Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 33 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Indah Anindya
"ABSTRACT
In Indonesia, the number of children who commit crimes and stay in Juvenile Prison is increasing every year. Actually, there is a major cause of children committing crimes, which are low self-concept and sufficient attention. Juvenile Prison as an institution that serves to educate criminals must be able to provide what they need, not just to confine and punish them. Open space based on research has proven to have a positive effect on the child's mental healing process (Wilson,1984). Open space is also believed to be a place where children can find identity, because during adolescence, they are incessantly seeking their identity. Therefore, the making of this thesis is to review the use of open space in Tangerangs Juvenile Prison and its effect on the childs mental recovery process. 

ABSTRACT
Di Indonesia, jumlah anak yang melakukan tindakan kriminal dan menetap di penjara anak semakin meningkat tiap tahunnya. Sebenarnya, penyebab utama anak remaja melakukan tindakan kriminal adalah karena rendahnya konsep diri dan kurangnya perhatian. Penjara anak sebagai institusi yang berfungsi untuk membina anak harus bias memberikan apa yang dibutuhkan remaja, bukan hanya untuk menghukum dan mengurung mereka. Ruang terbuka berdasarkan penelitian terbukti mampu memberikan efek positif pada proses penyembuhan mental anak (Wilson,1984). Ruang terbuka juga dipercayaadalah tempat dimana remaja mencari identitas mereka, karena selama masa remaja, mereka sedang marak-maraknya mencari identitas diri. Oleh karena itu, pembuatan skripsi ini adalah untuk meninjau kegunaan ruang terbuka di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Tangerang dan efeknya terhadap proses pemulihan mental anak. "
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Brega Bernardhi Pamuji
"ABSTRAK
Arsitektur tidak hanya sebatas bangunan tinggi, perumahan, atau
infrastruktur. Efek psikologi, lingkungan, manusia, dan lain sebagainya juga dapat
dikategorikan atau berhubungan langsung dengan arsitektur. Sebagai arsitek kita
tidak hanya merancang sebuah ide atau design, tetapi diperlukan untuk berpikir
bagaimana efek tersebut terhadap sekitar, terutama perilaku manusia dalam
melakukan kejahatan. Karena itu penulisan ini akan membahas mengenai seperti
apakah pengaruh dari aspek arsitektur dan lingkungan yang rawan kejahatan yang
membuat perilaku manusia menjadi ingin melakukan kejahatan di tempat yang
rawan tersebut dibanding di tempat atau di lingkungan lain. Penulisan akan
menggabungkan analisis dari yang membedakan tempat-tempat rawan tersebut
dibanding tempat lainnya, selain itu analisis dan eksplorasi didasarkan pada
keadaan dan aspek arsitektur yang terletak di kota Jakarta, Indonesia.

ABSTRACT
Architecture is not only limited to high-rise buildings, housing, or perhaps
infrastructure. But the psychological effects, environmental, human, and so forth
can also be categorized or directly related to architecture. As architects we are not
only thinking of designing an idea or design, but it is also necessary to think how
such effects on the surroundings, especially human behavior in committing a
crime. Therefore, this paper will discuss what kind of influence on the aspects of
architecture and environments that are prone to be a place of crime and make
human behavior to be wanting to commit crimes in such places. Certainly, the
writing will combine the analysis of what distinguishes these vulnerable areas
from elsewhere. Besides the analysis and exploration is based on the
circumstances and aspects of architecture located in the city of Jakarta, Indonesia."
2016
S63216
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Atika Widyaputri
"Wellbeing atau kesejahteraan manusia menjadi faktor penting dalam membentuk kondisi merasa baik serta memaksimalkan apa yang dirasakan orang tentang kehidupan mereka (Seligman, 2011). Desain lingkungan di sekitar kita mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan kita, dan dapat memiliki implikasi jangka panjang untuk kualitas hidup Hal terebut harus dapat menyinggung orang dalam perilaku positif, yang dalam hal ini menggunakan penelitian NEF tentang lima perilaku menyebabkan kesejahteraan atau dikenal sebagai Five Ways of Wellbeing. Memiliki tujuan prioritas menjadi tempat untuk mempromosikan wellbeing, skripsi ini difokuskan pada eksistensi perilaku Five Ways of Wellbeing dalam beberapa museum yang dianalisa. Kualitas desain museum yang menjadi komponen untuk membentuk perilaku tersebut, akan menjadi alat penilaian untuk membuktikan apakah museum yang diobservasi sudah menjadi museum yang mampu memenuhi fungsinya atau tidak.

