Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 122 dokumen yang sesuai dengan query
cover
INP Aryawan Wichaksana
"Latar belakang
Pajanan MEK dan sinar ultraviolet di Departemen Stock Fit dapat menggangu kesehatan, khususnya kesehatan mata pekerja. Prevalensi kasus konjungtivitis sebesar 3 % dikalangan pekerja, termasuk pekerja di Departemen Stock Fit, sangat menarik untuk diteliti lebih jauh, apakah kasus konjungtivitis yang terjadi disini sebagai akibat pekerjaan, atau bukan sebagai akibat pekerjaan.
Metode
Menggunakaan metode potong lintang (cross sectional) dan dianalisis secara internal comparation. Sampel diambil dari seluruh pekerja perempuan di 4 bagian Departemen Stock Fit, yang proses produksinya menggunakan cairan primer MEK dan sinar ultraviolet. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara manajemen perusahaan, rekam medis poliklinik, pegisian kuesioner dan informed concept oleh pekerja dan pemeriksaan fisik dan status kesehatan mata oleh dokter perawat.
Hasil
Prevalensi konjungtivitis akibat kerja sebesar 10,9% dari 175 pekerja perempuan Departemen Stock Fit. Pajanan MEK mempunyai risiko 3,56 kali dibandingkan pajanan MEK + sinar ultraviolet untuk menyebabkan konjungtivitis akibat kerja.
Kesimpulan
Faktor yang berhubungan dengan terjadinya konjungtivitis akibat kerja adalah pajanan MEK dan radiasi sinar ultraviolet.

Background
The exposure of Methyl Ethyl Ketone (MEK) fume and Ultra Violet (UV) light at Stock Fit Department of Shoes industry could influence the eye health of the workers. The prevalence of conjunctivitis among the workers is approximately 3%, including the workers at the Stock Fit Department. Therefore, it is very interesting to find out whether the cases of conjunctivitis in this matter are occupation medicine or not.
Method
This is a cross-sectional study using internal comparison analysis. The sample was all women workers of four Sub-department at Stock Fit Department. which the production process uses MEK liquid and UV light. The data was collected by conducting interview with the manager, reviewing the medical records, filling out questionnaires, and performing physical and eye examination by physician and nurses. Informed consent was obtained from the subjects prior to data collection.
Result
The prevalence of occupational conjunctivitis is approximately 10.9% among 1 75 women workers at Stock Fit Department. The exposure of MEK fume is the only one statistically significant factor to occupational conjunctivitis. It is increasing the risk of occupational conjunctivitis 3.56 times greater than the exposure of both MEK fume and UV light.
Conclusion
Factors related to occupational conjunctivitis are MEK liquid and UV light exposure.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T13635
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zulkifli Insya
"Latar Belakang; Nyeri Punggung Bawah (NPB) yang disebabkan gangguan muskuloskeletal akibat kerja, paling sering di temukan dan merupakan penyebab kedua terbanyak kehilangan jam kerja sesudah ISPA. Selain itu NPB merupakan penyebab nomor satu terjadinya ketidak mampuan akibat cedera oleh karena pekerjaan. Beberapa poliklinik di rumah sakit di Jawa, melaporkan prevalensi NPB sekitar 5,4 - 5,8%. J.Dermawan mendapatkan prevalensi NPB pada laki-laki 18,2% dan pada wanita sebesar 13,6%. Diketahui pula dengan bertambahnya usia, prevalensi NPB semakin meningkat.
Metode Penelitian; desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan memakai analisis internal comparation. Jumlah responden 141 yang memenuhi kriteria inklusi didapat 92 responden. Data dikumpulkan dengan cara melakukan pengisian kuesioner, pemeriksaan fisik, pengukuran sudut membungkuk disaat bekerja dan pencatatan lama kerja serta obsevasi lingkungan kerja.
Hasil Penelitian; prevalensi NPB pada responden sebesar 51,1 % (47 dari 92 responden). Janis pekerjaan mempunyai hubungan bermakna dengan terjadinya NPB (OR 9,78 CI 2,6 - 36,24). Posisi kerja membungkuk dan mengangkat beban lebih dari 10 kg mempunyai hubungan bermakna dengan NPB (posisi kerja dengan OR 6,4 CI 1,32-31,25 dan mengangkat beban lebih dari 10 Kg dengan OR 3,9 CI 1,6 - 9,3).
Simpulan; prevalensi NPB pada pekerja hotel X Cikarang sebesar 51,1%. Faktor-faktor yang mempengaruhi NPB adalah posisi kerja membungkuk, jenis pekerjaan dan angkat beban lebih dari 10 Kg. Usia, jenis kelamin, indeks masa tubuh (IMT), kebiasaan olahraga, lama kerja, departemen, dan jabatan tidak berhubungan dengan NPB.

