Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 22 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Siti Aminah
"Perusahaan jasa transportasi udara (JTU) , sangat peka terhadap lingkungan politik, ekonomi internasional dan negara tempat persinggahan. Negara dimana gross domestik produknya tinggi merupakan pangsa pasar yang berarti, karena potensi pasar cukup tinggi. Tetapi keuntungan yang diperoleh bisa sangat marginal, karena persaingan, pelbagai biaya dan lingkungan usaha yang cepat berubah. Karena itu pemilihan sektor yang menguntungkan harus dilakukan dengan teliti.
Sejak tahun 1986, dengan manajemen baru dari P.T Garuda Indonesia maka perusahaan ini memperoleh kemajuan dalam pemasaran JTU ini. Jumlah penumpang yang memakai JTU ini naik terus, hanya pada tahun 1990 mengalami penurunan akibat perang teluk. Kenaikan pemasaran antara 1986-1990 kami pelajari untuk memperoleh pengalaman dalam mempelajari pemasaran JTU Garuda Indonesia dan JTU lainnya. Faktor muat penumpang naik, jumlah pesawat terbang yang tak beroperasi sedikit demi sedikit berkurang, yang pada akhirnya dirasakan kekurangan pesawat terbang.
Untuk memperoleh pangsa pasar yang baik, selain upaya melalui kerja sama komersil, maka promosi wisata seperti VISIT INDONESIA YEAR 1991, konperensi PATA di Bali, di Bandung dan pada tahun depan adalah VISIT ASEAN YEAR 1992, perlu peramalan, perencanaan dan antisipasi JTU dalam menjaring para wisatawan. Fasilitas pendukung dari pemasaran yaitu lkomputerisasi/reservasi otomatis, keandalannya perlu dinaikkan, untuk memberikan JTIJ yang bermutu. Kelincahan dari petugas dilapangan perlu ditingkatkan, supaya pemakai jasa mendapatkan seat yang dikehendaki, yaitu tempat dan waktu yang tepat."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Soetjahjo HS.
"Kondisi bisnis penerbangan nasional pada saat ini telah mengalami perubahan dibandingkan dengan kondisi sebelum adanya deregulasi angkutan udara. Perubahaan yang sangat mencolok adalah adanya intensitas persaingan yang semakin tajam diantara operator penerbangan dengan saling berkompetisi merebut pasar. Kebijaksanaan deregulasi angkutan udara yang dilakukan pemerintah sejak tahun 1990 telah diantisipasi dengan baik oleh operator penerbangan swasta dengan penggunaan pesawat jet dan beroperasi pada rute-rute gemuk dengan strategi bersaing yang agresif untuk memperoleh pangsa pasar yang tinggi guna pengembangan pasar dimasa mendatang. PT. Merpati Nusantara Airlines sebagai perusahaan penerbangan yang berbentuk Badan Usaha Milik Negara, sebenarnya memiliki peluang dan potensi yang lebih besar jika dibandingkan dengan operator penerbangan swasta dengan adanya deregulasi angkutan udara tersebut.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis dengan melakukan observasi yang mendalam pada PT. Merpati Nusantara Airlines ternyata diketahui bahwa kebijaksanaan deregulasi angkutan udara tersebut berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan. Sebagai indikator penurunan kinerja perusahaan adalah tingkat kesehatan perusahaan : rentabilitas, likuiditas dan solvabilitas menunjukkan pada posisi perusahaan yang tidak sehat. Demikian pula indikator pemakaian pesawat terbang perhari, keandalan operasi penerbangan dan produktivitas tenaga kerja menunjukkan pada posisi yang kurang baik. Pada periode tahun 1990 - 1994, Merpati dari tahun ketahun cenderung menderita kerugian yang semakin meningkat. Secara kumulatif jumlah kerugian telah melebihi 75% dari modal yang disetor dan kondisi perusahaan yang demikian sesuai ketentuan pasal 47 KURD perusahaan dapat dinyatakan bubar menurut hukum.
