Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 19 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bramadita Satya
"ABSTRAK
Latar Belakang: Impaksi Molar 3 rahang bawah telah diketahui akan meningkatkan resiko fraktur tulang mandibula terutama di daerah angulus mandibula. Fraktur angulus mandibula sering terjadi akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Masyarakat belum mengetahui pentingnya odontektomi sebagai langkah awal pencegahan fraktur angulus mandibula.Tujuan: Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan dari adanya fraktur angulus mandibula dengan adanya impaksi molar 3 rahang bawah.Material dan Metode: Rekam medis pasien poli Bedah Mulut dan Maksilofasial Rumah Sakit Umum kabupaten Tangerang selama periode Januari 2013-Desember 2017 dikumpulkan dan didapatkan 41 orang dengan fraktur angulus mandibula. Setiap sampel diidentifikasi adanya fraktur angulus mandibula, adanya impaksi molar 3 rahang bawah, posisi erupsi impaksi molar 3 dan kelas impaksi menurut Pell dan Gregory. Data diolah dengan uji Chi Square dan Kolmogorov Smirnov, serta ditentukan Odd Ratio. Uji hipotesis korelatif dilakukan dengan Uji Contingency Coeficient, Phi ? ? ?, Cramer rsquo;s V, dan Kendall rsquo;s Tau-b.Kesimpulan: Ditemukan hubungan antara terjadinya fraktur angulus mandibula dengan adanya impaksi molar 3 bawah mandibula dengan p = 0,01 p < 0,05 dengan Odd Ratio = 4,615; memiliki hubungan korelatif dengan p = 0,010 p < 0,05 dengan kekuatan r = 0,272 lemah . Tidak ditemukan hubungan bermakna antara fraktur angulus mandibula dengan posisi erupsi Suprabony,Infrabony p=0,375 p>0,05 . Tidak ditemukan hubungan bermakna antara fraktur angulus mandibula dengan kelas impaksi menurut Pell dan Gregory p=0,087, p>0,05 .Tidak ditemukan hubungan bermakna antara fraktur angulus mandibula dengan Jenis Kelamin p=0,763 p>0,05 . Tidak ditemukan hubungan bermakna antara fraktur angulus mandibula dengan Usia p=1,000 p>0,05. ABSTRACT
Background: Impacted third molar of mandibula have been studied to have a role in increasing mandible fracture especially in the mandibular angle region. Mandibular angle fractures are often the result of traffic accidents in Indonesia. People do not yet know the importance of odontectomy as a first step to prevent fracture of the mandibular angle.Objective: To determine whether there is association or correlation of the presence of angular fracture in the presence of lower third molar impaction.Materials and Methods: Medical records of patients with Oral and Maxillofacial Surgery of Tangerang District General Hospital during the period of January 2013-December 2017 were collected and obtained 41 people with mandibular angle fractures. Each sample identified an mandibular angle fracture, a lower third molar impaction, third molar impaction eruption position and an impaction class according to Pell and Gregory. The data were processed by Chi Square and Kolmogorov Smirnov, and Odd Ratio was determined. Test the correlative hypothesis with Contingency Coefficient, Phy ? ? ?, Cramer rsquo;s V, and Kendall Tau B test.Conclusion: There was found a association between the presence of mandibular angle fracture in the presence of mandibula lower 3 molar impaction with p = 0,01 p 0,05 . There was no significant association between mandibular angle fracture and Gender p = 0,763 p> 0,05 . There was no significant association between mandibular angle fracture and Age p = 1,000 p> 0,05"
2018
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hardi Sasono Riyadi
"Latar belakang: Perdarahan merupakan faktor resiko dalam suatu tindakan operasi yang dapat mengakibatkan kematian. Perdarahan yang menyebabkan massive hemorrhage ini sering terjadi pada pasien yang mengalami operasi pengangkatan tumor Ameloblastoma. Untuk mengatasi komplikasi perdarahan intraoperasi diperlukan transfusi darah. Karena resiko transfusi darah cukup tinggi maka seorang ahli bedah harus dapat mempertimbangkan kebutuhan transfusi darah secara tepat untuk menghindari komplikasi tersebut. Tujuan: Untuk menganalisa hubungan lama operasi, luas defek, dan tipe histopatologi terhadap kehilangan darah intraoperasi dan kebutuhan transfusi darah pada bedah reseksi rahang kasus Ameloblastoma. Metode: Studi ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain penelitian retrospektif. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara lama operasi nilai p = 0.0480(<0.05) dan luas defek reseksi 0.001 (p <0.05) terhadap jumlah kehilangan darah. Kesimpulan: Terdapat perbedaan bermakna antara luas defek dengan jumlah kehilangan darah intraoperasi. Khususnya pada klasifikasi L, C, H, LC, LCL, HC.

