Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kadek Yogi Mahendra
"

Nama

:

Kadek Yogi Mahendra

NPM

:

1606927734

Judul

:

Efektivitas Klonidin Dosis 2 Mcg/Kg di Awal Induksi Dalam Menurunkan Angka Kejadian Emergence Delirium Pada Pasien Anak yang Menjalani Operasi Mata

Latar belakang. Emergence delirium (ED) adalah suatu kondisi yang umum terjadi, pada pasien anak-anak yang menjalani pembedahan, dimana anak menjadi sangat agitasi, memberontak, dan sulit untuk diredakan serta berpotensi membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain, dengan insidensi di RSCM sebesar 39,7%. Etiologi, faktor resiko, dan patofisiologi diperkirakan multifaktorial. Berbagai upaya dan strategi telah diusahakan untuk mencegah kejadian tidak menyenangkan ini.

 

Metode. Penelitian uji klinik acak tersamar ganda pada anak usia 1-8 tahun yang menjalani operasi mata dengan anestesia umum di OK Kirana FKUI-RSCM pada bulan Januari-Maret 2020. Sebanyak 108 subjek didapatkan dengan metode konsekutif yang dirandomisasi menjadi dua kelompok. Kelompok klonidin (n = 54) mendapat klonidin 2 mcg/kgbb bolus IV lambat saat induksi anestesia, sedangkan kontrol (n = 54) mendapat NaCl 0,9%. Kejadian ED, waktu pulih, derajat nyeri, hipotensi dan bradikardia selama dan pascaoperasi dicatat. ED dinilai dengan Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED).

 

Hasil. Kejadian ED pada kelompok klonidin sebesar 29,6% sedangkan kontrol 31,5% (IK 95% 0,481-2,475; p=0,835). Waktu pulih kelompok klonidin memiliki nilai rerata 6 menit dibandingkan kelompok kontrol selama 5 menit (p=0,998). Nyeri sedang dirasakan pada 3,7% kelompok klonidin berbanding 0% pada kelompok kontrol. Hipotensi dialami pada 1 pasien di kelompok klonidin dan 1 pasien di kelompok kontrol, sedangkan bradikardia ditemukan pada 2 pasien di kelompok klonidin dan 3 pasien di kelompok kontrol

 

Simpulan. Pemberian klonidin 2 mcg/kgbb bolus IV lambat di awal induksi tidak lebih efektif dibanding plasebo dalam mencegah kejadian ED pada pasien anak yang menjalani operasi mata

Kata Kunci : emergence delirium, klonidin, kontrol, pasien anak, operasi mata, pembiusan umum

 


Name

:

Kadek Yogi Mahendra

NPM

:

1606927734

Title

:

Effectiveness Clonidine 2 Mcg/Kg during Anesthesia Induction to Reduce Emergence Delirium Rate in Pediatric Patient Underwent Eye Surgery

Background. Emergence delirium (ED) is a common condition in pediatric patient after surgery, when they become agitated, difficult to calm and could be harmful for themself or people around with incidence 39,7% in RSCM. Etiology, risk factor, and patyhophysiology are multifactorial. Some effort and strategy have been attempted to reduce this unpleasant incident

 

Method. This was a double-blind randomized clinical trial on children aged 1-8 years old underwent eye surgery under general anesthesia in OR Kirana FKUI-RSCM on January until March 2020. One hundred eight subjects were included using consecutive sampling method and randomized into two groups. Clonidine group (n=54) was given clonidine 2 mcg/kgbw slow intravenous injection during anesthesia induction while control group (n=54) was given NaCl 0,9%. Incidence of ED, recovery time, pain scale, during and postoperative hypotension and bradycardia were observed. Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED) scale was used to assess ED.