Background.
Low Back Pain caused by occupational-musculoskeletal disorder is the most frequent found and is the second cause of working time loss. Low Back Pain also the first causal of disability due to occupational injury. Some clinics in Java reported is that the prevalence of low back pain was 5.4-5.8%. J. Darmawan found that the prevalence of low back pain in men 18.2% and women 13.6%, and increasing age could increase the low back pain's prevalence
Method.
A cross sectional study with internal comparation analysis was use in study. Ninety two respondents were selected from 141 of total population. Data was collected through conducting interviews, filling out questionnaire, performing physical examination, measuring flexion position, recording working time duration and working environment observation.
Result.
Prevalence of low back pain in this study is 51.1% (47 persons of 92 respondents).The flexion correlates to low back pain (OR 6,4 CI 1,32- 31,25). Type of working activity and heavy lifting over 10 Kg were found to have correlation to low back pain (OR 9,78 Cl 2,6 - 36,24 and OR 3,9 CI 1,6 - 9,3).
Conclusion.
The low back pain prevalence in this study is 51.1%. This study revealed that factors affecting low back pain were; flexion position, type of working, heavy lifting over 10 Kg. Age, sex, body mass index, sports, working years, department and position at the workplace were not correlated to low back pain."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T13638
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tampubolon, Timbul
"Latar belakang : Pajanan uap MEK yang dijumpai di Departemen Stock Fit mengganggu kesehatan mata pekerja dimana pada penelitian terdahulu oleh Aryawan, prevalensi konjungtivitis akibat kerja sebesar 10.9%. Oleh karena ini peneliti tertarik untuk meneliti pekerja secara studi kohort prospektif, untuk mengikuti perjalanan terjadinya KAK yang diobservasi selama jam kerja (8 jam).
Metode merupakan studi kohort prospektif, dengan mengambil sampel sebesar 144 orang di departemen Stock fit dan Stitching. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara pada pekerja, pengisian kuesioner, pengamatan selama 8 jam kerja dan pemeriksaan fisik mata. Pekerja juga mengisi informed consent pada saat sebelum penelitian dilakukan.
Hasil : Pada penelitian ini ditemukan insiden Konjungtivitis Akibat Kerja sebesar 43.66%. Diantara kelompok terpajan uap MEK. Faktor-faktor yang berhubungan secara statistik dengan terjadinya konjungtivitis akibat kerja adalah usia, masa kerja dan jenis pekerjaan. Konjungtivitis akibat kerja terjadi mulai jam ke 2 dan meningkat tajam sampai jam ke 4, kemudian bertambah sedikit kasusnya pada jam ke 5 sampai jam ke 8.
Kesimpulan : Pajanan uap Metil Etil Keton berhubungan dengan terjadinya Konjungtivitis Akibat Kerja. Proses tahapan terjadinya Konjungtivitis Akibat Kerja terjadi pada jam ke 2 (satu jam setelah bekerja) sampai jam ke 8, sehingga pekerja perlu mematuhi SOP secara benar.

Background: Exposure of Methyl Ethyl Ketone fume made an effect of the human health, especially for the visual. Aryawan in 2004 has been researched for the conjunctivitis among the women worker and got the prevalence 10.9. %. According to that result, this research has been developed in order to know the conjunctivitis process during working hours among the women worker. The design was cohort prospective study with 144 respondents in stock fit and stitching department in a shoe factory in Tangerang. Data has been collected by interview, measuring and observing the symptom of visual effect during 8 hours (working hours). All the respondents filled in the informed consent prior to the research.
The Result: Incidence of conjunctivitis work related among the exposure group is 43.66%. The factors related to conjunctivitis work related are age, duration of work and occupation. The dominant factor caused to conjunctivitis work related is occupation. Process of conjunctivitis work related begin on the second hour, and increased dramatically until the fourth hours. It slowed down at the fifth until the eight of working hours.
Conclusion: Occupation of the worker (synonym as the exposure of methyl ethyl ketone fume is related to conjunctivitis work related). The effect takes place in the second hour (one hour after starting) until the eighth or last hour. Therefore the workers have to follow the standard operating procedure.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T16204
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sulvana Rachel
"Latar belakang : Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan masalah kesehatan kerja yang tinggi pembiayaannya. Nyeri punggung bawah merupakan penyebab tersering keterbatasan aktifitas pada mereka yang berusia kurang dari 45 tahun dan penyebab kedua tersering kunjungan ke dokter. Setiap tahun 2% populasi pekerja tidak masuk kerja akibat NPB, dan waktu yang hilang akibat NPB berkisar 4 jam setiap pekerja per tahun. Pada pekerjaan perawatan lapangan golf di PT. X, gangguan muskuloskeletal (termasuk gangguan NPB) menyebabkan bertambahnya kerugian perusahaan akibat bertambahnya biaya pengobatan yang harus dikeluarkan dan juga bertambahnya hari kerja yang hilang. Berdasarkan hal ini, sangatlah menguntungkan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan nyeri punggung bawah pada pekerja perawatan lapangan golf.
