Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 22 dokumen yang sesuai dengan query
cover
M. Darma Muda Setia
"Patofisiologi penuaan pada lansia dan penurunan status fungsional pada kanker akan memberikan dampak terhadap kejadian efek samping yang ditimbulkan karena pemberian kemoterapi. Penilaian penapisan awal dengan instrumen Barthel ADL dan ECOG PS merupakan pemeriksaan penilaian status fungsional dalam praktek sehari hari. ECOG PS dari beberapa konsensus masih belum dapat memberikan kondisi status fungsional sebenarnya yang berdampak terhadap kejadian efek samping hematologi. Untuk itu penelitian ini dilakukan karena belum ada yang penelitian yang membandingkan Barthel ADL dan ECOG PS dalam penilaian status fungsional sebagai penapisan awal untuk memprediksi kejadian efek samping hematologi pada pasien lansia dengan kanker padat pasca kemoterapi.
Tujuan: Mengetahui pengaruh Barthel ADL dan ECOG PS pada pasien kanker padat lanjut usia sebagai prediktor kejadian efek samping hematologi pasca kemoterapi.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif menggunakan data primer dari wawancara dan sekunder dari rekam medis pasien Poliklinik Hemato-Onkologi Medik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Sampel diambil dengan metode consecutive sampling. Data dilakukan analisis secara deskriptif dan inferensial. Data deskriptif ditampilkan dalam mean ± standar deviasi jika data terdistribusi normal atau median (Rentang Interkuartil) untuk data tidak terdistribusi normal. Untuk skor Barthel ADL dan ECOG PS akan dicari nilai titik potong berdasarkan grafik ROC sehingga didapatkan sensitifiti dan spesifisiti serta dilanjutkan dengan analisis bivariat dengan uji chi square. Untuk variabel perancu dilakukan analisis multivariat regresi logistik.
Hasil: Sebanyak 71 subjek yang menjalani kemoterapi, didapatkan proporsi kejadian efek samping hematologi sebesar 84,5%. Kejadian yang paling sering adalah derajat 1 anemia 57,7%, derajat 1 trombositopenia 25% dan derajat 2 ANC 15,38%. Barthel ADL menunjukkan performa yang lebih baik dalam sensitifiti 59.33% dan accuracy 24,24 % dengan p 0.074 bila dibandingkan dengan ECOG PS sensitifiti 6,67% dan accuracy 16,42 % dengan p 0,676.
Simpulan: Performa Barthel ADL dibandingkan dengan ECOG PS sebagai prediktor lebih baik dalam memprediksi kejadian efek samping hematologi pasca kemoterapi pada pasien lansia dengan kanker padat.

Background: The pathophysiology of aging in the elderly and decreased functional status in cancer will impact the incidence of side effects. The Barthel ADL and ECOG PS as predictor are examinations assessing functional status in daily practice. ECOG PS examinations are still unable to provide functional status, especially in the elderly, which is associated with chemotherapy side effects. For this reason, this research was carried out because no one has compared Barthel ADL and ECOG PS in assessing functional status to predict the incidence of hematological side effects in elderly patients with solid cancer after chemotherapy.
Objective: To determine the effect of Barthel ADL and ECOG PS in elderly solid cancer patients as predictor for post-chemotherapy hematological side effects.
Methods: This research is a prospective cohort study using primary data from interviews and secondary data from medical records of patients at the Hemato-Medical Oncology Polyclinic, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Samples were taken using the consecutive sampling method. Data were analyzed descriptively and inferentially. Descriptive data is displayed as mean ± standard deviation if the data is normally distributed or median (Interquartile Range) for data not normally distributed. For the Barthel ADL and ECOG PS scores, the cut point value will be searched based on the ROC graph to obtain sensitivity and specificity, and bivariate analysis will be continued with the chi-square test. A multivariate logistic regression analysis was carried out for confounding variables.
Results: Of 71 subjects, the proportion of hematological side effects was 84,5%. The most frequent occurrence was grade 1 anemia, 57,7%, grade 1 thrombocytopenia, 25%, and grade 2 ANC 15,38%. Barthel ADL showed a significant relationship sensitivity of 58,33%, accuracy of 59,49%, and p 0,074 more batter than ECOG PS, which had a significant sensitivity of 20,00%, accuracy of 17,24%, and p 0,676.