Background: Bleeding is a risk factor in an operation that can result in death. Bleeding that causes massive hemorrhage often occurs in patients who undergo surgical removal of Ameloblastoma tumors. Blood transfusion is needed to overcome the complications of intraoperative bleeding. Because the risk of blood transfusion is quite high, a surgeon must be able to properly consider the need for blood transfusion to avoid these complications.
Objective: To analyze the relationship between duration of surgery, extent of defect, and histopathological type of intraoperative blood loss and the need for blood transfusion in jaw resection surgeries in Ameloblastoma cases. Method: This study uses observational analytic methods with a retrospective research design. Results: There is a significant relationship between the length of surgery p = 0.0480(<0.05 and the extent of the resection defect 0.001 (p <0.05) to the amount of blood loss.
Conclusion: There is a significant difference between the extent of the defect and the amount of intraoperative blood loss. Especially in the classification of L, C, H, LC, LCL, HC.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ramaditto
"Latar belakang: Kehilangan darah memiliki pengaruh terhadap kejadian komplikasi pasca operasi. Kehilangan darah intraoperatif berfungsi sebagai penanda keberhasilan operasi dan prognosis bagi pasien. Prosedur bedah seperti bedah ortognatik termasuk bedah mayor dengan resiko kehilangan darah intraoperatif yang banyak. Kehilangan darah setelah bedah ortognatik sangat bervariasi, dan terkadang diperlukan transfusi. Ahli bedah perlu mengevaluasi faktor yang mempengaruhi kehilangan darah intraoperatif dan menilai tingkat transfusi sehingga dapat mengurangi resiko komplikasi kehilangan darah dan menghindari penggunaan transfusi berlebihan.
Tujuan: Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama operasi, jenis bedah ortognatik dan indeks massa tubuh terhadap jumlah kehilangan darah intraoperatif pada bedah ortognatik.
Metode: Studi ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain penelitian retrospektif.
Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis bedah ortognatik dan lama operasi dengan kehilangan darah intraoperatif pada pasien bedah ortognatik. Double jaw surgery dan Lefort I osteotomy serta faktor lama operasi menunjukkan adanya korelasi yang kuat terhadap jumlah kehilangan darah intraoperatif pada pasien bedah ortognatik. Indeks massa tubuh tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap jumlah kehilangan darah intraoperatif pada pasien bedah ortognatik.
Kesimpulan: Jenis bedah ortognatik double jaw surgery dan Lefort I osteotomy serta lama operasi lebih dari 5 jam mempengaruhi jumlah kehilangan darah intraoperatif yang signifikan pada pasien bedah ortognatik.

Background: Blood loss has an influence on the incidence of postoperative complications. Intraoperative blood loss can be serves as a marker of successful surgery and prognosis for patients. Surgical procedures such as orthognathic surgery is one of major surgery with a high risk of intraoperative blood loss. Blood loss after orthognathic surgery varies greatly, and sometimes transfusion is needed. Surgeons need to evaluate factors that affect intraoperative blood loss and assess transfusion rates so as to reduce the risk of blood loss complications and avoid excessive transfusion use.
Objective: This study aims to analyze the relationship between duration of surgery, type of orthognathic surgery and body mass index to the amount of intraoperative blood loss in orthognathic surgery.
Method: This study uses observational analytic methods with a retrospective research design.
Results: There is a significant relationship between the type of orthognathic surgery and the length of surgery with intraoperative blood loss in orthognathic surgery patients. Double jaw surgery and Lefort I osteotomy as well as the duration of surgery showed a strong correlation with the amount of intraoperative blood loss in orthognathic surgery patients. Body mass index did not show a significant relationship to the amount of intraoperative blood loss in orthognathic surgical patients.
Conclusion: The type of orthognathic double jaw surgery and Lefort I osteotomy as well as the operating duration of more than 5 hours affect the amount of significant intraoperative blood loss in orthognathic surgery patients.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mieke Sari Nalurisa
"

