Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 33 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Indri Mulyani Bunyamin
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2005
S32441
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Titi Mulyani
"Jamu/obat tradisional adalah ramuan bahan alam yang biasa digunakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Kebiasaan mi dijadikan pemerintah sebagai aset yang hams dipertahankan dan dikembangkan dalam rangka pembangunan dibidang kesehatan.
Penelitian mi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara tempat tinggal penduduk yakni wilayah pedesaan dan perkotaan dengan proporsi penggunaan jamulobat tradisional berdasarkan pembuatnya. Selain itu diteliti pula apakah ada perbedaan proporsi antara penduduk desa dan kota da!am menggunakan jamulobat tradisional secara keseluruhan.
Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif analitis yang dilakukan terhadap data sekunder yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik (BPS). Analisis data dilakukan' dengan menggunakan metode statistik uji Kai Kuadrat.
Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara penduduk di wilayah pedesaan dengan di perkotaan dalam rnenggunakan jamu/obat tradisional baik yang dibuat sendiri, dibuat pabnik maupun yang dibuat oleh penjaja jamu gendong. Selain itu diketahui adanya perbedaan proporsi yang bermakna antara penduduk pedesaan dan perkotaan dalam menggunakan jamu/obat tradisional secara keseluruhan. Proporsi penduduk di wilayah pedesaan dalam menggunakan jamu/obat tradisional !ebih tinggi dibandingkan proporsi pada penduduk di wilayah perkotaan.

Jamu or traditional medicine are the composed herbs which are commonly used by Indonesian people. The government makes this habitual as an asset that have to be maintained and to be improved for the purpose of the health development. The aim of this research is to know whether there was an interrelation between rural and urban areas with the proportion ofjamu or traditional medicine consumption that made by its producer .Beside that it's necessary to be researched whether there was a difference of proportion between rural and urban people in the using of jamu/traditional medicine. This research used a descriptive analyzes to the seconder data that were got from the Bureau of Central Statistics (BPS). The data was analyzed statistically by tests of Chi Square. The results showed that there was a significant interrelation between the people who live in the rural and urban area in using of jamu or traditional medicine that produced by self, by factory, by other people and jamu/traditional medicine that retailed by the sales girl. Beside, there is a difference of proportion between rural and urban people in using all jamu/traditional medicine. The proportion of rural people is - higher than urbans."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1997
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gini Krislina
"Pengobatan sendiri merupakan upaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah dan mengobati sendiri keluhannya sebelum mendapat pertolongan pelayanan kesehatan primer. Tindakan swamedikasi merupakan salah satu langkah yang tepat terutama untuk mendukung peningkatan derajat kesehatan dalam hal mengobati penyakit ringan, untuk itu pengobatan sendiri harus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik dan tingkat pengetahuan serta sikap mahasiswa UI dengan tindakan swamedikasi di Kukusan Kelurahan, Depok. Rancangan penelitian cross sectional study (potong lintang) dengan sampel sebanyak 96 responden. Pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan terbuka dan tertutup pada April-Juni 2005. Responden adalah mahasiswa UI yang kost di Kelurahan Kukusan yang dipilih melalui metode random sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan kai kuadrat dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian diketahui bahwa terdapat 87,5% responden yang melakukan tindakan swamedikasi. Ternyata tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, usia, jenis pendidikan tinggi, tingkat pengetahuan, dan sikap dengan tindakan swamedikasi. Proporsi mahasiswa UI di Kelurahan Kukusan yang melakukan tindakan swamedikasi cukup besar tetapi pengetahuan mahasiswa UI di Kelurahan Kukusanterhadap batas lama pengobatan, dosis dan logo obat masih kurang sehingga perlu dilakukan penyebaran informasi dalam hal tindakan swamedikasi dalam mengobati penyakit ringan.

Self-medication is an efforts that have done by the society to prevent and cure their own disease before they get help with the primary health care. Self-medication treatment is one of the right step particularly to support the increase of health degree in things curing minor disease. For that, both quality and quantity self-medication must be increased. The objective of this research was to know the correlation between characteristic and knowledge level along with the attitude of UI? students with the self-medication treatment in Kelurahan Kukusan, Depok. The research design was cross sectional study with the sample amounting to 96 respondents. Data were collecting with done the interview use questionaire that contain open and close questions in April ? June 2005. Respondents are UI? students that live in Kelurahan Kukusan that have been chosen through random sampling methode. Data that have obtained to be analized using Chi square test with 95% level of trust. Sample was taken with purposive sampling. The result of this research known that there were 87,5% respondent that done self-medication treatment. It apparently there is no significantt correlation between sex, age, sort of high education, knowledge level, and attitude with self-medication treatment. Proportion of UI? students in Kelurahan Kukusan that have done selfmedication treatment was so high but the knowledge of UI? students in Kelurahan Kukusan still minus about the long limit of medication, dose, and drug logogram so that should be done the spreading information in things of self-medication treatment in curing the minor disease."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
S32787
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Yulia Ratna Asih
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2006
S32856
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nova Trisnawaty
"Asam salisilat dan asam benzoat merupakan zat aktif yang banyak digunakan dalam sediaan larutan dan tingtur topikal sebagai antijamur lokal. Pemeriksaan kadar kedua zat dalam sediaan tersebut perlu dilakukan dengan metode analisis yang mempunyai akurasi dan presisi yang tinggi. Salah satu metode analisis yang dapat digunakan adalah spektrofotometri derivatif.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi optimal untuk penetapan kadar asam salisilat dan asam benzoat dalam sediaan larutan dan tingtur topikal yang mengandung povidon iodum/iodum secara spektrofotometri derivatif serta menguji validitasnya. Pada sediaan campuran asam salisilat dan asam benzoat, masing-masing zat diukur serapannya pada panjang gelombang 255,8 nm dan 260,2 nm (derivatif pertama).