Conclusions: Screening of Barthel ADL comparison with ECOG PS showed a better in predicting the incidence of post-chemotherapy hematological side effects in elderly solid cancer patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Florentina Carolin Puspita Hapsari
"Latar belakang: Populasi usia lanjut dengan penyakit jantung koroner yang menjalani tindakan intervensi koroner perkutan (IKP) menunjukkan tren meningkat. Di sisi lain, kelompok usia lanjut juga dihadapkan dengan major adverse cardiac events pasca tindakan IKP. Identifikasi faktor prediktor yang mempengaruhi terjadinya MACE 30 hari diharapkan dapat menjadi sarana stratifikasi risiko pratindakan, meningkatkan luaran klinis serta menjadi pertimbangan pemilihan strategi intervensi pada pasien PJK usia lanjut.
Tujuan: Mengetahui insidens MACE 30 hari, faktor prediktor MACE 30 hari pada pasien PJK usia lanjut yang menjalani tindakan IKP, dan pengembangan model prediksi MACE 30 hari.
Metode: studi kohort retrospektif dengan menulusuri rekam medis pasien usia lanjut yang menjalani IKP di RSCM periode Januari 2017-Desember 2021. Dilakukan analisis bivariat chi-square antara faktor usia, jenis kelamin, hiperglikemia saat admisi, kreatinin serum, kelas Killip, status fungsional, status nutrisi, status frailty, dan jenis PJK dengan kejadian MACE 30 hari pascatindakan IKP. Analisis multivariat dan model prediksi dilakukan dengan metode regresi logistik.
Hasil: Terdapat 616 subjek penelitian untuk diteliti. Insidens MACE 30 hari pada pasien PJK usia lanjut sebesar 5,4%. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara faktor hiperglikemia saat admisi, kelas Killip, status fungsional, status nutrisi, dan jenis PJK dengan kejadian MACE 30 hari (p<0,05). Hasil regresi logistik menunjukkan Kelas Killip dan jenis PJK merupakan faktor prediktor independen terjadinya MACE 30 hari dengan adjusted OR 8,841 (IK95% 3,339-23,410) untuk kelas Killip dan adjusted OR 3,774 (1,365-10,426) untuk PJK. Model prediksi MACE 30 hari memiliki nilai AUC 0,7995 (IK95% 0,712-0,886)
Kesimpulan: MACE 30 hari pada pasien PJK usia lanjut yang menjalani IKP sebesar 5,4% dengan faktor prediktor independen kelas Killip dan jenis PJK.

Background: The elderly with coronary heart disease undergoing percutaneous coronary intervention (PCI) shows an increasing trend. On the other hand, the elderly group is also faced with major adverse cardiac events after PCI. Identification of predictors that influence the occurrence of 30-day MACE is expected to be a means of preprocedural risk stratification, improve clinical outcomes and become a consideration for selecting intervention strategies in elderly CHD patients.
Objectives: To determine the incidence of 30-day MACE, the predictors of 30-day MACE in elderly CHD patients undergoing PCI, and the development of 30-day MACE prediction model.
Methods: Retrospective cohort study by reviewing medical records of elderly patients undergoing PCI at RSCM for the period January 2017-December 2021. Chi-square bivariate analysis was performed between predictors of age, sex, hyperglycemia at admission, serum creatinine, Killip class, functional status, nutritional status, frailty status, and type of CHD with MACE events 30 days after PCI. Multivariate analysis and prediction models were performed using the logistic regression.
Results: There were 616 research subjects to be studied. The incidence of 30-day MACE in elderly CHD patients was 5.4%. The results of bivariate analysis showed a relationship between hyperglycemia at admission, Killip class, functional status, nutritional status, and type of CHD with 30-day MACE (p<0.05). Logistic regression results showed Killip class and CHD type were independent predictors of 30-day MACE with adjusted OR 8.841 (95%CI 3.339-23.410) for Killip class and adjusted OR 3,774 (1.365-10.426) for type of CHD. The 30-day MACE prediction model has an AUC value of 0.7995 (95%CI 0.712-0.886)
Conclusion: Incidence of 30-day MACE in elderly with CHD undergoing PCI is 5.4% with Killip class and type of CHD as independent predictor factors.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nata Pratama Hardjo Lugito
"ABSTRAK
Latar Belakang. Dengan meningkatnya jumlah populasi usia lanjut, masalah kesehatan yang dialami juga semakin banyak, salah satunya malnutrisi. Studi di luar negeri menunjukkan malnutrisi pada pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit menurunkan kesintasan. Pasien usia lanjut di Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda dengan pasien usia lanjut di luar negeri. Di Indonesia belum ada studi tentang status nutrisi pasien usia lanjut yang dirawat di rumah sakit dan pengaruhnya terhadap kesintasan.
Tujuan. Mengetahui pengaruh status nutrisi terhadap kesintasan 30 hari pasien usia lanjut yang dirawat di ruang rawat akut geriatri dan ruang rawat penyakit dalam rumah sakit.
