Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 60 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sitorus, Pardamean Robby Andreas
"Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang bertujuan untuk menganalisis
korelasi antara cervical vertebral maturation dengan dimensi mandibula. Data berasal
dari 90 radiograf sefalometri lateral (49 perempuan, 41 laki-laki), anak usia 8-16 tahun di
Jakarta. Metode: menggunakan penilaian dan pengukuran visual radiograf sefalometri
lateral, dimensi mandibula diukur berdasarkan panjang total mandibula (jarak dari titik
condylon - gnathion), tinggi ramus mandibula (jarak dari titik condylon - gonion
intersection), dan panjang corpus mandibula (jarak dari titik gnathion - gonion
intersection), selama tahap maturasi skeletal vertebra servikalis (cervical stage 1 sampai
cervical stage 6) yang dinilai dari badan kedua sampai badan keempat tulang vertebra
servikalis. Korelasi antara cervical vertebral maturation dengan dimensi mandibula
dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil: terdapat korelasi yang kuat dan signifikan
(p < 0,05) antara cervical vertebral maturation tahap pubertas dengan panjang total
mandibula (r = 0,663), antara cervical vertebral maturation tahap pubertas dengan tinggi
ramus mandibula (r = 0,555), dan antara cervical vertebral maturation tahap pubertas
dengan panjang corpus mandibula (r = 0,510). Terdapat korelasi yang sedang dan
signifikan (p < 0,05) antara cervical vertebral maturation tahap prepubertas dengan
panjang total mandibula (r = 0,453), antara cervical vertebral maturation tahap
prepubertas dengan tinggi ramus mandibula (r = 0,395), dan antara cervical vertebral
maturation tahap pascapubertas dengan panjang corpus mandibula (r = 0,374).
Kesimpulan: terdapat korelasi antara cervical vertebral maturation dengan dimensi
mandibula terutama pada tahap pubertas. Maturasi skeletal dapat digunakan untuk
menilai pertumbuhan dan perkembangan mandibula, sebagai pertimbangan dalam
mengoptimalisasi waktu perawatan ortopedik maksilofasial.

This study is a cross-sectional and aims to analyze correlation between cervical vertebral
maturation and mandibular dimensions from 90 lateral cephalometric radiograph (49
girls, 41 boys), aged 8-16 years in Jakarta. Methods: The method uses visual
measurements of lateral cephalometric radiograph, mandibular dimensions were assessed
from total mandibular length (range of condylon - gnathion line), ramus mandibular
height (range of condylon - gonion intersection line), and corpus mandibular length
(range of gonion intersection – gnathion line), during maturity stages of the cervical
vertebral bone (cervical stage 1 to cervical stage 6) which assessed from second to fourth
branches. Correlation between cervical vertebral maturation and mandibular dimensions
were analyzed using Spearman method. Results: The results showed a significant (p <
0.05) and strong correlation between cervical vertebral maturation pubertal stage and total
mandibular length (r = 0.663), between cervical vertebral maturation pubertal stage and
ramus mandibular height (r = 0.555), and between cervical vertebral maturation pubertal
stage and corpus mandibular length (r = 0.510). The results showed a significant (p <
0.05) and medium correlation between cervical vertebral maturation prepubertal stage
and total mandibular length (r = 0.453), between cervical vertebral maturation prepubertal
stage and ramus mandibular height (r = 0.395), and between cervical vertebral maturation
post pubertal stage and corpus mandibular length (r = 0.374). Conclusion: The
Correlation between cervical vertebral maturation and mandibular dimension is seen
mainly in puberty stage. Skeletal maturity used to assess mandibular growth for
optimization maxillofacial orthopaedic treatment timing.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ivan Fransiskus
"Kecemasan dental yang timbul pada masa kanak-kanak merupakan hambatan terbesar bagi dokter gigi dalam melakukan perawatan yang optimal. Usia 7 tahun merupakan fase pertengahan pada middle childhood dan usia 10 tahun merupakan fase pertengahan pada fase late childhood, kedua kelompok usia tersebut mempunyai tahap-tahap perkembangan fisik, sosio-emosional, dan koginitif yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan dental pada anak usia 7 dan 10 tahun, serta perbedaan tingkat kecemasan dental berdasarkan jenis kelamin pada masing-masing usia tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner CFSS-DS yang telah dimodifikasi pada anak Sekolah Dasar Pelangi Kasih usia 7 dan 10 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 100 siswa pada masing-masing kelompok usia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat kecemasan antara usia 7 dan 10 tahun. Pada usia 10 tahun memiliki tingkat kecemasan dental yang lebih tinggi. Berdasarkan perhitungan chi-square ditemukan perbedaan tersebut tidak bermakna (p<0,05). Perbedaan tingkat kecemasan juga ditemukan diantara anak laki-laki dan perempuan pada usia 7 dan 10 tahun dengan anak perempuan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada dua kelompok usia tersebut. Berdasarkan perhitungan chi-square ditemukan bahwa perbedaan antara jenis kelamin tidak bermakna pada usia 7 tahun (p<0,05) dan usia 10 tahun (p<0,05).

