Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 63 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Gita Handayani Ermanza
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan yang signifikan antara harga diri dan citra tubuh pada remaja putri yang mengalami obesitas dari kalangan sosial ekonomi (sosek) menengah atas. Masalah ini dianggap penting untuk diteliti karena salah satu faktor pendukung pembentukan harga diri adalah citra tubuh, keduanya terbentuk dan berkembang di saat remaja. Menurut Rice (1990), penerimaan dan penilaian citra tubuh pada remaja erat kaitannya dengan harga diri. Citra tubuh dan harga diri juga terkait dengan status sosial ekonomi yang melatarbelakangi remaja tersebut. Pada sosek menengah atas remaja dengan mudah dapat memenuhi segala kebutuhan yang terkait dengan citra tubuhnya. Tetapi, untuk menjaga harga dirinya, ia juga dituntut untuk memiliki berat badan ideal dan mengikuti tren agar diterima oleh lingkungannya. Penelitian kuantitatif ini menggunakan alat ukur Self Esteem Inventory (SEI) dan Multidimensional Body Self Relation Questionnaire (MBSRQ) dalam pengumpulan data, dan pearson correlation dalam analisis data. Responden penelitian ini adalah 32 remaja putri yang mengalami obesitas dari kalangan sosek menengah atas dengan rentang umur 15-20 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara harga diri dan citra tubuh pada remaja putri yang mengalami obesitas dari kalangan sosek menengah atas.

The aim of this research is to find out correlation between self-esteem and body image on obese female teenagers from middle-upper socio-economic class. Reason to conduct this study is due to the fact that body image is one of the key factors in developing self-esteem. Both, self-esteem and body image, mainly develop during the adolescence. As Rice (1990) states, self-esteem influences the acceptance and evaluation of body image in female teenagers. Besides, body image and self-esteem can be seen from the background of the teenagers? socioeconomic class. Teenagers from middle-upper socio-economic class can easily fulfill their needs, particularly relevant with their body image. However, in order to promote their self-esteem, they have to maintain their ideal weight and follow the current trend to be accepted by their peers and social groups. This quantitative research employed Self Esteem Inventory (SEI) dan Multidimensional Body Self Relation Questionnaire (MBSRQ) in data collection and pearson correlation in data analysis. The subject of the research is 32 obese teenagers from middle-upper socio-economic class, ranging from 15 to 20 years of age. It is found out that there is no significant correlation between self-esteem and body image on obese female teenagers from middle-upper socio-economic class."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Jana Eugenia D.
"Faktor yang menjadi awal suatu perubahan dalam organisasi adalah kesiapan individu dalam menghadapi perubahan organisasi. Hubungan interpersonal dalam lingkungan kerja yang terdapat dalam suatu organisasi akan mempengaruhi bagaimana individu dalam perusahaan akan menyesuaikan dirinya untuk menghadapi situasi yang sulit, termasuk perubahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan alat ukur kesiapan individu terhadap perubahan organisasi dan alat ukur hubungan interpersonal dalam lingkungan kerja yang merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya, dengan bentuk skala sikap yang disebarkan pada responden melalui organsasi masing-masing. Responden penelitian berjumlah 138 orang, yang merupakan karyawan tetap PT. A, PT. B, dan PT. C, dimana ketiga perusahaan tersebut merupakan badan usaha milik negara atau BUMN. Partisipan telah bekerja selama minimal selama 2 tahun, berpendidikan minimal SMA, serta memiliki atasan, rekan kerja, dan bawahan.
Hasil analisis korelasi menggunakan metode statistik Pearson Correlation menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kesiapan untuk berubah dengan nilai hubungan interpersonal dalam lingkungan kerja dengan nilai p sebesar 0,000. Lebih lanjut, ditemukan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada karakteristik demografis. Pada nilai kesiapan individu terhadap perubahan organisasi ditemukan adanya perbedaan yang signifikan pada nilai kesiapan individu terhadap perubahan dengan jumlah atasan.