Metodologi. Penelitian kohort retrospektif, dengan pendekatan analisis kesintasan, dilakukan terhadap 177 pasien geriatri yang dirawat di ruang rawat akut geriatri dan ruang rawat penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo selama bulan April–September 2011. Data demografis, diagnosis medis, kadar albumin, indeks ADL Barthel, geriatric depression scale, status nutrisi dengan mini nutritional assessment (MNA) dikumpulkan, dan diamati selama 30 hari sejak mulai dirawat untuk melihat ada tidaknya mortalitas. Perbedaan kesintasan kelompok pasien dengan status nutrisi baik, berisiko malnutrisi dan malnutrisi ditampilkan dalam kurva Kaplan-Meier, diuji dengan uji Log-rank, serta analisis multivariat dengan Cox proportional hazard regression model untuk menghitung adjusted Hazard Ratio dan interval kepercayaan 95% terjadinya mortalitas 30 hari dengan memasukkan variabel-variabel perancu sebagai kovariat.
Hasil. Kesintasan antara subyek yang status nutrisinya baik, berisiko malnutrisi dan malnutrisi ialah 94,7% dengan 89,0% dan 80,7%, namun perbedaan kesintasan 30 hari tak bermakna dengan uji Log-rank (p=0,106). Pada analisis multivariat didapatkan adjusted HR setelah penambahan variabel perancu sebesar 1,49 (IK 95% 0,29 – 7,77) untuk kelompok berisiko malnutrisi dan 2,65 (IK 95% 0,47 – 14,99) untuk kelompok malnutrisi dibandingkan dengan pasien nutrisi baik
Simpulan. Perbedaan kesintasan 30 hari pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit yang menderita malnutrisi dan berisiko malnutrisi dibandingkan dengan status nutrisi baik pada awal perawatan belum dapat dibuktikan.

ABSTRACT
Background. Increasing number of older population will also increased its health problems. Studies in foreign countries shown that poor nutrition worsen survival of geriatrics admitted to hospitals. Geriatric patients in Indonesia have different physical, psychological, social economic and cultural characteristics. There has been no study in Indonesia on role of nutritional status on survival in hospitalized geriatric patients.
Objective. Investigating the impact of nutritional status on 30 days survival of geriatric patients hospitalized in geriatric and internal medicine ward
Methods. Retrospective cohort study and survival analysis approach was conducted to 177 geriatric patients hospitalized in geriatric and internal medicine ward of Cipto Mangunkusumo from April – September 2011. Demographic data, albumin level, ADL Barthel, geriatric depression scale, nutritional status according to mini nutritional assessment (MNA) were collected. Patients were observed during 30 days since hospitalized. Difference in survival is shown in Kaplan-meier curve dan difference in survival between groups were tested with Log-rank test, and multivariate analysis with Cox proportional hazard regression to calculate adjusted HR of mortality and confounding variables as covariates.
Results. The survival of well nourished, in risk of malnutrition and malnourished group was 94,7%, 89,0% and 80,7%, but non significant with Log-rank test (p=0,106). After multivariate analysis (Cox proportional hazard regression model), the adjusted HR was 1.49 (CI 95% 0.29 – 7.77) for group in risk of malnutrition and 2.65 (CI 95% 0.47 – 14.99) for malnourished group compared to well-nourished group
Conclusion. Thirty days survival difference of hospitalized geriatrics with malnutrition and in risk of malnutrition compared to well-nourished have not been proved."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T32750
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tarigan, Silvia Pagitta
"ABSTRAK
Magnesium merupakan salah satu komponen mikronutrien dan dilaporkan
mempunyai peran dalam proses metabolisme dan kekuatan otot namun belum
mendapat cukup perhatian yang luas sehingga jarang dilakukan pemeriksaan rutin. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang bertujuan untuk
mengetahui korelasi asupan magnesium dan kadar magnesium eritrosit dengan
mobilitas fungsional. Penelitian ini dilakukan di 3 panti jompo di Jakarta Timur
pada bulan April-Mei 2016. Pengumpulan subjek dilakukan dengan metode
consecutive sampling dan didapatkan 52 lanjut usia. Sebagian besar berjenis
kelamin perempuan dengan rerata usia 74,5 ± 8,6 tahun dan terbanyak pada
kelompok usia 70-79 tahun. Rerata asupan magnesium subjek adalah 188 mg/ hari dan sebagian besar (84,6%) memiliki asupan magnesium yang rendah. Rerata kadar magnesium eritrosit adalah 3,69 ± 0,63 mEq/ L dan didapatkan 96,2 % memiliki kadar magnesium eritrosit yang rendah. Median nilai tes Timed Up and Go adalah 11,5 detik. Pada penelitian ini terdapat korelasi bermakna dengan arah negatif antara asupan magnesium dengan mobilitas fungsional yang ditunjukkan dengan tes Timed Up and Go (p = 0,031, r = -0,3) sedangkan kadar magnesium eritrosit dengan mobilitas fungsional yang ditunjukkan dengan tes Timed Up and Go tidak didapatkan korelasi bermakna (p = 0,113, r = 0,223).

