Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
William Sukyono
"Cryosurgery adalah pengobatan yang efektif untuk memusnahkan sel kanker ataupun jaringan dengan proses pendinginan yang cepat dan teratur pada temperatur rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti studi kelayakan dalam penggunaan pendingin termoelektrik untuk mendinginkan cryoprobe sampai temperatur sekitar -50ºC untuk diapliaksikan pada proses bedah beku. Temperatur sisi dingin (Tc) dan ΔT diantara sisi dingin dan sisi panas (ΔT=Th-Tc) dipakai sebagai parameter dalam eksperimen ini. Untuk mendapatkan perbedaan temperatur yang besar di antara kedua sisi termoelektrik, maka digunakan alat penukar kalor berpendingin air yang memiliki heat pipe di dalamnya.
Penelitian ini menggunakan satu modul termoelektrik bertingkat enam dan satu modul termoelektrik bertingkat lima untuk menguji karakteristik dari modul termoelektrik. Untuk meneliti performa dari modul termolektrik maka digunakan 4 variasi tegangan (6V, 8V, 10V, 12V) dan menggunakan 6 variasi temperatur Circulating Thermostatic Bath (0,4ºC, 10ºC, 20ºC, 30ºC, 40ºC, 50ºC). Hasil dari penelitian ini adalah bahwa dengan tegangan 12 V, arus 2,5 A dan temperatur CTB 0,4ºC, sisi dingin dari termoelektrik enam tingkat dapat mencapai temperatur -96,06ºC dan ΔT sebesar 99,87ºC. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa modul termoelektrik dapat menjadi media pendingin yang baik untuk bedah beku serta dapat dikembangkan prototipe alat bedah beku yang cocok untuk pengobatan medis.

Cryosurgery is highly effective treatment for destroying cancer cell or tissue by consecutive rapid freeze at low temperature. The focus of this project was to investigate the feasibility of using Peltier thermoelectric cooler (TEC) to cool down a cryoprobe to a temperature of approximately -50ºC for cryosurgery. The cold side temperature (Tc) and temperature difference between TEC cold and hot sides (ΔT=Th-Tc) were used as the parameters of these experiments. To achieve a bigger temperature difference among the two sides of thermoelectric, so a heat pipe water block is used.
This research is applied to cryosurgery device using one thermoelectric 6 stages module and one 5 stages module to analyze the characteristics of it. To observe the performance of thermoelectric, TEC run with 4 variations voltages (6V, 8V, 10V, and 12V) and using 6 variations temperature of Circulating Thermostastic Bath (CTB) (0,4ºC, 10ºC, 20ºC, 30ºC, 40ºC, 50ºC). At voltage of 12 V, current of 2,5 A and temperature CTB of 0,4ºC, the cold side temperature can reach -96,06ºC and ΔT is 99,87ºC. The conclusion is TEC module can be great cooling source for cryosurgery and this could be accomplished a prototype cryosurgical instrument, suitable for clinical trials.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S50989
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
M. Arya M.N.
"Adanya kemudahan dalam memiliki sepeda motor mengakibatkan jumlah sepeda motor meningkat pesat. Hal ini kemudian menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan aksesoris untuk sepeda motor yang mana salah satunya adalah box sepeda motor. Box sepeda motor yang ada di pasaran dipergunakan untuk menyimpan barang, terpikirlah suatu ide untuk meningkatkan fungsi box sepeda motor yang dapat dipergunakan untuk menyimpan barang/bahan yang memerlukan kondisi dingin seperti makanan dan minuman dan untuk keperluan delivery darah (blood carrier), vaksin ataupun ASI.
Sejauh ini pengembangan coolbox sepeda motor hanya diarahkan untuk mencapai target temperatur yang serendah mungkin. Setelah target temperatur sudah terpenuhi, timbul pertanyaan baru yaitu tentang bagaimana cara membuat coolbox ini layak untuk diterima konsumen. Dalam penulisan skripsi ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan tersebut yaitu pembuatan coolbox dengan mempertimbangkan aspek desain untuk manufaktur dan perakitan atau yang lebih dikenal dengan istilah Design for Manufacturing and Assembly (DFMA) dengan fokus kepada penerapan Design for Manufacturing (DFM) untuk pembuatan part coolbox dengan injection molding.
Dari hasil penerapan DFM didapat total waktu pembuatan part dengan injection molding sekitar 3,63 menit, total biaya operasional untuk keseluruhan part sekitar Rp 54.704,29 dan total biaya pembuatan mold untuk injection molding Rp 1.589.824.157,05.