The first factor that begins change process in an organization is individual readiness for change in organizations. Interpersonal Relationship at Work that exist in each organization may also influence how individual adapt themselves in difficult situation in which change is included. This research utilizes qualitative approach with two instruments, individual readiness for change and interpersonal relationship at work, which was developed from previous research. Respondents for this research are 138 individuals from three different government companies. Respondents has a minimum education of high school, has been working in the company for minimum 2 years and has a superoordinate, suboordinate, and peers.
Results from Pearson Correlation analysis indicates that there is significant positive relation between Interpersinal Relationship at Work and Individual Readiness for Organizational Change with significance level at 0.000. In addition, it is found that there is no significant difference between interpersonal relationship at work based on demographic characteristics. On individual readiness for change however, it is found that there is a significant difference based on the amount of superordinates.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ekotyas Elastrina A
"Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai hubungan antara psychological capitaldan intention to leave pada perawat. Pengukuran psychological capital menggunakan alat ukur psychological capital questioner (Luthans, Youssef, & Avolio, 2007) dan pengukuran intention to leave menggunakan alat ukur anticipated turnover scale (Atwood, 1985). Partisipan berjumlah 187 orang perawat yang bekerja di rumah sakit umum swasta.
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara psychological capital dan intention to leave pada perawat (r = -0,169; p = 0.010, signifikan pada L.o.S 0.05). Artinya, semakin tinggi psychological capital yang dimiliki seseorang, maka semakin rendah intention to leave yang dimiliki. Berdasarkan hasil tersebut, psychological capital pada perawat perlu dikembangkan untuk menurunkan intention to leave sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat.

This research was conducted to find the correlation between psychological capital; and intention to leave among nurses.Psychological capital was measured using a modification instrument named psychological capital questioner (Luthans, Youssef, & Avolio, 2007 ) and intention to leave was measured using a modification instrument named anticipated turnover scale (Atwood, 1985). The participants of this research are 187 nurseswho are working in private hospital.
The main results of this research show that psychological capital has negative correlatio significantly with intention to leave (r = -0.169; p = 0.010, significant at L.o.S 0.05). That is, the higher psychological capital of one?s own, the lower showing intention to leave. Based on these results, psychological capital among nurse need to be developed to reduce intention to leave so they can give the best health service to the people."
Depok: Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Vira Setya Prayogo
"Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai hubungan antara psychological capital dan kepuasan kerja pada perawat. Pengukuran psychological capital menggunakan alat ukur Psychological Capital Questionnaire (Luthans, et al., 2007a) dan pengkuran kepuasan kerja menggunakan Job Satisfaction Survey (Spector, 1994). Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 177 perawat yang bekerja di rumah sakit X. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara psychological capital dan kepuasan kerja pada perawat (r = 0.299; p = 0.000, signifikan pada L.o.S 0.01). Hasil tersebut dapat diartikan, semakin tinggi tingkat psychological capital maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan kerja perawat.

This research was conducted to find the correlation between psychological capital and job satisfaction among nurse. Psychological capital was measured by instrument named pyschological capital questionnaire (Luthans, et al., 2007a) and job satisfaction was measured by instrument named job satisfaction surevy (Spector, 1994). The Participants of this research are 177 nurses. The main result of this study show that psychological capital positively coralated significantly with job satisfaction (r = 0.299; p = 0.000, significant at L.o.S 0.01). Intepretation from the result is , more higher psychological capital, the higher showing job satisfaction."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kurona Moulisa
"Penelitian ini untuk melihat hubungan antara workplace well-being dan Chinese value pada karyawan keturunan Chinese. Workplace well-being didefinisikan sebagai rasa sejahtera yang diperoleh karyawan dari pekerjaannya, yang terkait dengan perasaan karyawan secara umum (core affect) dan kepuasan yang didapatkan dari faktor intrinsik dan ekstrinsik dari pekerjaan (work values), yang diukur melalui Workplace Well-Being Index (WWBI) (Page, 2005). Nilai didefinisikan sebagai prinsip yang dianut untuk mengatur tingkah laku seseorang (Chinese Culture Connection, 1987 dalam Ongkowijoyo, 2011), diukur melalui Chinese Value Survey (Bond et al. dalam Mathews, 2000). Sampel penelitian ini adalah 104 karyawan keturunan Chinese yang diperoleh secara accidental sampling. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara workplace well-being dan Chinese Value pada karyawan keturunan Chinese (r= 0.226, p<0.05,two-tailed). Implikasi dari hasil penelitian ini adalah Chinese value yang dianut oleh karyawan keturunan Chinese berhubungan dengan kesejahteraan yang dirasakan karyawan di tempat kerja.

