Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 76 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hana Fathia Herianti Suhermanto
"ABSTRACT
Studies have shown that weight affects the pressure placed on the tendons and muscles of the foot and legs affecting the stride lengths stance and swing cycle. With the rising body weight gain and implied health complications, the author wants to know whether body mass index (BMI) affect human activity especially walking. Cross-sectional method using primary data collection is conducted. The source of data in this study measures healthy pre-clinical students in Faculty of Medicine, University Indonesia. Once informed consent is signed, subjects weight and height will be measured, calculating BMI. Data is analysed using SPSS version 23 to analyze the correlation between step length and BMI. From a total of 53 subjects (26 male, 27 female) age group 18-22, subjects with normal BMI accounts for the highest percentage of the group in this study (60.4%). Overweight and obese patients contribute 30.2% and 3.8% respectively, and underweight 5.7%. Using the pearson correlation formula, there was no significant correlation between BMI and step length of male (0.778; p>0.05) and female (0.098; p>0.05). Based on pearson correlation formula, male calculations resulted with 0.778; p>0.05, and female with 0.098; p>0.05; therefore, there is no significant difference between the two variables.

ABSTRACT
Penelitian telah menunjukkan bahwa berat badan mempengaruhi tekanan ditempatkan pada tendon dan otot-otot kaki dan kaki mempengaruhi siklus sikap dan ayunan panjang langkah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuhi apakah apakah indeks massa tubuh (IMT) mempengaruhi aktivitas manusia terutama berjalan. Metode potong-melintang menggunakan pengumpulan data primer dilakukan. Sumber data dalam penelitian ini mengukur siswa pre-klinik yang sehat di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Setelah informed consent ditandatangani, berat badan dan tinggi badan subyek akan diukur untuk menghitung IMT. Data di mengolah dengan menggunakan SPSS versi 23 untuk menganalisis hubungan antara panjang langkah dan BMI. Dari total 53 subyek (26 laki-laki , 27 perempuan) di kelompok usia 18-22, subyek dengan IMT yang normal berkontribusi presentase tertinggi dari kelompok dalam penelitian ini (60,4%). Pasien kelebihan berat badan dan obesitas berkontribusi 30,2% dan 3,8%, dan berat badan di bawal normal 5,7%. Dari hasil rumus korelasi pearson, tidak ada korelasi yang signifikan antara BMI dan panjang langkah dari laki-laki (0,778; p>0,05) dan perempuan (0.098;p > 0,05). Berdasarkan rumus korelasi pearson, perhitungan laki-laki menghasilkan dengan 0,778 ; p > 0,05 , dan perempuan dengan 0.098 ; p > 0,05; Oleh karena itu, tidak ada perbedaan signifikan antara kedua variabel."
2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Areska Ramadhan
"ABSTRAK
Studi literatur menemukan bahwa parameter gait telah stabil di umur 20 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetauhi apakah ada hubungan antara panjang kaki dan panjang langkah pada orang dewasa muda. Desain potong-melintang digunakan untuk penelitian ini, dengan menggunakan data primer dari subyek di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia di usia 18-22. Subyek akan diminta untuk menandatangani informed consent, dan diukur berat badan, tinggi badan, panjang langkah, dan panjang tungkai. Semua data akan dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 23. Hasil analisis menemukan laki-laki memiliki ukuran panjang tungkai lebih panjang dari perempuan 89.42 4.42 cm, 85.14 3.40 cm; p 0,05 . Peneliti menemukan hubungan yang signifikan antara panjang langkah dan panjang kaki dalam kelompok laki-laki p 0,05, r = 0,142 . Peneliatan ini menemukan korelasi antara panjang langkah dan panjang tungkai pada laki-laki, namun tidak pada perempuan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil adalah kecepatan berjalan bebas di tanah dan obesitas.

