but did not have a significant impact on improving the patient's clinical condition cumulatively."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Romi Akbar
"Latar Belakang: Pasien sakit kritis dengan sepsis biasanya menerima volume cairan yang sangat besar menyebabkan balans cairan positif yang sangat signifikan dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan kardiak output, tekanan darah sistemik, dan perfusi ke ginjal. Kondisi ini juga ternyata berkaitan dengan angka survival yang buruk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah rumatan dini norepinefrin dapat mengurangi pemberian cairan dan mencegah overload pada resusitasi pasien syok septik.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis acak tidak tersamar dengan subjek penelitian adalah pasien dewasa yang masuk di unit perawatan intensif dan instalasi rawat darurat dari Januari- November 2020 yang didiagnosa dengan syok septik. Terdapat dua kelompok perlakuan, kelompok norepinefrin dini dan kelompok resusitasi cairan 30 ml/kgBB. Dilakukan penilaian terhadap rasio albumin kreatinin urin, peningkatan nilai serum kreatinin, rasio PaO2/FiO2, dan tekanan intraabdominal pada saat diagnosa syok septik ditegakkan, 3 jam dan 24 jam setelah perlakuan diberikan. Data diolah dalam menggunakan perangkat SPSS.
Hasil: Berdasarkan analisis didapatkan perbedaan yang bermakna untuk semua variabel penelitian pada kelompok perlakuan resusitasi cairan dibandingkan dengan kelompok norepinefrin. Jumlah pemberian cairan pada kelompok norepinefrin dini rata-rata adalah 2198,63 ml, lebih sedikit dibandingkan pada kelompok resusitasi cairan 30 ml/kgBB dengan rata-rata 3999,30 ml, uji Chi Square p = 0,000. Dengan membandingkan hasil pengukuran terhadap nilai pengukuran awal pada kedua kelompok, overload cairan sangat berisiko terjadi pada kelompok resusitasi cairan 30 ml/kgBB. Didapatkan hubungan yang bermakna pada rasio albumin kreatinin urin, peningkatan nilai serum kreatinin, rendahnya rasio PaO2/FiO2 dan peningkatan tekanan intraabdominal dengan pemberian resusitasi cairan 30 ml/kgBB yang menunjukkan risiko terjadi overload cairan (OR 48,273 ; CI 95% = 16,708-139,472, OR = 73,381 ; CI 95% = 19,955-269,849, OR = 12,225 ; CI 95% = 5,290-28,252, dan OR = 32,667 ; CI 95% = 10,490-101,724).
Kesimpulan: Pemberian norepinefrin dini dapat mengurangi pemberian cairan dan mencegah overload pada resusitasi pasien syok septik

Background: Critically ill patients with sepsis usually receive a very large volume of fluids causing a very significant positive fluid balance in an effort to meet the needs of cardiac output, systemic blood pressure, and perfusion to the kidneys. This condition also turns out to be associated with poor survival rates. The aim of this study was to determine whether early maintenance of norepinephrine can reduce fluid administration and prevent overload in the resuscitation of patients with septic shock.
Methods: This study is a randomized, non-blind clinical trial with the subject of the study being an adult patient diagnosed with septic shock who were admitted to the intensive care unit and emergency care unit from January to November 2020 who were diagnosed with septic shock. There were two treatment groups, the early norepinephrine group and the 30 ml/kgBW fluid resuscitation group. An assessment of the urinary albumin to creatinine ratio, increased serum creatinine value, PaO2/FiO2 ratio, and intraabdominal pressure at the time of diagnosis of septic shock was established, 3 hours and 24 hours after the treatment was given. The data is processed using the SPSS device.
Results: Based on the analysis, it was found that there were significant differences for all study variables in the fluid resuscitation group compared to the norepinephrine group. The amount of fluid administration in the early norepinephrine group averaged 2198.63 ml, less than that in the 30 ml / kgBW fluid resuscitation group with an average of 3999.30 ml, Chi Square test p = 0.000. By comparing the measurement results against the initial measurement values in the two groups, fluid overload was very risky in the 30 ml / kgBW fluid resuscitation group. There is a significant relationship between the urinary albumin to creatinine ratio, the increase in the serum creatinine value, the low PaO2/FiO2 ratio and the increase in intraabdominal pressure with the provision of 30 ml/kgBW fluid resuscitation which indicated the risk of fluid overload (OR 48.273; 95% CI = 16.708-139.472, OR = 73,381; 95% CI = 19,955-269,849, OR = 12,225; 95% CI = 5,290-28,252, and OR = 32,667; 95% CI = 10,490-101,724).
