Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 53 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Henry Latief Himawan
"Penggunaan pelapis plastik dalam kemasan makanan sekali pakai memberikan dampak negatif bagi lingkungan seperti sumber tidak terbarukan dan limbah plastik di lingkungan. Hal ini membuat para ilmuwan berusaha mencari material alternatif plastik sebagai pelapis kemasan makanan yang terbarukan dan mudah terurai di alam. Salah satu material alternatif dengan potensi tinggi adalah selulosa nanofibril yang bersumber dari biomassa tanaman sehingga memiliki sifat terbarukan, namun memiliki sifat hidrofilik sehingga sifat penghalang air dan uap air tidak optimal. Untik meningkatkan sifat penghalang tersebut, dilakukan modifikasi permukaan gugus hidroksil pada permukaan selulosa nanofibril menggunakan metode grafting dengan asam laktat menjadi CNF-graft-PLA. Reaksi grafting tersebut dilakukan menggunakan oven pada suhu 100°C dan katalis SnCl2. Dilakukan optimasi waktu reaksi dan didapat waktu optimal didapat pada sampel 12 dan 24 jam dengan nilai Degree of Grafting (DoG) sebesar 0,13 dan 0,78. Waktu optimal tersebut lalu dilakukan variasi konsentrasi CNF:LA dengan rasio 1:1, 0,5:1, dan 0,25:1 dan polimer pelapis diaplikasikan ke kertas menggunakan metode bar coating. Polimer pelapis optimal dihasilkan pada sampel 24j 0,25:1 berupa peningkatan sebesar 20,2% pada sudut kontak air, dan 90,7% pada sudut kontak minyak. Selain peningkatan sifat penghalang, terdapat penurunan sebesar 25,3% pada daya serap air, 133,8% pada laju transmisi uap air, namun terjadi penurunan kekuatan gaya sobek sebesar 40,5%.

The use of single-use plastics in food packagings has a negative impact to the environment, such as non-renewable resources and plastic waste that is non-biodegradeable in nature. This causes scientists to look for an alternative materials that can be use to replace conventional plastics with added benefits of being renewable and biodegradeable. One of such materials with high potential in cellulose nanofibers from plant biomass which is renewable, but cellulose is hydrophilic in nature so the barrier properties against water and water vapor is not optimum. To increase its barrier properties, a surface modification need to be done with grafting method using lactic acid in-situ to make CNF-graft-PLA. The reaction can be done in mild 100°C oven and SnCl2 catalyst. The time-optimized CNF-graft-PLA was then futher optimized by varying CNF:LA concentration with a ratio of 1:1, 0.5:1, and 0.25:1 and the coating polymer was applied to the paper using the bar coating method. The optimum coating polymer was found to be 24h 0.25:1 and have increased properties of 20.2% in the water contact angle, 90.7% in the oil contact angle. There is also a decrease of 25.3% in water absorption capacity, 10.9% in oil absorption capacity, and 133.8% in water vapor transmission rate. However, there was a decrease in tear strength of 40.5% compared to untreated paper."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Intan Cahaya Dani
"Logam berat seperti nikel dan kadmium yang berasal dari limbah-limbah hasil kegiatan manusia (industi, domestik) dapat mengakibatkan pencemaran dan mengendap pada sedimen dasar laut. Perubahan pH perairan, dapat menyebabkan terjadinya proses pelepasan (leaching) logam di sedimen ke badan perairan kemudian terbioakumulasi pada biota di lingkungan tersebut. Untuk melihat adanya pengaruh perubahan pH pada proses pelepasan (leaching) logam tersebut, dilakukan ekstraksi pada sedimen dengan berbagai variasi pH (TCLP method). Dari hasil studi pelepasan tersebut terdeteksi adanya logam kadmium (Cd) dan nikel (Ni), untuk melihat sifat bahaya dari logam kadmium dan nikel, dilakukan uji simulasi bioakumulasi logam pada biota perairan dengan menggunakan bioindikator Cyprinus carpio (OECD Guideline 305).
Berdasarkan hasil data analisa didapatkan kadar nikel dalam sedimen pada ekstrak pH 3, 5 dan 7 mencapai 2,55 - 27,94 μg/g sedangkan untuk kadmium mencapai 4,31- 4,68 μg/g. Pengamatan bioakumulasi logam nikel dan kadmium pada ikan dilakukan selama 28 hari dengan melihat kadar kadmium dan nikel pada daging dan insang ikan. Pada daging ikan, konsentrasi kadmium tertinggi yaitu sebesar 3,179 μg/g sedangkan pada insang adalah 5,392 μg/g. Konsentrasi nikel tertinggi pada daging ikan adalah sebesar 4,557 μg/g sedangkan untuk insang adalah sebesar 10,417 μg/g. Hasil studi menunjukkan adanya akumulasi logam kadmium dan nikel pada biota.