ABSTRACT
Magnesium is one component of micronutrients and is reported to have a role in the metabolism proccess and muscle strength, but this still didn?t get much
attention, so that a routine examination is rarely done.This cross-sectional study aimed to evaluate the correlation of magnesium intake and erythrocyte
magnesium levels with functional mobility. This study was done in 3 nursing
home in East Jakarta, from April to May 2016. Data were collected from 52
subjects with methods consecutive samping. The subjects of this study are women with mean age of 74,5 ± 8,6 years old and mostly in 70-79 years old group age. The mean magnesium intake are 188 mg/day, with 84,6 % of the subjects with a low magnesium intake, at the same time, the mean erytrocyte magnesium levels was 3,69 ± 0,63 mEq/ L and 96,2 % of the subjects experienced magnesium deficiency. The median score for TUG test is 11,5 seconds. There was a significant negative correlation between magnesium intake and functional mobility shown by Timed Up and Go test in elderly (p = 0,031, r = -0,3) and erythrocyte magnesium levels did not correlated significantly with functional mobility shown by Timed Up and Go test in elderly (p = 0,113, r = 0,223)."
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siregar, Dahniel Rizki
"ABSTRAK
Latar Belakang: Lama rawat pada usia lanjut dipengaruhi oleh rasa takut jatuh.
Rasa takut jatuh dapat mempengaruhi kehidupan usia lanjut, yang akan
berdampak pada menurunnya aktivitas kehidupan sehari-hari, status kesehatan
fisik, dan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan rasa
takut jatuh dengan lama rawat pada usia lanjut.
Metode: Desain studi potong lintang. Penelitian dilakukan terhadap 50 pasien
usia lanjut di ruang rawat akut geriatri yang didapat secara konsekutif. Rasa takut
jatuh dinilai dengan kuesioner Falls Efficacy Scale International (FES-I). Lama
rawat dihitung dalam hari. Penilaian hubungan rasa takut jatuh dan lama rawat
menggunakan korelasi Pearson.
Hasil: Didapatkan rasa takut jatuh sedang sebanyak 16% dan rasa takut jatuh
berat sebanyak 84%. Tidak terdapat rasa takut jatuh ringan. Didapatkan korelasi
positif bermakna antara rasa takut jatuh dengan lama rawat pada usia lanjut (r=
0,58, p=0,000).
Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara rasa takut jatuh dengan
lama rawat pada usia lanjut.

ABSTRACT
Background: Length of stay in elderly is affected by fear of fall. Fear of fall
could influence elderly life, which further can cause in decreasing activity of daily
living, physical health, and quality of life. The aim of this study was to look the
correlation between fear of fall and length of stay in elderly.
Methods: The study was a cross sectional study which looked at 50 consecutive
elderly patients in geriatric acute ward. Fear of fall was evaluate using Falls
Efficacy Scale International (FES-I). The length of stay was measured by days.
The correlation between fear of fall and length of stay was evaluated using
Pearson Correlation.
Results: 16% fear of fall was moderate and 84 % was severe. None of them was
mild fear of fall. There was a significant positive correlation between fear of fall
and length of stay in elderly (r=0,58, p=0,000)
Conclusions: There was a significant correlation between fear of fall and length
of stay in elderly."
2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Virly Nanda Muzellina
"Latar Belakang : Influenza Like Illness ILI adalah sekumpulan gejala infeksi influenza yang sulit dibedakan dengan infeksi pernapasan akut lainnya. Prevalensi ILI tertinggi terjadi pada usia lanjut dan sering disertai komplikasi berat hingga kematian. Pada usia lanjut terjadi immunosenescence yang menyebabkan rentan terhadap infeksi. Pengaruh probiotik terhadap sistem imun merupakan salah satu manfaat yang paling diketahui. Pemberian probiotik oral dilaporkan dapat meningkatkan kerja baik imunitas adaptif maupun bawaan. Studi serta penelitian yang menilai mengenai peranan probiotik pada infeksi non intestinal masih terbatas. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan probiotik dengan Influenza Like Illness pada populasi usia lanjut.