ABSTRACT
Literature study found that the gait parameters are already stabilized in the age of 20. This study aims to see whether there is correlation between leg length and step length in young adult. Cross sectional study design is used in this study using primary data from subjects in Faculty of Medicine, Universitas Indonesia in the age of 18 22. Subjects will be asked to sign the informed consent, then researcher will measure the weight, height, step length, and leg length. Data will be analyzed using SPSS version 23. Data obtained shows male have a higher leg length measurement than female 89.42 4.42 cm, 85.14 3.40 cm p 0.05 and male step length is not differ than female 62.31 6.90 cm, 61.79 6.43 cm p 0.05 . Researcher found a significant relationship between step length and leg length in male p 0.05, r 0.414 . In contrary, female shows no correlation between the two variables p 0.05, r 0.142 . Correlation between step length and leg length was found in male, however not in female. Factors that may contributed to the results could be due to free walking speed ground and overweight. "
2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mitha Permatasari
"Penyakit Graves merupakan penyakit autoimun yang melibatkan antibodi TSH-R dalam menstimulasi kelenjar tiroid sehingga terjadi sintesis dan sekresi hormon tiroid yang berlebih. Sebanyak 50% pasien penyakit Graves mengalami kekambuhan setelah terapi obat antitiroid selesai diberikan. Faktor genetik salah satunya polimorfisme gen FCLR3 rs7528684 diketahui berperan terhadap kejadian penyakit Graves. Namun, belum ada studi yang mengidentifikasi keterkaitan polimorfisme gen FCRL3 rs7528684 dengan kekambuhan penyakit Graves. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan polimorfisme gen FCRL3 rs7528684 terhadap kekambuhan penyakit Graves. Desain penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional yang dilakukan pada 80 pasien penyakit Graves. Hasil isolasi DNA pasien dilakukan pemeriksaan genotyping dengan menggunakan metode tetra primer ARMS-PCR. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 2 variasi genotip pada pasien penyakit Graves yaitu genotip GG (2,5%) dan genotip GA (97,5%). Pada kelompok kambuh, 100% memiliki genotip GA sehingga frekuensi alotip G dan alotip A masing-masing 50%. Sementara itu, pada kelompok tidak kambuh, didapatkan 6,1% genotip GG dan 93,9% gentoip GA dengan frekuensi alotip G dan alotip A yaitu 53,03% dan 46,97%. Berdasarkan hasil analisis uji statistik, disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara genotip dan alotip gen FCRL3 rs7528684 dengan kekambuhan penyakit Graves pada populasi Jakarta.

Graves' disease is an autoimmune disease in which TSH-R antibodies stimulate the thyroid gland, resulting in excess thyroid hormone synthesis and secretion. 50% patients with graves’ disease relapse after finishing antithyroid drugs treatment. Genetics factor such as FCRL3 rs7528684 SNP contribute to the development of Graves' disease. However no study has yet identified an association of the FCRL3 rs7528684 SNP with Graves' disease recurrence. Therefore, this study aims to determine the association between the genetic polymorphism of FCRL3 rs7528684 and the recurrence of Graves' Disease. This cross-sectional clinical study was performed in 80 Graves' disease patients. DNAs of GD patients were isolated and then genotyped using tetra primer ARMS-PCR method. There are two genotype variations in patients with Graves' Disease, namely GG genotype (2,5%) and GA genotype (97,5%). In the relapsed group, 100% had the GA genotype, so the frequencies of G allotype and A allotype were 50% each. Meanwhile, in the remission group, there are 6,1% GG genotype and 93,9% GA genotype with G and A allotype frquencies were 53,03% and 46,97%, respectively. Based on statistic tests analysis, there is no association between the genotype and allotype of the FCRL3 rs7528684 SNP and Graves' disease recurrence in Jakarta's population."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shabrina Shaliha
"Latar belakang: Penyakit Graves merupakan penyakit autoimun yang memiliki kemungkinan untuk kambuh setelah remisi. Sebanyak 50% pasien berisiko mengalami kekambuhan setelah menyelesaikan terapi obat antitiroid (OAT). Salah satu prediktor kekambuhan penyakit Graves adalah faktor genetik. Gen PTPN22 rs2476601 merupakan gen yang berperan dalam persinyalan sel T. Polimorfisme pada gen ini dapat memicu proses autoimun pada penyakit Graves.
Tujuan: Mengetahui hubungan polimorfisme gen PTPN22 rs2476601 terhadap risiko kekambuhan penyakit Graves.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan metode cross sectional. Subjek penelitian merupakan 80 sampel DNA pasien penyakit Graves yang telah mendapatkan terapi OAT selama >12 bulan. Kekambuhan pada pasien dinilai dalam 12 bulan pasca pasien berhenti menggunakan OAT. Pemeriksaan genotip gen PTPN22 rs2476601 dilakukan menggunakan teknik Tetra-primer amplification refractory mutation system-polymerase chain reaction (T-ARMS-PCR).