Wellbeing has become an important factor in shaping the state of feeling good and maximizing how people feel about their life (Seligman, 2011). The design of our built environment affects our health and wellbeing, and can have long-term implications for quality of life. It should "nudge" people into positive behaviors, which in this case are using the (NEF)'s current research on five behaviors that could lead to wellbeing or known as the Five Ways of Wellbeing. Having a priority purpose of becoming a place to promote wellbeing, this undergraduate thesis focuses on the existence of Five Ways of Wellbeing behaviors inside several museums. The components that are used for shaping those behaviors, would become an assessment tool for National Museum of Indonesia as it is already becoming a museum that able to fulfill its function."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S63705
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Olla Varalintya Yochanan
"Dengan tingkat kemampuan membeli yang cenderung rendah, meningkatnya harga rumah, sifat konsumtif dan juga keinginan untuk hidup mandiri, generasi millennial abad ke 21 membutuhkan sebuah solusi inovatif. Tiny House telah menjadi alternatif yang efektif untuk gaya hidup yang efisien untuk para millennial. Tiny House mengurangi atau mengecilkan ruangan yang tidak terpakai atau berfungsi supaya dapat menjadi lebih efisien. Rumah ini dapat mengoptimalkan fungsi dari sebuah ruang melalui desain yang cerdas dan dual use.
Dikarenakan oleh ukurannya yang lebih kecil, Tiny House dapat mengurangi biaya perawatan dan operasional. Sehingga, para millennial dapat menghemat uang dan mendapatkan kebebasan finansial. Selain ini, Tiny Living dapat membantu mengubah gaya hidup mereka dengan berbagai cara seperti tidak menjadi konsumtif.
Dalam tulisan ini, 100 millennial Indonesia diminta untuk menginformasikan gaya hidup mereka saat ini, permasalahan dalam rumah mereka dan juga opini mereka terhadap Tiny House melalui kuesioner. Dengan demikian, skripsi ini berfokus pada analisa mengenai apakah gerakan Tiny House dapat diterapkan untuk millenial di Indonesia atau tidak.

With the tendency of low affordability, increasing house prices, consumptive traits and also the desire to live independently, the 21st century millennials are in need of an innovative solution. Tiny Houses have become an effective alternative for an efficient way of living for the millennials. These houses eliminate unused space in order to become more efficient. Tiny Houses are able to fully optimize functionality through ingenuity and dual use designs.
Due to its smaller size, they require less maintenance and operational costs which can help millennials save money and gain financial freedom. In addition to this, "Living Tiny" helps people change their lifestyle in many different ways such as being less consumptive.
In this writing, 100 Indonesian millennials were asked to be informants about their current way of living, housing issues and their thoughts on Tiny Houses through questionnaires. By doing so, this thesis focuses on analyzing whether or not the Tiny House movement is applicable for Indonesia's millennials.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S63707
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rissandi Milarni
"Penulisan ini bertujuan untuk memahami bagaimana sebuah lingkungan berkonsep lsquo;enabling environment rsquo; dapat mengakomodasi mobilitas dari penyandang mobility impairments. Proses pemahaman ini ditelusuri melalui studi mengenai pembentukan lsquo;enabling environment rsquo; ditinjau dari elemen-elemen akses berdasarkan pendekatan accessible design dengan standar spesifikasi elemen berdasarkan the American with Dissabilities Act ADA dan DIN 18040. Elemen akses yang dapat merespon alat bantu yang digunakan penyandang dan dimensi ruang yang tersedia, akan menentukan tingkat aksesibilitas lingkungan. Elemen akses yang sesuai dengan standar spesifikasi, akan menentukan kualitas aksesibilitas lingkungan. Tingkat dan kualitas aksesibilitas menjadi parameter derajat akomodasi atau degree of the enabling environment. Contoh kasus dilakukan dengan menganalisis bangunan eksisting secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari analisis untuk mengetahui derajat akomodasi pada bangunan tesebut.
This undergraduate thesis focuses on understanding how an environment concept of 39 enabling environment 39 can accommodate the mobility of persons with mobility impairments. The process of understanding is traced through the study of creating the 39 enabling environment 39 in terms of the access elements based on accessible design with the specification standard of the elements by the American with Dissabilities Act ADA and DIN 18040. The access elements that can respond the mobile devices and dimensions of the available space, will determine the level of accessibility of the environment. The access elements in accordance with the specification standard, will determine the quality of the accessibility of the environment. The level and quality of accessibility become into parameter degree of the enabling environment. Examples of case is done by analyzing the existing building qualitatively and quantitatively. The results of the analysis are determine the degree of accommodation of the building. "
2016
S66221
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cindy Thearas
"ABSTRAK
Diagram merupakan salah satu tools yang sangat umum digunakan dalam proses desain. Dalam proses desain, diagram berperan sebagai generator atau alat generatif. Mencari bagaimana diagram beroperasi dalam proses desain merupakan tujuan dari penulisan skripsi ini. Dalam skripsi ini akan dibahas mengenai peran diagram sebagai mesin abstrak melalui proses dan karakternya sebagai mesin abstrak. Proses reduksi dan proliferating dalam diagram bekerja secara terus-menerus dalam mengolah matter, yang merupakan input utama. Melalui proses reduksi dan proliferating, diagram melakukan proses konstruksi pemahaman baru secara terus menerus, yang dapat dilihat sebagai proses desain yang dilakukan dalam diagram. Pemahaman ini kemudian dipakai untuk membaca proses desain pada House IV oleh Peter Eisenman. Proses desain yang dilihat dari diagram House IV terjadi melalui operasi transformasi dan operasi Boolean.