Metode : Disain penelitian adalah studi kros seksional. Jumlah responden 111 orang dipilih secara stratified random sampling dari kelompok pekerja perawatan lapangan golf. Pengumpulan data berdasarkan wawancara, pemeriksaan fisik dari pengamatan baik posisi tubuh waktu bekerja (BRIEF Survey) maupun adanya pajanan getaran seluruh tubuh, yang dilaksanakan bulan Mei-Agustus 2005.
Hasil : Prevalensi NPB pada penelitian ini 56,75 %. Faktor yang memiliki hubungan bermakna dengan NPB adalah kebiasaan olahraga (OR suaian : 4,829 ; 95 % CI : 1,927 - 12,050), berikutnya pelatihan kerja (OR suaian: 0,172; 95% CI: 0,051-0,584) dan jenis pekerjaan (OR suaian: 2,358 ; 95 % Cl ; 1,095 - 5,078). Hasil pengamatan waktu kerja menunjukkan bahwa kegiatan kerja pada bagian perawatan lapangan golf merupakan kegiatan yang dinamis dan bervariasi. Para pekerja tidak harus terus menerus dalam posisi membungkuk, demikian juga pekerja dengan peralatan mesin yang menyebabkan getaran seluruh tubuh, tidak terus menerus terpajan getaran karena dapat beristirahat.
Kesimpulan dan Saran : Ada hubungan bermakna antara kebiasaan berolahraga, pelatihan kerja dan jenis pekerjaan dengan terjadinya nyeri punggung bawah. Kegiatan-kegiatan olahraga bagi para pekerja perawatan lapangan golf perlu dilanjutkan untuk meningkatkan pencegahan terjadinya NPB. Disamping itu perlu diupayakan pelatihan kerja yang terkait dengan upaya K3.

Background: Low back pain is an occupational health problem, which is most costly. Low back pain is most frequent cause of activity limitation in people younger than 45 years of age, and the second most frequent reason for physician visits. Every year, about 2% of employed population loses time from work because of low back pain and that lost time averages 4 hours per worker per year. Among the employees of golf course maintenance in P.T. X, the musculoskeletal disorders (which involve low back pain) cause to decrease the profit of the company by increasing the total expenses for the cost of employee?s health care and the time away from work. Based on this problem, it is so benefit to know sonic factor, which found among (he job of golf course maintenance that can be the related factor to low back pain.
Method: The design of this research is cross sectional study. Hundred eleven respondent were selected from 265 of total golf course maintenance?s workers. Data was collected through conducting interview, filling out questionnaire, performing physical examination, and observation of working posture (BRIEF Survey) or whole body vibration in working time duration, that took time from May until August 2005.
Result: Prevalence of low back pain in this study was 56,75% (63 persons of 111 respondents). The physical exercise behavior relates to low back pain significantly (adjusted OR: 4.829; 95% CI: 1.927-12.050), also the job training (OR:0. 172; 95% CI 0.051-0.584) and the occupation (OR: 2.358; 95% CI: 1.095-5.078). Observation in working time duration showed that the job of golf course maintenance were dynamic and varied. The workers had not to be always in flexi position, neither to be always exposed to whole body vibration; they could take a rest any time.
Conclusion and suggestion: This study revealed that the factor that related to low back pain is physical exercise behavior, job training and the occupation. The program of physical exercise should be continued to decrease the prevalence of low back pain among worker of golf course maintenance. It is also necessary to modify the content of the work method in job training in accordance with the aspect of occupational safety and health.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T16210
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lelitasari
"Latar belakang : Terpajan pelarut organik merupakan kejadian sehari-hari yang dialami oleh banyak pekerja. Pelarut organik banyak digunakan dalam proses pembuatan alas kaki disektor formal maupun informal. Menurut beberapa penelitian beberapa jenis pelarut organik mempunyai sifat neurotoksik sehingga perlu deteksi gejala-gejala tersebut yang mungkin timbul pada para pekerja. Kuesioner Swedish Q16 adalah kuesioner deteksi dini yang paling sering digunakan untuk penupisan pekerja yang terpajan pelarut organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gejala neurotoksik akibat pajanan pelarut organik menggunakan Kuesioner Swedish Q16, serta mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi seperti : umur, pendidikan, masa kerja, status gizi, pemakaian APD, kebiasaan minum alkohol, merokok, cuci tangan, makan minum di tempat kerja dan hasil pemantauan kadar pelarut organik di lingkungan,kerja.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan subyek penelitian 138 orang pekerja alas kaki di sektor informal Ciomas Bogor. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan pengamatan langsung, sedangkan lingkungan kerja dilakukan dengan pengukuranpersonal sampling dan hasilnya diperiksa menggunakan teknik Gas Chromatography. Gejala neurotoksik dideteksi menggunakan kuesioner Swedish Q16. Pengumpulan data dilakukan pada bulan September-Oktaber 2006. Hasilnya diolah menggunakan program statistik SPSS 11,5.