Conclusion: Early norepinephrine administration can reduce fluid administration and prevent overload in the resuscitation of patients with septic shock.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Pria Agustus Yadi
"Dilakukan studi Kohort retrospektif untuk menilai pengaruh kelebihan cairan pasca operasi terhadap hasil akhir penatalaksanaan trauma dengan syok hemoragik di RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo. Data diperoleh dari rekam medik 42 penderita yang terbagi menjadi kelompok I (24 penderita) menerima cairan ~ 10.000 cc dan kelompok II (18 penderita) yang menerima cairan < 10.000 cc selama 24 jam I. Dari seluruh penderita, 18 penderita diantaranya meninggal dunia dan kelompok I mempunyai risiko kematian 6 kali lebih tinggi dibanding kelompok II dan perbedaan diantara keduanya bermakna secara statistik (p < 0,05). Timbulnya 2 atau 3 dari kematian (koagulopati, asidosis metabolik dan hipotermi) meningkatkan risiko kematian 28 kali lebih tinggi dan hubungannya bermakna (p < 0,001). Mereka yang hidup dan menerima cairan ~ 10.000 cc mempunyai lama rawat lebih panjang dibandingkan mereka yang menerima cairan <10.000 cc (P<0,05). Resusitasi cairan masih meningkatkan risiko kematian dan lama perawatan lebih panjang dan risiko kematian terutama dihubungkan dengan ditemukannya 2 atau 3 dari trias kematian. Diperlukan pemahaman kompleksitas respon tubuh yang terjadi pasca trauma dan syok hemoragik sehingga dapat melakukan resusitasi yang benar diikuti monitoring yang ketat untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas penatalaksanaan trauma dengan syok hemoragik.

A retrospective cohort study was conducted! to assess the effect of postoperative excess fluid on the final outcome of trauma management with hemorrhagic shock at RSUPN- Dr.Cipto Mangunkusumo. Data was obtained from the medical records of 42 patients who were divided into group I (24 patients) receiving ~ 10,000 cc of fluid and group II (18 patients) who received 10,000 cc < liquid for 24 hours I. Of all the patients, 18 of them died and group I was at risk mortality was 6 times higher than group II and the difference between the two was statistically significant (p < 0.05). The occurrence of 2 or 3 of mortality (coagulopathy, metabolic acidosis and hypothermy) increased the risk of death 28 times higher and the association was significant (p < 0.001). Those who lived and received ~10,000 cc of fluid had a longer treatment time than those who received < 10,000 cc (P <0.05). Fluid resuscitation still increases the risk of death and length of treatment longer and the risk of death is mainly associated with the discovery of 2 or 3 of the triad of death. Understanding is required the complexity of the body's response that occurs after trauma and hemorrhagic shock so that it can perform correct resuscitation followed by strict monitoring to reduce morbidity and mortality in the management of trauma with hemorrhagic shock."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997
T-pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
M. Tatang Puspajono
"Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan utama di Asia dan Pasifik khususnya Indonesia. Angka kematian sindom syok dengue (SSD) di rumah sakit masih tinggi. Data di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM antara 1 Januari 2003 sampai dengan 30 Juni 2004 didapatkan jumlah kasus DBD yang dirawat sebanyak 263 pasien. Jumlah kasus SSD pada periode tersebut sebesar 31,7% DBD derajat III, diikuti DBD derajat II sebesar 30,7% dan DBD ensefalopati pada DBD derajat 1V sebesar 1%.
Salah satu gangguan keseimbangan asam basa adalah asidosis laktat, suatu bentuk asidosis metabolik. Kondisi ini terjadi akibat akumulasi laktat yang disebabkan oleh hipoksia atau iskemia jaringan. Asidosis laktat erat hubungannya dengan akumulasi laktat di dalam cairan ekstraseluler, akibat ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan pemakaian oksigen untuk kebutuhan metabolik. Kadar laktat darah telah banyak dipelajari dan digunakan sebagai petanda biokimia adanya hipoksia jaringan pada keadaan sakit gawat. Asidosis laktat dibuktikan sebagai faktor penyebab umum dan tersering dari berbagai keadaan sakit gawat. Hipoperfusi/hipoksia jaringan menjadi dasar patogenesis dari berbagai kasus asidosis laktat.