Heavy metals such as nickel and cadmium from the waste of human activities (industry, domestic,) can lead the pollution and sediments deposited on the seabed. Water pH changing, can lead to the release (leaching) metals in the sediment into the water body and then it will be bioaccumulated on biota arround the environment. To see the effect of pH changing on the release (leaching) of these metals, extracting the sediment at pH variations has done (TCLP method). From the results of detection metals cadmium (Cd) and nickel (Ni) release studies, to see the hazards of cadmium and nickel metal, carried out a simulation of bioaccumulation test on biota using bioindikator Cyprinus carpio (OECD Guideline 305).
Based on the analysis of data obtained in the nickel content in the sediment extract pH 3, 5 and 7 reached 2.55 to 27.94 μg/g, while for cadmium reaches 4.31 to 4.68 μg/g. Observation of metallic nickel and cadmium bioaccumulation in fish hass done for 28 days by looking at levels of cadmium and nickel on the gills of fish and meat. In the flesh of fish, the highest cadmium concentration of 3.179 μg/g while in the gills is 5.392 μg/g. The highest nickel concentrations in fish flesh is equal to 4.557 μg/g while for gill is equal to 10.417 μg/g. The study results indicate the presence of cadmium and nickel metal accumulation on biota.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S42602
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Prilia Muthoharoh
"Hidrogel superabsorben dapat menyerap dan menahan sejumlah besar larutan. Polimer superabsorben berdasarkan hidrogel kitosan disintesis dengan mengikatsilang kitosan dengan agen pengikat silang yang berbeda, yaitu Formaldehid, Asetaldehid, dan Glutaraldehid. Kemampuan swelling hidrogel kitosan terikat silang dilakukan dengan merendam gel dalam media cair dan pengaruh agen pengikat silang terhadap daya absorbsi air telah diamati. Hidrogel kitosan terikat silang dengan asetaldehid memperlihatkan rasio swelling paling tinggi hingga 350%. Pengaruh luar yang mempengaruhi seperti pH dan suhu media swelling diamati. Hidrogel memperlihatkan perilaku yang khas terhadap pH dan suhu media seperti pada media pH rendah (pH 4) dan suhu tinggi (55oC) swelling maksimal sedangkan pada pH tinggi (pH 10) dan suhu rendah (35oC) memperlihatkan swelling minimal. Film hidrogel kitosan terikat silang dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR).

Superabsorbent hydrogels are able to absorb and retain large amounts of aqueous fluids. Superabsorbent polymer based crosslinked chitosan hydrogels were synthesized by crosslinking chitosan with different crosslinking agents, i.e. formaldehyde, acetaldehyde and glutaraldehyde. The Swelling behavior of the crosslinked chitosan hydrogels was measured by immerse the gels and the effect of crosslinking agent on water absorbency has been investigated. The crosslinked chitosan hydrogel by acetaldehyde exhibited a higher swelling ratio up to 350%. The influence of external stimuli such as pH and temperature of the swelling media has been observed. Hydrogels showed a typical pH and temperature responsive behaviour such as low pH (pH 4) and high temperature (55oC) has maximum swelling while high pH (pH 10) and low temperature (35oC) show minimum swelling. The film of crosslinked chitosan hydrogels were characterized by Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S42009
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Lucky Arifandi
"Kopolimerisasi merupakan salah satu cara untuk mendapatkan polimer dengan sifat swelling lebih baik. Sintesis hidrogel kopoli(N-vinilpirrolidon/N-vinilkaprolaktam) menggunakan variasi jenis dan konsentrasi agen pengikat silang serta waktu reaksi. Hidrogel hasil polimerisasi dikarakterisasi dengan FTIR, DSC, SEM serta diuji melalui analisa gravimetri. Didapatkan hasil sintesis hidrogel dengan agen pengikat silang MBA mempunyai derajat ikat silang yang lebih baik dibandingkan dengan EGDMA dalam waktu 24 jam reaksi. Derajat silang hidrogel dengan MBA 5% yang didapat sebesar 84.81% memiliki persen swelling yang rendah. Persen swelling maksimal sebesar 87.04% didapatkan pada hidrogel dengan agen pengikat silang EGDMA 3% dan waktu reaksi 8 jam. Derajat ikat silang berbanding terbalik dengan hasil kemampuan mengembang atau menyerap air (swelling). Hidrogel yang tersintesis dengan waktu reaksi semakin lama, konsentrasi agen pengikat silang semakin tinggi, maka derajat ikat silang hidrogel semakin tinggi mengakibatkan semakin menurunnya kemampuan hidrogel menyerap air. Hasil karakterisasi hidrogel dengan DSC menunjukkan hanya terdapat satu nilai Tg 180 oC dan terjadi pergeseran nilai Tg dari nilai Tg secara teoritis 151 oC karena pengaruh agen pengikat silang. Hidrogel kopoli(N-vinilpirrolidon/N-vinilkaprolaktam) terikat silang telah berhasil disintesis.