ABSTRACT
Diagram is a common tool used in the design process. Diagram acts as a generator or a generative tool in the design process. The purpose of this paper is to look for how the diagram operates in the design process. This paper will discuss the role of the diagram as an abstract machine through the processes in it, as well as the characteristics of the abstract machine. The reduction and the proliferating process in the diagram worked continuously in processing the matter, which is the main input. Through the processes of reduction and proliferating, diagrams construct a new understanding of matter continuously, which can be seen as a design process done in a diagram. This comprehension is then used to read the design process of House IV by Peter Eisenman. The design process seen in the diagrams of House IV by Peter Eisenman is done with the transformation and Boolean operation."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S66418
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Athiyah Alatas
"ABSTRAK
Skripsi ini membahas tentang aktivitas dan proses interaksi anak-anak dengan ruang luar taman kota yang membentuk berbagai jenis affordance yang dapat memicu terjadinya risky play. Untuk memahami proses mempersepsikan affordance pemicu risky play pada anak-anak, dilakukan pembahasan tentang teori proses perkembangan anak-anak perkembangan kognitif, perkembangan fisik , bagaimana anak-anak bermain dan berinteraksi di ruang luar serta klasifikasi risky play. Dari hasil observasi, didapatkan bahwa jumlah dan fungsi dari elemen di ruang luar yang banyak tidak selalu menghasilkan affordance pemicu risky play yang lebih banyak, sehingga menunjukkan bahwa karakteristik dari suatu elemen yang berada di ruang luar lebih berperan penting dalam membentuk berbagai potensi affordance yang dapat memicu terbentuknya risky play di ruang luar.

ABSTRACT
This thesis discusses about children rsquo s activity and interaction process in outdoor context urban park that cause various forms of affordances that triggers risky play. In order to understanding the process of perceiving affordances that triggers risky play on children, the explanation of children development process theory cognitive development, physical development , how children play and interact in outdoor context and classification of risky play are done. Based on observation result, number and function of elements in outdoor context doesn rsquo t guarantee more variety of affordances that triggers risky play, that shows characteristics of outdoor elements are more important in forming various potential affordance that triggers risky play in outdoor context."
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Kusumawardani
"Ruang publik merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan kota, termasuk pula ruang-ruang untuk tumbuh, kembang dan bermain anak-anak. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merangkum kebutuhan tersebut dalam sebuah proyek bernama Ruang Publik Terpadu Ramah Anak RPTRA . RPTRA merupakan ruang publik yang mengintegrasikan berbagai fasilitas dan kegiatan yang ramah bagi anak-anak dalam satu tempat di kawasan pemukiman padat penduduk. Dalam proses mewujudkannya terdapat relasi kuasa antara aktor-aktor yang terlibat membentuk RPTRA menjadi seperti sekarang ini. Kuasa yang mereka praktikkan melalui keputusan-keputusan terkait perwujudan RPTRA menentukan arah pembangunan RPTRA itu sendiri. Skripsi ini membahas praktik kuasa pada proses perwujudan RPTRA dan bagaimana kuasa yang dilakukan oleh tiap-tiap aktornya dapat membentuk arsitektur. Tulisan ini menemukan bahwa RPTRA-RPTRA yang telah terbangun di Jakarta tidak semuanya sesuai dengan esensi awal yang dicanangkan sebagai akibat dari produksi massal. Hal ini menegaskan bahwa bagaimana sebuah arsitektur dirancang, dibangun, digunakan, dan dipersepsikan dapat ditentukan oleh keputusan-keputusan, yang merupakan praktik kuasa, yang mendasarinya.