Hasil: Pada pasien penyakit Graves di Jakarta, frekuensi genotip GA ditemukan paling tinggi (77.5%) dibandingkan GG (18.75%) dan AA (3.75%). Genotip AA lebih sering ditemukan pada kelompok kambuh (6%) dibandingkan tidak kambuh (0%). Sementara itu, Genotip GA dan GG lebih sering ditemukan pada kelompok tidak kambuh (79% dan 21%) dibandingkan kambuh (77% dan 17%). Namun, hasil uji fisher tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara genotip gen PTPN22 rs2476601 dengan kekambuhan penyakit Graves (p=0.264). Frekuensi alotip alel A ditemukan lebih tinggi pada kelompok kambuh (45%) dibandingkan tidak kambuh (39%). Sedangkan, frekuensi alotip alel G ditemukan lebih tinggi pada kelompok tidak kambuh (61%) dibandingkan kambuh (53%). Namun, hasil uji chi-square juga tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara alotip gen PTPN22 rs2476601 dengan kekambuhan penyakit Graves (p=0.505).
Kesimpulan: Polimorfisme gen PTPN22 rs2476601 tidak berhubungan dengan kekambuhan penyakit Graves pada populasi di Jakarta

Background: Graves’ disease is an autoimmune disease that has a chance to recur after remission. 50% of patients have the risk of recurrence after completed anti-thyroid drugs (ATD) therapy. One of the recurrence predictors of Graves’ disease is the genetic factor. The PTPN22 rs2476601 gene is a gene involved in T cell signaling. Polymorphism in this gene may trigger the autoimmune process in Graves’ disease.
Aim: Determine the association between PTPN22 rs2476601 gene polymorphism and the recurrence risk of Graves’ disease.
Methods: This study was an observational study with a cross-sectional design. The subjects of this study were 80 DNA samples from patients with Graves’ disease who received ATD therapy for >12 months. Recurrence of the disease was assessed within 12 months after patients completed ATD therapy. Genotype examination of PTPN22 rs2476601 gene was performed using Tetra-primer amplification refractory mutation system-polymerase chain reaction (T-ARMS-PCR) technique.
Results: Patients with Graves’ disease in Jakarta had the highest genotype frequency of GA (77.5%) compared to GG (18.75%) and AA (3.75%). AA genotype was more frequent in the recurrence group (6%) compared to non-recurrence (0%). In contrast, GA and GG genotype were more frequent in the non-recurrence group (79% and 21%) compared to recurrence (77% and 17%). However, the result of fisher test showed there was no significant difference between the genotype of PTPN22 rs2476601 gene and recurrence of Graves’ disease (p=0.264). The allotype frequency of A allele was higher in the recurrence group (45%) compared to non-recurrence (39%). Meanwhile, the allotype frequency of G allele was higher in the non-recurrence group (61%) compared to recurrence (53%). However, the result of chi-square test also showed there was no significant difference between the allotype of PTPN22 rs2476601 gene and recurrence of Graves’ disease (p=0.505).
Conclusion: PTPN22 rs2476601 gene polymorphism is not associated with the recurrence of Graves’ disease in Jakarta’s population.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aisya Sita Marcha
"Latar belakang: Sekitar 50% pasien penyakit Graves mengalami kekambuhan setelah obat antitiroid diberhentikan. Padahal penyakit Graves yang kambuh umumnya bersifat lebih berat, sehingga membutuhkan terapi yang lebih agresif. Dengan demikian penting untuk mengetahui faktor untuk memprediksi kekambuhan penyakit Graves. Faktor risiko kekambuhan penyakit Graves di antaranya adalah usia, tanda klinis, faktor lingkungan, serta faktor genetik. Gen SCGB3A2 merupakan salah satu gen yang berkaitan dengan penyakit Graves. Genotip AA dan GA, serta alel A gen SCGB3A2 rs1368408 diketahui merupakan faktor risiko timbulnya penyakit Graves. Namun, gen SCGB3A2 rs1368408 belum diketahui asosiasinya dengan kekambuhan penyakit Graves.