The aim of this study is to identifying the relationship between workplace well-being and Chinese value among Chinese employee. The definition of workplace well-being is as sense of well-being that employees gain from their work, including core affect dan the satisfaction of intrinsic and/or extrinsic work values, that measured by using the Workplace Well-Being Index (WWBI) (Page, 2005). Value is defined as a set of principal which believed by a person to govern his attitude (Chinese Culture Connection, 1987 in Ongkowijoyo, 2011), that measured by using the Chinese Value Survey (Bond et al. in Mathews, 2000). The samples of this study were 104 Indonesian Chinese employees were gain using accidental sampling. The analysis showed significant correlation between workplace well-being and Chinese value among Chinese employee (r= 0.226, p<0.05, two-tailed). The implication of this research gives us conclusion that the Chinese value of Chinese employee have relation with well-being of those employee at workplace."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
S46764
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Restika
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara workplace wellbeing dan work locus of control pada karyawan perusahaan manufaktur yang memproduksi oli. Workplace well-being merupakan rasa sejahtera yang diperoleh karyawan dari pekerjaan mereka, yang terkait dengan perasaan karyawan secara umum (core affect) dan nilai intrinsik maupun ekstrinsik dari pekerjaan (Page, 2005), yang diukur dengan Workplace Wellbeing Index (WWBI).
Work locus of control merupakan kepercayaan individu tentang pekerjaan yang dikendalikan oleh tindakan atau perilaku individu (internal) ataupun sebab di luar pengaruh individu itu sendiri (eksternal) (Spector, 1988), diukur melalui alat ukur Work Locus of Control Scale (WLCS). Sampel dalam penelitian ini sebanyak 133 karyawan di PT. X, diperoleh secara accidental. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara workplace well-being dengan work locus of control pada karyawan perusahaan manufaktur (r = 0,558, p < 0,01, two tailed).

The research’s purpose is to analyse the correlation between workplace wellbeing and work locus of control on manufacture employees which produce oil. Workplace well-being is defined as a sense of well-being derived from the work of their employees, which is associated with feelings of general employees (core Affect) and the intrinsic and extrinsic value of work (Page, 2005), measured through the Workplace Well-being Index (WWBI).
Work locus of control is an individual's belief about the job that is controlled by the actions or behavior of the individual (internal) or causes beyond the influence of the individual (external) (Spector, 1988), was measured by gauges Work Locus of Control Scale (WLCS). The sample in this study included 133 employees at PT. X, using accidental sampling. The results show that there is a significant relationship between workplace wellbeing with work locus of control on the manufacturing company's employees (r = 0.558, p <0.01, two-tailed).
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
S47128
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fuadi Rahmat
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara hope for success dan fear of failure dari motif berprestasi dengan prokrastinasi pada mahasiswa Universitas Indonesia dalam mengerjakan skripsi Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling dengan jumlah sampel 145 mahasiswa Alat ukur yang digunakan adalah alat ukur adaptasi Revised Achievement Motive Scale RAMS untuk mengukur motif berprestasi dan Academic Procrastination Scale APS untuk mengukur prokrastinasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hope for success dengan prokrastinasi R 0 078 p 0 358 tidak signifikan pada L o S 0 05 Artinya tinggi atau rendahnya tingkat hope for success tidak mempengaruhi tingkat prokrastinasi pada mahasiswa UI dalam mengerjakan skripsi Kemudian terdapat hubungan positif yang signifikan antara fear of failure dengan prokrastinasi R 0 23 p 0 006 signifikan pada L o S 0 05 Artinya semakin tinggi tingkat feaf of failure semakin tinggi tingkat prokrastinasi mahasiswa UI dalam mengerjakan skripsi Kata Kunci Fear of failure Hope for success Mahasiswa Prokrastinasi Skripsi.