 

Result. Incidence of ED in clonidine group was 29,6% while in control group was 31,5% (IK 95% 0,481-2,475; p=0,835). Recovery time in clonidine group was 6 minutes and control group was 5 minutes (p=0,998). There was 3,7% in subject group was in moderate pain and 0% in control group. Hypotension was suffered by each 1 subject in both group and bradycardia suffered in 2 patient in clonidine group compared to 3 patients in control group

 

Conclusion. Administration of clonidine 2 mg/kg as a slow intravenous injection right after induction was not effective to prevent the incidence of ED in children underwent eye surgery"

Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dini Irawan
"Latar belakang. Ukuran sungkup laring yang tidak sesuai menyebabkan ventilasi yang tidak efektif dan komplikasi seperti peradangan sampai kerusakan pada saraf sehingga diperlukan metode untuk menentukan ukuran yang sesuai.
Metode. Penelitian merupakan uji klinis acak tersamar tunggal dengan concealment dan 130 subjek dibagi menjadi 2 kelompok (berat badan dan lebar lidah). Lebar lidah dinilai dengan subjek menjulurkan lidah namun tidak ditegangkan lalu lebar lidah disesuaikan dengan penggaris papan segi empat yang dibuat sesuai dengan ukuran sungkup laring dengan inflasi minimal no. 2,5 sampai 5. Keefektifan pemasangan sungkup laring dinilai bila semua kriteria terpenuhi yaitu: 1) tekanan kebocoran orofaringeal/seal pressure ≥20 cmH2O, 2) tekanan maksimal inspirasi (Ppeakinsp) ≤20 cmH2O, 3) tidak terlihat sebagian kaf dalam rongga oral dan 4) perbedaan tidal volume inspirasi dan ekspirasi <5%  tercapai.
Hasil. Secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara dua kelompok untuk masing-masing komponen penilaian keefektifan pemasangan sungkup laring kecuali untuk variabel OLP (p <0,05). Terdapat lebih banyak komplikasi berupa noda darah dan nyeri tenggorok pada kelompok BB dibanding kelompok LL dengan tingkat keberhasilan dan waktu lebih cepat pada pemasangan sungkup laring di kelompok BB dibandingkan kelompok LL.
Simpulan. Penentuan ukuran sungkup laring pada ras Melayu menggunakan metode lebar lidah tidak lebih efektif dengan metode berat badan namun kejadian komplikasi lebih rendah.

Background. Unsuitable laryngeal mask size selection causes ineffective ventilation and complications such as inflammation until neuropraxia, thus method to determine optimal size selection is needed.
Methods. This was a randomized single blinded clinical study with concealment and 130 subjects were divided into 2 groups (body weight and tongue width). Subjects were asked to open their mouth and protrude the tongue in the relaxed manner and corresponded to rulers that were made from the width of laryngeal mask minimally inflated from size 2,5 to 5. The effectiveness of laryngeal mask insertion if all of the four criteria were met ie.1) oropharyngeal leak pressure/seal pressure ≥20 cmH2O, 2) peak inspiratory pressure (Ppeakinsp) ≤20 cmH2O, 3) no presence of cuff in the mouth and 4) difference between inspiratory (VTi) and expiratory tidal volume (VTe) <5%.
Results. All parameters were not statistically significant except the OLP (P <0,05). Meanwhile, subjects in BB group manifest more complications in the laryngeal mask than the LL group with faster speed and higher chance of <2x successful insertion than the LL group.
Conclusion. Laryngeal mask insertion among Malay race using size selected based on tongue width was not more effective than based on body weight."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T58577
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isna Ayu Rizaty
"Pendahuluan. COVID-19 merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang menular dan saat ini sudah mulai masuk ke Indonesia. Metode surveilans dilakukan dengan membagi pasien menjadi kelompok pasien dalam pengawasan (PDP) dan bukan PDP. Karakteristik tindakan operasi sebagai faktor eskternal, digabungkan dengan faktor internal pasien mungkin dapat berbeda pada masing-masing kelompok, terutama pada pasien pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan karakteristik antara pasien pascaoperasi dengan status PDP dengan bukan PDP.
Metode. Sebanyak 120 pasien yang menjalani operasi elektif dan emergensi di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dipilih dengan metode consecutive sampling. Data-data tentang faktor eksternal dan faktor internal pasien didapatkan dengan cara melihat catatan pada rekam medis. Data disajikan secara deskriptif dan analitik menggunakan uji perbedaan proporsi chi-square.
Hasil. Terdapat perbedaan yang bermakna secara signifikan antara jenis kelamin, status fisik ASA 3, foto toraks praoperasi, dan prosedur operasi level 5 antara kelompok PDP pascaoperasi dengan bukan PDP pascaoperasi (p = 0,014; p = 0,018; p = 0,001; p = 0,019).
Simpulan. Perbedaan bermakna yang ditemukan antara pasien PDP dengan bukan PDP pascaoperasi yaitu pada jenis kelamin pasien, status fisik ASA 3, level prosedur operasi level 5, dan foto toraks praoperasi. Perlu dilakukan penelitian lanjutan yang menganalisis hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal terhadap penetapan status PDP pascaoperasi.