Tujuan: Mengetahui hubungan polimorfisme gen SCGB3A2 rs1368408 dengan kekambuhan penyakit Graves.
Metode: Desain penelitian ini adalah penelitian potong lintang dengan total 77 sampel. Sampel yang digunakan adalah DNA yang telah diisolasi dari pasien yang telah menjalani terapi obat antitiroid selama ≥12 bulan. Sampel dipilih dengan metode consecutive sampling. Data yang diambil yaitu genotip dan alotip gen SCGB3A2 rs1368408 melalui teknik tetra-primer ARMS-PCR. Sampel dikelompokkan sesuai dengan kekambuhannya dan dilihat frekuensi genotip dan alotip dari masing-masing kelompok. Data juga dianalisis dengan uji chi-square atau uji Fisher untuk melihat asosiasi genotip dan alotip gen SCGB3A2 rs1368408 dengan kekambuhan penyakit Graves.
Hasil: Frekuensi genotip pada keseluruhan sampel pasien penyakit Graves didapatkan 98,7% GG dan 1,3% GA. Pada kelompok kambuh didapatkan genotip 97,8% GG dan 2,2% GA, serta alotip 98,9% alel G dan 1,1% alel A. Sedangkan pada kelompok tidak kambuh 100% memiliki genotip GG, sehingga didapatkan frekuensi alotip 100% alel G. Dari analisis menggunakan uji Fisher, tidak didapatkan perbedaan signifikan antara genotip gen SCGB3A2 rs 1368408 dan kekambuhan penyakit Graves (p=1.000). Analisis uji Fisher pada alotip gen SCGB3A2 rs1368408 juga menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan dengan kekambuhan penyakit Graves (p=1.000).
Simpulan: Tidak terdapat asosiasi genotip atau alotip gen SCGB3A2 rs1368408 dengan kekambuhan penyakit Graves.

Background: Approximately 50% of Graves’ disease patients experience a relapse after discontinuation of antithyroid drugs. Relapsed Graves’ disease patients are generally more severe and require more aggressive therapy. Thus, it is important to know the factors that can predict the relapse of Graves’ disease. Age, clinical signs, environment, and genetic are some of the risk factors for Graves’ disease relapse. SCGB3A2 gene is one of the genes associated with Graves’ disease. Genotype GA and AA, as well as alelle A of SCGB3A2 gene rs1368408 are known to be risk factors for Graves’ disease. However, the association between SCGB3A2 gene rs1368408 and relape of Graves’ disease is not yet known.
Objective: To determine the correlation between the polymorphism of SCGB3A2 gene rs1368408 and Graves' disease relapse.
Methods: Study design of this study was cross-sectional with a total of 77 samples. The sample used in this study was DNA that had been isolated from patients who have received antithyroid drug treatment for ≥12 months. Samples were selected through consecutive sampling method. The data taken were genotypes and allotypes of SCGB3A2 gene rs1368408 using tetra-primer ARMS-PCR technique. Samples were grouped according to the incidence of relapse. The genotype and allotype frequency of each group was observed. Data were also analyzed using chi-square test or Fisher’s exact test to determine the association of genotype and allotype of SCGB3A2 gene rs1368408 with Graves’ disease relapse.
Results: The genotype frequency in the entire sample of patients with Graves’ disease was found to be 98.7% GG and 1.3% GA. In the relapse group, the genotype observed was 97.8% GG and 2.2% GA whereas the allotype frequency in this group was 98.9% G allele and 1.1% A allele. All samples in non-relapse group had GG genotype (100%), thus the allotype frequency was 100% G allele. Analysis using Fisher’s exact test showed no significant difference between genotype of SCGB3A2 gene rs1368408 and Graves’ disease relapse (p=1.000). Fisher's exact analysis of SCGB3A2 gene rs1368408 allotype also found no significant difference with Graves' disease recurrence (p=1.000).