Latar Belakang:Infeksi yang terjadi di rongga mulut dapat berasal dari odontogenik atau non-odonogenik.Penyebab terbesar infeksi yang melibatkan daerah kepala dan leher (90-95%) adalah berasal dari gigi. Dua hal yang menjadi penyebab utama terjadinya infeksi odontogenik yaitu lesi periapikal akibat nekrosis pulpa ataupun invasi bakteri ke jaringan periapikal, dan lesi periodontal disertai poket periodontal. Faktor-faktor predisposisi seperti pada pasien dengan kecanduan alkohol, kebiasaan merokok, Diabetes Mellitus yang tidak terkontrol, dan beberapa kondisi sistemik lainnya dilaporkan dapat meningkatkan resiko perawatan yang lebih lama.

Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara tingkat keparahan infeksi odontogenik pasien, etiologi gigi penyebab infeksi odontogenik, pasien infeksi odontogenik disertai kondisi sistemik dan faktor predisposisidengan lama rawat inap di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Material dan Metode: Rekam medis pasien infeksi odontogenik, Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumoselama periode Januari 2014-Desember 2018 dikumpulkan dan didapatkan 87 orang. Setiap sampel diidentifikasi adanya pengaruh jenis kelamin, umur, tingkat keparahan infeksi odontogenik (Flynn Score), etiologi gigi penyebab, kondisi sistemik, faktor predisposisi (merokok) dengan lama rawat inap (LOS). Data diolah dengan uji Chi Square. Uji hipotesis korelatif dilakukan dengan Uji Fishers Exact.

Kesimpulan:Ditemukan hubungan yang bermakna antara tingkat keparahan infeksi odontogenik pasien menurut Flynn Scoredengan lama rawat inap(LOS)dengan nilai α = 0.014 (α < 0.05).Etiologi gigi penyebab dengan α = 0.038 (α < 0.05)dan umur denganα = 0.014 (α < 0.05) juga memberikan hasil yang signifikan yang menunjukkan adanya hubungan dengan lama rawat inap(LOS). Selain itu didapatkan kesimpulan bahwa infeksi odontogenik tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan jenis kelaminα = 0.945 (α > 0.05), kondisi sistemik α = 0.108 (α > 0.05), maupun faktor predisposisi (merokok) α = 0.237 (α > 0.05) dengan lama rawat inap(LOS).


Background : Infections that occur in the oral cavity are related from odontogenic or non-odonogenic. The most etiology of infection involving the head and neck area (90-95%) is from the teeth. The main causes of odontogenic infections are periapical lesions due to pulp necrosis or bacterial invasion of periapical tissue, and periodontal lesions with periodontal pockets. Predisposing factors such as in patients with alcoholism, smoking habits, uncontrolled diabetes mellitus, and several other systemic conditions are reported to increase the risk of longer treatment. Objective : To find out is there any effect between the severity of odontogenic infection, the etiology of the tooth causing odontogenic infection, the patient odontogenic infection related with systemic conditions and predisposing factors with length of stay (LOS) in RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Materials dan Methods : Medical records of patients with odontogenic infections, Oral and Maxillofacial Surgery Dr. RSUPN Cipto Mangunkusumo during the period of January 2014-December 2018 was collected and obtained 87 people. Each sample identified the influence of sex, age, severity of odontogenic infections (Flynn Score), etiology of the causative teeth, systemic conditions, predisposing factors (smoking) with length of stay (LOS). Data was processed by Chi Square test. The correlative hypothesis test was carried out by the Fisher \s Exact Test. Conclusion : A significant correlation was found between the severity of odontogenic infection according to Flynn Score and Length of Stay (LOS) with a value of α = 0.014 (α <0.05). The etiology of the causative teeth with a value of α = 0.038 (α <0.05) and ages with a value α = 0.014 (α <0.05) also gives significant results which indicate an association with length of stay (LOS). In addition it was concluded that odontogenic infections did not have a significant relationship with sex α = 0.945 (α> 0.05), systemic conditions α = 0.108 (α> 0.05), and predisposing factors (smoking) α = 0.237 (α> 0.05) with length of stay (LOS).