Introduction. COVID-19 is a contagious respiratory tract infection and currently emerging in Indonesia. The surveillance method is carried out by dividing patients into under surveillance and not under surveillance for COVID-19. The characteristics of surgery as an external factors, combined with the patient's internal factors, may differ between groups, especially in the postoperative patients. This study aims to describe the differences in characteristics between postoperative patients with under surveillance and not under surveillance for COVID-19 status.
Methods. A total of 120 patients underwent elective and emergency surgery at Cipto Mangunkusumo general hospital were selected by consecutive sampling. Data regarding the patient's external and internal factors were collected using secondary data from the medical records available. Data were presented in a descriptive and analytical manner using the chi-square test.
Results. There were a statistically significant differences between gender, ASA 3 physical status, preoperative lung X-ray, and level 5 surgical procedures between the two groups (p = 0.014; p = 0.018; p = 0.001; p = 0.019).
Conclusions. Statistically significant differences were found between postoperative under surveillance and not under surveillance for COVID-19 patients, namely the patient's gender, ASA 3 physical status, surgical procedure level 5, and preoperative lung X-rays. Further research is needed to analyze the relationship between internal and external factors on the determination of postoperative PDP status.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahendra
"Teknik anestesia yang adekuat menghasilkan analgesia pascabedah yang cukup dan menurunkan respon stres pasien. Hal ini dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan gangguan imunologis, seperti infeksi, penyembuhan luka berkepanjangan, dan sepsis. Studi ini bertujuan untuk membandingkan derajat nyeri pascabedah, kadar interleukin-6 (IL-6) dan C-reactive protein (CRP) sebagai marker respon stress, dan durasi pemakaian kateter urin antara epidural kontinu dan blok Quadratus Lumborum (QL) sebagai teknik analgesia pascabedah pada donor ginjal. Enam puluh dua pasien dibagi secara acak menjadi dua kelompok sama rata: epidural kontinu dan blok QL. Grup blok QL mendapatkan bupivakain 0,25% sebanyak 20 ml dan grup epidural mendapatkan bupivakain 0,25% 6 ml/jam kontinu melalui kateter. Menjelang ekstubasi, grup blok QL mendapatkan blok QL bilateral dengan dosis yang sama sedangkan grup epidural mendapatkan bupivakain 0,125% 6 ml/jam kontinu melalui kateter. Sampel darah diambil untuk membandingkan kadar IL-6 dan CRP setelah intubasi (preoperatif), segera setelah operasi, 24 jam serta 48 jam setelah operasi. Nyeri pascabedah diukur menggunakan numerical rating scale (NRS) di ruang pulih dan 24 jam pascabedah. Kebutuhan morfin dan durasi pemakaian kateter juga dicatat pascabedah. Efek samping yang muncul selama 24 jam dicatat. Data dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan atau uji Mann-Whitney. Tidak ada perbedaan yang ditemukan antarkelompok pada derajat nyeri pasca bedah, kadar plasma IL-6 setelah operasi atau 24 jam setelah operasi (p= 0,785 dan p=0,361, secara berurutan) meskipun rerata kadar IL-6 24 jam setelah operasi lebih rendah pada grup blok QL dibandingkan kelompok epidural kontinu. Durasi pemakaian kateter urin pada blok QL lebih singkat daripada epidural. Kadar CRP tidak berbeda signifikan antara kedua kelompok baik setelah operasi maupun 48 jam setelah operasi (p=0,805 dan p=0,636, secara berurutan). Durasi pemakaian kateter urin pada blok QL lebih singkat daripada epidural. Kedua teknik epidural kontinu dan blok QL menunjukkan analgesia pascabedah yang sebanding pada pasien donor ginjal yang menjalani laparoskopi nefrektomi.