Conclusions: There was no association between genotype or allotype of SCGB3A2 gene rs1368408 and Graves' disease relapse.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fransigor Bai
"Infertilitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih dihadapi dunia hingga saat ini. Pada tahun 2010, diperkirakan terdapat 48,5 juta pasangan di seluruh dunia yang mengalami masalah infertilias. Menurut data WHO, pada tahun 2012, satu dari empat pasangan mengalami infertilitas. Infertilitas dapat disebabkan, baik oleh faktor wanita maupun pria. Berbagai teknik fertilisasi berbantuan (assisted fertilization) telah digunakan untuk mengatasi masalah infertilitas. Namun, kesuksesan dari teknik ini bergantung pada kualitas oosit dan sperma. Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan kualitas sperma adalah integritas kromatin sel sperma, melalui metode pewarnaan toluidine blue (TB).
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat integritas kromatin sperma dari pria yang mengalami masalah infertilitas dibandingkan dengan pria normal. Penelitian ini termasuk dalam studi cross-sectional. Sebanyak 123 sampel dikumpulkan dari klinik infertilitas Rumah sakit Telogorejo, Semarang dan dari Departemen Biologi Fakultas Kedoktera Universitas Indonesia (FKUI) Sampel sperma terdiri atas 28 sampel normospermia, 38 sampel dengan kategori asthenozoospermia, 57 sampel kategori oligoasthenozoospermia. Pengamatan terhadap sampel yang telah diwarnai dengan pewarna TB dilakukan di Laboratorium Andrologi, Departemen Biologi FKUI. Pengamatan dilakukan terhadap perbandingan persentase kromatin yang terwarnai TB antara pasien normospermia dengan pasien dengan kategori asthenozoospermia dan oligoasthenozoospermia.
Analisis statistik dilakukan menggunakan perangkat SPSS versi 24. Hasil analisis statsistik menggunakan uji non-parametrik mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikam pada tingkat integritas kromatin sperma yang buruk antara sampel dengan kategori asthenozoospermia dan oligoasthnenozoospermia dengan kategori normozoospermia (p < 0.001). Tingkat integritas kromatin sperma memiliki korelasi positif dengan keadaan infertilitas pada pria (p < 0.001, r = 0.454).

Infertility is one of the health problems that the world still faces today. In 2010, it was estimated that there were 48.5 million couples around the world who experienced infertility problems. According to WHO data, in 2012, one in four couples experienced infertility. Infertility can be caused by both female and male factors. Various assisted fertilization techniques have been used to overcome infertility problems. However, the success of this technique depends on the quality of oocytes and sperm. One of the ways to ensure sperm quality is done by examining the integrity of sperm chromatin, through the toluidine blue staining method. Through this method, the prognosis of infertility patients is expected to be more easily known.
The aim of this study was to determine the level of integrity of sperm chromatin from men who experienced infertility problems compared to normal men. This study is part of a cross-sectional study. Approximately 123 samples were collected from the infertility clinic of Telogorejo-Semarang Hospital and from the Department of Biology, Faculty of Medicine, University of Indonesia (FKUI). Observations on samples that have been coloured with toluidine blue dyes were carried out in the Andrology Laboratory, Department of Biology FKUI. Observations were made on the comparison of the percentage of stained chromatin between normospermia patients and patients of asthenozoospermia and oligoasthenozoospermia categories. Statistical analysis was performed using the 24 version of SPSS application.
The statistic analysis results using the mann-Whitney non-parametric test showed a significant difference in the level of poor sperm chromatin integrity between the infertile samples (asthenozoospermia and oligoasthnenozoospermia categories) and the fertile samples (normozoospermia category) (p <0.001). The level of integrity of sperm chromatin has a positive correlation with infertility in men (p < 0.001, r = 0.454).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lubis, Fatmah Azzuhra
"Diabetes Mellitus tipe 1 di anak merupakan salah satu penyakit metabolik endokrin tersering di dunia, termasuk di Indonesia. Beberapa tahun belakangan ini, angka insidensi anak yang mengalami diabetes mellitus tipe 1 terus bertambah. Dengan fasilitas dan pengobatan yang kurang memadai di Indonesia, hal ini dapat memperburuk efek kadar gula darah yang tinggi dan menimbulkan beberapa komplikasi termasuk penurunan kecerdasan. Riset ini bertujuan untuk mengetahui apakah anak dengan diabetes mellitus tipe 1 yang tidak terkontrol diindikasikan dengan tingkat HbA1c memiliki hubungan dengan penurunan kecerdasan.