Copolymerization is one of the ways to get better swelling properties of the polymer. Synthesis of hidrogel copoly(N-N-vinilpirrolidon/vinilkaprolaktam) using a variety of types of binding agent and concentration of Crosslinker and time of reaction. Hidrogel characterized by FTIR, DSC, SEM as well as tested through analysis of gravimetric analysis. Synthesis of the results obtained with the crosslinking agents hidrogel MBA has degree of crosslinking is better compared to EGDMA within 24 hours of the reaction. Degree of Crosslinking hidrogel with MBA 5% earned 84.81% has a low percent swelling. Percent of maximum swelling 87.04% obtained on crosslinking agents with hidrogel EGDMA 3% and the time of reaction of 8 hours. Degree of Crosslinking is inversely proportional to the results the ability expands or absorb water (swelling). Hydrogel was synthesized with longer time of reaction and high concentration of crosslinker, it makes degree of crosslinking have increase and the swelling ability of hydrogel was decrease. Characterization of hidrogel with DSC indicates there is only one value of Tg is 180 oC and Tg values shift from Tg value theoretically 151 oC due to the influence of the crosslinking agents. Hydrogel crosslinked copoly(N-N vinilpirrolidon/vinilkaprolaktam) has been successfully synthesized."
Depok: Universitas Indonesia, 2014
S53576
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Widya Rachmasari
"Antioksidan t-BHQ dapat meningkatkan kerusakan oksidatif DNA yang ditandai dengan jumlah 8-OHdG yang meningkat. Logam TiO2 yang digunakan untuk pemutih pada cat tembok dan di tambahkan diproduk rumah tangga juga mampu meningkatkan jumlah 8-OHdG di dalam tubuh. 8-OHdG terbentuk dari hasil reaksi antara Reactive Oxidative Species (ROS) dalam bentuk hidroksil radikal. Pada penelitian ini dilakukan studi pembentukan adduct dengan mereaksikan 2?-deoksiguanosin dan guanosin dengan senyawa t-BHQ dan TiO2 dalam variasi pH, temperatur dan waktu inkubasi.
Hasil 8-OHdG yang terbentuk dianalisa menggunakan instrumen HPLC detector UV pada panjang gelombang 254 nm dengan fasa gerak buffer fosfat dan metanol (95:5) dan laju alir 0,85 mL/menit. Dari hasil penelitian diketahui adduct dG yang terbentuk paling banyak pada kondisi temperatur 60oC, waktu inkubasi 6 jam dan pH 8,5 diperoleh %adduct 39,62%. Sedangkan, adduct guanosin diukur secara kualitatif dari luas peak yang dihasilkan didapatkan adduct paling besar pada kondisi yang sama.

Antioxidant t - BHQ which may increase oxidative damage to DNA is characterized by the increasing number of 8 - OHdG. Metal TiO2, used to bleach the paint on the wall and add in households product, is also able to increase the number of 8 - OHdG in the body. 8 - OHdG is formed from the reaction between Reactive Oxidative Species (ROS) in the hydroxyl radicals’ form. In this research the formation’s study of adducts by reacting 2' - deoksiguanosin and guanosine with t - BHQ compounds and TiO2 in the variation of pH, temperature and incubation time.