An adequate anesthesia technique generates appropriate postoperative analgesic properties and decreases the patient’s stress response. This will lead to decreased morbidity and mortality associated with immunology disturbances, such as infection, prolonged wound healing, and sepsis. The aim of this study was to compare postoperative pain level, interleukin-6 (IL-6) and C-reactive protein (CRP) concentrations, as the markers of the stress response, and duration of catheter usage between continuous epidural and quadratus lumborum (QL) block as postoperative analgesia techniques among living kidney donors. Sixty-two patients were randomly divided into two equal groups: continuous epidural and QL block. A group received bilateral QL block with 20 mL of bupivacaine 0.25% and the other received 6 mL/hour of bupivacaine 0.25% continuously via an epidural catheter. Prior to extubation, the QL block group received bilateral QL block with the same dose and the continuous epidural group was administered with 6 mL/hour of bupivacaine 0.125%. Blood samples were drawn to compare IL-6 and CRP concentrations after intubation (preoperatively), directly after surgery, 24 hours postoperatively, and 48 hours postoperatively. Postoperative pain was measured with the numerical rating scale (NRS). Morphine requirement and duration of catheter usage were also measured porsoperatively. Side effects within 24 hours postoperatively were noted. Data were analyzed with independent t-test or Mann-Whitney test. No difference was observed between the groups in the postoperative pain level, plasma concentration of IL-6 either after surgery or 24 hours postoperatively (p= 0.785 and p=0.361, respectively) although the mean IL-6 concentration 24 hours postoperatively was lower in the QL block group than in the continuous epidural group. CRP concentration was not significantly different between the groups either after surgery or 48 hours postoperatively (p=0.805 and p=0.636, respectively). The duration of catheter usage is significantly shorter in QL Block. Both continuous epidural and QL block techniques showed comparable postoperative analgesic properties among living kidney donors undergoing laparoscopic nephrectomy."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Deriyan Sukma Widjaja
"Latar Belakang: Penyakit akibat coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) yang muncul sejak Desember 2019 sudah menjadi pandemi global, termasuk di Indonesia. Hingga saat ini, beberapa negara sudah mempublikasikan laporan terkait penyakit ini. Namun di Indonesia, informasi karakteristik dan luaran pasien dengan COVID-19, terutama pasien yang menjalani perawatan di ruang intensif dengan dan tanpa ventilator berdasarkan sebaran usia masih terbatas.
Metode: Studi dilakukan pada pasien dewasa yang dirawat di ruang intensif (HCU dan ICU) RSCM dan RSUI selama Maret – Desember 2020. Data yang dikumpulkan melalui rekam medis meliputi karakteristik dasar pasien, pemeriksaan penunjang laboratorium dan radiologi, terapi, komplikasi, dan luaran.
Hasil: Terdapat 682 pasien yang menjalani perawatan di ruang intensif RSCM dan RSUI. Pada semua kelompok usia, sebagian besar pasien adalah pria. Pada kelompok usia muda (18–29, 30–39, 40–49 tahun), mayoritas bergejala awal sesak dan menggunakan suplementasi oksigen dengan nasal kanul (37%, 33%, dan 29,6%). Pada kelompok usia 50–64 tahun suplementasi oksigen terbanyak dengan ventilator invasif (33,5%). Rasio PF terendah sebesar 120 terdapat pada kelompok usia ≥65 tahun, dengan penggunaan ventilator pada 49,7% pasien. Prevalensi komorbid tertinggi terdapat pada kelompok usia ≥65 tahun (95,6%) di antaranya hipertensi, penyakit jantung koroner, diabetes melitus, dan CKD. Koinfeksi bakteri paling banyak terjadi pada kelompok usia 50–64 tahun. Kelompok usia ≥65 tahun memiliki median neutrofil dan D-dimer paling tinggi (4.210 μg/L) serta limfosit paling rendah. Angka komplikasi tertinggi terjadi pada 75,6% pasien kelompok usia ≥65 tahun, dengan komplikasi tersering adalah ARDS (50,9%), syok sepsis (50,3%), dan AKI (38,4%). Angka kematian tertinggi terdapat pada kelompok usia 50–64 dan ≥65 tahun yaitu sebesar 46,9% dan 46,5%. Angka kematian pada kelompok pasien yang menggunakan ventilator lebih tinggi pada semua kelompok usia, dengan persentase mortalitas tertinggi terdapat pada kelompok usia 50–64 tahun yang menggunakan ventilator (74,63%).
Kesimpulan: Seiring dengan bertambahnya usia, terdapat peningkatan jumlah pasien dengan komorbiditas (hipertensi, penyakit jantung koroner, diabetes melitus, dan CKD); penurunan parameter fungsi oksigenasi paru; penurunan limfosit; peningkatan jumlah neutrofil, D-dimer, ureum dan kreatinin; dan peningkatan angka kematian. Pada pasien yang dirawat di ruang intensif, mortalitas tertinggi terjadi pada kelompok usia 50–64 tahun dan terutama pada penggunaan ventilator.