Dengan memperhatikan keinginan pelanggan, basis dari kompetisi dan kapabilitas dari perusahaan, maka kunci keberhasilan untuk menghadapi tantangan bisnis dengan menurunnya kinerja perusahaan adalah dengan memperbaiki 3 faktor dominan yang menjadi kendala penurunan kinerja yaitu : meningkatkan mutu produk agar tercapai on time performance, peningkatan mutu pelayanan menuju customer oriented dan profesionalime SDM disemua lini pekerjaan."
Depok: Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Alfian
"Kecamatan Krayan (Kabupaten Nunukan) adalah salah satu daerah tensolir di Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Sabah (Malaysia) dan Brunei. Potensi utama daerah ini adalah Beras Krayan yang memilild rasa khas dan kualitas yang sangat baik. Pangsa pasar beras ini di daerah / kecamatan sekitarnya - terutama Malaysia dan Brunei - memiliki prospek yang baik.
Daerah ini dikelilingi hutan lindung dan medan yang bergunung-gunung. Sampai saat ini akses ke Krayan hanya bisa dicapai dengan menggunakan pesawat terbang. Masalah utama Krayan adalah terbatasnya kapasftas angkut pesawat terbang. Selain itu ongkos angkut pesawat terbang selama ini dirasakan relatif mahal. Akibatnya angkutan barang untuk kebutuhan penduduk dan pemasaran potensi hasil bumi menjadi terhambat.
Mengatasi kondisi ini diusulkan kepada pemerintah daerah untuk memiliki pesawat terbang sendiri sebagai sarana transportasi yang lebih murah. Fungsi utamanya adalah :
- Memasarkan potensi hasil bumi, terutama betas ke daerah sekitarnya dan Brunei,
- Memasok barang kebutuhan sehari-hari dari daerah sekitarnya ke Krayan
Walaupun ongkos angkut barang yang direncanakan relatif murah, bisnis angkutan udara ini diatas kertas tetap menguntungkan bagi pihak pengelola. Multiplier effect yang ditimbulkan diharapkan menggairahkan perekonomian masyarakat / petani dan meningkatkan produksi / penjualan potensi basil bumi selain beras."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2002
T516
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Balitbang Perhubungan Kemenhub RI, 2018
387.7 IND m
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Martha Yohanna H.
"Dalam rangka menghadapi persaingan di dunia bisnis, perusahaan maskapai penerbangan menghadapi tuntutan yang semakin meningkat untuk mengoptimasikan kegiatan operasionalnya Berbagai usaha optimasi pada industri penerbangan dilakukan antara Iain melaiui penjadwalan armada dan awak pesawat yang menyangkut beberapa faktor yang saling mempengaruhi.
Salah satu cara yang dilakukan PT. MNA untuk dapat meningkatkan pelayanannya ke konsumen adalah dengan melakukan peningkatan atau penambahan Frekuensi penerbangan terhadap jadwal penerbangan yang sudah ada_Dengan adanya penambahan jam keberangkatan maupun tujuan penerbangan, maka PT. MNA dapat mcmberikan alternalif pilihan waktu bagi konsumen untuk melakukan perjalanan sesuai rute yang bersangkutan.
Usaha peningkalan lersebut diimbangi dengan oplimasi sejumlah armada pesawat yang lersedia. Pada penelitian ini, dilakukan pengumpulan data mengenai parameter yang berpengamh dalam persoalan peningkatan t`rcI
Berdasarkan hasil penyelesaian optimal programa integer, diperoleh beberapa peningkatan mte pencrbangan yang dapat memberikan nilai jam terbang maksimum Hasil peningkatan sejumlah rute penerbangan tersebut akan digunakan untuk membuat jadwal penerbangan bam yang memberikan tingkat utilitas jam Lerbang pesawat lebih besar dibanding dengan jadwal penerbangan yang sudah ada.