Dengan menggunakan metode cross sectional, data dalam riset ini diambil dari questionnaire dan juga medical record pasien yang mengikut sertakan anak diabetes mellitus tipe 1 berumur 5-18 tahun di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan Brawijaya Clinic pada periode Juni-Juli 2016. Sebelum melakukan pengukuran kecerdasan mengunakan metode CCIDD, semua subjek harus melakukan pemeriksaan tingkat HbA1c maximal 3 bulan sebelumnya. Seluruh data subjek akan di deskripsikan ke dalam tabel. Sedangkan untuk mengetahui hubungan anatara HbA1c dan tingkat kecerdasan anak, peneliti menggunakan simple correlation test dan juga uni-variable non parametric for independent samples of Mann-Whitney. Kemudian dari pada itu linear regression, juga digunakan untuk mementukan risk factor yang berhubungan dengan fungsi kecerdasaan anak diabetes mellitus tipe 1.
Terdapat 50 subjek yang berhasil di analisa pada penilitian ini. Sebagain besar anak DM berumur >12-18 tahun dengan ratio perempuan lebih besar. Nilai tengah dari umur saat terdiagnosa 8.4(1.1-14.3) tahun dan menderita diabetes selama 2.8(0.1-13.9) tahun. Rerata HbA1c 9.3(1.94)% dengan sebagian besar pernah mengalami 1 kali DKA. Untuk hubungan antara tingkat HbA1c dan tingkat kecerdasan, ditemukan korelasi lemah (r = -.182) dengan p-value >0.05 yang dapat diartikan tidak adanya hubungan yang signifikan anatara dua variable tersebut. Namun didalam variable risk factors, ditemukan hubungan antara status sosial ekonomi anak DM-1 dengan fungsi kecerdasannya (p<0.05).
Tingkat HbA1c yang tinggi tidak memiliki hubungan dengan penurunan kecerdasan pada anak dengan diabetes mellitus tipe 1. Namun, tingkat status sosial ekonomi anak DM-1 dapat menjadi faktor resiko terhadap fungsi kecerdasan anak tersebut. Penilitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengetahui apakah anak dengan kasus yang lebih berat dikarenakan tingginya kadar gula darah yang tidak terkontrol memiliki hubungan dengan tingkat kecerdasan anak dengan diabetes melitus tipe 1.

Type 1 diabetes mellitus in children is one of the most prevalent metabolic endocrine disease including in Indonesia. It is known that the number of incidences is increasing for a past couple of years. With inadequate management and facilities in Indonesia, it makes high blood glucose in children with T1D can lead to serious complication such as cognitive dysfunction. This research aim is to know whether the uncontrolled T1D in which indicated by HbA1c is associated with decreased cognitive function.
This research is a cross-sectional study where the data is gathered by questionnaire alongside with medical record which involves type 1 diabetic children aged 5-18 years old from Cipto Mangunkusumo Hospital and Brawijaya Clinic in June-July 2016 period. Prior to the cognitive test using CCIDD method, all the subject must have a record of HbA1c measurement 3 months before. Following that, all subject characteristics are described in baseline data. In addition, a simple correlation test and non-parametric for uni-variable independent samples of Mann-Whitney were used to compare the HbA1c and cognitive function. Moreover, linear regression was also used to know the risk factor for cognitive function in children with type 1 diabetes mellitus.
There were 50 subjects which were analyzed in this research. The majority is children whose age from >12-18 with a larger ratio of female subjects. The median value for the age of onset 8.4(1.1-14.3) years and duration of disease of 2.8(0.1-13.9) years. The mean HbA1c was 9.3(1.94)% with the majority of subject experienced one episode of DKA. Furthermore, HbA1c and cognitive function showed a very weak negative correlation (r=.182) with p-value >0.05 indicates that there is no significant association between these two variables. However, within the risk factor variable, it showed that socioeconomic of the subject was associated with cognitive function (p<0.05).