Dari hasil uji perolehan kembali menunjukkan bahwa metode spektrofotometri derivatif memenuhi syarat akurasi dan presisi sehingga dapat digunakan untuk penetapkan kadar asam salisilat dan asam benzoat dalam campuran keduanya dalam sediaan larutan dan tingtur topikal.
Salicylic acid and benzoic acid are active ingredients mostly used in topical solution and tincture as local antifungal. Determination the concentration both of compound in mixture are needed by analytical method with high accuracy and precision. One of the analytical methods may be used is derivative spectrophotometry.
The purpose of this research was to find an optimal method to determine the concentration of salicylic acid and benzoic acid in topical solution and tincture contained povidon iodum/iodum by using derivative spectrophotometry and to examine the validity. In the mixture containing salicylic acid and benzoic acid, each compound is determined at 255,8 nm and 260,2 nm (first derivative).
The result of recovery test show that derivative spectrophotometry is fulfilling the requirement of the accuracy and precision so that can be used to determining the concentration of salicylic acid and benzoic acid in mixture in topical solution and tincture.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2007
S32906
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tisha Ravenska Fitriani
"Natrium askorbat merupakan bentuk garam dari asam askorbat. Pada umumnya natrium askorbat dikombinasikan dengan asam askorbat karena sama-sama mempunyai kemampuan sebagai antioksidan. Untuk bahan baku asam askorbat ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk penetapan kadar, diantaranya adalah metode volumetri seperti titrasi asam basa, iodimetri, iodometri, iodatometri dan serimetri, sedangkan untuk natrium askorbat penetapan kadar yang dapat dilakukan adalah titrasi iodimetri. Hingga saat ini prosedur penetapan kadar untuk natrium askorbat secara iodometri, iodatometri dan serimetri masih jarang digunakan. Penelitian bertujuan untuk membandingkan penetapan kadar natrium askorbat secara iodimetri, iodometri, iodatometri dan serimetri yang menurut literatur dapat dilakukan. Dari data hasil perolehan kembali relatif setiap metode dilakukan uji secara statistik dengan menggunakan analisis varians dan uji t untuk mengetahui apakah keempat metode tersebut memberikan hasil yang sama atau berbeda ditinjau dari segi akurasi, sedangkan nilai koefisien variasi dibandingkan secara langsung untuk mengetahui apakah keempat metode tersebut memberikan hasil yang sama atau berbeda ditinjau dari segi presisi. Dari segi akurasi dan presisi iodimetri, iodometri, iodatometri dan serimetri memberikan hasil baik, namun berbeda ditinjau dari segi akurasi dan presisi. hal ini dapat dilihat dari nilai UPK rata-rata yang berada dalam rentang 98-102% yaitu iodometri 98,8648%, iodometri 99,2945%, iodatometri 100,2080% dan serimetri 100,7102%, dan nilai koefisien variasi dibawah 2 % yaitu iodimetri 0,0832%, iodometri 1,0643%, iodatometri 1,6690% dan serimetri 0,8963%, metode serimetri memberikan hasil yang terbaik dari segi akurasi dan presisi. karena memiliki tingkat akurasi dan presisi tertinggi dengan nilai koefisien variasi terendah yaitu 0,8963%.