Acquring motorcycle in Indonesia is relatively very easy, that is why the number of motorcycle in Indonesia is increasing very high. Because of the increase of the number of motorcycle, there are the increase of number of motorcycle accessories and one of them is motorcycle box. Motorcycle box in the market was only used to store some stuff . Then comes an idea to add more value to the motorcycle box to be used as a coolbox that can store goods/stuff that need to be stored in cool condition like food and beverages or maybe as a blood carrier, vaccine carrier or ASI.
Until now, the development of motorcycle coolbox is only targeted to make a coolbox that can reach as low as temperature possible. After the target temperatur can be achived, then comes a question on how to make this coolbox acceptable for the market. That is why this writing will answer that questions on how to create a coolbox by considering the principle of Design for Manufacturing and Assembly (DFMA) mainly on the Design for Manufacturing (DFM) in making motorcycle coolbox parts using injection molding.
From the application of DFM it is obtained that the total manufacturing time for a coolbox with injection molding is 3,63 minutes, total operational cost for all parts is Rp 54.704,29 and total mold making cost for injection molding is Rp 1.589.824.157,05.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S1757
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Izzudin Al Ayyubi
"Kelaparan global terus meningkat sejak 2019, berdampak pada hampir 9,4% populasi dunia pada 2023, yang menunjukkan urgensi solusi ketahanan pangan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Urban farming, khususnya hidroponik, muncul sebagai solusi potensial, namun tantangan suhu air pada metode ini menjadi kendala utama, terutama di wilayah tropis dengan suhu rata-rata di atas rentang ideal hidroponik (18–25°C). Penelitian ini berfokus pada pengembangan desain heat sink untuk meningkatkan efektivitas pendinginan suhu air menggunakan modul termoelektrik. Penelitian dilakukan melalui pendekatan simulasi berbasis COMSOL Multiphysics dan validasi eksperimental menggunakan sistem pendingin termoelektrik berbasis TEC1-12706. Tiga desain heat sink (plate fin, offset strip, pin fin) dibandingkan dengan model heat sink konvensional untuk mengevaluasi resistansi termal, distribusi termal, dan karakteristik aliran udara. Hasil simulasi menunjukkan bahwa triangular plate fin heat sink memiliki resistansi termal paling rendah, yaitu 0,530 K/W, lebih baik 21.69% dibandingkan heat sink konvensional sebesar 0,6768 K/W. Distribusi termal triangular plate fin menunjukkan performa termal yang lebih baik dengan suhu udara keluar celah sirip mencapai 306 K dan kecepatan aliran udara keluar 1,38 m/s dibandingkan heat sink konvensional dengan nilai 322.5 K untuk suhu udara celah sirip dan 0.288 m/s untuk kecepatan udara keluar celah sirip. Hasil fabrikasi rectangular plate fin heat sink memberikan performa termal yang lebih baik pada suhu termal kontak sampai dengan 9.45 K lebih rendah dan suhu sisi dingin modul termoelektrik sampai dengan 2.82 K lebih rendah dibandingkan heat sink konvensional. Desain ini diharapkan dapat digunakan secara massal oleh berbagai golongan baik dalam aplikasi sistem hidroponik ataupun aplikasi lainnya yang membutuhkan penggunaan modul termoelektrik.

Global hunger has continued to rise since 2019, affecting nearly 9.4% of the world’s population in 2023, highlighting the urgent need for food security solutions, particularly in developing countries like Indonesia. Urban farming, especially hydroponics, has emerged as a potential solution; however, water temperature regulation remains a key challenge, especially in tropical regions where average temperatures exceed the ideal range for hydroponics (18–25°C). This study focuses on the development of a heat sink design to enhance water cooling effectiveness using thermoelectric modules. The research was conducted through COMSOL Multiphysics-based simulations and experimental validation using a TEC1-12706-based thermoelectric cooling system. Three heat sink designs, plate fin, offset strip, and pin fin, were compared to a conventional heat sink model to evaluate thermal resistance, thermal distribution, and airflow characteristics. Simulation results show that the triangular plate fin heat sink has the lowest thermal resistance at 0.530 K/W, performing 21.69% better than the conventional heat sink with 0.6768 K/W. The triangular plate fin design also demonstrated superior thermal performance, with outlet air temperature at the fin gaps reaching 306 K and outlet airflow velocity at 1.38 m/s, compared to 322.5 K and 0.288 m/s, respectively, for the conventional heat sink. The fabricated rectangular plate fin heat sink exhibited better thermal performance with contact surface temperatures up to 9.45 K lower and the cold side of the thermoelectric module up to 2.82 K lower than the conventional heat sink. This design is expected to be widely applicable across various user groups, both in hydroponic systems and other applications requiring thermoelectric modules."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library