Background: The disease due to the novel coronavirus (SARS-CoV-2) emerging in December 2019 has since become a global pandemic, including in Indonesia. To date, several countries have reported about this disease. However, in Indonesia, limited information was available about the characteristics and outcomes of COVID-19 patients according to age, notably those in intensive care units with and without ventilation.
Methods: The study was conducted on adult patients in the intensive care units (HCU and ICU) of RSCM and RSUI between March – December 2020. Data was collected from medical records, including basic patient characteristics, laboratory and radiology results, treatments, complications, and
outcomes.
Results: A total of 682 patients were treated in the intensive care units of RSCM and RSUI. In all age groups, most patients were male. In younger age groups (18–29, 30–39, 40–49 years), the majority of patients presented initially with shortness of breath and were supplemented with oxygen through nasal cannula (37.0%, 33.0%, and 29.6%). In the age group of 50–64 years, oxygen was supplemented mostly using invasive ventilators (33.5%). The lowest PF ratio of 120 was observed in the age group of 65 years and above, with ventilators being used in 49.7% of the patients. The highest prevalence of comorbidities was found in the age group of 65 years and above (95.6%), among which were hypertension, coronary artery diseases, diabetes mellitus, and CKD. Bacterial co-infection was found primarily in the age group of 50–64 years. The age group of 65 years and above had the highest median neutrophil and D-dimer levels (4.210 μg/L) and the lowest lymphocyte count. The highest complication rate at 75.6% was observed in the age group of 65 years and above, with the most common complications being ARDS (50.9%), septic shock (50.3%), and AKI (38.4%). The highest mortality rates were found in the age groups of 50–64 and 65 years and above, at 46.9% and 46.5% respectively. Mortality was higher in ventilated patients across all age groups, with the highest rate found in the age group of 50–64 years (74.63%).
Conclusion: With increasing age, the following were observed: increased comorbidities (hypertension, coronary artery diseases, diabetes mellitus, CKD); a decline in functional parameters for lung oxygenation; decreased lymphocyte count; increased neutrophil count, D-dimer, urea and creatinine levels; and increased mortality rate. In intensive care unit patients, the highest mortality rate was observed in ventilated patients aged 50–64 years.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yulinda Abdullah
"Latar belakang : Kelemahan anestesia epidural adalah mula kerja yang lebih lama. Berbagai upaya dicoba dilakukan untuk mempercepat mula kerja anestesia epidural. Salah satunya adalah penambahan fentanil ke dalam obat anestesia lokal. Penelitian ini melihat pengaruh penambahan fentanil 100µg pada anestesia epidural ropivakain 0,75% terhadap mula kerja blok sensorik dan blok motorik.
Metode : Penelitian ini dilakukan pada 28 subyek penelitian yang Akan menjalani anestesia epidural dengan ASA I-II dengan uji klinis tersamar ganda . Subyek penelitian dibagi dua kelompok. Kelompok A(fentanil) yaitu penambahan fentanil 100µg 2m1 dan kelompok B (kontrol) penambahan NaCl 0,9% 2 ml ke dalam ropivakain 0,75% 13 ml. Dilihat dan dicatat mula kerja blok sensorik dermatom setinggi T10, T8, T6, T5 dan T4 dengan tes Pinprick. Dan dilihat dan dicatat mula kerja blok motorik dengan skala Bromage 1 & 2. Perubahan hemodinamik dan efek samping infra operatif juga dilihat dan dicatat.
Hasil : Mula kerja blok sensorik setinggi dermatom T10, T8, T6, T5 lebih cepat pada kelompok A (fentanil) dibanding kelompok B (kontrol) dengan p<0,001. Pencapaian blok sensorik setinggi dermatom T5 pada kelompok B (kontrol) hanya 85,7%. Pencapaian blok sensorik setinggi dermatom T4 hanya 14,3% pada kelompok A (fentanil) dan 21,4% pada kelompok B (kontrol), denganp>0,05. Mula kerja blok motorik dengan skala bromage 1&2 lebih cepat pada kelompok A (fentanil) dibanding kelompok B (kontrol), dengan p<0,001. Tidak ada perbedaan yang bermakna pada tekanan darah , laju nadi, laju nafas dan efek samping yang terjadi pada kedua kelompok selama penelitian.
Kesimpulan : Penambahan fentanil 100 µg pada anestesia epidural ropivakain 0,75% mempercepat mula kerja blok sensorik dan blok motorik.