Hasil : Hasil identifikasi lem didapatkan lem kuning mengandung : toluen (45,3%), benzen (5,18%) dan metil etil keton (18,68%), lem putih mengandung : toluen (41,31%), benzen (3,52%) dan aseton (19,24%). Kadar toluen di lingkungan kerja rata-rata 1,12 ppm, tertinggi 2,48 ppm dan terendah 0,33 ppm. Keluhan terbanyak kesemutan (62,3%), sakit kepala (62,3%), mudah Ietih (56,5%). Prevalensi gejala neurotoksik pads subyek penelitian sebesar 55,8%. Pada analisis bivariat faktor umur, masa kerja dan IMT memiliki hubungan bermakna terhadap terjadinya gejala neurotoksik. Setelah dilakukan analisis multivariat didapatkan umur < 28 tahun memiliki risiko 6 kali lipat untuk mengalami gejala neurotoksik. (p = 0,000; OR = 6,235). Penieriksaan finger tapping test dilakukan secara sub sampling pada 53 subyek dan dipemleh basil tidak normal pada tangan kanan 47,2% dan tangan kiri 43,3%.
Kesimpulan : Prevalensi gejala neurotoksik pada pekerja industri alas kaki sektor informal , Ciomas , Bogor yang terpajan pelarut organik sebesar 55,8%. Faktor umur berhubungan dengan terjadinya gejala neurotoksik (OR = 6,235 ; p = 0,000).

Background : Exposured by organic solvent is form of occurrence day by day for many workers. Organic solvent is used in many process on footwear manufacture both formal and informal sector. According to several studies , many organic solvent has neurotoxic char tcterisl it:, so need to early detection for symptoms that influences to workers. The Swedish Q16 is a questionnaire that often use for workers screening from exposured by organic solvent. The goal of this study is to identification of glue, prevalence neurotoxic symptoms cause by organic solvent exposure, with Swedish Q16 Questionnaire, and to know factors of influences as : age, education, working periode, body mass index, using of PPE, drink of alcohol, washing hand, smoking, eat and drink at workplace and organic solvent level in workplace.
Method : The design of this study was cross sectionai,and the total number of sample were 138 footwear workers. Data collecting was conducted to interview, direct monitoring and measuring personal sampling at workplace which checking by Gas Chromatography technique. Neurotoxic symptoms detected by Swedish Q16 Quetionnaire. Data collecting was done on September-October 2006. All data research result processing by Statistic Program SPSS version 11.5.
Result : Identification of glue has result that content of yellow glue are toluene (45,3%), benzene (5,18%) dan metyl etyl ketone (18,68%), white glue content are : toluene (41,31%), benzene (3,52%) dan acetone (19,24%). Degree of toluene at workplace was average 1,12 ppm, and range 2,48 ppm to 0,33 ppm. Highest complaint from subject are : tingling ((62,3%), headache (62,3%), fatigue (56,5%). Study's subject neurotoxic symptoms prevalence was 55,8%. On bivariate analysis, age factor, work periode, body mass index, have related to neurotoxic symptoms outcome. On multivariate analysis be found that age < 28 years have risk six time to experience with neurotoxie symptoms, (p0,000; OR = 6,235). Examination on finger tapping test to be done as sub sampling on 53 subject and the result is unnormally on right hand 47,2% and left hand 43,3%.