"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Riadin Joko Patomo
"Latar Belakang : Infeksi odontogenik telah menjadi salah satu penyakit yang paling umum terjadi di daerah oral dan maksilofasial. Tatalaksananya dapat sangat bervariasi, pada infeksi odontogenik yang parah pasien memerlukan rawat inap dan tindakan intervensi bedah dan medis yang luas. Proporsi pasien dengan infeksi odontogenik juga akan memerlukan dukungan ruang perawatan intensif (ICU) segera setelah tindakan bedah. Tingkat keparahan infeksi dan terjadinya komplikasi menyebabkan pasien tinggal di ruang perawatan intensif (ICU) lebih lama.
Tujuan : untuk mengetahui apakah ada pengaruh penyebaran infeksi odontogenik yang dikaitkan dengan tatalaksana infeksi odontogenik dengan tindakan bedah, komplikasi dan riwayat penyakit sistemik terhadap lama masa perawatan intensif (ICU) pada pasien dengan infeksi odontogenik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Material dan Metode : Rekam medis pasien infeksi odontogenik, Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo selama periode Januari 2014-Desember 2018 dikumpulkan dan didapatkan 84 orang. Setiap sampel di identifikasi adanya tingkat keparahan infeksi odontogenik, riwayat penyakit sistemik, tatalaksana bedah, komplikasi pasca bedah dan lama masa perawatan intensif (ICU). Data diolah dengan uji Chi Square. Uji hipotesis korelatif dilakukan dengan Uji Fishers Exact dan Uji Pearson Chi-Square .
Kesimpulan : Ditemukan hubungan yang bermakna antara penyebaran infeksi odontogenik menurut Flynn Score dengan lama masa perawatan intensif (ICU) dengan nilai α = 0.00 (α < 0.05). Tatalaksana bedah dengan α = 0.00 (α < 0.05) dan komplikasi pasca bedah dengan α = 0.03 (α < 0.05) juga memberikan hasil yang signifikan yang menunjukkan adanya hubungan dengan lama masa perawatan intensif (ICU). Selain itu didapatkan kesimpulan bahwa infeksi odontogenik tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan jenis kelamin α = 0.64 (α > 0.05), usia α = 0.34 (α > 0.05), maupun riwayat penyakit sistemik α = 0.52 (α > 0.05) dengan lama masa perawatan intensif (ICU).