Background : We wanted to know the effect offentanyl 100 pg added to ropivacain 0, 75% to the onset of motor and sensory block in epidural anesthesia.
Method : The study was done to 28 patients, ASR I II in a randomized double blind study. We randomly allocated them into two groups, the first group received fentanyl 100 pg and the second group received NaCl 0,9% added to ropivacaine 0,75% 13 ml. We observed the onset of sensory block to reach TI0, T8, T6, T5, and T4 by using pinprick test. The onset of motor block was observed using the bromage scale. We also took note of the hemodynamic changes and adverse effects that happened intro operative.
Result : The fentanyl group reach sensory block as high as T10, T8, and T6 faster than the control group. Only 85,7% patients in the control group can reach sensory block as high as T5. In both groups less than 25% patients can reach sensory block as high as T4. Motoric block was faster in the fentanyl group than the control group. We didn't notice any difference in homodynamic profile nor adverse effects found in the two groups.
Conclusion : The addition offentanyl 100 pg to ropivacaine 0,75% will speed up the onset of sensory and motor block in epidural anesthesia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18004
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annemarie Chrysantia Melati
"Latar Belakang: Hipotermia intraoperatif pada pasien geriatri yang menjalani pembedahan merupakan hal yang cukup sering ditemukan. Hipotermia memiliki dampak negatif terhadap pasien yang menjalani pembedahan, antara lain meningkatnya lama pemulihan pascaanestesia, risiko infeksi luka operasi, dan komplikasi kardiovaskular. Pada penelitian ini menganalisa hubungan kejadian hipotermia intraoperatif pada pasien geriatri yang menjalani pembedahan dalam anestesia umum dengan lama rawat di rumah sakit, kekerapan kejadian infeksi luka operasi, dan komplikasi kardiovaskular pascabedah.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif terhadap 110 subjek penelitian selama November 2018-Januari 2019. Subjek penelitian adalah pasien geriatri yang berusia di atas 60 tahun yang menjalani pembedahan dalam anestesia umum dengan/tanpa anestesia regional. Kriteria penolakan adalah pasien dengan gangguan termoregulasi, gangguan tiroid, mengalami hipotermia pada saat kunjungan preoperatif dan demam dalam 1 minggu sebelum operasi, dan dalam terapi antipiretik rutin.
Hasil: Pada penelitian ini didapatkan proporsi kejadian hipotermia intraoperatif pada pasien geriatri adalah sebanyak 67,3%. Hipotermia intraoperatif tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan lama rawat di rumah sakit (nilai p = 0,221). Hipotermia intraoperatif juga tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kekerapan kejadian infeksi luka operasi (nilai p = 0,175) dan komplikasi kardiovaskular (nilai p = 0,175).
Simpulan: Hipotermia intraoperatif tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan lama rawat di rumah sakit, kekerapan kejadian infeksi luka operasi dan komplikasi kardiovaskular.