Conclutions : Prevalence of neurotoxicity symptoms in informal sector footwear workers at Ciomas Bogor was 55,8%. Age factor was related to the neurotoxic symptoms (OR = 6,235 ; p = 0,000).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T58507
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ariningsih
"ABSTRAK
Latar Belakang. Pajanan rendah xylene dapat menyebabkan gangguan neurotoksik. Upaya untuk pencegahan dampak neurotoksik tersebut antara lain deteksi gejala dini neurotoksik. Penelitian tentang pajanan rendah xylene dalam jangka waktu lama pada pekerja di Indonesia belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan pajanan rendah xylene dengan terjadinya gejala dini neurotoksik. Metode. Desain cross sectional, dilakukan pada 97 orang pekerja terpajan xylene. Tingkat pajanan xylene ditentukan dengan metode semikuantitatif. Menggunakan data sekunder pemeriksaan kesehatan berkala pekerja dan hasil pengisian kuesioner Swedish Q16. Hasil. Prevalensi gejala dini neurotoksik didapatkan pada 19,6% pekerja dengan pajanan rendah xylene dalam jangka waktu lama. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pajanan (exposure rating) xylene dengan terjadinya gejala dini neurotoksik (p = 0,036). Faktor umur, status gizi, masa kerja, kebiasaan merokok, minum kopi dan alkohol, serta penggunaan APD tidak berhubungan bermakna dengan gejala dini neurotoksik. Kesimpulan. Pajanan rendah xylene berhubungan dengan terjadinya gejala dini neurotoksi

ABSTRACT
Background. Low exposure of xylene can cause neurotoxic disorders. Early detection by using Swedish Q16 questionnaire can help prevent neurotoxic effects. There has only been a few study on long-term, low xylene exposure in Indonesian workers. The aim of this study is to investigate the relationship between low xylene exposure and early neurotoxic symptoms. Method. The cross-sectional study was carried out on 97 workers exposed to xylene. The exposure level was determined with semiquantitative methods, using secondary data from annual medical check-up from workers and Swedish Q 16 questionnaires. Results. Early neurotoxic symptoms prevalence were found in 19.6% workers who are exposed to low level of xylene in long term. There is a significant relationship between xylene exposure rating (ER) with early neurotoxic symptom (p=0.036). Other factors, including age, nutritional status, period of employment , smoking, alcohol and coffee consumption, and the use of PPE was not significantly associated with early symptom of neurotoxicity. Conclusion. Low xylene exposure is associated with early symptom of neurotoxic.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fani Syafani
"Pendahuluan : Computer vision syndrome (CVS) adalah sekelompok gejala visual yang dialami dalam kaitannya dengan penggunaan komputer. Hampir 60 juta orang menderita CVS secara global, mengakibatkan berkurangnya produktivitas di tempat kerja dan mengurangi kualitas hidup pekerja komputer. 3
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional dengan pekerja analisis komparatif dalam kebijakan peraturan unit paparan sinar komputer lebih dari 6 jam tanpa latihan ergonomis. Sampel penelitian adalah pekerja di Unit Kebijakan Operasional dari paparan Program terhadap sinar komputer lebih dari 6 jam dengan latihan ergonomis. Hasilnya tidak ada keluhan kelelahan mata, penglihatan kabur, sakit kepala, nyeri di bahu, leher.
Hasil Penelitian ; Manifestasi Computer Vision Syndrome adalah masalah kesehatan umum yang harus dikelola oleh spesialis kedokteran okupasi. Ada beberapa jenis latihan fisik yang bisa diterapkan dalam pengaturan kerja kantor. Latihan fisik tersebut adalah; latihan kekuatan khusus dengan latihan relaksasi / postur minimal 3-4 kali dalam satu minggu. Latihan ini telah terbukti memiliki dampak klinis untuk mengurangi gejala CVS pada pekerja.
Kesimpulan : Ketidaknyamanan visual dan gangguan otot-kerangka adalah masalah kesehatan yang paling terutama di usia produktif pekerja. Ketidaknyamanan visual dan gangguan otot-kerangka dianggap sebagai prioritas dalam kesehatan kerja. Dari ilustrasi kasus, kemudian disusun pertanyaan klinis tentang efektivitas latihan fisik untuk manifestasi sindrom penglihatan komputer.

Introduction: Computer vision syndrome (CVS) is a group of visual symptoms experienced in relation to the use of computers. Nearly 60 million people suffer from CVS globally, resulting in reduced productivity at work and reduced quality of life of the computer worker. Symptoms of CVS includes; dry and irritated eyes, eye strain/fatigue, blurred vision, red eyes, burning eyes, excessive tearing, double vision, headache, light/glare sensitivity, slowness in changing focus and changes in colour perception. In the twenty first century personal computers are one of the commonest office tools, used in almost all institutions/organizations, for a wide variety of vocational and/or non-vocational purposes. Nearly 60 million people suffer from CVS globally, resulting in reduced productivity at work and reduced quality of life of the computer worker. 3
Methods: This research used a cross-sectional methods. This research used cross-sectional study with a comparative analyse workers in unit regulatory Policies exposure to computer rays more than 6 hours without exercise ergonomic. The sample of the research are workers in Operational Policy Unit of the Program exposure to computer rays more than 6 hours with exercise ergonomic. The outcomes are no complaints eye fatigue, blurred vision, headache, pain in the shoulders, neck.
Results: It is important to provide promotive, preventive from manifestation of CVS and planning a program to improve the quality of health service in workplace setting . Manifestation of Computer Vision Syndrome is a common health issue that have to be managed by the occupational medicine specialist .There are several type of physical exercise could be apply in office work setting.The physical exercise are; specific strength training with relaxation/posture exercises 20 minutes minimal 3-4 times in one week.The exercise have been proven to have a clinical impact to reduce CVS symptoms in workers.