Background : Odontogenic infections have become one of the most common diseases in the oral and maxillofacial regions. The treatment can be very variable, in severe odontogenic infections patients require hospitalization and extensive surgical and medical interventions. The proportion of patients with odontogenic infections will also require intensive care support (ICU) immediately after surgery. The severity of infection and the occurrence of complications causes patients longer to stay in intensive care unit (ICU).
Objective : To find out whether there is an effect of the spread of odontogenic infections associated with the management of odontogenic infections with surgical procedures, complications and a history of systemic diseases for the duration of intensive care unit (ICU) in patients with odontogenic infections in RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Materials and Methods : Medical records of patients with odontogenic infections, Oral and Maxillofacial Surgery RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo during January 2014-December 2018 was collected and obtained 84 people. Each sample identified the severity of odontogenic infections, a history of systemic diseases, surgical management, postoperative complications and length of stay of intensive care unit (ICU). Data is processed by Chi Square Test. The correlative hypothesis test is carried out by Fishers Exact Test and Pearson Chi-Square Test.
Conclusion : A significant association was found between the spread of odontogenic infections according to Flynn Score with the duration of intensive care unit (ICU) with a value of α = 0.00 (α <0.05). Surgical management with α = 0.00 (α <0.05) and postoperative complications with α = 0.03 (α <0.05) also gave significant results indicating a relationship with the duration of intensive care (ICU). In addition it was concluded that odontogenic infections did not have a significant relationship with gender α = 0.64 (α> 0.05), age α = 0.34 (α> 0.05), or history of systemic disease α = 0.52 (α> 0.05) with length of treatment intensive (ICU)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Hartanto Wahyu Prasetyo
"Latar Belakang: Prognati mandibula merupakan kasus maloklusi skeletal yang dapat ditemukan dengan fekuensi 15-23% dari seluruh populasi orang di asia tenggara. Koreksi terhadap kondisi ini dapat dilakukan secara bedah ortognatik mandibular setback dengan teknik Bilateral Sagital Split Osteotomy (BSSO). Penelitian telah mengkategorikan bahwa tindakan mandibular setback sebagai prosedur dengan stabilitas paling rendah di antara prosedur bedah ortognatik lainnya. Namun demikian bebrapa penelitian menyatakan bahwa hasil pasca operasinya masih dapat dikatakan stabil dengan kategori tertentu.
Tujuan: Mengetahui perbedaan relaps pada varian kategori besaran mandibular setback pasca tindakan tersebut dengan teknik BSSO saja dan BSSO dengan prosedur bedah ortognatik tambahan pada maksila pada pasien-pasien prognati mandibula.
Material dan Metode: Rekam medis dan radiograf sefalometri pasien pre operasi, pasca operasi dan H+6 bulan pasca operasi BSSO dan BSSO dengan prosedur bedah ortognatik tambahan pada maksila selama periode tahun 2001 sampai 2017 dari divisi Bedah Mulut dan Divisi Ortodonti R.S. Cipto Mangunkusumo, Jakarta dikumpulkan dan didapatkan 16 sampel sesuai kriteria inklusi. Hubungan antar variabel dievaluasi dengan Uji Fishers Exact pada Chi Square dan Uji hipotesis dengan Mann-Whitney U Test
Kesimpulan: Tidak ditemukan perbedaan bermakna bermakna antara relaps pada mandibular setback sedang, dan besar pada kelompok BSSO dan BSSO dengan Prosedur bedah ortognatik tambahan pada maksila (Le Fort I). Dari analisis yang dilakukan terdapat kemiripan dengan penelitian sebelumnya yaitu lebih dari 50% sampel terjadi relaps pasca operasi lebih dari 2mm.

Background: Mandibular prognathism has the frequency among 15% to 23% of the entire population of southeast Asian people. Correction of such malocclusion can be done by performing mandibular setback using Bilateral Sagital Split Osteotomy (BSSO) method. Few research has categorized that setback mandibular as procedure with the low rate of stability among other orthognathic surgery procedures. However, this has become the method of choice until now.
Objective: To observe significant difference among post operative relapse on each small, moderate, and large mandibular setback after BSSO and BSSO combined with adjunct orthognathic surgery procedures on the maxilla in patients with mandibular prognathism.
Materials and Methods: Patients medical records including cephalometric radiographs preoperative, postoperative, and 6 months after BSSO and BSSO with adjunct orthognathic surgery procedures in the maxilla during year 2001 to 2017 gained from Oral Surgery Division and Orthodontics Division of Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta was collected. Based on inclusion criteria, 16 samples was observed. Data correlation was analyzed using Fishers Exact test in Chi Square and hypothesis was evaluated using Mann-Whitney U Test
Conclusion: There is no significant difference was found in term of relapse on each small, moderate, and large mandibular setback in BSSO group and BSSO with adjunct orthognathic surgery procedures in the maxilla (Le Fort I). This study tend to have similarity as the past studies stated in term of more than 50% with post operative relaps more than 2mm
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
R. Hari Triwijaya
"

Tesis ini bertujuan untuk menganalisis hasil studi-studi terdahulu mengenai keberhasilan tatalaksana implan gigi pada pasien dengan konsumsi bisfosfonat, baik berdasarkan cara pemberian bisfosfonat, maupun pengaruh waktu pemberian bisfosfonat terhadap keberhasilan tatalaksana implan gigi. Penelitian ini merupakan sebuah systematic review dengan desain deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan implan pada pasien dengan konsumsi bisfosfonat cukup tinggi, baik berdasarkan cara pemberian maupun waktu pemasangan implan gigi terhadap waktu pemberian bisfosfonat; tidak semua pasien yang mengkonsumsi bisfosfonat akan mengalami osteonecrosis of the jaw.