High level of HbA1c was not associated with a declined performance of children with type 1 diabetes mellitus. However, socioeconomic status of the T1D children was the risk factors to their cognitive performance. Further investigation of this cross-sectional study can be done to analyze the further association between an uncontrolled glycemic state of children with type 1 diabetes mellitus and cognitive function.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2017
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tutug Kinasih
"Endometriosis adalah pertumbuhan jaringan mirip endometrium di luar uterus. Jaringan ini memiliki kemampuan tertanam di berbagai tempat ektopik karena dipengaruhi sistem aktivator plasminogen yang berperan dalam proses fibrinolisis. Pada endometriosis terdapat ekspresi plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1) berlebih yang menyebabkan kurangnya fibrinolisis sehingga menyebabkan terbentuknya produk fibrin terdegradasi yang dapat mempengaruhi penempelan dan perkembangannya. Faktor epigenetik perubahan tingkat metilasi DNA berperan pada patogenesis endometriosis.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat metilasi gen PAI-1 dan hubungannya dengan perkembangan jaringan endometriosis ovarium dan peritoneum. Studi potong lintang ini menggunakan 13 sampel wanita endometriosis ovarium, 5 wanita endometriosis peritoneum, dan 8 wanita tanpa endometriosis. DNA dari sampel diisolasi, dilakukan konversi bisulfit, kemudian diamati tingkat metilasi DNAnya dengan metode methylation specific polymerase chain reaction (MSP). Hasilnya dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney. Terdapat perbedaan yang signifikan tingkat metilasi DNA gen PAI-1 pada ketiga kelompok sampel (p<0,05).
Penelitian ini menemukan perbedaan signifikan antara endometriosis ovarium dan peritoneum dibandingkan dengan kontrol (p=0,006 dan p = 0,003); namun tidak ada perbedaan yang signifikan pada endometriosis peritoneum dibandingkan dengan ovarium (p>0,05). Penelitian kami menunjukkan rendahnya tingkat metilasi gen PAI-1 yang dapat meningkatkan ekspresi gen PAI-1 dan hal ini disugestikan dapat berkontribusi sebagai faktor risiko endometriosis pada ovarium dan peritoneum."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahadian Ramadhan
"Infertilitas pria akibat penyebab yang tidak diketahui merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang serius. Dibutuhkan analisis tambahan yang mampu menunjang hasil analisis semen standar, salah satunya adalah uji pewarnaan Aniline Blue yang dapat mengenali sperma dengan kromatin imatur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kematangan kromatin sperma dari pria fertil normospermi dan sperma dari pria infertil menggunakan pewarnaan Aniline Blue.
Penelitian dengan desain cross-sectional dilaksanakan di Laboratorium Andrologi Universitas Diponegoro dan Laboratorium Andrologi Departemen Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sampel sperma yang diteliti berjumlah total 121 sampel pria yang dikelompokkan menjadi 39 sampel asthenozoospermia dan 55 sampel oligoasthenozooespermia dari sperma pasien klinik infertilitas RS Telogorejo dan 27 sampel sperma terfiksasi dari donor fertil yang telah dianalisis profil spermanya dan diwarnai dengan pewarnaan Aniline Blue.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan persentase kromatin sperma imatur yang signifikan kelompok oligoasthenozoospermia dan kelompok asthenozoospermia dibandingkan dengan kelompok normospermi (p < 0,001). Maturitas kromatin sperma memiliki korelasi dengan abnormalitas sperma pada pasien dengan infertilitas (r=0,446; p< 0,001).

Idiopathic male infertility is a serious reproductive concern in many parts of the world. This causes the need of additional examinations that can support the results of standard semen analysis, of which one likely candidate is the Aniline Blue staining examination, which stains sperm with immature chromatin. This study aims to compare the percentage of sperms with immature chromatin between infertile men with sperm abnormalities and fertile normospermic men.
This cross-sectional design study was conducted in two laboratories, which are the Andrology Laboratory at Faculty of Medicine Universitas Diponegoro and Andrology Laboratory at Department of Medical Biology, Faculty Medicine Universitas Indonesia. This study analyzed a total of 121 sperm samples which are grouped into 39 asthenozoospermic and 55 oligoasthenozoospermic sperm samples from the patients who came to infertility clinic in Telogorejo Hospital and 27 sperm samples from normospermic fertile donors, which are analyzed using standard semen analysis technique and stained using the Aniline Blue staining method.