Results of 8-OHdG formed were analyzed using HPLC instrument with UV detector at a wavelength of 254 nm, using a mobile phase of phosphate buffer and methanol (95:5) and a flow rate of 0.85 mL / min. The survey results revealed that dG adducts formed at most 60 ° C in temperature, incubation time of 6 hours and a pH of 8.5 %adducts obtained 39.62 %. Meanwhile, guanosine adducts measured qualitatively from the broad peak produced most major adducts obtained under the same conditions.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S54487
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adina Zharifah
"Dalam dunia farmakologi, peningkatan kelarutan obat hidrofob seperti gliklazid sebagai antidibetes diperlukan untuk membantu proses penyerapan obat ke dalam tubuh. Peningkatan kelarutan gliklazid biasanya menggunakan surfaktan sintesis sehingga diperlukan biosurfaktan yang bersumber dari bahan alam agar lebih aman saat dikonsumsi. Pada penelitian ini, dilakukan studi saponin dari daun kumis kucing sebagai biosurfaktan untuk meningkatkan kelarutan dan bioavabilitas gliklazid. Studi solubilisasi dan uji disolusi gliklazid dengan surfaktan saponin daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Blume) Miq) yang berperan sebagai drug carrier berhasil dilakukan. Metode yang digunakan antara lain ekstraksi, solubilisasi misel dan disolusi secara in vitro. Fraksi air ekstrak daun kumis kucing digunakan dengan variasi konsentrasi dalam uji tegangan permukaan untuk mengetahui nilai CMC.
Spektrofotometer UV-Vis digunakan untuk melihat kandungan fraksi air yang didapatkan serta menganalisis setiap perubahan absorbansi yang terjadi terhadap jumlah gliklazid yang mampu dilarukan pada konsentrasi tertentu. Bentuk misel diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10/0,25 menunjukkan bahwa konsentrasi saponin daun kumis kucing sebagai surfaktan pada 2 kali CMC atau 1000 ppm merupakan kondisi terbaik untuk diaplikasikan dalam studi ini. Fouried Transform Infra Red (FTIR) digunakan untuk melihat gugus fungsi EDKK yang menunjukan adanya senyawa saponin serta perubahan ketika sudah dicampurkan dengan obat setelah proses solubilisasi selesai.
Uji disolusi digunakan untuk mengidentifikasi media pelepasan gliklazid oleh misel. Hasil uji disolusi menunjukkan misel stabil tidak pecah pada pH1,2 dan kondisi optimum gliklazid released pada pH 7,4 menandakan misel pecah secara bersamaan lepasnya obat.

In pharmacology, increasing solubility of hydrophobic drugs such as gliclazide as antidibetics is a challenging task to help the drug absorbed in the body. Surfactant synthesis becomes a choice for enhanced the solubilization of gliclazide so far, but it gives some drawbacks. In this research, we used surfactant saponin from cat whiskers leaves as biosurfactant to increase the solubility and bioavailability of gliclazide. Solubilization studies of gliclazide and the dissolution test with saponin surfactant cat whiskers (Orthosiphon aristatus (Blume) Miq) leaves, which acts as a drug carrier. Cat whiskers leaf extracts are used in water fraction with varying concentrations for surface tension test to determine the CMC.
UV-Vis spectrophotometer is used to view any changes in absorbance that occurs on the number of gliclazide which soluble at certain concentrations. Micelle shape was observed using a microscope with a magnification of 10 / 0.25 indicates that the concentration of saponin leaves cat whiskers as a surfactant at 2 times the CMC or 1000 ppm is the best condition to be applied in this study. Fouried Transform Infra Red (FTIR) was used to look the cat whiskers water fractions functional groups which showed the presence of saponins and changes when it is mixed with the drug after solubilization process is completed.
The dissolution test used to identify media for gliclazide able to be released by the micelle. In the result, in pH 1.2 micelle was stable and when dissolution study was found at pH 7.4 show the release effect and micelles alteration occurred was investigated.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S67918
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Savira Nurul Rahmadini
"ABSTRACT
Senyawa metalloporphyrin telah berhasil diidentifikasi keberadaannya dalam fraksi asphaltenes crude oil Duri menggunakan metode ekstraksi Soxhlet dan kromatografi kolom. Kandungan maltenes dan asphaltenes dalam crude oil Duri masing-masing sebesar 73,9235 % dan 1,3783 %. Analisis UV-Vis untuk hasil kromatografi kolom asphaltenes fraksi 14 menunjukkan spektrum molekul porfirin yang terikat pada logam pada panjang gelombang 668 nm. Analisis spektrum FTIR pada hasil kromatografi kolom asphaltenes fraksi 14 menunjukkan adanya cincin pirol pada bilangan gelombang 467, 699 dan 736 cm-1 yang merupakan gugus pembentuk porfirin. Analisis kualitatif EDX menunjukkan adanya kandungan logam Ni, V dan Fe pada sampel hasil ekstraksi asphaltenes, serta analisis kuantitatif dengan ICP-OES pada sampel kolom kromatografi fraksi 14 menunjukkan kandungan logam Ni sebesar 1,56 ppm, logam vanadium 0,048 ppm, dan logam Fe 0,13 ppm. Analisis LC-MS menujukkan kandungan senyawa nikel porfirin dengan rumus struktur C32H37N4Ni pada waktu retensi pada 11,601 menit dan berat molekul senyawa sebesar 536.