 


This study aims to analyze the results of previous studies on the successful management of dental implants in patients with bisphosphonate consumption, both based on the way bisphosphonates are administered, as well as the effect of the time of bisphosphonate administration on the successful management of dental implants. This study is a systematic review with a descriptive design. The results of this study indicate that the success of implants in patients with bisphosphonate consumption is quite high, both based on the way they are administered and when the dental implants are placed against the time of bisphosphonate administration; not all patients taking bisphosphonates will experience osteonecrosis of the jaw.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nissia Ananda
"Latar Belakang: Pembentukan jaringan parut terkait dengan fibroblast yang dihasilkan selama fase proliferasi dan salah satu strategi untuk menekan pembentukannya yang berlebihan adalah dengan menggunakan bahan perawatan luka. Penggunaan obat herbal saat ini diminati karena menghindari efek samping obat sintetik dan Hydnophytum formicarum berpotensi sebagai antioksidan dan anti inflamasi. Tujuan Penelitian: Menganalisis pengaruhekstrak Hydnophytum formicarum terhadap kerapatan kolagen, angiogenesis, panjang luka, dan reepitelisasi penyembuhan luka. Metode Penelitian: 24 ekor tikus Sprague Dawley dibagi dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Luka dibuat menggunakan biopsy punch. Empat ekor tikus dari tiap kelompok di nekropsi pada hari ke 4, 7 dan 14. Analisa kerapatan kolagen, angiogenesis, panjang luka, dan reepitelisasi dilakukan menggunakan pemeriksaan hematoksilin eosin dan masson’s trichrome. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna pada angiogenesis, panjang luka, reepiteliasasi antar kelompok. Angiogenesis pada kelompok perlakuan memiliki jumlah yang lebih sedikit namun lebih matur. Selain itu terdapat interaksi antara pengaplikasian ekstrak Hydnophytum formicarum dan hari nekropsi terhadap kerapatan kolagen dan tingkat reepitelisasi. Kesimpulan: Penggunaan ekstrak Hydnophytum formicarum mempengaruhi pembentukkan jaringan parut yang ditunjukkan kerapatan kolagen, angiogenesis, reepitelisasi, dan panjang luka pada fase granulasi. Tidak terdapat kelainan spesifik pada luka pada kelompok perlakuan. Inhibisi angiogenesis pada aplikasiHydnophytum formicarum berhubungan dengan pembentukan jaringan parut pada luka.

Background: Formation of scar tissue associated with fibroblast and wound care material is used to suppress the formation of excessive scar tissue. Herbal medicine is currently popular because it avoids the side effects of synthetic drugs and Hydnophytum formicarum has antioxidant and anti-inflammation potential. Purpose: Analyzing the effects of Hydnophytum formicarum extract on collagen density, angiogenesis, wound length, reepithelialization in wound healing. Material and Method: 24 mice are divided in the control and treated group. Wounds were made using biopsy punch. Four rats from each group were necropsed on day 4, 7 and 14. Collagen density, angiogenesis, wound length, reepithelialization were then analyzed using hematoxylin eosin and masson’s trichrome staining. Results: There were significant differences in the results of the angiogenesis analysis, wound length, reepitheliasation between the groups. Angiogenesis in the treatment group had smaller number but more mature. There was interaction between the application of Hydnophytum formicarum extract and necropsy day on collagen density and reepithelialization rate. Conclusion: Hydnophytum formicarum extracts affected the formation of scar tissue as indicated by collagen density, angiogenesis, reepithelialization, wound length in granulation phases. Inhibition of angiogenesis in the application of Hydnophytum formicarum is related to the formation of scar tissue in the wound."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Farid Ratman
"Tesis ini membahas tentang pengaruh labioplasti dan palatoplasti terhadap morfologi mandibula sisi cleft dan sisi normal pada pasien celah bibir dan langit-langit unilateral di RSAB Harapan Kita yang berusia 13 tahun atau lebih. Penelitian ini adalah penelitian observasi krosseksional dengan mengukur morfologi dari data CBCT dan membandingkan sisi cleft dan sisi normal. Hasil penelitian memperlihatkan adanya perbedaan signifikan secara statistik pada panjang korpus dan inklinasi frontal ramus antara sisi cleft dan sisi normal. Sisi cleft biasanya lebih kecil daripada sisi normal. Evaluasi CBCT sangat penting untuk dilakukan terutama pada pasien celah bibir dan langit-langit untuk menentukan rencana perawatan selanjutnya, contohnya osteodistraksi atau orthognatik.