Dental anxiety in children is one of the obstacle that inhibit the dentist to perform an optimum dental treatment. Age of 7 years old is a middle stage in middle childhood phase and age of 10 years old is a middle stage in late childhood phase. The purpose of this study is to know the difference of dental anxiety on 7 and 10 years old children and dental anxiety between gender on that age group. The data were collected by interview in Pelangi Kasih Primary School using CFSS-DS (Children?s Fear Survey Schedule - Dental Subscale) questionnaire.
The results show that there is a difference of dental anxiety between 7 and 10 years old which 10 years old children have a greater anxiety. Based on Chi-square analysis, the difference between those ages were not significant (p<0.05). The difference of dental anxiety were also found between boys and girl in those age groups. The result show that The girls were more anxious than boys and based on chi-square anylisis the difference between gender and dental anxiety were found not significant in 7 years old (p<0,05 ) and 10 years old (p<0,05).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ginza Tania Widowati
"Skripsi ini membahas Frekuensi Distribusi Celah Bibir dan Langitan di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta Pada Tahun 1996 dan 1999. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa celah bibir dan langitan mayoritas berjenis kelamin laki-laki paling banyak ditemukan. Usia pasien saat datang terbanyak berusia 0-1 tahun. Faktor resiko yang paling banyak mempengaruhi pada tahun 1996 adalah faktor trauma tidak langsung dan tahun 1999 yaitu faktor multi yaitu obat/jamu dan trauma tidak langsung. Mayoritas wilayah tempat tinggal pasien berada di Tangerang dan Jakarta Barat. ;The focus of this study is the distribution and frequency of cleft lip and palate in RSAB Harapan Kita Jakarta period 1996 and 1999.

This research is a quantitatative with descriptive design. The result cleft lip and palate mostly found in male. Age patient when first came at 0-1 years old. In 1996, risk factor that mostly influence is mechanical forces but in 1999 mechanical forces and drugs mostly found. Location of patient mostly found at Tangerang and West Jakarta.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Erlianda
"Skripsi ini membahas tentang Distribusi Frekuensi Celah Bibir dan Langitan di Klinik Celah Bibir dan Langitan RSAB Harapan Kita Jakarta Tahun 1998 dan 2000. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Data didapat dari rekam medis pasien Klinik Celah Bibir dan Langitan RSAB Harapan Kita Jakarta. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa pada tahun 1998 dan 2000 pasien celah bibir dan langitan di kawasan Jabodetabek adalah 85 dan 105 pasien serta paling banyak adalah pasien berjenis kelamin laki-laki. Mayoritas pasien datang adalah saat usia 0-1 tahun. Tipe celah yang terbanyak adalah celah bibir dan langitan satu sisi dan dari berbagai kasus menunjukkan bahwa kelainan tersebut dipengaruhi oleh lebih dari satu faktor risiko. Berdasarkan wilayah tempat tinggal pasien, paling banyak ditemukan adalah di Tangerang dan Jakarta Barat.