ABSTRACT
The Metalloporphyrin compound has been identified in the asphaltenes fraction Duri Crude Oil using the Soxhlet extraction method and column chromatography. The content of maltenes and asphaltenes in Duri crude oil were 73.9235% and 1.3783%, respectively. The UV-Vis analysis for the asphaltenes column chromatography of fraction 14 shows the spectrum of porphyrin molecules bound to metals at a wavelength of 668 nm. The results of FTIR spectrum analysis on the asphaltenes column chromatography of fraction 14 showed the presence of a pyrol ring at wave numbers 467, 699 and 736 cm-1 which are porphyrin forming groups. The qualitative analysis of EDX showed Ni, V and Fe metal contents in asphaltenes extraction with diklorometana, and quantitative analysis by ICP-OES asphaltenes column chromatography of fraction 14 showed Ni metal content of 1.56 ppm, vanadium metal of 0.048 ppm, and Fe metal of 0.13 ppm. The results of LC-MS analysis showed the presence of porphyrin nickel compounds with the structural formula C32H37N4Ni at a retention time of 11.601 minutes and a compound molecular weight of 536. "
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rachel Hardiari Krisjantiarum
"Using enzymatic sensor to determine the level of captopril is an alternative method that is being widely developed. In research , made in captopril sensor using Screen Printed Electrode (SPE), because of its advantage of being practical and simple. Cu electrodeposition on SPE is being done by potential -0,480 V vs Ag½AgCl with variation of time deposition of 5, 30 and 60 second. This research finds that the optimum deposition time is 60 second by taking into loading amount of 6,92 x 10-6 gr.cm-2. Cu/SPE is then applied to the Flow Injection Analysis (FIA) system. The optimum result of sensor appears in the FIA system with at the flow rate of 0,5 mL/minute and KOH Concentration of 1 M. Cu/SPE Sensor in FIA system has LOD of 6,530 x 10-6 M and sensitivity of 308,80 μA.mM-1.cm-2. Cu/SPE sensor has good repeatability with value linearity of 0,9113 and %RSD of 1,75%. Selectivity test on the captopril to the glucose and lactose may produce better sensor. The application of Cu/SPE sensor has value %recovery of 96,29%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ariq Abdillah
"ABSTRACT
Saat ini, dunia menghadapi dua permasalahan besar, pemanasan global akibat gas rumah kaca, karbondioksida (CO2) dan krisis energi. Konversi CO2 menjadi senyawa metanol (CH3OH) yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif serta bahan prekursor tentunya sangat bermanfaat bagi lingkungan dan perindustrian. Konversi CO2 menjadi CH3OH dapat dilakukan melalui fotokatalisis. Salah satu material yang biasa digunakan sebagai fotokatalis adalah TiO2. Akan tetapi, energi celah yang berada di panjang gelombang ultraviolet dan rendahnya selektivitas menjadi penghalang potensi tersebut. Oleh karena itu, dirancanglah Quantum Dotensitized Solar Cell (QDSSC) berbasis nanopartikel CdS dan zona katalisis Cu2O/TiO2 nanotube untuk mengatasi masalah tersebut. Plat TiO2 dipreparasi dengan metode anodisasi. Sensitasi CdS ke permukaan film TiO2 nanotube dilakukan dengan metode Succesive Ionic Layer Adsorpstion and Reaction (SILAR). Lama penyinaran dilakukan selama 2, 4, 6 dan 8 jam untuk mengetahui kondisi optimum sel. Kinerja sel dievaluasi dengan variasi satu dan dua kompartemen serta zona katalitik berkeadaan gelap dan terang untuk mengetahui apakah elektron dari zona sel surya dan zona katalitik bekerja secara sinergis atau antagonis. Efisiensi sel surya diukur menggunakan potensiostat. CH3OH yang disintesis dianalisis secara kualitatif maupun kuantitatif dengan Gas Chromatography (GC). Berdasarkan penelitian, didapatkan efisiensi kinerja sel surya untuk mengubah energi cahaya menjadi energi listrik adalah 0,59%. Diketahui pula bahwa sel surya serta zona katalitik Cu2O/TiO2 nanotube anatase bekerja secara antagonis. 