In order to facing emulation in business world, company of air transport tirm faces demand which progressively mount for the optimization of its operational activity. Various optimization efforts at air transport industry conducted by for example passing scheduling of air crew and armada which conceming some factor which is influencing each other.
One ofthe way of which is conducted by PT. MNA to be able to improve its service to consumer is by conducting improvement or addition ol' air transport frequency to air transport schedule which have there. With existence of addition ot' departure hour and also air transport target, hence PT. MNA can give time choice alternative to consumer to conduct journey according to pertinent route.
Effort the improvement made balance to with optimization a number of available plane armada. At this research, is conducted by data collecting concerning parameter having an effect on problem of make-up of air transport frequency for the armada of Boeing plane armada 737-200, like air transport route, specification of airport and hour lly. Then conducted by compilation of integer programming model maximizing number of hours fly plane armada by reckoning some operational aspect delinition like maximum hour per air transport route amount and plane which wish to be improved.
Pursuant to result of optimal solution of integer programming. obtained by some make-up of air transport route able to assign value maximum hour. Result of make-up of a number ofthe air transport route will be used to schedule lor new air transport which give utilization hour level plane to fly bigger plane compared to with air transport schedule which have there.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
S50062
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Suhono Sumobaskoro
"ABSTRACT
The new approach to the Indonesia Air Transportation Policy, introduced in 1974, raises a number of issues which are of vital importance to the development of the country's air transportation system and the tourist sector. These issues concern the effectiveness of the alternative measures which were introduced as strategy in the new air transportation policy to achieve rational economic resource utilization as well as the influence of these measures on other national policy objectives, such as culture, security, foreign relations, and related national goals.
Indonesia's potential and resources for domestic and international tourism development are among the world's greatest. Yet the lack of an effective air transportation policy and system, which are the lifeblood of international tourism, has apparently prevented the country from further capitalizing on these generous natural capital endowments.
The study is an attempt to analyze whether the new policy approach has been effective in attaining the desired multi-objectives, and to advance some policy decision-making approaches towards solving the complex air transportation policy problems within the overall national setting .
The ultimate goals of the new policy in air transportation are the formulation and implementation of a policy which will be both conducive to the development of the national air transport industry and tourism, and at the same time give due protection against possible future pitfalls in other related sectors of the economy .however because of social, cultural, political, and other considerations or constraints, a certain trade-off among the objectives is inevitable. The policy-maker, striving towards an efficient management of air transport, tourist, and other related national resources has tried to devise a "policy-mix approach" to attain those multiple goals, some conflicting, some complementary, and a few irreconcilable or in-compatible.
In order to be able to more objectively evaluate how far the new policy has been able to achieve those policy goals, in other words, how far the policy has been formulated effectively so as to provide the best compromise between the conflicting policy objectives and accommodate most of the supplementary interests which are reconcilable, the dual trade-off analysis has been presented and developed in this study . This is further complemented with other policy decision-making approaches, including games theory, adapted in a participatory air access policy- options display.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1978
D343
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Balitbang Perhubungan Kemenhub RI, 2017
387.7 IND b
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Parlindungan, Yosua
"[ ABSTRAK
Makalah ini membahas tentang peran media sosial dalam krisis dan penggunaan media sosial dalam proses manajemen krisis. Media sosial dapat berperan baik sebagai pemicu atau fasilitator sebuah krisis, sekaligus sebagai solusi alternatif dalam mengatasi krisis. Makalah ini juga membahas tentang macam-macam platform media sosial, karakteristik masing-masing platform, serta bagaimana menggunakan setiap platform dengan tepat dalam melakukan manajemen krisis. Studi kasus pada makalah ini memperlihatkan contoh penggunaan media sosial dalam krisis baik yang tepat maupun yang kurang tepat;
ABSTRACT This paper focuses on the role of social media in a crisis and the uses of social media in crisis management process. Social media can act both as a trigger as well as facilitator of crises, and also as an alternative solution in handling crisis. This paper also talks about the different platforms of social media, the characteristics of each platform, and also how to use each platform properly in crisis management actions. The case study in this paper shows how and how not to use social media.;This paper focuses on the role of social media in a crisis and the uses of social media in crisis management process. Social media can act both as a trigger as well as facilitator of crises, and also as an alternative solution in handling crisis. This paper also talks about the different platforms of social media, the characteristics of each platform, and also how to use each platform properly in crisis management actions. The case study in this paper shows how and how not to use social media., This paper focuses on the role of social media in a crisis and the uses of social media in crisis management process. Social media can act both as a trigger as well as facilitator of crises, and also as an alternative solution in handling crisis. This paper also talks about the different platforms of social media, the characteristics of each platform, and also how to use each platform properly in crisis management actions. The case study in this paper shows how and how not to use social media.]"