Background: Intraoperative hypothermia among geriatric patients undergoing surgery is commonly found. Hypothermia is associated with negative impact postoperatively, such as increased surgical site infections, prolonged hospital stay, and increased cardiovascular complications. This study aimed to analyse the association between intraoperative hypothermia with length of stay, surgical site infection, and cardiovascular complication among geriatric patients undergoing surgery with general anesthesia.
Methods: This was a prospective cohort study for 110 research subjects from November 2018-January 2019. Research subjects were geriatric patients older than 60 years old undergoing surgery with general anesthesia with/without regional anesthesia. Exclusion criteria were patients with thermoregulation problem, thyroid problem, suffered from hypothermia or fever preoperatively, and with routine antipyretic medication.
Results: In this study, the incidence of intraoperative hypothermia among geriatric patients undergoing surgery with general anesthesia was 67,3%. Intraoperative hypothermia did not have significant association with length of stay (p-value = 0.221). Intraoperative hypothermia also did not have significant association with surgical site infection (p-value = 0.175) and cardiovascular complication (p-value = 0.175).
Conclusion: Intraoperative hypothermia did not have significant association with length of stay, surgical site infection, and cardiovascular complication.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa
"Latar belakang: Nyeri pascabedah ortopedi ekstremitas bawah masih menjadi masalah yang berkaitan dengan risiko pascabedah dan lama perawatan di rumah sakit. PCA intravena morfin dan oxycodone masih belum dikaji lebih jauh sebagai analgesia pascabedah ortopedi ekstremitas bawah.
Metode: Penelitian ini merupakan uji klinik acak tersamar ganda untuk menilai efektivitas PCA intravena morfin dengan oxycodone untuk analgesia pascabedah ortopedi ekstremitas bawah. Subjek penelitian berjumlah 50 orang yang didapatkan dengan consecutive sampling selama Januari-April 2019. Pasien dibagi menjadi 2 kelompok, dirandomisasi menjadi kelompok morfin dan kelompok oxycodone. Efektivitas dinilai dengan banyaknya konsumsi opioid dalam 24 jam pascabedah dan efek samping antara 2 kelompok. Penilaian derajat nyeri diam dan bergerak pada jam ke-0, 6, 12, dan 24 dengan menggunakan Visual Analogue Score (VAS) dan kepuasan pasien pada penggunaan PCA juga dinilai untuk komponen penilaian tambahan. Hasil dianalisis dengan SPSS.
Hasil: Seluruh subjek penelitian menyelesaikan penelitian dan tidak didapatkan perbedaan karakteristik yang signifikan antara 2 kelompok. Banyaknya konsumsi opioid dalam 24 jam pertama pascabedah antara 2 kelompok (p 0,574) dan kejadian efek samping antara 2 kelompok tidak berbeda. Derajat nyeri istirahat dan bergerak juga tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna (p 0,109 ; 0,163). Kepuasan pasien pada penggunaan PCA juga tidak berbeda bermakna, namun secara umum pasien puas dengan penggunaan PCA, dan kepuasan pasien pada PCA oxycodone (76%) lebih banyak dibanding PCA morfin (52%)
Simpulan: PCA intravena oxycodone tidak lebih efektif dibandingkan PCA intravena morfin untuk analgesia pascabedah ortopedi ekstremitas bawah pada penelitian ini. Pasien yang setuju dengan penggunaan PCA sebanyak 30 subjek, tidak ada perbedaan signifikan antara 2 kelompok.