Pengukuran laktat serial dapat memprediksi kemungkinan timbulnya syok septik dan gagal organ multipel lebih baik dibandingkan pengukuran variabel-variabel transpor oksigen. Beratnya asidosis laktat dapat dilihat dari nilai pH darah, senjang anion, dan kadar laktat darah dengan metode kuantitatif. Pemantauan kadar laktat darah dapat membedakan pasien-pasien yang akan tetap hidup dan pasien yang akan meninggal. Kadar laktat darah juga merupakan indikator yang lebih sensitif untuk daya tahan hidup dibandingkan dengan nilai curah jantung, hantaran oksigen, tumor necrosis factor a (TNF a), dan interleukin-6 (TL-6)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah ini disalin pada hari Kamis tanggal 8 Rejeb, Je dengan sengkalan: 'Catur Murti Naga Bumi'. Padanan sengkalan tersebut adalah tahun 1884, namun tahun tersebut tidak mungkin dianggap sebagai tahun Jawa, walaupun dikatakan Je, karen; bertepatan dengan 1952 Masehi, tigapuluhan tahun setelah naskah dikoleksikan olel Pigeaud. Menurut kami yang dimaksud adalah tahun Masehi 1884, yang kebetular bertepatan dengan tahun Jawa 1804, ialah warsa Je. Cerita yang disalin dalam naskah ini belum selesai sebagaimana tertulis dalam h.341, getun seh ora tutuk. Ringkasan cerita ini telah dibuat oleh Mandrasastra, kini tersimpan bersama naskah induk di FSUI. Teks ini menceritakan keadaan negara Cina pada zaman lima raja, dengan menitikberatkan tokoh Cin Syok Po. Oleh karena itu kami beri judul Cariyosipun Cin Syok Po. Daftar pupuh: (1) asmarandana; (2) dhandhanggula; (3) sinom; (4) maskumambang; (5) megatruh; (6) pangkur; (7) durma; (8) kinanthi; (9) pucung; (10) asmarandana; (11) sinom; (12) maskumambang; (13) pangkur; (14) dhandhanggula; (15) kinanthi; (16) pucung; (17) pangkur; (18) gambuh; (19) dhandhanggula; (20) megatruh; (21) sinom; (22) pangkur; (23) mijil; (24) kinanthi; (25) durma; (26) asmarandana; (27) maskumambang; (28) pangkur; (29) dhandhanggula; (30) pucung; (31) sinom; (32) asmarandana; (33) pangkur; (34) megatruh; (35) maskumambang; (36) dhandhanggula; (37) durma; (38) asmarandana; (39) sinom; (40) kinanthi; (41) dhandhanggula; (42) asmarandana; (43) pangkur; (44) pucung; (45) sinom; (46) dhandhanggula; (47) asmarandana; (48) gambuh; (49) sinom; (50) kinanthi; (51) durma; (52) gambuh; (53) pangkur; (54) dhandhanggula; (55) durma; (56) pangkur; (57) asmarandana; (58) megatruh; (59) dhandhanggula; (60) pucung; (61) pangkur; (62) durma; (63) asmarandana; (64) sinom; (65) pangkur; (66) gambuh; (67) dhandhanggula; (68) pangkur; (69) asmarandana; (70) dhandhanggula; (71) pangkur; (72) dhandhanggula; (73) pucung; (74) durma; (75) sinom; (76) asmarandana; (77) dhandhanggula."
[place of publication not identified]: [Publisher not identified], [Date of publication not identified]
CT.6-NR 320
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Sari Dewi
"Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dapat meningkatkan laju mortalitas pada pasien sepsis. Sepsis masih manjadi penyebab kematian tersering di ruang perawatan intensif. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi kesesuaian penggunaan antibiotik dengan luaran pasien sepsis, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya di ruang perawatan Intensive Unit Care ICU . Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan metode cross-sectional yang dilakukan pada pasien sepsis di ICU Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Indonesia, selama bulan Februari sampai Mei 2017. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien. Pasien dewasa dengan sepsis dan syok septik yang menerima antibiotik parenteral dimasukkan ke dalam kriteria inklusi. Pasien berusia kurang dari 18 tahun atau dengan lama rawat di ICU kurang dari 24 jam tidak disertakan dalam penelitian ini. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS Versi 23.0. Subjek penelitian yang diperoleh yaitu sebanyak 60 pasien. Hasil penelitian menemukan sebanyak 115 antibiotik diresepkan untuk pasien ini. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai berdasarkan pola kuman lokal sebanyak 45,22 . Pasien yang menerima rejimen antibiotik yang tidak sesuai berdasarkan rekomendasi pedoman Survival Sepsis Campaign SSC tahun 2016 yaitu sebanyak 33,33 dan terdapat 51,67 menerima dosis yang tidak sesuai berdasarkan rekomendasi Drug Information Handbook. Analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara ketidaktepatan pemberian dosis antibiotik dengan laju mortalitas p=0,034; p

An inappropriate antibiotic usage can increase the mortality rate in sepsis patients. Sepsis still the most common cause of death in intensive unit care ICU . This study aims to evaluate the appropriateness of antibiotics use and the factors associated with outcome of sepsis patients in ICU. This study was an analityc descriptive study using cross sectional method for sepsis patients in the ICU of Dharmais Cancer Hospital, Jakarta, during February to May 2017. The data is collected from patient rsquo s medical record files. Inclusion criteria is an adult patients with sepsis and septic shock who received parenteral antibiotics. Patients less than 18 years of ages or with lenght of stay in ICU less than 24 hours were excluded. Then, it analyzed using the SPSS Version 23.0 software program. There are 60 patients act as study subjects. As result, 115 antimicrobial was prescribed for these patients. The inappropriate antibiotic usage reached 45,22 , based on local microbial pattern. Among 60 patients, 33.33 received inappropriate types of antibiotics regimens based on Survival Sepsis Campaign SSC guidelines and 51.67 received inappropriate doses based on Drug Information Handbook. Bivariat analysis showed that there was significant correlation between inappropriate doses of antibiotics and mortality p 0.034 p"
Depok: Universitas Indonesia, 2018
T49416
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>