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Sinta Marito
"Sektor jasa telah menjadi industri yang berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir, salah satunya industri penerbangan. Perkembangan tersebut ditandai dengan banyak bermunculannya maskapai penerbangan bam. Tiap maskapai penerbangan saling bersaing untuk mendapatkan penumpang dan memperebutkan market share terbesar. Ditengah-tengah persaingan tersebut, peningkatan dan perbaikan kualitas sangat penting dilakukan untuk bisa mempertahankan konsumen lama dan menarik konsumen baru. Garuda Indonesia sebagai salah satu maskapai penerbangan nasional juga merasakan pentingnya hal tersebut.
Untuk mengukur kualitas pelayanan di PT Garuda Indonesia digunakan metode SERVQUAL yang diciptakan oleh Parasuraman, et al. Penelitian ini hanya difokuskan pada sam rute yaitu Jakarta-Surabaya, yang merupakan rute penerbangan domestik tersibuk di PT Garuda Indonesia Dalam penelitian ini juga dilakukan segmentasi, berdasarkan puas atau ndaknya penumpang terhadap kualitas pelayanan yang mereka rasakan, menggunakan analisis diskriminan.
Hasil dari penelitian ini rnenunjukkan bahwa kualitas pelayanan yang masih berada di bawah ekspektasi penumpang adalah dimensi reliability responsiveness, dan rangibles, dengan gap sebesar -0,09, -0,08, dan -0,02. Sedangkan kualitas pelayanan pada dimensi empathy dan assurance memiliki gap positif yaitu 0,00 dan 0,07. Hasil segmentasi penumpang menunjukkan bahwa variabel yang paling membedakan (the most discriminates) antara penumpang yang puas dan tidak puas adalah variabel atribut pelayanan dan bukan demografi penumpang.

The service sector has become the major growth industry dining the last few decades, with the airline industry as one of them. The growth of airline industry was shown with the emergence of many new airlines. Each airline was competing to get as many passengers as possible and the biggest market share. To win the competition, those companies must also consider improving and developing the service quality, so they can retain their passengers and gain new passengers. As one of the national airlines in Indonesia, Garuda Indonesia has also regarded the sen/ice quality as an important aspect.
This paper uses SERVQUAL, which was created by Parasuraman, et. al-, to measure service quality of Garuda Indonesia. This research focused on one route, Jakarta-Surabaya, which is the busiest domestic route in Gamda Indonesia. Segmentation in this research is based on passengers’ satisfaction, concerning service quality that they had received, using discriminant analysis.
The results of this research show that the service quality perceptions in reliability, responsiveness and tangibles dimensions are lower that the expected service quality. The gaps are -0.09, -0.08, and -0.02. On the other side, service quality perceptions in empathy and assurance dimensions have positive gaps, which are 0,00 and 0.07. The segmentation results show that the most discriminating variable between satisfied and unsatisfied passengers is the service quality attribute, not the passengers’ demography.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>