Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jeffrey Wirianta
"Penyakit jantung koroner (PIK) merupakan suatu proses inflamasi, beberapa petanda inflamasi dievaluasi sebagai prediktor risiko kejadian koroner. Salah satu petanda inflamasi sistemik yang diproduksi di hati yakni high sensitivity C-reactive protein (hsCRP).
Beberapa tahun terakhir ini banyak dilakukan penelitian tentang pengaruh radikal bebas dan peran antioksidan pada aterosklerosis dengan hasil yang bermakna walaupun masih diperdebatkan. Salah satu antioksidan yang memberikan harapan untuk mencegah aterosklerosis adalah teh hijau.
Tujuan Penelitian
Untuk membuktikan penurunan proses inflamasi sistemik pada pemberian teh hijau pada kelinci yang diberi diet aterogenik.
Metologi
Penelitian dilakukan pada 20 ekor kelinci New Zealand White jantan usia 4-5 bulan. Adaptasi dilakukan selama 4 minggu dan mendapat pakan standar (normal) yang mengandung 20.31% protein, 5,8% lemak, 40.03% karbohidrat dan 13.63%, selanjutnya dibagi menjadi 4 kelompok secara acak berdasarkan rasio kadar kolesterol total/HDL, yang masing-masing berjumlah 5 ekor yaitu: kelompok A diberi diet normal, kelompok B diberi diet normal ditambah teh hijau, kelompok C diberi diet aterogenik dan kelompok D diberi diet aterogenik ditambah teh hijau. Kadar hsCRP sebagai petanda inflamasi sistemik diperiksa pada minggu ke-12 dengan metode immunoturbidimetri. Analisa statistik dengan anova dan pengujian menggunakan uji pembandingan berpasangan (uji t).
Hasil
Kadar rerata hsCRP kelompok A 0.174+0.0948 mg/liter, rerata kelompok B 0.136+0.416 mg/liter, rerata kelompok C 0.350+0.1044 mg/liter dan rerata kelompok D 0.202+0.046 mg/liter. Pemberian teh hijau pada kelompok B tidak menurunkan kadar hsCRP secara bermakna dibanding kelompok A (0.038+0.084 mg/liter, p=0.185). Diet aterogenik pada kelompok C meningkatkan kadar hsCRP kelinci sebesar 0.176+0.1534 mg/liter, yang secara statistik berbeda bermakna dibanding kelompok A (p=4.0311). Penambahan teh hijau pada diet aterogenik pada kelompok D menurunkan kadar hsCRP sebesar 0.148+0.0608 mg/liter dan berbeda bermakna secara statistik dibanding kelompok C (p=0.03).
Kesimpulan
Teh hijau menurunkan kadar hsCRP sebagai petanda inflamasi-sistemik pada kelinci yang diberi diet aterogenik.

Background
Coronary artery disease is an inflammation disease and some inflammation markers have been evaluated as risk predictors for coronary events. One of the inflammation markers which are produced in liver is high sensitivity C-reactive protein (hsCRP). Recently, there are studies about free radicals and anti-oxidant effect in preventing atherosclerosis.
Methods
Twenty New Zealand White Rabbits, male, were given normal feeding for 4 weeks as an adaptation period. They were divided randomly into 4 groups, group A were given normal diet, group B were given normal diet and 6% green tea, group C were given atherogenic diet and group D were given atherogenic diet and 6% green tea. The hsCRP level and lipid profile were evaluated at the 12 week
Result
The mean of hsCRP level in group A is 0.174+0.0948 mg/liter, in group B is 0.136+0.416 mg/liter, in group C is 0.350± 0.1044 mg/liter and the mean of hsCRP level in group D is 0.202 + 0.046 mg/liter. Green tea in group B did not decrease the hsCRP level significantly compare to group A (0.038+0.084 mg/liter, p=4.185). Atherogenie diet in group C increased the hsCRP level 0.176±0.1534 mg/liter, which is significant compare to group A (p=0.0311). Six percent of green tea decreased the hsCRP level in group D 0.1480.0608 mg/liter and is significant compare to group C (1=0.03).