Conclusion: Visual discomfort and musculo-skeletal disorders are the most a health problem especially in productive age of workers. This condition can affect significant direct and indirect cost also decreasing productivity company. Because of this impact, visual discomfort and musculo-skeletal disorders considered a priority in occupational health. From case illustration, then composed a clinical question about the effectiveness of physical exercise for manifestation of computer vision syndrome, in office workers. Literature search were conducted to answer clinical question and found four articles who meet the inclusion criteria. All articles have been assessed for validity, importance and applicability in workplace (in office workers), so early interventions with promotive preventive by information about ergonomic posture and practices or exercise ergonomic regularly that can be suggest in office work’s health and safety planning.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Boy Hidayat
"Latar belakang. Paparan organofosfat (OP) telah diketahui menyebabkan beberapa penyakit neurologis. Paparan OP yang tinggi dapat ditemukan pada pekerjaan seperti pekerja pestisida. Penelitian saat ini menunjukkan bahwa paparan OP kronis juga dapat menyebabkan gangguan mental, seperti depresi.
Metode. Pencarian literatur dilakukan pada database seperti Pubmed, Cochrane Library, dan Science Direct dengan kata kunci pekerja pestisida, organofosfat, dan depresi. Tiga artikel dipilih dan dinilai secara kritis.
Hasil. Satu studi kasus-kontrol menunjukkan bahwa pasien dengan depresi memiliki rasio odds sebanyak 1,34 untuk terkena OP. Satu studi kohort prospektif menunjukkan bahwa pekerja yang terpapar OP 1,17 lebih mungkin menderita depresi di masa depan. Satu studi cross-sectional menunjukkan bahwa pasien dengan depresi memiliki rasio odds prevalensi sebanyak 5,39 untuk terkena OP.
Kesimpulan. Paparan organofosfat kronis merupakan faktor risiko untuk mengembangkan depresi pada pekerja pestisida.

Background. Organophosphate (OP) exposure has been well known to cause several neurological diseases. High OP exposure can be found at occupations such as pesticide workers. Current research suggests that that chronic OP exposure may also cause mental disorder, such as depression.
Method. Literature searching was done on database such as Pubmed, Cochrane Library, and Science Direct with pesticide workers, organophosphate, and depression as the keywords. Three articles were selected and critically appraised.
Result. One case-control study showed that patients with depression had odds ratio as much as 1.34 to be exposed to OPs. One prospective cohort study showed that OP-exposed workers were 1.17 more likely to suffer from depression in the future. One cross-sectional study showed that patients with depression had prevalence odds ratio as much as 5.39 to be exposed to OPs.
Conclusion. Chronic organophosphate exposure is a risk factor for developing depression in pesticide workers.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Harumiti Ramli
"Pekerja bagian produksi di perusahaan elektronik bekerja dengan sistim ban berjalan sehingga banyak melakukan gerakan berulang lengan alas dalam menyelesaikan tugasnya. Gerakan berulang bila dilakukan secara terus menerus dan dengan frelcuensi yang tinggi dapat menyebabkan timbulnya Work Related Musculoskeletal (WMSD), salah satunya adalah Sindroma Nyeri Bahu (SNB). Oieh karena itu dilakukan penelitian ini dengan tujuan mengetahui prevalensi serta faktor-faktor apa yang berhubungan dengan timbulnya SNB.
Metoda penelitian :
Desain. penelitian adalah k:ros seksional/potong lintang, dengan membandingkan prevalensi di bagian produksi dan quality control pada departemen produksi. Populasi adalah pekerja wanita. Didapatkan sampel sebesar 106 orang dari bagian produksi dan 48 orang dari bagian quality control. Pengumpulan data dilakukan antara bulan Maret sampai Juni 2005. Data diperoleh melalui wawancara dengan kuesioner, observasi dan pemeriksaan fisik,termasuk tes neurologi. Data suhu lingkungan kerja didapatkan dari data sekunder.
Basil penelitian :
Didapatkan prevalensi SNB sebesar 29,2 % untuk seluruh departemen produksi, dengan prevalensi di bagian produksi 36,8 % dan quality control 12,5 %. Faktor yang berhubungan dengan SNB adalah jenis pekerjaan, kebiasaan olah raga, riwayat pekerjaan, status reproduksi, jenis gerakan lengan was > 45 ° dan jumlah gerakan berulang. Faktor jumlah gerakan berulang kategori tinggi (>1.200 gerakan/jam) merupakan faktor yang paling berperan dengan SNB (OR suaian =3,749 ; 95 % CI
1,45-9,70)
Kesimpulan dan saran :
Prevalensi SNB di perusahaan ini sebesar 29,2 %. Gerakan berulang kategori tinggi berhubungan bermakna dengan SNB, sehingga perlu dilakukan rotasi kerja antara kedua bagian pekerja tersebut.