This study aimed to find the relationship between hope for success and fear of failure from achievement motive with procrastination at Universitas Indonesia college students in making undergraduate thesis Sampling method used in this study is accidental sampling with 145 sample Adaptation of Revised Achievement Motive Scale RAMS used to measure achievement motive and adaptation of Academic Procrastination Scale APS used to measure procrastination The result showed that there is no significant relationship between hope for success with procrastination R 0 078 p 0 358 not significant at L o S 0 05 That it high or low levels of hope for success doesn rsquo t affect the level of procrastination at Universitas Indonesia collage students in making undergraduate thesis Then there is a significant positive relationship between fear of failure procrastination R 0 23 p 0 006 significant at L o S 0 05 That it the higher level of fear of failure the higher the level of procrastination at Universitas Indonesia collage students in making undergraduate thesis Keyword College students Fear of failure Hope for success Procrastination Undergraduate Thesis."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
S52387
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wiragita Arifni Matahari
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan workplace wellbeing dan vocational indentity pada perawat. Pengukuran workplace wellbeing menggunakan alat ukur workplace wellbeing index (Page, 2005) dan pengukuran vocational identity menggunakan my vocational situation (Holland, Daiger & Power, 1980). Partisipan berjumlah 96 orang perawat yang bekerja di rumah sakit YZ.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara workplace wellbeing dengan vocational identity pada perawat (r= 0,12; p=2,46). Meskipun demikian terdapat hubungan yang signifikan antara dimensi intrinsik workplace wellbeing dengan variabel vocational identity (r=0,20; p=0,04 signifikan pada LoS 0,05). Artinya, semakin tinggi workplace wellbeing intrinsik perawat maka semakin tinggi pula vocational identitity-nya.
Berdasarkan hasil tersebut, workplace wellbeing intrinsik perlu dikembangkan untuk meningkatkan vocational identity perawat sehingga kinerja rumah sakit dalam memberi pelayanan pada pasien lebih optimal.

This study was conducted to get an overview of the relationship between workplace wellbeing and vocational indentity among nurses. Workplace wellbeing measures using workplace wellbeing index (Page, 2005) and vocational identity measures using my vocational situation (Holland, Daiger and Power,1980). Participants of this study is a 96 nurses who work in YZ hospitals.
Results of this study showed no significant relationship between workplace wellbeing and vocational identity among nurse (r = 0.12, p = 2,46). Nonetheless there is a significant relationship between intrinsic dimension of workplace wellbeing with vocational identity (r = 0.20, p = 0.04 Significant at 0.05 LoS). It means, the higher the intrinsic workplace wellbeing, the higher its vocational identity among nurse.
Based on these results, workplace wellbeing intrinsic need to be developed to improve vocational identity performance so that the hospital nurses can provide more optimal care to patients.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
S45810
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Paramita Noor Yanti
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara perceived organizational support dan psychological capital pada karyawan PT. XYZ yang sedang melakukan perubahan organisasi. Partisipan penelitian adalah 135 karyawan PT. XYZ. Perceived organizational support diukur dengan Survey of Perceived Organizational Support yang dikembangkan Eisenberger, et. al. (1986). Psychological capital diukur dengan Psychological Capital Questionnaire yang dikembangkan Luthans, Youssef, dan Avolio (2007). Hasil menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara perceived organizational support dengan psychological capital (r=0,466, p<0,01). Hasil mengimplikasikan bahwa akan lebih baik bila PT. XYZ lebih memperhatikan kebijakan terkait sumber daya, kondisi pekerjaan, dan memberikan pelatihan untuk pekerjaan yang terkena dampak perubahan organisasi.

ABSTRACT
This study examined the relationship between perceived organizational support and psychological capital on PT. XYZ employees during organizational change. Participants were 135 PT. XYZ employees. Perceived organizational support was measured by Survey of Perceived Organizational Support developed by Eisenberger, et. al. (1986). Psychological capital was measured by Psychological Capital Questionnaire developed by Luthans, Youssef, and Avolio (2007). Result showed a significant positive relationship between perceived organizational support and psychological capital (r=0,466, p<0,01). Result implicates that it will be better if PT. XYZ pay more attention to their resources policy, job condition, and provide training for jobs affected by organizational change."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S53581
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>