Conclusion
Green tea decreased the hsCRP level as inflammation marker in rabbits that were given atherogenic diet.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Inez Ariadne
"ABSTRAK
Latar Belakang: Mikrosirkulasi memiliki fiingsi autoregulasi yaltu kemampuan
melebarkan dan menyempitkan pembuluh darah untuk mempertahankan perfusi jaringan
Diabetes melitus melalui proses biokimiawi menyebabkan penurunan fiingsi autoregulasi
tersebut dan selanjutnya berperan dalam terbentuknya ulkus diabetik (selain neuropati
dan infeksi) Penanganan yang sulit terhadap ulkus menyebabkan timbulnya berbagai
usaha terapi diantaranya pemberian oksigen hiperbank Mekanisme yang timbul akibat
oksigen tlnggl dalam penyembuhan luka yang utama adalah pemberian oksigen
hngkungan sekitar luka sehingga dapat membunuh kuman sedangkan efek lain masih
diperdebatkan dan diteliti Studi mi untuk melihat pengaruh oksigenasi hiperbank selama
5 hari terhadap TcP02 dan venule arteriole reflex (VAR) sebagai mndikator fungsi
mikrosirkulasi pasien ulkus diabetik.
Tujuan: Penehtian Mengetahum penrngkatan TCP02 dan VAR sebagai petanda fiingsi
mikrosirkulasi pada pendenta ulkus diabetik yang dilakukan terapi oksigen hiperbarik
selama 5 harm.
Metode Penelitian: dilakukan terhadap 21 pasien ulkus diabetik Kelompok perlakuan
sebanyak 11 orang dengan usia rata-rata 58,0 ± 92 tahun sedangkan kelompok kontrol
sebanyak 10 orang dengan usia rata-rata 592 ± 84 tahun Kedua kelompok mendapat
terapi antidiabetik antibiotik dan perawatan luka Oksigenasi hiperbarmk dilakukan
dengan cara menghisap oksigen 100% sebanyak 3X 30 menit dengan selang pembenan
udara biasa (oksigen 20%) selama 5 memt di dalam ruang bertekanan 24 ATA dan
dilakukan selama 5 han berturut-turut Pemermkaan TcPO2 dan VAR dilakukan pada han
pertama sebelum TOHB dan han kelima setelah TOHB Data hasil pemenksaan
dianalisis dengan statistik menggunakan up non parametrik Wilcoxon signed rank dan
Mann whitney
Hasil: Nilai median TcPO2 han pertama kelompok OHB 16 70(7 58-59 73) mmHg dan
han kelima 41 83(8 9-61 55) mmHg Nilai median TcPO2 han pertama kelompok NOHB
34 54(3 66-65 48) mmHg dan han kelima 33 84(12 66-78 69) mmHg Tidak ada
perbedaan bermakna perubahan di dalam kelompok (p= 0,06 p= 0 72) maupun antara
kedua kelompok (p=0 8) Nilai median VAR han pertama kelompok OHB 28 98 (10,68-
6404) mmHg dan hari kelima 23 92( 53 05-84 23) mmHg Nilai median VAR han
pertama kelompok NOI-1B 6057 (8 04 75 47) mmHg dan harm kelima 34 51(-12 82-
5028) mmHg Tidak ada perbedaan bermakna perubahan di dalam kelompok OHB tetapi
bermakna pada kelompok kontrol (p=0 02) sedangkan perbedaan antara kedua
kelompok tidak bermakna secara statistik (p0 88)
Kesimpulan: Terapi oksigen hiperbank selama 5 hari, tidak berpengaruh pada TcPO2 dan
VAR

ABSTRACT
Background
Microcirculation to maintain its tissue perfusion is autoregulated by vasodilating and
vasoconstricting the blood vessels Lochemical processes in diabetes mellitus dysregulate
the microcirculatory function to maintain tissue perfusion This dysregulation in
conjunction with neuropathy and infection may resulted in the formation of diabetic
ulcer Various method have been proposed to better manage diabetic ulcers and oxygen
hyperbaric (HBO) therapy is one of such method Hyperbanc oxygen will increase tissue
oxygen concentratin and its parsial pressure surrounding ulcers resulted in eradication of
microbes The effects of HBO therapy in microcirculatory function is still debated
Aim of the study: To evaluate the influence of five days HBO therapy on TcP02 and venule-arteriole reflex
(VAR) as indicators of microcirculatory function in diabetic ulcers
Method: The study was performed in 21 patients with diabetic ulcers which divided into 2 groups