Background: Postoperative pain after lower extremity orthopedic surgery may increase morbidity after surgery and prolong the length of hospitalization. The study investigating effectiveness intravenous PCA morphine and oxycodone has not been extensively studied for managing pain after lower extremity orthopedic surgery.
Methods: This study is a double-blind randomized study clinical trial to evaluate effectiveness intravenous PCA morphine and oxycodone for post-operative analgesia after lower extremity orthopedic surgery. Total of 50 subjects were enrolled with consecutive sampling within January-April 2019. Subjects were randomly allocated into 2 groups, received intravenous PCA morphine or intravenous PCA oxycodone. Post-operative opioid consumption in 24 hours and side effects were considered the primary efficacy variable. Pain scores were measured using Visual Analogue Score (VAS) at time 0, 6, 12, and 24 after surgery. Patient satisfaction in both groups was also evaluated. Data was analyzed statistically using SPSS.
Results: All the subjects done this study. There were no differences in the characteristics of both groups. Opioid consumption between two groups no significantly different (p 0,574) and incidence of side effects between two groups were similar. Pain scores during rest and move also no significant differences (p 0,109 ; 0,163). Patient satisfaction no significant difference, but almost patient satisfied with using PCA, while group oxycodone (76%) higher than group morphine (52%).
Conclusion: Intravenous PCA oxycodone had no more effective than intravenous PCA morphine for post-operative analgesia after lower extremity orthopedic surgery in this study. Patient satisfaction was higher in group oxycodone than in group morphine.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Peni Yulia Nastiti
"Latar Belakang. Mortalitas akibat sepsis di ICU masih cukup tinggi meskipun telah semakin cepatnya diagnosis dan perbaikan perawatan suportif dan angkanya semakin meningkat dengan insiden acute kidney injury yang merupakan bagian dari disfungsi organ akibat sepsis. Asam askorbat dikatakan dapat memperbaiki disfungsi organ disebabkan efeknya yang sinergis terhadap patofisiologi sepsis. Peranan asam askorbat dalam menurunkan disfungsi organ masih kontroversial. Penelitian ini ingin menganalisis efek pemberian asam askorbat intravena terhadap perbaikan fungsi ginjal pada pasien sepsis/ syok sepsis yaitu dengan melihat efek terhadap kadar urin neutrophil gelatinase associated lipocalin (uNGAL), produksi urin dan balans kumulatif.
Metodologi. Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis dengan desain penelitian uji acak terkontrol, dilakukan pada pasien usia > 18 tahun dengan sepsis berdasarkan kriteria sepsis-3 yang masuk ICU dalam 6 sampai 24 jam pascaresusitasi setelah diagnosis sepsis. Kriteria penolakan yaitu pasien dengan gangguan ginjal kronik dengan hemodialisis, kelainan batu ginjal, dengan masalah ginjal dalam 3 bulan terakhir. Pasien akan dikeluarkan apabila diberikan kortikosteroid dan mendapatkan terapi pengganti ginjal dalam < 72 jam observasi. Penelitian dilakukan di ICU Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo pada April 2019-Juli 2019. Sebanyak 33 sampel dirandomisasi secara randomisasi sederhana dan dikelompokan menjadi kelompok perlakuan (18 sampel) dan kontrol (15 sampel). Data demografik dasar dicatat saat masuk ICU. NGAL urin (ng/mL) diperiksa pada jam 0, 24, 48 dan 72 setelah terapi. Produksi urin (ml/kg/jam) dan balan kumulatif (L) dicatat pada jam 24, 48 dan 72 setelah terapi. Analisis statistik dengan uji Mann Whitney untuk data numerik dengan persebaran tidak normal, uji T independen untuk data dengan persebaran normal dan uji Fisher untuk data kategorik perbandingan antara kedua kelompok intervensi. Analisis multivariat untuk pengukuran serial menggunakan generalized estimating equations (GEE) untuk membandingkan antara kedua kelompok dalam waktu pengukuran yang berulang. Nilai signifikansi dengan nilai p < 0,05.
Hasil. Tidak terdapat perbedaan pada kadar NGAL urin, produksi urin, balans kumulatif antara dua kelompok di setiap jamnya.
Kesimpulan. Pada penelitian ini pemberian asam askorbat intravena tidak mempunyai efek terhadap kadar NGAL urin, produksi urin, balans kumulatif.

Background. Sepsis-related mortality in intensive care unit (ICU) remains despite improved diagnostic technology and supportive treatment. Acute kidney injury, one of frequent organ dysfunctions in sepsis, increases risk of mortality. Ascorbic acid could improve organ dysfunction because its direct effect on sepsis pathophysiology. The role of ascorbic acid on improving organ dysfunction remains controversial. This study wished to analyze the effects of intravenous ascorbic acid on kidney function improvement among septic patients by evaluating urine neutrophil gelatinase associated lipocalin (uNGAL), urine output and cumulative fluid balance.
Method. This study was randomized controlled trial held in Cipto Mangunkusumo Hospital from April to July 2019. The inclusion criteria were adult patients aged > 18 years who met sepsis-3 criteria and were admitted to the ICU within 6-24 h after resuscitation and sepsis recognition. The exclusion criteria were patients with hemodialysis-dependent chronic kidney disease, kidney stones or other kidney problems within last 3 months. The drop out criteria were patients underwent renal replacement therapy in the ICU and given corticosteroid less than 72 h after recruitment. Subjects were randomized using simple randomization and divided into two groups with treatment (18 subjects) and control (15 subjects). Baseline demographic data was recorded on the first day. Daily measurements of urine NGAL (ng/ mL) was started as baseline level and continued at 24, 48 and 72 h after treatment. Urine output (ml/kg/h), cumulative fluid balance (L) was recorded at at 24, 48 and 72 h after treatment. Comparison between both groups was analysed by using Mann Whitney test (not normally distributed data), T independent test (normally distributed data) for numerical data and Fisher test for categorical data. Multivariate analysis using generalized estimating equations was used for serial measurement analysis. Level of significant was determined at p-value <0.05.
Result. There were no significant differences in uNGAL, urine output, cumulative fluid balance between the two groups at each hour respectively.
Conclusion. This study showed that intravenous vitamin CMultin administration had no effect on urine NGAL, urine output, cumulative fluid balance.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library