Metode : Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif dengan data sekunder diambil dari penelitian Dr. dr. Sukamto, SpPD, K-AI pada populasi usia lanjut sehat yang terdapat dalam komunitas usia lanjut di Jakarta Timur, pada bulan Juni-Desember 2015. Terdapat dua kelompok yang diberikan probiotik selama 6 bulan dan kelompok tanpa probiotik, serta dilakukan analisis chi square, untuk menilai angka kejadian ILI dan uji t untuk menilai perbedaan rerata durasi terjadinya ILI.
Hasil Penelitian : Sebanyak 275 usia lanjut sehat diikutsertakan dalam penelitian ini, 139 usia lanjut pada kelompok probiotik dan 136 usia lajut pada kelompok non probiotik. Kejadian ILI pada kelompok probiotik n= 4 subjek 2,9 dan pada kelompok tanpa probiotik n= 6 subjek 4,4 , nilai p= 0,361, risiko relatif RR sebesar 0,652 dengan interval kepercayaan 95 = 0,188-2,260. Didapatkan durasi ILI pada kelompok probiotik selama 2,75 hari dan kelompok tanpa probiotik selama 4,33 hari, nilai p 0,163.
Kesimpulan : Tidak didapatkan perbedaan kejadian ILI antara kelompok probiotik maupun non probiotik, namun didapatkan kecenderungan penurunan durasi ILI pada kelompok probiotik dan risiko ILI lebih rendah pada pemberian probiotik. Kata Kunci : Probiotik, Influenza Like Illness, usia lanjut.

Background : Influenza Like Illness ILI is a group of influenza infection symptoms that are difficult to distinguish from other acute respiratory infections. The highest prevalence of ILI is in the elderly and is often accompanied by severe complications and death. Immunosenescence occurs in the elderly, that causes susceptibility to infection. The effect of probiotics on the immune system is one of the most known benefits. Oral administration of probiotics reportedly can increase the performance both adaptive and innate immunities. Studies and research that assess the role of probiotics on non intestinal infections are still limited. This study aims to determine the relationship of probiotics and Influenza Like Illness in the elderly population.
Method : This study is a retrospective cohort study with secondary data drawn from the research of Dr. dr. Sukamto, SpPD, K AI in a healthy elderly population contained in the elderly community in East Jakarta, in June to December 2015. There are two groups, probiotic, given for 6 months, and non probiotic groups. Theese two groups were assessed by chi square analytic, to determine the incidence of ILI and t test to determine the mean differences of duration of ILI.
Results : A total of 275 healthy elderly is enrolled in this study, 139 elderly in the probiotic group and 136 elderly in the non probiotic group. The incidence of ILI in the probiotic group, n 4 subjects 2,9 and in the non probiotic group, n 6 subjects 4,4 , p 0.518, relative risk RR 0.652 with 95 confidence interval 0.188 ndash 2.260. The duration of ILI in the probiotic group is 2.75 days and the non probiotic group is 4.33 days, p value 0.163.
Conclusion : There are no differences in the incidence of ILI between probiotic and non probiotic groups, but there is downward trend in the duration of ILI in the probiotic group and a lower risk of ILI in the administration of probiotics. Keywords Probiotics, Influenza Like Illness, Elderly.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wulunggono
"Latar Belakang. Walaupun pasien HIV mendapat terapi antiretroviral yang efektif, penurunan fungsi fisik sering ditemukan lebih awal dan menimbulkan masalah baru berupa penuaan dan frailty.
Tujuan. Mengetahui proporsi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan prefrail dan frail pada pasien HIV dalam terapi antiretroviral.
Metode. Desain studi potong lintang pada pasien HIV usia ≥30 tahun dalam terapi ARV minimal 6 bulan. Pasien yang memenuhi inklusi dilakukan pencatatan demografis, penyakit komorbid, faktor terkait HIV seperti lama terdiagnosis, lama ARV, dan CD4, pengukuran antropometri seperti indeks massa tubuh, penilaian depresi dengan Indo BDI-II, dan penilaian frailty dengan kriteria Fried. Pasien dengan riwayat infeksi otak, kanker, dan oportunistik aktif dieksklusi. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan pada faktor-faktor tersebut.