Public space is an important aspect of urban life, including public spaces for children to grow, develop, and play. The Jakarta Government combined those aspects into a project called Ruang Publik Terpadu Ramah Anak RPTRA . RPTRA is a child friendly public space that integrates a variety of facilities used for many activities in one place and is built in densely populated settlements in Jakarta. During the process of building and making RPTRA, there are power relations among the actors involved that then shapes RPTRA into what it is now. Power that is exercised through the decisions they made concerning the building of RPTRA decides the direction of its building process. This study investigates the exercise of power in the developing process of RPTRA and how the power exercised by its actors shapes architecture. This study found that the RPTRAs that have been built in Jakarta are not all matching with their originally planned essence or purpose as a result of mass production. This emphasizes that basically how architecture is designed, built, used, and perceived can be determined by the exercise of power that underlies it."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S69216
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anissa Larasati Rahmani
"Manusia dan makhluk hidup lainnya seperti hewan ikut berperan dan tinggal dalam sebuah lingkup bangun arsitektur. Akan tetapi, dalam kenyatannya masih banyak pemahaman yang terbatas mengenai kebutuhan hewan dalam lingkup bangun ini yang dapat menyebabkan kondisi wellbeing mereka terganggu. Tulisan ini akan menelusuri bagaimana hewan mengkonstruksi makna dari sebuah lingkup bangun ruang arsitektur. Penelusuran ini dilakukan dengan melihat respons kucing peliharaan sebagai aktor terhadap affordance pada pengaturan surface dan objek yang ada di tiap ruangan rumah. Penelusuran ini dilakukan dengan menambahkan campur tangan aktor lain dan variasi jenis material sebagai aspek tambahan dari luar yang ikut menentukan bentuk respons terhadap affordance. Dari penelusuran tersebut, dapat dipahami bahwa hewan memahami dan memaknai sebuah lingkup bangun arsitektur melalui affordance yang ditawarkan oleh lingkup bangun tersebut. Kemungkinan-kemungkinan aksi yang dihasilkan dari respons terhadap affordance inilah yang akan menjadi penentu bagaimana pada akhirnya hewan dapat memaknai sebuah arsitektur. Hasil penelusuran ini diharapkan dapat menjadi sebuah titik acuan dan arahan untuk mengeksplorasi karya arsitektur yang ramah bagi hewan.

Architecture is not only made to accommodate the needs of human being but also any other living things such as animals. However, there is still a lack of knowledge and practices regarding the needs of animals within architectural space that leads to the degradation of its physical and psychological wellbeing. This writing attempts to explore how the animals perceives and constructs the architectural meaning in order to fills the knowledge gap within architectural practices. In particular, this writing explores the construction of meaning by investigating the case of how domestic cats, as the actors, response the affordance that is contained within the layout of surface and objects. Another factor that responsible in shaping this response are the intervention of another actor human and variation in materials. As a result, it can be understood that animals perceives and interprets an architecture through the affordance of the environment which offered to the animal. Action possibilities as a result of the affordance will determine on how animals interprets an architecture and its meaning. The findings from this exploration would result in a guide or a reference for a better animal friendly architecture."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shofi Syahira Khairunnisa
"ABSTRAK
Skripsi ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana daur hidup material terjadi dan posisi daur hidup material, sebagai bagian dari bangunan berkelanjutan. Daur hidup material merupakan sebuah perjalanan material dari proses pembentukan hingga setelah penggunaan material terjadi. Skripsi ini membahas dua perspektif siklus hidup material yang berbeda, Cradle to Cradle yang bergerak secara sirkular (looping) dan Cradle for Graves yang dapat bergerak secara linear maupun sirkular, namun sengaja kembali kembali ke alam untuk siklus penggunaan lain. Kedua pandangan tersebut sama-sama berangkat dari isu dan konteks arsitektur berkelanjutan. Dalam studi kasus, diambil beberapa preseden dari bangunan arsitektur dengan skala berbeda-beda untuk mengetahui daur material baik Cradle to Cradle dan Cradle for Graves dapat diterapkan dalam bangunan berkelanjutan. Dari studi kasus, daur hidup material pada bangunan ternyata tidak dapat benar-benar sepenuhnya mengikuti daur Cradle to Cradle maupun Cradle for Graves. Beragam perlakuan terhadap material maupun bangunan yang tidak sesuai dengan prinsip daur hidup yang diinginkan menjadi tantangan dan kendala dalam daur hidup material dalam arsitektur berkelanjutan.

ABSTRACT
This thesis aims to describe how the life cycle of materials occurs, how to place the life cycle of materials, and how they are handled by materials in sustainable architecture. The material life cycle is a material journey from the formation process to after material use occurs. This thesis discusses two different material life cycles, Cradle to Cradle that are circular and Cradle for Graves which can move linearly or circularly but are deliberately returned to nature for use by other users. Both of these views depart from the issue and context of sustainable architecture. In the case study, some different scales of architectural precedents were taken without knowing the details of their potential for sustainability to prove how far and relevant both theories, Cradle to Cradle and Cradle for Graves could be applied in world architecture planning practices. The life cycle of material in the building turned out to not be completely cycled in Cradle to Cradle as well as Cradle for Graves. Various considerations of materials and buildings that are not in accordance with the principles of life-cycling are needed and challenging in the life cycle of materials in sustainable architecture."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>