This study shows that there was a significant difference in the percentage of sperms with immature chromatin between normospermic group and oligoasthenozoospermic group (p < 0,001) along with the asthenozoospermic group (p < 0,001). This study also shows that there was a positive correlation between sperm chromatin maturity and the findings of standard semen analysis (r = 0,446; p < 0,001).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nathasha Brigitta Selene
"Latar belakang: Preparasi spermatozoa dengan metode swim-up (SU) dapatmeningkatkan kualitas spermatozoa sehingga meningkatkan kemungkinan konsepsi untuk pasangan yang akan menjalani inseminasi intrauterin (IIU), tetapi angka keberhasilan IIU masih rendah. Pentoksifilin (PTX) adalah senyawa yang menginhibisi kerja enzim Cyclic adenosine monophosphate (cAMP) phosphodiesterase (PDE) yang dapat meningkatkan motilitas spermatozoa dan merupakan senyawa antioksidanyang melindungi spermatozoa dari kerusakan DNA dari radikal bebas.
Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian suplemen PTX terhadap motilitas dan fragmentasi DNA spermatozoa.
Metode: Sample semen diperoleh dari pasangan infertil yang akan menjalani terapi IIU. analisis semen dilakukan sebelum dan sesudah dilakukannya preparasi spermatozoa dan dilanjutkan dengan pemberian PTX dalam tiga konsentrasi berbeda: 50µg (SU1), 100µg (SU2), dan 200µg (SU3). Selain motilitas spermatozoa, pengukuran IFD spermatozoa sebagai parameter fungsional spermatozoa jugadilakukan sebelum pencucian, sesudah pencucian, dan sesudah suplementasi PTX dengan metodesperm chromatin dispersion (SCD).
Hasil: Motilitas spermatozoa meningkat dan presentase IFD menurun setelah dilakukan pencucian dengan metode SU (setelah SU) dibandingkan dengan semen utuh (sebelum SU).Suplementasi dengan PTX dalam konsentrasi 200 ug setelah SU menunjukan peningkatan presentase motilitas spermatozoa dan penurunan DFI tertinggi. Dari ketiga konsentrasi, hanya PTX 200 ug menunjukan hasil yang signifikan secara statistik dalam meningkatkan rata-rata motilitas spermatozoa (p=0.005) sedangkan rata-rata DFI menurun setelah SU dan suplementasi PTX namun tidak signifikan secara statistik. (p>0.05).
Konklusi: Suplementasi dengan PTX dapat meningkatkan motilitas spermatozoa secara signifikan dan menurunkan IFD secara tidak signifikan, sehingga suplementasi PTX dapat digunakan untuk memilih spermatozoa dengan kualitas yang lebih baik.

Introduction: Sperm preparationusing swim-up (SU) method is commonly done which may increase the chance of conception inintrauterine insemination (IUI). However, the success rate is still low. Pentoxifylline (PTX) is Cyclic adenosine monophosphate (cAMP) phosphodiesterase (PDE) inhibitor which may increase spermatozoa motility and also acts as antioxidant, preventing DNA damage due to reactive oxygen species (ROS).
Objective: This study aims to evaluate the effect of PTX supplementation in increasing spermatozoa quality by increasing spermatozoa motility and decreasing DNA fragmentation index (DFI)
Method(s): Semen samples were obtained from infertile couple who seek IUI treatment. Semen analysis was performed before and after spermatozoa preparation using SU method then followed by incubating the samples with PTX in three different dose: 50µg (SU1), 100µg (SU2), and 200µg (SU3). Aside from spermatozoa motility, DFI acts as a functional parameter of spermatozoa and was performed using Sperm chromatin dispersion (SCD) test to assess DNA fragmentation in whole semen and prepared sample as well as after supplementation with PTX.
Result(s): The mean spermatozoa motility increased and DFI decreased in prepared spermatozoa (after-SU) compared to whole semen (before SU). PTX supplementation in 200 µg showed the highest increase in spermatozoa motility and reduction of DFI. However, only 200 µg of PTX is statistically significant to increase spermatozoa motility ((p=0.005), while there is no statistically significant result in the reduction of DFI after SU and PTX supplementation. (p>0.05).
Conclusion(s): After PTX supplementation, spermatozoa motility increased significantly and DFI decreased insignificantly thus PTX supplementation may select spermatozoa with better quality.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8   >>