Hasil. Terdapat 164 pasien yang dianalisis. Proporsi prefrail sebanyak 51,2% (84 pasien) dan frail 3,7% (6 pasien), dengan komponen dominan pada kelemahan genggam. Pasien laki-laki sebanyak 72% dengan median usia (IQR) 40,5 (36-47) tahun, dan median CD4 nadir (IQR) 53 (21-147) sel/mm3, median CD4 awal (IQR) 77 (32 - 206) sel/mm3. Hepatitis C menjadi faktor komorbid terbanyak. Depresi berhubungan dengan prefrail dan frail dengan OR 2,14 (IK95%: 1,034-4,439) dan p = 0,036. Tidak terdapat hubungan faktor usia ≥50 tahun, ≥2 penyakit komorbid, lama terdiagnosis HIV ≥5 tahun, lama ARV ≥5 tahun, CD4 <200 sel/mm3, indeks massa tubuh ≥25 kg/m2, dan pendapatan rendah dengan prefrail dan frail.
Kesimpulan. Terdapat proporsi prefrail sebanyak 51,2% dan frail 3,7%. Depresi merupakan salah satu faktor yang terbukti berhubungan terhadap prefrail dan frail pada pasien HIV dalam terapi ARV.

Background. Although HIV patients receive effective antiretroviral therapy, decrease in physical function is often found earlier and creates new problems in the form of aging and frailty
Aim. to determine the proportion and factors associated with prefrail and frail in HIV patients on antiretroviral therapy.
Method. A cross-sectional study design in HIV patients aged ≥30 years who were on ARV therapy for at least 6 months. Patients who fulfilled the inclusion were recorded demographically, comorbid diseases, HIV-related factors such as length of diagnosis, duration of ARV, CD4, anthropometric measurements such as body mass index, depression assessment with Indo BDI-II, and frailty assessment with Fried criteria. Patients with a history of brain infection, cancer, and active opportunists were excluded. Bivariate and multivariate analysis was carried out on these factors.
Results. There were 164 patients analyzed. The proportions of prefrail and frail were 51.2% and 3.7% respectively, with the dominant component in muscle weakness. Male patients were 72% with median age (IQR) 40.5 (36-47) years, median baseline CD4 (IQR) 77 (32 - 206) cell/mm3, and median nadir CD4 (IQR) 53 (21-147) cells/mm3. Hepatitis C is the most comorbid factor. Depression is related to prefrail and frail with OR 2.14 (95%CI: 1,034-4,439) and p = 0,036. There was no correlation between factors such as age ≥50 years, ≥2 comorbid diseases, length of diagnosis of HIV ≥5 years, duration of ARV ≥5 years, CD4 cell count <200 cells/mm3, body mass index ≥25 kg/m2, and low income with prefrail and frail.
Conclusion. The proportions of prefrail and frail are 51.2% and 3.7% respectively. Depression is one of the factors that is proven to be related to prefrail and frail in HIV patients in ARV therapy.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rizki Febriani Putri
"Latar Belakang Walaupun mendapatkan terapi antiretroviral (ARV), inflamasi kronik akibat infeksi HIV dikombinasikan dengan faktor-faktor lain menyebabkan proses penuaan lebih dini pada pasien HIV/AIDS, salah satu tandanya risiko jatuh.
Tujuan Mengetahui proporsi kejadian jatuh dan risiko jatuh serta faktor faktor yang berhubungan pada pasien HIV/AIDS dalam terapi ARV.
Metode Studi potong lintang dilakukan pada pasien HIV/AIDS berusia > 40 tahun dalam terapi ARV minimal 6 bulan. Pada pasien yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan pencatatan data demografis, pengukuran antropometri, faktor terkait HIV, terapi ARV, komorbid, obat, penilaian depresi dengan Indo-BDI-II, neuropati dengan kriteria Toronto, frailty dengan kriteria Fried, dan risiko jatuh dengan uji Timed Up and Go (TUG). Pasien menolak, tidak dapat berjalan dan memiliki gangguan motorik dieksklusi. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan pada faktor-faktor tersebut.
Hasil Dari 102 sampel didapatkan proporsi kejadian jatuh 24,5% dan risiko jatuh sebesar 51,96%. Subjek mayoritas laki-laki (83,3%), median usia (IQR) 45 (5) tahun, CD4 nadir median (IQR) 71,5 (220,25) sel/mm3, CD4 saat ini median (IQR) 495,5 (361) sel/mm3, komorbid terbanyak hepatitis C (31,3%), polifarmasi 21,6% subjek, dalam terapi lini 2 ARV (10.78%), depresi (14,71%), neuropati 38,2%) prefrail 53,9% dan frail 14,7%, penapisan demensia 14,7%. Faktor yang berhubungan dengan risiko jatuh adalah prefrail/frail (OR 6,395, IK95% 2,348-17,417 p<0,001) riwayat jatuh (OR 3,162 IK95% 1,085-9,212 p 0,035) dan penggunaan Efavirenz (OR 5,878 IK95% 1,083-31,906 p 0,040).