Sodium ascorbate is the salt of ascorbic acid. In this time, sodium ascorbate is combined with ascorbate acid because it has same ability as antioxidants. For ascorbic acid raw material, there are some methods that is user for quantitative determination, such as acid-base titration, iodimetry, iodometry, iodatometry and serimetry, then for sodium ascorbate determination might be done by iodimetry. In this time, the use of procedure of quantitative determination for sodium ascorbate in iodometry, iodatometry and serimetry still rare to use. This research of sodium ascorbate purpose to compare quantitative determination in iodometry, iodatometry and serimetry according to literature might be done. The result of the relative recovery data from each method is tested statistically using analysis of variance test (ANOVA) and t test to know whether that four methods give the same or different result for the accuracy. While for the coefficient variation value compared directly to know whether the four methods give the same or different result for the precision, from the accuracy and precision aspects iodimetry, iodometry, iodatometry and serimetry give the good result, but is different with the accuracy dan precision aspect. It may also seen in UPK mean value at range 98-102%, for iodimetry 98,8648%, iodometry 99,2945%, Iodatometry 100,2080% and serimetry 100,7102%, and the coefficient value is above 2%, for iodimetry 0,0832%, iodometry 1,0643%, iodatometry 1,6690% and serimetry 0,8963%, serimetry methods gives the best result from the accuracy and precision, because serimetry have accuracy and precision with lowest level of coefficient variation value about 0,8963%."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2007
S32908
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sorta Saulina
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian mengenai penetapan kadar N,N- Dimetilanilin sebagai pengotoran dalam sampel Ampisilina dan Amoksisilina yang diperdagangkan dari berbagai sumber. Prinsip metoda ini ialah kelarutan sampel dalam larutan alkali dan kemudian dilakukan ekstraksi dengan sikioheksan. Metoda penetapan kadar yang digunakan adalah "Gas Liquid chromatography" yang dilengkapi dengan kolom kaca boro silikat, panjang 2 m, diameter 3 mm, diisi dengan fasa diam SE 30 5 % pada chromosorb W-HP 80-100 mesh, suhu detektor dan injektor : 100°C ) suhu kolom 800 C, kecepatan aliran gas N. 60 mi/menit. N,N- Dietilanilin digunakan sebagai baku dalam. Penetapan kadar N,N- Dimetilanilin dalam sampel Ampisilina dan Amoksisilina memberikan hasil 1. Sampel Ampisilina dan Amoksisilina yang kami periksa mengandung N,N- Dimetilanilin. 2. Kadar N,N- Dimetilanilin umumnya dibawah persyaratan British Pharmacopoeia 1980, kecuali sampel Ampisilina pabrik (5,6) dan sampel Amoksisilina pabrik (7)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1986
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Noverita Pak Pak
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2005
T39563
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siahaan, Julito P.
Depok: Universitas Indonesia, 1996
S32046
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Magdalena Nastiti Suryandari
"Hingga sekarang ini metode analisis kuantitatif sulfat yang telah ada cukup banyak, contohnya adalah metode graviraetri, voluraetri dan instrumen. Tetapi metodemetode tersebut sulit dilakukan dan raemberikan basil analisis yang kurang baik, terutamabila digunakan untuk menganalisis senyawagaram sulfat didalam sediaan farmasi. Selain itu metode-metode tersebut ditujukan untuk analisis dalam skalamakro. Penelitian ini dilakukan untuk mencari kondisi optimal analisis kuantitatif sulfat secara spektrofotometri sinar tampak dalam skala mikro dan menerapkan kondisi optimal tersebut pada analisis beberapa senyawa garam sulfat Dalam penelitian ini ditetapkan kondisi optimal analisis dengan parameter waktu pembentukan wama, komposisi pelarut, pH larutan, kestabilan kompleks, dan konsentrasi ion barium dan larutan torin 0,2% b/v yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kondisi optimal analisis yang dapatdi' gunakan untuk analisis sulfat secara kuantitatif adalah waktu pembentukan wama pada menit ke 30 sampai 40, komposisi pelarut air-etanol dengan perbandingan 40:60; 30:70; 20:80, pH larutan antara 4,0 sampai 5,0 , konsentrasi maksimum ion barium sisasebesar 39,6786.10'^ mek/2S mL (12 ppm ion barium) dengan 1,5 mL larutan torin 0,2% b/v dan konsentrasi ion sulfat antara 0,0000 sampai 49,974.10^ mek/25 mL (0-10 ppm ion sulfat). Analisis yang dilakukan terhadap senyawagaram sulfat didalam percobaan ini umumnya memberikan hasil analisis yang cukup baik dengan kesalahan analisis berkisar antara -5,551% sampai 0,400%.

At this moment, there were some methods of sulfate analysis such as by gravimetri, volumetri and instrument But these methods were difficult to do and did not gave good enough result, especially when applied to analyze some sulfate salt compounds in pharmacy preparatioa Besides these methods were applied to analyze in macro scales. Hiese research's aim was to find an optimal sulfate analysis condition quantatively by visible spectrofotometiy in a micro scale and apply these result to analyze so me sulfate salt coumponds. In this research, it was determined optimal analysis condi tion with parameter of time developing color, solvent Composition, pH of solutions, a complex stability and barium ions - thorin solution 0,2% w/v concentration. The optimal analysis condition were time developing color of minutes 30- 40; water-ethanol compositions of 40:60; 30:70; 20:80; pHof solution between 4,0 - 5,0 ; maximum excess barium ions concentration 39.6786 x 10"^ meq/25 mL (12 ppm barium ions) with 1,5 ml 0,2% w/v thorin solution and sulfate ions concen tration of 0.0000 - 49.9740 x 10"^ meq/25 mL (0-10 ppm sulfate ions). Analysis of sulfate salt compounds in this research gave good enough results with estimation from -5,551% until 0,400%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1996
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>