Workers in the production department of electronic factory have to work on conveyor line system which requires repetitive movement of upper arm with high frequencies for doing the job. Continuous repetitive movement will cause work related musculoskeletal disorder, one of them is Shoulder Pain Syndrome. This study was conducted to identify the association between Shoulder Pain Syndrome and other related factors.
Methodology :
The design of this study was cross sectional with comparison of two sites production department were production section and quality control section. The selected respondent were 106 workers from production section and 48 workers from quality control section. Data collection was conducted from Mach to June 2005. The data collection method used were guided interviews, observation and physical examination, including neurology test. Room temperature was obtained from secondary data.
Results
The prevalence of Shoulder Pain Syndrome was 29,2 % in the production department, 36,8 % in production section and 12,5 % from quality control section. Several risk factor were related to Shoulder Pain Syndrome such as job description, sport activity, reproduction status, upper arm > 45 degree and frequency of repetitive movement. The determinant variable showed significant relationship with Shoulder Pain Syndrome is the frequency of repetitive movement (OR =3,749 ; 95 % CI =1,45-9,70)
Conclusion and Recommendation :
Prevalence of Shoulder Pain Syndrome was found high among female electronic workers. It was concluded that high repetitive movement had a significant relationship with Shoulder Pain Syndrome, so that job rotation between these two sections is needed.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Heru Sunardjo
"Penelitian MONICA pada tahun 1988 dan 1993 juga mendapatkan prevalensi merokok yang tinggi di kalangan laki-laki yakni di atas 50%, tetapi pada tahun 2000 didapatkan penurunan menjadi 38,5%, sedang tahun 2000 mendapatkan prevalensi hipertensi masing-masing sebesar 17,9%.7, prevalensi hiperglikemia (gula darah sewaktu 200mg%) sebesar 3,1%, prevalensi obesitas (IMT 30 kg/mz) pada laki-laki sebanyak 6,1%, dan pada perempuan sebanyak 15,9%. Hasil SKRT 2001, prevalensi IMT 25 kg/m2 pada laki-laki dan perempuan usia 15 - lebih 65 tahun masing-masing 8,1% dan 13,4%, sedangkan pada laki-laki usia 35-54 tahun 13,4%, yang rutin berolah raga sebanyak 59,2%. Penelitian pada penderita yang dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita pada tahun 1993 menunjukkan 90% penderita infark miokard dalam kehidupan sehari-harinya tidak berolahraga atau tergolong pekerja dengan aktifitas fisik ringan.
Data Kesehatan HRD PT X tentang kematian umum pada pekerja tahun 2004 adalah 4.82%o, termasuk di dalamnya angka kematian pekerja akibat Penyakit Jantung koroner 3.62%o, sedang dari total biaya kesehatan, sebesar 47% digunakan untuk pembiayaan penyakit degeneratif terutama penyakit kardiovaskuler yang hanya diderita 18% populasi pekerja. atas dasar gambaran risiko P.TK, tingkat kebugaran, angka kematian, dan pembiayaan yang terus meningkat secara tinier, maka analisis dislipidemia sebagai kofaktor penyakit kardiovaskular, dan tingkat kebugaran menarik untuk dilakukan pada populasi terbatas pekerja di PT X, guna mendapatkan variabel-variabel yang terkait dengan faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam upaya promotif dan preventif kesehatan pekerja, misalnya penyuluhan olah raga yang teratur dan ter ukur, penyuluhan pola makan seimbang dll.
Dengan keadaan tersebut diatas kami ingin mengetahui apakah ada hubunganya antara tingkat kebugaran dengan dislipidemia. Diharapkan dari hasil penelitian digunakan untuk melakukan upaya promotif dan preventif kesehatan pekerja dengan tepat dan terarah, sehingga tujuan untuk menurunkan faktor risiko PJK, angka kematian, meningkatkan derajat kesehatan pekerja dan produktifitas serta menekan biaya kesehatan.
PERMASALAHAN:
Berdasarkan data pemeriksaan kesehatan berkala (Medical Check Up) pekerja di PT X pada bulan September 2005 - Desember 2006. Sampai saat ini belum diketahui prevalensi dislipidemia dan faktor faktor risiko yang lain.