Kesimpulan Proporsi kejadian jatuh pada pasien HIV/AIDS dalam terapi ARV meyerupai populasi geriatri non HIV dengan risiko jatuh 52%. Faktor yang behubungan adalah status prefrail/frail, riwayat jatuh sebelumnya, dan penggunaan Efavire

Background Despite given Antiretroviral Therapy (ART), chronic inflammation due to HIV infection combined with other factors implicate in the early aging process. Fall risk is one of the aging symptoms that can be assessed objectively.
Aims To determine proportion of any fall and factors associated with risk of fall in PLWH undergoing antiretroviral therapy.
Methods cross sectional study in PLWH aged 40 years or older who has take ART at least for 6 months. Data were recorded in subjects fulfilled inclusion criteria, including demographic data, anthropometry measurements, HIV related factors, comorbidities, drugs prescribed, depression using Indo-BDI-II questionnaire, neuropathy assesment sing Toronto Scoring criteria, Fried criteria frailty, and fall risk assessed by Timed Up and Go Test. Patients denied to participate, unable to walk, or having motoric abnormality in upper extremity was excluded. Bivariat and multivariat analysis was carried out to these factors.
Results among 102 subjects, proportions of any falls was 24,5% subjects and proportions of fall risk was 52%. Most of subjects were male (83,3%), median of age (IQR) was 45 (5) years, with nadir CD4 (IQR) was 71,5 (220,25) cell/mm3 and current CD4 was 495,5 (361) cells/mm3. Hepatitis C was the most comorbid disease (31,3%), polypharmacy prescribed in 21,6%, and 10,8% were in LPV/r therapy. Factors included were depression found in 14,7%, neuropathy in 38,2%m prefrail 53,9%, frail 14,7%, and patients positive screened for dementia 14,7%. Significant factors associated with risk of fall were prefrail/frail status (OR 6,395, IK95% 2,348-17,417 p<0,001), history of fall (OR 3,162 IK95% 1,085-9,212 p 0,035), and under EFV prescription (OR 5,878 IK95% 1,083-31,906 p 0,040).
Conclusion proportion of any fall in PLWH undergoing antiretroviral therapy resembled those in geriatric population, with high rate of fall risk up to 52% of the patients. Factors associated with risk of fall were frail/prefrail status, history of previous fall, and current EFV use.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Rachma Helianthi
"Osteoartritis (OA) genu adalah penyakit kerusakan pada sendi yang menyebabkan gangguan mobilitas utama pada pasien lanjut usia. Laserpunktur mulai digunakan sebagai alternatif terapi non-bedah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas terapi kombinasi laserpunktur aktif dan medikamentosa. Uji acak tersamar ganda dengan kontrol plasebo dilakukan pada 62 subjek dengan OA genu grade 2 dan 3 yang dialokasikan ke dalam kelompok laserpunktur aktif dan medikamentosa dibandingkan dengan kelompok laserpunktur plasebo dan medikamentosa. Visual Analogue Scale ( VAS ) dan indeks Lequesne digunakan untuk mengukur keluaran penelitian yang dinilai pada saat sebelum perlakuan, sesi ke-5, sesi ke-10 dan 2 minggu pasca perlakuan dihentikan.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rerata VAS sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan yang diukur pada sesi ke-5 ( p < 0,01 ), sesi ke-10 ( p < 0,01; IK 95% -38,97 sampai -23,93) dan 2 minggu pasca perlakuan ( p < 0,01 ; IK 95% -41,49 sampai -24,77 ) antara kedua kelompok. Terdapat perbedaan bermakna rerata indeks Lequesne sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan yang diukur pada sesi ke-5, sesi ke-10 dan 2 minggu pasca perlakuan antara kedua kelompok (p < 0,01). Kesimpulan penelitian ini laserpunktur dan medikamentosa efektif untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pada pasien geriatri dengan OA genu grade 2 dan 3.

Knee osteoarthritis ( OA ) is a disease that causes damage to the joint cartilage. It is the main musculoskeletal problem lead to mobility disorders in elderly patients . Laser acupuncture began to be used as an alternative of non - surgical therapy. The aim of this double-blinded randomized control trial is to compare the effectiveness of active laser acupuncture with placebo laser acupuncture. Sixty-two patients with knee osteoarthritis were assigned at random into two groups : active laser and medical treatment group or placebo laser and medical treatment group. Patients were assessed using a visual analogue scale ( VAS) and Lequesne index at baseline, the fifth treatment session, the last treatment session and 2 weeks post intervention.