The focus of this study is the distribution and frequency of cleft lip and palate in RSAB Harapan Kita Jakarta period of 1998 and 2000. This research is a quantitative with descriptive design. The data were collected used medical record in Klinik Celah Bibir dan Langitan RSAB Harapan Kita Jakarta. The result prove that in Jabodetabek found 85 patient in 1998 and 105 patient in 2000 for cleft lip and palate cases and mostly in male. Majority, patients came in 0-1 years old. Type of cleft mostly is unilateral cleft lip and palate and many cases shows that these deformity is caused by more than one risk factor. According to where patients live it is found that Tangerang and West Jakarta is the most area.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rosdiana
"Sindroma Down disebabkan abnormalitas kromosom yaitu nondisjuction kromosom 21 dengan karakteristik tertentu. Anak sindroma Down memiliki resistensi yang baik terhadap karies. sIgA di dalam saliva merupakan tanda diaktivasinya respon imun humoral di dalam rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar sIgA saliva dengan karies anak sindroma Down. Subjek penelitian berusia 15-17 tahun, sebanyak 34 orang yang tediri dari 17 anak sindroma Down dan 17 anak normal. Seluruh subjek penelitian dinilai kadar sIgA saliva menggunakan ELISA tidak langsung. Hasil penelitian menunjukan hubungan negatif kuat bermakna antara kadar sIgA saliva dan karies anak sindroma Down (r=-0.628, p=0.007). Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kadar sIgA saliva dan karies anak sindroma Down.

Down syndrome is caused by chromosomal abnormalities nondisjuction chromosome 21 with particular characteristics. Down syndrome children have a good resistance against caries. sIgA in the saliva is a sign activated humoral immune response in the oral cavity. This study aimed to investigate the relationship of salivary sIgA concentrations with caries Down syndrome children. Subjects aged 15-17 years, a total of 34 people consisting of 17 Down's syndrome children and 17 normal children. All subject of the study assessed the concentratios of salivary sIgA using indirect ELISA. The results showed an significant strong negative correlation was found between salivary sIgA concentration and caries Down syndrome children (r = -0628, p = 0.007). This study established that salivary sIgA concentration and caries Down syndrome children was significant correlation."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2013
T35046
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bella Fiana Putri
"ABSTRAK
Latar Belakang : Trauma gigi yaitu kerusakan pada jaringan keras gigi atau
periodontal karena sebab mekanis. Prevalensi tertinggi terjadi pada anak usia 8-12
tahun. Tingginya prevalensi trauma gigi merupakan hal yang harus dicermati oleh
ibu. Tujuan: Menganalisis hubungan tentang pengetahuan trauma gigi permanen
anterior anak usia 8-12 tahun dengan tingkat pendidikan dan status kerja ibu.
Metode : Analitik dengan desain potong lintang. Subjek penelitian sebanyak 50
ibu dari siswa/i usia 8-12 tahun yang mengalami trauma gigi anterior. Hasil:
Terdapat hubungan antara pengetahuan tentang trauma gigi permanen anterior
anak usia 8-12 tahun dengan tingkat pendidikan dan status kerja ibu.

ABSTRACT
Background : Dental trauma is destruction of dental hard and periodontal tissue
caused by mechanical factor. Highest prevalence of dental trauma happened in 8-
12 years old children. This prevalence should be awared by mother. Aim: To
analyze relationship between knowledge of anterior permanent dental trauma in 8-
12 years old children with mother’s educational background and working status.
Method: Analytic with cross-sectional design. Subject consisted of 50 mothers of
8-12 years old students who have anterior permanent dental trauma. Result: There
is relationship among knowledge of anterior permanent dental trauma in 8-12
years old children with mother’s educational background and working."
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahma Natalia Hardjakusumah
"Kunjungan ke dokter gigi dapat menyebabkan rasa tidak nyaman. Hal ini dapat menjadi sumber rasa cemas atau takut pada semua tingkat usia khususnya pada anak. Salah satu cara untuk menurunkan kecemasan tersebut adalah dengan memberikan video training mengenai perawatan gigi yang merupakan modifikasi manajemen perilaku modeling. Indikator dalam mengukur kecemasan anak yang digunakan dalam penelitian ini adalah kadar alpha amylase dan kalsium saliva. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan video training 'Berkunjung ke Dokter Gigi' dan tingkat kecemasan anak usia 7 tahun. Desain penelitian ini adalah analitik cross-sectional. Sebanyak 23 anak usia 7 tahun diberikan video training 'Berkunjung ke Dokter Gigi' dan dinilai tingkat kecemasan sebelum dan sesudah video training menggunakan indikator kadar alpha amylase dan kalsium saliva. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan video training 'Berkunjung ke Dokter Gigi' dan penurunan tingkat kecemasan anak usia 7 tahun berdasarkan kadar alpha amylase dan kalsium saliva. (p=0,001).