PERTANYAAN PENELITIAN
1. Berapa prevalensi dislipidemia pekerja laki-laki di PT X
2. Bagaimana sebaran karakteristik pekerja laki-laki di PT X
3. Bagaiman sebaran faktor risiko terjadinya dislipidemia pada pekerja laki-laki di PT X.
TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan umum : Meningkatkan derajat kesehatan pekerja melalui peningkatan kebugaran dengan Cara pengendalian risiko.Penelitian MONICA pada tahun 1988 dan 1993 juga mendapatkan prevalensi merokok yang tinggi di kalangan laki-laki yakni di atas 50%, tetapi pada tahun 2000 didapatkan penurunan menjadi 38,5%, sedang tahun 2000 mendapatkan prevalensi hipertensi masing-masing sebesar 17,9%.7, prevalensi hiperglikemia (gula darah sewaktu 200mg%) sebesar 3,1%, prevalensi obesitas (IMT 30 kg/mz) pada laki-laki sebanyak 6,1%, dan pada perempuan sebanyak 15,9%. Hasil SKRT 2001, prevalensi IMT 25 kg/m2 pada laki-laki dan perempuan usia 15 - lebih 65 tahun masing-masing 8,1% dan 13,4%, sedangkan pada laki-laki usia 35-54 tahun 13,4%, yang rutin berolah raga sebanyak 59,2%. Penelitian pada penderita yang dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita pada tahun 1993 menunjukkan 90% penderita infark miokard dalam kehidupan sehari-harinya tidak berolahraga atau tergolong pekerja dengan aktifitas fisik ringan.
Data Kesehatan HRD PT X tentang kematian umum pada pekerja tahun 2004 adalah 4.82%o, termasuk di dalamnya angka kematian pekerja akibat Penyakit Jantung koroner 3.62%o, sedang dari total biaya kesehatan, sebesar 47% digunakan untuk pembiayaan penyakit degeneratif terutama penyakit kardiovaskuler yang hanya diderita 18% populasi pekerja. atas dasar gambaran risiko P.TK, tingkat kebugaran, angka kematian, dan pembiayaan yang terus meningkat secara tinier, maka analisis dislipidemia sebagai kofaktor penyakit kardiovaskular, dan tingkat kebugaran menarik untuk dilakukan pada populasi terbatas pekerja di PT X, guna mendapatkan variabel-variabel yang terkait dengan faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam upaya promotif dan preventif kesehatan pekerja, misalnya penyuluhan olah raga yang teratur dan ter ukur, penyuluhan pola makan seimbang dll.
Dengan keadaan tersebut diatas kami ingin mengetahui apakah ada hubunganya antara tingkat kebugaran dengan dislipidemia. Diharapkan dari hasil penelitian digunakan untuk melakukan upaya promotif dan preventif kesehatan pekerja dengan tepat dan terarah, sehingga tujuan untuk menurunkan faktor risiko PJK, angka kematian, meningkatkan derajat kesehatan pekerja dan produktifitas serta menekan biaya kesehatan.
PERMASALAHAN:
Berdasarkan data pemeriksaan kesehatan berkala (Medical Check Up) pekerja di PT X pada bulan September 2005 - Desember 2006. Sampai saat ini belum diketahui prevalensi dislipidemia dan faktor faktor risiko yang lain.
PERTANYAAN PENELITIAN
1. Berapa prevalensi dislipidemia pekerja laki-laki di PT X
2. Bagaimana sebaran karakteristik pekerja laki-laki di PT X
3. Bagaiman sebaran faktor risiko terjadinya dislipidemia pada pekerja laki-laki di PT X.
TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan umum :
Meningkatkan derajat kesehatan pekerja melalui peningkatan kebugaran dengan Cara pengendalian risiko.
2. Tujuan khusus :
a) Diketahuinya prevalensi dislipidemia pada pekerja laki-laki PT X
b) Diketahuinya hubungan dislipidemia dengan kebugaran pada perkerja laki-laki di PT X.
c) Diketahuinya sebaran karakteristik responden berdasarkan masa kerja jabatan dan tingkat pendidikan pada pekerja laki-laki di PT X.
d) Diketahuinya sebaran faktor risiko dislipidemia; IMT, kebiasaan merokok, kadar gula darah, tingkat kebugaran pada pekerja laki-laki di PT X.
e) Diketahui hubungan faktor risiko dengan dislipidemia pada pekerja laki-laki di PT X.2. Tujuan khusus :
a) Diketahuinya prevalensi dislipidemia pada pekerja laki-laki PT X
b) Diketahuinya hubungan dislipidemia dengan kebugaran pada perkerja laki-laki di PT X.
c) Diketahuinya sebaran karakteristik responden berdasarkan masa kerja jabatan dan tingkat pendidikan pada pekerja laki-laki di PT X.
d) Diketahuinya sebaran faktor risiko dislipidemia; IMT, kebiasaan merokok, kadar gula darah, tingkat kebugaran pada pekerja laki-laki di PT X.
e) Diketahui hubungan faktor risiko dengan dislipidemia pada pekerja laki-laki di PT X."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007
T21139
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>