VAS scores showed a significant improvement in the active laser and medical treatment group compared with placebo laser and medical treatment group at the fifth treatment session (median difference ? 22.50, p < 0.01), last treatment session ( mean difference -31.45, CI 95% -38.97 to -23.93, p < 0.01) and 2 weeks post intervention( mean difference -33.13, CI 95% -41.49 to -24.77, p < 0.01 ). Lequesne index showed a significant improvement in the active laser group and medical treatment compared with placebo laser and medical treatment group at the fifth treatment session ( median difference -6.25, p < 0.01), last treatment session ( median difference -8, p < 0.01) and two weeks post intervention (median difference -7.75, p < 0.01 ). The results show that active laser acupuncture and medical treatment is effective in reducing pain and improving quality of life."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saskia Aziza Nursyirwan
"ABSTRAK
Latar Belakang : Infeksi virus influenza menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang cukup signifikan pada lansia. Vaksin influenza sebagai satu-satunya modalitas pencegahan yang ada saat ini memiliki efikasi yang lebih rendah pada lansia dibanding dewasa muda 17-53 vs 70-90 . Hal ini dimungkinkan karena pada lansia terjadi perubahan respons imun akibat penuaan serta faktor-faktor risiko lain. Beberapa studi telah dilakukan untuk menilai status kesehatan lansia sebagai faktor risiko terhadap respons antibodi terhadap vaksinasi influenza. Metode : Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif pada populasi lansia di posyandu lansia Jakarta Timur yang mendapatkan vaksin influenza. Sebanyak 277 subjek diperiksa titer antibodi pra dan satu bulan pasca-vaksinasi influenza. Faktor-faktor risiko berupa usia, jenis kelamin, status olahraga, status merokok, penyakit DM tipe 2, paru, kardiovaskular, status nutrisi MNA Mini Nutritional Assessment , status GDS Geriatric Depression Scale , dan titer antibodi pra-vaksinasi dinilai pada masing-masing subjek. Hasil Penelitian : Proporsi lansia yang mengalami serokonversi kenaikan titer pasca-vaksinasi sebanyak 4 kali lipat titer awal adalah 50,9 141/277 . Pada analisis multivariat, faktor-faktor prediktor serokonversi satu bulan pasca-vaksinasi influenza pada lansia di komunitas adalah keadaan tidak depresi p=0,048, OR=2,1, IK=1,01-4,30 , status olahraga ge; 5 kali seminggu minimal 30 menit p=0,013, OR 4,0, IK 1,34-11,76 , dan titer antibodi pra-vaksinasi yang tidak seroprotektif p=0,000, OR 6,4, IK 3,40-11,99 . Kesimpulan : Faktor-faktor prediktor serokonversi pasca-vaksinasi influenza pada lansia di komunitas adalah status depresi, status olahraga, dan titer antibodi pra-vaksinasi influenza. Kata Kunci : influenza, vaksinasi, serokonversi, faktor prediktor.

ABSTRACT
Background Influenza virus infection causes significant morbidity and mortality in the elderly. The influenza vaccine as the only existing prevention modalities currently has lower efficacy in the elderly than younger adults 17 53 vs. 70 90 . This is possible because the elderly changes due to aging of the immune response as well as other risk factors. Several studies have been conducted to assess the health status of the elderly as a risk factor for antibody responses to influenza vaccination. Methods This study is a retrospective cohort study in the elderly population in East Jakarta Posyandu who got the influenza vaccine. A total of 277 subjects with antibody titre pre and one month post vaccination influenza were examined. Risk factors such as age, gender, exercise status, smoking status, type 2 diabetes, pulmonary, and cardiovascular disease, nutritional status of MNA Mini Nutritional Assessment , GDS Geriatric Depression Scale , and pre vaccination antibodi titre were assessed in each subject. Results The proportion of elderly people who seroconverted fourfold rise or more in antibody titer post vaccination was 50.9 141 277 . On multivariate analysis, the predictor factors that affect seroconversion of one month post influenza vaccination in the elderly on the community is a no depression state p 0.048, OR 2.1, CI 1.01 to 4.30 , exercise status ge 5 times per week minimal 30 minutes p 0.013, OR 4.0, CI 1.34 to 11.76 , and not seroprotective pre vaccination p 0.000, OR 6.4, CI 3.40 to 11.99 . Conclusion Predictor factors affecting seroconversion post influenza vaccination in the elderly on the community is depression status, exercise status and pre vaccination antibody titre. Keywords influenza, vaccination, seroconversion, predictor factor. "
2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>