A visit to the dentist can cause discomfort. This can be a source of anxiety or fear at all age levels, especially in children. One way to reduce the anxiety in dental care is to provide video training, which is a modification of modeling behavior management. Indicators in measuring anxiety in this study are the level of salivary alpha amylase and salivary calcium. The purpose is to analyze the correlations of video training 'Visit to the Dentist' and level of anxiety in children aged 7 years old. The study design is analytic cross-sectional. A total of 23 children aged 7 years old given video training "Visit to the Dentist" and assessed the level of anxiety before and after watching the video training using indicators of levels of salivary alpha amylase and salivary calcium. The result is that there is a correlations of video training 'Visit to the Dentist' and reduced level of anxiety in children aged 7 years old based on the levels of salivary alpha amylase and salivary calcium (p=0,001)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Isabella Hotmidatua
"Sindroma Down adalah kelainan genetik yang disebabkan oleh trisomi kromosom 21. Anak dengan sindroma Down memiliki kondisi rongga mulut yang beragam dan memiliki masalah kesehatan oral seperti karies dan penyakit periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian karies pada anak dengan sindroma Down usia 14 tahun ke atas di SLB C Jakarta. Subjek penelitian berasal dari 43 SLB C di Jakarta. Total subjek adalah 174 anak dengan sindroma Down usia 14 sampai 53 tahun. Pemeriksaan karies dilakukan dengan pemeriksaan klinis menggunakan indeks DMF-T. Hasil penelitian ditemukan indeks DMF-T 5,90 pada total subjek dengan prevalensi karies sebesar 84,48 . Kesimpulan studi ini adalah terdapat tingkat kejadian karies yang tinggi pada anak dengan sindroma Down usia 14 tahun ke atas di SLB C Jakarta dengan indeks DMF-T sebesar 5,90."

Down syndrome is a genetic disorder caused by trisomy of chromosome 21. Down syndrome children have variety of oral characteristics and have oral problem such as caries and periodontal disease. The aim of this study is to know frequency distribution of caries in Down syndrome children aged 14 years and over in SLB C Jakarta. Subjects of this study are from 43 SLB C in Jakarta. Total of subjects are 174 Down syndrome children aged 14 to 53. Caries examination was done by clinically using DMF T index. The result of this study is 5,90 DMF T index in total subject population with 84,48 caries prevalence. This study conclude that Down syndrome children aged 14 years and over in SLB C Jakarta have high caries experience with DMF T index scored 5,90."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Widya As'syifa irsa
"Latar Belakang: Pandemi COVID-19 menyebabkan  proses pembelajaran dialihkan secara daring (2019) dan luring (2019).
Tujuan: menganalisis perbedaan persepsi mahasiswa akademik antara model pembelajaran skills lab daring dan luring anestesi lokal gigi sulung FKGUI.
Metode: analisis deskriptif potong lintang menggunakan kuesioner dengan skala likert. Sebanyak 137 responden berpartisipasi. Perbedaan persepsi dianalisis menggunakan uji Pearson Chi-square dan Mann Whitney.
Hasil: Mayoritas responden setuju 51,5% (daring), 52,2% (luring); sangat setuju 48,5% (daring), 62,3% (luring); tidak setuju 32,4% (daring), 15,9% (luring); dan sangat tidak setuju 5,9% (daring), 1,4% (luring) untuk keenam kategori. Terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) pada Kategori Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran: tingkat kesulitan dan detail, Revelansi Konten: mampu mengaplikasikan ilmu, Pengetahuan Instruktur, Model/Gaya Pembelajaran, dan Fasilitas dan Lingkungan Belajar. Tidak terdapat perbedaan bermakna (p≥0,05) pada Kategori Materi Pembelajaran: materi yang mudah dipahami, pentingnya materi skills lab anestesi gigi sulung; Revelansi Konten: pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan, dan kemampuan menemukan sumber jawaban.
Kesimpulan: Mayoritas mahasiswa akademik setuju dengan model skills lab daring (51,5%) dan luring (52,2%). Terdapat perbedaan bemakna pada keenam kategori, tetapi kedua model skills lab memiliki persepsi yang sama baiknya. Kedua model skills lab dapat diterapkan untuk melatih keterampilan anestesi lokal gigi sulung