ABSTRACT
Today, the world faces two major problems, carbon dioxide (CO2) that causes the greenhouse effect and contributes greatly to global warming and the energy crisis. The conversion of CO2 into methanol (CH3OH) compound which can be used as an alternative energy source and precursor material is certainly very beneficial for the environment and industry. The conversion of CO2 to CH3OH can be done through photocatalysis. One of the materials commonly used as photocatalysts is TiO2. However, its band energy that only active in ultraviolet wavelength and low selectivity are some obstacles to this potential. Therefore, a Quantum Dot-Sensitized Solar Cell (QDSSC) based on CdS nanoparticles and Cu2O/TiO2 nanotube catalysis was designed to overcome this problem. TiO2 films were prepared by anodizing method. CdS nanoparticle the surface of TiO2 nanotube film by the Successful Ionic Layer Adsorption and Reaction (SILAR) method. The duration of irradiation is carried out for 2, 4, 6 and 8 hours to determine the optimum s are sensitized tocondition of the cell. The cell performance was evaluated by variations of one and two compartments and the  dark and light catalytic zone to determine whether electrons from the zone of the solar cell and catalytic zone worked synergistically or antagonistically. Fabricated-cellis also compared to the work with QDDSC-TiO2 nanotubes to determine the effect of Cu2O electrodeposition on the catalytic zone. The efficiency of solar cells is measured using a potentiostat. CH3OH is analyzed qualitatively and quantitatively by Gas Chromatography (GC). Based on the research, the efficiency of solar cells convertion from light to electricity energy is 0.59%. It was also known that solar cells and the catalytic zone Cu2O/TiO2 nanotube anatase work antagonistically."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abdul Malik Muharom
"ABSTRAK Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menemukan bahan bakar alternatif atau bahan bakar pengganti minyak bumi. Proses konversi metanol menjadi senyawa hidrokarbon cair fraksi bensin dikenal sebagai proses Methanol to Gasoline (MTG) menggunakan katalis H-ZSM-5. Metanol merupakan sumber bahan yang dapat diperbaharui dan relatif mudah dimodifikasi dengan bantuan katalis asam untuk menghasilkan fraksi bensin. Mekanisme reaksi pada proses MTG melibatkan beberapa senyawa intermediet yaitu dimetil eter (DME) dan sikloheksana, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mempelajari reaksi katalisis tesebut. Penelitian ini mempelajari reaksi katalisis antara sikloheksana dengan metanol menggunakan katalis ?- Al2O3-TiO2 dan zeolit H-ZSM-5 dengan beberapa variasi perbandingan berat katalis. Katalis ?-Al2O3-TiO2 disintesis dari gel boehmite yang dihasilkan dari penambahan larutan Al2(SO4)3 dengan larutan NH4OH yang ditambahkan TiO2 dan dilakukan proses aging pada suhu 40oC dan dilanjutkan pada suhu 80oC masing-masing selama 96 jam. Zeolit ZSM-5 disintesis dari larutan hidrogel dengan komposisi mol 29 Na2O : 32 TPABr : Al2O3 : 100 SiO2 : 3275 H2O : 17 H2SO4 : 21 KF. Sintesis dilakukan secara hidrotermal pada suhu 150oC selama 120 jam dan dilanjutkan dengan pengubahan Na-ZSM-5 menjadi H-ZSM-5. Katalis dianalisa dengan difraksi sinar-X, spektrofotometri FT-IR, dan analisa luas permukaan dengan metode BET. Reaksi antara sikloheksana dan metanol dilakukan pada komposisi campuran azeotrop dengan variasi suhu reaksi katalisis pada 175o, 200o, 225o, dan 250oC. Hasil analisis GC-MS menunjukkan produk yang dihasilkan berupa campuran senyawa parafin, sikloparafin, dan aromatik. Produk optimum berupa senyawa aromatik diperoleh dalam penggunaan 1 gram katalis ?-Al2O3-TiO2 dan 3 gram katalis zeolit H-ZSM-5 pada suhu 2250C dengan persentase komposisi terbesar adalah p-xilena (42,77%). Kata kunci : ?-Al2O3-TiO2, zeolit H-ZSM-5, azeotrop, katalis, katalisis."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2006
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>