This thesis will discuss about the effect of labioplasty and palatoplasty on Morphology of Mandible on cleft side and non-cleft side in more than 13 years old cleft lip and palate patient at Harapan Kita Hospital. Using Cross sectional observation study by measuring and comparing morphological anatomy on cleft side and non-cleft side with CBCT. Based on statistical analysis showed there is a significant different in corpus length and frontal ramus inclination on cleft side and non-cleft side. it showed that the size is smaller on the cleft side than non-cleft side. CBCT evaluation is important as diagnostic tools for cleft lip and palate patient in order to make further treatment plan, as in osteodistraction or orthognatic surgery.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Saptadi
"Latar Belakang: Komplikasi serius yang menyertai tindakan odontektomi adalah cedera nervus alveolaris inferior. Hal penting untuk mengetahui secara tepat posisi gigi molar tiga mandibula impaksi terhadap kanalis mandibula, dengan pemeriksaan radiologi baik 2 dimensi (radiograf panoramik) maupun 3 dimensi (CBCT Scan). Tujuan: Mengevaluasi posisi gigi molar tiga mandibula impaksi yang memiliki kedekatan terhadap kanalis mandibula pada radiograf panoramik berdasarkan  CBCT Scan. Metode: Penelitian deskriptif analitik menggunakan data radiograf Panoramik dan DICOM File CBCT Scan yang memenuhi kriteria inklusi dari  beberapa fasilitas kesehatan yang ada di Jakarta dari bulan November 2010 sampai Desember 2017. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan komputer yang dilengkapi sistem operasi Macintosh atau Windows serta Planmeca  Romexis Ò imaging software viewer. Analisa data menggunakan SPSS 22 dan uji Chi-Square. Hasil: 48 pasien dengan 61 sampel  memenuhi kriteria inklusi. Kategori posisi berdasarkan radiograf panoramik paling banyak ditemukan adalah peningkatan radiolusensi. Kategori posisi berdasarkan CBCT Scan yang paling banyak ditemukan adalah posisi inferior. Berdasarkan uji statistik ditemukan terdapat perbedaan proporsi yang bermakna (p<0.05) antara kategori Radiograf Panoramik dan kategori lingual-bukal-inferior pada CBCT Scan. Kesimpulan: Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk mengevaluasi posisi gigi molar tiga mandibula terhadap kanalis mandibula dalam memperkirakan resiko terjadinya komplikasi cedera nervus alveolaris inferior selama tindakan odontektomi.

Introduction:The serious complication associated odontectomy is inferior alveolar nerve (IAN) injury.  It is essential to investigate accurately the position of impacted mandibular third molars improved the mandibular canal is by radiological examination in nor 2-dimensional (radiograph panoramic) and 3-dimensional (CBCT Scan). Obejctive: The aim of this study is to evaluate the positions of impacted mandibular third molars in which have proximity the mandibular canal on a panoramic radiography based on CBCT Scan. Materials and Methods: This study use descriptive analytic with panoramic radiograph and DICOM File data CBCT Scan that qualified inclusion criteria from several healthcare facilites in Jakarta from November 2010 until  December 2017. The research is done using a computer equipped with Macintosh or Windows operating system and Planmeca Romexis Ò imaging software viewer. Data analysis using SPSS 22 and Chi-Square test. Result: We got 48 patient with 61 teeth sample that qualified inclusion criteria. The most common found position we got from panoramic radiograph is increasing radiolucency. While, from CBCT scan we got the inferior position as the most common found position. Based on statistical test of result between Panoramic Radiograph and CBCT Scan we found that there is proportionally significance (p< 0.05) among category of panoramic radiograph and category of lingual-buccal-inferior on CBCT scan. Conclusion: This study can be used as a reference to evaluate the positions of mandibular third molars against the mandibular canal in prediction the risk of complications of inferior alveolar nerve injury during odontectomy.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2018
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>