Background: COVID-19 pandemic caused the learning process switched to online (2019) and offline (2019).
Objective: analyze the differences of academic students' perceptions between online and offline skills lab models of  primary teeth local anesthesia in FKGUI.
Methods: cross-sectional descriptive analysis using likert scale. 137 respondents participated. Perception differences analyzed using Pearson Chi-square and Mann Whitney tests.
Results: The majority of respondents agreed 51.5% (online), 52.2% (offline); strongly agreed 48.5% (online), 62.3% (offline); disagreed 32.4% (online), 15.9% (offline); and strongly disagreed 5.9% (online), 1.4% (offline) for six categories. There are meaningful differences (p<0.05) in categories of Learning Objectives, Learning Materials: difficulty level and detail, Content Revelation: able to apply science, Instructor Knowledge, Learning Models/Styles, and Facilities and Learning Environments. There are no meaningful differences (p≥0.05) in the Learning Materials Category: easy-to-understand material, the importance of primary teeth anesthesia skills lab; Content Revelation: experience and knowledge gained, and ability to find answers.
Conclusion: majority of academic students agree with online (51.5%) and offline (52.2%) skills lab models. There are meaningful differences in all six categories, but both skills lab models have good perceptions, and could be applied to train primary teeth local anesthesia skill.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dahniar Syifaizza Hariyono
"Latar Belakang: Pandemi Covid-19 menyebabkan pembatasan seluruh aktivitas manusia. Di bidang pendidikan, penerapan moda pembelajaran teori IKGA menggunakan PBL yang biasanya tatap muka digantikan oleh pembelajaran daring selama pandemi Covid-19.
Tujuan: Menganalisis persepsi mahasiswa terhadap perubahan moda pembelajaran teori IKGA di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia selama masa pandemi Covid-19.
Metode: Penelitian cross-sectional pada mahasiswa FKG UI. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa FKG UI angkatan 2017 - 2019. Teknik pengambilan sampel secara random sampling dan pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui Google Form.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan persepsi mahasiswa terhadap moda pembelajaran selama pandemi Covid-19 baik dan perbedaan bermakna antar tiga kelompok hanya pada persiapan mahasiswa menuju program profesi (P-value = 0,023) dan kepercayaan diri mahasiswa memasuki program profesi (P-value = 0,000).
Kesimpulan: Persiapan mahasiswa menuju program profesi dan kepercayaan diri mahasiswa memasuki program profesi lebih baik dalam pembelajaran luring daripada pembelajaran daring.

Background: The Covid-19 pandemic has led to resctriction all of human activities. In education, the application of theorical of pediatric dentistry using PBL that are usually face-to-face was replaced by online learning during Covid-19 pandemic.
Purpose: The aim of this study was to assess dental students perceptions towards theorical of pediatric dentistry learning mode during the Covid-19 pandemic in Faculty of Dentistry at the University of Indonesia.
Methods: This study used a cross-sectional analysis and conducted on dental students of Faculty of Dentistry Univeristy of Indonesia batch 2017 - 2019. The sampling technique was random sampling and data collection used a questionnaire via Google Form.
Results: From a total of 150 respondents, all student perception mostly good and there were significant differences between students in preparation for clinical programs (P-value = 0.023) and confidence in entering clinical programs (P-value = 0.000).
Conclusions: Dental students of Faculty of Dentistry University of Indonesia have good perception towards learning mode during COVID- 19 pandemic. Student preparation for clinical programs and confidence in entering clinical programs are way better in offline than online learning
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2023
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>