In HBO group there are II patients with mean age 58 0+9 2 years old and in control
group there were 10 patients with mean age 59 2+8 4 years old Both group received
antidiabetic therapy, antibiotic and wound care HBO therapy was performed in
pressurized room with 2,4 ATA by inhaling 100% oxygen for 30 minutes with 5 minutes
20% oxygen (room air) intervals This procedures was repeated for 5 days TcP02 and
VAR were measured per and post }{BO therapy The results were statistically analyzed
using Non Parametric Wilcoxon Signed Rank and Mann Whitney U test
Result: The pre-TcP02 median of the HBO group was 16 70(7 58-59 73) mmHg and the post-
TcP02 median was 41 83(8 9-61 55)mmHg (p0 06) The pre-TcP02 median of the
NHBO group was 34 54(3 66-65 48) mni}lg and the post-TcP02 median was
33 84(12 66-78 69)mmHg (p=O 72) There were no significant difference TcP02 between
two groups (p=0 81) The pre-VAR median of the HBO group was 28 98(10 68-64 04)%
and the post VAR median was 23 92(-53 05-84 23)% (p=O 59) The pre-VAR median of
the NHBO group was 60 57(8 04-75 47)% and the post-VAR median was 34 51(12 82-
50 28)% (p=O 02) There were no significant difference VAR between two groups
(p-088)
Conclusion: In diabetic ulcers five days of hyperbaric oxygen therapy did not influence the TcP02
and VAR"
2006
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Agus Riawan
"Latar belakang: Hiperhomosisteinemia merupakan faktor risiko independen penyakit jantung koroner (PJK), stroke dan penyakit pembuluh darah. Kadar homosistein di dalam darah dikendalikan oleh beberapa enzim salah satunya adalah enzim cystathionine synthase (CBS). Enzim ini mengubah homosistein menjadi sistein. Vitamin B6 (pyridoxal phosphate) berfungsi sebagai kofaktor enzim CBS. Defisiensi enzim CBS dan vitamin B6 dapat meningkatkan kadar homosistein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu gambaran kadar homosistein, enzim CBS dan vitamin B6 serta menganalisa hubungan antara kadar homosistein dengan kadar enzim CBS serta hubungan kadar homosistein dengan kadar vitamin B6 pada populasi PJK di RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta (PJNHK). Metode dan Hasil: Tiga puluh pasien (usia rata-rata 47 tahun = 4,93) yang dilakukan kateterisasi dengan hasil angiografi positif PJK berdasarkan kriteria American College of CardiologylAmerican Heart Association (AHA). Sampel darah vang diambil diperiksa kadar homosistein dengan menggunakan metode High Pressure Liquid Chromatografy (HPLC) sedangkan enzim CBS dan vitamin B6 masing masing mengounakan metode spectrophotometer dan microparticle enzyme immunoassay. Kadar homosistein sebagian besar 83% (24 orang) dalam batas normal 5-15 mmoll, 3% (2 orang) <5 mmoll dan 14% (4 orang) kadarnya> 15mmol. Kadar enzim CBS dalam standar normal 1.27-1,34 IU terdapat pada 50% (15 orang), <1,27 IU pada 20% (6 orang) dan 30 % (9 orang) kadarnya> 1,34 IU. Enam puluh persen subyek (18 orang) kadar vitamin B6 dibawah nilai standar normal < 20 nmol/l, 20% (6 orang) dalam standar normal (20-30 nmol/1,) dan 20% (6 orang) kadanya> 30 nmol. Dari hasil analisa statistik terdapat hubungan negatif yang lemah (r = -0,36; p <0,05) antara kadar homosistein dan kadar enzim CBS dan tidak ada hubungan antara kadar homosistein dan vitamin B6 (r = 0,13; p>0,05). Kesimpulan: Pada populasi PJK yang diteliti sebagian besar kadar homosistein, kadar enzim CBS dalam batas normal tetapi lebih dari 50 % subyek mengalami defisiensi vitamin B6. Terdapat hubungan terbalik antara homosistein dan enzim CBS dan tidak ada hubungan antara homosistein dan vitamin B6."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T58451
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurkhalis
"Tujuan : Menilai korelasi antara kelentutan atrioventrikular (Cn) dengan tekanan sistolik arteri pulmonal dan besarnya penurunan tekanan arteri pulmonal segera setelah dilakukan komisurotomi mitral transvena perkutan (KMTP). Latar Belakang : Pada pasien stenosis mitral (SM) terjadinya peningkatan tekanan arteri pulmonal dan beratnya gambaran klinis tidak selalu berkaitan dengan area efektif katup mitral (MVA) serta perbedaan tekanan transmitral (MVG) karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa kelenturan atrioventrikular (Cn) juga mempengaruhi. Metode : Merupakan studi potong lintang yang dilakukan pada 30 pasien SM berat yang menjalani KMTP di PJNHK dari bulan Januari 2008 s/d oktober 2010. Pasien dibagi 2 kelompok, yakni kelompok I dengan Cn ::; 4 ml/mmHg dan kelompok II dengan Cn > 4 ml/mmHg. Pemeriksaan ekokardiografi dengan Vivid 7 dilakukan sebelum KMTP dan dalam 24 sampai 72 jam setelah KMTP. Cn ditentukan dengan persamaan : Cn = 1,270 (MV A I E-wave downslope), dan tekanan sistolik arteri pulmonal (sPAP) =Tricuspid valve gradient (TVG) + 10 mmHg. Hasil : Dari 194 subjek yang menjalani KMTP didapatkan sampel 30 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Proporsi kasus SM pada penelitian ini lebih banyak pada perempuan yaitu 70% dan usia rata- rata 36 tahun. Perbandingan sPAP pada kedua kelompok, baik sebelum ( 66,8 ± 21,7 mmHg V s 71,5 ± 31,5 mmHg, P = 0,64) maupun setelah KMTP ( 49,3 ± 10,8 mmHg Vs 56,4 ± 19,9 mmHg, P = 0,31) tidak berbeda bermakna, demikian pula besamya penurunan sPAP setelah KMTP pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna ( 17,7 ± 15 mmHg Vs 15,7 ± 15,8 mmHg, P = 0,60). Kesimpulan : Kelenturan atrioventrikular (Cn) tidak mempengaruhi tekanan arteri pulmonal dan besamya perubahan tekanan arteri pulmonal segera setelah KMTP.

Objectives : The purpose of this study is to evaluate the correlation beetwen Cn with systolic artery pulmonal and the magnitude of decreasing systolic pulmonary pressure after balloon mitral valvuloplasty. Background : In patients with mitral stenosis (MS), the increase in pulmonary arterial pressure and severity of the clinical symptom are not only related to the mitral valve area and mitral vave gradient, but also related to the atrioventricular compliance (Cn). Methods : This is a cross sectional study in Thirty patients with severe mitral stenosis underwent Balloon Mitral Valvuloplasthy (BMV) procedure in NCCHKfrom January 2008 until October 20 I I. The patients were divided into two group, group I with Cn ~ 4 ml/mmHg and group II with Cn > 4 ml/mmHg. Echocardiograpy was done before BMV and 24 unti/72 hours after BMVwith vivid 7. Cn was derivedfrom the equation that has been previously validated (ie, Cn = I270 x [MV area by PHT I mitral Ewave downslope] and systolic pulmonary artery pressure(sPAP) = Tricuspid valve gradient (TV G) + I 0 mmHg. Results : There were I94 patients underwent BMV, but only 30 patients meet the inclusion and exclusion criteria. The women proportion were 70% and average of ages were 36 years old. The systolic pulmonary artery pressure in both group were not difference before ( 66,8 ± 2I, 7 mmHg Vs 7I,5 ± 3I,5 mmHg, P = 0,64) and after BMV ( 49,3 ± I0,8 mmHg Vs 56,4 ± I9,9 mmHg, P = 0,3I) and also the magnitude of decreasing systolic pulmonary artery pressure after BMV not difference between the groups. Conclusion: In patients with severe mitral stenosis, atrioventricular compliance was not affected systolic pulmonary artery pressure before and after BMV nor the magnitude of systolic pulmonaty artery pressure after BMV."
Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, 2011
T58346
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library